Rabu, 26 September 2007

Direktorat Ekspor Produk Industri

 

» Ekonomi yang Sejahtera, Mandiri dan Berkah


4 Jul 2009 ... Dengan membangun sektor pertanian khususnya produk-produk pertanian ... Mengatur ekspor dan impor yang akan memperkuat ekonomi dalam negeri dengan ... bahan baku yang diperlukan untuk industri dasar dan industri berat yang ... [Muhammad Sholahuddin, SE, M.Si.; Direktur Pusat Studi Ekonomi Islam UMS, ...hizbut-tahrir.or.id/.../ekonomi-yang-sejahtera-mandiri-dan-berkah/ -

3. Menciptakan ketahanan pangan. Dengan membangun sektor pertanian khususnya produk-produk pertanian seperti beras, kacang, kedelai, tebu, kelapa sawit, peternakan dan perikanan yang termasuk sembako. Memberdayakan lahan maupun barang milik negara dan umum (kaum Muslim) seperti laut, gunung, hutan, pantai, sungai, danau, pertambangan, emas, minyak, timah, tembaga, nikel, gas alam, batu bara dll.


4. Mengatur ekspor dan impor yang akan memperkuat ekonomi dalam negeri dengan cara: memutuskan impor atas barang-barang luar negeri yang diproduksi di dalam negeri; membatasi impor dalam bentuk bahan mentah atau bahan baku yang diperlukan untuk industri dasar dan industri berat yang sarat dengan teknologi tinggi; memperbesar ekspor untuk barang-barang yang bernilai ekonomi tinggi, dengan catatan tidak mengganggu kebutuhan dalam negeri dan tidak memperkuat ekonomi dan eksistensi negara-negara Barat Imperialis.


4. Memajukan sektor riil yang tidak eksploitatif. Ekonomi Islam adalah perekonomian yang berbasis sektor riil (lihat: QS al-Baqarah [2]: 275). Tidak ada dikotomi antara sektor riil dan sektor moneter. Sebab, sektor moneter dalam Islam bukan seperti sektor moneter kapitalis yang isinya sektor maya (virtual sector). Kegiatan ekonomi hanya terdapat dalam sektor riil seperti pertanian, industri, perdagangan dan jasa. Dari sektor inilah kegiatan ekonomi didorong untuk berkembang maju. Hanya saja, hukum-hukum tentang kepemilikan, produk (barang/jasa) dan transaksi dalam perekonomian Islam berbeda dengan kapitalisme.


Mereka meninggalkan syariat Islam dan memilih produk kebijakan Kapitalisme Barat. ... Mantan Direktur Utama Bank Pembangunan Daerah Kal-Sel menyayangkan sikap ... dan BBM tidak bersubsidi untuk industri menyebabkan disparitas harga. ... cadangan minyak dunia dan volume ekspor minyak mentahnya 40% dari ekspor dunia, ...hizbut-tahrir.or.id/.../bbm-langka-dan-mahal-karena-pemerintah-berlepas-tangan/

Dalam pemaparannya Bapak Hermani Abdurrahman menyatakan BBM langka dan mahal karena negara kita tidak diberokahi Allah SWT. Indonesia meskipun mayoritas penduduknya muslim, para pemimpinnya tidak becus mengelola negara. Mereka meninggalkan syariat Islam dan memilih produk kebijakan Kapitalisme Barat. Akibatnya berbagai kebijakan di negeri ini tunduk pada kepentingan asing. Ia mencontohkan bagaimana IMF menekan Indonesia dengan 140 item LoI-nya. Dalam LoI tersebut salah satunya IMF memaksa Indonesia untuk mencabut subsidi dan menaikkan harga BBM. Kebijakan penghapusan subsidi sampai sekarang terus berlanjut meskipun kesepakatan dengan IMF tidak diperpanjang lagi.

Kedua, faktor spekulatif yang berasal dari dalam negeri dan luar negeri. Di dalam negeri adanya BBM bersubsidi dan BBM tidak bersubsidi untuk industri menyebabkan disparitas harga. Misalnya berdasarkan harga yang ditetapkan Pertamina tanggal 15 Desember 2007 untuk wilayah I, harga solar bersubsidi Rp 4.300 per liter sedangkan harga solar non subsidi mencapai Rp 8.235 per liter. Perbedaan harga ini menyebabkan terjadinya pasar gelap BBM. Sehingga sebagian pasokan BBM untuk masyarakat pada tahap distribusi diselewengkan ke industri, apalagi tingkat kenaikan harga BBM non subsidi pada Desember ini mencapai 21% lebih. Jadi kebijakan pemerintah menghapuskan sebagian subsidi memiliki dampak buruk yakni ekonomi gelap.

Dalam pengamatan saya yang paling banyak mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga minyak dunia bukan negara eksportir minyak tetapi perusahaan-perusahaan pemilik ladang eksplorasi dan industri pengilangan minyak, serta para broker (spekulan). Sebagai gambaran, meskipun negara-negara OPEC menguasai 2/3 cadangan minyak dunia dan volume ekspor minyak mentahnya 40% dari ekspor dunia, negara-negara OPEC hanya memiliki sarana pengolahan minyak 10% saja. Sedangkan negara-negara maju menguasai 60% industri pengolahan minyak dunia yang mayoritas dimiliki beberapa perusahaan saja seperti Chevron, ExxonMobil, ConocoPhilips, Sheel, Texaco, BP, UNOCAL, dan Hallilburton.

31 Mei 2008 ... Penyebabnya tidak lain adalah kenaikan harga produk pangan yang sulit ... Direktur IMF, Dominique Strauss-Kahn, di Washington dalam pertemuan ... Hal itu terlihat dari tingkat ketergantungan Indonesia terhadap produk ekspor. .... IV. dengan slogan TINGGAL LANDAS, artinya industri marak di Indonesia. ...hizbut-tahrir.or.id/2008/05/31/krisis-pangan-ironi-di-negeri-agraris/

Krisis pangan kini mengancam hampir di seluruh pelosok dunia, tidak terkecuali dengan Indonesia. Penyebabnya tidak lain adalah kenaikan harga produk pangan yang sulit terbendung sejak dua tahun lalu dan terus berlanjut hingga kini. Dampak krisis yang paling terasa akan dialami negara-negara berkembang karena kemampuan produksi pangan mereka sangat terbatas.

Dalam Food Outlook yang dikeluarkan FAO hingga 2017 diramalkan harga pangan akan terus meroket sejalan dengan lonjakan harga minyak mentah. Lonjakan tersebut dipicu oleh kenaikan harga minyak makan sebesar 50%. Data menunjukkan, bagaimana harga CPO di pasar internasional kini sudah menembus harga Rp1.200 dolar AS/ton, padahal pada pertengahan tahun lalu masih berada pada kisaran 600 dolar AS/ton. Apalagi kini penggunaan produk CPO bukan lagi sekadar untuk minyak makan saja, tapi menjadi bahan baku biodisel sehingga permintaan semakin besar.

Dalam laporan FAO tersebut, satu-satunya produk pangan yang turun hanyalah gula, yakni turun 32%. Hal ini karena produksi gula di negara-negara berkembang termasuk Indonesia mengalami peningkatan, sedangkan konsumsi gula relatif stabil. Bahkan selama periode 2007/2008 diperkirakan produksi gula mencapai titik tertinggi.

Kenaikan harga pangan hingga menjadi ancaman krisis pangan yang kini dirasakan berbagai negara dunia tidak lepas dari pengaruh perubahan kebijakan di pasar global yang dibuat lembaga dunia tersebut. Salah satunya adalah konversi produk pangan ke energi yang membuat harga pangan di pasar internasional terkerek naik.

Akibat persaingan penggunaan produk pertanian untuk pangan dan energi, Indonesia juga terkena impor dari krisis pangan. Padahal produksi pangan kita cukup jika hanya untuk konsumsi,” kata Kepala Pusat Distribusi Pangan Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian, Ning Pribadi.


Umumnya, kata dia, negara berkembang memang tidak memprediksi akan terjadi lonjakan harga. Karena itu, setelah 2006, negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, mulai mengusahakan biofuel dari produk pangan secara serius. “Jadi, kalau sebelumnya mereka (negara berkembang, red.) memproduksi hanya untuk pangan, lalu karena ada permintaan untuk biofuel, mereka pun memproduksi,” katanya.


Akibat peningkatan harga produk pangan tersebut, negara-negara yang selama ini menjadi net importer bakal menanggung dampak cukup berat, yang juga mempengaruhi kesejahteraan rakyat, karena devisa negara tersebut terbuang untuk mengimpor produk pangan. Negara-negara yang selama ini menjadi net importer untuk produk pangan dan energi diperkirakan akan mengalami situasi lose-lose situation.


Hal itu terlihat dari tingkat ketergantungan Indonesia terhadap produk ekspor. Misalnya, untuk menutupi konsumsi daging, Indonesia harus mengimpor sekitar 600 ribu ekor dari Australia, beras impor  sebanyak 1,2 juta ton dari Thailand, kedelai 1,4 juta ton dari AS, jagung untuk pakan ternak impor mencapai 10% dari total kebutuhan sebanyak 3 juta ton. “Ketergantungan kita sekarang ini sudah sangat besar,” sesalnya.


26 Apr 2010 ... Demikian pertanyaan bapak Hari, seorang eksportir buah dari Malang, ... Pembicara kedua adalah M. Karebet W, Direktur SEM Institut Jakarta. ... Muslim harus mampu menyelipkan ideologinya dalam setiap produk maupun iklannya. ... HTI dan Bank Syariah pembangunan industri ekonomi yang berbasis syariah ...hizbut-tahrir.or.id/.../membangun-usaha-penuh-berkah-di-ringin-asri-malang/

Acara ini dimulai pukul 08.00 WIB dan berakhir pukul 11.30 WIB dilaksanakan di Rumah Makan Ringin Asri, jl. Soekarno Hatta 45 Malang. Pembicara kedua adalah M. Karebet W, Direktur SEM Institut Jakarta. Karebet yang kesehariannya juga sebagai seorang konsultan memaparkan bahwa pengusaha eropa selain mereka mencari provit sebesar-besarnya tetapi mereka juga menyisipkan ideologi mereka lewat berbagai iklan yang stereotif terhadap umat Islam semisal iklan cocacola, mobil VW dan lain-lain. Dominasi 4F: Food, Fashion, Fun, Free sEx sangat kuat oleh sebab itu pengusaha Muslim harus mampu menyelipkan ideologinya dalam setiap produk maupun iklannya.

Terkait dengan persaingan produk yang  faktanya dilapangan Indonesia mati kutu dengan Thailand dan China, Karebet memaparkan bahwa ada tiga hal  yang urgen yaitu: kebijakan negara, ketaqwaan pengusaha dan kontrol konsumen yang dibangun masyarakat yang mana point pertama itulah yang menentukan menangnya persaingan. Di Thailand dibuat slogan oleh negara yang telah terimplementasikan diranah masyarakat, one tambon one product satu kampung satu produk sehingga sukses menyerbu pasar domestik kita meski secara imani hal itu bersifat ittibari atau semu sebagaimana Jepang dan China. Jadi sistem yang Islamilah yang akan membawa kepada kesuksesan yang hakiki. (Lajnah Ilamiyah HTI DPD II Malang)

21 Jan 2009 ... Kondisi ini akan menyebabkan ekspor besar-besaran dan menurunnya konsumsi dalam negeri. ... Dengan membangun sector pertanian khususnya produk-produk pertanian ... atau bahan baku yang diperlukan untuk industri dasar dan industri berat ... Depkeu melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang telah ...hizbut-tahrir.or.id/.../utang-luar-negeri-fakta-bahaya-dan-tinjauan-hukum-syara/ - -

12 Feb 2009 ... Sektor industri dan perdagangan juga terkena dampak krisis. ... Unit Usaha Syariah, dan produk Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS). ... pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah kemungkinan lesunya ekspor. ... cerah,'' tutur Riawan Amin yang juga Direktur Utama (Dirut) Bank Muamalat. ...hizbut-tahrir.or.id/.../krisis-keuangan-global-mengancam-perekonomian-dunia/ - -

5 Jan 2009 ... Sebaliknya Islam telah mengharamkan industri yang menghasilkan barang-barang haram. ... kepada rakyat baik dalam bentuk produknya atau dalam bentuk pelayanan. ... Yang diakui Islam adalah direktorat di Baitul Mal yang akan memberikan utang dalam ... baik itu dalam produksi, impor maupun ekspor. ...hizbut-tahrir.or.id/.../kei-sistem-ekonomi-islam-dalam-negara-khilafah-adalah-satu-satunya-yang-mampu-menjamin-kehidupan-ekonomi-... - -



Direktorat Ekspor Produk Industri mempunyai tugas melaksanakan
perumusan kebijakan, standarisasi dan bimbingan teknis serta
evaluasi di bidang ekspor produk industri
Dalam melakukan tugas sebagaimana dimaksud dalam
Kepmenperindag No.86/MPP/Kep/3/2001 Pasal 728, Direktorat
Ekspor Produk Industri menyelenggarakan fungsi:
a.Penyiapan perumusan kebijakan peningkatan ekspor produk
industri di bidang tekstil dan produk tekstil, kimia, logam,
mesin, alat angkut, elektronika, aneka industri, dan kerajinan
serta jasa;
b.Penyiapan perumusan pedoman, standar, norma, kriteria, dan
prosedur peningkatan ekspor produk industri dibidang tekstil
dan produk tekstil, kimia, logam, mesin, alat angkut,
elektronika, aneka industri, dan kerajinan serta jasa;
c.Bimbingan teknis peningkatan ekspor produk industri di
bidang tekstil dan produk tekstil, kimia, logam, mesin, alat
angkut, elektronika, aneka industri, dan kerajinan serta jasa;
d.Evaluasi pelaksanaan peningkatan ekspor produk industri di
bidang tekstil dan produk tekstil, kimia, logam, mesin, alat
angkut, elektronika, aneka industri, dan kerajinan serta jasa;
e.Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat.


Direktorat Ekspor Produk Industri terdiri dari:
a.Subdirektorat Tekstil dan Produk Tekstil;
b.Subdirektorat Kimia;
c.Subdirektorat Logam, Mesin, dan Alat Angkut;
d.Subdirektorat Elektronika;
e.Subdirektorat Aneka Industri, Kerajinan dan Jasa;
f.Subbagian Tata Usaha;
g.Kelompok Jabatan Fungsional.

Alamat Kantor:
Jl. M.I. Ridwan Rais No.5
Blok II Lantai II
Jakarta Pusat
Telp. 3858171-5 ext. 1155, 1109, 1190, 1191
Telp. 3858209
Fax. 3858209
Email :Epind-tu.daglu@djdaglu.go.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda