Minggu, 13 Januari 2008

Bekerja Sesuai Bidang Ilmu

Sebagian masyarakat cenderung menganggap, pekerjaan yang dilakoni seseorang idealnya sesuai dengan latar belakang keilmuannya. Padahal sebenarnya bekerja pada bidang lain yang berbeda dari disiplin ilmu yang dituntut di bangku sekolah atau kuliah, bahkan memiliki beberapa manfaat.

Pertama, pengalaman dan wawasan seseorang akan menjadi lebih luas, hingga dapat memandang suatu masalah tidak hanya dari satu sisi. Ambillah contoh, profesi diplomat di Departemen Luar Negeri yang “idealnya” diisi oleh sarjana hubungan internasional.

Dengan berkarir pada bidang itu, seorang sarjana ekonomi yang gencar mencetuskan kesejahteraan lewat gagasan ekonomi, atau seorang sarjana sastra yang sangat yakin peran seni dalam meningkatkan posisi tawar suatu negara, akan “dipaksa” untuk menelaah juga aspek politis dan historis dunia.

Kedua, seiring dengan bertambahnya pengetahuan baru, seorang karyawan yang berjiwa wirausaha akan menjadi lebih jeli melihat peluang. Sebelum bekerja sebagai konsultan keuangan pada sebuah perusahaan asuransi, seorang lulusan jurusan farmasi mungkin tidak menyadari bahwa selain untuk tujuan konsumsi, maka sebagian masyarakat menggunakan kekayaannya untuk investasi.

Ketiga, akan timbul kompetisi yang (semoga) sehat di antara para pelamar kerja. Ketika seorang sarjana teknik pertanian misalnya diterima untuk menjadi training officer di sebuah perusahaan pakaian jadi, kemungkinan besar kompetensi yang dimiliki di bidang pelatihan lebih tinggi daripada pesaing lainnya yang datang dari bidang manajemen, psikologi, atau komunikasi misalnya.

Perusahaan yang cerdas menyeleksi calon karyawan berdasarkan pengalaman dan keterampilan, bukan latar belakang pendidikan semata. Ini berarti, seorang sarjana teknik informatika yang ingin bekerja sebagai konsultan IT tak cukup hanya mengandalkan gelar, tapi harus benar-benar menguasai bidang ilmunya agar tidak dikalahkan oleh sarjana teknik kimia yang kebetulan lebih luwes menguasai berbagai bahasa pemrograman.

Di samping itu, beberapa profesi justru membutuhkan sarjana dari berbagai disiplin ilmu untuk dididik sesuai kebutuhan profesi itu. Contoh paling mudah pekerjaan sebagai reporter atau jurnalis media massa. Dengan beragamnya rubrik, akan relatif lebih efisien untuk melatih sarjana desain interior tentang bagaimana membuat feature, daripada melatih sarjana jurnalistik tentang seluk-beluk gaya penataan ruangan.

Namun begitu, untuk menggeluti bidang yang berbeda dengan apa yang dipelajari semasa di bangku kuliah, memang bukan hal yang mudah. Di sinilah sebetulnya peran pendidikan dan pelatihan bagi pegawai baru sangat dibutuhkan. Baik berupa pelatihan secara intensif maupun orientasi singkat tentang perusahaan.

Mereka yang mempunyai prinsip, pekerjaan harus sesuai dengan latar belakang keilmuan yang dimiliki, mungkin akan merasa keberatan jika mereka harus mempelajari sesuatu yang baru mulai dari awal. Padahal, tidak ada yang bisa memprediksi masa depan.

Memaksakan agar pekerjaan kita sesuai latar belakang pendidikan bukan hanya hal yang sulit, tapi dapat mematikan kreativitas. Dalam kewirausahaan, contohnya. Tak semua yang kita pelajari di sekolah atau perguruan tinggi harus bisa “dijual”. Jika setiap orang mutlak mesti berbisnis sesuai bidang ilmunya, alangkah sesaknya ruang gerak para sarjana untuk menjadi pengusaha karena lahan usaha dibatasi sesuai bidang ilmu mereka.

Kini sudah bukan saatnya lagi membuat kotak-kotak yang tak perlu hanya mempersempit pandangan. Menjadi seorang profesional tak harus melulu pada satu bidang ilmu. Selain ahli obat-obatan, Ibnu Sina (Avicenna) juga merenungi filsafat, kimia, dan matematika. Carl Iver Hovland tidak hanya menyentuh psikologi, tapi berhasil menegakkan salah satu pilar besar ilmu komunikasi. Merambah dunia yang berbeda dengan bidang ilmu, boleh jadi malah menguntungkan.

Tengoklah Mooryati Soedibyo -pengusaha jamu dan kosmetika tradisional- yang ternyata alumni jurusan Bahasa Inggris. Atau Cyrillia Arymbi, seorang asisten apoteker yang kini sukses dengan Lembaga Pendidikan dan Latihan Ariyanti.

Dan kalau 25 sarjana arsitektur penggagas bisnis kaus “Dagadu” memilih untuk mendesain bangunan, mungkin Yogya akan kekurangan salah satu daya tariknya.
byayusuryasakti
KOMUNIKASI BISNIS

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda