Kamis, 14 Januari 2010

Wala' Dan Bara' Konsekuensi Tauhid


Wala' Dan Bara' Konsekuensi Tauhid

Wala' Dan Bara' Sebagai Konsekuensi Keimanan Tauhid

Dengan nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang

Berikut ini artikel Al-Hawari Edisi 01 Desember 2005


Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. ..." [Qur'an Surat (60) Mumtahanah : 4]

Dalam tradisi Islam, Nabi Ibrahim adalah teladan abadi dalam kehidupan setiap Muslim. Ia merupakan cerminan keteguhan iman yang benar. Figur penganut Tauhid yang kokoh. Ia adalah Abul Anbiya' (Bapak Para Nabi) yang termasuk dalam maqam (kedudukan) Ulul Azmi selain Nabi Nuh, Musa, 'Isa alaihumussalam, dan tentu Nabi Muhammad Saw.

Sebagai figur teladan tentu saja nabi Ibrahim mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Maka tidak mengherankan jika Allah Swt. Memerintahkan kepada Rasulullah Saw. untuk mengikuti millah (agama) Ibrahim. Meskipun jarak nubuwwah antara keduanya mencapai ribuan tahun.

Katakanlah: "Benarlah (apa yang difirmankan) Allah." Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. [Qur'an Surat (3) Ali Imran : 95]

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif" dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. [Qur'an Surat (16) Ali Imran : 123]

Dan di antara tradisi ajaran Nabi Ibrahim yang harus diikuti oleh Nabi Muhammad Saw. dan ummatnya adalah perihal wala' dan bara'.

Pengertian Wala' dan Bara'

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “Wala' merupakan kebalikan dari al-'adawah (permusuhan). Asal pengertian dari wala' adalah kecintaan dan kedekatan. Sedangkan asal pengertian al-'adawah adalah kebencian dan kejauhan”

Syaikh Muhammad bin Sa'id al-Qohthani mendefinisikan wala' adalah pertolongan, kecintaan, pemuliaan, penghormatan, kesamaan dengan orang-orang yang dicintai baik zhahir maupun bathin. Sedangkan bara' ialah penjauhan, pembebasan, (berlepas) diri dan permusuhan setelah ada peringatan. (Al-Wala' wal Bara' fil Islam, Syaikh Muhammad bin Sa'id Al-Qohtani)

Gambaran Wala' dan indikasinya

Di antara musibah yang besar melanda ummat ini jika telah terjadi perwalian kepada orang-orang kafir dan justru ber-bara' sesama muslim. Hal ini tentu menimbulkan madharat teramat besar bagi ummat Islam. Berikut gambaran wala' kepada orang-orang kafir (dan pembantu-pembantunya, orang-orang munafik, musyrik) :

Pertama, ridha terhadap kekufuran orang kafir (dan pendukungnya, orang-orang munafik), tidak mau mengkafirkan kekafiran mereka, ragu-ragu terhadap kekufuran mereka atau membenarkan di antara jalan pemikiran mereka yang kafir (termasuk nasionalisme, sekularisme, liberalisme, pluralisme).

Kedua, mengangkat orang-orang kafir sebagai pemimpin secara umum, menjadikan mereka sebagai penolong dan pelindung atau mengikuti millah mereka atau tradisi mereka (termasuk sistem pemerintahan demokrasi, kapitalisme, valentine, natal, cara berpakaian, pacaran, kontes kecantikan).

Allah ta'ala berfirman :

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali [192] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu). [Qur'an Surat (3) Ali Imran : 28]

[192] Wali jamaknya auliyaa: berarti teman yang akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. [Qur'an Surat (5) Al Ma'idah : 51]

Ketiga, mempercayai sebagian (ide-ide yang merupakan) kekufuran orang-orang kafir, bertahkim (berhukum) kepada mereka di samping bertahkim (menggunakan hukum) kepada Al Qur'an (termasuk membuat hukum sendiri menurut hawa nafsu).

Allah ta'ala berfirman :

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut [309], dan mengatakan kepada orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. [Qur'an Surat (4) An Nisa' : 51]

[309] Jibt dan thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah (ditaati / dipatuhi / diikuti) selain Allah Swt.

Keempat, mengasihi dan mencintai orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya (orang-orang yang menentang / membelokkan ajaran-ajaran Islam).

Allah ta'ala berfirman :

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan [1462] yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. [Qur'an Surat (58) Al Mujadilah : 22]

[1462] Yang dimaksud dengan pertolongan ialah kemauan bathin, kebersihan hati, kemenangan terhadap musuh dan lain lain.

Kelima, memiliki rasa kecenderungan kepada orang-orang kafir (termasuk ingin meniru peradaban barat).

Allah ta'ala berfirman :

Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim [740] yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. [Qur'an Surat (11) Hud : 113]

[740] Cenderung kepada orang yang zalim maksudnya menggauli mereka serta meridhai perbuatannya. Akan tetapi jika bergaul dengan mereka tanpa meridhai perbuatannya dengan maksud agar mereka kembali kepada kebenaran (dakwah), maka dibolehkan.

Keenam, bersikap lunak, menaruh perhatian, menunjukkan sikap manis (keridhoan) kepada mereka (termasuk menawarkan bantuan, menyambut mereka dengan cinta dan berlebihan).

Allah ta'ala berfirman :

Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). [Qur'an Surat (68) Al Qalam : 9]

Ketujuh, menjadikan mereka sebagai teman kepercayaan (termasuk memberitahukan informasi-informasi penting / rahasia) dan tidak ada kepedulian terhadap orang-orang mu'min.

Allah ta'ala berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. [Qur'an Surat (3) Ali Imran : 118]

Kedelapan, menaati (mengikuti) apa yang mereka perintahkan dan memberi isyarat untuk mengikuti mereka (termasuk mendakwahkan paham mereka).

Allah ta'ala berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. [Qur'an Surat (3) Ali Imran : 149]

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. [Qur'an Surat (18) Al Kahfi : 28]

Kesembilan, bermajlis bersama mereka dan bergabung saat mereka mengolok-olok ayat Allah (termasuk forum munafik yang menyeru kepada kesesatan, mengubah-ubah / membelokkan / mengingkari ajaran Islam juga forum dialog antar agama).

Dalam hal ini Allah Ta'ala berfirman :

Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam, [Qur'an Surat (4) An Nisa' : 140]

Demikian fenomena per-Wala'-an kepada orang-orang kafir. Wala' dan Bara' merupakan konsekuensi dan aplikasi tauhid yang benar. Karena jalan kebenaran telah Allah bentangkan. Jalan menuju kemuliaan, li izzul Islam wal Muslimin. Inilah maksud dari firman-Nya :

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut [162] dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

[162] Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah (ditaati / dipatuhi / diikuti) selain dari Allah Swt.

Wallahu a'lam bishawwab.


______WAJIB MENERAPKAN HUKUM ISLAM______

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. [Qur'an [7] Al A'raf : 175]

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. .... [Qur'an [7] Al A'raf : 176]

_____________________________________________________

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya), [Qur'an [8] Al Anfal : 20]

dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) yang berkata "Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan. [Qur'an [8] Al Anfal : 21]

_____________________________________________________

Tidakkah mereka (orang-orang munafik) mengetahui bahwa barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya neraka jahanamlah baginya, kekal mereka di dalamnya. Itu adalah kehinaan yang besar. [Qur'an [9] At Taubah : 63]

______WAJIB MENERAPKAN HUKUM ISLAM______


Semoga Yang Maha Kuasa melindungi agama kami. Aamiin.

Alhamdulillah.

Go Belajar

Islam VS. Paham Kufur Sekularisme Sesat – Sekularisme Paham Kafir

kata-kata kunci :

Wala' Dan Bara' Konsekuensi Tauhid Wala' Dan Bara' Sebagai Konsekuensi Keimanan Tauhid Berikut ini artikel Al-Hawari Edisi 01 Desember 2005 ↓ Dan di antara tradisi ajaran Nabi Ibrahim yang harus diikuti oleh Nabi Muhammad Saw. dan ummatnya adalah perihal wala' dan bara'. Pengertian Wala' dan Bara' Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “Wala' merupakan kebalikan dari al-'adawah (permusuhan). Asal pengertian dari wala' adalah kecintaan dan kedekatan. Sedangkan asal pengertian al-'adawah adalah kebencian dan kejauhan” Syaikh Muhammad bin Sa'id al-Qohthani mendefinisikan wala' adalah pertolongan, kecintaan, pemuliaan, penghormatan, kesamaan dengan orang-orang yang dicintai baik zhahir maupun bathin. Wala' Dan Bara' Konsekuensi Tauhid Wala' Dan Bara' Sebagai Konsekuensi Keimanan Tauhid Sedangkan bara' ialah penjauhan, pembebasan, (berlepas) diri dan permusuhan setelah ada peringatan. (Al-Wala' wal Bara' fil Islam, Syaikh Muhammad bin Sa'id Al-Qohtani) Gambaran Wala' dan indikasinya Pengertian Wala' dan Bara' Di antara musibah yang besar melanda ummat ini jika telah terjadi perwalian kepada orang-orang kafir dan justru ber-bara' sesama muslim. Pengertian Wala' dan Bara' Hal ini tentu menimbulkan madharat teramat besar bagi ummat Islam. Wala' Dan Bara' Konsekuensi Tauhid Wala' Dan Bara' Sebagai Konsekuensi Keimanan Tauhid Berikut gambaran wala' kepada orang-orang kafir (dan pembantu-pembantunya, orang-orang munafik, musyrik) : Pertama, ridha terhadap kekufuran orang kafir (dan pendukungnya, orang-orang munafik), Demikian fenomena per-Wala'-an kepada orang-orang kafir. Wala' dan Bara' merupakan konsekuensi dan aplikasi tauhid yang benar. Karena jalan kebenaran telah Allah bentangkan. Pengertian Wala' dan Bara' Wala' Dan Bara' Konsekuensi Tauhid Wala' Dan Bara' Sebagai Konsekuensi Keimanan Tauhid Wala' Dan Bara' Konsekuensi Tauhid Wala' Dan Bara' Sebagai Konsekuensi Keimanan Tauhid Berikut ini artikel Al-Hawari Edisi 01 Desember 2005 ↓ Dan di antara tradisi ajaran Nabi Ibrahim yang harus diikuti oleh Nabi Muhammad Saw. dan ummatnya adalah perihal wala' dan bara'. Pengertian Wala' dan Bara' Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “Wala' merupakan kebalikan dari al-'adawah (permusuhan). Asal pengertian dari wala' adalah kecintaan dan kedekatan. Sedangkan asal pengertian al-'adawah adalah kebencian dan kejauhan” Syaikh Muhammad bin Sa'id al-Qohthani mendefinisikan wala' adalah pertolongan, kecintaan, pemuliaan, penghormatan, kesamaan dengan orang-orang yang dicintai baik zhahir maupun bathin. Wala' Dan Bara' Konsekuensi Tauhid Wala' Dan Bara' Sebagai Konsekuensi Keimanan Tauhid Sedangkan bara' ialah penjauhan, pembebasan, (berlepas) diri dan permusuhan setelah ada peringatan. (Al-Wala' wal Bara' fil Islam, Syaikh Muhammad bin Sa'id Al-Qohtani) Gambaran Wala' dan indikasinya Pengertian Wala' dan Bara' Di antara musibah yang besar melanda ummat ini jika telah terjadi perwalian kepada orang-orang kafir dan justru ber-bara' sesama muslim. Pengertian Wala' dan Bara' Hal ini tentu menimbulkan madharat teramat besar bagi ummat Islam. Wala' Dan Bara' Konsekuensi Tauhid Wala' Dan Bara' Sebagai Konsekuensi Keimanan Tauhid Berikut gambaran wala' kepada orang-orang kafir (dan pembantu-pembantunya, orang-orang munafik, musyrik) : Pertama, ridha terhadap kekufuran orang kafir (dan pendukungnya, orang-orang munafik), Demikian fenomena per-Wala'-an kepada orang-orang kafir. Wala' dan Bara' merupakan konsekuensi dan aplikasi tauhid yang benar. Karena jalan kebenaran telah Allah bentangkan. Pengertian Wala' dan Bara' Wala' Dan Bara' Konsekuensi Tauhid Wala' Dan Bara' Sebagai Konsekuensi Keimanan Tauhid Wala' Dan Bara' Konsekuensi Tauhid Wala' Dan Bara' Sebagai Konsekuensi Keimanan Tauhid Berikut ini artikel Al-Hawari Edisi 01 Desember 2005 ↓ Dan di antara tradisi ajaran Nabi Ibrahim yang harus diikuti oleh Nabi Muhammad Saw. dan ummatnya adalah perihal wala' dan bara'. Pengertian Wala' dan Bara' Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “Wala' merupakan kebalikan dari al-'adawah (permusuhan). Asal pengertian dari wala' adalah kecintaan dan kedekatan. Sedangkan asal pengertian al-'adawah adalah kebencian dan kejauhan” Syaikh Muhammad bin Sa'id al-Qohthani mendefinisikan wala' adalah pertolongan, kecintaan, pemuliaan, penghormatan, kesamaan dengan orang-orang yang dicintai baik zhahir maupun bathin. Wala' Dan Bara' Konsekuensi Tauhid Wala' Dan Bara' Sebagai Konsekuensi Keimanan Tauhid Sedangkan bara' ialah penjauhan, pembebasan, (berlepas) diri dan permusuhan setelah ada peringatan. (Al-Wala' wal Bara' fil Islam, Syaikh Muhammad bin Sa'id Al-Qohtani) Gambaran Wala' dan indikasinya Pengertian Wala' dan Bara' Di antara musibah yang besar melanda ummat ini jika telah terjadi perwalian kepada orang-orang kafir dan justru ber-bara' sesama muslim. Pengertian Wala' dan Bara' Hal ini tentu menimbulkan madharat teramat besar bagi ummat Islam. Wala' Dan Bara' Konsekuensi Tauhid Wala' Dan Bara' Sebagai Konsekuensi Keimanan Tauhid Berikut gambaran wala' kepada orang-orang kafir (dan pembantu-pembantunya, orang-orang munafik, musyrik) : Pertama, ridha terhadap kekufuran orang kafir (dan pendukungnya, orang-orang munafik), Demikian fenomena per-Wala'-an kepada orang-orang kafir. Wala' dan Bara' merupakan konsekuensi dan aplikasi tauhid yang benar. Karena jalan kebenaran telah Allah bentangkan. Pengertian Wala' dan Bara' Wala' Dan Bara' Konsekuensi Tauhid Wala' Dan Bara' Sebagai Konsekuensi Keimanan Tauhid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda