Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Jumat, 28 Maret 2008

Sistem kontrol dan insentif

BISNIS INTERNASIONAL


Tugas utama kepemimpinan perusahaan adalah untuk mengontrol berbagai subunits perusahaan, ketika memutuskan fungsi dasar, divisi produk, atau kondisi geografi, untuk memastikan tindakan tersebut konsisten dengan keseluruhan strategi dan fungsi keuangan perusahaan. Perusahaan mencapai hal tersebut dengan berbagai control dan system insentif.


Berbagai tipe sistem kontrol

Empat tipe utama sistem kontrol yang digunakan dalam perusahaan multinasional adalah; personal control, bureaucratic control, output control, dan cultural control. Pada sebagian besar perusahaan, keempat tipe system control tersebut digunakan, tetapi lebih disesuaikan dengan strategi perusahaan


  • 1. Personal control

Personal control adalah pengendalian hubungan perorangan atau contact personal dengan bagian dibawahnya. Tipe control ini cenderung digunakan disemua perusahaan, ketika ada supervisi langsung terhadap subordinat. Tetapi, juga struktur hubungan antara manajer pada level yang berbeda pada perusahaan multinasional. Sebagai contoh, mungkin CEO mengunakan kewenangan personal control untuk mempengaruhi perilaku posisi subordinate (bawahan), seperti pada pimpinan divisi produk interasional menggunakan personal control untuk mempengaruhi perilaku bawahannya.


  • 2. Bureaucratic controls

Birokratik control adalah pengendalian melalui sebuah system peraturan dan prosedur yang langsung dilakukan pada subunit atau bawahan. Control birokratik yang yang paling penting dalam sub unit dalam perusahaan multinasional adalah aturan pengeluaran anggaran dan modal. Anggaran merupakan sekelompok aturan secara mendasar untuk mengalokasikan sumber keuangan perusahaan. Anggaran sub unit dikhususkan dengan ketepatan seberapa banyak sub unit yang mungkin akan dikeluarkan. Pimpinan mengunakan anggaran untuk mempengaruhi perilaku bawahannya. Sebagai contoh, anggaran R&D biasanya dikhususkan pada seberapa banyak kas unit R&D yang mungkin digunakan untuk pengembangan produk.


  • 3. Output control

Output control melibatkan beberapa tujuan sub unit untuk mencapai tujuanya, dalam hal ini tujuan yang dapat dihitung seperti keuntungan, produktivitas, pertumbuhan, pangsa pasar, dan kualitas. Kinerja dari manajer subunit dinilai dengan kemampuan mereka untuk mecapai tujuan yang telah ditetapkan. Jika tujuan tercapai atau terlampaui, manajer subunit akan memperoleh penghargaan. Jika tujuan tidak tercapai petinggi manajemen biasanya akan menekan untuk menemukan mengapa dan mengambil tindakan koreksiyang diperlukan.


  • 4. Cultural control

Cultural control terjadi ketika para karyawan masuk dalam sistem nilai dan norma perusahaan. Ketka hal tersebut berlangsung, karyawan cenderung untuk mengatur perilaku mereka sendiri, yang mengurangi kebutuhan untuk pengawasan langsung. Pada sebuah perusahaan dengan kultur yang kuat, pengendalian diri dapat mengurangi kebutuhan untuk sistem kontrol yang lain.


Sistem insentif

Insentif merupakan sesuatu yang digunakan untuk memberikan hadiah yang sesuai perilaku karyawan. Banyak karyawan yang memperoleh insentive dalam bentuk bonus tahunan. Insentive biasanya dihubungakan dengan kinerja terukur yang digunakan untuk mengontrol output. Sebagai contoh beberpa target untuk memperoleh keuntungan mungkin digunakan untuk mengukur kinerja bawahan (sub unit), seperti divisis produk global. Untuk membuat insentive positif bagi karyawan untuk bekerja keras untuk melampaui targetnya, mereka diberi beberapa bagian keuntungan yang melebihi target tadi.


Sistem kontrol, insentive, dan strategi bisnis internasional

Kunci untuk mengerti hubungan antara strategi internasional, sistem kontrol, dan sistem incentive adalah konsep performa ambigu (kinerja tidak jelas)


Performa ambigu

Performa ambigu terjadi ketika penyebab rendahnya performa bawahan/sub unit tidak jelas. Hal ini tidak biasa ketika kinerja bawahan secara parsial bergantung pada performa sub unit lainnya, ketika tingkat ketergantungan antar sub unit tinggi dalam sebuah organisasi.


Strategi, ketergantungan, dan ketidakjelasan

Pada perusahaan multidomestik, masing-masing operasi nasional adalah berdiri sendiri. Tingkat ketidakjelasan kinerja rendah. Dalam sebuah perusahaan internasional, tingkat ketergantungan dalam beberapa hal tinggi. Integrasi diperlukan untuk memfasilitasi transfer kompetensi dan skill utama. Karena keberhasilan operasi luar negri secara parsial bergantung pada kualitas dari kompetensi yang ditransfer dari home country, sehingga performa ambigu dapat berlangsung.


Pada perusahaan global situasinya menjadi lebih kompleks. Banyak aktifitas dalam perusahaan global adalah saling kebergantungan. Tingkat ketergantungan dan performa ambigu tinggi dalam peruasahaan global. Tingkat performa ambigu juga tinggi pada perusahaan transnasional. Seperti yang terlihat pada tabel berikut ini.


Tabel interdependensi, performa ambigu

dan biaya control pada empat strategi bisnis Internasional

strategi

interdependensi

performa ambigu

cost & control

Multidomestik

rendah

rendah

rendah

Internasional

moderat

moderat

moderat

Global

tinggi

moderat

moderat

Transnasional

sangat tinggi

sangat tinggi

sangat tinggi


Budaya Organisasi

Budaya adalah struktur sosial yang diterapkan pada masyarakat, termasuk juga pada organisasi. Budaya disebut juga sistem nilai dan norma yang berlaku diantara manusia. Nilai adalah sesuatu yang abstrak tentang apa yang dipercayai masyarakat sebagai sesuatu yang baik. Norma berarti aturan masyarakat dan pedoman perilaku yang diterima dalam situasi tertentu. Nilai dan norma dinyatakan diantara mereka sebagai pola perilaku atau gaya dari sebuah organisasi yang bagi karyawan baru secara otomatis terdorong untuk mengikutinya. Walaupun budaya organisasi jarang statis, namun cenderung untuk berubah secara perlahan.


Bagaimana budaya organisasi diciptakan dan dikembangkan?

Budaya organisasi datang dari berbagai sumber. Pertama, persetujuan dari pendiri atau pemimpin penting yang dapat mempunyai pengaruh pada budaya organisasi, sering menghasilkan budaya dan norma mereka sendiri. Kedua, budaya sosial luar dari negara dimana perusahaan itu didirikan. Ketiga, sejarah dari perusahaan tersebut.

Budaya dapat dikembangkan dengan berbagai mekanisme. Pertama, menyewa dan mempromosikan praktek organisasi, Kedua, strategi memberi reward (hadiah), Ketiga, proses sosialisasi, Keempat, strategi komunikasi. Tujuannya adalah merekrut orang yang mempunyai nilai konsisten dengan perusahaan tersebut.


Budaya organisasi dan performa dalam bisnis internasional

Dalam budaya yang kuat, hampir semua manajer secara relatif konsisten terhadap nilai dan norma yang telah secara jelas berdampak pada cara performa mereka dalam bekerja. Karyawan baru mengadopsi nilai ini secara cepat, dan karyawan yang tidak melakukan dengan baik dalam nilai dasar tersebut akan cenderung untuk keluar. Dalam beberapa budaya, eksekutif baru seperti menjadi sama dengan bawahannya sebagaimana dengan kewenangannya jika dia melanggar nilai dan norma budaya organisasi. Perusahaan dengan budaya yang kuat biasanya kelihatan dengan outsiders dengan mempunyai gaya atau cara yang pasti dalam melakukan sesuatu.


Kamis, 27 Maret 2008

Radio Frequency Identification (RFID)

IDENTIFIKASI FREKUENSI RADIO

Radio frecuency identification (RFID) system menyediakan sebuah teknologi yang powerful untuk melacak pergerakan barang-barang dalam seluruh supply chain.
RFID sistem menggunakan tags kecil yang dilekati microchips yang berisi data tentang item dan lokasinya untuk mengirim signal radio melalui jarak dekat ke reader RFID khusus. Reader RFID kemudian menyalurkan data melalui network ke komputer untuk processing.

Transponder atau RFID tag secara elektronik terprogram dengan informasi yang dapat mengidentifikasi item secara unik, seperti sebagai sebuah code identifikasi elektronik, plus informasi lain tentang item, seperti lokasinya, dimana dan kapan dibuat, atau stasusnya selama produksi. Yang dilekatkan dalam tag adalah microchip untuk menyimpan data. Sisa dari tag adalah sebuah antenna yang mengirimkan data ke reader.

RFID tags dikategorikan sebagai aktif dan pasif. RFID tags aktif disuplai tenaga oleh baterai internal dan khususnya memungkinkan tag data ditulis kembali dan dimodifikasi. Aktif tag mempunyai read ranges yang lebih panjang, tapi mereka mempunyai ukuran yang lebih besar, lebih mahal, dan mempunyai operasional life yang lebih pendek daripada pasif tag.

RFID tags pasif tidak mempunyai sumber kekuatan yang terpisah dan memperoleh kekuatan operasi mereka dari energi frekuensi radio yang dikirimkan oleh pembaca RFID. Mereka lebih kecil, lebih ringan, dan lebih murah daripada aktif tags dengan masa operasi yang tak terbatas secara virtual. Mereka juga mempunyai read ranges yang lebih pendek daripada aktif tags dan memerlukan reader yang berkekuatan lebih tinggi.

RFID sistem beroperasi dalam nomor frequency band worlwide tak berlisensi. Sistem frekuensi rendah (30 kilohertz sampai 50 kilohertz) mempunyai reading ranges yang pendek (inci sampai beberapa feet) dan sistem cost yang lbih rendah. Sistem frekuensi rendah sering digunakan dalam security, asset tracking, atau penerapan identifikasi hewan.

Sistem RFID frekuensi tinggi (850 MHz sampai 950 MHz dan 2.4 GHz sampai 2,5 GHz) menawarkan reading ranges yang dapat diperluas melebihi 90 feet dan mempunyai kecepatan reading yang tinggi.RFID frekuensi tinggi diterapkan termasuk di railroad car tracking atau toll collection otomatis untuk jalan raya atau jembatan.

Dalam inventory control dan supply chain management, RFID dapat membentuk dana mengatur informasi lebih detail tentang item-item dalam warehouse-warehousenya atau dalam produksi daripada sistem bar-coding. Penghematan nyata dari RFID datang dari cara RFID dapat meningkatkan keseluruhan proses bisnisnya.

Wireless in Health Care
Area lain dimana teknologi wireless mempunyai dampak utama adalah health care. Sistem health care telah terhambat dengan ketidakefisienan dari proses paper-based dan gaps antara sistem informasi. Banyak rumah sakit yang mempunyai wired networks mempunyai masalah mendapatkan informasi penting di tempat dan waktu yang tepat karena kebanyakan dokter dan perawat jarang berada di satu tempat untuk waktu yang lama.

Mobile technology dapat menyediakan beberapa solusinya. Rumah sakit- rumah sakit telah menginstal wireless LANs di emergency rooms dan area perawatan, dan melengkapi staffnya dengan komputer laptop yang memungkinkan Wi-Fi atau wireless PDAs dan smart phone.

makalah pencemaran udara DIY

Lanjutan 2.........
PAPER EKONOMI SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN
makalah “KEMACETAN DAN PENCEMARAN UDARA
DI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA”

  1. Sistem Transportasi Ramah Lingkungan
Perencanaan sistem transportasi harus disertai dengan pengadaan prasarana yang sesuai dan memenuhi persyaratan dan kriteria transportasi antara lain volume penampungan, kecepatan rata-rata, aliran puncak, keamanan pengguna jalan. Selain itu harus juga memenuhi persyaratan lingkungan yang meliputi jenis permukaan, pengamanan penghuni sepanjang jalan, kebisingan, pencemaran udara, penghijauan, dan penerangan.

Dalam mencapai sistem transportasi yang ramah lingkungan dan hemat energi, persyaratan spesifikasi dasar prasarana jalan yang digunakan sangat menentukan. Permukaan jalan halus, misalnya, akan mengurangi emisi pencemaran debu akibat gesekan ban dengan jalan. Pepohonan ditepi jalan sebagai tabir akustik atau tunggul tanah dan jalur hijau sepanjang jalan raya akan mereduksi tingkat kebisingan lingkungan pemukiman yang ada di sekitar dan sepanjang jalan, dan juga akan mengurangi emisi pencemar udara keluar batas jalan kecepatan tinggi.

Dalam konteks ini, untuk mencapai sistem transportasi darat yang ramah lingkungan, ada beberapa hal yang perlu dijalankan :
  1. Rekayasa lalu lintas.
Rekayasa lalu lintas khususnya menentukan jalannya sistem transportasi yang direncanakan. Penghematan energi dan reduksi emisi pencemar dapat dioptimalkan secara terpadu dalam perencanaan jalur, kecepatan rata-rata, jarak tempuh per kendaraan per tujuan dan seterusnya. pola berkendara pada dasarnya dapat direncanakan melalui rekayasa lalu lintas.

Data mengenai pola dan siklus berkendaraan yang tepat di Indonesia belum tersedia hingga saat ini. Dalam perencanaan, pertimbangan utama diterapkan adalah bahwa aliran lalu lintas berjalan dengan selancar mungkin, dan dengan waktu tempuh yang sekecil mungkin, seperti yang dapat di uji dengan model asal-tujuan. Dengan meminimumkan waktu tempuh dari setiap titik asal ke titik tujuannya masing-masing akan dapat dicapai efisiensi bahan bakar yang maksimum, dan reduksi pencemar udara yang lebih besar.

  1. Pengendalian Pada Sumber (mesin kendaraan).
Jenis kendaraan yang digunakan sebagai alat transportasi merupakan bagian di dalam sistem transportasi yang akan memberikan dampak bagi lingkungan fisik dan biologi akibat emisi pencemaran udara dan kebisingan.

Kedua jenis pencemaran ini sangat ditentukan oleh jenis dan kinerja mesin penggerak yang digunakan. Karena itu re-desain produksi kendaraan bermotor wajib dilakukan. Produsen kendaraan bermotor harus menggunakan mesin yang ramah lingkungan, yang memenuhi standar emisi dan tidak bising. Sebagai contoh persyaratan pengendalian pencemaran seperti yang diterapkan Amerika Serikat (AS) telah terbukti membawa perubahan-perubahan besar dalam perencanaan mesin kendaraan bermotor yang beredar di dunia sekarang ini.

  1. Energi Transportasi.
Besarnya intensitas emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor selain ditentukan oleh jenis dan karakteristik mesin, juga sangat ditentukan oleh jenis BBM yang digunakan. Seperti halnya penggunaan LPG dan Pertamax akan memungkinkan pembakaran sempurna dan efisiensi energi yang tinggi. Selain itu dalam rangka upaya pengendalian emisi gas buang diperlukan konsistensi syarat bahan bakar khusus yang bebas timbal.

    1. Penyediaan Transportasi Massal Yang Lebih Memadai
Salah satu hal yang paling dirasakan menjadi pemicu pesatnya pertumbuhan kendaraan roda dua di DIY adalah kurang memadainya fasilitas transportasi masal. Salah satu transportasi masal yang paling banyak digunakan di DIY adalah bus. Sebagai catatan, bus-bus di DIY hanya beroperasi hingga pukul 17.00-18.00. Kalau pun ada yang beroperasi lebih dari itu, jumlahnya hanya sedikit dan hanya untuk tujuan tertentu (biasanya tujuan Malioboro - jalur 7).

Sehingga nantinya bagi mereka, akan sangat merepotkan jika mereka tidak mempunyai kendaraan pribadi yang bisa mereka gunakan untuk aktifitas di malam hari. Mereka harus mengeluarkan biaya ekstra untuk melakukan mobilisasi, seperti menggunakan taxi atau becak dan biasanya biayanya menjadi lebih mahal.

Tentu saja usulan untuk menyediakan transportasi tambahan pada malam hari ini, tidak bisa segera langsung dilaksanakan, mengingat populasi kendaraan pada malam hari biasanya bisa jauh lebih padat dari siang hari. Sehingga jika langsung menyediakan, malah akan menambah kemacetan dan tambahan tingkat polusi udara.

    1. Paru-Paru/Hutan Kota
Selain itu pentingnya paru-paru kota yang diharapkan dapat membantu menyaring dan menyerap polutan di udara harus mulai digalakkan kembali. Dari sebuah tulisan tentang hutan kota di situs Departemen Kehutanan berjudul Hutan Kota Untuk Pengelolaan dan Peningkatan Kualitas Lingkungan Hidup” diperoleh informasi dua pendekatan yang dipakai dalam membangun hutan kota. Pendekatan pertama, hutan kota dibangun pada lokasi-lokasi tertentu saja.
Pada pendekatan ini hutan kota merupakan bagian dari suatu kota. Penentuan luasannya pun dapat berdasarkan:
  • Prosentase, yaitu luasan hutan kota ditentukan dengan menghitungnya dari luasan kota.
  • Perhitungan per kapita, yaitu luasan hutan kota ditentukan berdasarkan jumlah penduduknya.
  • Berdasarkan isu utama yang muncul.

Misalnya untuk menghitung luasan hutan kota pada suatu kota dapat dihitung berdasarkan tujuan pemenuhan kebutuhan akan oksigen, air dan kebutuhan lainnya.

Pendekatan kedua, semua areal yang ada di suatu kota pada dasarnya adalah areal untuk hutan kota. Pada pendekatan ini, komponen yang ada di kota seperti pemukiman, perkantoran dan industri dipandang sebagai suatu bagian yang ada dalam suatu hutan kota.

Di Indonesia, dalam membangun hutan kota menggunakan pendekatan pertama, namun tidak ada salahnya bila kita juga menerapkan pendekatan campuran. Sehingga bila diuraikan, untuk membangun paru-paru kota bisa menggunakan pendekatan pertama, ikut andil dengan menggunakan pendekatan kedua. Toh, tidak ada ruginya menanam tumbuhan di halaman rumah kita, atau pada tiap jengkal lahan tidur disekitar kita tinggal. Bila mana ini dilaksanakan, dalam waktu dekat jumlah tanaman pelindung ideal sebesar 10 hingga 60 persen dari jumlah penduduk bisa diwujudkan.

Pada dasarnya, tumbuhan tidak akan pernah bisa membantu menurunkan emisi, melainkan ia akan membantu proses refreshing udara.

BAB III
KESIMPULAN

Semakin peliknya masalah pencemaran lingkungan ini menyebabkan kekhawatiran berbagai pihak akan akan kondisi lingkungan dimasa yang akan datang. Udara, tanah air kini sudah banyak mengandung polutan, penipisan lapisan ozon yang bisa mengganggu ekositem bumi, efek rumah kaya. Sudah saat kita mulai memperhatikan lingkungan sekitar mulai dari hal yang terkecil.

Misal di Yogyakarta ini, dahulu kala sepeda adalah alat transportasi yang terkenal, kini hanya sedikit saja yang menggunakannya. Kini sepeda motor mulai menggantikan perannya, polusi udara mulai meningkat perlahan demi perlahan. Seiring dengan bertambah pesatnya pertumbuhan pemakai sepeda motor ini.

mulai menggalakan sistem transportasi yang lebih efisien dan tidak tinggi tingkat polutannya. Udara air, dan tanah merupakan anugrah yang seharusnya kita jaga kelestariannya.
DAFTAR PUSTAKA

Selasa, 25 Maret 2008

PAPER EKONOMI LINGKUNGAN

Lanjutan 1

PAPER EKONOMI SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN

makalah “KEMACETAN DAN PENCEMARAN UDARA

DI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA”


  1. Dampak-Dampak Yang Ditimbulkan

    1. Bagi Lingkungan

Hasil penelitian Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Yogyakarta menunjukkan bahwa anak jalanan, tukang parkir, pedagang kaki lima, tukang becak sopir kendaraan umum, masyarakat yang menjadikan jalan sebagai tempat mengais rejeki, merupakan pihak yang paling rentan terkena resiko pencemaran udara.


Mereka itu sangat rentan mengalami keracunan Timbal (pb), seperti mengalami sakit kepala, mual, muntah-muntah, kejang perut. Apabila terus berlanjut, para penderita keracunan zat-zat kimia dari polusi udara tersebut bisa menderita daya ingat menurun, gangguan penglihatan, kerusakan otot jantung, dan susunan syaraf pusat. Hal ini bisa menjadi ancaman serius bila dibiarkan begitu saja, bukan saja bagi lingkungan yang kita diami, lebih jauh ini bisa mengakibatkan menurunnya derajat kesehatan masyarakat dengan berjangkitnya penyakit saluran pernapasan akibat polusi udara.


Untuk itu, perencanaan sistem transportasi haruslah menjadi prioritas dalam upaya menanggulangi hal ini, terutama dalam menekan dampak negatifnya bagi lingkungan. Penanggulangan ini wajib dilaksanakan dengan melihat semua aspek yang ada di dalam sistem transportasi, mulai dari perencanaan sistem transportasi, model transportasi, sarana, pola aliran lalu lintas, jenis mesin kendaraan dan bahan bakar yang digunakan. Tentunya upaya ini harus diarahkan pada perencanaan sistem transportasi yang hemat energi dan berwawasan lingkungan.


Perencanaan sistem transportasi yang kurang matang, bisa menimbulkan berbagai permasalahan, diantaranya kemacetan dan tingginya kadar polutan udara akibat berbagai pencemaran dari asap kendaraan bermotor. Dampak yang dirasakan akibat menurunnya kualitas udara perkotaan adalah adanya pemanasan kota akibat perubahan iklim, penipisan lapisan ozon secara regional, dan menurunnya kualitas kesehatan masyarakat yang ditandai terjadinya infeksi saluran pernafasan, timbulnya penyakit pernapasan, adanya Pb (timbal) dalam darah, dan menurunnya kualitas air bila terjadi hujan (hujan asam).


Polutan (bahan pencemar) yang ada di udara seperti gas buangan CO (karbon monoksida) lambat laun telah mempengaruhi komposisi udara normal di atmosfer. Hal ini dapat memengaruhi kondisi lingkungan dengan adanya dampak perubahan iklim. Ketidakpastian masih banyak dijumpai dalam "model prediktif" yang ada sekarang, antara lain mengenai respons alam terhadap kenaikan temperatur bumi sendiri, serta disagregasi perubahan iklim global ke tingkat regional, dan sebagainya.


Adapun dampak negatif bagi kesehatan masyarakat, diketahui kontak antara manusia dengan CO, misalnya, pada konsentrasi yang relatif rendah, yakni 100 ppm (mg/lt) akan berdampak pada gangguan kesehatan. Hal ini perlu diketahui terutama dalam hubungannya dengan masalah lingkungan karena konsentrasi CO di udara umumnya memang kurang dari 100 ppm. Senyawa CO dapat menimbulkan reaksi pada hemoglobin (Hb) dalam darah.


Adapun faktor penting yang menentukan pengaruh COHb terdapat dalam darah adalah makin tinggi persentase hemoglobin yang terikat dalam bentuk COHb, semakin fatal pengaruhnya terhadap kesehatan manusia.


Efek Rumah Kaca

Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya. Energi yang masuk ke bumi, 25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer, 25% diserap awan, 45% diadsorpsi permukaan bumi, dan 5% dipantulkan kembali oleh bumi

    1. Biaya Ekonomi

Kondisi jalanan yang macet, jelas akan berpengaruh terhadap kemampuan atau efisiensi dalam hal perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya, baik berupa barang atau manusianya itu sendiri. Kemacetan menyebabkan biaya transportasi menjadi lebih mahal, karena jumlah bahan bakar yang diperlukan menjadi lebih banyak karena perjalanan tidak bisa lancar. Kondisi ini juga berdampak langsung pada peningkatan jumlah polusi yang dikeluarkan. Ketika kendaraan lebih banya berhenti, maka akumulasi polutan yang dikeluarkan akan lebih banyak.


Bagi penggunanya sendiri, akan menyebabkan oppurtunity cost yang tinggi, karena waktu yang seharnya bisa ia maksimalkan untuk aktifitas ekonomi, kini lebih banyak dihabiskan dijalanan, sehingga ia kehilangan benefit tertentu.


  1. Upaya-Upaya Penanggulangan

    1. Perencanaan Sistem Transportasi

Pada dasarnya pemilihan model transportasi ditentukan dengan mempertimbangkan salah dua persyaratan pokok, pertama yaitu pemindahan barang dan manusia dilakukan dalam jumlah yang terbesar dan jarak yang terkecil. Transportasi massal merupakan pilihan yang lebih baik dibandingkan dengan transportasi individual. Dengan mengurangi jumlah sarana transportasi (kendaraan) sekecil mungkin dan dalam waktu tempuh yang sekecil mungkin akan diperoleh efisiensi yang tertinggi, sehingga pemakaian total energi per penumpang akan sekecil mungkin, dan intensitas emisi pencemar yang dikeluarkan akan berkurang


Kedua, daya dukung wilayah (sesuai perencanaan kota) dan sistem transportasi terhadap jumlah kendaraan. Pertumbuhan kendaraan sudah seharusnya mulai dibatasi menyesuaikan dengan daya tampung dan daya dukung jalan raya, ketersediaan lokasi parkir atau sarana pendukung transportasi lainnya. Selama aspek sistem transportasi yang memadai dan sesuai terlaksana dalam konteks perencanaan kota melalui manajemen transportasi efisiensi energi maka pencegahan dampak bagi lingkungan dapat dilakukan.


Dengan demikian, dalam mencapai sistem transportasi yang hemat energi, diperlukan terlebih dahulu upaya proaktif dalam perencanaan yang menjamin bahwa sistem transportasi yang direncanakan sesuai dengan tata ruang dan perencanaan kota, dalam cakupan waktu tertentu. Ironisnya, keadaan yang banyak ditemui sekarang di kota-kota besar Indonesia, program perencanaan tata kota justru tidak serasi dengan sistem transportasi yang ada, pertumbuhan kendaraan sangat pesat tanpa memperhatikan daya dukung wilayah yang ada.


Dalam keadaan ini, umumnya upaya penataan sistem transportasi yang diterapkan lebih banyak bertujuan memecahkan masalah yang timbul sekarang dan berjangka pendek, tanpa integrasi yang sesuai dengan perencanaan kotanya. Padahal tanpa perbaikan mendasar pada aspek perencanaan sistem transportasi secara menyeluruh, masalah-masalah yang timbul beserta implikasi dampaknya tak akan dapat terpecahkan dengan tuntas.


Sabtu, 22 Maret 2008

makalah kemacetan yogyakarta DIY

PAPER EKONOMI SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN

makalah “KEMACETAN DAN PENCEMARAN UDARA

DI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA”


BAB I

PENDAHULUAN


Pencemaran lingkungan merupakan masalah bersama yang sangat penting untuk diselesaikan, karena menyangkut keselamatan, kesehatan, dan kehidupan kita. Permasalahan pencemaran lingkungan yang harus segera kita atasi bersama diantaranya adalah pencemaran air, tanah dan sungai, pencemaran udara perkotaan, kontaminasi tanah oleh sampah, hujan asam, perubahan iklim global, penipisan lapisan ozon, kontaminasi zat radioaktif, dan sebagainya. Segala jenis pencemaran tersebut nantinya akan mengganggu aktifitas kita sehari-hari, khususnya aktifitas ekonomi.


Makalah ini sendiri akan lebih fokus untuk membahas mengenai masalah pencemaran udara, khususnya yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dimana tingkat pencemaran udara di daerah tersebut sudah sangat mengkhawatirkan. Pencemaran udara dianggap sebagai salah satu jenis pencemaran yang sangat nyata yang mampu mengurangi kualitas lingkungan (udara) di DIY. Hal tersebut tidak mengherankan mengingat produktifitas sumber pencemar (polutan) yang ada, sangat cukup untuk mendukung terjadinya penurunan kualitas udara di DIY secara signifikan.


Oleh karena itu kita perlu melihat lebih dekat mengenai kondisi yang terjadi disana, khususnya mengenai tingkat pencemaran, sumber pencemaran (polutan), dampaknya, dan lebih jauh lagi mengenai langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk menanggulangi masalah tersebut.


Secara umum, makalah ini nantinya akan melihat kendaraan bermotor dan kemacetan sebagai faktor utama yang menyebabkan penurunan kualitas udara di DIY. Dimana, kedua faktor tersebut dalam perkembangannya selalu seiring berjalan, dan kenyataan yang terjadi menunjukan pertumbuhan yang cukup mengkhawatirkan. Masalah ini perlu untuk kita telaah, karena mau tidak mau, kita merupakan salah satu bagian yang secara langsung mengalami fenomena tersebut, termasuk dampaknya.


Lebih dalam lagi mengenai masalah tersebut akan dibahas setelah bab ini. Diharapkan, nantinya akan muncul ide-ide baru yang dapat dipertimbangkan sebagai alternatif penanggulangan masaalah ini.


BAB II

PENCEMARAN UDARA DI Daerah Istimewa Yogyakarta


Masalah kemacetan dan polusi udara memang merupakan problema yang sulit dicari solusinya, khususnya bagi kota-kota besar. Hal ini bukan saja menimpa kota Yogyakarta, namun kota-kota lainnya di Indonesia, bahkan kota-kota di dunia pun juga mengalami kesulitan dalam upaya mengurangi kemacetan dan menekan kadar polusi udara dari kendaraan bermotor.


  1. Kondisi Pencemaran di DIY

Pertumbuhan Rata-Rata Jumlah Motor di DIY 2003-2005

Tahun

Pertumbuhan

2003 – 2004

2004 – 2005

7.347 unit

7.331 unit

Sumber : diolah dari Kompas online, senin 2 Otober 2006


Pertumbuhan Jumlah Motor di DIY dalam 3 tahun terkahir (2002-2005)

Tahun

Jumlah Motor

2002

2005

597.143 unit

843.077 unit

Sumber : diolah dari Kompas online, senin 2 Otober 2006


Secara umum, pertambahan sepeda motor memang lebih pesat dibandingkan kendaraan roda empat. Setiap tahun, jumlah kendaraan roda dua bertambah sekitar 11,8 persen, sementara kendaraan roda empat hanya 6,9 persen. Berdasarkan data Polda DIY, jumlah kendaraan bermotor terbanyak berada di Kota Yogyakarta, yaitu 275.590 unit atau 28,23 persen dari total jumlah kendaraan bermotor (2005). Padahal, panjang jalan di kota hanya 224,86 kilometer. Tak heran, di sejumlah ruas jalan vital, seperti Jalan Malioboro dan sekitarnya, kerap terjadi kemacetan.


Dalam lima tahun terakhir, perkembangan kendaraan bermotor di DIY rata-rata 11,9 persen per tahun. Pertambahan kendaraan bermotor baru setiap tahun mencapai 83.761 unit, lebih dari 90 persen di antaranya kendaraan roda dua atau sepeda motor. Sedangkan pertambahan kendaraan roda empat hanya 7.853 unit per tahun.


Tingkat pencemaran udara di kota Yogyakarta sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan dan sektor transportasi merupakan kontributor utama bagi pencemaran udara ini. Pada jam-jam tertentu dibeberapa titik padat kendaraan bermotor tingkat polusinya sudah melampaui ambang batas. Ditempat-tempat tertentu mulai terlihat penurunan kualitas udara, terutama di tempat yang macet.


Beberapa titik yang menjadi lokasi kemacetan di kota Yogyakarta seperti perempatan Magister Manajemen UGM, perempatan Mirota Kampus, perempatan Tugu, dan perempatan jalan Magelang. Meski kemacetan di kota Yogyakarta belum separah kota Jakarta, namun dengan pertumbuhan rata-rata 8000 unit/bulan (belum termasuk pertumbuhan kendaraan yang lain), jika tanpa pembenahan yang baik maka sepuluh tahun yang akan datang, barangkali kondisi kemacetan kota Yogyakarta akan sama parahnya dengan kota Jakarta.


Data dari Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan (KPDL) Kota Yogya menunjukkan, dua kawasan yang paling polutif saat ini adalah perempatan Pingit di Jalan Magelang dan perempatan Mirota Kampus. Kadar HC di perempatan Pingit mencapai 1.053 ug/m3, sedangkan perempatan Mirota Kampus mencapai 964 ug/m3. Batas ambang normal untuk kadar HC hanya 160 ug/m3.


Pembangunan pusat-pusat perdagangan baru yang dipaksakan di wilayah-wilayah yang sudah padat lalu lintasnya, juga ikut memberikan kontribusi bagi kemacetan kendaraan di kota Yogyakarta. Pembangunan pusat perdagangan baru itu tidak memperhatikan jarak efisien untuk menghindari kemacetan. Lebih parahnya lagi badan jalan sering dijadikan sebagai lokasi parkir kendaraan pengunjung pusat-pusat perbelanjaan. Jelas hal ini akan mengurangi “ruang” untuk lalu lintas kendaraan di jalan raya.

berlanjut........

Selasa, 18 Maret 2008

RUMUS KALIMAT PASIF inggris


Present/ Simple Future
RUMUS KALIMAT PASIF
(+) S (yang berasal dari obyek) + Will/ Shall + Be + V3
A car will be bought by me next year
(- ) S (yang berasal dari obyek) + Will/ Shall + Not + Be + V3
A car will not be bought by me next year.

Future Continuous
RUMUS KALIMAT PASIF
(+) S (yang berasal dari obyek) + Will/ Shall + Be + Being + V3
This novel will be being read by me by next two hours.
(Novel ini akan sedang saya baca pada dua jam mendatang)
(- ) S (yang berasal dari object) + Will/ Shall + Not + Be + Being + V3
This novel will not be being read by me by next two hours.
(Novel ini tidak akan sedang saya baca pada dua jam mendatang)

Future Perfect
RUMUS KALIMAT PASIF
(+) S (yang berasal dari obyek) + Will/ Shall + Have + Been + V3
This book will have been finished written by me by tomorrow evening.
(Buku ini mungkin akan telah selesai saya tulis paling lambat besok petang)
(- ) S (yang berasal dari object) + Will/ Shall + Not + Have + Been + V3
This book will have been finished written by me by tomorrow evening.
(Hingga besok petang, buku ini mungkin tidak akan selesai saya tulis)

Future Perfect Continuous
RUMUS KALIMAT PASIF
(+) S (yang berasal dari obyek) + Will/ Shall + Have + Been + Being + V3
The project will have been being done by them for three years exactly in June, next year.
(Proyek tersebut akan telah dikerjakan oleh mereka selama tepat tiga tahun pada Juni mendatang)
(- ) S (yang berasal dari object) + Will/ Shall + Not + Have + Been + Being + V3
The project will not have been being done by them for three years exactly in June, next year.
(Proyek tersebut belum dikerjakan selama tiga tahun pada Juni mendatang/ Pada Juni mendatang proyek tersebut belum genap tiga tahun dikerjakan)

Future Past
RUMUS KALIMAT PASIF
(+) S (yang berasal dari obyek) + Would/ Should + Be + V3
An advice would be given to me by them but they were in a hurry to catch the yesterday’s morning flight.
(Sebuah saran akan mereka berikan kepada saya namun saat itu mereka sedang terburu-buru mengejar penerbangan pagi)
(- ) S (yang berasal dari object) + Would/ Should + Not + Be + V3
An advice would not be given to me by them because they were in a hurry to catch the yesterday’s morning flight.
(Sebuah saran tidak akan mereka berikan kepada saya karena saat itu mereka sedang terburu-buru mengejar penerbangan pagi)

Future Past Continuous
RUMUS KALIMAT PASIF
(+) S (yang berasal dari obyek) + Would/ Should + Be + Being + V3
Yesterday, Anthony had told me that I would be being waited by him by the time I arrived there but he lied to me, he was not there!
(Antony kemarin sebelumnya telah mengatakan kepada saya bahwa saya akan sedang ia tunggu saat saya tiba di sana tapi ia membohongiku, saat itu ia tidak di sana!)
(- ) S (yang berasal dari object) + Would/ Should + Be + Being + V3
Yesterday, Anthony had told me that I should not be being waited by him by the time I arrived there and he was really not there!
(Antony kemarin sebelumnya telah mengatakan kepada saya bahwa saya tidak akan ia tunggu saat saya tiba di sana dan saat itu iamemang tidak di sana!)

Future Past Perfect
RUMUS KALIMAT PASIF
(+) S (yang berasal dari obyek) + Would/ Should + Have + Been + V3
The highest score should have been got by me if only I had learnt the material seriously.
(Nilai tertinggi seharusnya saya dapatkan seandainya saya mempelajari bahannya secara serius)
(- ) S (yang berasal dari object) ++ Would/ Should + Have + Been + V3
The highest score should not have been got by him if only I had learnt the material seriously.
(Nilai tertinggi seharusnya tidak ia dapatkan seandainya saya mempelajari bahannya secara serius)

Future Past Perfect Continuous
RUMUS KALIMAT PASIF
(+) S (yang berasal dari obyek) + Should/ Would + Have + Been + Being + V3
I had predicted that their project should have been being done by them for three months by last week.
(Saya menduga bahwa hingga minggu lalu proyek tersebut akan telah mereka kerjakan selama tiga bulan)
(- ) S (yang berasal dari object) + Should/ Would + Not + Have + Been + Being + V3
I had predicted that their project should not have been being done by them for three months by last week.
(Saya menduga bahwa hingga minggu lalu proyek tersebut belum genap tiga bulan mereka kerjakan)


Senin, 17 Maret 2008

review jurnal manajemen

Metode Penelitian Bisnis

Knowledge-related Skills and Effective Career Management


Latar Belakang Masalah

Para peneliti menemukan bahwa gaya kerja kuno terhadap manajemen karier, mobilitas vertikal dan stabilitas layak telah berlalu (Allred et al., 1996; Arthur dan Rousseau, 1996). Mereka menguraikan suatu lingkungan pekerjaan baru di mana setiap individu bertanggung jawab untuk mengatur karier mereka sendiri, mobilitas menjadi lateral dan penuh dengan ketidakpastian. Kebutuhan untuk meninjau kembali kondisi karir lingkungan pekerjaan yang baru ini menjadi suatu hal yang penting ( e.g. Herriot dan Pemberton, 1996). Seiring dengan berjalannya waktu, terdapat serangkaian penulisan yang muncul membangkitkan konseptualisasi yang baik untuk menguji manajemen karir ( e.g. Arthur dan Rousseau, 1996; Bird, 1994; Greenhaus dan Callanan, 1994; Hall dan Mirvis, 1996).


Hall (1996) menulis suatu paradigma karier baru dan mendukung individu menjadi self-reliant, memiliki sense of belonging atas karier mereka dan menyadari adanya konsep karier baru, yaitu protean career. Protean career ini memerlukan penguasaan dan pemanfaatan dari serangkaian skills, yang membantu perkembangan kemampuan beradaptasi dan perubahan identitas individu di berbagai lingkungan. Perubahan individual dan kemampuan adaptasi menjadi penting karena protean career tidak dikendalikan oleh organisasi, melainkan oleh individu, dan akan tercipta kembali dari waktu ke waktu ketika seseorang dan lingkungan berubah" ( Hall, 1996, p. 8). Manajemen yang efektif terhadap karier yang baru mengharuskan penguasaan serangkaian skills yang telah diidentifikasikan oleh beberapa pengarang.


Hall (1996) befokus pada " metaskills". Ini meliputi kemampuan beradaptasi, toleransi terhadap ketidakpastian dan ambiguitas, self-awareness, dan perubahan identitas (Hall, 1986). ( Et Allred al., 1996) mengidentifikasi kemampuan self-management dan fleksibilitas.

Penelitian ini menunjukkan perubahan terbaru di dalam iklim pengembangan karier di AS di mana individu mempunyai tanggung jawab terakhir untuk mengelola karier mereka sendiri.


Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

Apakah dalam penelitian ini terdapat hubungan antara aspek " metaskills" dan manajemen karir yang efektif ?


Tujuan Penelitian

  • Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji hubungan antara aspek " metaskills" dan manajemen karir yang efektif.

  • Tujuan penelitian ini adalah untuk menambahkan riset empiris kepada dasar konseptual yang ada.

  • Penelitian ini memberikan kontribusi yang dibutuhkan bagi penelitian lain dengan menguji bagaimana hubungan dan pengaruh transmisi kemampuan individual dalam dunia akademis terhadap manajemen karir yang efektif.


Literatur Review dan Pengembangan Hipotesis

Career Management

Career Management didefinisikan sebagai proses dinamis dimana individu mengumpulkan informasi mengenai hal yang mereka sukai, tidak disukai, kekuatan, kelemahan, dan dunia kerja; mengembangkan tujuan karir yang realistis; mengembangkan dan mengimplementasikan strategi untuk mencapai tujuan tersebut; dan menghasilkan feedback untuk mempromosikan pengambilan keputusan mengenai karir mereka (Greenhaus dan Callanan, 1994). Studi ini berfokus pada empat indikator keefektifan career management yang diadopsi dari Greenhaus dan Callanan (1994), yaitu personal learning, goal setting, career strategies, dan career decision making.



  • Personal Learning

Personal learning merupakan pembelajaran mengenai diri sendiri, siapa sebenarnya diri kita, serta mengenai sikap dan identitas personal (Hall, 1996). Personal learning memungkinkan individu memahami dirinya, nilai yang mereka miliki, dan bagaimana mereka melakukan fungsinya di dalam organisasi.

  • Goal Setting

Goal setting sering dihubungkan dengan meningkatkan kinerja melalui peningkatan usaha, arahan, perhatian dan mempromosikan formulasi strategi (Locke et al., 1981). Penetapan career goal dapat memberikan gambaran yang jelas kepada karyawan mengenai potensi masa depan mereka dan mengarahkan langkah mereka ke arah pemuasan kebutuhan yang penting (Greenhaus et al., 1995). Telah diasumsikan bahwa career goal setting adalah bermanfaat, mungkin juga penting, bagi karyawan dan organisasi (Boulmetis, 1997).

  • Career Strategies

Career strategies meliputi sekumpulan aktivitas yang membantu perkembangan implementasi rencana karir. Contohnya beberapa aktivitas seperti menciptakan kesempatan karir, meningkatkan keterlibatan dalam pekerjaan, mempresentasikan diri secara positif, mencari petunjuk karir, mentoring, networking, mengadaptasi opini pihak lain, dan perbaikan lainnya (Gould dan Penley, 1984).

  • Career Decision Making

Career decision making meliputi pilihan karir yang harus dibuat individu “di dalam ruang kehidupan yang kompleks yang dipengaruhi oleh karakteristik individual, keadaan organisasi, dan kondisi di luar organisasi” (Hicks dan London, p.121).


Metaskills”

Hall (1996, p.11) mendefinisikan “metaskills” sebagai sekumpulan keterampilan yang disyaratkan untuk mempersiapkan individu untuk “belajar bagaimana belajar”. Keterampilan ini meliputi self-knowledge dan kemampuan adaptasi yang mempertinggi kemampuan individu untuk mengasumsikan identitas yang sesuai dengan berbagai lingkungan. Tujuan utama mempelajari keterampilan ini adalah agar individu mampu mengelola dirinya sendiri secara efektif. Dalam studi ini kata “metaskills” tidak dibatasi oleh definisi dari Hall, tapi termasuk keterampilan relevan yang telah diidentifikasi dalam literatur dan dipertimbangkan penting bagi keefektifan pengelolan karir baru. Dalam literatur yang membahas paradigma baru mengenai karir, self-knowledge, interpersonal knowledge, dan environmental knowledge diidentifikasi sebagai sekumpulan keterampilan yang diperlukan untuk meningkatkan career management.


Untuk mencapai kesuksesan dalam paradigma karir yang baru, telah menjadi pemikiran yang umum bahwa keterampilan tertentu perlu mendapat perhatian kritis. Atribut yang paling menonjol dalam paradigma karir yang baru ini adalah bahwa individu memiliki tanggung jawab terhadap career management-nya. Oleh karena itu, keterampilan self-management menjadi hal terpenting. Untuk merespon ketertarikan terhadap career management tersebut, lebih dari 3.000 buku self-help mengenai karir dan pengelolaan karir telah ditulis dalam dekade ini (Carson dan Carson, 1997). Kebanyakan mendorong terhadap kenaikan pemahaman terhadap diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.


Banyak sekolah bisnis telah men-set keterampilan-keterampilan tersebut menjadi suatu bagian integral di dalam kurikulum MBA (e.g. McMillen et al., 1994; Bigelow, 1995; Bigelow et al.in press). Tinjauan mengenai keterampilan tersebut mengungkapkan keterampilan yang berkaitan dengan self-knowledge, interpersonal knowledge, dan environmental knowledge (e.g. Bigelow, 1995).


Metaskills” dan career management yang efektif

Hubungan antara “metaskills” yang terdiri dari self-knowledge, interpersonal knowledge, dan environmental knowledge dan indikator dari efektif career management nampaknya cukup masuk akal.

  • Self-knowledge

Keterampilan self-knowledge berfokus pada pengembangan individu. Yang mencakup informasi mengenai individu dan pemanfaatan keterampilan yang berhubungan dengan self-management individu. Termasuk diantaranya presentasi lisan, mendengar dengan efektif, manajemen waktu dan stres, self-awareness, dan bekerja dengan lebih efektif dengan orang yang memiliki latar belakang dan budaya yang berbeda.


Kesuksesan dalam menggabungkan keterampilan-keterampilan tersebut harus memberi kontribusi bagi pembelajaran individu mengenai diri mereka sendiri, juga secara luas self-knowledge harus memberi kontribusi pada pembuatan goals yang realistis (Greenhaus et al., 1995). Individu menjadi lebih peduli bahwa untuk mengelola karir mereka, goal setting menjadi alat motivasi dan petunjuk. Individu, kemudian, menggunakan career strategies untuk mencapai goals tersebut. Pengambilan keputusan karir yang efektif akan dapat terjadi ketika individu mempelajari secara mendalam (in-depth) mengenai dirinya sendiri. Hipotesis yang kemudian mengikuti adalah:

H1a: Pelaporan self-knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan personal learning.

H1b: Pelaporan self-knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan realistic goal setting.

H1c: Pelaporan self-knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan career strategies.

H1d: Pelaporan self-knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan career decision making.


  • Interpersonal knowledge

Keterampilan ini merupakan keterampilan yang berkaitan dengan berhubungan dengan orang lain. Interpersonal knowledge di lungkup kerja meliputi delegasi, memotivasi orang lain, asertif, manajemen konflik, mempengaruhi orang lain, dan menggunakan kekuatan dengan efektif. Sebagai individu yang memperoleh kompetensi dalam bekerja secara efektif dengan orang lain, mereka juga belajar mengenai diri sendiri.


Mereka berempati dan mencoba untuk memahami mengapa dan bagaimana orang lain berperilaku sebagaimana apa yang mereka lakukan. Memperoleh kemampuan dalam bertransaksi dengan orang mensyaratkan pendekatan sistematis dan langsung yang menguntungkan dari indikator career management seperti realistic goal setting, memanfaatkan career strategies, dan berhasil dalam pengambilan keputusan karir. Dengan demikian penulis memiliki hipotesis:

H2a: Pelaporan interpersonal knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan personal learning.

H2b: Pelaporan interpersonal knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan realistic goal setting.

H2c: Pelaporan interpersonal knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan career strategies.

H2d: Pelaporan interpersonal knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan career decision making.


  • Environmental knowledge

Environmental knowledge berfokus secara keseluruhan pada pemahaman terhadap lingkungan sebagai satu fungsi. Hal ini meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan dan membantu pengembangan kemampuan adaptasi dan fleksibel di dalam konteks yang berbeda. Individu perlu memonitor lingkungannya secara konstan dalam rangka untuk memahami bagaimana mengadaptasi identitas mereka terhadap perubahan lingkungan.


Oleh karena itu, memiliki pengetahuan mengenai lingkungan harus membantu perkembangan career management yang efektif. Pencarian yang luas terhadap informasi mengenai lingkungan penting untuk men-set career goals yang realistis dan tepat (Greenhaus et al., 1995). Peningkatan kesadaran terhadap lingkungan harus dimasukkan ke dalam bagian pemahaman individu terhadap dirinya sendiri, membantu perkembangan realistic goal setting, mendorong penggunaan career strategies, dan mempromosikan career decision making. Hipotesis yang kemudian mengikuti adalah:

H3a: Pelaporan environment knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan personal learning.

H3b: Pelaporan environment knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan realistic goal setting.

H3c: Pelaporan environment knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan career strategies.

H3d: Pelaporan environment knowledge sebagai hasil dari skills course berhubungan secara positif dengan career decision making.


Model Penelitian

Metodologi

A. Prosedur

  • Mengembangkan instrument survey menggunakan input dari 4 focus groups dan literatur karir. Focus groups terdiri dari 20 mahasiswa yang dipilih secara random yang telah menyelesaikan semester kuliah management skills. Grup ini mendiskusikan pengalaman mereka ketika dan setelah kuliah tersebut.

  • Topik yang disertakan:

    • kegunaan dari kuliah yang dilakukan

    • keahlian yang paling penting dipelajari.

    • tingkat yang bisa digunakan dalam pekerjaan

    • pengaruh keahlian yang mereka peroleh dalam pekerjaan dan karir.

    • pengaruh dari penggunaan metode yang diajarkan


B. Sampel

  • Survei dilakukan dengan mengirim surat kepada 1.146 mahasiswa MBA dan alumni AACSB yang mempunyai akreditasi northeastern university yang telah menyelesaikan dua tahap berturut-turut management skills minimal enam bulan sebelum tanggal pengiriman surat.

  • Total 446 kuesioner survei lengkap yang dikembalikan , menghasilkan 39 % tingkat respon.

  • Perempuan (214), rata-rata berusia 30 tahun (standard deviasi=5,7)

  • Para responden terdiri atas 72% dari ras Kaukasia, 28% non-Kaukasia, 2% tidak menyebutkan ras mereka.


C. Pengukuran

  • Self-knowledge dan interpersonal knowledge

Untuk mengukur Skills yang berhubungan dengan self-knowledge dan interpersonal knowledge, responden ditanya untuk mengetahui” sampai tingkatan mana pendidikan MBA meningkatkan kemampuan mereka dalam memperoleh skills yang berbeda.”

1 = tidak sama sekali, 5 = tingkatan yang tinggi sekali

Reliability coefficients untuk dua skala adalah 0,92 dan 0,95


  • Environmental knowledge

Untuk mengukur Skills yang berhubungan dengan Environmental knowledge

Responden ditanya untuk mengetahui tingkat setuju atau tidak terhadap pernyataan berikut ini.”Apakah mengambil pendidikan MBA 602/602 membuat saya mengetahui dengan jelas mengenai keterbatasan dan kekurangan saya?”

  • Skala 1 = sangat tidak setuju, 5 = sangat setuju


D. Indikator-indikator dari manajemen karir yang efektif

Personal learning

  • Skala ini didesain untuk mengukur tingkat pemahaman seseorang mengenai kesukaan mereka, kemampuan, nilai, bakat, dan aptitudes.

  • Menghasilkan reability coefficient 0,92

  • 1 = tidak sama sekali, 5 = tingkatan yang sangat tinggi sekali

Goal setting

  • Faktor yang dianalisis dengan varimax rotation menghasilkan satu faktor dan analisis kelayakan/ realibility analysis yaitu koefisien alfa 0,94

  • Contoh = Mengambil pendidikan MBA 601/602 membantu saya bekerja sesuai dengan rencana , mengetahui apap yang ingin saya capai.

  • 1 = sangat setuju, 5 = sangat tidak setuju

Career Strategies

  • Responden 1 = tidak sama sekali, 5 = selalu

  • Rata-rata responden menghasilkan nilai total strategi karir dengan reliability coefficient of 0.90

  • Nilai yang lebih tinggi menunjukkan penggunaan strategi karir yang luas.


Career Decision Making

  • Responden ditanyai untuk menunjukkan tingkat setuju atau tidak dengan aktivitas yang berhubungan dengan pembuatan keputusan karir.

  • Komponen utama faktor analisis menghasilkan satu faktor .

  • Koefisien alfa 0,90 diperoleh dari analisis reliabilitas.


E. Hasil

Pengujian Hipotesis

1. Hipotesis I

  • Rangkaian pertama hipotesis (H1a, H1b, H1c, H1d) memprediksikan bahwa variabel independen (self-knowledge) mempunyai hubungan positif terhadap masing-masing variabel dependen dalam manajemen karir yang efektif (personal learning, realistic goal setting, career strategies, dan career decision making)

  • Self-knowledge secara signifikan berhubungan dengan

    • personal learning (r = 0.67, β = 0.39, p <>

    • realistic goal setting (r = 0.70, β = 0.36, p <>

    • career strategies (r = 0.62, β = 0.29,p <>

    • career decision making (r = 0.63, β = 0.21, p <>

Keterangan : r merupakan hasil analisis korelasi, sedangkan β hasil dari analisis regresi.

Variables

Means

SD

1

2

3

4

5

6

7

1. Self-knowledge

3.49

0.92

(0.92)







2. interpersonal knowledge

3.09

0.96

0.74***

(0.95)






3. Environmental knowledge

3.31

1.16

0.56***

0.51***






4. Personal Learning

3.26

0.97

0.67***

0.64***

0.46***

(0.92)




5. Goal setting

3.15

1.03

0.70***

0.63***

0.65***

0.68***

(0.94)



6. Career strategies

3.03

0.98

0.62***

0.62***

0.48***

0.68***

0.65***

(0.90)


7. Career decision making

3.10

1.04

0.63***

0.63***

0.65***

0.63***

0.84***

0.67***

(0.90)

Notes: * p <>p <>p <>

Reliability coefficients are enclosed in parentheses

Tabel 1. Means, standard deviations, intercorrelations, and reliabilities


  1. Hipotesis 2

Rangkaian kedua hipotesis (H2a, H2b, H2c, H2d) memprediksikan bahwa variabel independen (interpersonal knowlegde) mempunyai hubungan positif terhadap masing-masing variabel dependen dalam manajemen karir yang efektif (personal learning, realistic goal setting, career strategies, dan career decision making).


Interpersonal Knowledge secara signifikan berhubungan dengan

  • personal learning (r = 0.64,β = 0.31, p <>

  • realistic goal setting (r = 0.63, β = 0.19,p <>

  • career strategies (r = 0.62, β = 0.33, p <>

  • career decision making (r = 0.65, β = 0.33, p <>

Keterangan : r merupakan hasil analisis korelasi, sedangkan β hasil dari analisis regresi.

3. Hipotesis 3

Rangkaian kedua hipotesis (H3a, H3b, H3c, H3d) memprediksikan bahwa variabel independen (environmental knowlegde) mempunyai hubungan positif terhadap masing-masing variabel dependen dalam manajemen karir yang efektif (personal learning, realistic goal setting, career strategies, dan career decision making).

Environmental Knowledge secara signifikan berhubungan dengan

  • personal learning (r = 0.46, β = 0.36,p <>

  • realistic goal setting (r = 0.65, β = 0.15, p <>

  • career strategies (r = 0.48, β = 0.33, p <>

  • career decision making (r = 0.65, β = 0.33,p <>


Hasil dari Analisis Regresi Berganda

Variables

Personal Learning

Goal Setting

Career Strategies

Career Decision making

β

R2

Β

R2

β

R2

β

R2

Self-knowledge

0.39***


0.36***


0.29***


0.21***


Interpersonal Knowledge

0.31***


0.19***


0.33***


0.33***


Environmental knowledge

0.08

0.49***

0.36**

0.60***

0.15**

0.46***

0.33***

0.54***

Notes : *p <>

Temuan Penelitian

Hasil studi memberikan dukungan yang kuat dimana self-knowledge, interpersonal knowledge dan environmental knowledge berhubungan dengan manajemen karir yang efektif.


Kontribusi Penelitian

  • Walaupun keahlian tersebut telah diakui pada bermanfaat untuk manajemen karir efektif (misalnya pada Caproni and Arias, 1997) namun belum ada studi empiris yang membukti hal tersebut.

  • Penelitian ini membuktikan secara empiris hubungan serangkaian keahlian tersebut dengan manajemen karir yang efektif

  • Penelitian ini juga memperluas literatur karir yang telah ada (Misalnya, Fletcher,1996; Kram, 1996; Arthur and Rousseau,1996; Hall and Mirvis,1996)


Limitation of the study and suggestions for further research

Penelitian ini memiliki keterbatasan yang harus dicatat. Penggunaan dari self report scores limits penelitian ini terhadap persepsi responden dapat dipengaruhi oleh bias responden. Penelitian yang akan datang akan bermanfaat jika menggunakan metodologi yang beragam termasuk interview, penilaian oleh manajer, rekan kerja dan bawahan dan anggota keluarga dalam mempelajari hubungan studi yang diteliti. Pengeneralisiran penelitian ini terbatas karena sampel telah ditentukan dari alumni dan siswa suatu institusi. Sebagai sekolah bisnis terus menggabungkan keahlian manajerial dalam kurikulum mereka, penelitian yang akan datang akan mengambil manfaat dari penggunaan sample dari populasi yang beragam.


Langkah yang teliti diadaptasi dalam skala pengembangan dalam semua ukuran, tapi pekerjaan lebih lanjut akan dijamin untuk penyederhanaan yang lebih baik khususnya sejak variabel tersebut nampaknya berkorelasi secara positif. Penelitian yang akan datang harus mengembangkan sebuah skala tunggal manajemen karir yang menggabungkan lebih banyak atau semua elemen dari indikator.



Kesimpulan

Penelitian ini telah memberi sebuah kontribusi terhadap literatur karir dengan mengintegrasikan ide dan konsep yang memfasilitasi kesuksesan dalam mengelola career protean memeriksa hubungan secara empiris. Penulis telah menunjukkan bahwa akuisisi dan penggunaan dari skills yang memelihara self-management, interpersonal management dan environmental learning mungkin meningkakant career management. Temuan dari penulis menerangkan kontribusi dari institusi akademik dalam menyiapkan angkatan kerja masa depan. Penulis mendiskusikan implikasi untuk individu dan organisasi dan kami berharap penelitian ini dapat menstimulasi studi empiris yang akan datang pada area ini.


Critical Review

Secara keseluruhan, jurnal ini sudah cukup lengkap dan memenuhi standar penulisan. Namun, ada beberapa hal yang menjadi critical review antara lain penulis tidak menuliskan secara eksplisit model penelitian yang digunakan meskipun model penelitian telah tercermin dari hipotesis yang ada (secara implisit). Meskipun tidak ada keharusan untuk mencantumkan model penelitian secara eksplisit, namun akan lebih baik bila model penelitian dicantumkan juga sehingga memudahkan pembaca dalam memahami isi jurnal/penelitian.


Selain itu, dalam melakukan proses survey penulis menggunakan metode dengan mengirimkan kuesioner kepada responden. Hal ini dapat memberikan hasil yang bias diantaranya karena adanya kemungkinan diganggu orang lain, kemungkinan responden memberikan jawaban yang tidak sesuai, dan kurangnya kontrol.


Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam