Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Kamis, 07 Februari 2008

kasus kegagalan implementasi ERP

Kasus foxMeyer: kegagalan pengimplementasian ERP


Karena kompetisi yang ketat, FoxMeyer membutuhkan solusi yang tepat yang akan membantunya untuk membuat rantai keputusan yg rumit dan meningkatkan penekanan cost. Di awal 90an, manajemen memutuskan untuk memfokuskan strategi bisnis pentransferan perusahaan ke dalam low distributor untuk meningkatkan


competitive advantage dan secara bersamaan menyediakan jasa terdiferensiasi untuk target customer yg berbeda. Berdasarkan pada supply chain analysis, Ia memutuskan bahwa ERP akan memberikan solusi terbaik pada FoxMeyer untuk menyediakan informasi yg tepat waktu, otomatis dan mengintegrasikan system sediaan (inventory).


Ini diperkirakan akan mengeliminasi aktivitas yang tidak penting, membangun tingkat inventory yg tepat dan menyediakan responsive customer services. Idealnya, dengan ERP system, perusahaan akan mampu memanage pesanan, sediaan, dan aktivitas penjualan dalam satu system yang expected to streamline operations and menyediakan distribusi yg efisien dari resep obat yg merupakan komponen penting dari sebuah industri farmasi.


Di tahun 1992, perusahaan memutuskan untuk menggunakan jasa Arthur Andersen

consulting company untuk mengimplementasikan SAP (R/3), sebuah soft ware ERP (menggunakan their Anderson Consulting Group). FoxMeyer memilih top consultant dan menggunakan software yg paling banyak digunakan untuk menjamin kesuksesan implementasi.


SAP (systemanalyse and programmentwicklung) adalah vendor ERP terbesar pada saat itu. Di tahun 2001, SAP masih merupakan supplier software terbesar di dunia dan merupakan vendor soft ware terbesar keempat di dunia. Software ini membantu perusahaan menghubungkan proses bisnisnya sehingga keseluruhan perusahaan bias berjalan lancar. Pada awal th 1990an R/3 merupakan komoditas yg sedang hot. FoxMeyer seperti perusahaan lainnya, ikut menggunakan software tsb. Karena reputasinya dank arena rekomendasi konsultan.


The consultant_Andersen Consulting

Andersen hingga saat ini memiliki lebih dari 15000 konsultan IT yg didedikasikan untuk membantu klien dlm memperbaiki hasil bisnisnya dg mengimplementasikan solusi IT. Kekuatan global capability Andersen dlm kaitannya dengan SAP yaitu mengaplikasikan metodologi dan sarana yg ditawarkan kpd kliennya dg pengimplementasian SAP. Sarana-sarana yg digunakan oleh Andersen selalu konsisten dengan pendekatan SAP dan sesuai (complementary) dg SAP. Dg kata lain, Andersen seakan-akan menjadi konsultan tg paling dapat dipercaya untuk pengimplementasian SAP system.



THE IMPLEMENTATION OF SAP R/3 AT FOXMEYER

Pada September 1993, FoxMeyer menandatangani kontrak dengan SAP, Andersen Consulting and Arthur Andersen & Co. (AA), the parent company of Anderson Consulting, untuk mengimplementasikan R/3 software. Proyek jutaan dollar ini meliputi seluruh supply chain—penggudangan, inventory control, customer service, marketing,

strategic planning, information system, pengiriman dan handling. SAP R/3 adalah system informasi yg pertama kali diloncingkan di industry farmasi yg menggunakan teknologi extensive di rangkaikan dengan fungsi gudang automatis.


Cost untuk pengimplemantasian SAP dianggarkan pd 1994 sebesar US$65 juta. Anggara ini meliputi:

US$4.8juta client/server computer system dari Hewlett Packard,

US$4juta SAP software,

beberapa juta dollars untuk biaya konsultasi kpd Andersen Consulting,

US$18juta untuk 340,000 square-foot baru computerized warehouse di

Washington Court House, Ohio, yg mana computerized robots filled orders received

dari rumah sakit dan apotik.


The ERP system diproyeksikan untuk menghemat US$40juta per tahun di FoxMeyer. Pada musim panas 1994, FoxMeyer menandatangani kontrak distribusi besar yg dibutuhkan untuk menambah 6 gudang. SAP and Anderson menjadwalkan impleementasi di gudang tsb untuk January and February 1995.


Kemudian mereka berencana untuk mengimplementasikan R/3 di 17 gudang lama. Namun demikian, di bln November 1994, SAP menginformasikan kpd FoxMeyer bahwa R/3 hanya bias diimplementasikan di gudang barunya saja. Gudang lain yg memiliki volume faktur yg lebih besar daripada system ini dapat diproses. The R/3 system pada gudang yg baru bisa menangani 10000 transaksi per hari, sedangkan system yg sebelumnya dapat menangani 420,000 transaksi per hari. FoxMeyer memulai penggunaan R/3 tepat pada saat fasilitas dan pesanan pelanggan terpenuhi. Namun demikian, karena kesalahan data, customers sales histories menjadi tidak accurate. On top of that the physical move of inventory was done carelessly.


Therefore, the benefits from forecasting inventory needs was limited. FoxMeyer harus mengeluarkan sekitar US$16juta untuk memperbaiki kesalahan dalm pesanan selama 6 minggu pertama. Maka dari itu, FoxMeyer hanya merealisasikan penghematan setengah dari yg telah diproyekkan. Beberapa masalah tidak dapat diperbaiki, memaksa dan yg terlihat berikutnya adalah kebangkrutan. Tagihan Implementasi terakhir lebih dari US$100juta, tetapi kinerja R/3 masih tak bias diterima. R/3 bekerja dg lambat, melebihi anggaran, dan gagal mengirimkan keunyungan yg diharapkan.


Untuk sebuah perusahaan dlm bisnis yg bermargin rendah, dg beban hutang yg banyak, kerugiannya menjadi berlimpahan/ banyak sekali. Setelah mengeluarkan US$34juta untuk menutupi pengiriman yg blm terkumpul dan cost sediaandi th 1996, FoxMeyer terpaksa mengajukan pernyataan bangkrut. FoxMeyer mengalami beban pengeluaran yg sangat banayk untuk membeli computer baru, software dan konsultan. Di bln November 1996, McKesson Corp., pesaing terbesar FoxMeyer mengakuisisi FoxMeyer hanya seharga US$80juta.


Pada tahun 1998, dewan pengawas (trustee) kebangkrutan FoxMeyer mengeluarkan dua tuntutan terpisah masing-masing US$500juta, tuntutan tsb diajukan kepada SAP dan Andersen Consulting. FoxMeyer menuduh SAP telah berbuat curang, lalai dan melanggar kontrakuntuk menawari FoxMeyer untuk berinvestasi pada system yang gagal mengirim dan menyebabkan Kematian FoxMeyer. Andersen Consulting dituduh lalai dan melanggar kontrak karena kegagalannya untuk memanage implementasinya dengan baik. Keduanya menyangkal dan menyalahkan FoxMeyer atas kesalahan management nya(mismanagement). The cases were still in court

the time this case was written (summer 2001).


6. POOR PLANNING AND IMPLEMENTATION(perencanaan dan implementasi yang jelek)

kegagalan ERP dapat dilihat dari dua perspektif:

(1) Jeleknya pemilihan software—SAP R/3 was originally designed for manufacturing

companies and not for wholesalers, especially those doing large number

of transactions. R/3 has never been used by a distributor until that time.

It lacked many requirements needed for successful wholesale distribution.

SAP R/3 was inflexible software, and any modification required time and fi-

nancial investment. R/3 was unable to handle the large number of orders.

FoxMeyer filled orders from thousands of pharmacies, each of which have

had hundreds of items, totalling up to 500,000 orders per day. The legacy

system handled 420,000 orders per day, but SAP only processed 10,000

orders daily ( 2.4% of that of the legacy system).


(2) Tidak mempertimbangkan nasihat konsultan lain—FoxMeyer did not listen to

other consultants’ advice in the early stage of the project, A Chicago-based

consultant firm warned FoxMeyer that SAP would not be able to deliver

what FoxMeyer needed. FoxMeyer selected SAP mainly because of its

reputation.


(3) kurangnya perencanaan terhadap kemungkinan yang akan terjadi (contingency planning)—there was no contingency planning to deal with

changes in the business operations. For example, a major customer, Phar-

Mor Inc. that accounted for more than 15% of FoxMeyer’s business,

declared bankruptcy shortly after FoxMeyer’s launched SAP. Much of the

Phar-Mor business was gone to competitors.


(4) Tidak adanya keterlibatan pengguna akhir(No end user involvement)—The project was done using a top-down approach.

Perencanaan dilakukan oleh manajemen atas (upper management) FoxMeyer, Andersen consulting dan orang-orang teknis lainnya. Hanya sedikit end user yg berpartisipasi di dalam analisis dan proses desain. Sehingga ada jurang pemisah komunikasi antara pengguna dengan perencana system.


Process implementasi diserang oleh masalah –masalah berikut ini:

(1) Tidak ada restukturisasi proses binis yg dikerjakan(No restructuring of the business process was done)—SAP was not fully integrated

because FoxMeyer was incapable of reengineering their business processes

in order to make the software more efficient. FoxMeyer signed a 5-year,

US$5 billion contract with a new customer, University HealthSystem

Consortium in July 1994, on the assumption that a projected US$40m in

benefits from the SAP implementation would be materialized. They placed a

higher priority on meeting that customer’s need than on making the SAP

implementation success. The delivery was scheduled to start in early 1995,

but FoxMeyer pushed the implementation deadline forward 90 days to meet

their customers needs. Thus, FoxMeyer sacrificed the needed business reengineering

processes.


(2) Pengujian yang tidak mencukupi(Insufficient testing)—Due to the rushed schedule, some modules testing was

skipped. Besides, the system was not properly tested to identify its shortcoming

in handling large amounts of orders. There was inadequate testing

and insufficient time to debug the system to ensure its functionality.


(3) Jangkauan proyek yg terlalu ambisius(over ambitious project scope)—the project team members and information system

staff were unfamiliar with the R/3 hardware, systems software and application

software. The project scope was enlarged with simultaneous implementation

of a $18m computerized warehouse project. Some technical

problems of great complication and were not managed well by the IS people,

so additional expenditures and time were incurred.


(4) Kepentingan pribadi spesialis IT yang mendominasi (Dominance of IT specialists’ personal interes)t—since the project was new for the

wholesaling industry, the IT specialists wanted to learn the system and secure

their employment in the SAP technology business. (The SAP experience

made them more employable). They placed their personal interest of getting

experience in SAP implementation over the company’s interest in getting

suitable software technology. So some system problems were hidden and not

reported to management until it was too late.


(5) Rendahnya dukungan management(Poor Management support)—initially management were supportive and committed to the project. However, once the implementation started, management was reluctant to acknowledge the system problems. Management failed to understand the complexity and risks in the process and agreed to have 90 days early implementation although the system was not fully tested. Management failed to recognize the timelines and resources required in the implementation process.


(6) Kurangnya kerjasama end user (lack of end-user cooperation)—the user requirements were not fully addressed

and there was no training for end users. Employees had no chance to express

their priorities and business needs. Workers especially at the warehouses

were threatened by the implementation. The automated warehouse

created many problems. Employee morale was low because of the layoffs.

They knew their jobs were soon to be eliminated. As the end users were not

fully involved, they felt they didn’t have the ownership for the project and

did not work closely with the IT specialists to solve problems.


Pelajaran yg dpt diambil- bagaimana menghindari kegagalan seperti itu

Planning

  1. Pemilihan software

  2. Contingency plan

  3. Keterlibatan stakeholders

Implementasi

  1. pencantuman pentingnya business process reengineering

  2. pengujian dengan teliti

  3. jangkauan proyek yang realistis

  4. mencari dukungan end user

  5. Pemonitoran yang dekat terhadap status proyek

  6. mengadakan review implementasi.


Rabu, 06 Februari 2008

Sejarah PEREKONOMIAN AMERIKA SERIKAT


  • Awal Perkembangan Amerika

Pembentukan koloni di Amerika Serikat dimulai dengan merapatnya kapal Mayflower dari Inggris . Pada masa itu terjadi migrasi kaum Puritan dari Inggris ke Eropa dan Amerika. Pencetus dari ide migrasi ke Amerika adalah William Laud. Kaum puritan tersebut mendirikan koloni di New England yang disebut dengan ‘the holy commonwealth”, koloni tersebut berkembang pesat. Pada tahun 1640 kaum Puritan di New England telah mendirikan 35 gereja.

BACA DENGAN KRITIS!

LIHAT:

» Krisis Kredit Global

1 Okt 2008 ... Setelah perang berakhir, perekonomian Amerika Serikat mulai bergeser ... Mereka yang memiliki sejarah kredit macet dan pendapatan rendah ...

» Menggugat Kejujuran Pengusung Ekonomi Kapitalisme

Padahal disisi lain, kritik terhadap ekonomi kapitalisme justru bermunculan .... dominan dan seruan dogmatis yang mewakili “reputasi sejarah” ideologi-ideologi itu, ... Ia mulai membedah kapitalisme dengan mempersoalkan Amerika Serikat, ...

» Sistem Ekonomi Islam

30 Jan 2009 ... Sistem Ekonomi Islam. Sebagaimana diketahui, krisis keuangan global telah meletus dari Amerika Serikat, kemudian meluas ke negara-negara ...

» Ekonomi

Dalam sejarah ekonomi, ternyata krisis sering terjadi di mana-mana ... kita berada ditengahnya Ini berawal dari sumber malapetaka dunia – Amerika Serikat. ...

» Akhir Ekonomi Kapitalis?

1 Des 2008 ... Amerika Serikat (AS) yang selama ini menjadi barometer ekonomi dunia dilanda .... Fakta sejarah telah tebukti dengan kemajuan yang dicapai ...

The Cambridge Platform (1648) menandai dominasi kaum Puritan dalam segi kehidupan di New England. Perkembangan Puritanism diperlambat dengan ekspansi oleh New England (pembukaan beberapa koloni baru di New England). Masyarakat koloni baru tersebut makin beragam dan memiliki corak yang resourceful, secular dan mampu bertahan dalam lingkungan yang sulit. Pada tahun1692 sebuah piagam di Massachusetts menyatakan tentang perubahan dari theocratic menjadi political ,secular state dan hak pilih dikeluarkan dari kualifikasi keagamaan. Beberapa tokoh Puritanism di New England antara lain Thomas Hooker, John Cotton, Roger Williams, Increase Mather dan Cotton Mather.


Pada abad ke 17, pengaruh politik Puritanism mulai menghilang akan tetapi karakteristik dan kemampuan masyarakat Puritan tetap melekat dan berpengaruh dalam masyarakat Amerika. Beberapa karaskteristik kaum Puritan yang mampu mendorong kesuksesan ekonomi antara lain, kepercayaan diri (self reliance), hemat (frugality), industri dan energi. Karakterstik tersebut nantinya akan berpengaruh pada kehidupan sosial ekonomi modern. Minat tinggi kaum Puritan terhadap masalah pendidikan merupakan hal yang penting dalam perkembangan USA serta ide kaum Puritan tentang perkumpulan demokrasi gereja menjadi cikal bakal perkembangan demokrasi modern.

  • Pemikiran Ekonomi Amerika:

    • Background

Pengaruh pemikiran ekonomi Inggris di Amerika yang kental telah memberi corak kapitalis pada perekonomian Amerika. Selain itu, berbagai peristiwa yang telah dilalui USA memberi warna tersendiri dalam perkembangan perekonomiannya. Perristiwa itu antara lain perekonomian yang terjadi saat USA masih berupa daerah-daerah koloni (colonial economy), awal dari kapitalisme modern, perjuangan kemerdekaan, Civil War , pertumbuhan pesat pasar domestic dan ekspansi ke wilayah-wilayah baru.


Pemikiran ekonomi awal Amerika tidak menunjukkan suatu kekhasan dari suatu pemikiran. Beberapa pemikiran tersebut mengulas tentang masalah-masalah umum atau perdebatan ekonomi yang ada di Inggris dan Perancis. Tetapi tidak seluruhnya demikian, Roger Williams mengemukakan prinsip ‘coorporate freedom’ yang memadukan antara keinginan pemilik(divine commands) dengan kepentingan perdagangan (needs of commerce). William Penn, salah satu relasi Sir William Petty menganalisa hubungan antara ekonomi koloni dan kota (metropole). Pada masa ini, Penn dengan beberapa pemikir lainnya mencetuskan pemikiran yang disebut sebagai recurrent leitmotiv : reformasi moneter, kepercayaan pada kredit dan uang kertas.


Benjamin Franklin (1706-1790) merupakan salah satu pemikir politik ekonomi meskipun tidak dapat disebut sebagai ekonom murni. Franklin lebih terkenal dengan pandangan dan pemikirannya dalam masalah politik. Buku pertamanya yang diterbitkan ketika dia berusia 23 tahun, A Modest Inquiry into the Nature and Nacessity of Paper Currency memuat pernyataannnya tentang value yang hampir mirip dengan pernyataan Petty dalam Treatise.


Buku lainnya Observations Concerning the Increase of Mankind (1751), Franklin bergabung dengan penulis-penulis lain yang mencoba mengantisipasi pandangan/teori Malthus tentang pertumbuhan. franklin menulis beberapa tulisan ekonomi dalam beragam topic. Keseluruhan tulisannya menggambarkan bahwa Franklin adalah orang yang cerdas dan pragmatis.


Pada masa Post-Revolutionary terjadi kesulitan fiscal dan moneter yang membuat Confederation melakukan berbagi diskusi dan pencetakan literature tentang masalah ini. Alexander Hamilton dan Albert Gallatin adalah dua penulis yang terkenal pada masa itu. Mereka berdua adalah sekretaris keuangan Thomas Jefferson. Sedangkan Thomas Jefferson sebagai ahli sosial politik hanya sedikit mengulas tentang masalah ekonomi.


Diperlukan waktu tiga decade untuk memunculkan masalah ekonomi msebagai salah satu isu utama. Revolusi industri di Inggris yang mengacu pada perekonomian Klasik Smith, Say dan Ricardo pada awalnya tidak begitu diminati. Hingga pada tahun 1830 negara bagian Atlantic mulai mengembangkan sektor industri dan pembukaan daerah Barat, studi tentang politik ekonomi mulai diperkenalkan dan diajarkan di college dan universitas.


Pemikir ekonomi amerika antara lain: John Rae, melalui bukunya Statesment of Some New Principles on the Subject of Political Economy, etc. (1834), dia menolak doktrin free trade dalam Wealth of Nations dan aspek sosiologi dari teori capital.


Henry C. Carey (1793-1879) seorang penganut paham Klasik dan free trader pada akhirnya nanti seperti Ficthe dan List akan mengubah pandangannya tentang perekonomian. Dalam Principles of Political Economy dan beberapa tulisannya menyatakan tentang labor theory of value dan kepercayaannya tentang kemungkinan terjadi penambahan posisi dalm kelas pekerja. Carey dapat juga disebut sebagai salah satu penemu ‘nationalist school’ yang mengenalkan tentang proteksi. Dimana proteksi akan menjadi bagian penting dalam perkembangan Amerika.

Akhir Civil War sangat berpengaruh terhadap perkembangan pemikiran ekonomi USA. Minat untuk mempelajari ilmu ekonomi makin tinggi, berbagai literature tentang ekonomi diterbitkan dan peningkatan ahli-ahli di bidang ekonomi. Revolusi Amerika yang kedua yaitu makin meluasnya industri manufaktur dan perkembangan kapitalisme modern.


Dua hal tersebut menciptakan kelas buruh, peningkatan pasar dalam negeri, dan percepatan pembangunan di wilayah Barat (West). Masa yang pernah juga melanda Eropa pada beberapa periode. seluruh keadaan itu makin mendorong aktivitas perekonomian pemerintah dan masalah pengambilan kebijakan ekonomi.



  • Marginalist School

Tokoh yang terkenal dari aliran ini adalah John Bates Clark (1847-1938). Clark menjelaskan tentang prinsip marginal utility dan aplikasinya dalam masalah produksi dan distribusi. Clark menhabiskan waktu dua tahun di Jerman dan menjadi murid dari Roscher dan Knies, teologi dan etika akan mewarnai tulisan-tulisan Clark selanjutnya.


Tahun 1877 dan 1882 Clark menulis artikel berseri untuk New Englander, tulisan tersebut kemudian direvisi dan diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul The Philosophy of Wealth. Buku ini mencantumkan formulasi tentang prinsip marginal utility dan ketidaksetujuannya terhadap politik ekonomi klasik. Poin utama yang ditentang Clark adalah: Clark juga mengenalkan tentang ‘social value’


Minggu, 03 Februari 2008


  1. Gejala Deindustrialisasi
Yang dimaksud dengan deindustrialisasi adalah menurunnya peran industri dalam perekonomian secara menyeluruh. Deindustrialisasi ditandai dengan penurunan absolut dalam aktivitas industri manufaktur, khususnya bila diukur dari penyerapan lapangan kerja dan penurunan unit usaha dalam suatu daerah dalam jangka panjan. Studi Kuncoro (2007) menunjukkan gejala deindustrialisasi sudah mulai terlihat terutama di sentra-sentra industri padat karya dan di daerah yang rawan bencana gempa seperti DIY.

Tabel 2 menunjukan adanya penurunan jumlah penduduk yang bekerja di sektor industri pasca tahun 1994. Penyebab dari deindustrialisasi ini bisa karena adanya perubahan pola spesialisasi internasional. Penyebab lain dari deindustrialisasi adalah hilangnya keunggulan kompetitif dari sektor industri suatu negara.

Tabel 2. Persentase Penduduk Yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama, 1971-2006 (Persen)
Sektor
1971
1980
1985
1990
1994
2003
2006
1. Pertanian
67,04
56,30
54,72
50,43
46,22
46.38
44.47
2. Pertambangan & Penggalian
0,21
0,76
0,67
1,01
0,90
0.79
1.00
3. Industri Pengolahan
6,92
9,14
9,29
11,53
13,24
12.39
12.16
4. Listrik, Air dan Gas
0,09
0,13
0,11
0,20
0,22
0.16
0.22
5. Bangunan
1,72
3,23
3,36
4,13
4,34
4.37
4.60
6. Perdagangan
10,96
13,04
14,98
14,87
17,05
18.59
19.50
7. Transportasi & Komunikasi
2,42
2,87
3,14
3,69
4,12
5.32
5.74
8. Perbankan, Keuangan, Jasa
0,23
0,59
0,40
0,96
0,76
1.41
1.21
9. Pelayanan umum & Jasa lain
10,40
13,95
13,33
13,18
13,13
10.60
11.11
Jumlah
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100.00
100.00
Total Kesempatan Kerja (ribu jiwa)
39.210
51.553
62.456
70.891
81.903
92.810
95.177
Sumber : Biro Pusat Statistik, berbagai tahun


  1. Rendahnya Utilitas Kapasitas Produksi
Tingkat penggunaan kapasitas produksi untuk seluruh sektor industri nampaknya belum pulih seperti sebelum periode krisis ekonomi. Tabel 3 menunjukkan rata-rata tingkat utilitas kapasitas produksi industri Indonesia hanya sekitar 64-66%. Untuk beberapa subsektor memang mengalami kenaikan, yaitu tekstil dan produk tekstil, alat transportasi darat & kedirgantaraan, maritim, logam, mesin, telematika & elektronika, makanan, hasil hutan & perkebunan, dan kimia hulu. Namun, utilitas kapasitas produksi untuk industri aneka, minuman menunjukkan tren penurunan.

Tabel 3. Tingkat Utilisasi Kapasitas Produksi Sektor Industri
No.
Sub Sektor Industri
2003
2004
2005*)
1.
Logam
57.9
63.5
59.4
2.
Mesin
57.3
58.8
61.4
3.
Tekstil dan Produk Tekstil
69.2
70.6
71.7
4.
Aneka
61.2
63.1
60.3
5.
Alat Transport Darat & Kedirgantaraan
39.7
36.5
40.7
6.
Maritim
50.2
50.8
52.3
7.
Telematika & Elektronika
67.2
68.0
68.3
8.
Makanan
62.0
63.9
65.0
9.
Minuman & Tembakau
68.3
68.5
66.9
10.
Hasil Hutan & Perkebunan
71.3
74.6
74.7
11.
Kimia Hulu
77.4
77.9
86.7
12.
Kimia Hilir
77.3
77.8
79.8

Rata – rata Sektor Industri
63.3
64.5
65.6
Sumber: Departemen Perindustrian (2005)
  1. Ketergantungan Ekspor Industri Berbasis SDA dan Buruh Murah
Hal yang cukup memprihatinkan adalah adanya indikasi mulai melemahnya daya saing Indonesia sejak tahun 1992. Salah satu sebab utamanya adalah masih terkonsentrasinya produk ekspor nonmigas yang tergolong hasil dari industri yang padat sumberdaya alam (NRI) dan berbasis tenaga kerja yang tidak terampil (ULI). Struktur ekspor nonmigas Indonesia telah berubah berdasarkan intensitas input (factor intensity), yang dikelompokkan menjadi 5 kategori, yakni: (a) NRI (Natural Resource Intensive), (b) ULI (Unskilled Labour Intensive), (c) PCI (Physical Capital Intensive), (d) HCI (Human Capital Intensive), dan (e) TI (Technological Intensive).n Tabel 4 menjelaskan struktur ekspor nonmigas Indonesia menurut klasifikasi tersebut.
Tabel 4. Ekspor Nonmigas Menurut Kategori: Indonesia, 1994-2003 (%)
Kategori
1994
1997
2000
2001
2002
2003
HCI
11,9
13,7
11,7
12,4
13,4
13,8
TI
13,0
18,6
26,0
24,9
25,8
24,7
NRI
24,5
20,7
10,2
10,7
10,6
10,1
PCI
5,3
10,0
15,2
13,2
14,7
14,9
ULI
45,3
37,0
36,9
38,9
35,6
36,5
Total
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
100,0
Nilai Ekspor
(juta US $)
20,516
22,454
36,448
31,977
31,323
31,645
Sumber: Dihitung dari BPS, Trade Statistics, berbagai tahun
Catatan: NRI: SITC 53, 63, 66 (except 664, 665, 666)
ULI: SITC 65, 664, 665, 666, 81-85, 89, (except 896, 897)
PCI: SITC 51, 52, 67, 71, 72, 73, and 75, 751
HCI: SITC 55, 62, 64, 69, 775, 78, 79, 885, 896, and 897

Agaknya Indonesia harus mulai bersiap-siap menyongsong tahapan keunggulan komparatif yang lebih tinggi, yaitu ke sektor padat teknologi (TI) dan padat tenaga ahli (HCI). Ini terbukti di kala pertumbuhan ekspor nonmigas kita mengalami penurunan selama 1993-1995, produk yang justru menanjak pertumbuhannya (setidaknya pertumbuhan nilai ekspornya 50% dan nilai ekspornya minimum US$ 100 juta) adalah produk dari industri TI dan HCI.
Di antara produk ekspor yang naik daun adalah barang-barang elektronik, kimia dan mesin nonelektronik termasuk peralatan telekomunikasi, komputer dan komponennya. Menariknya, hampir semua produk tersebut memiliki rasio impor kurang dari 1, yang menunjukkan betapa produk-produk tersebut tidak memiliki kadar kandungan impor yang tinggi.

  1. Lemahnya Penguasaan dan Penerapan Teknologi
Lemahnya penguasaan dan penerapan teknologi karena industri kita masih banyak yang bertipe “tukang jahit” dan “tukang rakit”. Ini terlihat jelas dalam industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) dan industri elektronika. Industri TPT masih menggunakan alat-alat tradisional dan mesin tua dengan usia di atas 20 tahun (lihat Tabel 5. Padahal kedua sektor ini merupakan industri yang padat karya. Meningkatnya upah minimum di berbagai daerah Indonesia menyebabkan Indonesia mulai kehilangan pijakan untuk industri yang berbasis buruh murah.

...

Tabel 5. Jumlah Mesin Industri TPT Nasional Usia di Atas 20 Tahun
Jenis Industri
Satuan
Jumlah Mesin
>20 tahun
%
Pemintalan
mata pintal
7.803.241
5.025.287
64.4
Pertenunan
alat tenun mesin
248.957
204.393
82.1
Perajutan mesin rajut
41.312
34.743
84.1
Finishing unit
349
325
93.2
Pakaian jadi mesin jahit
290.854
228.854
78.0
Sumber: Harian Bisnis Indonesia (Februari, 2007)
  1. Penyelundupan
Penyelundupan membuat industri Indonesia makin terpuruk. Berdasarkan total konsumsi TPT (Tekstil dan Produks Tekstil) dalam negeri dikaitkan dengan total penjualan produk TPT di dalam negeri (baik produksi DN maupun impor), maka dapat diperkirakan jumlah impor illegal sebagaimana tergambar dalam Tabel 6 Dari tabel di atas terlihat bahwa impor ilegal dari tahun 2001-2005 terus meningkat secara tajam, terutama antara tahun 2004-2005 meningkat sebesar 281% dari segi volume dan 136% dari segi nilai barang. Di samping itu bila diperhatikan antara volume impor dengan nilai impor dari 2001 s/d 2005 pada kenyataannya indikasi barang-barang yang diimpor merupakan kualitas rendah.
Tabel 6 Estimasi Impor Legal dalam Industri TPT, 2001-2005
Uraian (ribu ton)
Tahun
2001
2002
2003
2004
2005
Konsumsi domestik (ribu ton)
888
839
820
882
836
Penjualan Produk DN (ribu ton)
844
604
557
658
337
Impor legal (ribu ton)
43
41
25
30
45
Impor ilegal (ribu ton)
1
194
238
195
454
Nilai impor illegal (US$ juta)
1,4
446,2
1.047,2
1.696,5
2.301,6
Sumber: Sekretariat BPN API (2007)

Di samping estimasi atas impor illegal di atas, bila dilihat data-data statistic EXIM antar negara dari United Nation pada tahun 2004 khususnya dari China dapat digambarkan adanya perbedaan yang sangat mencolok antara ekspor TPT China ke Indonesia dan impor TPT dari China ke Indonesia sebesar US$ 44,354 juta untuk beberapa nomor-nomor HS yang dapat diindikasikan sebagai impor illegal sebagaimana terlihat pada Tabel 7

Tabel 7 Diskrepansi Impor-Espor TPT, 2004
Uraian
Volume
(ton)
Nilai
(US$ juta)
1. Impor TPT dari China ke Indonesia
912,8
11,599
2. Ekspor TPT China ke Indonesia
N/a
55,953
Sumber: UN Statistic Div dalam Sekretariat BPN API (2007)
Permasalahan Industri Indonesia Pasca Krisis

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam