Jumat, 20 Juni 2008

kemacetan yogyakarta

Menuju Yogyakarta yang bebas kemacetan
Oleh:EkoWibowo

Kemacetan, mungkin merupakan kejadian yang setiap hari dirasakan oleh masyarakat yogyakarta. Hal ini terjadi karena hampir setiap hari terjadi kemacetan lalu lintas di jalan-jalan utama di Kota Yogyakarta terutama terjadi pada saat jam-jam sibuk. Hal ini misalnya dapat dilihat di Jalan Sudirman, Urip Sumoharjo, Jalan Adisucipto yang merupakan jalan utama di Kota Yogyakarta. Di ketiga jalan utama ini terjadi kemacetan yang luar biasa pada saat jam-jam kantor. Hal yang tidak jauh berbeda juga terjadi di Jalan Malioboro.

Akibat kemacetan lalu lintas ini para pengguna jalan merasa tidak nyaman. Disamping itu akibat kemacetan lalu lintas ini maka jarak tempuh yang seharusnya dapat dilakukan dalam waktu singkat akan memerlukan waktu yang lebih lama dari yang seharusnya. Dampak kemacetan lalu lintas juga dirasakan oleh masyarakat sekitar jalan. Beradasarkan hasil pemantauan Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan (KDPL) Kota Yogyakarta terhadap kualitas udara di 11 titik di wilayah kota, Mei 2005, menunjukkan kadar hidrokarbon (HC) melebihi batas normal.

Sedangkan penelitian Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) DIY di 15 titik juga menunjukkan kadar timbal (Pb) melebihi ambang batas yang ditetapkan Pemerintah Provinsi DIY berdasarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur Nomor 153 Tahun 2002 sebesar 2 ug/m3.

Tingginya tingkat polusi udara di jalan-jalan di Kota Yogyakarta ini mempengaruhi kawasan permukiman di sekitar jalan. Seperti di kawasan Sagan yang terimbas polusi udara di perempatan Mal Galeria. Kadar HC di permukiman Sagan mencapai 224 ug/m3, sedangkan di perempatan Mal Galeria sendiri mencapai 398,5 ug/m3.

Kemacetan di Kota Yogyakarta ini terjadi karena beberapa faktor. Yang pertama, akibat tidak adanya master plan pembangunan kota yang jelas, sehingga sejumlah megastore baru, seperti Plaza ambarukmo, Saphir Square, dan Mal Galleria, dibangun berdekatan serta tidak diimbangi dengan area parkir yang mencukupi sehingga kendaraan pengunjung diparkir di pinggir jalan yang berakibat berkurangnya ruas jalan yang yang dapat digunakan kendaraan yang lalu lalang.

Megastore-megastore baru ini menjepit posisi pasar tradisional dan kampung-kampung sehingga potensial menimbulkan efek kemacetan di satu kawasan. Kedua, pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Di DIY sendiri, jumlah kendaraan bermotor tahun 2004 telah mencapai 749.273 unit dengan kenaikan rata-rata 0,5-1,0 persen pertahun. Bandingkan dengan wilayah Kota Yogyakarta yang luasnya hanya 33 kilometer persegi.

Masalah kemacetan lalu lintas ini harus segera diatasi oleh Pemprov DIY , Pemkot Yogyakarta serta semua pihak yang terkait. Untuk mengatasi kemacetan lalu lintas ini maka ada beberapa solusi yang mungkin dapat digunakan. Pertama, pemberlakuan metode road pricing (RP) di jalan–jalan utama di Kota Yogyakarta. Melalui metode ini, kendaraan bermotor dengan kepemilikan pribadi diharuskan membayar saat menggunakan jalan-jalan yang ditetapkan.

Kedua, Menerapkan program transportasi massal dengan bus patas dan bus priority yang digunakan untuk mengurangi kendaraan pribadi di dalam kota. Dengan sistem ini tidak akan ada sistem setoran, karena sopir digaji berdasarkan jumlah kilometer perjalanan bus sehingga operator bus dapat melayani penumpang dengan optimal.

Ketiga, pembangunan area parkir di bawah tanah. Hal ini dilakukan agar diperoleh area parkir yang lebih luas sehingga kendaran-kendaran tidak diparkir dipingir jalan. Dengan menerapkan beberapa langkah tersebut maka kita berharap suatu saat akan terwujud Kota Yogyakarta yang nyaman bagi semua warganya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda