Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Senin, 28 Juni 2021

Menjadikan Hukum-Hukum Al-Qur'an Sebagai Aturan Dalam Kehidupan Kita


Tidak selayaknya Al-Qur'an sekadar menjadi hiasan di lisan kita. Hendaknya kita menjadikan hukum-hukum Al-Qur'an sebagai aturan dalam kehidupan kita. 


Sungguh kita akan dihisab di Akhirat tentang Al-Qur'an; apakah kita memberlakukan isinya dalam kehidupan ataukah kita menelantarkannya? 


Kita yakin bahwa esok akan ada hari akhirat, hari pembalasan, hari pertanggungjawaban atas amal amal kita di dunia. 

.

Maka Al-Qur'an lah yang mampu menunjukkan jalan menuju akhirat dengan selamat, Al-Qur'an bagaikan peta perjalanan yang dengan itu kita akan selamat dunia dan akhirat.

.

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat."

(TQS. Al-Baqarah Ayat 214) 


KAMI DENGAR DAN KAMI TAAT 


Begitulah seharusnya sikap seorang muslim ketika ada seruan untuk melaksanakan syariat dan ketika ada larangan untuk meninggalkan apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. 


"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman dan tidak (pula) perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata."

(TQS. al-Ahzâb [33]: 36) 


Baginda Nabi saw. dahulu mengadu kepada Allah SWT: "Tuhanku, sungguh kaumku telah menjadikan al-Qur'an ini sebagai sesuatu yang dicampakkan" (TQS al-Furqan [25]: 30) 


Menurut mufassir terkemuka, Ibnu Katsir, al-Qur'an dicampakkan oleh seseorang saat tidak diimani, jarang dibaca, tak direnungi maknanya, tak diamalkan isinya, tak dijalankan perintah dan larangannya dan tak dipedomani hukum-hukumnya (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-'Azhim, 6/108). 


Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 

"Seorang hakim yang menghukumi secara tidak benar padahal ia mengetahui mana yang benar, maka ia di NERAKA.

Seorang hakim yang bodoh lalu menghancurkan hak-hak manusia, maka ia di NERAKA.

Dan seorang hakim yang menghukumi/memutuskan dengan benar, maka ia masuk SURGA."

(HR. At-Tirmidzi - Shahih) 


Hukum-hukum Al-Qur'an menjamin keberkahan dan kebaikan hidup bagi manusia dunia dan akhirat. 


HUKUM JAHILIAH ADALAH UJIAN BAGI ORANG-ORANG YANG YAKIN KEPADA HUKUM ALLAH 


"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?" (TQS. Al-Maidah :50) 


Al-Qur'an dan Sunnah yang merupakan sumber syariat Islam, keberadaannya adalah bentuk dari kasih sayang Allâh kepada hamba-Nya. Menerapkan dan melaksanakan syariat Islam akan melahirkan kebaikan dan keberkahan. Dan sebaliknya meninggalkan syariat Islam maka akan menuai kerusakan dan kenestapaan. 


Adalah sudah menjadi ketetapan dari Allah SWT bahwa pada masa tertentu umat Islam tidak hidup dalam dekapan syariat Islam yang mendamaikan, menentramkan dan mensejahterakan. 


Saat ini adalah masa itu, umat Islam seolah tak lagi mendapatkan kasih sayang Allâh dan pembelaan dari Allâh. Tidaklah demikian apa yang harus kita pahami. Akan tetapi Allâh hendak mempersiapkan umat Islam untuk kembali mendapatkan bukti kasih sayang dan pembelaan dari Allâh secara riil. Karena Al-Qur'an dan Sunnah adalah bukti abadi kasih sayang Allâh SWT kepada umat Islam. Namun pilihan untuk tetap dalam kasih sayang dan pembelaan dari Allâh secara riil telah terampas dengan sadis pada tragedi 1924 dihapuskan institusi Khilafah yang merupakan warisan Rasulullah Saw. 


Saat ini umat hidup di bawah hukum  "jahiliah" hampir satu abad, hidup dalam hukum jahiliyah memang tidak nyaman bagi umat Islam. Kondisi terintimidasi, persekusi, aniaya, fitnah hingga harus menerima konsekuensi terusir dan terbunuh adalah gambaran nyata umat saat ini. 


Apakah kondisi ini merupakan ketidakpedulian Allâh SWT kepada umat ini, atau kasih sayang Allâh telah dicabut atas umat ini. Tentu tidaklah demikian karena sifat kasih sayang Allâh tidak berkurang dari awal umat terbaik ini dilahirkan. 


Lantas kenapa ini terjadi? Karena ini adalah kesalahan kita telah meninggalkan Al-Qur'an dan Sunnah yang sebenarnya membuat umat ini mulia, hidup dalam kedamaian, ketentraman, kesejahteraan dan keadilan. Di situlah lantas Allâh SWT bertanya kepada kita sebagai umat, "Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin? "

Maknanya tentu tidak ada hukum di dunia ini yang lebih baik dari pada hukum Allâh SWT. 


Maka sesungguhnya sekali-kali Allâh SWT tidak meninggalkan kita tapi kitalah yang meninggalkan Allâh. Maka tetap ber-azzam-lah kita bahwa Islam adalah agama sempurna yang harus diterapkan dan pastikan bahwa diri kita ada di dalam barisan ini. 


Adapun kedzaliman yang terjadi terhadap umat ini, terhadap ulamanya, terhadap da'i-nya dan terhadap keturunan manusia mulia Baginda Rasulullah Saw. adalah bentuk ujian yang harus dihadapi dengan kesabaran dan kecerdasan. 


Hukum jahiliyah selamanya tak akan pernah memberikan keadilan terhadap umat ini kecuali hanya kepada penguasa yang membuatnya.

Wallahua'lam bish-showab. 

(dari berbagai sumber) 


Senin, 17 Mei 2021

Makar Zionis Yahudi Internasional



PASAL KEDUA: KENDALA KEJAYAAN

Dalam pasal ini terdapat dua pembahasan yaitu:
Pembahasan pertama: Kendala kejayaan umat dari luar yang meliputi:
1. Makar Yahudi internasional
2. Makar kaum Salibis internasional
3. Serangan pemikiran dan sistem kufur

Pembahasan kedua: Kendala kejayaan umat dari dalam yang meliputi:
1. Tidak menerapkan Syariat Islam keseluruhan dalam wujud Negara Khilafah Islamiyah
2. Cerai berai dalam barisan umat Islam karena negara-negara kebangsaan nasionalisme
3. Lenyapnya kepemimpinan yang bijak dalam wujud Negara Khilafah Islamiyah
4. Ketertinggalan umat Islam dalam berbagi bidang kehidupan karena tiadanya penerapan seluruh sistem Islam oleh Negara Khilafah Islamiyah
5. Kendala-kendala (internal) yang lain akibat tidak terapnya sistem Islam dengan Negara Khilafah Islamiyah

PENDAHULUAN

Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu. » (QS. Al-Ahzaab:18)

« Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) Rasul-Rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah.” (QS. Al-An’aam:34)

Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (QS. Yusuf:21)


PEMBAHASAN PERTAMA: KENDALA EKSTERNAL KEJAYAAN UMAT

PENGANTAR

Orang yang mencermati sejarah sejak Islam dinyatakan di kota Makkah, dan berdiri Negara Islam sampai sekarang tiadanya Negara Khilafah Islam, maka akan mengetahui sejauh mana upaya konsisten untuk melenyapkan, menghentikan laju dan upaya memusnahkan Islam dari muka bumi.

Kaum Zionis [Zionis adalah sebuah aliran agama yang menjajah dan bersifat radikal yang dianut kalangan Yahudi ekstrem. Kata Zionis terambil dari nama sebuah gunung di salah satu pegunungan Palestina yang terletak di utara Quds. Lihat Mohammad Sayyid Aththanthawi, Banuu Israail filkitaab was-Sunnha hal.15] dan Salibis di masa modern ini menggunakan beraneka perlawanan dan makar yang berlipat ganda ukurannya daripada peperangan yang mereka lancarkan sejak abad-abad lalu.

Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri.” (QS. AlBaqarah:109)

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (QS. Al-Baqarah: 217)



PERTAMA: MAKAR YAHUDI INTERNASIONAL

[Ada beberapa pendapat , mengapa mereka dinamakan dengan nama Yahudi, yaitu:
1. Ketika mereka bertaubat dan tidak menyembah sapi lagi. Mereka berkata: ”inna hudnaa ilaika”, artinya kami bertaubat dan kembali. Maka kalimat Yahudi berasal dari kata haada yang artinya bertaubat dan kembali.
2. Karena mereka yatahawwadun artinya bergerak ketika membaca kitab taurat.
3. Dinisbatkan kepada putera keempat dari Nabi Ya’qub yang bernama Yahudza. Lihat Mohamad Sayyid Thanthawi, Banuu Israail filkitab was-Sunnah hal.15]

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS. Al-Maidah:82)

”Hal itu tidak lain karena kekafiran Yahudi adalah kekafiran yang ingkar dan melawan, menyelewengkan kebenaran, menghina manusia dan mencela ahli ilmu. Karena inilah, mereka banyak membunuh para Nabi. Bahkan bukan hanya sekali mereka bermaksud membunuh Rasulullah Saw.
Mereka pernah berusaha meracun dan menyihir beliau. Mereka juga bersekongkol dengan kaum musyrikin yang juga bermusuhan dengan Islam. Mereka semua layak mendapat laknat Allah yang terus menerus sampai hari kiamat. [Tafsir Ibnu Katsir, jilid 2 hal.86]

”Madzhab Yahudi yaitu bahwa wajib menyampaikan kejahatan kepada orang yang bertentangan agama (jalan hidup) dengan mereka dengan segala cara dan jalan. Jika mereka dapat melakukannya dengan membunuh, maka mereka membunuh. Jika tidak dapat, maka mereka merampas harta atau mencurinya atau dengan jenis makar, tipuan dan rekayasa lainnya.” [Fakhruddin Arrazi, Mafatihul Ghaib jilid 6 hal.111-112]

Kaum Yahudi itulah yang menyimpan kemunafikan di kota Madinah dan memperluasnya dengan sarana-sarana makar kepada Islam dan kaum Muslimin. Mereka itulah yang menghasut kaum musyrikin untuk bersedia berkonspirasi dengan mereka. Kaum Yahudi saling bekerjasama dengan kaum musyrikin untuk memerangi kaum Muslimin.

Mereka juga menebarkan isu-isu, kabar bohong dan makar dalam barisan umat Islam. Mereka juga berperan menyebarkan kekacauan, keraguan serta penyimpangan seputar akidah dan kepemimpinan Negara Islam. Kesemua hal itu terjadi sebelum mereka mengarahkan wajah-wajah mereka dalam perang nyata dan terang-terangan.

Mereka mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’:51)

Mereka bergerak membuat makar kepada Islam melalui hembusan kabar bohong yang dilancarkan ke dalam kitab Taurat mereka. Tidak ada kitab yang selamat dari rekayasa berita bohong mereka kecuali hanya kitabullah Al-Qur’an yang kemurniannya dijamin Allah.

Yahudi di balik kesombongannya di masa Khilafah terakhir (Utsmani), berada di balik kudeta yang dimulai dengan makar penggantian Syariat Islam dari perundangan, dan mengganti undang-undang pada masa Sultan Abdul Hamid, lalu penghapusan Negara Khilafah Islam secara total dengan pelaksana Kamal Attaturk seorang Yahudi.

Sumber: Buku Memenuhi Kewajiban Umat Meraih Kejayaan

Sabtu, 15 Mei 2021

Serangan Militer Barat

 



4.    Konflik Militer

Kini kita membahas bentuk terakhir dari pertarungan antar peradaban, yaitu konflik militer, yang disebut sebagian kalangan kaum Muslimin dengan istilah jihad. Ini merupakan materi bahasan yang sangat luas. Namun yang menjadi perhatian kita saat ini adalah membuktikan keniscayaan konflik militer, khususnya dalam peradaban Islam. Karena, ada sementara kalangan yang menyangkal adanya kewajiban perang ofensif (qital ath-thalab), kemudian ada pula yang membantah pendapat bahwa Islam adalah diin toleransi dan perdamaian. Lalu, apakah Islam adalah diin teror?

Kita mulai dengan aksi para penganut peradaban kafir terhadap kaum Muslimin, karena tindakan mereka lebih mudah dibaca daripada kata-katanya. Australia, yang belum pernah kita perangi, menduduki Timor Timur; China menduduki seluruh wilayah Asia Tengah bagian selatan; Rusia menduduki sejumlah wilayah Muslim, seperti Kaukasus, Krimea, Khazan, dan sebagainya; India menduduki Delhi, Kashmir, dan seluruh wilayah India Utara; Amerika menguasai seluruh kawasan Teluk dan memperluas pengaruh politik dan militernya sepanjang Asia Tengah, dari Uzbekistan hingga Teluk dan terus sampai ke Sinai. Selain itu mereka juga punya pangkalan militer yang besar di Incirlik Turki. Mereka juga berebut pengaruh dengan Prancis maupun Inggris di Afrika. Inggris masih mempunyai pengaruh di Asia dan Afrika, serta pangkalan militer di Teluk dan Gibraltar. Serbia, Kroasia, Yunani, Rumania, dan Bulgaria juga menguasai wilayah kaum Muslimin. Spanyol menguasai Andalusia, Sabta, dan Malila. Italia menduduki Sisilia, negeri Al Aghaliba. Pulau-pulau di Laut Tengah - yang seluruhnya adalah wilayah kaum Muslimin - juga dikuasai penjajah. Filipina juga menduduki tanah kaum Muslimin, demikian juga Burma. Israel menduduki tanah Palestina, yang merupakan bagian dari Bilad Asy-Syam.
Sungguh benar sabda Rasulullah SAW,
"Dapat diperkirakan bahwa kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang yang berebut melahap isi mangkok.' Para sahabat bertanya, 'Apakah saat itu jumlah kami sedikit, ya Rasulullah?' Rasulullah SAW menjawab, 'Tidak, bahkan saat itu jumlah kalian banyak sekali tetapi seperti buih pada air bah. Allah akan mengambil dari dada musuh-musuhmu rasa takut kepadamu, dan Allah akan menimpakan penyakit al-wahn.' Mereka bertanya lagi, 'Apa itu penyakit al-wahn, ya Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Kecintaan yang berlebih terhadap dunia dan takut mati."

Meski terdapat setumpuk fakta yang mengungkap penderitaan kaum Muslimin, sekaligus menjadi bukti terjadinya serangan fisik dari para penganut peradaban kufur, namun hal itu tidak menghalangi mereka - para politisi dan pemikir kufur - menjelaskan pentingnya memerangi peradaban Islam hingga sampai ke akar-akarnya.

Nixon mengatakan dalam bukunya "Victory without War", "Kejayaan yang sesungguhnya tidak diperoleh dengan menghindari konflik, tetapi dengan peperangan yang hebat demi prinsip, kepentingan, dan sahabat kita ... Kita harus membuang angan-angan mengenai bagaimana seharusnya dunia ini berjalan. Bangsa Amerika cenderung mempunyai keyakinan bahwa konflik adalah sesuatu yang tidak wajar, demikian pula pandangan bangsa-bangsa yang lain; sedangkan perbedaan hanya disebabkan karena adanya kesalahpahaman. Mereka juga menganggap bahwa perdamaian yang abadi dan menyeluruh merupakan suatu tujuan yang bisa dicapai. Namun demikian, sejarah membuktikan bahwa pandangan itu keliru, karena masing-masing negara berbeda satu dengan yang lain dalam aspek-aspek yang fundamental, konvensi politik, pengalaman sejarah, dan motivasi ideologisnya; aspek-aspek yang biasa melahirkan konflik. Adanya kepentingan yang saling berbenturan dan fakta yang kita pahami bersama memicu perselisihan dan, pada akhirnya, peperangan ...Perdamaian yang menyeluruh, yakni terciptanya dunia yang tanpa konflik hanya merupakan angan-angan. Perdamaian seperti ini tidak pernah dan tidak akan pernah tercipta."

Nixon juga mengatakan dalam "The Favorable Opportunity", "Kepentingan vital adalah kepentingan yang apabila hilang akan mengancam keamanan Amerika Serikat. Jadi, kemerdekaan negara-negara Eropa Barat, Jepang, Kanada, Meksiko, dan negara-negara Teluk merupakan masalah vital bagi keamanan negara kita. Demikian pula, kita mempunyai kepentingan vital untuk mencegah negara-negara berkembang mempunyai senjata nuklir. AS tidak punya pilihan lain kecuali menggunakan kekuatan bersenjata untuk mencegah setiap hal yang mengancam kepentingannya ... Untuk melindungi pemerintahan demokratis yang terancam, seperti Israel dan Korea Selatan, kita siap untuk menggunakan kekuatan militer bila diperlukan."
Sementara itu, pada tanggal 23/1/1980, Jimmy Carter mengirimkan nota berjudul "State of the Union" kepada Kongres Amerika, dan di antara pernyatannya adalah, "Posisi kita sangat jelas. Setiap upaya dari kekuatan luar yang menguasai kawasan Teluk akan dianggap sebagai serangan terhadap kepentingan Amerika. Agresi seperti itu akan disingkirkan dengan segala cara, termasuk cara-cara militer."

Pada tanggal 2/11/1990, mantan Menlu AS Henry Kissinger menulis suatu artikel di koran Yediot Ahrunot dengan judul "Soon, America, You will Lose Deterrent Force" (Segera, Amerika, Engkau akan Kehilangan Kekuatan Penangkis), di mana dia menulis, "Cara-cara militer - tak diragukan lagi - merupakan pilihan yang sulit dan menyakitkan. Hal itu dapat memicu terjadinya demonstrasi di berbagai negara Muslim dan menyebabkan timbulnya gelombang baru terorisme. Namun demikian, kesulitan itu harus dibandingkan dengan bahaya yang timbul akibat konflik yang lebih sulit di masa yang akan datang, bila tanda-tanda kelemahan Amerika akan menyebabkan ambruknya pemerintahan moderat di kawasan itu, meningkatkan ketegangan politik, dan meruntuhkan segala sistem yang ada."

Sedangkan pada tanggal 18/9/2001, ada tulisan di sebuah harian Amerika tentang wawancara antara wartawan surat kabar Prancis Le Figaro dengan James Schlesinger - penasihat Nixon dan mantan Menteri Pertahanan AS yang sekarang bekerja pada Centre for Strategic and International Studies - yang mengatakan, "Untuk menumbangkan jaringan kegiatan ('terorisme') ini perlu waktu bertahun-tahun, karena mereka memiliki tekad yang sangat kuat, yang dihasilkan dari keyakinan yang kuat tentang posisi mereka."
Sementara itu, dalam acara "Perang Pertama di Abad ini" di stasiun TV Al Jazeera, presenter acara ini mengutip pernyataan Henry Kissinger di Washington Post yang berjudul "Revenge is not Sufficient Response" sebagai berikut, "Perlu kiranya untuk menghadapi segala sesuatu yang terjadi dengan sebuah serangan terhadap sistem yang menghasilkan ancaman ini."

Mantan Sekretaris Jenderal NATO, Claus, secara resmi menyatakan bahwa Sekutu telah memposisikan Islam di bekas tempat Uni Soviet, yakni sebagai sasaran permusuhan. BBCOnline.net mengutip pernyataan Presiden Bush pada tanggal 17/9/2001 sebagai berikut, "Perang Salib ini, yaitu perang melawan teror akan berlangsung dalam waktu yang lama."
Samuel Huntington menulis dalam artikelnya pada majalah Amerika "Foreign Affairs" sebagai berikut, "Kecil kemungkinannya konfrontasi militer antara Barat dan Islam, yang berlangsung sejak berabad-abad lalu, ini akan berkurang. Bahkan sebaliknya, mungkin sekali konflik ini akan semakin kejam dan keras ..."

Sedangkan Shimon Peres menulis dalam bukunya, "The New Middle East", "Kita adalah orang-orang yang bertekad kuat, dan tidak ada satupun kekuatan di muka bumi yang dapat memaksa kita untuk meninggalkan tanah ini, setelah lima puluh generasi kita hidup dalam diaspora ... lima puluh generasi dalam penindasan, kesengsaraan, dan pembantaian. Kita tidak akan pernah menyingkir dari tempat satu-satunya ini, tempat di mana kita dapat memperbaharui kemerdekaan kita, menjamin keselamatan kita, dan hidup secara terhormat dan bermartabat ..."

Steve Dunleavy menulis dalam jurnal New York Post pasca insiden Selasa 11 September, "Bunuh para bajingan itu. Latihlah para pembunuh, buatlah kontrak dengan para serdadu bayaran, dan berilah hadiah jutaan dollar untuk memburu kepala mereka. Bawalah mereka, hidup atau mati, tapi lebih baik dalam keadaan mati. Terhadap kota-kota yang menjadi tempat tinggal mereka, bomlah dengan bom-bom ke taman bermain mereka."



Kamis, 13 Mei 2021

Pembahasan Jihad (Berperang) Di Jalan Allah



Pembahasan Kelima: Jihad (Berperang) Di Jalan Allah

 

Jihad merupakan bagian tidak terpisahkan dari akidah Islam dan tidak terlepaskan dari misi umat Islam. Jihad dan kejayaan, keduanya saling berkaitan dengan kaitan erat. Tiada kejayaan bagi Negara Khilafah dan kaum Muslimin tanpa Jihad. Jika Jihad telah terlaksana dengan benar, maka kejayaan dengan izin Allah akan tercapai. Jihad adalah ibadah yang merupakan metode wajib bagi tiap individu Muslim dalam mempertahankan wilayah kaum Muslimin dari serangan.

 

Jihad merupakan sunnatullah dalam kehidupan ini. Maka tidak layak dalam kapasitas manusia untuk menolak Jihad kecuali jika ia memang menolak kehidupan itu sendiri dan ia termasuk orang yang mati. Dakwah dan Jihad adalah metode wajib dalam pembebasan negeri-negeri kufur menjadi bersatu dalam Negara Khilafah Islam. Dengan pembebasan oleh Negara Islam maka umat manusia terbebas dari kekuasaan rezim sistem kufur manapun sehingga merasakan rahmat Islam. Umat manusiapun bisa dengan sukarela dan penuh kesadaran berbondong-bondong memeluk Islam setelah mereka membuktikan dan merasakan rahmat yang hanya terwujud dengan sistem Islam.

 

“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Dawud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (QS. Al-Baqarah: 251)

Dengan pembelaan Allah terhadap pasukan mujahidin kaum Muslimin, maka sistem yang baik dan bermanfaat akan tetap bertahan; dan yang rusak, yang tidak mendatangkan rahmat Allah akan hilang.

 

Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (QS. Ar-ra’d: 17)

 

Dan orang-orang yang berJihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-ankabut: 69)

 

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

 

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berJihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. Ali-Imran: 142)

 

Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.” (QS. An-nisa’: 74)

 

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berperang di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Maidah: 54)

 

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Anfaal: 60)

 

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu'min itu untuk berperang.” (QS. Al-Anfaal: 65)

 

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) pada hari kemudian.” (QS. At-taubah: 29)

 

Dengan penaklukan oleh Negara Islam maka umat manusia terbebas dari militer dan penguasa rezim kufur beserta sistem kufurnya sehingga merasakan rahmat Islam.

 

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan berperanglah dengan harta dan jiwa pada jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. at-Taubah: 41)

 

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan Surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah: 111)

 

Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka.” (QS. Muhammad: 4)

 

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berJihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya” (QS. Ash-Shaff: 10-11)

 

Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (QS. Al-Anfaal:24)

lima yuhyikum”: ”Mayoritas ulama mengatakan bahwa maksudnya adalah Jihad. [Imam Fakhrurrazi Mafatihul Ghaib jilid 7 hal.473]

 

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki.” (QS. Ali Imran: 169)

 

Rasulullah Saw. bersabda: “Dan puncak tertinggi Islam adalah Jihad.” [Bagian hadits dari Mu’adz bin Jabal yang awalnya: ”Maukah anda aku beritahu akan pangkal perkara dan tiangnya dan puncaknya yang tertinggi?” HR. Imam Turmudzi jilid 5 hal.13; HR. Imam Hakim dalam kitab al-mustadrak jilid 2 hal.76, kitab Jihad dan berkata: hadits ini sahih menurut syarat Bukhari dan Muslim namun keduanya tidak meriwayatkannya]

 

Rasulullah Saw. telah ditanya: Apa yang dapat menyamai Jihad? Beliau menjawab: “Kalian tidak mampu.” Lalu si penanya mengulangi pertanyaannya sebanyak dua kali atau tiga kali. Dalam jawaban semua pertanyaan itu Rasulullah menjawab: “Kalian tidak mampu untuk melakukannya ».

Kemudian dalam ucapan ketiga, beliau menjawab: “Perumpamaan mujahid atau orang yang berperang di jalan Allah adalah seperti orang berpuasa yang shalat malam dengan membaca ayat-ayat Allah yang tidak lepas dari shalat dan puasa sampai mujahid itu kembali dari berperang di jalan Allah.” [HR. Imam Muslim dalam kitab sahihnya, “syarah nawawi” jilid 5 juz 13 hal.14-15 kitab Jihad bab keutamaan mati syahid dari abu Hurairah]

 

Hadits dari Abu Sa’id al-Khudri ra. yang berkata: ”Saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda:

Barangsiapa yang rela Allah sebagai Tuhan, dan Muhammad sebagai Rasul, maka telah wajib Surga baginya.”

Maka Abu Sa’id kagum dan terkejut lalu ia bertanya: “Ulangilah hal itu wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah mengulangi ucapan beliau kemudian beliau bersabda lagi:

Dan Allah mengangkat derajat sebanyak 100 derajat bagi hamba itu di dalam Surga yang berada di antara kedua derajat, sebagaimana antara langit dan bumi »

Kemudian Abu Sa’id bertanya: “Apakah hal itu wahai Rasulullah?” Maka beliau menjawab: “Jihad di jalan Allah. Jihad di jalan Allah. Jihad di jalan Allah.” [HR. Imam Muslim dalam kitab sahihnya, syarah nawawi jilid 5 juz 13 hal.28, kitab Jihad, bab balasan apa yang disiapkan Allah bagi orang yang berJihad]

 

Kehidupan Rasulullah Saw. sebagai kepala Negara Islam dari awal sampai akhir merupakan rangkaian Jihad yang terus bersambung di jalan Allah. Rasulullah Saw. telah mengikuti ghazwah di jalan Allah sebanyak 27 kali dan beliau mengutus sariyyah sebanyak kurang lebih 47 sariyyah. [Ghazwah (perang) menurut istilah sejarawan dan kitab-kitab sejarah adalah pasukan Jihad yang dipimpin oleh Rasululah Saw. sendiri baik terjadi pertempuran atau tidak terjadi pertempuran. Sedangkan sariyyah maka dimaksudkan sebagai golongan yang terpilih dari tentara yang diutus oleh Nabi Saw. untuk menakuti musuhnya atau untuk mengungkap kondisi mereka atau untuk lainnya. Dan ini menurut kebanyakannya]

 

Dan berJihadlah kamu di jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orangtuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur'an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu.” (QS. Al-Hajj:78)

 

Allah memilih dan menunjuk umat Islam ke hadapan manusia agar mereka menjadi makhluk-Nya yang lurus, berkuasa di muka bumi menerapkan seluruh Syariat-Nya dengan pimpinan seorang Khalifah, dan tetap meneruskan dakwah Rasul Saw.

 

Jika kaum Muslimin diserang maka fardhu ’ain bagi tiap individu Muslim negeri yang diserang untuk memerangi penjajah itu; dan wajib bagi negeri-negeri Muslim lainnya untuk memerangi penjajah itu jika mereka masih menjajah. Jika Khalifah memerintahkan kaum Muslim untuk berperang menaklukkan negara kufur dan membebaskan penduduknya dari kekuasaan rezim sistem kufur beserta militernya, maka mereka harus menuju medan perang. Ibnu Qudamah dalam kitab Mughni mengatakan: ”Perang paling sedikit yang dilakukan Imam (Khalifah) adalah sekali setahun.”

 

Islam mengharuskan kemerdekaan manusia di muka bumi dari belenggu penyembahan kepada sesama manusia. Islam mengharuskan pemusnahan segala sistem kufur buatan manusia beserta kekuasaan yang menyokongnya.

 

Perang melawan penguasa dan militer negara sistem kufur dilakukan ketika dakwah oleh Negara Khilafah Islam dihalangi untuk mencapai tujuannya, yaitu mereka tidak mau tunduk pada kekuasaan dan sistem Islam yang diterapkan Negara Khilafah. Sebab, dakwah oleh Negara Islam adalah dengan menguasai negara-negara kufur dan menggabungkannya dengan Negara Islam sehingga diterapkan sistem Islam atas penduduknya. Penduduk kafir negara yang ditaklukkan itu selanjutnya bisa merasakan keadilan dan kerahmatan sistem Islam dalam segala bidang yang membuat mereka bisa sadar untuk beriman. Maka masuk Islamlah penduduk negeri-negeri yang sebelumnya adalah negara-negara kufur secara berbondong-bondong. Metode dakwah dan Jihad-futuhat oleh Negara Islam ini adalah metode wajib yang dituntunkan Rasulullah Saw. dan para Khulafa ur-Rasyidin.

 

« Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas » (QS. Al-Baqarah: 190)

 

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.” (QS. Al-Maidah: 8)

 

Barangsiapa yang berperang dengan bertujuan agar agama Allah menjadi paling tinggi, maka ia berperang di jalan Allah.” [HR. Imam Turmudzi dan berkata: hasan sahih, jilid 4 hal.179, dari Abu Musa ra.; HR. Imam Bukhari dalam kitab Sahihnya, yang terdapat dalam hasyiyah sanadi jilid 2 hal.139]

 

”Jihad di jalan Allah dengan bertujuan mengakui sistem Allah di muka bumi, menyatakan kekuasaan Allah atas manusia, berlakunya hukum Syariat Allah dalam kehidupan, untuk merealisasikan kebaikan, kemaslahatan dan kemajuan manusia, kesemuanya itu merupakan sifat kelompok yang beriman yang dipilih oleh Allah untuk menjalankan kehendak-Nya di muka bumi dengan golongan itu.

Mereka berjuang di jalan Allah dan di bawah bendera naungan-Nya, bukan di jalan diri mereka sendiri, bukan di jalan kaum mereka, bukan demi tanah air mereka, bukan demi suku mereka dan bukan di bawah naungan bendera apapun. Mereka berada di jalan Allah untuk merealisasikan sistem Allah, mengakui kekuasaan-Nya, melaksanakan Syariat-Nya dan merealisasikan kebaikan bagi seluruh manusia.

Mereka tidak bertujuan dengan tujuan yang sepele yaitu tujuan dunia yang telah disebutkan deretannya di atas. Mereka tidak akan mengejar tujuan remeh dan sementara, namun tujuan Jihad dan perjuangan mereka adalah untuk Allah dan berada di jalan Allah saja dengan tanpa ada sekutu bagi-Nya.” [Jamaluddin Abdurrahman al-Asnawi, Nihayatussuul bisyarhi Minhaajil wuhul ilaa ilmil ushul jilid 1 hal.95]

 

Ketahuilah, bahwa kekuatan adalah melempar.” Beliau mengatakannya sebanyak tiga kali. [HR. Imam Muslim dalam sahihnya dalam syarah nawawi jilid 5 juz 13 hal.64, dari Uqbah bin Amir ra.]

 

Para musuh Islam dalam berbagai nama dan bentuk benar-benar telah berupaya mengacaukan gambaran mengenai Jihad dalam Islam. Dan selanjutnya akan mengacaukan gambaran Islam yang benar sehingga para manusia menjadi kebingungan dan terjadilah kekacauan di tengah kaum Muslimin. Mereka menebarkan kebodohan di mana kalimat Jihad menurut mereka identik dengan watak yang sadis, perangai yang bengis dan karakter yang kejam. Jihad menurut mereka adalah ungkapan penumpahan darah orang-orang yang tidak berdosa.

 

Termasuk strategi mereka untuk merusak kebenaran, adalah menghembuskan pandangan yang salah ketika kalimat Jihad diungkapkan. Mereka memprovokasi orang-orang untuk memahami Jihad dengan salah. Akhirnya orang-orang hanya memahami bahwa Jihad adalah ekspresi dari perilaku yang ganas, keji dan bengis. Mereka menganggap kaum Muslimin mengobarkan api fanatisme dan kebencian dan mata mereka dipenuhi dengan kejahatan untuk membunuh dan nafsu untuk merampas.

 

Jika manusia telah tergila-gila dengan dinar dan dirham, dan mereka berbuat dengan iinah (salah satu bentuk praktik riba), kalian mengikuti ekor sapi dan kalian rela dengan pertanian, dan kalian meninggalkan Jihad di jalan Allah, maka Allah akan memberikan kalian kehinaan yang tidak tercabut dari kalian sampai kalian kembali kepada urusan agama kalian.” [HR. Imam Ahmad dalam kitab musnadnya jilid 2 hal.28, dari abdullah bin Umar ra., disahihkan oleh Imam Hakim. Iinah adalah salah satu bentuk praktik riba, meskipun mengambil bentuk jual-beli]

 

Bacaan: Buku Memenuhi Kewajiban Umat Meraih Kejayaan

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda