Rabu, 03 Maret 2010

Buku Perang Afghanistan - Afghanistan Tak Dapat Dikalahkan


Buku Bagus Untuk Dibaca:


Buku Afghanistan dan Pakistan : Perang yang Tak Dapat Dimenangkan

Strategi Barat saat ini untuk Afghanistan dan Pakistan dan jalan alternatif untuk daerah itu


Bab 3 Mitos-Mitos Sekeliling Perang Afghanistan

Download lengkap : Buku Perang Afghanistan Pakistan Perang yang Tak Dapat Dimenangkan – bahasa Indonesia [PDF]

Pendahuluan

Di abad sembilan belas Lord Palmerston membicarakan tentang kepentingan nasional Inggris bisa dilayani sebaik-baiknya dengan kekuatan kepentingan permanen. Di abad delapan belas di Dunia Baru, George Washington memimpin kekuatan bersenjata untuk menyingkirkan penjajahan brutal dikomandoi oleh kekuatan kolonial Barat. Begitupun sekarang, penerus Palmerston dan Washington mengkomandoi penjajahan keji di Afghanistan dengan alasan bahwa perang di Afghanistan adalah satu kebutuhan dan bukanlah pilihan. Namun begitu, bab ini akan mendemonstrasikan bahwa argumen-argumen yang didukung untuk perang di Afghanistan tidak dapat dipertahankan di hadapan pemeriksaan dengan tidak ada tujuan yang kredibel juga tidak ada taktik-taktik yang kongruen dengan strategi. Bagi penerus Palmerston, Afghanistan seperti juga di Irak sebelumnya, adalah tidak lebih dari papan catur untuk digunakan untuk pertimbangan-pertimbangan geo-strategi lebih luas.

Mitos-mitos berikut ini ada tentang perang Afghanistan sekarang:

  1. Bahwa bertempur dalam perang di Afghanistan membuat jalanan ibukota-ibukota Barat lebih aman.

  2. Bahwa melatih kekuatan keamanan Afghanistan adalah strategi keluar yang bagus.

  3. Bahwa terdapat koalisi internasional bertempur di Afghanistan.

  4. Bahwa tidak terdapat solusi politik di daerah itu.

  5. Bahwa Pakistan adalah sumber dari perlawanan di Afghanistan.

Mitos 1 : Bahwa bertempur dalam perang di Afghanistan membuat jalanan ibukota-ibukota Barat lebih aman

Telah dikatakan bahwa perang di Afghanistan adalah perang karena kebutuhan bukan perang karena pilihan; bahwa perang di Afghanistan akan membuat jalanan di Barat lebih aman, bahwa dengan bertempur di sana, mereka tidak akan bertempur di sini. Namun banyak ahli berargumen bahwa Al-Qaeda berorperasi di sejumlah negara seantero dunia dan hanya sejumlah kecil sekarang berdiam di Afghanistan. Bahkan banyak dari perencanaan detail operasional 9/11 diduga berlangsung di Bonn di Jerman. Maka, tidak dapat beralasan bahwa mengalahkan Al-Qaeda di Afghanistan – atau di Pakistan – akan menjadi pengalahan yang menentukan. Bahkan jika kita mengabaikan mindset imperial yang mengancam orang-orang Afghanistan dan negara mereka sebagai hanyalah kepanjangan dari perang Barat terakhir, premis argumen keamanan itu sendiri adalah cacat.

Penjajahan Kashmir oleh 500.000 pasukan India tidaklah mencegah serangan-serangan di kota-kota India. Penjajahan Israel atas Palestina tidak membuat orang sipil Israel aman dari serangan. Kehadiran 27.000 pasukan Inggris di Irlandia Utara selama 38 tahun tidak mencegah IRA menyerang tanah utama UK. Tidak juga invasi ke Afghanistan menghentikan serangan-serangan di dunia. Seperti yang telah dikonfirmasi oleh banyak komentari, adalah kebijakan Barat, seperti mendukung penjajahan brutal Israel, perang-perang di Irak dan Afghanistan dan memunculkan para diktator Muslim di seantero dunia Muslim yang menyebabkan serangan balik signifikan. Peningkatan pasukan dalam perang Afghanistan oleh karenanya tidak akan menghentikan siklus kekerasan saat ini dan hanya akan menyebabkan lebih banyak kebencian dan kemarahan di dunia Muslim.

Misi yang dibuat-buat di Afghanistan terwabahi oleh kontradiksi-kontradiksi:

Pertamanya, jumlah operatif Al-Qaeda di Afghanistan adalah kurang dari 100. Dalam wawancara dengan CNN pada Oktober 2009 [1], Penasihat Kemanan Nasional Gedung Putih James Jones menyatakan berikut ini, “Berita baiknya adalah bahwa kehadiran Al-Qaeda sangatlah menurun,” Jones berkata, “Aku tidak memprediksi akan ada kembalinya Taliban. Dan aku ingin jadi sangat jelas: Afghanistan tidaklah dalam bahaya – tidaklah dalam bahaya dekat – atau jatuh ... Tidaklah bijak untuk bergegas ke penilaian final di sini.” Jika ini kasusnya, mengapa 140.000 pasukan Barat akan diperlukan di Afghanistan, jika Al-Qaeda kurang dari 100 kekuatan lalu mengapa tidak bisa kekuatan keamanan Afghanistan, sekarang 190.000, tidak bisa mengatasi sejumlah kecil operatif Al-Qaeda itu?

Keduanya, bahkan jika dikatakan bahwa Al-Qaeda eksis di daerah batas antara Afghanistan dan Pakistan (menurut Perdana Menteri Gordon Brown tiga perempat dari rencana-rencana paling berbahaya yang dihadapi UK punya hubungan ke Pakistan) [2], lalu apa yang dilakukan pasukan NATO di Kabul atau Herat atau di Mazhar-e-Sharif. Jika Al-Qaeda ada di sisi Pakistan lalu seharusnya tanggung jawab untuk berurusan dengan mereka ada pada jasa keamanan Pakistan. Bahkan menurut Perdana Menteri Brown jumlah petempur asing berbasis di area FATA Pakistan, belajar membuat bom dan keahlian senjata hanyalah beberapa ratus [2].

Ketiganya, jika argumen mereka adalah ukuran pasukan ini adalah kebutuhan untuk menjatuhkan Taliban, lalu ini juga cacat. Taliban tidak bertanggung jawab atas 9/11 dan jelas tidak bertanggung jawab atas tiga perempat rencana-rencana rahasia paling serius yang dihadapi UK. Apa yang dilakukan NATO hari ini adalah mengintervensi perang sipil dengan mendukung Aliansi Utara melawan Taliban di selatan dan timur negara itu. Berkebalikan dengan beberapa komentar, Taliban adalah pribumi Afghanistan muncul dari kelompok suku Pashtun yang sama, yang banyak di pemerintahan Afghanistan muncul darinya dan yang memiliki akar di kedua sisi batas Afghanistan Pakistan. Nenek moyang sebelum mereka mendepak penajajah baik Inggris atau Soviet dan hari ini para anggota yang menyusun perlawanan melihatnya sebagai kewajiban mereka untuk mendepak NATO.

Keempatnya, Al-Qaeda sebagai konstruk beroperasi di banyak negara dan sebagian besar merupakan struktur terdesentralisasi. Bahkan jika, secara teoretis, NATO mampu mengalahkan setiap anggota Al-Qaeda di Afghanistan dan Pakistan ini tidak akan mencapai tujuan strategis mengalahkan kelompok itu. Bahkan Pentagon mengakui banyak pejuang asing sekarang telah bermigrasi ke negara lain seperti Somalia dan Yaman [3].

Kelimanya, statistik Pemerintah Inggris sendiri dan laporan pemikir US akhir-akhir ini sama sekali bertentangan dengan ide bahwa kebanyakan teroris bermunculan dari pantai-pantai Pakistan atau Afghanistan. Menurut statistik UK sendiri [4] antara 11 September 2001 dan 31 Maret 2008 dari 142 tahanan teroris / ekstremis di England dan Wales pada 31 Maret 2008 hanya 3 ber-kewarganegaraan Pakistan dan tidak ada yang warga negara Afghanistan. Oleh karena itu, menurut statistik Pemerintah Inggris sendiri kebanyakan orang di penjara adalah warga negara UK. Bahkan jika kamu beralasan bahwa kebanyakan warga nasional UK itu dengan suatu cara memiliki latar belakang keluarga Pakistan dan ini dengan suatu cara menjustifikasi hubungannya dengan Pakistan bahkan ini menyesatkan. Pertamanya, secara statistik sebagian besar Muslim di Inggris tidak asli dari Asia Selatan, jadi akan menjadi aneh jika populasi penjara tidak mencerminkan ini. Keduanya, menurut Laporan Heritage Foundation mengenai serangan-serangan Islamis di UK [5] hanya 19 dari 81 (kurang dari 20%)>

Keenamnya, pengalaman Inggris di Irlandia Utara memberikan bukti lebih lanjut. Di sana, penggunaan penjajahan militer, penahanan, penyiksaan, pembunuhan warga sipil (yang semuanya telah banyak kita saksikan di Afghanistan), tidak memberikan orang-orang Inggris keamanan tambahan apapun. Pasukan Inggris tiba di 1969 tampaknya berperan sebagai wasit antara Katolik dan Protestan, tapi sebenarnya memperparah konflik antara kedua komunitas, dengan kelompok Katolik ditarget dan kelompok loyalis Protestan diberi kebebasan. Setelah satu periode penahanan yang memukul balik secara masif dan setelah akhir Bloody Sunday, serangan-serangan di tanah utama Inggris menjadi regular dan berdarah. Baik serangan-serangan di Birmingham, Canary, Wharf, Warington maupun Bishopsgate – memiliki tentara di Irlandia Utara bukanlah jaminan terhadap berbagai serangan IRA. Memang, memiliki pasukan berpuncak 27.000 tidak menghentikan PIRA dari menyerang konferensi Partai Konservatif di Brighton, luput sedikit dari mantan Perdana Menteri Margaret Thatcher.

Ketujuhnya, laporan independen oleh Sarah Ladbury pada 'Mengapa orang-orang ikut Taliban dan Hizb-i Islami' [6] juga memberi beberapa penerangan ke dalam debat. Laporan itu menguji sejumlah hipotesis alasan mengapa orang-orang bergabung dengan kelompok semacam Hizb-i Islami dan Taliban dan menyimpulkan bahwa ada bukti bahwa persepsi serangan global terhadap Islam seperti yang disaksikan di Palestina dan Irak adalah satu faktor, juga persepsi bahwa pemerintah Afghanistan korup dan partisan, perilaku kekuatan penjajah asing juga satu faktor yang lain dengan kegagalan pemerintah Afghanistan untuk menyediakan keadilan dan keamanan juga dianggap sebagai kunci.

Terakhirnya, berkebalikan dengan apa yang dikatakan politisi Barat [1] Al-Qaeda tidak terlemahkan oleh perang di Afghanistan tidak juga terhenti siklus kekerasannya. Ini adalah ekstrak dari laporan 2008 oleh RAND Corporation. [7]

Bukti hingga 2008 menegaskan bahwa strategi US tidaklah sukses dalam melemahkan kemampuan-kemampuan Al-Qaeda. Pemeriksaan kami menyimpulkan bahwa al-Qaeda tetap organisasi yang kuat dan kompeten ... Al-Qaeda telah terlibat dalam serangan-serangan teroris lebih banyak sejak 11 September 2001, daripada ketika dulu selama sejarahnya yang sebelumnya. Serangan-serangan ini menjangkau Eropa, Asia, Timur Tengah dan Afrika.”

Laporan RAND juga menyimpulkan bahwa kehadiran militer US melakukan operasi-operasi tempur di masyarakat Muslim cenderung meningkatkan rekrutmen teroris. Memang, menurut pemeriksaan intelijen US akhir-akhir ini, jumlah Taliban hampir berlipat empat dari 7.000 di 2006 ke 25.000 sekarang [8]. Pengumuman tambahan 40.000 pasukan Barat di Afghanistan hanya akan menyebabkan Taliban meningkatkan jumlahnya sendiri setara itu.


Mitos 2 : Bahwa melatih kekuatan keamanan Afghanistan adalah strategi keluar yang bagus

Disebutkan bahwa cara untuk keluar perang di Afghanistan akan dengan melatih kekuatan keamanan Afghanistan. Yaitu seiring pihak Afghanistan berdiri, NATO akan duduk. Hari ini kekuatan keamanan Afghanistan telah mengalahkan jumlah Taliban dan Al-Qaeda dengan faktor 7 banding 1. Namun, kurangnya dukungan terhadap perang dan taktik NATO, kapabilitas utama dan faktor-faktor politik melemahkan strategi keluar ini. Perubahan tujuan oleh NATO pada target-target, ditambah dengan ketidaksesuaian mereka dalam melatih tentara di masyarakat Muslim adalah ilustrasi jelas bahwa rencana keluar setelah delapan tahun penjajahan adalah mimpi indah belaka.

Menurut NATO, jumlah Afghan National Army (ANA) di akhir September 2009 adalah 94.000 [9], dan dikombinasi dengan kekuatan polisi, kekuatan Afghan total sekitar 190.000 [10]. Pada Agustus 2009 Komandan U.S. dan NATO Jendral Stanley McChrystal merekomendasikan lebih dari penggandaan kekuatan Afghan hingga total 400.000, dengan 240.000 tentara dan 160.000 polisi [10]. Namun, banyak yang mempertanyakan kondisi Tentara Afghan saat ini. John Kerry dalam pidato di Council for Foreign Relations mengatakan berikut ini “Meskipun jumlahnya 92.000, aku akan memberitahumu bahwa kebanyakan dari pemeriksaan yang kudapatkan memberitahuku bahwa kita sungguh lebih rendah – bahwa hari ini, pada 50.000, mungkin bahkan kurang, yang benar-benar bekerja seperti yang kita inginkan.” [11]

Menurut pengukuran kapabilitas US, 78% Polisi Afghan tidak mampu menjalankan tugas-tugasnya [12]. Dengan hampir 1.000 polisi terbunuh tahun lalu saja dan gaji rendah, bukanlah suatu kejutan bahwa morale-nya sangat lemah. Menurut pengakuan kongresional oleh International Crisis Group (ICG), di satu hari apapun, sekitar 20% yang seharusnya anggota polisi absen dari tugas – 17% yang lain terdaftar tetapi sebenarnya nama-nama orang mati atau polisi terluka, tapi tetap ada di sana supaya keluarganya akan menerima cek bayaran. [13]

Untuk mencapai jumlah 400.000 membutuhkan lebih banyak kemajuan dalam beberapa tahun berikutnya daripada yang telah dicapai di delapan tahun terakhir, bahkan jika kamu percaya bahwa jumlahnya yang sekarang itu kredibel. Menurut artikel dalam Military Review [14], kualitas rekrutmen ANA sangat buruk, hampir semuanya buta-baca, kesiapannya rendah bahkan dengan standar lembek yang ditimpakan oleh tekanan untuk menunjukkan kemajuan, dan penggunaan narkotika adalah luas dan masalah yang tumbuh. Pendaftaran-kembali adalah di bawah 50 persen, jadi dengan kontrak lima-tahun, 12 persen pasukan yang lain berhenti kerja setiap tahun. Dengan adanya korban, penyakit, dll., 25% dari ANA menguap setiap tahun. Angkatan bersenjata mengetahui ANA tidak dapat tumbuh lebih dari 100.000 orang, menggandakan ukurannya, karena sebelum itu terjadi, tambahannya tiap tahun akan sama dengan kehilangannya tiap tahun. Proyeksi kekuatan 134.000 orang pada 2010 atau 240.000-orang ANA di masa depan adalah absurd. Bahkan para komandan NATO [15], yang menyetujui rencana untuk mengakselerasi program pelatihan, mengatakan bahwa angkatan bersenjata Afghan terwabahi oleh kecacatan dan kecanduan narkoba. Dari 94.000 tentara Afghanistan yang dilatih hingga sekarang, 10.000 hilang, kata Jenderal Egon Ramms, komandan Jerman kantor pusat operasional yang membawahi International Assistance Force in Afghanistan (ISAF) yang dipimpin NATO dan sekitar 15 persen adalah pecandu narkoba, kata dia.

Bahkan jika kita menggunakan poin kapabilitas di satu sisi, adakah yang sungguh percaya bahwa US akan meninggalkan Afghanistan sepenuhnya setelah membangun pasukan Afghan? Jika ancaman-ancaman memang benar-benar eksistensial, US akan selalu ingin menjaga kehadirannya dengan kuat di daerah itu seperti yang telah dilakukannya di Korea Selatan dan Jerman, Berdekade-dekade setelah kekerasan sebelumnya telah berakhir. Ia tidak akan meng-outsource ini ke orang-orang Afghan.

Namun demikian, bahkan jika ada yang mengabaikan kapabilitas dan poin ancaman, pasukan Barat benar-benar pihak yang salah untuk melatih tentara di masyarakat Muslim. Setelah Guantanamo Bay, shift malam di Abu Ghraib, “penyerahan luar biasa para tahanan” dan apa yang terjadi di Basra, pasukan Inggris dan Amerika seharusnya jadi orang terakhir di bumi yang berusaha melatih tentara di masyarakat Muslim. Inilah mengapa terdapat contoh-contoh yang berkembang dari pasukan keamanan Afghan membunuh tentara-tentara NATO. Tnapa memperhatikan perbedaan kultural dan agama, para tentara Barat sering menunjukkan arrogant superiority complex ketika berkaitan dengan mereka yang di dunia sedang berkembang. Dalam surat kabar Inggris Independent [16], seorang senior yang membawahi tentara Inggris mendemonstrasikan pandangannya tentang polisi Afghan dalam wawancara tersembunyi, mengutip mereka sebagai “sekumpulan idiot” “Me-mentori mereka berubah jadi mengganti popok “Bahwa mereka memiliki wilayah perhatian seperti nyamuk” “Bahwa kebanyakan mereka korup dan mau memakai narkotik, pergi tidur, meninggalkan pos mereka dan melakukan seks dengan sesamanya.”

Dengan sikap arogan seperti ini dan tantangan kapabilitas yang dibahas sebelumnya adalah jelas bahwa membangun kapabilitas Afghan lebih merupakan strategi PR daripada strategi keluar. Yang disebut strategi keluar jelas sebuah usaha untuk melunakkan oposisi yang berkembang di pusat-pusat Barat yang semakin jemu dengan delapan tahun penjajahan dan peningkatan kematian tentara-tentara muda mereka.


Mitos 3 : Bahwa terdapat koalisi internasional bertempur di Afghanistan

Telah dikatakan bahwa perang di Afghanistan memiliki dukungan komunitas internasional, bahwa 43 negara turut andil dan telah menginvestasikan pasukannya yang berharga dan harta dalam perusahaan vital ini. Namun problemnya dengan ini, adalah bahwa hanya dua negara yang memiliki lebih dari 5.000 pasukan dan yang satu adalah United States akan memiliki 70% pasukan setelah penyerangan sekarang diakhiri. 34 negara memiliki 1.000 pasukan atau kurang dan sepuluh negara memiliki 10 atau kurang tentara. Tambah ini pada fakta bahwa kebanyakan negara mempunyai kelemahan yang jelas seperti bahwa tentaranya lebih mungkin mendapat kulit coklat daripada melihat pertempuran nyata, seluruh premis komunitas internasional yang merasa perang di Afghanistan adalah perang eksistensial bukanlah kasusnya. Ini juga menciptakan kematian yang disproporsional; U.K. kehilangan lebih banyak orang daripada anggota-anggota NATO-EU yang lain dikombinasi.

Para penyemangat bagi perang di Afghanistan sering mengutip bahwa terdapat 43 negara koalisi internasional beroperasi di Afghanistan untuk menjustifikasi ke-kritikan misi itu. Di permukaannya koalisi 43 negara terdengar impresif dan diasumsikan merupakan legitimasi internasional yang dalam yang tidak dimiliki perang di Irak. Namun begitu, perang di Irak, “koalisi keinginan” seringkali ditonjolkan oleh George W. Bush dan Tony Blair untuk menutupi perang ilegalnya di Irak. Tapi pemeriksaan yang lebih dekat terhadap jumlah aktual [9] yang dikirimkan oleh berbagai negara di Afghanistan mengungkap apa yang disebut sebagai 'koalisi'.

Kontribusi Inggris melebihi total kombinasian Perancis, Jerman, dan Spanyol. Jika kekuatan-kekuatan utama Barat seperti Perancis, Jerman, Italy dan spanyol tidak berkontribusi sejumlah besar pasukan ke perang di Afghanistan, lalu ada dua kesimpulan yang bisa terjadi. Pertama, mereka memang asli tidak mampu menyediakan lebih banyak tentara karena alasan-alasan kapabilitas (yang bisa kita abaikan karena mereka semua punya angkatan bersenjata luas) atau alasan-alasan politis domestik menghalangi pengiriman lebih besar. Atau yang kedua dan ini yang lebih mungkin, mereka tidak mau membeli pernyataan bahwa Afghanistan adalah perang eksistensial bagi Barat.

Bahkan jika kita abaikan jumlah pasukan yang disediakan tiap negara, faktor yang lebih mengungkap adalah jumlah batasan atau larangan yang diberikan tentang bagaimana para tentara mereka bisa digunakan. Menurut Heritage baru-baru ini [17], anggota-anggota NATO Eropa adalah pendukung yang paling buruk dalam hal batasan nasional. Bersaksi di hadapan U.S Senate Armed Services Committee pada Juni 2009, Supreme Allied Commander for Europe yang sekarang Admiral James Stavridis menegaskan bahwa terdapat 69 aturan batasan nasional di Afghanistan. Aturan batasan yang paling menonjol adalah berikut ini:

  • Pasukan Jerman dibatasi melakukan operasi di Afghanistan Utara hingga daerah dekat berwaktu yang tidak lama dan tidak lebih dari sejauh dua jam dari rumah sakit berfasilitas cukup;

  • Pasukan Turki dibatasi di Kabul;

  • Pasukan Eropa Selatan dilarang bertempur saat salju;

  • Pasukan satu negara anggota tak dikenal harus berkonsultasi dengan pemerintah nasionalnya sebelum terjun dalam satu kilometer batas Pakistan; dan

  • Satu negara anggota tak dikenal melarang pasukan dari negara lain terbang di dalam pesawatnya

Setelah serbuannya, United States akan merupakan setidaknya 70% pasukan di Afghanistan dengan negara-negara lain berkontribusi sangat kecil dalam jumlahnya maupun finansialnya. Meskipun dukungan untuk perang dari pusat-pusat Barat menurun, negara-negara Barat utama jika mereka benar berpikir ini adalah suatu konflik eksistensial seharusnya mengalokasikan lebih banyak sumberdaya (militer, ekonomi, politik) ke perang Afghanistan. Fakta bahwa mereka tidak melakukannya dan menimpakan aturan-aturan pembatasan yang ekstensif pada pasukan mereka dapat mengungkapkan sangat banyak tentang dukungan mereka sesungguhnya terhadap perang Afghanistan!

Table A: Countries Providing Troops of less than 1000 in Afghanistan [Source: NATO ISAF]
Mitos 4 : Bahwa tidak terdapat solusi politik di daerah itu

Dikatakan bahwa perang di Afghanistan adalah bagian dari perjuangan yang lebih luas yang berlangsung di dunia melawan ide-ide yang ekstrem. Bahwa ide-ide mengenai Khilafah menembus batas negara dan penghapusan pemerintah yang sekarang di dunia Muslim dianggap sebagai sejatinya tidak praktikal dan dalam bahasanya salah seorang pemikir, memiliki kesempatan nol untuk berhasil. Esensinya, permintaan itu tidak untuk dinegosiasikan.

Namun, jauh dari tidak untuk dinegosiasikan permintaan-permintaan dari kebanyakan Muslim di dunia Muslim, seperti dibuktikan oleh data polling ekstensif, menunjukkan keinginan tulus untuk Khilafah dan oposisi yang kuat untuk kebijakan luar negeri Barat. Maka dari itu, para pembuat kebijakan Barat memiliki dua pilihan apakah dia menerima realitas politik bahwa dunia Muslim telah menolak model sekular Barat dan menginginkan Islam memainkan peran sentral dalam politik atau mereka bisa melanjutkan meletakkan kepala-kepala mereka di pasir dan bertempur dalam perang untuk berdekade-dekade yang akan datang.

Di samping beberapa pemertanyaan terbatas orang-orang tak bisa dipengaruhi [18], kebanyakan arus utama para komentator Barat berlanjut mengumbar mitos bahwa permintaan untuk mengganti para diktator dan tiran di dunia Muslim dengan Khilafah pan-nasional (lihat Bab 5 untuk lebih detailnya) atau penarikan pasukan Barat dari daerah adalah impian kosong.

Menurut RAND Corporation [7], permintaan untuk Khilafah pan-nasional tidak bisa dinegosiasikan. Meski begitu, analisis survey yang cermat yang dilakukan di dunia Muslim [19] ditambah dengan hasil-hasil pemilihan dan bahkan pidato-pidato oleh minoritas yang mendukung strategi kekerasan menunjukkan bahwa permintaan politik faktanya beralasan. Permintaan untuk menyingkirkan semua pasukan sekutu, basis-basis mereka, dan penghentian penjajahan Barat dan interferensi (berumur berabad-abad) di dunia Muslim hanyalah merupakan kelanjutan dari perjuangan anti-kolonial di abad sembilan belas dan dua puluh.

Permintaan menghentikan dukungan terang-terangan kepada Israel, entitas yang bertanggung jawab terhadap pendudukan Palestina di 1948, harus dilihat dari prisma ketidakadilan massal melawan rakyat Palestina dengan banyak pihak di Barat sekarang mempertanyakan kegunaan hubungan ini. Terakhir, permintaan untuk menghentikan semua dukungan untuk para diktator tiran daerah itu dan membiarkan dunia Muslim menentukan kondisi politiknya sendiri hanya menjadi suatu kontroversi bagi mereka yang lulusan sekolah kemunafikan dan neo-konservatif.

Mendiskusikan hukum Syariah dalam abstrak adalah menjadi sulit ketika Muslim mulai menyerukan peng-implementasian-nya di dunia Muslim, kita sering mendengar peringatan serius tentang bahayanya munculnya kembali negara seperti itu. Namun, Khilafah telah menjadi norma di dunia Muslim, sesuai dengan 93% sejarahnya dunia Muslim memiliki Khilafah. Inilah satu hal yang oleh Barat didebatkan bahwa mereka menentang hukum Syariah; ini layaknya mengatakan bahwa dunia Muslim juga tidak bisa memilikinya. Maka itu hanya cocok bagi yang mencari perang perpetual di Washington dan London untuk secara konstan mengucapkan mantra bahwa tidak ada solusi politik bagi krisis sekarang. Mengatai musuhmu sebagai fanatik keras, di saat bertanggung jawab terhadap kematian puluhan ribu di dunia Muslim, adalah sangat tidak kredibel. Solusi politik sepenuhnya mungkin untuk mereka yang menginginkan mematikan pembutaan ideologisnya dan menantang pandangan-pandangan terpakunya sendiri.


Mitos 5 : Bahwa Pakistan adalah sumber dari perlawanan di Afghanistan

Dikatakan bahwa perlawanan di Afghanistan tidak akan bisa terjadi tanpa dukungan dari Pakistan. Akibatnya tanpa oksigen yang disediakan oleh Pakistan, perlawanan akan segera berakhir. Namun demikian, meski terdapat hubungan-hubungan kuat antara suku-suku Pashtun di kedua sisi batas, penyebab utama perlawanan adalah penjajahan asing di Afghanistan. Usaha NATO untuk membalik kenyataan dengan menyalahkan pihak lain atas kecerobohannya sendiri adalah luar biasa dan menopengi agenda terselubung untuk men-destabilisasi Pakistan. Faktanya para ahli Barat percaya perlawanan di Afghanistan sebenarnya mandiri dan bahwa usaha-usaha Pakistan paling maksimal hanya membantu tapi tidak menentukan apakah perlawanan berhasil atau tidak.

Beberapa pihak melihat penggerebekan yang lebih terencana oleh pakistan pada militan di sisi batasnya adalah kunci untuk membalik ombak di Afghanistan (yang disebut pendekatan palu dan besi landasan), meski begitu agensi-agensi intelijen U.S. dalam laporan oleh agensi berita Reuters [8] melihat sedikit korelasi, menyatakan tentang otonomnya perlawanan Afghanistan dan peningkatan kecanggihan buatan-rumah sendiri. Sebagai contoh, ketika para analis intelijen U.S. menguji asumsi selama penggerebekan Pakistan baru-baru ini di daerah Bajour dekat batas Afghanistan, mereka menemukan tidak ada penurunan setelahnya dalam infiltrasi dan serangan-serangan terhadap pasukan U.S. sepanjang batas. Seorang pejabat pertahanan dikutip mengatakan “Ini berarti ide bahwa perlawanan Afghanistan sangatlah bandel dan sangat fleksibel. Dan karena sifat sejatinya perlawanan, kamu tidak perlu banyak pelaku perlawanan untuk menyebabkan banyak kerusakan, karena mereka mampu memilih waktu dan tempat serangan”. Seorang pejabat anti-terorisme mengatakan penggerebekan oleh Pakistan terhadap militan adalah “membantu” tapi menambahkan: “Taliban, sayangnya, telah memperkuat kehadirannya – dalam jumlah dan dalam organisasi – di dalam Afghanistan, jadi apa yang terjadi di sisi lain batas tidaklah secara khusus relevan bagi banyak operasi mereka.”

Ini adalah jawaban balik yang menghancurkan bagi mereka yang terus mengayuh mitos bahwa episentrum perlawanan di Afghanistan adalah di Pakistan. Sebagaimana yang akan kita lihat di bab berikutnya, propaganda mitos ini mendominasi debat di dalam Pakistan, dengan Pakistan semakin tersedot dan semakin ke menjalankan perang oleh Barat dengan biaya super besar bagi dirinya sendiri.


Kesimpulan

Maksud bab ini adalah untuk membantah secara detail mitos-mitos sekeliling perang Afghanistan. Tidak ada tahanan asal Afghanistan dan hanya ada tiga tahanan asal Pakistan di penjara-penjara UK atas tuduhan-tuduhan terorisme dan semacamnya, meski begitu kita diberitahu ini adalah penghubung sentral untuk mengatur serangan-serangan di jalanan Barat. Hanya ada sangat sedikit operatif Al-Qaeda di Afghanistan dan jumlah pasukan Taliban semakin meningkat seiring peningkatan jumlah pasukan Barat. Tidak juga strategi keluar penuh kepalsuan yang disodorkan adalah masuk akal sebab pasukan Afghan tidak siap secara operasional juga tidak tampak mau menjalankan perang NATO. Kebanyakan negara Barat hanya menyediakan nama sebab mereka menyadari bahwa perang ini bukan perang eksistensial. Usaha untuk menyalahkan Pakistan atas kegagalan NATO juga tidak didukung oleh fakta-fakta di lapangan. Tujuan-tujuan politik jauh dari dapat dinegosiasikan tidaklah berbeda, ketika menggunakan preseden sejarah dan permintaan tulus dari dunia Muslim harus dipenuhi jika kita ingin mengakhiri siklus kekerasan dan ketidakstabilan yang telah mewabahi dunia Muslim selama seabad. Perang di Afghanistan oleh karenanya dibangun di atas satu set asumsi dan premis cacat, yang akibatnya dibangun di atas jaringan kebohongan dan penipuan. Tidak dapat dibayangkan bahwa seseorang yang telah dipersenjatai dengan fakta-fakta sebenarnya akan mendukung suatu perang yang membelanjakan ratusan milyar dolar, yang tidak bakal mengalahkan Al-Qaeda, yang menyebabkan kebencian lebih jauh bagi Barat dan yang akan memakan ribuan nyawa di kedua sisi.


[1] Retired General Jim Jones Interview with CNN’s John King 4 October 2009 http://transcripts.cnn.com/TRANSCRIPTS/0910/04/sotu.05.html

[2] Prime Minister’s Annual Speech on Foreign Policy at the Lord Mayor’s Banquet 16 November 2009

[3] U.S. Aids Yemeni Raids on Al Qaeda, Officials Say. New York Times 18 December 2009

[4] Home Office Statistics on Terrorism Arrests and Outcomes Great Britain 11 September 2001 to 31 March 2008

[5] Heritage Foundation ‘Islamist Terrorist Plots in Great Britain: Uncovering the Global Network’ by Ted R. Bromund and Morgan Roach 26 October 2009

[6] Sarah Ladbury, Independent Report For The Department Of International Development (Dfid) Testing Hypotheses On Radicalisation In Afghanistan Why Do Men Join The Taliban And Hizb-I Islami? Report 14th August 2009

[7] Rand ‘How Terrorists Group End Lessons for Countering al Qaida’ Seth Jones and Martin Libicki

[8] Reuters ‘Taliban growth weighs on Obama strategy review’ 9 October 2009

[9] NATO ISAF and Afghan National Army Strength and Laydown as at 22 October 2009

[10] Reuters ‘Q+A: Afghanistan's security forces’ 1 December 2009

[11] John Kerry Speech to the Council on Foreign Relations ‘Afghanistan: Defining the Possibilities’ 26 October 2009

[12] BBC website ‘Troubled state of Afghan police’ 4 November 2009

[13] Testimony by Mark L. Schneider, International Crisis Group to the Subcommittee on National Security and Foreign Affairs, Committee on Oversight and Government Reform, House of Representatives.12 February 2009

[14] ‘Refighting the Last War Afghanistan and the Vietnam Template.’ Thomas H. Johnson and M. Chris Mason November/December 2009 MILITARY REVIEW

[15] Telegraph website ‘Fifteen per cent of Afghan army 'are drug addicts' 23 November 2009

[16] Independent.co.uk ‘'Most of them were corrupt and stoned on opium' 5 November 2009

[17] Heritage Foundation NATO Allies in Europe Must Do More in Afghanistan Sally McNamara December 3, 2009

[18] Sir Hugh Orde ‘Britain ‘could talk to al Qaeda’ BBC website 30 May 2008

[19] See for instance multiple opinion polling by the University of Maryland Program on International Policy Attitudes


Afghanistan & Pakistan: The Unwinnable War

The current Western strategy for Afghanistan and Pakistan and an alternative path for the region


Laporan dari Hizb ut-Tahrir Inggris

Hizb ut-Tahrir

Britain

1st Safar 1431 / 17th January 2010

Afghanistan Pakistan Dossier [PDF]

Download lengkap : Buku Perang Afghanistan Pakistan Perang yang Tak Dapat Dimenangkan – bahasa Indonesia [PDF]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda