Rabu, 06 Februari 2008

PENGALAMAN, PEMAHAMAN DAN IDENTIFIKASI NEGOSIASI

oleh basuki

  1. Pengalaman Negosiasi Pribadi

Pengalaman negosiasi ini saya alami ketika lulus dari SMA dalam rangka menentukan suatu pilihan untuk dapat kuliah di PTN dengan pilihan jurusan yang cocok dengan kemampuan dan keinginan keluarga.


Pada waktu itu terjadi dilemma dalam keluarga antara saya dan kedua orang tua saya. Adapun hal tersubut terjadi karena kondisi kultur budaya keluarga saya kurang lebih sebagai berikut;

  1. Jiwa pegawai negeri

Kedua orang tua saya adalah PNS. Mereka menghendaki saya untuk mencari sekolah yang ikatan dinas seperti STAN.

Karena pada waktu itu saya dari IPS, hanya ujian STAN saja dari sekolah kedinasan yang saya ikuti. Singkat cerita ujian STAN tidak diterima.

  1. Kondisi Finansial keluarga

Pada waktu itu ketika saya kelas tiga SMA, adik kandung saya masing-masing kelas dua SMA dan kelas tiga SMP.

  1. Kuliah harus di PTN

Images PTN merupakan tempat perkuliahan yang murah, dekat dan bermutu.

  1. Panutan keluarga dan masyarakat


Ketika itu, saya termasuk pemuda yang dikenal mempunyai kecerdasan cukup. Sekolah Dasar (SD), SMP dan SMA yang favorite dengan rangking yang selalu termasuk big five.


Pada waktu itu, berbagai usaha saya antara lain:

  1. Saya adalah mengajukan seleksi PTN dari jalur PMDK UNDIP jurusan manajemen dimana hanya melalui sekolah berbekal raport SMA kelas satu, dua dan tiga. Saya tidak diterima.

  2. Saya ikut UM UGM 2004, dikarenakan hanya belajar autodidak maka saya minder ketika memilih jurusan. Saya berfikir bahwa banyak teman-teman lain yang ikut bimbingan belajar di luar sekolah. Saya hanya iseng dan memilih jurusan passing grades rendah saja. Ternyata diterima di Ilmu Pemerintahan (FISIPOL) dengan SPMA nol. Pada akhirnya, saya tetap regristrasi karena pada saat itu bebas SPMA.

  3. Saya tetap mengikuti seleksi ujian masuk STAN. Singkat cerita saya tidak diterima dan rekanan se-SMA saya bayak yang diterima.



Dillema [Konflik]

Saya merasa tidak nyaman setelah regristrasi ulang di UGM, pada waktu diterima di jurusan Ilmu Pemerintahan. Mata kuliah yang ditawarkan tidak sesuai dengan kemampuan saya yang lebih banyak pada kemampuan eksak dan non verbal dari pada kemampuan verbal yang menuntut komunikasi dan apresiasi diri. Saya memutuskan untuk dapat ikut SPMB 2004. Saya menginginkan untuk dapat masuk ekonomi walupun di UNS saja karena ekonomi UGM pada jalur SPMB mempunyai level kompetisi yang sangat ketat. UNS merupakan PTN yang dekat dengan rumah dan berbiaya rendah.


Tetapi, orang tua saya sudah mengeluarkan dana cukup banyak dalam regristrasi ulang di FISIPOL. Secara psikologis, dengan diterimanya saya di UGM dan sudah diketahui oleh masyarakat sekitar, bila tidak saya ambil maka akan menjadikan beban malu psikologis bagi mereka walupun tidak paham mengenai apa itu Ilmu Pemerintahan itu?. Jadi kalaupun kuliah di PTN maka pada akhirnya harus di UGM.


Negosiasi I

Adapun langkah yang saya lakukan dalam negosiasi untuk meminta ijin mengikuti SPMB 2004 antara lain;

  1. Saya memberanikan diri berbicara jujur bahwa UM UGM kemarin adalah sebagai alat penjajagan kemampuan, dan ternyata lolos. Terbukti juga ketika dilaksanakannya try out saya sering mendapat kategori tiga besar. Saya yakin bisa meraih tingkat jurusan yang lebih baik dan sesuai dengan minat keahlian eksak dan non verbal saya yaitu ekonomi.

  2. Saya meyakinkan kedua orang tua saya bahwa jurusan ekonomi lebih berprospek bagus. Hal itu saya bandingkan dengan saudara sepupu saya sebagai lulusan Universitas Sebelas Maret UNS yang lulus dan segera mendapat pekerjaan sebagai purchasing manager pada MNC jepang di karawang, jabar.

  3. Saya memberikan bandingan juga dengan teman-teman sejawat yang banyak diterima di PTN dengan jurusan bagus. Sehingga saya menyakinkan bahwa saya juga mampu.


Reaksi Orang Tua I;

Setelah berbagai pada negosiasi I hal diatas saya lakukan, tanggapan orang tua saya antara lain:

  1. Bahwa diterima di FISIPOL – UGM – sudah merupakan prestasi dan hal itu dirasa sudah cukup bagi kedua orang tua saya.

  2. Biaya kuliah dan hidup di UGM tidak sedikit nantinya.

  3. Mengingat adik-adik saya yang juga sedang membutuhkan biaya banyak. Saya tidak diperkenankan mengikuti SPMB.

  4. Kalau pun diterima di SPMB, uang pembayaran di regristrasi ulang tidak kembali.


Negosiasi II

Saya kembali melobi orang tua dengan usaha-usaha berikut;

  1. Pada waktu itu, di situs UGM tertera bahwa biaya regristrasi ulang ternyata dapat kembali dan peserta dapat mangikuti SPMB.

  2. Saya juga meng- email direktur akademik dan kemahasiswaan universitas dan jawabannya adalah sama.

  3. Kurang puas, saya menelphon langsung direktur akademik – Bp Agus – dan jawabannya masih sama.

  4. Masalah biaya hidup saya merencanakan akan menginap di rumah kakek bila orang tua berkeberatan biaya hidup. Kebetulan rumah kakek di Bantul atu sekitar 45 menit perjalanan ke UGM.

  5. Ada beasiswa bagi yang berprestasi ketika sudah menjadi mahasiswa juga memperingan biaya.


Reaksi II selanjutnya dari orang tua saya adalah berikut:

  1. Dengan bijak, orang tua saya memberi jawaban bahwa saya diperbolehkan mengikuti SPMB mengingat kondisi psikologis saya pada saat itu sedang stress.

  2. Syarat kedua orang tua saya bahwa dalam SPMB

    1. Pilihan jurusan ekonomi manajemen/akuntansi dan ilmu ekonomi UGM.

    2. SPMA nol dan

    3. Uang regristrasi I kembali

  3. Tidak menyesal bila nantinya SPMB tidak diterima.

  4. Kemungkinan nantinya tinggal bersama kakek di Bantul.


Negosiasi Berhasil.

Pada akhirnya saya ikut SPMB 2004 dengan pilihan I Manajemen dan pilihan II Ilmu Ekonomi UGM. Karena masyarakat sekitar sudah mengetahui bahwa saya diterima di UGM. Saya tidak diperkenan kan mengambil UNS walaupun ekonomi sekali pun.

Saya mengikuti SPMB dengan tanggung jawab besar. Kalau tidak diterima di SPMB berarti saya harus melanjutkan di FISIPOL yang nota bene kurang sesuai dengan kemampuan saya.

Al hasil, dengan do’a dan usaha kerja yang keras maka saya diterima di Manajemen UGM pada SPMB 2004 dengan SPMA nol. Dengan berbagai tawaran beasiswa pada tahun pertama, saya juga mendapat beasiswa TPSDP dari DIKTI full selama kulih - empat tahun.

Akhirnya, untuk memacu kuliah, saya tidak ditempatkan di rumah kakek dan kos di dekat kampus.


  1. Pemahaman Negosiasi

Pemahaman saya mengenai negosiasi, bahwa negosiasi adalah suatu proses dalam rangka mencari sutu kesepakatan dari dua pihak atau lebih yang mempunyai kepentingan berbeda untuk kemanfaatan bersama. Negosiasi yang dilakukan juga bersifat sukarela tanpa adanya suatu tekanan dari pihak tertentu atau keterpaksaan dari penegosiasi.


Negosiasi Bisnis berarti proses negosiasi yang dilakukan pada lingkungan bisnis. Hal itu bisa berarti profit oriented atau apapun yang bisa meguntungkan keberlangsungan bisnisnya. Proses negosiasi terjadi jika terdapat beberapa criteria, antara lain

  • Ada dua pihak atau lebih

  • Masing-masing pihak mempunyai kepentingan.

  • Terjadi pertukaran informasi

  • Keputusan tidak bisa diambil satu pihak.

  • Terjadi preferen kepentingan.


  1. Identifikasi Pengharapan pada Negosiasi

negosiasi memerlukan proses pemahaman konsep, praktik dan sosialisasi yang baik untuk dapat memacu mahasiswa dalam mempersiapkan praktik pada kenyataan secara professional. Tuntutan tersebut melalui proses kelas yang kurang lebih sebagai berikut;

  • Perlu adanya konsep matang dalam rangka pemahaman negosiasi bisnis.

  • Bagaimana praktik dan etika yang benar dalam negosiasi.

Kalau perlu dihadirkan seorang profesional

  • Bagaimana strategi dan taktik dalam menyatukan berbagai kepentingan.

  • Bagaimana memenangkan negosiasi dan meminimalkan kerugian.

  • Bagaimana negosiasi tetap membina hubungan jangka panjang dengan partnernya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda