Jumat, 27 Juni 2008

opini kompetensi pegadaian

Oleh:NikoDemusWirawan

1. Menurut pendapat saya, Perum Pegadaian telah secara optimal menjadi pelaku jaringan bisnis strategis dalam sektor jasa keuangan di Indonesia. Sesuai usaha di area competence-nya, yaitu jasa keuangan di bidang gadai, Pegadaian telah menjalankan usahanya secara optimal. Hal ini tak terlepas dari faktor kunci sukses yang menjadi kompetensi inti Pegadaian dalam menghadapi dinamika lingkungan.

Faktor-faktor tersebut meliputi : para karyawan yang memiliki spirit to improve dan spirit to develop yang tinggi sehingga, bila ada seseorang yang membawa ide-ide baru untuk menghadapi tuntutan perubahan lingkungan, karayawan cepat merespon ide tersebut karena ia bisa melihat kans yang ada di dalamnya dan ia juga bisa merasakan kelemahan keadaannya saat ini sehingga, ia tetap flexible terhadap lingkungannya.

Untuk ke depannya, hal ini masih bisa dipertahankan dengan manajemen SDM yang baik untuk mengembangkan SDM ini dengan harapan agar Pegadaian tetap bisa exist pada bisnisnya dan Puji Tuhan kalau bisa menigkatkannya. Selain itu, Pegadaian bisa mengerti benar apa yang sebenarnya para customer mereka inginkan. Hal ini terlihat dari - pinjaman yang murah, proses pemberian - yang tidak berbelit-belit, jaminan keamanan atas barang yang digadaikan, dan juga keramahan serta kedekatan para pegawai dengan nasabahnya. Keempat hal ini mutlak harus dipertahankan

Pegadaian karena kesemuanya dilakukan Pegadaian dalam day-to-day operation mereka. Mustahil Pegadaian bisa memenangkan pilihan konsumen atas biro jasa pemberian - bila mereka tidak melakukan hal itu. Terlebih lagi di tengah semakin maraknya perusahaan-perusahaan pemberi jasa - yang terus bermunculan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Pegadaian untuk mempertahankan dan memperbaharui core competence-nya tersebut.

Selain itu, yang juga tak kalah pentingnya, Pegadaian harus mampu menyadari apa yang sebenarnya diinginkan oleh customer mereka yang kebanyakan adalah UKM supaya bisnisnya bisa terus berjalan sehingga, Pegadaian pun bisa terus menjalankan kegiatan operasionalnya. Dan juga penting untuk diperhatikan Pegadaian harus bisa menjaga aliansi strategis yang telah mereka jalin untuk lebih meningkatkan bisnisnya.

2. Kebutuhan perubahan yang harus dilakukan Pegadaian mungkin dari sisi kepegawaian dimana harus meningkatkan pelayanan dengan tidak meninggalkan keramahan dan kenyamanan pelayanan. Untuk itu, ke depannya diperlukan SDM yang generalis tetapi juga spesialis dimana SDM tersebut bisa mengerjakan serangkain tugas yang mirip dan berkaitan sehingga, pelayanan akan menjadi lebih efektiif dan efisien. Untuk memenuhi kebutuhan ini, Pegadaian bisa mendirikan semacam lembaga akademik untuk memproduksi SDM yang nantinya akan dibekali dengan skill, knowledge, dan abilities yang diperlukan untuk menduduki jabatan yang dipersiapkan untuknya.

Selain itu, untuk menjawab keiinginan masayarakat bahwa Pegadaian diharapkan untuk membantu nasabahnya dalam mengembangkan bisnis mereka, Pegadaian diharapkan mulai membenahi manajemennya untuk bisa memberikan bantuan pada para nasabahnya tersebut, entah itu dari sisi akses pasar maupun dari segi perbaikan manajemennya. Pegadaian bisa mulai merancang semacam biro konsultasi bisnis dan memberikan semacam training manajemennya sebagai salah satu bagian dari service yang diberikan.

Hal ini penting untuk dilakukan karena para customer tersebutlah yang menentukan hidup matinya organisasi. Bila usaha para nasabah tidak berjalan lancar, Pegadaian akan menemui berbagai kesulitan dalam hal perputaran aliran dana yang nantinya juga akan bisa mematikan bisnis Pegadaian itu sendiri. Untuk bisa membuat jasa service baru ini dapat berjalan dengan lancar, Pegadaian perlu untuk mengembangkan SDM-nya mulai dari sekarang,

3. Dalam bisnis sekarang ini berlaku customer driven performance organization system. Berkenaan dengan hal ini, Pegadaian memiliki keunggulan kompetitifnya, yaitu Pegadaian dapat mengerti benar apa yang diinginkan oleh customer mereka dalam menjalankan bisnisnya, seperti : jaminan keamanan atas barang yang digadaikan, proses pemberian - yang tidak berbeliti-belit, dan kedekatan serta keramahan pelayanan yang diberikan.

Menyingkapi hal ini, Pegadaian memiliki SDM yang kompeten di bidangnya dan juga mereka dibekali dengan interpersonal skill yang tinggi dalam berinteraksi dengan orang lain yang memungkinkan keramahan dan kedekatan dalam memberikan pelayanan pada customer. Dan juga para SDM ini telah dididik dengan budaya organisasi yang baik yang memungkinkan semua hal itu dapat tercapai.

Untuk mempertahankan keunggulan kompetitif ini, organisasi bisa kembali memposisikan dirinya misalnya dengan menjadi organisasi yang selain memberikan juga memberikan bantuan pada nasabah dalam mengembangkan usahanya, misal dalam hal akses pasar dan perbaikan manajemen. 3 R yang dimiliki perusahaan mutlak harus diarahkan untuk menghadapi dinamika perubahan lingkungan, misal Pegadaian melakukan analisis jabatan untuk lebih mengefektifkan pelayanan mereka.

Oleh karena itu, jabatan yang ada dibuat supaya organisasi bisa mengakomodasi keiinginan customer dengan resources yang mereka miliki. SDM sebagai resources yang dimiliki harus dididik, ataupun melakukan perekrutan baru supaya menjamin agar desain jabatan yang baru nantinya dapat berfungsi dengan baik.

4. Menurut saya, nilai-nilai dari budaya korporat yang menjadi sisi kuat Pegadaian adalah niali keramahan dan kesenangan untuk tidak menyulitkan orang lain. Sebuah hal yang mungkin akan menjadi mahal harganya di organisasi lain. Hal ini dapat dilihat dari keramahan pelayanan yang diberikan Pegadaian dan juga dalam proses pemberian yang tidak berbelit-belit. Hal ini harus terus ditingkatkan supaya Pegadaian mendapatkan kepercayaan dari para pelanggannya sehingga, mereka akan senantiasa loyal menjadi partner hidup dalam bisnis Pegadaian.

Sedangkan nilai yang harus diwaspadai agar tidak menjadi faktor penghambat tumbuh-kembangnya Pegadaian di masa depan, menurut saya, selain KKN yang mungkin sudah menjadi hal umum dalam benak kita untuk mutlak harus dihindari adalah rasa cepat berpuas diri atas kesuksesan yang telah diraih. Hal ini sama saja dengan tidak bermental juara. Tidak lapar gelar ataupun tidak ingin meraih kesuksesan yang lebih besar. Salah-salah malah hasil yang sudah ada raib seketika.

Bila kita cepat merasa puas dengan apa yang sudah ada, mustahil kita bisa meraih hal yang lebih besar lagi yang sudah menunggu kita sehingga, kita pun tidak bisa berkembang lagi. Saran saya untuk mengatasi potensi resistance to change adalah : perusahaan dalam hal ini adalah top manager harus selalu mengkomunikasikan pentingnya bagi organisasi, semisal dalam acara coffee break.

Para beliau yang duduk di atas tersebut harus senantiasa mengkomunikasikan posisi perusahaan sekarang ada dimana, target untuk membawa perusahaan ke depannya akan seperti apa, untuk melaksanakannya diperlukan orang-orang seperti apa, didukung budaya organisasi yang bagaimana agar orang tersebut sadar akan pentingnya posisi mereka dalam organisasi, dan peran mereka dalam perubahan. Oleh karena itu, mereka akan menjadi sadar akan betapa pentingnya perubahan yang harus dilakukan.

5. Bila saya ada dalam posisi Direksi Perum Pegadaian, program perubahan yang akan saya lakukan adalah perubahan pada level organisasi karena perubahan pada level ini sangat dekat dengan lingkungan dan juga dengan didasari anggapan bahwa kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan bukan lingkungan yang menyesuaikan diri dengan kita sehingga, dengan respon yang cepat pada lingkungan, kita bisa segera melakukan repositioning, reactualizing, dan rejuvenating untuk membentuk suatu desain organisasi yang cocok dengan tuntutan perubahan dinamika lingkungan.

Untuk melakukan perubahan ini, kita harus senantiasa melakukan environmental scanning untuk mengetahui kondisi lingkungan yang sebenarnya dan juga mungkin kita bisa melakukan benchmarking pada organisasi yang telah sukses melakukan perubahan. Kemudian, kita sesuaikan dengan resources dan kapasitas organisasi untuk melakukan perubahan dengan telah terlebih dahulu mengkomunikasikannya pada pihak-pihak yang terlibat di dalam perubahan tersebut.

Satu contoh perubahan yang harus dilakukan dengan pendekatan revolusioner adalah bila suatu ketika ada kasus pencurian barang jaminan di Pegadaian. Pencuri masuk dengan membobol pintu. Hal pertama yang harus dilakukan Pegadaian untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat adalah tidak ada pilihan lain harus mengalokasikan resources yang mereka miliki (yang mungkin rencananya telah dianggarkan untuk hal lain) untuk mengganti barang tersebut. Kemudian menjanjikan hal tersebut tidak akan terjadi lagi disertai dengan bukti dipasangnya alarm keamanan kalau sebelumnya belum ada satpam yang berjaga malam, Pegadaian tersebut kemudian mempekerjakan beberapa orang untuk menjaga keamanan

Contoh perubahan yang dilakukan dengan cara evolusi adalah bila ada seorang pegawai yang sering datang terlambat, untuk mengubah perilakunya, sebagai atasan, kita bisa datang lebih pagi dari dia dan bertegur sapa dengannya. Cara yang lebih ekstrim mungkin kita bisa menggantikan posisinya dalam melayani nasabah bila pegawai tersebut belum datang saat kantor buka sehingga, ia nanti akan sadar sendiri dan akan merubah perilakunya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda