Kamis, 20 Desember 2007

Economies of scale eksternal

External economies of scale


Secara umum, eksternal atau aglomerasi economies of scale di dikotomikan menjadi urbanisasi dan lokalisasi economies of scale. Eksternal economies ini tememiliki nsejumlah karakteristik non tangible yang dirangkum mejadi eksternalitas negative dan positif. Eksternalitas merupakan hasil kebijakan dari banyak perusahaan, bukan hanya sebuah perusahaan, sehingga bisa disebut bahwa eksternalitas adalah konsekuensi keputusan yang tidak diharapkan dari perusahaan satu ke p[erusahaan lainnya.


Konsekuensi ini bisa bersifat positif maupun negatif. Salah satu contoh dari eksternalitas positif adalah urbanization economies, yang mana merupakan keuntungan perusahaan yang di derivasi dari lokasi industri di kota besar daripada di kota kecil, karena jasa transportasi nya lebih bermacam-macam (diversified), dapat dipercaya (reliable) dan lebih murah, serta akses tenaga kerjanya mudah, akses bisnis yang banyak. Namun ternyata kota besar juga memiliki eksternalitas negatif, yaitu adanya polusi dan kriminal.


Lokalisasi economies of scale di sektor perpabrikan yang sering disebut distrik industri, merupakan eksternalitas positif, karena membuat ongkos produksi lebih rendah dengan pengurangan biaya transportasi dan biaya pemrosesan. Lokalisasi economies of scale memiliki beberapa karakter jnon tangible, diantaranya :

  1. membangun reputasi produk

  2. tenaga kerja yang lebih terlatih

  3. spesialisasi jasa di pemasaran, pengembangan dan penelitian, dan pelatihan pekerja.

  4. Bentuk mketergantungan lokal dan sebuah atmosfer industri, dimana berbagai jenis perusahaan kecil yang melakukan spesialisasasi yang mampu menghasilkan jasa yang kualitas tinggi dan merupakan tambahan kapasitas produksi bagi perusahaan yang lain.

Meskipun banyak perusahaan saling bersaing, namun mereka saling bekerjasama dalam berbagi informasi tentang teknologi dan pasar dan saling membantu. Eksternalitas negatif dalam perusahaan bisa terjadi di distrik industri, terutama jika persaingan antarperusahaan menjadi tidak sehat dan bersikap0 konservatif.


Energy

Sebelum revolusi industri, sumber energi merupakan faktor penting untuk menentukan lokasi suatu industri bagi industri tradisional. Seperti air, banyak terdapat kegiatan industri di tempat-tempat yang tersedia cukup air. Kemudian muncullah mesin uap, sehingga tidaklah mengharuskan lokasi industri tersebut memiliki sumber energi melimpah, karena dengan adanya mesin uap, terjadilah pekembangan tenaga listrik yang dapat ditransmisikan hingga jarak jauh dengan hanya biaya murah. Sama halnya dengan tenaga nuklir yang dapat ditransmisikan jarak jauh. Dengan kata lain, kecenderungan umumnya adalah energi menurun sebagaimana kondisi lokasi.


Community infrastructure and amenity

Semua kegitan pabrik (manufacture) membutuhkan akses seperangkat infrastruktur, yang sering dikenal dengan economic overhead capital (EOC), seperti jalan, rel, fasilitas pelabuhan, dan fasilitas jasa serta social overhead capital (SOC) seperti sekolah, universitas, rumahsakit dan perpustakaan. Infrastruktur adalah mahal untuk dibangun, dan kebanyakan dari aktivitas pabrik, dengan adanya infrastruktur menyediakan kendala fisik pada kemungkinan lokasi ( Norcliffe 1975; Peck 1996). Dengan tersedianya infrastruktur, maka akan menarik investor baru. Pada kebanyakan kasus, industri tidaklah membayar penuh atau sebagain besar dari biaya pembangunan SOC atau EOC yang baru. Namun, dengan keberadaan pemerintah pusat yang memfasilitasi pembangunan lebih cepat.


Semenjak infrastuktur itu adalah sine qua non untuk investasi pabrik, maka secara bersamaan, pemerintahan nasional, regional, dan lokal membentuk industry parks, semacam industri distrik dimana terdapat sekumpulan industri yang sama di satu area dan berdampingan dengan jenis industri lainnya. Industry park telah mengalami perluasan atau penyebaran dengan cepat sejak tahun 1950an (Bale 1997; Barr 1983; Barr et al 1984).


Beberapa tahun terakhir ini, telah menyebar dua kategori khusus dari industry park yaitu innovation atau sciene dan technology parks, didisain untuk lebih kepada tujuan penelitian (Ewers and Wettman 1980; Steed and DeGenova 1983; Gibb 1985; Schamp 1987). Sejak perengahan tahun 1960an, negara-negara sedang berkembang mulai meningkatkan infrastruktur untuk industrinya dalam bentuk special economic zones( SEZs) seperti di China dan atau export processing zones (EPZ)s yang lain. Sebelum pertengahan 1960an, ada dua EPZ, yaitu di India dan Puerto Rico. Kemudian pada tahun 1986 telah meningkat menjadi 116, terutama berlokasi di Asia dan Amerika Tengah.


Namun tidaklah semuanya mengalami kesuksesan, karena tidak setiap ada infrastruktur akan menciptakan industri. Kemudian berkait dengan amenity, pada negara-negara yang telah maju, amenity merupakan sesuatu yang lebih penting daripada kondisi lokasi dalam hubungannya dengan kemampuan untuk menyewa pekerja yang profesional. Dapat ditemukan komunitas amenity yang komploeks di pusat metropolitan, dimana industry park meningkat sesuai dengan gaya hidup orang-orang yang menghargai kesehatan, rekreasi dan keindahan.

Capital

Di bagian ini, penting untuk membedakan fixed capital pada bangunan dan perlengkapan dari financial capital. Biaya modal tetap diukur dari biaya konstruksi dan biaya disain. Baiay tersebut berbeda dari satu region ke region yang lain. Bangunan itu dapat disewakan, dijualbelikan. Secara umum, industrioal capital seperti infrastruktur sangat kuat dipengaruhi oleh kekuatan inersia.


Financial capital adalah bersifat lebih mobile dari building. Menurut Smith (1971 : 38), biaya modal keuangan tidak terlalu berpengaruh pada pemilihan lokasi induistri di negara industri modern. Industri tersebut memiliki akses internasional dan modal portofolio di pasar uang dunia.


Dua dekade terakhir ini berkembang cukup pesat venture capital untuk resiko tinggi pembangunan, biasanya oleh perusahaan kecil, di kawasan yang tinggi teknologinya.


Contoh di Amerika Serikat, perusahaan venture capital nya sebagai perantara keuangan yang menyediakan modal untuk perusahaan baru seperti dana pensiun, korporasi dan keluarga (Florida and Kennedy 1988b) yang terkonsentrasi di sedikit tempat seperti New York, San Fransisco, San Jose dan Boston-hartford. Secara umum, dengan aktivitas teknologi tinggi, maka capital merupakan kondisi lokasi yang penting ( Florida and Smith 1993)

Land

Harga tanah atau biaya dari tanah adalah bervariasi antar negara, dimana yang paling tingi selama ini adalah di area metropolitan. Tanah di zona industri itu lebih murah harganya daripada zona untuk perdagangan atau perumahan


Environment

Lingkunagn sebagai kkondisi lokasi memiliki dua isu, yaitu spasial variasi dalam lingkungan amenitas dan spasial variasi kebijakan lingkungan dan peratutan. Menurut Ullman (1954) bahwa amenitas lingkungan itu mencerminkan keindahan sebagus akses untuk rekreasi alam seperti memancing, mendaki, golf, berselancar, dll.


Ullman berpendapat bahwa aktivitas pabrik akan dapat berkembang dengan lebih cepat di lingkungan seperti itu, seperti di Anerika Serikat bagian selatan dan Barat daya, dimana disana menawarkan gaya hidup yang menarikbagi para pengusaha yang ingin bebas beraksi-berkreasi. Amenitas lingkungan ini bervariasi antar negara, karena bergantung dengan ikli.


Beberapa tahun terakhir ini perhatian tentang peraturan lingkungan berkait kondisi lokasi semakin dalam, terutama masalah polusi udara dan polusi air. Beberapa industri terutama industri berat seperti industri kimia, kertas, dan baja yang secara besar-besaran menyebabkan polusi dan sumber masalah kesehatan dan dalam jangka lama merusak lingkungan. Di kebanyakan negara maju, kebiajakan udara bersih dan air bersih merupakan sal;ah satu kebijakan yang diundang-undangkan yang dikenalkan setelah Perang Dunia kedua. Dimana adanya batasan bagi tiap industri mengenai polusi yang ditimbulkan oleh industri mereka.


Regulasi lingkungan adalah kondisin lokasi karena berbeda-beda dalam muatannya dan merupakan komitmen silang kekuasaan politik, karena tidakmeratanya distribusi geografi berkait polusi industri dan karena biaya aturan dari loaksi satu ke yang lain yang berbeda-beda. Seperti di Kanada berkait dengan industri pulp dan kertas, dimana peraturan untuk polusinya lebih diperketat karena mempengaruhi populasi ikan salmon disungai.


Sementara itu, regulasi lingkungan merupakan biaya variable, contoh di industri pulp dan kertas, maka untuk biaya lingkungan adalah sebesar 5-10% dari biaya pendirian pabrik baru. Bisa juga dikatakan bahwasanya pemecahan masalah lingkungna ini memerlukan biaya yang mahal. Disisi lain, yang berkait dengan lingkungan juga meliputi pemeliharaan keindahan-estetika, kualitas hidup nilai spiritual.


Government

Perbedaan tingkatan pemerintahan berdampak pada kondisi lokasi. Untuk lebih memahami pengaruhnya, maka Watts (1987) membedakannya menjadi kebijakan ruang eksplisit (explicit spatial policy), kebiajakan ruang implisist (implicit spatial policy) dan kebiajakan ruang turunan (derived spatial policy).

  1. explicit spatial policy adalah kebiajan “top down” yang diimplementasikan oleh pemerintah nasional atau supranasional yang mana berusaha untuk merangsang industrialisasi dalam mendesain region dengan beberapa insentiv seperti subsidi. Insentif dapat berupa grant untuk membantu pembnagunan gedung baru atau untuk lebih membuat yang sudah ada menjadi modern, kemudian dengan emmberikan pinjaman dengan buanga yang rendah, payroll subsidi atau beberapa bentuk pemotongan pajak penghasilan. Kebijakan ini juga sering disebut dengan regional policy. Sepanjang tahun 1950an hingga 1970an, banyak pemerintahan nasional yang melakukan hal tersenut. Namun diawal tahun 1980an, negara-negara seperti Amerika Serikat, UK, Australia dan Kanada mulai mengurangi peranan kebijakan tersebut (Rees 1989; McLoughlin and Cannon 1990. hal itu karena menangnya pemerintah yang konservatif, dimana berlawanan dengan subsidi publik, menimbulkan masalah keseimbangan neraca pembayaran dan meningkatnya angka pengangguran alami. Namun disisi lain, kebijakan ini bersifat positif seperti di Jepang yang mana pemerintah nasioanl membantu mendukung perkembangan daerah pinggiran. Dan juga Jerman, yang secara besar-besaran memerikan dana untuk rekonstruksi struktur industri di bagian timur Jerman.

  2. implicit spatial policy adalah merukan turuna darikebijakan pertama diatas (Amstrong and Taylor 1978). Kebijakan ini disusun terutama untuk kepentingan nasioanal, seperti kebiajakan perdagangan dan kebijakan tarif dan kebijakan bertahan yang bisa berdampak pada region. Di kesempatana lain, efek ini bersifat implisit pada tujuan utama kebijakan tersebut. Sebagai contoh adalah di Kanada, kebijakan tarif nasional dibuat untuk melindungi industri pabrik sekunder, yang mana terletak di Ontario dan Quebec. Kemudian contoh di US mengenai kabijakan bertahan, dimana para militer di tempatkan di California dan beberapa kota di Manufacturing belt (Rees et al 1988). Dampak dari kebijakan spatial implisist ini susah untuk di identifikasi.

  3. derived spatial policy terjadi kapan saja ketika terjadi perbedaan kebijakan industri antar regional dengan pemerintah lokal. Komunitas yang iklim bisnis nya tinggi, mereka secara aktif menunjukkan perilaku pro bisnis mereka dengan satu bentuk “ boosterism” atau bentuk yang lainnya, meliputi penyediaan bagi para penguasaha dengan berbagai informasi, fasilitas akses program pemerintah, memfasilitasi kerjasama bisnis dengan pemerintah, pekerja dan bisnis, menciptakan industry park dan investasi lokal.

Sebagai dampak kebijakan ekonomi pemerintah untuk lokasi industri, maka seharusnya ditingkatkan antara banyak negara OECD, regional dan pemerintah lokal untuk lebih memainkan aturan yang pro aktif, dengan menghiraukan ada tidaknya kebiajakan spasial

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda