Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Rabu, 03 Desember 2014

Masyarakat Islam sadar mengajak ke jalan Allah


Masyarakat Islam sadar mengajak ke jalan Allah
  

Karakteristik ketujuh:
Masyarakat Islam adalah masyarakat yang selalu sadar untuk mengajak menuju ke jalan Allah. Maka, setiap individu masyarakat baik laki-laki maupun perempuan memilki kewajiban untuk mengajak manusia menuju ajaran Allah. Tentu saja hal tersebut harus disertai oleh kemampuan dan ilmu pengetahuan pribadi muslim tersebut dalam mengajak, ke mana arah yang akan ia tuju. Allah berfirman: “Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku  mengajak  (kamu)  kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik." [QS. Yusuf: 108]

Dengan mengajak manusia menuju jalan Allah dan menumbuhkannya dalam sebuah masyarakat, maka masyarakat tersebut akan terhindar dari seluruh murka Allah. Dan tentu saja akan memberikan manfaat yang sangat besar untuk kehidupan manusia itu sendiri baik di dunia maupun akhirat. Sekaligus menjauhkan manusia dari berbagai bahaya yang akan ditemuinya baik di dunia maupun akhirat.

Setiap orang yang akan mengajak ke jalan Allah harus mengetahui berbagai fase yang harus dilaluinya, bagaimana cara membentuk dan menjalaninya. Tidak hanya itu, seorang dai juga dituntut untuk memiliki karakteristik pembawaan yang baik dan pekerjaan yang mulia. Di samping, seorang dai juga dituntut untuk mengetahui, siapakah orang-orang yang mereka ajak? Apa keistimewaan yang mereka miliki? Dan apa kewajiban para dai terhadap mereka?

Masyarakat yang selalu menghimbau diri mereka untuk selalu berjalan di rel Allah adalah masyarakat yang selalu memerintahkan kepada kebaikan ideologi (akidah dan syariah) Islam dan melarang kepada keburukan ideologi selain Islam. Selalu memerintahkan setiap orang dengan perkara yang sejalan dengan syariah dan melarang mereka untuk melakukan hal-hal yang munkar melanggar syariah.

Dan sebenarnya, perintah untuk melakukan kebaikan itu harus dilakukan oleh kaum muslimin dengan kekuatan kekuasaan negara sistem Khilafah. Sehingga terpenuhilah seluruh kewajiban termasuk kewajiban kifayah menerapkan syariah. Negara Islam memenuhi kewajiban kifayah menegakkan keadilan dengan kekuatan kekuasaan yang sah melawan semua kekuatan kebatilan.

Allah berfirman dalam al Quran: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka  (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta'at pada  Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana.

Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam sanadnya dari Hudzaifah bin Yaman RA, ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: “Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman kekuasaan-Nya! Kalian harus memerintahkan kepada kebaikan dan melarang kepada keburukan. Atau Ia akan mengirimkan siksaan kepada kalian. Kalian akan meminta pertolongan kepada Allah, akan tetapi Allah tidak akan menolong kalian.”

Diriwayatkan dari Tirmidzi dengan sanadnya dari Thariq bin Shihab, ia berkata: “Orang yang pertama kali mendahulukan khutbah (hari raya) adalah Khalifah Marwan. Kemudian, salah seorang laki-laki berdiri dan berkata kepada Marwan: “Engkau telah menyalahi sunnah.” Ketika itu Marwan berkata: “Wahai Fulan, engkau telah menyalahi sunnah Rasul.” Maka, pada saat itu Abu Sa’id berkata: “Laki-laki ini telah melaksanakan tugasnya.” Saya mendengarkan Rasulullah Saw. berkata: “Barangsiapa yang melihat kemunkaran, maka rubahlah oleh tanganmu. Dan barangsiapa yang tidak bisa, rubahlah dengan lisanmu. Dan barangsiapa yang tidak bisa, maka rubahlah dengan hatimu. Dan hal tersebut merupakan selemah-lemahnya iman.”

Karakteristik kedelapan:
Masyarakat Islam adalah sebuah masyarakat yang tidak pernah berhenti untuk memperjuangkan sebuah visi. Masyarakat Islam tidak akan terpengaruh oleh waktu dan tempat. Mereka akan terus memperjuangkan berbagai sumber daya manusia dan sumber daya alam untuk selalu memperjuangkan ideologi (akidah dan syariah) dari Allah. Jihad dengan jiwa, harta dan lisan untuk menjadikan kalimat Allah sebagai kalimat yang paling tinggi.

Mereka adalah sebuah masyarakat yang menegakkan negara Islam, serta dakwah dan jihad dengan kekuatan negara. Semuanya itu dilakukan dengan tujuan untuk merealisasikan ajaran Allah sekaligus mengimplementasikannya dalam diri hamba Allah. Mereka terus berjalan melalui lorong tersebut sampai tujuan mereka tercapai. Atau, mereka harus mengorbankan diri menjadi seorang pejuang yang syahid di medan pertempuran. Mereka harus memilih dan memenangkan antara dua pilihan terbaik; mewujudkan harapan dan tujuan yang ada atau mati di jalan Allah.

Masyarakat Islam menyatakan bahwa agamanya mensyariatkan bahwa jihad merupakan hal yang fardhu sampai hari kiamat, tidak berhenti karena seorang Khalifah yang dzalim maupun yang adil. Sehingga, orang-orang yang menentang jihad akan dinilai sebagai orang yang hina. Karena, seharusnya kaum muslimin memerangi musuh mereka yang juga musuh agamanya. Musuh kebenaran yang juga musuh Allah; sama saja, apakah musuh mereka tersebut berada dalam tubuh umat Islam atau di luarnya.

Melawan mereka sesuai dengan peraturan yang telah ditentukan oleh Islam dalam dakwah dan jihad. Sampai Allah memperlihatkan yang benar dan menyatakan yang salah. Sampai manusia tidak menyembah apapun juga selain Allah.

Dan sesungguhnya, jihad itu sendiri membutuhkan berbagai kesiapan moral dan material negara Islam yang kuat. Sehingga dengan kesiapannya tersebut, mereka dapat maju ke medan perang dan menerima apapun hasil akhir perjuangan mereka. Mereka akan menomorduakan berbagai alasan dan menomorsatukan keimanan dan rasa percaya bahwa Allah akan selalu ada untuk menolong mereka. Akan tetapi, bagaimanapun juga, mereka harus memiliki persiapan sebelum melaksanakan perang. Karena, ini merupakan perintah Allah Swt. Allah berfirman dalam al Quran: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” [QS.Al Anfaal: 60]

Jihad di jalan Allah untuk bertahan maupun menaklukkan kekuasaan negara kufur yaitu meninggikan kalimat Allah sudah menjadi ciri dan keistimewaan yang dimilki oleh sebuah masyarakat Islam. Jihad tidak akan pernah terpisahkan dari dalam kehidupan masyarakat muslim sampai kapanpun. Oleh karena itu, salah seandainya ada orang yang beranggapan bahwa jihad hanya berhenti pada satu sisi saja. Karena jihad akan terus berlanjut sampai hari kiamat nanti. Dalam setiap masyarakat muslim pastilah akan ada seorang yang benar-benar memperjuangkan ajaran Allah. Di samping, hal tersebut juga sudah menjadi sebuah kebutuhan karena sebuah masyarakat muslim haruslah memiliki kekuatan dan kekuasaan negara Khilafah Islam untuk melawan musuh-musuh Allah.

Unduh Buku Generasi Masyarakat Islami

Senin, 01 Desember 2014

Masyarakat Islam selalu saling melengkapi


Masyarakat Islam selalu saling melengkapi


Karakteristik keenam:
Masyarakat Islam adalah sebuah masyarakat yang selalu saling melengkapi antara satu kalangan dengan kalangan muslim lainnya. Bahkan, dalam satu kalangan saja mereka selalu saling mengasihi dan memberi.

Kehidupan saling melengkapi itu selalu kita lihat antara satu individu dengan individu lainnya, antara satu individu dengan satu keluarga, antara satu individu dengan satu kelompok, antara satu keluarga, beberapa keluarga dan seluruh lapisan masyarakat. Dan antara umat Islam secara keseluruhan.

Mereka juga akan berusaha untuk saling melengkapi dalam hal perkataan, perbuatan, sabar dalam mencari kebenaran dan kuat dalam mempertahankan kebenaran. Tidak hanya itu, mereka juga selalu mengingatkan dalam kebaikan dan takwa, saling bergandeng tangan dalam meringankan rasa sakit yang pernah menimpa kaum muslimin; baik individu maupun kelompok. Semua kekuatan yang mungkin menghalangi ukhuwah ini akan dihapus oleh kekuatan negara Khilafah Islam.

Saling keterkaitan ada dalam masyarakat muslim yang memayungi setiap anggotanya baik individu, kelompok dan masyarakat secara keseluruhan. Kekuasaan syariah Islam akan menolong yang lemah, yang kecil, dan yang miskin. Maka, dengan ini secara tidak langsung, Islam menegaskan bahwa sebuah negara yang tidak memiliki struktur dan karakteristik seperti di atas tidak akan mampu untuk menjalankan kehidupannya dan mencapai semua tujuannya yang paling mendasar yaitu: mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Teks al Quran yang banyak menyinggung tentang adanya keterikatan ini menyebutkan dalam al Quran: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” [QS. Al Baqarah: 177]

Dan dalam ayat lain dikatakan: “Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung. Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” [QS. Ar Rumm: 38-39]

Dan diriwayatkan oleh imam Bukhari, dari Rasulullah SAW bersabda: “Seorang Muslim yang satu merupakan saudaranya muslim yang lain. Oleh karena itu, janganlah mendhalimi atau menyerahkannya (ketika perang). Oleh karena itu, barangsiapa yang membantu menutupi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantunya. Dan barangsiapa yang menolong seorang muslim dari kesulitan yang dihadapinya, maka Allah akan mempermudah segala kesulitan yang akan dihadapinya nanti di hari kiamat. Dan barangsiapa yang tidak membuka rahasia saudaranya sesama muslim, maka Allah akan menutupinya pada hari kiamat nanti.” [Kitab Shahih Bukhari: bab “Al Madhâlim”]

Dan diriwayatkan dari imam Muslim dari Abu Hurairah RA, dari Rasulullah SAW, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa memberikan jalan kemudahan bagi saudaranya yang sedang dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi rahasia kaum mulimin, maka Allah akan menutupi semua celanya di dunia dan akhirat nanti. Dan sesungguhnya Allah akan selalu menolong seorang hamba. Selama hamba tersebut selalu menolong saudaranya yang lain.” [Imam an Nawawi: Kitab “Riyâdhus Shâlihîn”: 125]

Dan diriwayatkan dari imam Nasa-i dari Abu Syarih Khuwailid bin Amar al Khaza’i RA. Ia berkata bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Ya Allah, berikanlah kekuatan kepadaku untuk membantu kesulitan dua orang yang lemah; anak yatim dan kaum perempuan. Dan yang dimaksud dengan membantu adalah mengeluarkan mereka dari pintu kesusahan. Oleh karena itu, nabi mengatakan bahwa orang-orang yang berusaha untuk menghilangkan hak keduanya adalah orang yang sangat berdosa.
Dan diriwayatkan dari Bukhari, dari Abu Musa ra. dari nabi Muhammad SAW, ia berkata: “Antara satu individu muslim dengan individu muslim lainnya seperti satu buah bangunan. Mereka akan saling menopang antara satu dengan yang lainnya.” Kemudian mereka-pun akan saling bergenggaman tangan. [Kitab Shahih Bukhari: bab “Adab”]

Dan diriwayatkan dari Bukhari dari Nukman dari Basyir ra., ia berkata: berkata Rasulullah SAW: Seharusnya, kaum mukminin antara satu dengan yang lainnya dalam memberikan kasih sayang, saling mencintai dan mengasihi seperti satu jasad. Seandainya satu bagian anggota tubuhnya mengaduh, maka seluruh anggota badannya akan merasakan panas dingin.”
Inilah kerangka sosial yang tumbuh dalam masyarakat muslim. Mereka selalu saling menopang antara satu dengan yang lainnya. Segala sesuatunya pasti tidak keluar dari garis yang telah ditentukan oleh Allah SWT dalam kitab dan Sunnah Rasul-Nya yang suci.

Unduh Buku Generasi Masyarakat Islami

Senin, 24 November 2014

Masyarakat Islam bercirikan hubungan mutualistik


Masyarakat Islam bercirikan hubungan mutualistik


Karakteristik Keempat:
Masyarakat Islam adalah sebuah masyarakat yang bercirikan hubungan mutualistik. Tegasnya, antara satu bagian dengan bagian lainnya saling terkait. Sehingga, kelompok ini tidak akan terlihat sempurna seandainya salah satu di antara mereka hilang. Bahkan, seandainya kewajiban yang satu belum terselesaikan, maka kewajiban yang lain akan terabaikan. Sebagai bukti rasa cinta dan kasih sayang yang terjalin antara satu individu dengan individu muslim lainnya. Semuanya dilakukan agar terealisasinya tujuan mulia sebuah kerangka sosial yang beriman. Dan kita dapat melihat bahwa tujuan utama dalam sebuah masyarakat Islam adalah untuk mencapai keridhoan Allah di dunia dan akhirat. Dan sangat jelas sekali, tujuan ini tidak akan pernah terealisasi kecuali dengan saling melengkapi seluruh kewajiban seperti: sistem politik, sistem sosial, sistem ekonomi, kebijakan pendidikan, kebijakan luar negeri, kebijakan militer.

Islam adalah agama yang telah membangun kerangka sosial kemasyarakatannya dengan hukum yang sangat tinggi, yaitu: memerintahkan kepada kebaikan ideologi Islam dan melarang kepada keburukan ideologi kufur. Oleh karena itu, seluruh perilaku manusia akan tertunduk pada kaidah yang satu, kaidah Islam. Sebuah kaidah yang dapat menyempurnakan sebuah bangunan. Dalam hal ini, kaidah tersebut memberitahukan kepada manusia bahwa dalam kehidupan ini hanya ada dua pilihan; kebaikan dan keburukan. Maka, kebaikan telah diperintahkan oleh Allah SWT sedangkan keburukan adalah sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT.

Allah berfirman dalam al Quran: “Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” [QS. At Taubah: 105]

Itulah masyarakat Islam yang telah Allah ciptakan. Oleh karena itu, setiap individu harus selalu berbuat mengikuti kaidah dan undang-undang yang telah diajarkan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Dengan menolak itu maka ia telah menjadi musuh bagi dirinya dan masyarakat.

Karakteristik kelima:
Masyarakat Islam adalah masyarakat yang selalu memposisikan diri sebagai masyarakat yang berdisiplin dan mentaati ajaran agamanya dalam seluruh strata masyarakatnya; dimulai dari individu, kelompok dan negara.

Islam adalah masyarakat yang selalu taat menerapkan hukum Allah. Oleh karena itu, mereka selalu mewajibkan setiap individu, kelompok, dan negara untuk melaksanakan ajaran Allah guna membentengi mereka dari jalan kesesatan dan permainan hawa nafsu.

Dalam menjalankan seluruh ajaran Islam tersebut kaum muslimin tertopang dengan kewajiban sistem negara Islam Khilafah Rasyidah sebagaimana dicontohkan Rasulullah dan para Khulafa’ur Rasyidin. Tiap-tiap individu memiliki tugas dan kewajiban tertentu sebagai anggota masyarakat. Sebuah perasaan yang tumbuh dari dalam jiwa manusia. Tepatnya, dari keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya dan kecintaannya untuk selalu memegang teguh ajaran agama yang dianutnya tersebut. Sehingga, ia akan berusaha untuk menjaga diri dan negaranya untuk selalu melaksanakan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya dan berusaha untuk menuju masyarakat yang lebih maju.

Islam adalah pilihan terbaik untuk menjalani kehidupan. Tentu saja hal tersebut hanya akan terwujud dengan mempertahankan syariah oleh kekuasaan sah negara Khilafah Islam. Bahkan, ia adalah metode baku yang wajib dalam membangun sebuah kerangka sosial yang lurus sesuai dengan jalan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Berbagai ayat al-Qur’an memerintahkan manusia untuk memiliki perilaku yang mulia dan menjauhkan diri dari menolak wahyu dari Allah sangat banyak. Apalagi setelah kita menambahkan dengan kisah-kisah umat terdahulu yang diceritakan dalam al Quran. Karena, secara tidak langsung kisah-kisah tersebut memiliki korelasi yang cukup kuat dengan realitas kehidupan dan perilaku masyarakat pada waktu itu.
Ketaatan dalam melaksanakan aturan Allah dalam masyarakat muslim merupakan salah satu ciri dan keistimewaan kehidupan umat yang satu ini.

Unduh Buku Generasi Masyarakat Islami

Selasa, 18 November 2014

Masyarakat Islam beriman melalui pembuktian akal



Masyarakat Islam beriman melalui pembuktian akal

Karakteristik Kedua:
Masyarakat Islam adalah masyarakat yang mengedepankan iman dengan pembuktian akal yang mantap. Kemudian akan dipergunakan untuk mencapai pintu kebenaran sang Maha Pencipta yaitu Allah SWT. Maka, itu tidak akan berfungsi kecuali atas idzin Allah SWT. Allah berfirman dalam al Quran: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus.” [QS. Ar Ruum: 30]

Ayat di atas telah menerangkan bahwa manusia dan seluruh ciptaan Allah dengan seluruh naturalitas yang dimilikinya akan kembali kepada satu titik akhir. Maka, manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang memilki akal dan emosi harus menyadari keberadaannya secara alami dengan mempergunakan akal dan fikirnya. Sehingga ia harus menuruti seluruh kehendak Allah dengan seluruh kesadaran dan amal baiknya.

Inilah yang akan senantiasa dianjurkan Islam kepada masyarakatnya. Dan Allah telah menundukkan seluruh yang ada di bumi untuk selalu beribadah dan tunduk kepada Allah. Allah SWT berfirman: “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit  dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni'mat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” [QS. Luqman: 20]

Maka, Allah SWT telah menundukkan bagi manusia semua yang ada di langit, seperti: matahari, bulan, bintang. Selain itu, Allah juga menempatkan malaikat untuk selalu berada di sekeliling mereka dalam memberikan berbagai kemudahan dan manfaat kepada umatnya. Di samping itu, Allah juga memberikan mereka segala sesuatu yang ada di bumi, seperti: gunung, pepohonan, buah-buahan dan masih banyak yang lainnya. Dan Allah telah memberikan nikmat yang begitu berharga bagi manusia yaitu agama Islam. Betapa beruntungnya kaum manusia.

Seandainya manusia menyerahkan diri kepada Allah dengan segala sifat yang dimilkinya baik itu unsur naluri maupun akal, maka ia benar-benar orang yang telah mendapatkan petunjuk dan mampu mempergunakan kedua unsur kehidupan tersebut secara seimbang. Dari sini, ia akan melaksanakan ibadah secara ikhlas kepada Allah semata. Allah berfirman dalam al Quran: “Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia  orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” [QS. Luqman: 22]

Dan yang dimaksud dengan buhul tali yang kokoh adalah kalimat tauhid yaitu: kalimat tiada Tuhan selain Allah. Tegasnya, Islam. Atau lebih tepatnya keimanan. Jadi, yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang yang benar-benar telah memasrahkan dirinya kepada Allah dengan seluruh kekuatan naluri, akal dan berbuat yang terbaik dalam melaksanakan seluruh perintah-Nya, maka ia termasuk ke dalam orang-orang telah mendapatkan kemenangan di dunia dan akhiratnya.

Unduh Buku Generasi Masyarakat Islami

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam