Selasa, 25 Mei 2010

Mengembangkan Mengelola Keahlian Keunggulan Kemampuan

Mengembangkan Mengelola Keahlian Keunggulan Kemampuan

FENOMENA KETIDAKBERDAYAAN

C. Keahlian yang tidak Dikembangkan

Allah telah membagikan kemampuan dan keahlian di antara manusia. Allah mengkhususkan sebagian manusia dengan kemampuan dan keahlian yang lebih besar. Apabila mereka berhasil mengembangkan keahlian itu, maka berarti kemenangan besar. Jika tidak, maka sungguh mereka merugi dan tak berdayaguna.

Berikut ini disampaikan 2 contoh kegagalan dalam mengelola keahlian:


  1. Saya mengenal seorang shaleh yang cerdas. Sungguh ia diberi keunggulan akal. Ia seorang pekerja yang ulet. Saya mendesaknya agar segera memanfaatkan kecerdasannya yang jarang ada itu. Saya menjelaskan beberapa jalan yang sesuai untuknya. Saya senantiasa memotivasinya, namun sayang ia tidak mempedulikannya, sehingga hidupnya berkisar antara rumah dan pekerjaannya, tidak keluar dari itu kecuali sesekali. Penulis yakin bahwa dirinya hanya dikalahkan oleh ketidakberdayaan mutlak yang tidak terkait dengan suatu keadaan atau sebab apapun. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.



  1. Seorang temanku pernah belajar ilmu-ilmu syari'at secara memadai. Sebenarnya dia adalah seorang da'i shaleh – menurut penilaianku, dan Allah punya penilaian sendiri. Aku pernah memaksanya untuk berkhutbah atau memberi nasihat kepada masyarakat, atau membacakan mereka suatu kitab, ia bersedia tampil, tapi pura-pura takut meskipun ada kekuatan dan keberanian dalam dirinya. Waktu terus berjalan, namun ia tidak memanfaatkan ilmu yang telah dipelajarinya secara maksimal, bahkan seringkali ia telah lupa sebagiannya.

Dan masih banyak contoh orang-orang yang memiliki keahlian, tetapi enggan mengembangkan keahlian yang diberikan Allah kepadanya. Ketidakberdayaan menghalangi pengembangannya.

Tidakkah Anda mengerti ketika Nabi Yusuf mengetahui di dalam dirinya terdapat keahlian mengelola rezeki, maka ia berkata kepada raja : “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” 91 Dia tidak malu dan berdiam diri. 

Nabi Yusuf Terlibat Dalam Pemerintahan Kufur?

91) Qur'an Surat (12) Yusuf : 55

Tidakkah kalian pernah mendengar bagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membagi pekerjaan kepada para shahabatnya berdasarkan kemampuan dan keahlian, lalu mereka menyanggupi dan tidak menolak atau malu-malu? Lihatlah Khalid, Sang Panglima abadi, ketika belum diangkat menjadi panglima perang di Mu'tah. Dia segera menerima tongkat kepemimpinan ketika mengetahui dirinya mempunyai kesanggupan. 92 Ia memperoleh keberhasilan, karena itu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menggambarkannya sebagai Pedang Allah yang terhunus. 93 Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu mempelajari bahasa-bahasa asing. 94 Ubay bin Ka'b mahir dalam bidang al-Qur'an hingga Nabi bersabda, “Orang yang paling baik bacaannya adalah Ubay.” 95 Mu'adz bin Jabal ahli di bidang fiqih hingga digambarkan sebagai shahabat yang paling mengerti hukum halal dan haram. 96 Demikian seterusnya.
92) Al-Bidayah wan-Nihayah : 7/113. Beliau wafat di Himsh, dan dikatakan di Madinah, tahun 21.
93) Ibid.
94) Ibid., 8/29. Beliau wafat pada tahun 45 di Madinah.
95) Ibid., 7/97. Beliau wafat tahun 19H, di Madinah. Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Sunan-nya, kitab al-Manaqib, bab Manaqib Mu'adz bin Jabal wa Zaid bin Tsabit wa Ubay wa Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah radhiyallahu 'anhum.
96) Ibid., 7/95. Beliau wafat tahun 18H, di Tha'un 'Amwas, Syam.

Tidakkah Anda tahu bahwa Mush'ab adalah seorang duta, Abu Bakar dan Umar adalah seorang wazir? Dan ada banyak para pencatat wahyu ahli menulis.

Sepanjang sejarah telah tampil orang-orang yang punya keahlian dan tidak menolak tugas. Riwayat hidup mereka tertulis dengan huruf dari cahaya, sedangkan orang-orang yang menolak tugas meninggal tanpa diketahui seorang pun, serta tidak memperoleh berbagai pahala menggapai perkara-perkara mulia – sebagaimana yang didapat orang-orang yang berbakti demi kepentingan manusia (Islam).
Wallahu A'lam.

D. Kerancuan Prioritas

Ini termasuk fenomena terbesar dari ketidakberdayaan yang dialami para tsiqah; karena segenap hidupnya berputar pada lingkaran pekerjaan kurang utama, tanpa menyentuh pekerjaan-pekerjaan utama, kecuali sesekali saja.

Kerancuan ini – sebagai sebuah ketidakberdayaan – termasuk cara iblis memasukkan distorsi pada manusia, karena iblis memperindah jalan kejahatan di mata mereka. Apabila tidak mampu melakukannya, maka iblis menampakkan indah jalan kebajikan yang memiliki sedikit kebaikan dan tidak utama, sehingga manusia tidak menempuh jalan yang membawa kebaikan yang besar.

Apabila anda hendak melihat secara jelas kerancuan dalam menyusun prioritas, maka lihatlah sebagian orang membangun rumah. Ia akan mengerahkan seluruh kekuatan dan kepentingan hidupnya untuk membangun rumahnya. Anda bisa melihatnya menunda perkara-perkara yang tidak boleh tertunda. Bahkan ia meninggalkan banyak kewajiban dengan dalih sibuk membangun rumah. Lalu ia menekuni pekerjaannya itu selama bertahun-tahun, kadang lebih lama, sehingga selama bertahun-tahun ia membiasakan diri mencintai dunia dan melupakan nilai-nilai yang mulia. Dan terkadang hal itu mengakibatkan ketidakberdayaan abadi dan menyeluruh. Kami memohon 'afiyah kepada Allah.

Janganlah kita seperti orang yang menghabiskan umurnya, sibuk dengan apa yang dikiranya sebagai hak istri dan anak-anak, dengan meninggalkan dakwah kepada Allah, dan melemparkan kepentingan umat ke keranjang sampah. Seandainya ia memberi hak kepada istri dan anak-anaknya secara proporsional, lalu mengerjakan prioritas lain yang penting, pastilah Allah akan memelihara keluarganya dan memberinya pahala yang besar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda