Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Sabtu, 05 Januari 2008

BATU BARA SEBAGAI SUMBER ENERGI MASA DEPAN

IV.6 Batu Bara dan Energi Pengganti

Pembangunan berkelanjutan dan penggunaan energi pengganti akan memainkan peran penting dalam meningkatkan kinerja lingkungan dari produksi energi masa depan.meskipun demikian, ada sejumlah halangan praktis dan ekonomis yang signifikan yang membatasi perkiraan pertumbuhan dari energi pengganti.


Energi pengganti dapat berganti atau tidak dapat diperkirakan dan tergantung kondisinya yang berarti bahwa energi pengganti tergantung pada lokasi. Misalnya energi angin, sangat tergantung pada kencang tidaknya hembusan dan kekuatannya tidak permanen. Listrik yang dibangkitkan oleh batu bara dapat membantu mendukung pertumbuhan energi pengganti dengan menyeimbangkan keterputusan dalam catu daya. Batu bara dapat memberikan listrik yang nyaman dan murah sementara energi pengganti dapat digunakan pada saat beban puncak.


Teknologi bartu bara bersih mampu meningkatkan kinerja lingkungan pembangkit listrik tenaga uap, perannya sebagai sumber energi yang terjangkau dan tersedia memberikan manfaat lingkungan hidup yang lebih baik dengan mendukung pengembangan energi pengganti.


BAB V

BATU BARA SEBAGAI SUMBER ENERGI MASA DEPAN


V.1 Prediksi Kondisi Masa Depan

Dalam jangka waktu 25 tahun ke depan , diperkirakan bahwa kebutuhan energi global akan meningkat sebesar hampir 60%. Dua pertiga dari kenaikan tersebut akan berasal dari negara-negara berkembang – pada tahun 2030 kebutuhan akan energi negara-negara tersebut akan berjumlah hampir setengah dari seluruh kebutuhan energi.


Meskipun demikian, banyak dari penduduk miskin di dunia yang belum bisa menikmati energi modern dalam waktu 25 tahun tersebut. Tingkat pengadaan listrik di negara-negara berkembang akan naik dari 66% pada tahun 2002 ke 78% pad tahun 2030. Namun, jumlah total penduduk yang tidak memiliki listrik hanya akan sedikit berkurang, dari 1,6 milyar ke sedikit di bawah 1,4 milyar di tahun 2030 karena pertumbuhan penduduk yang masih cukup tinggi.1


Gambar 5.1 Jumlah orang tanpa listrik di negara berkembang (jutaan)


Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, dan sebagi bentuk upaya untuk meningkatkan akses ke energi bagi negara-negara berkembang, maka seluruh bentuk energi akan di butuhkan. Ini termasuk batu bara, gas, minyak bumi, nuklir, air, energi pengganti lainnya.


V.2. Peran Batu Bara di Masa Depan

Sebagai bahan bakar yang paling penting untuk membangkitkan listrik dan masukan vital dalam produksi baja, batu bara akan memainkan peran yang penting dalam memenuhi kebutuhan energi masa depan.


Dalam perkembangan selanjutnya, diprediksi kebutuhan batu bara dan peran vitalnya dalam sistem energi dunia akan tetap eksis dan terus berlanjut. Di ramalkan pula bahwa kenaikan kebutuhan pengguanaan batu bara pada masa mendatang, akan dialami oleh negara-negara Asia, dimana Cina dan India saja menguasai 68% dari kenaikan tersebut.2


Sejalan dengan makin berkurangnya cadabngan minyak dunia, sementara kebutuhan akan energi yang berasal dari minyak menunjukan perkembagan yang makin menaik, peran batu bara sebagai sumber enegri pengganti akan makin terlihat.


Dengan ketersediaan cadangan yang melimpah, terjangkau dan tersebar secara geografis, batu bara akan memainkan peran yang sangat vital di dunia. Dengan alasan, pasokan yang dapat diandalkan dari energi yang terjangkau merupakan hal yang penting bagi perkembangan dunia.


Gambar 4.2 Kebutuhan Batu Bara DuniaBerdasarkan Sektot tahun 2002


Gambar 4.3 Kebutuhan Batu Bara Dunia Berdasarkan Sektor tahun 2030


Oleh karena itulah, inovasi teknologi memungkinkan pemenuhan kebutuhan akan energi tersebut, seiring denag makin berkurangnya dampak negaif yang akan diterima oleh masyarakat dunia. Misalkan Eropa, Jepang, AS dan Selaindia Baru telah memiliki program hidrogen aktif dan mempertimbangkan batu bara sebagai pilihan untuk menghasilkan hidrogen tersebut.


1 Sumber daya batu bara: Tinjauan lengkap mengenai batu bara.2004.WCI. halaman: 39

2 Di sarikan dari berbagi sumber.

IV.2.Penggunaan Batu Bara dan Lingkungan Hidup

Konsumsi energi global meningkatkan sejumlah masalah lingkungan hidup. Penggunaan energi batu bara juga tidak luput dari munculnya polusi seperti oksida belerang dan nitrogen (SOx dan NOx), serta partikel dan unsur lain seperti merkuri. Masalah yang baru adalah emisi karbon dioksida (CO2). Lepasnya CO2 ke atmosfer dari aktivitas manusia atau sering disebut emisi antropogenik memiliki keterkaitan dengan pemanasan global. Pembakaran bahan bakar fosil adalah sumber utama dari emisi antropogenik dai seluruh dunia.


Untuk mananggulangi permasalahan yang muncul dari penggunaan batu bara, kemudian muncul clean coal technology (CCT) yang merupakan salah satu teknologi yang mampu meningkatkan kinerja lingkungan batu bara. Teknologi tersebut mengurangi emisi, limbah, dan meningkatkan jumlah energi yang diperoleh dari setiap ton batu bara.


Teknologi juga berbeda berdasarkan jenis batu bara. Pemilihan teknologi tergantung pda tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Teknologi yang mahal dan sangat maju tidak mampu diadopsi oleh negara miskin dan berkembang.


IV.3 Mencegah Terjadinya Hujan Asam

Hujan asam menjadi perhatian dunia mulai dari beberapa tahun yang lalu, pada saat ditemukan pengasaman danau dan kerusakan pohon di beberapa bagian Eropa dan Amerika Utara. Hujan asam disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk drainase asam dari arah hutan yang telah dibuka dan emisi dari pembakaran bahan bahar fosil dalam pengangkutan dan pembangkit listrik.


Oksida belerang dan nitrogen diemisikan pada berbagai tingkat dalam pembakaran bahan bakar fosil. Gas-gas tersebut memberikan reaksi kimia terhadap uap air dan zat-zat lainnya di atmosfir dan membentuk asam yang kemudian mengendap pada saat hujan.


Beberapa tindakan telah diambil untuk mengurangi dampak hujan asam, seperti penggunaan sumber energi lain non-fosil. Selain itu menggunakan batu bara dengan kandungan belerang yang rendah adalah cara yang paling ekonomis. Suatu pendekatan alternatif adalah pengembangan istem pelepasan belerang (FGD-flue gas desulphurisation) gas pembakaran untuk digunakan di pembangkit listrik. Sistem ini mampu menghilangkan emisi hingga 99%.


Oksida nitrogen dapat memberikan kontribusi pada munculnya kabut serta hujan asam. Emisi NOx dari pembakaran batu bara dapat dikurangi dengan menggunakan pembakar ‘NOx rendah’, memperbaiki rancangan pembakar dan menerapkan teknologi yang mengolah NOx pada aliran gas buang. Teknologi Selective Catalytic Reduction (SCR – pengurangan katalitis terpilih) dan selective non-catalytic reduction (SNCR – pengurangan non-katalitis terpilih) dapat mengurangi emisi NOx sekitar 80-90% dengan mengolah NOx pasca pembakaran.


Fluidised Bed Combustion (FBC – pembakaran lapisan terfluidisasi) merupakan suatu pendekatan teknologi maju yang efisien untuk mengurangi emisi NOx amupun SOx. FBC mampu untuk mengurangi sebanyak 90% atau lebih.

IV.4. Mengurangi Emisi Karbon Dioksida

Masalah utama yang menjadi pembicaraan ilmuan seluruh dunia adalah resiko terjadinya pemanasan global. Gas-gas yang terjadi secara alami di atmosfer membantu mangatur suhu bumi dan menangkap radiasi lain atau dikenal sebagai green house effect (efek rumah kaca). Kegiatan manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, menghasilkan gas rumah kaca yang pada akhirnya berakumulasi di atmosfer. Pembentukan gas tersebut menyebabkan terjadinya efek rumah kaca yang dapat menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim.


Batu bara adalah salah satu sumber emisi gas rumah kaca yang ditimbulkan oleh kegiatan-kegiatan manusia. Gas rumah kaca yang terkait dengan batu bara termasuk metana, karbon dioksida, dan oksida nitro. Gas metana keluar dari tambang batu bara dalam, sedangkan karbon dioksida dan oksida nitro keluar dari batu bara yang digunakan untuk membangkitkan listrik atau proses industri seperti produksi baja dan pabrik semen.


Figure IV.2.

Emisi CO2 dari bahan bakar fosil

Langkah pengurangan emisi karbon dioksida dari pembakaran batu bara adalah pengembangan dalam efisiensi termal dari pembangkit listrik tenaga uap. Efisiensi termal merupakan tindakan efisiensi konversi keseluruhan untuk membangkitkan tenaga listrik. Semakin tinggi tingkat efisiensinya maka semakin besar pula energi yang dihasilkan.

Figure IV.3

Efek Rumah Kaca


IV.5 Tangkapan dan Penyimpanan Karbon

Penggunaan batu bara di masa akan datang harus mampu negurangi emisi CO2. Banyak metode yang dilakukan untuk mencapai hal tersebut seperti dengan peningkatan tingkat efisiensi. Salah satu metode yang paling menjanjikan di masa depan adalah Carbon Capture and Storage (CCS-Tangkapan dan Penyimpanan Karbon).


CCS memungkinkan emisi karbon dioksida untuk dibersihkan dari aliran buanga pembakaran batu bara atau pembentukan gas dan dibuang sedemikian sehingga karbon dioksida tidak masuk ke atmosfer. Teknologi yang memungkinkan penangkapan CO2 dari aliran emisi telah digunakan untuk menghasilkan CO2 murni dalam industri makanan dan kimia.


Setelah CO2 ditangkap, penting bahwa CO2 dapat disimpan secara aman dan permanent. Ada beberapa metode penyimpanan.

  1. Karbon dioksida dapat diinjeksikan ke dalam sub permukaan bumi, teknik yang dikenal sebagai peyimpanan secara geologis. Teknologi ini memungkinkan penyimpanan CO2 secara permanen dalam jumlah yang besar dan teknologi ini merupakan opsi penyimpanan yang pernah dikaji secara lengkap. Selama tapak dipilih secara hati-hati, CO2 dapat disimpan untuk waktu yang lama dan dipantau untuk memastikan tidak ada kebocoran.

  2. Minyak tanpa gas dan reservoir gas merupakan pilihan penting untuk penyimpanan secara geologis. Estimasi akhir memperkirakan bahwa lapangan minyak tanpa gas memiliki kapasitas total CO2 sebanyak 126 gigaton. Reservoir gas alam tanpa gas memiliki kapasitas penyimpanan sebanyak 800 gigaton.

  3. Dapat pula disimpan dalam batuan reservoir air garam jenuh dalam sehingga memungkinkan negara-negara untuk menyimpan CO2 selama ratusan tahun. Kapasitas penampungannya diperkirakan berkisar antara 400 - 10.000 gigaton.


Penyimpanan CO2 memiliki manfaat ekonomi dengan meningkatkan produksi minyak dan metan lapisan batu bara. CO2 dapat digunakan sebagai pendorong minyak dari strata bawah tanah. Selain itu penyimpanan CO2 dapat meningkatkan produksi gas metan lapisan batu bara sebagai hasil sampingan yang sangat berharga. Dan sesuai dengan tujuan awal, penangkapan karbon mampu mengurangi CO2 di atmosfer dalam jumlah yang besar.

Kamis, 03 Januari 2008

IV.1. Tambang Batu Bara dan Lingkungan Hidup

BAB IV

BATU BARA DAN LINGKUNGAN HIDUP


Tambang batu bara terutama tambang terbuka memerlukan lahan yang luas. Hal tersebut tentu menimbulkan permasalahan lingkungan hidup eperti erosi tanah, polusi debu, suara, air, serta dampak terhadap keanekaragaman hayati setempat. Perencanaan dan pengelolaan lingkungan yang baik akan meminimalisir dampak yang terjadi.

  1. Gangguan lahan

Dalam praktek yang sesuai aturan, kajian tentang lingkungan hidup daerah disekitarnya dilakukan beberapa tahun sebelum suatu tambang batu bara dibuka untuk mengidentifikasi kepekaan dan masalah-masalah yang mungkin akan terjadi. Kajian tersebut mempelajari dampak pertambangan terhadap permukaan dan air tanah, tanah, dan tata guna lahan setempat, tumbuhan alam serta populasi fauna

  1. Amblesan Tambang

Kondisi ini terjadi dimana permukaan tanah ambles sebagai akibat dari ditambangnya batu bara yang ada di dalamnya.

  1. Pencemaran Air

Acid mine drainage atau drainase tambang asam (AMD) adalah air yang terbentuk dari reaksi kimia antara air dan batuan yang mengandung mineral belerang. Biasanya yang dihasilkan mengandung asam dan sering berasal dari daerah dimana bijih atau kegiatan tambang batu bara telah membuka batuan yang mengandung pirit.

AMD terbentuk pada saat pirit bereaksi terhada udara dan air untuk membentuk asam belerang dan besi terlarutkan. Limpasan asam tersebut melarutkan logam-logam berat seperti tembaga, timbal dan merkuri ke dalam air tanah dan air permukaan.

AMD merupakan permasalahan yang muncul pada tambang batu bara permukaan.

  1. Polusi Debu dan Suara

Selama melangsungkan kegiatan eksploitasi, dampak polusi udara dan suara terhadap para pekerja dan masyarakat setempat dapat ditekan melalui teknik perencanaan tambang modern dan peralatan khusus. Selama kegiatan penambangan, debu dapat ditimbulkan oleh truk-truk yang berjalan di atas jalan yang tidak beraspal, pemecahan batu bara, dan pengeboran.

  1. Penggunaan Gas Metana dari Tambang Batu Bara

Metana (CH4) adalah gas yang terbentuk dari proses pembentukan batu bara. Gas tersebut keluar dari lapisan batu bara dan di sekitar strata yang terganggu selama kegiatan penambangan. Gas metana adalah gas rumah kaca yang potensial, diperkirakan memberikan kontribusi sebesar 18% dari seluruh pengaruh pemanasan global yang timbul dari kegiatan manusia (CO2 diperkirakan memberikan kontribusi sebesar 50%). Batu bara bukan satu-satunya sumber daya yang mengeluarkan gas metana – produksi beras di sawah basah dan kegiatan lainnya merupakan emiten utama – metana dari lapisan batu bara dapat digunakan daripada dilepaskan ke atmosfir dengan manfaat lingkungan hidup yang penting.

Coal mine methane (CMM – metana tambang batubara) adalah metana yang disemburkan oleh lapisan batu bara selama penambangan batu bara. Coalbed methane (CBM – Metana Lapisan Batu Bara) adalah gas metana yang terperangkap pada lapisan batu bara yang tidak atau tidak akan ditambang. Gas metana sangat mudah meledak dan harus dikeringkan selama kegiatan penambangan untuk menjaga keamanan kondisi kerja. Pada tambang bawah tanah yang aktif, sistem ventilasi berskala besar memindahkan udara dalam kuantitas yang besar melalui tambang untuk menajaga tambang agar tetap aman namun juga mengemisi gas metana dalam konsentrasi yang sangat kecil ke atmosfir. Beberapa tambang aktif dan tua menghasilkan gas metana melalui sistem degasifikasi, juga dikenal sebagai sistem drainase gas yang menggunakan sumur-sumur untuk mendapatkan gas metana.

Selain meningkatkan keselamatan pada tambang batu bara, penggunaan CMM meningkatklan kinerja lingkungan hidup dari suatu kegiatan penambangan batu bara dan dapat memiliki manfaat komersial. Gas metana tambang batu bara memiliki berbagai kegunaan, termasuk produksi listrik di tapak dan di luar tapak, penggunaan dalam proses industri dan sebagai bahan bakar untuk menghidupkan ketel.


Metana lapisan batu bara dapat diambil dengan melakukan pengeboran ke dalam dan memecahkan secara mekanis lapisan batu bara yang belum diolah. Sementara CBM digunakan, batu baranya sendiri belum ditambang.

Figure IV.1.

Sumber emisi metana


Tabel IV.1.1

Kandungan per Unit dari Produksi Batubara, dengan teknik pertambangan

(per 1.000 ton produksi batubara)

  1. Rehabilitasi

Tambang batu bara hanya menggunakan lahan untuk sementara waktu, sehingga sangat penting untuk melakukan rehabilitasi lahan segera setelah kegiatan praktek penambangan dihentikan. Dalam proses yang terbaik, rencana rehabilitasi atau reklamasi dirancang dan disetujui untuk setiap penambangan batu bara, sejak awal hingga akhir kegiatan penambangan. Rehabilitasi lahan merupakan satu kesatuan dari kegiatan pertambangan dan biaya rehabilitasi lahan dibebankan pada biaya operasi penambang.


Lahan yang telah direklamasi dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti pertanian, kehutanan, habitat margasatwa, dan rekreasi.


1 World Bank Group, July 1998

Sabtu, 29 Desember 2007

III.10.3 Peluang Ekspor Batubara


Batubara Indonesia mempunyai peluang yang baik di pasaran ekspor, karena batubara Indonesia selain mempunyai nilai kalori yang tinggi 6.000-7000 kcal/kg, juga kandungan abu dan belerang rendah. Peluang tersebut semakin besar, karena didukung oleh besarnya cadangan batubara yang ada di Indonesia... Jepang saat ini mengaku khawatir atas suplai batubara negerinya, sehingga menjajaki kemungkinan impor dari Indonesia. Negara tujuan ekspor batubara Indonesia di antaranya Filipina, Korsel, Taiwan, Thailand, India, Hongkong, Malaysia, Amerika Serikat, Eropa (Spanyol, Belanda, Jerman, Denmark, Inggris, Italia dan Irlandia) dan pasar batubara yang baru yakni Jepang.

Pada 2003, ekspor batubara Indonesia meningkat 15,51% menjadi 85,7 juta ton dari 74,2 juta ton. Hingga Juni 2004 ekspor batubara mencapai 52,9 juta ton. Selama periode 1997-2003 ekspor batubara Indonesia rata-rata meningkat 12,7% per tahun. Perkembangan dan proyeksi batubara Indonesia yang meliputi produksi, konsumsi domestik dan ekspornya secara lengkap terlihat pada Gambar 3.
Peningkatan ekspor ini disebabkan oleh meningkatnya permintaan Jepang, Taiwan, Thailand dan Filipina. Di samping itu, produk batubara Indonesia juga lebih disukai karena mempunyai kualitas super dengan kandungan air yang rendah apabila dibandingkan dengan produk batubara Australia. 

Untuk pasar ekspor, permintaan terhadap batubara Indonesia menunjukkan tren meningkat... Di sisi lain, permintaan dari Jepang, Korea Selatan, India ataupun Eropa juga meningkat sehingga prospek pemasaran batubara Indonesia ke mancanegara sangat menjanjikan.

III.10.4 Pasar Internasional
Dalam rangka pengembangan pemanfaatan batubara baik untuk konsumsi dalam negeri maupun ekspor, dipercepat pemanfaatan batubara kalori rendah yang memiliki sumber daya yang cukup berlimpah di Indonesia. Harga batubara berkisar US$23-US$32 per ton di pasar internasional. Sementara harga jual terbaik saat ini (2005) masih didominasi produksi KPC yang mencapai antara US$50-US$60 per ton karena kualitasnya.
Tingginya harga batubara dunia saat ini telah menyebabkan produsen batubara lebih memilih mengekspornya daripada memenuhi kebutuhan nasional. Akibatnya, stok batubara dalam negeri berkurang... 

Harga batubara 2005 di pasar Asia dan Australia berkisar US$38,89 per ton untuk batubara berkalori 6.300. Hingga akhir tahun 2004 diperkirakan harga masih relatif baik di kisaran US$30-32 per ton. Harga tahun 2002-2003 hanya berkisar US$24 per ton, sehingga banyak perusahaan pertambangan mengurangi kerugian ongkos dari kegiatan sleeping ratio. Kegiatan itu menyebabkan banyak tambang yang seharusnya bisa melakukan penambangan namun tidak bisa melakukan penambangan sehingga produksi menurun.

III.10.1 Cadangan Batubara

Direktorat Batubara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah mengidentifikasi cadangan batubara tertunjuk sebanyak 38.768 juta MT (metrik ton). Dari jumlah tersebut, sekitar 11.484 juta MT merupakan cadangan terukur dan 27.284 juta MT cadangan terindikasi, dengan sekitar 5.362 juta MT yang diklasifikasikan sebagai cadangan yang tereksploitasi.

Sumber daya ini sebagian besar berada di Kalimantan yang menyimpan deposit sebesar 61% (21.088 juta MT), di Sumatera 38% (17.464 juta MT) dan sisanya tersebar di wilayah lain. Kalimantan juga memiliki cadangan deposit thermal coal dengan nilai bakar (calorific values) tertinggi dibandingkan dengan wilayah lainnya di Indonesia. Berdasarkan kualitas, batubara dapat dikategorikan sebagai batubara kualitas tinggi dengan kadar zat terbang (volatile matter) tinggi, sehingga mampu menghasilkan nilai bakar mencapai 7,000 kcal/kg atau lebih. Sementara itu, batubara dengan kualitas rendah disebut batubara muda (brown coal lignite) ditandai dengan kadar air yang tinggi sehingga memiliki nilai bakar hanya sekitar 5,000 kcal/kg atau kurang.

Cadangan batubara Indonesia mayoritas berupa lignite yang mencapai 59%, diikuti sub-bituminous (27%), dan bituminous (14%). Anthracite, batubara terbaik, hanya berjumlah kurang dari 0.5% dari total cadangan. Lignite merupakan batubara yang kurang ekonomis untuk diekspor karena memiliki kadar air yang sangat tinggi (di atas 30%) dan nilai bakar di bawah 5.000 kcal/kg.

Pertambangan batubara Indonesia pada umumnya memproduksi batubara dengan calorific values bervariasi antara 5.000 – 7.000 kcal/kg, dengan kadar abu dan belerang yang rendah. Kadar belerang dalam batubara yang dihasilkan di Indonesia umumnya di bawah 1,0%, menghasilkan emisi gas SO2 yang rendah sehingga dapat digolongkan sebagai batubara ramah lingkungan.

Menurut Agus Sugiyono, seorang peneliti BPPT, Indonesia memiliki cadangan batubara yang besar, jauh melebihi cadangan sumber energi lainnya. Cadangan batubara setidaknya mencapai 36,3 milyar ton, atau setara dengan 137,2 milyar SBM (Setara Barel Minyak). Sementara itu cadangan gas alam Indonesia adalah 137,79 TSCF (Tera Standard Cubic Feet), setara dengan 23,9 milyar SBM dan minyak bumi sebesar 9,1 milyar SBM.

Walaupun batubara mempunyai cadangan yang melimpah, penggunaannya masih sangat sedikit. Dilihat dari rasio cadangan dibagi produksi (R/P Ratio) batubara masih mampu digunakan selama lebih dari 500 tahun. Sedangkan gas alam dan minyak bumi masing-masing 43 tahun dan 16 tahun. Melihat volume cadangan ini, batubara diperkirakan akan mempunyai peran yang lebih besar sebagai penyedia energi nasional.
Produksi Batubara. Produksi batubara Indonesia pada tahun 2004 yang lalu mencapai 127 juta MT, meningkat dari tahun sebelumnya yang berjumlah 120 juta MT. Pada tahun 2005 diperkirakan produksi batu bara Indonesia akan meningkat lagi mencapai 150 juta ton. Perkembangan produksi batubara Indonesia adalah sebagaimana dalam Gambar 2 sebagai berikut
...

III.10.2 Konsumsi Batu Bara Indonesia
Sebagaian besar produksi (67,5%) digunakan untuk memenuhi pasar ekspor ke berbagai negara terutama di kawasan Asia Pasifik, seperti Jepang, Taiwan, Korea dan negara-negara ASEAN. Sisanya sebesar 32,5% digunakan untuk keperluan di dalam negeri antara lain untuk pembangkit listrik, pabrik semen, industri pulp dan lainnya. Pemakaian batubara terbesar adalah untuk industri listrik (PLTU) yang mencapai 20 juta ton, diikuti oleh industri semen sebesar 4,2 juta ton, dan sisanya untuk industri lain.

Penggunaan batu bara diperkirakan meningkat menyusul rencana mengembangkan sejumlah proyek PLTU batubara dalam waktu dekat. Tender pembangkit listrik diutamakan untuk batubara dan gas. Jadi akan ada peningkatan kapasitas [konsumsi domestik] dalam waktu tiga hingga lima tahun ke depan. ...

Konsumsi batubara domestik tahun 2005 diproyeksikan mencapai 45,5 juta ton atau meningkat sekitar 11,8% dibandingkan realisasi penjualan pada 2004. 

Menurut data Direktorat Pengusahaan Mineral dan Batubara, penjualan batubara di pasar dalam negeri pada 2003 sekitar 30,1 juta ton, meningkat 11,8% dibandingkan tahun sebelumnya. ...

Konsumsi batubara Indonesia rata-rata meningkat sebesar 9% per tahun. Diharapkan konsumsi ini akan semakin meningkat dengan naiknya kontribusi batubara di dalam energy mix untuk mengurangi ketergantungan akan BBM yang saat ini cadangannya semakin menipis serta untuk optimalisasi pendapatan negara dari migas bagi kelangsungan pembangunan. Namun, pengembangan pemanfaatan batubara dalam negeri masih terkendala dengan keterbatasan infrastruktur pendukung terutama dalam hal transportasi dan distribusi. Disamping itu, harga jual batubara dalam negeri yang lebih rendah dibandingkan harga di pasar internasional menyebabkan produsen batubara lebih menyukai pasar luar negeri dibandingkan pasar dalam negeri.

Oleh karena itu, guna menjamin ketersediaan batubara untuk keperluan domestik, maka perlu keamanan suplai karena dapat berdampak kepada terganggunya kegiatan sektor lainnya terutama pasokan batubara untuk pembangkit listrik. Pada awal 2005, harga batubara di pasar internasional meningkat cukup tajam. Tingginya harga tersebut terkait dengan naiknya konsumsi batubara pada hampir semua negara konsumen terutama Cina dan dampak dari tingginya harga minyak di pasar internasional (sejak terjadinya perang di Irak) sehingga banyak industri yang beralih dari minyak kepada gas dan batubara. 

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam