DPD HTI Kabupaten Bogor Sambangi DPRD Kabupaten ...
Jun 19, 2013 - Senin (17/6) kemarin, HTI Kabupaten Bogor nasehati anggota Dewan di Bogor agar ikut menolak rencana kenaikan harga BBM subsidi.
Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam
Rabu, 05 November 2014
Alasan Harga BBM Dinaikkan
Alasan Mengapa Menaikkan Harga BBM
BBM
hizbut-tahrir.or.id/tag/bbm/Senin (17/6) kemarin, HTI Kabupaten Bogor nasehati anggota Dewan di Bogor agar ikut menolak rencana kenaikan harga BBM subsidi. DPD 2 Hizbut Tahrir ...Arim: “Bohong! Penaikkan BBM untuk Kesehatan APBN ...
hizbut-tahrir.or.id/.../arim-bohong-penaikkan-bbm-un...Sep 1, 2014 - Ketua Lajnah Maslahiyah DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Arim Nasim menyatakan alasan kenaikan BBM untuk menyehatkan APBN ...Drama Politik BBM
hizbut-tahrir.or.id/2013/05/12/drama-politik-bbm/May 12, 2013 - Drama politik terkait BBM mungkin akan terjadi lagi tahun 2013 dengan episode yang berbeda, Kalau tahun 2012 Topiknya adalah BBM naik ...Tiga Pihak Inilah yang Senang Bila BBM Naik…
hizbut-tahrir.or.id/.../tiga-pihak-inilah-yang-senang-bi...Sep 19, 2014 - Bila presiden terpilih Jokowi jadi menaikkan BBM, menurut peneliti pada Indonesia for Global Justice (IGJ) Salamuddin Daeng ada tiga pihak ...Banyak Solusi Selain Menaikkan BBM !
hizbut-tahrir.or.id/.../banyak-solusi-selain-menaikkan-...Mar 26, 2012 - Rencana kenaikan harga BBM itu itu juga sudah dimasukkan dalam RAPBN-P 2012 yang diajukan kepada DPR. Rencana itu menuai banyak ...[VIDEO] FOKUS: Kenaikan BBM untuk Kenaikan Rakyat ...
hizbut-tahrir.or.id/.../video-fokus-kenaikan-bbm-untu...Sep 18, 2014 - [VIDEO] FOKUS: Kenaikan BBM untuk Kenaikan Rakyat? ... Kado Penguasa untuk Rakyat di Tahun Baru 2011: Kenaikan Harga BBM Lewat ...HTI Tolak Kenaikan Harga BBM
hizbut-tahrir.or.id/.../hti-tolak-kenaikan-harga-bbm/Jan 11, 2013 - Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kobar menolak keras rencana penaikan harga atau pembatasan konsumsi BBM oleh pemerintah pada tahun ini.Tolak Kenaikan BBM
hizbut-tahrir.or.id/tag/tolak-kenaikan-bbm/page/3/Setelah DPR memutuskan opsi penundaan kenaikan harga BBM tadi malam, Sabtu 31 Maret 2012 dini hari, jajaran pimpinan HTI Bengkulu mengunjungi ...APBN Lebih Terbebani Utang, Bukan Subsidi BBM
hizbut-tahrir.or.id/.../apbn-lebih-terbebani-utang-buka...Jun 17, 2013 - Sementara itu, besaran subdidi BBM di APBN 2013 hanya 193,8 triliun rupiah atau sekitar 12 persen dari total APBN. Dalam APBN-P 2013 ...Menipu Rakyat Lewat Wacana Subsidi BBM
hizbut-tahrir.or.id/.../menipu-rakyat-lewat-wacana-sub...May 1, 2012 - Subsidi baik BBM maupun subsidi lainnya sering dirasakan memberatkan Pemerintah dan menjadi beban APBN karena menyedot alokasi ...Bank Dunia: Presiden Baru Harus Naikkan Harga BBM ...
hizbut-tahrir.or.id/.../bank-dunia-presiden-baru-harus-..Mar 19, 2014 - Terus menerus, Bank Dunia menekan pemerintah Indonesia agar bisa mengurangi subsidi energi, khususnya subsidi BBM. Bank Dunia ...Keterangan Pers: Krisis BBM di Yaman Negeri Kaya ...
hizbut-tahrir.or.id/.../keterangan-pers-krisis-bbm-di-ya...May 24, 2014 - Yaman didera krisis BBM dimana pemeritah bertekad menaikkan harga BBM. Pemerintah merekayasa krisis-krisis dalam masalah BBM untuk ...Bila BBM Naik, Bisa Terjadi Revolusi Sosial
hizbut-tahrir.or.id/.../bila-bbm-naik-bisa-terjadi-revolu...Jun 15, 2013 - Di hadapan sekitar 1800 peserta aksi, Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan bila rezim SBY jadi menaikkan lagi harga BBM maka tidak menutup ...Kenaikan BBM, Asing Untung Rakyat Buntung
hizbut-tahrir.or.id/.../kenaikan-bbm-asing-untung-rak...Jun 24, 2013 - Dalam paparannya, beliau menyampaikan bahwa sejak awal PKS menolak kebijakan kenaikan BBM ini. Beliau juga mendukung sikap HTI ...Tidak Sesuai Fakta, Klaim Pemerintah Dampak Kenaikan ...
hizbut-tahrir.or.id/.../tidak-sesuai-fakta-klaim-pemerin...May 25, 2013 - Pernyataan pemerintah yang menyebutkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) memang memukul daya beli masyarakat tetapi hanya ...BBM Naik Diduga karena SBY Takut APEC dan WTO ...
hizbut-tahrir.or.id/.../bbm-naik-diduga-karena-sby-tak...Jun 15, 2013 - Rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), menurut aktivis Institute for Global Justice (IGJ) Salamuddin Daeng, ...“BBM Naik Lagi? Rakyat Semakin Susah, Siapa Yang ...
hizbut-tahrir.or.id/.../bbm-naik-lagi-rakyat-semakin-su...Oct 15, 2014 - HTI Press. Palembang. Sabtu, 27/09/2014. “Maafkanlah para orang tua kalau (tak mampu beli susu) BBM naik lagi (susu tak terbeli) ... Kenaikan BBM
hizbut-tahrir.or.id/tag/kenaikan-bbm/Mendekati kenaikan harga BBM yang mulai berlaku pada 1 April, RSUD Syamsudin SH Kota Sukabumi memberlakukan tarif layanan kesehatan baru.[VIDEO] Tanggapan Hendri Saparini, Ph.D. (Ekonom ...
hizbut-tahrir.or.id/.../video-tanggapan-hendri-saparini...Jun 16, 2013 - [VIDEO] Tanggapan Hendri Saparini, Ph.D. (Ekonom Indonesia) Terkait Kenaikan Harga BBM. Print Friendly ...Rencana Kenaikan Harga BBM : Rencana Bebani Rakyat ...
hizbut-tahrir.or.id/.../rencana-kenaikan-harga-bbm-re...Apr 17, 2013 - [Al-Islam edisi 653] Pemerintah berencana menerapkan dua harga berbeda untuk BBM jenis premium. Harga Rp 4.500/liter hanya untuk motor ...
Pengaruh Buruk Budaya Kecantikan Barat
Pengaruh Buruk Budaya Kecantikan Barat
BAB VI
PENGARUH MITOS KECANTIKAN TERHADAP
MUSLIMAH
Amat
disayangkan bahwa ada sejumlah kalangan Muslimah –baik yang tinggal di Barat
maupun di dunia Islam– yang terpengaruh dengan mitos kecantikan ini. Bagi kaum
Muslimah yang tinggal di negara-negara Barat, barangkali mudah dipahami mengapa
mereka terpengaruh mitos tersebut, yakni karena setiap hari mereka “dicekoki”
dengan konsep citra perempuan dan harapan-harapan yang tidak wajar itu
sebagaimana perempuan-perempuan non Muslim yang ada di masyarakat. Tidak
mengherankan pula, jika mitos kecantikan tersebut juga mempengaruhi sebagian
kalangan Muslimah yang tinggal di dunia Islam, karena budaya Barat itu juga
diekspor ke negeri-negeri Muslim oleh berbagai media, industri hiburan, dan
industri periklanan. Majalah-majalah yang berisi trend gaya hidup Barat seperti
Vogue, Cosmopolitan, dan Marie Clare juga mengisi rak-rak penjual koran dan
toko-toko buku yang bertebaran di Pakistan, Bangladesh, Turki, jazirah Arab,
dan Asia Tenggara. Salon-salon kecantikan yang menjajakan citra perempuan Barat
semakin hari semakin banyak bermunculan di jalan-jalan kota Karachi, Lahore,
Dhaka, Abu Dhabi, Kuala Lumpur, dan sebagainya. Pada bulan Oktober 2002 lalu,
BBC menyiarkan suatu kisah mengenai Afghanistan dengan tajuk “Afghan Lipstick
Liberation”. Acara tersebut membahas suatu proyek yang pada saat itu tengah
berjalan, yang didanai oleh Amerika Serikat untuk “kepentingan” kaum perempuan
Afghanistan. Proyek tersebut berupa sebuah sekolah kecantikan ala Barat yang
dibangun di Kabul di bawah pengawasan Kementerian Urusan Perempuan Afghanistan,
dan harus dapat diselesaikan pada bulan Januari 2003. Proyek tersebut bertujuan
untuk melatih perempuan Afghanistan agar dapat memotong rambut dan menjalankan
“bisnis kecantikan” dengan perlengkapan kosmetika bantuan perusahaan-perusahaan
kosmetika terkemuka seperti Revlon dan MAC. Jelas bahwa proyek tersebut
bertujuan untuk menanamkan pengaruh di benak para Muslimah Afghanistan agar
mempunyai keinginan meniru penampilan perempuan-perempuan Barat.
Sekali lagi,
amat disayangkan bahwa dari realitas yang terjadi di masyarakat ini, ternyata
ada di antara kaum Muslimah yang mengadopsi atau mencita-citakan citra
perempuan Barat yang berlandaskan jati diri peradaban Barat dan pandangan hidup
sekulerisme tersebut. Konsep Barat mengenai ukuran-ukuran kecantikan telah
menjadi kriteria bagi para Muslimah itu untuk menilai penampilan mereka, antara
lain tinggi semampai, bertubuh ramping, berkulit putih, dan berpenampilan muda.
Ketika hendak menikah, seorang laki-laki atau kedua orangtuanya tidak jarang mencari
seorang gadis yang memenuhi kriteria-kriteria di atas, tanpa memikirkan lagi
sejauh mana keteguhannya dalam beragama. Para Muslimah banyak yang memiliki
anggapan bahwa di masyarakat telah berkembang luas pandangan “semakin putih
kulitnya, maka semakin cantik seorang perempuan”. Pandangan tersebut telah
mendorong para Muslimah untuk mendapatkan penampilan seperti itu, sehingga
banyak di antara mereka yang menggunakan berbagai cara untuk memutihkan kulit
mereka, termasuk dengan menggunakan obat-obatan pemutih, tanpa menghiraukan
lagi konsekuensi yang mungkin timbul. Salah satu jenis obat pemutih itu disebut
Jolen telah diidentifikasi sebagai penyebab kanker. Selain itu, operasi plastik
dan kasus anorexia semakin banyak terjadi di kalangan para Muslimah, baik yang
tinggal di Barat maupun di negeri-negeri Muslim. Padahal di masa-masa
sebelumnya, operasi kosmetik dan kasus anorexia itu merupakan perkara yang
asing bagi umat Islam dan kaum Muslimah.
Bahkan dunia
perfilman India, Bollywood, yang baru-baru ini dipopulerkan di Barat dan
disebut-sebut banyak kalangan mempunyai konsep penampilan perempuan serta model
busana yang berbeda, dalam kenyataannya ternyata mengadopsi konsep-konsep
sebagaimana yang diyakini oleh masyarakat Barat. Majalah-majalah kecantikan dan
gaya hidup yang diproduksi oleh masyarakat Asia, seperti Asian Bride, Asian
Woman, dan Libas, juga membahas konsep-konsep yang serupa, seperti bahwa
perempuan bebas menentukan bentuk penampilan serta perilaku yang mereka
kehendaki, dan juga memuat gagasan yang sama tentang kriteria kecantikan
perempuan. Harapan-harapan yang dikembangkan dalam majalah-majalah tersebut
sama persis dengan penampilan perempuan Barat. Aktris India, Ashwariya Rai,
yang sangat terkenal di Bollywood saat ini, banyak dipuja gadis-gadis Asia
karena kulitnya yang putih dan matanya yang biru. Memang semakin banyak aktris
India terkemuka yang melakukan operasi kosmetik dengan harapan agar mempunyai
penampilan seperti Karishma dan Rekha. Demikianlah, di dunia perfilman
Bollywood, kaum perempuan menentukan segala sesuatu berdasarkan konsep
kebebasan. Sebagaimana jati diri perempuan Barat, akal pikiran dan hawa
nafsunya menjadi standar bagi mereka untuk menentukan bentuk penampilannya,
busana yang mereka pakai di tengah masyarakat, serta model pergaulan yang
mereka jalin. Bagi orang-orang yang membanggakan diri karena berpandangan bahwa
citra perempuan di Bollywood jauh lebih “sopan” daripada kaum perempuan di
Hollywood, barangkali perlu kembali meneliti fakta bahwa shahwar kamiz
(saling berpelukan), pakaian tradisional (sari) yang mempertontonkan
aurat, serta rok-rok pendek yang dipakai aktris-aktris India itu tidak akan
dilewatkan oleh kebanyakan majalah fesyen Barat.
Baru-baru
ini, BBC menyiarkan sebuah tayangan dokumenter berjudul “Faith in Fashion”,
yang secara khusus memperbincangkan sebuah konsep tentang bagaimana seorang
perempuan yang beragama Islam tetapi tetap bisa menjadi bagian komunitas fesyen
yang dibentuk masyarakat Barat, serta berupaya mengadopsi model pakaian Barat
yang “Islami” – entah bagaimana bentuknya.
Namun
demikian, yang perlu dicermati lebih jauh adalah tujuan yang melatarbelakangi
tindakan orang-orang Barat dalam mempengaruhi kaum Muslimah yang tinggal di
Barat agar mau mengadopsi konsep kecantikan, serta tujuan mereka mengekspor
citra tersebut ke negeri-negeri kaum Muslim. Tujuan mereka mempengaruhi kaum
Muslimah yang tinggal di Barat adalah untuk menyatukan kaum Muslim –khususnya
para Muslimah– dengan masyarakat Barat, sedemikian rupa sehingga kaum Muslimah
kehilangan jati diri ke-Islamannya, serta lupa dengan tanggung jawab dan
kewajiban-kewajibannya selaku Muslimah. Bagi kalangan Muslimah yang tinggal di
negeri-negeri Muslim, konsep kecantikan itu disebarluaskan untuk mengikis
pemikiran dan perilaku Islam dalam diri para Muslimah, serta menanamkan jati
diri sekuler Barat kepada mereka. Penyebarluasan konsep kecantikan ini
merupakan salah satu bentuk kolonialisme budaya (ghazw ats-tsaqafi) yang
dilancarkan kaum kafir Barat. Satu contoh yang sangat jelas adalah pembangunan
sekolah kecantikan di Kabul seperti yang pernah disampaikan di depan. Di tengah
sekian banyak masalah yang dihadapi kaum perempuan di Afghanistan, seperti
bahaya kelaparan, serta langkanya air bersih dan obat-obatan, orang-orang Barat
justru menetapkan bahwa masalah yang harus diketahui kaum Muslimah adalah
bagaimana cara mempercantik diri mereka!! Pada dasarnya, semua upaya tersebut
dilakukan negara-negara Barat untuk mencegah kembalinya Islam sebagai pandangan
hidup kaum Muslim, serta mempertahankan pandangan hidup sekuler Barat beserta
budaya dan aturan-aturannya agar terus berkuasa di seluruh permukaan bumi.
Upaya tersebut juga dimaksudkan untuk melindungi kepentingan-kepentingan
material masyarakat Barat dan mempertahankan hegemoni mereka.
Demikianlah
akibatnya jika kaum Muslimah bercita-cita untuk mendapatkan citra kecantikan
sebagaimana yang ditetapkan oleh Barat serta mengadopsi jati diri orang-orang
Barat. Inilah agenda Barat yang belum banyak diketahui kaum Muslim.
Minggu, 02 November 2014
Sebab Munculnya Mitos Kecantikan Barat
Sebab Munculnya Mitos Kecantikan Barat
BAB V
MUNCULNYA MITOS KECANTIKAN
Dari
penjelasan sebelumnya telah tergambar dengan jelas keadaan kaum perempuan yang
mengadopsi jati diri sekuler Barat. Mereka sesungguhnya tidak benar-benar bebas
menentukan citra diri sesuai keinginannya, tetapi sebaliknya mereka mendapatkan
tekanan untuk hidup sesuai dengan harapan-harapan tertentu; harapan-harapan
yang pada hakikatnya hanya merupakan fantasi belaka. Oleh sebab itu, upaya
mempercantik diri tidak akan dapat mendatangkan kehormatan bagi perempuan atau
membuatnya berharga di tengah-tengah masyarakat.
Andaikata
memang benar demikian adanya, maka kita perlu bertanya pada diri kita. Mengapa
mitos kecantikan ini terus berkembang dan tersebar luas di kalangan perempuan,
baik yang tinggal di sekitar dunia Barat maupun yang tinggal jauh dari dunia
Barat? Mengapa semakin banyak perempuan yang tidak menyadari bahwa mereka terus
diperdayakan setiap hari? Mengapa citra perempuan Barat yang berdasarkan jati
diri dan pandangan hidup yang sekuler itu dijadikan model yang harus ditiru
seluruh kaum perempuan di dunia?
Sebagaimana
terhadap masalah-masalah lainnya, pandangan hidup kapitalisme buatan manusia
menilai persoalan kecantikan ini dari sisi uang dan manfaat. Industri alat-alat
kecantikan, kosmetika, fesyen, dan bisnis operasi plastik di dunia Barat
didukung oleh perusahaan-perusahaan besar yang memiliki aset jutaan dollar.
Demikian pula industri majalah, yang mengiklankan produk-produk tersebut dan
mendongkrak citra penampilan perempuan.
Oleh karena
itu, segala macam upaya mempercantik diri yang dilakukan kaum perempuan harus
tetap dipertahankan agar perusahaan-perusahaan tersebut terus mendapatkan
keuntungannya. Berbagai citra dan cita-cita kaum perempuan yang tidak wajar
harus terus dipelihara, semata-mata dengan tujuan agar pendapatan
perusahaan-perusahaan itu terus bertambah, seiring dengan semakin besarnya dana
yang dikeluarkan kaum perempuan untuk mendapatkan bentuk penampilan fisik yang
diinginkan, yang terus berubah dari waktu ke waktu. Naomi Wolf menyatakan dalam
bukunya “The Beauty Myth”, “Perekonomian yang bergantung pada perbudakan
harus mampu menampilkan citra budak yang dapat “melegitimasi” lembaga
perbudakan itu sendiri.” Mitos kecantikan semacam itu harus disembunyikan
sejauh mungkin dari pandangan publik agar dollar dan poundsterling yang
diharapkan terus mengalir masuk. Dengan demikian, citra perempuan Barat terus
dijadikan idola perempuan seluruh dunia untuk memuaskan nafsu sejumlah pimpinan
dan pemilik perusahaan yang serakah. Seorang pakar ekonomi, John Kenneth
Galbraith memberikan komentar tentang upaya mempercantik diri sebagai berikut,
“Kita dipaksa oleh ilmu sosiologi populer, berbagai majalah, dan kisah-kisah
fiksi untuk menyembunyikan fakta bahwa kaum perempun dalam kedudukannya sebagai
konsumen memegang peranan yang sangat penting dalam perkembangan masyarakat
industri kita … Perilaku yang penting bagi perkembangan ekonomi itu telah
berubah menjadi sebuah nilai yang utama di tengah-tengah masyarakat.”
Sebagaimana
dijelaskan di muka, industri kecantikan di Inggris berhasil meraup pendapatan
hingga 8,9 miliar poundsterling setiap tahunnya. Industri fesyen dunia mampu
menghasilkan pemasukan total sebesar 1.500 miliar dollar AS setahunnya;
sedangkan industri produk-produk diet di AS dapat meraup 74 miliar dollar
setiap tahunnya (Time Magazine, 1988). Sebuah bisnis bedah kosmetik di
AS dapat dengan sangat mudah meraup pendapatan 1 juta dollar AS setahun. Ketika
kontestan dari India berhasil memenangkan kontes kecantikan Miss World selama
dua tahun berturut-turut, seorang anggota organisasi perempuan di India
berkomentar bahwa hal itu bukan disebabkan karena kecantikan Miss India yang
luar biasa, tetapi lebih disebabkan karena perusahaan-perusahaan kosmetika
internasional ingin menembus pasar India.
Selain dari itu,
media televisi dan majalah juga berhasil meraup pendapatan jutaan dollar dari
iklan produk-produk perusahaan kecantikan tersebut, dengan jalan menampilkan
citra “Wanita Cantik” yang semestinya menggunakan atau memakai produk-produk
mereka. Berbagai industri kosmetika dan alat-alat perawatan tubuh mengeluarkan
dana untuk kepentingan iklan yang jumlahnya lebih besar daripada jenis-jenis
industri lainnya. Pernah terjadi, satu edisi majalah kecantikan Harper’s and
Queen berhasil meraih pendapatan senilai 100.000 poundsterling dari iklan
perusahaan-perusahaan kosmetika. Tidak mengherankan bila kemudian ada seorang
penulis majalah “Cover Up” yang mengatakan, “Para editor (bagian) kosmetik
sangat jarang dapat menulis fakta tentang kosmetika secara bebas,” karena
para pemasang iklan membutuhkan suatu promosi dari pihak editor sebagai suatu
prasyarat pemasangan iklan.
Setelah
memahami permasalahan ini, akankah kaum perempuan yang berpikiran maju mau
menelan mentah-mentah berbagai kebohongan dan tipu muslihat yang melingkupi
citra perempuan Barat, atau sebaliknya mereka harus berpikir secara hati-hati
mengenai jati diri dan citra yang tepat untuk dijadikan pegangan bagi mereka
dalam mengarungi kehidupan?
Sabtu, 01 November 2014
Mitos Martabat Perempuan Barat
Mitos Martabat Perempuan Barat
BAB IV
MEMPERCANTIK DIRI; MENINGKATKAN
MARTABAT PEREMPUAN DI MASYARAKAT?
Pemahaman
yang sering dijadikan pegangan oleh para perempuan yang tinggal di luar
masyarakat Barat dan bercita-cita memiliki citra seperti perempuan Barat,
adalah bahwa perempuan Barat memiliki martabat yang tinggi dan dihormati oleh
masyarakat di mana mereka tinggal. Bayangan semacam itu memang diciptakan oleh
mass-media Barat dan industri hiburan yang diekspor ke negeri-negeri lain.
Mereka yang tinggal di Barat, yang hidup di bawah sistem kapitalis sekuler,
akan memahami bahwa pernyataan itu hanya sebuah fantasi belaka.
Kalau kita
cermati lebih jauh masalah yang timbul akibat perhatian perempuan Barat yang
berlebihan pada aspek kecantikan dan penampilan pada saat mereka menilai
dirinya sendiri, maka kita akan melihat bahwa meskipun banyak yang menilai diri
mereka dari segi kapasitas kecerdasan dan kemampuannya, namun sesungguhnya
banyak di antara mereka yang merasa tidak lengkap bila tidak mengukurnya dari
sisi kecantikan dan penampilan menurut standar yang ada di masyarakat Barat.
Germaine Greer, seorang feminis dan penulis Barat, mengatakan dalam bukunya,
“The Whole Woman”, “Setiap perempuan tahu bahwa sekalipun mereka memperoleh
berbagai prestasi, tetapi bila tidak cantik berarti mereka telah melakukan
suatu kekeliruan.”
Seperti telah
dijelaskan sebelumnya, dalam sebuah penelitian yang diadakan oleh Fakultas
Kedokteran Universitas Cincinnati, 33.000 perempuan AS mengatakan kepada para
peneliti bahwa mereka lebih memilih turun berat badannya 10 – 15 pon daripada
memperoleh prestasi lain. Penelitian “Bread for Life” menemukan fakta
bahwa dari 900 perempuan berusia 18 – 24 tahun yang disurvei, 55% di antaranya
menilai penampilan sebagai hal yang paling menarik dari seorang perempuan, dan
hanya 1% yang menilai perempuan dari tingkat kecerdasannya. Dengan demikian,
jelas banyak perempuan yang menjadikan konsep-konsep Barat sebagai jati dirinya
beranggapan bahwa penampilannya lebih berharga daripada pemikiran, kecerdasan,
kemampuan, serta kepribadiannya, meskipun boleh jadi mereka berusaha
menutup-nutupi hal ini dari diri mereka.
Lantas,
bagaimana masyarakat Barat menilai seorang perempuan? Seorang penulis Barat,
Camille Paglia, menulis dalam sebuah artikel ilmiah berjudul ‘Sexual
Harassment: Confrontation and Decisions’, “Budaya Barat memiliki mata yang
liar. Mata laki-laki suka ‘berburu’ dan ‘mengamati’; anak laki-laki suka
‘ngeceng’ dan ‘bersuit-suit’ dari mobil-mobil mereka, beraksi seperti
berandalan terhadap gadis-gadis yang sedang berjalan-jalan mencuci mata;
laki-laki juga sering ‘melolong seperti serigala’ dan ‘berkotek seperti ayam’.
Di mana pun berada, perempuan yang cantik selalu dipelototi dan dilecehkan. Dia
menjadi simbol utama syahwat manusia.”
Bagi
orang-orang yang mampu melihat masyarakat Barat lebih dalam, mereka akan
mengetahui bahwa perempuan Barat lebih banyak dinilai dari tingkat
kecantikannya daripada dari sisi kecerdasannya. Ini terjadi di semua tingkatan
masyarakat. Kebanyakan laki-laki yang memiliki mentalitas sekuler Barat dan
terpengaruh dengan mitos kecantikan juga lebih sering menjalin hubungan dengan
perempuan berdasarkan pertimbangan penampilan mereka, bukan atas dasar
pertimbangan kecerdasan mereka. Mereka selalu mencari perempuan yang berkulit
terang, tinggi, dan ramping, sebagai ‘piala’ yang akan menemani mereka
berjalan-jalan, sekedar untuk memperlihatkan ‘hasil tangkapan’ atau ‘hadiah’
yang berhasil mereka dapatkan kepada teman-teman dan keluarga mereka. Oleh
karena itu tidaklah mengherankan bila perempuan Barat selalu merasa gelisah
dengan penampilannya. Mereka merasa bahwa penampilannya adalah kunci untuk
menuju pernikahan atau satu-satunya perkara yang dapat mencegah suami atau
teman-teman dekatnya berselingkuh dengan perempuan lain yang lebih cantik,
lebih ramping, lebih tinggi, dan lebih putih kulitnya.
Kenyataan ini
dapat dijelaskan secara sederhana. Konsep kebebasan yang dianut oleh
perempuan-perempuan dengan jati diri sekuler Barat –yang merasa bahwa mereka
berhak berbusana dan berpenampilan sebagaimana yang mereka inginkan– juga
mengendap di dalam benak kaum laki-laki yang mengadopsi jati diri sekuler
Barat. Kaum laki-laki sekuler itu menganggap bahwa mereka bebas untuk melihat
dan memperlakukan seorang perempuan sekehendak hatinya, karena mereka
menjadikan akal dan nafsu mereka sebagai standar perilaku dalam kehidupan.
Inilah esensi konsep kebebasan yang menjadi landasan jati diri masyarakat
Barat.
Ketika sampai
pada permasalahan bagaimana kaum perempuan dipekerjakan dan dipromosikan, kita
bisa melihat bahwa penampilan dan kecantikan merupakan perkara yang semakin
penting dalam semua bidang pekerjaan, bukan saja dalam bidang industri
periklanan, kecantikan, dan hiburan. Cuplikan kasus yang terjadi di dunia Barat
berikut ini sebenarnya bisa menjadi bukti yang cukup kuat bahwa konsep ini
–yaitu penampilan dan kecantikan merupakan faktor yang penting dalam dunia
pekerjaan– merupakan konsep yang dianut baik oleh majikan laki-laki maupun
perempuan di semua sektor, dari dunia bisnis sampai dunia politik, dari profesi
medis hingga dunia hukum.
Di AS, pada
tahun 1975, Catherine McDermott pernah menuntut Xerox Corporation karena tidak
memberikan kesempatan kerja kepadanya atas dasar alasan berat badannya. Pada
dasawarsa yang sama, National Airlines memecat pramugarinya, Ingrid Fee, karena
ia ‘terlalu gemuk’, yaitu memiliki berat badan 4 pon lebih berat daripada batas
yang ditentukan. Pada tahun 1983, di AS juga, seorang karyawan TV, Christine
Craft, menuntut bekas perusahaannya, Metromedia Inc. karena telah memecatnya
atas dasar alasan –menurut atasannya– ‘terlalu tua, sangat tidak menarik,
dan tidak menghargai laki-laki’. Keputusan pengadilan terhadap kasus-kasus
tersebut ternyata memberikan kemenangan kepada pihak perusahaan. Atas kejadian
itu, seorang jurnalis pernah mengatakan, “Ada ribuan Christine Craft lain
yang mengalami nasib serupa … Namun kita diam saja. Siapa yang dapat
mempertahankan daftar hitam ini?” Maskapai penerbangan Dan Air pada tahun
1987 pernah ditentang karena dianggap hanya mempekerjakan perempuan muda yang
cantik sebagai kru penerbangan. Namun maskapai tersebut mempertahankan
pendiriannya dengan alasan bahwa hal itu merupakan pilihan pelanggan. Dengan
kata lain, pelanggan memang menghendaki kru perempuan yang masih muda dan
berpenampilan cantik. Seorang perempuan berusia 54 tahun pernah mengatakan di
lembaga The Sexuality of Organization, bahwa atasannya memberhentikan dia tanpa
peringatan, “Atasannya mengatakan bahwa ia ‘ingin melihat seorang perempuan
yang lebih muda’ agar ‘semangatnya bangkit’.
Bagaimana
masyarakat Barat menilai berbagai karakteristik seorang perempuan juga dapat
dilihat manakala kita mengetahui bahwa satu-satunya bidang ‘pekerjaan’ di mana
seorang perempuan selalu memperoleh penghargaan yang lebih tinggi dari seorang
laki-laki adalah dunia modeling dan prostitusi. Seorang supermodel dapat
memperoleh bayaran sampai 10.000 poundsterling dalam sehari. Jumlah yang sama
baru dapat diperoleh seorang dokter pemula atau seorang guru setelah bekerja 6
bulan.
Perempuan-perempuan
yang berhasil mendapatkan sebuah pekerjaan atau memperoleh promosi karir
seringkali dihadapkan dengan berbagai macam bentuk pelecehan seksual, karena
kaum laki-laki tidak menganggap ia dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik,
tetapi tetap memandangnya semata-mata sebagai suatu objek yang dapat dipermainkan
sesuai dengan keinginan laki-laki. Sebuah penelitian yang diadakan pada tahun
1993 oleh sebuah masyarakat industri mendapatkan bahwa 54% perempuan di Inggris
telah mengalami pelecehan seksual di tempat kerja. Dalam sebuah survei, The
Claremont College Working Papers (2001) menemukan bahwa 70% perempuan yang
bertugas di kesatuan angkatan darat Inggris mengaku telah mengalami sejumlah
pelecehan seksual ketika mereka tengah menjalani masa pendidikan selama 12
bulan. Para responden yang disurvei oleh Equal Opportunity Commission
mengatakan bahwa kebiasaan itu tidak hanya terjadi pada sektor-sektor tertentu
saja, tetapi setiap lapisan masyarakat, baik di lingkungan para manajer,
kesatuan polisi, profesi medis dan hukum, maupun dunia politik. Dalam sebuah studi
yang dilakukan oleh The American Association of University Women pada tahun
1993, ditemukan bahwa 85% mahasiswa perempuan telah mengalami pelecehan
seksual; 25% di antaranya dilakukan oleh karyawan universitas.
Dengan
demikian, telah jelas bahwa kaum perempuan di Barat –pada banyak kasus dan pada
sebagian besar lapisan masyarakat– lebih dinilai berdasarkan penampilannya,
bukan pada tingkat kemampuan dan kecerdasannya. Perempuan di tengah-tengah
masyarakat dianggap oleh banyak kalangan laki-laki hanya sebagai sebuah
komoditas untuk memenuhi nafsu syahwatnya, bukan sebagai pihak yang turut
memberikan kontribusi bagi masyarakat. Bukti yang paling nyata atas pernyataan
ini adalah tingginya wabah pemerkosaan di negara-negara Barat. 1 dari 20
perempuan di Inggris dan Wales pernah diperkosa. 167 perempuan diperkosa setiap
harinya di Inggris dan Wales (data dari British Home Office). Sedangkan di
Amerika Serikat terjadi lebih dari satu kali tindak pemerkosaan terhadap
perempuan dalam setiap menitnya. Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Ms
Magazine pada tahun 1988 terhadap 114 mahasiswa di AS, diperoleh fakta yang
mengejutkan, bahwa 85% laki-laki memberikan jawaban “ya” atas pernyataan bahwa
“Sejumlah perempuan memang berpenampilan dan bertingkah laku seolah-olah mereka
berharap untuk diperkosa.” Kecenderungan yang berbahaya seperti ini dimiliki
oleh kaum laki-laki yang hidup di tengah-tengah masyarakat yang menganut konsep
kebebasan, yaitu bahwa mereka bebas untuk melihat seorang perempuan sekehendak
hatinya. Pikiran ini pula yang berkembang dalam benak para remaja. Pada sebuah
penelitian yang dilakukan UCLA terhadap remaja usia 14 – 18 tahun, diperoleh
hasil bahwa lebih dari 50% remaja laki-laki beranggapan “oke-oke saja” jika
seorang laki-laki memperkosa seorang perempuan yang telanjur membangkitkan
nafsu syahwatnya. Dalam sebuah survei Ms Magazine terhadap para mahasiswa di AS
pada tahun 1988, diperoleh laporan bahwa 1 dari 12 responden pernah memperkosa
atau berusaha memperkosa seorang perempuan sejak berumur 14 tahun. Di Inggris,
remaja-remaja yang sedikitnya berumur 13 tahun telah dimasukkan dalam daftar
pelaku tindak kekerasan seksual setelah melakukan perbuatan-perbuatan yang
tidak senonoh terhadap anak-anak perempuan. Tidak ada istilah lain untuk menggambarkan
masa depan masyarakat seperti itu kecuali kata “mengerikan”.
Demikianlah
kenyataannya, bahwa pada masyarakat Barat, kecantikan tidak menjadikan seorang
perempuan dihormati atau meningkat martabatnya, sehingga membuat kecantikan
menjadi sesuatu yang berharga dalam kehidupan ini. Konsep itu hanya mitos
belaka. Kaum perempuan Barat hanya menjadi objek yang dinilai sebatas kulitnya
saja, bukan pada pemikiran dan kecerdasannya. Allah Swt secara sempurna
menggambarkan kenyataan ini dalam ayat-Nya:
]وَالَّذِينَ
كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ
كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ
يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ
مَاءً حَتَّى إِذَا
جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ
شَيْئًا[
Dan bagi orang-orang kafir, amal-amal mereka adalah
laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang
yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu
apapun. (TQS. an-Nur [24]: 39)
Langganan:
Postingan (Atom)







