Selasa, 11 Mei 2010

Orang yang Tak Berdayaguna – Cenderung Pada Dunia Tak Berdayaguna


Orang yang Tak Berdayaguna – Cenderung Pada Dunia Tak Berdayaguna

URGENSI AMAL DAN MENGAKHIRI KETIDAKBERDAYAAN

lanjutan :

Dengan demikian, hendaknya para tsiqah di masa sekarang berusaha dengan sepenuh kekuatan dan karunia yang telah diberikan untuk menggapai derajat tinggi. Meninggalkan usaha untuknya merupakan salah satu pertanda ketidakberdayaan. Di masa sekarang orang tidak rela diungguli temannya dalam masalah martabat dan harta. Ia sedih jika melihat orang sebaya dan seprofesi mengunggulinya dalam masalah dunia apapun. Apakah ia rela jika teman-temannya mendahuluinya ke surga dan mendapat derajat yang tinggi, sedangkan ia tertinggal tak berdaya untuk berjalan dalam bahtera dan menyertai mereka?!

Tetapi dunia ditampakkan keindahannya, sedangkan keindahan akhirat tidak tampak. Orang-orang yang diberi taufiq berusaha mengejar kebesaran sesuatu yang tak tampak, sedangkan orang yang terhalang memilih keindahan di depan mata.

C. Tidak Berbuat Apapun dan Menikmati Ketidakberdayaan yang Terkadang Mengakibatkan Inkonsistensi

Orang yang tak berdayaguna menikmati ketidakberdayaannya dan menganggap baik keadaannya dengan hidup santai, serta tidak memperjuangkan cita-citanya. Terkadang ia melupakan tujuan-tujuan yang luhur, dan akhirnya terhapus dari ingatannya, setelah ia tidak mampu melakukannya dengan raganya. Terkadang ia menyukai keadaan orang-orang bodoh lagi sesat, bersikap lunak kepada mereka, berteman dan meniru tabiat mereka tanpa pikir panjang, sehingga ia kehilangan konsistensi dan tanggung jawab. Ia berpegang tetapi pada tiang yang tidak kuat. Ia berkonsentrasi namun kepada perkara batil. Maka betapa banyak kebaikan yang luput dicapainya, betapa banyak keburukan yang didapat, betapa jauh ia meninggalkan orang-orang yang bertakwa, dan betapa dekat ia dengan setan yang sesat.

Penjelasan ini bukan metafora, melainkan kenyataan yang ada dalam dunia manusia. Aku mengenal seorang lelaki yang bertakwa lagi tsiqah, namun tidak berdayaguna dan tidak mampu menemukan jalan penyelesaiannya. Ia selalu berkumpul dengan teman-temannya sehingga keadaannya menjadi seperti orang yang suka berbuat dosa. Bahkan ia meninggalkan shalat sama sekali. Kami memohon perlindungan kepada Allah.

Aku juga mengenal seorang yang tsiqah lagi beramal, namun ia cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsuinya, harta, perniagaannya, hingga akhirnya menjadi tak berdayaguna dan mengalami kemunduran, hingga menjadi budak dunia yang lebur dalam hawa nafsunya, yang memuaskan selera, hingga anda tidak bisa membedakannya lagi dengan budak-budak duniawi yang lain. Ia bahkan menjadi orang-orang yang tak berdaya sama sekali.

Kehilangan konsistensi yang melahirkan ketidakberdayaan ini adalah akibat pasti dari mengekor orang yang tak berdaya. Karena ia menjadi kosong, tidak punya keinginan, tidak ada pekerjaan untuk ditekuni, tidak ada pikiran yang mengisi hidupnya. Sedangkan kekosongan adalah bencana besar, yang apabila didukung dengan kekayaan dan usia muda, maka itu lebih merusak hati seseorang dan menghilangkan konsistensi.

Sesungguhnya usia muda, kekosongan dan kekayaan menghancurkan seseorang sekeras-kerasnya.” []79

79) Baca Min Akhbaril-Muntakisin karya Shaleh al-'Ushaimi, dan ats-Tsabat karya penulis.

FENOMENA KETIDAKBERDAYAAN

Sesungguhnya fenomena ketidakberdayaan berbeda dari segi watak dan batasannya, dan dari satu orang dengan yang lainnya. Berikut ini akan saya paparkan sejumlah fenomena ketidakberdayaan agar lebih jelas, insya Allah.

A. Meninggalkan Dakwah dan Amar Ma'ruf Nahi Mungkar

Dalam masyarakat banyak terdapat orang-orang shaleh yang mengharapkan Allah dan negeri akhirat. Barangkali mereka banyak mengerjakan shalat dan puasa sunnah, namun mereka tidak mengerjakan keshalehan ini untuk memperkuat agama Allah di muka bumi. Karena itu anda mendapati mereka merasa cukup dengan dirinya, ber-uzlah di rumah-rumah mereka tanpa menyeru seorang pun, tidak memerintahkan perkara ma'ruf dan mencegah perkara mungkar kecuali sesekali. Anda melihat mereka melakukan pekerjaan dengan giat dan sungguh-sungguh, tetapi tidak mampu menggerakkan sesuatu yang diam, meskipun ada teman yang berbuat sesat. Padahal orang-orang sangat mengharapkan nasihat dan dakwah mereka, namun mereka tidak melakukannya.

Seandainya mereka bersikap demikian dalam setiap hal, niscaya bisa diterima alasannya. Akan tetapi mereka merasa berat hati ketika berdakwah kepada agama Allah, namun giat di bidang yang menghasilkan uang. Mereka menghabiskan seluruh waktu siangnya dan sebagian besar malamnya untuk menghasilkan uang dan menuruti hawa nafsunya. Mereka telah meninggalkan tujuan-tujuan luhur.

Atau anda akan mendapati kelompok lain yang tidak bersemangat mengumpulkan harta, namun membeda-bedakan pekerjaan, bersungguh-sungguh dalam bidang kekhususannya dan membatasi diri hanya pada bidang tersebut. Terkadang perbuatannya ini bermanfaat bagi Islam, namun terbatas, tidak sebesar manfaat yang bisa diwujudkannya seandainya mereka mengerahkan untuk menapaki jalan lurus yang mendatangkan hasil sebesar-besarnya bagi Islam dan Muslimin.

Seorang yang mempelajari riwayat hidup Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, akan mendapati kebalikannya. Kehidupan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah dakwah kepada Allah. Bahkan Nabi mengorbankan seluruh miliknya untuk Allah dan untuk membela Islam. Nabi menasihati dan memberi tahu para shahabatnya bahwa seorang Muslim harus bekerja sama dalam satu kekuatan untuk menjalankan roda kehidupan.

Tentang Buku : Saleh Tapi Tak Berdayaguna

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda