Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Minggu, 12 Februari 2012

Hadiah Kasih Sayang Istimewa Untuk Sahabat Remaja

Hadiah Kasih Sayang Istimewa Untuk Sahabat Remaja

Beberapa hari lagi Valentine’s Day, pasti kamu udah pada heboh,  termasuk kamu yang ngaku  remaja beragama Islam, wara-wiri nyiapin segala hal yang bernuansa merah jambu; balon pink, pita warna-warni, kostum spesial, minyak wangi juga acsesoris pink lainnya. Nggak lupa kostum pesta VD yang oke punya. Ngedate di tempat nongkrong yang nggak bikin bete. Yang paling ‘wajib’ kado isti­mewa buat yayang  tercinta alias sang kekasih pujaan hati. Pokoknya, setiap tanggal 14 Feb­ruari, nyaris seluruh remaja sejagat ngerayain hari “pink” sedunia, yang memang full of love ini. ‘hari raya’ besar nan global, hajatan resmi sedunia.

Beragam ungkapan rasa cinta biasa diwujudkan. Lewat kata, juga dengan tulisan. Malah ada yang bilang kalo cinta juga bisa dikatakan dengan bunga (apalagi bunga deposito, yang matre pasti bakalan ijo matanya). Cinta, ada yang bilang, bisa diung­kapkan dengan puisi. Seperti Romeo and Juliet, kata orang kisah cinta yang paling romantis dalam sejarah peradaban manusia. Sehingga banyak yang pengen ngambil ‘hikmah`nya.

Hari itu, Semua orang di seluruh dunia merasa wajib untuk memberikan perhatian yang lebih terhadap orang-orang yang dikasihinya. Mereka merasa terpanggil untuk menumpahkan kasih sayangnya. Meski sebetulnya yang terjadi kemudian adalah ajang baku syahwat yang sangat liar.

14 Februari dianggap sebagai waktu yang tepat untuk mencari pasangan dan hari khusus untuk para pasangan menumpahkan kasih sayangnya pada kekasih hatinya. Pada bulan musim semi ini, burung-burung biasanya mulai mencari pasangan dan Dewa Cupido, dewa yang berbentuk anak kecil bersayap mulai mengarahkan anak panahnya pada hati muda-mudi. Orang mulai saling menunjukkan ungkapan kasih sayang kepada kekasihnya melalu Kartu Valentine, memberi coklat kepada orang yang di kasihi, bertukar kado kepada pasangan atau teman, bunga-bunga warna merah dan merah muda, tidak hanya pada kekasih tetapi juga pada teman, keluarga, atau orang-orang yang dihormati dan dikasihi, bahkan ada yang merayakannya untuk saling memadu kasih, berpesta,dsb.

Nah, saking istimewanya hajatan Valen­tine’s Day, jelang bulan Februari, hampir semua stasiun televisi bikin acara yang ada sangkut-pautnya dengan urusan cinta. Mulai dari film yang bertema cinta, realiti show yang menggeber aksi muda-mudi mengumbar syahwat. Lagu-lagu bernuansa cinta menambah indah suasana. Lagu jadul tapi tetap ‘abadi’ macam Endless Love diputer kenceng-kenceng di radio. Di tambah simbol-simbol or iklan-iklan promosi valentine bergambar hati warna pink. Konon Februari adalah bulan cinta, bulan yang penuh nuansa merah jambu, bulan berbagi kasih.
 Sekarang ini, kebanyakan remaja merasa bahwa VD adalah hari paling pas buat mencurahkan kasih sayang sama pacarnya. VD adalah momen yang tepat untuk ngebuktiin cintanya kepada sang kekasih. Kesetiaan bakalan terukur di hari penuh bahagia itu. Siapa yang peduli sama gandengannya, dialah yang setia setiap saat (Rexona kali…). Pokoknya sehidup semati deh.

Nah, itu dia yang bikin banyak teman remaja yang udah heboh sejak awal bulan Februari ini. Seperti bakal menyambut tamu agung aja. Nggak rela rasanya kalo hari kasih sayang itu cuma lewat begitu saja tanpa kesan yang mendalam bersama sang idaman hati. VD memang jadi ajang paling heboh untuk menunjukkan rasa cinta. Maka jangan heran bin kaget kalo majalah dan tabloid remaja juga ikut berlomba ngasih tips untuk ngedate, untuk pdkt, sampe model kado paling asoy buat si doi. Semua disajikan dengan kemasan istime­wa. VD menjelma jadi semacam ritual cinta.

Nggak cuma TV, radio, ma majalah lho. Tapi koran juga ikutan, mal-mal, pusat-pusat hiburan, disko/kelab malam, hotel-hotel, organisasi-organisasi maupun kelompok-kelompok kecil; bersibuk-ria berlomba menarik perhatian para remaja dengan menggelar acara-acara pesta perayaan yang berlangsung hingga larut malam bahkan sampai pagi. Saling mengucapkan "selamat hari Valentine", berkirim kartu dan bunga, saling bertukar kado, saling curhat, menyatakan sayang atau cinta. Hiruk-pikuk ini tidak hanya menyerang remaja bahkan orang tua pun turut larut di dalamnya. Tak peduli itu dari kalangan Kristen, hindu, india, bahkan muslim. Dari barat hingga timur, dari Amerika sampai Indonesia.

Eh, tapi bentar deh…… kamu udah heboh gitu dari tadi, tapi curiga nih kamu belum tau asul-usul acara Valentine’s Day, Jangan-jangan kamu malah tulalit sama sejarahnya VD. Nah lho! Terus ngapain neh kita? Sabar, kamu perlu tahu yang satu ini…

Jadi gini ceritanya….. waktu itu di jaman kerajaan Romawi kuno. Udah lama banget sih, sekitar akhir abad ke 3 Masehi, setiap tanggal 13-18 Februari bangsa romawi merayakan hari besar mereka. Namanya perayaan Feast of Lupercalia.

Apaan tuh? Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian untuk menghormati  Juno Februata (dewi cinta/ queen of feverish love). Dia disembah sebagai dewi perkawinan. Status dia adalah Tuhan Wanita. Selain untuk menghormati  Juno, perayaan ini juga ditujukan untuk menghormati  Pah (Tuhan menurut mereka).

Yang namanya acara penyembahan, pastinya ada ritualnya dong! Tanggal 13-14, Para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak (undi) dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan dijadikan obyek hiburan, mereka megikuti berbagai macam pesta dan hura-hura bersama pasangannya masing-masing. Mereka bertukar hadiah (permen, coklat, bunga mawar,dll), saling mengungkapkan perasaan kasih-sayang dan cinta. Tanggal 15-nya, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Perayaan ini terus berlangsung hingga ratusan tahun kemudian, sampai suatu saat, pada abad ke 5 Masehi, agama Nasrani menguasai Romawi. Para penguasa dan gerejawan menginginkan para penyembah Juno masuk agama Nasrani karena sudah menjadi agama negara. Singkat cerita, ditemukanlah cara untuk memasukkan mereka ke dalam gereja. Yaitu ada sebuah kisah dalam agama Nasrani yang kejadiannya tepat dengan tanggal perayaan Lupercalia tadi. Yaitu kematian seorang Pendeta (Bishop) muda bernama Santo Valentine (orang yang dianggap suci oleh kalangan Kristen), tinggal di kota Torni dekat Roma, ia biasa menikahkan para muda-mudi Roma yang ingin menikah. Namun ia kemudian dikejar-kejar oleh para prajurit Romawi karena dianggap telah menentang raja Claudius

Saat itu Kaisar berambisi untuk membentuk tentara dalam jumlah yang besar. Dia berharap kaum lelaki untuk secara suka rela bergabung menjadi tentara. Namun banyak yang tidak mau untuk terjun ke medan perang. Mereka tidak mau meninggalkan sanak pasangannya. Peristiwa ini membuat kaisar marah. Dia lalu berpikiran bahwa jika laki-laki tidak kawin, maka mereka dengan tidak segan-segan akan bergabung menjadi tentara dan lebih tabah dalam peperagan. Sedangkan laki-laki yang sudah menikah enggan pergi berperang disebabkan tidak mau meninggalkan istrinya.

Namun Pendeta Santo Valentino menentangnya dengan menikahkan sepasang muda-mudi secara sembunyi-sembunyi. Kemudian ia dihadapkan dekat altar Juno untuk dipenggal kepalanya. Namun sebelum ia menjalani hukumannya, ia mengirim pesan melalui surat yang disebarkan oleh putri penjaga penjara, pesan itu berbunyi "Dari Valentinemu", surat itu tertanggal 14 Februari 270 M. Kemudian sejak saat itu,  tanggal ini  diperingati sebagai hari Valentine atau hari Kasih Sayang. Maka, pada tahun 496 M Paus Gelarius (Pope Gelarius) mengganti nama perayaan Lupercalia menjadi perayaan Valentine,s Day dengan tetap memakai ritual Lupercalia. Namun dibelokkan tujuannya, bukan lagi menghormati  berhala Juno dan Pan, tapi meng­hormati seorang pendeta Kristen yang tewas dihukum mati.

Kamu harusnya kaget kalo tau ternyata Valentine’s Day adalah kebiasaan para penyembah berhala. Ga ada hubungannya dengan islam. Jadinya, Valentine`s Day sebenarnya adalah acara penyembahan berhala, pensucian pendeta dan  ajang baku syahwat yang dilarang Islam. Weleh weleh, ternyata Valentine’s Day itu ga berasal dari Islam. Nggak tahu, apa nggak mau tahu? Tapi kamu harus tau!
1.        Islam, Agama kita sudah sempurna.
…….Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku kepadamu, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…… (Q.S.Al – Maidah:3)
2.       Agama yang di ridhoi Allah hanyalah Islam. Kita nggak bisa mencari agama yang lain.
“sesungguhnya Agama yang di Ridhoi Allah hanyalah Islam” (Q.S: Al-Imron: 19)
“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (Q.S: Al-Imron: 85)
3.       Islam nggak butuh syariat dari luar Islam.
”barangsiapa melakukan amal yang tiada didasari perintahku, maka amal perbuatannya tertolak” (HR. Ahmad).
4.       Ngambil dan praktekkan apa-apa yang nggak berasal dari Islam adalah adalah dosa besar. Ngerayakan VD sama aja kafir.
"Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari golongan mereka" (HR Abu Daud dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar).
"Tidak termasuk golongan ku orang-orang yang menyerupai selain golongan umat ku" (HR Tirmidzi dari Amru bin Syu'aib dari ayahnya dari datuknya)
5.       Kita, umat islam dilarang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawaban” (Q.S Al-Isra': 36)
6.       Allah menyuruh kita untuk selalu mengikatkan semua perbuatan kita pada islam, mejadikan halal-haram sebagai patokan.
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah“ (Q.S: Al-Hasyr: 7)
7.       Umat Islam adalah umat yang nggak boleh ikut-ikutan.
sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Baginda bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi?” (HR Bukhari Muslim).
8.       bmkpo

Kamu pasti udah hafal, apa aja yang dilakukan remaja saat merayakan VD, mereka melakukan aktivitas mendekati zina bahkan sampai berzina. Padahal zina adalah jalan yang buruk. Perayaan VD, sejatinya adalah ajang seks bebas. Kamu bisa liat apa yang terjadi before and after perayaan tersebut. Sebelum hari Valentine, kongdom laris manis. Sementara sesudahnya, kongdom bekas berserakan di tempat-tempat perayaan. Artinya apa? Pasti kamo dah pada tahu.

“Rasulullah saw. bersabda: "Apabila zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, maka rakyat di negeri itu sama saja telah menghalalkan dirinya untuk menerima azab Allah." (HR. Ath Thabrani, Al Hakim dari Ibnu Abbas, dalam kitab Fathul Kabir jilid I hlm. 132).

Nah lho! kalo begitu dimana letak kasih sayangnya? Harusnya kalo kita sayang seseorang, kita tunjukin sama dia apa yang baik buatnya, bukannya melumuri dia dengan dosa dan beri ‘hadiah’ azab.

VD nggak sebatas zina alias seks bebas, azabnya pun bukan hanya di akhirat aja. Tapi seks bebas berujung pada aborsi, aborsi sama aja dengan membunuh. Padahal membunuh adalah kriminal yang juga dosanya besar. Dari 2008 sampai 2010 aja, jumlah kasus aborsi di Indonesia sebanyak 2,5 juta kasus. Ngerinya, dari jumlah tersebut, sebanyak 62,6 persen dilakukan anak di bawah umur 18 tahun (masih pada usia sekolah kan?)

Belum lagi kita ngomongin AIDS, sebuah penyakit (baca: azab) yang sampai sekarang belum ditemuin obatnya. Di Bontang aja, sekarang jumlah penderita HIV/ AIDS udah 22 orang, 8 orang udah meninggal. Itu yang ketahuan, yang ga ketahuan bisa 10 kali lipat. Hiiii….. ati-ati deh kamu! Di Bontang ni ya, ada remaja putri berusia 19 tahun meninggal dunia karena mengidap virus HIV, diduga sejak SMP telah melakukan hubungan seks. Sempat dilarikan ke rumah sakit di Samarinda, namun tidak dapat diselamatkan. Orang yang udah mengidap HIV bisa dipastikan hidupnya tinggal bentar lagi. Mati sih biasa, tapi kalo matinya karena di azab, jangan sampe deh! Celaka dunia-akhirat namanya.

Wuih, ogah banget deh. Katanya sih kasih hari kasih sayang, tapi buahnya busuk banget. Mulai dari hilang kehormatan, hamil tanpa nikah, aborsi, kena AIDS sampai dapat laknat Allah dan tempat ‘istirahat’ Jahnnam. Itu namanya cuma manis di mulut, tapi pedih di akhirat (nyambung ga sih?). Hi…..jauh deh. Moga aja kamu yang baca ini udah ga ketipu lagi sama yang namanya VD! Masa sih remaja muslim mau kena tipu?! Ga pantas girls….! tunjukin kalau kamu punya kemuliaan dan harga diri yang bisa kamu banggakan dihadapan Allah!

Lagian nih ya! Supaya kamu tau, kenapa seks bebas dibiarkan? Ini memang dalam rangka memperlaju penyebaran AIDS di kalangan kaum muslimin. Koq? Coz, ada kebencian dari luar kalangan qita terhadap Islam. Ga percaya? Ni buktinya

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (al-Baqarah :120)

Virus HIV/AIDS sebenarnya bukan berasal dari monyet, tetapi ciptaan para ilmuwan yang kemudian diselewengkan melalui rekayasa tertentu untuk memusnahkan etnis tertentu. (Jerry D. Gray)

            Kamu harus tau, apa yang dilarang Allah bukan untuk mengekang kebebasan kita. Allah melarang semua itu karena memang itu nggak baik buat kita, ada keburukan di dalamnya. Di sisi lain, kalo Allah nyuruh sesuatu, bukan untuk repotin kita. Tapi karena Allah tau kalo itu dikerjakan baik buat kita. Contohnya ni, Allah larang kita zina, tapi suruh nikah. Nikah bikin kita nikmati cinta plus berpahala.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqoroh: 216)

Nah, jadi itu dia tujuan ‘mulia’ hari kasih sayang yang kamu bangga-banggakan. Mulai sekarang kamu bisa ingatkan ke teman-teman kita remaja muslim yang lain supaya menjauhi keharaman VD. Buang jauh-jauh niatmu kalo kamu sempat berniat ikut-ikutan ke acara perzinahan itu.

            Terakhir nih, kamu perlu tau kalo seks bebas dan zina terpelihara karena kita hidup dibawah aturan kapitalisme, sebuah system yang menjadikan kepuasan jasadiah sebagai standar kebahagiaan.  Supaya kita terbebas dari kehidupan rusak dan penyakitan macam sekarang, kita perlu negara yang menerapkan hukum-hukum Islam. Insya Allah dengan penerapan Islam, pernikahan akan dipermudah dan pintu dosa zina akan ditutup rapat-rapat. Yuk, qta sama-sama berjuang! Islam pun menantimu sobat!

Nur Aida (mahasiswi, pemerhati dunia remaja, tinggal di Bontang. Email: mawar.desember85@gmail.com, FB: Aida Nurdin)

Pasar Tenaga Kerja yang Fleksibel Mengatasi Masalah Deflasi Mata Uang

Pasar Tenaga Kerja yang Fleksibel Mengatasi Masalah Deflasi Mata Uang



Argumen 2: Masalah Suplai Emas – Ketakutan terhadap Deflasi

Argumen 2: Terdapat tidak cukup suplai emas, yang bisa mengakibatkan deflasi jika standar emas diadopsi. Terdapat juga ketidakseimbangan besar dalam suplai emas di seantero wilayah dunia, dan menjaga cadangan emas/perak yang cukup adalah tugas yang sulit. Penyuntikan emas ke dalam perekonomian akan menghasilkan inflasi yang mirip dengan quantitative easing dalam sistem fiat.

Bantahan: Pusat kritik terhadap Standar Emas ini adalah ketidaksukaan dan ketakutan tidak rasional terhadap deflasi. Pasar tenaga kerja yang fleksibel adalah kondisi yang dibutuhkan untuk menanggulangi efek-efek negatif turunnya harga-harga produk yang memungkinkan bisnis tetap kompetitif dan menguntungkan dalam kondisi deflasi.

Seringkali dinyatakan bahwa terdapat tidak cukup emas dalam peredaran untuk mewakili semua perdagangan di sekeliling dunia. Perkiraan nilai emas ada di wilayah 6,5 triliun dollar sedangkan GDP dunia, sejauh perekonomian riil dipertimbangkan, ada di sekitar 50-70 trilyun dollar. Lalu bagaimana bisa mata uang emas digunakan menggantikan mata uang fiat yang telah menggantikan emas itu?

Mengenai hal di atas, dikatakan bahwa negara-negara yang melakukan transisi ke Standar Emas jelas tidak akan mampu menjaga harga-harga saat ini dan penyesuaian harga-harga akan terjadi yang mengakibatkan tingkat deflasi harga yang cukup tinggi di seantero sektor perekonomian. Setelah kejatuhan awal ini, kemudian stabilisasi-relatif akan terjadi.

Pusat kritik ini terhadap Standar Emas adalah ketidaksukaan dan ketakutan tak rasional terhadap deflasi. Untuk membantah dogma ini, suatu analisis terhadap anggapan bahaya deflasi akan didiskusikan seiring dengan pandangan alternatif mengenai bagaimana deflasi bisa menjadi kekuatan positif dalam perekonomian, bukannya menjadi pemicu resesi dan juga sebagai kekuatan positif di belakang pendistribusian kekayaan dalam perekonomian. Deflasi dikatakan sebagai keburukan yang lebih besar daripada inflasi karena banyak alasan termasuk yang berikut ini:

  • Ia meningkatkan beban utang karena utang-utang meningkat dalam nilai riilnya karena uang menjadi lebih berharga ketika harga-harga jatuh.

  • Dikatakan bahwa orang-orang akan menunda membeli barang dan jasa dalam antisipasi jikalau harga-harga semakin jatuh, maka produk kekurangan permintaan sehingga mengakibatkan turunan spiral menuju resesi dan akhirnya depresi.

  • Ia menyebabkan kebijakan moneter menjadi tidak efektif karena tidak ada insentif untuk meminjam dan oleh karenanya tidak ada cara bagi bank sentral untuk memicu pemulihan. Beberapa ahli teori seperti John Maynard keynes menyebut fenomena ini jebakan likuiditas.

Dalam respon terhadap tuduhan ini adalah jelas bahwa ada banyak produk yang mengalami pertumbuhan penjualan yang cepat selama fase panjang deflasi harga dikarenakan faktor pertama yaitu kemajuan teknologi seperti pertumbuhan e-commerce, atau karena faktor kedua yaitu periode di mana pertumbuhan output telah melampaui suplai mata uang. Kemajuan teknologi akan menyebabkan harga-harga mengalami deflasi dalam sektor-sektor tertentu perekonomian. Sedangkan keadaan yang kedua akan menyebabkan penurunan umum harga semua komoditas seiring rasio uang terhadap barang dan jasa turun dan jumlah uang yang lebih sedikit akan bisa meraup volume perdagangan yang lebih besar dan maka tiap unit uang nilai riilnya akan bernilai lebih (yang terbukti dengan jatuhnya harga-harga).

Perdagangan dan investasi tidaklah dihalangi oleh harga-harga yang jatuh yang diakibatkan peningkatan efisiensi. Pertumbuhan sebagai hasil dari revolusi industri adalah bukti yang cukup untuk ini, di mana para entrepreneur bisa secara efektif mengantisipasi dan memprediksi tren harga dan biaya dan membuat keputusan berdasar informasi di masa sekarang untuk memastikan keuntungan maksimum. Jika fakta ini tidak benar, maka turunnya biaya teknologi komunikasi akan menyebabkan banyak perusahaan teknologi menjadi bangkrut bukannya mendapat peningkatan pertumbuhan dan penjualan di pasar, padahal partisipan pasar baru sekarang bisa membeli produk-produk semacam itu sehingga meningkatkan penjualan lebih jauh lagi.

Salah satu alasan yang dikutip oleh aliran Keynesian mengenai deflasi sebagai awal menuju resesi adalah bahwa sementara harga jual barang dan jasa jatuh, harga-harga biaya, khususnya biaya upah, harganya sulit turun dan maka bisnis mulai mengalami kelebihan tenaga kerja dan mengurangi kelebihan itu yang mengakibatkan turunnya tingkat permintaan dalam perekonomian yang lebih memperparah jatuhnya harga ke dalam spiral menurun hingga pemerintah mengintervensi untuk mengakhiri proses itu dan mulai mengadakan permintaan sendiri dengan mengadakan proyek-proyek untuk mengkompensasi kekurangan permintaan di sektor swasta.

Tantangannya di sini adalah menunjukkan bagaimana biaya-biaya produksi bisa jatuh untuk memungkinkan bisnis tetap kompetitif dalam iklim deflasi seperti itu dan maka tidak menderita efek sakit yang dideskripsikan di atas. Jika bisnis-bisnis mampu menurunkan biaya input mereka dan dengan melakukan itu mampu menjaga profitabilitasnya, mereka akan kebal secara relatif dari efek-efek turunnya harga-harga.

Gerak turun biaya produksi bisa terjadi di area-area seperti biaya tenaga kerja di mana biaya itu biasanya disebut sebagai ‘kekakuan upah’, atau dalam faktor-faktor lain dalam produksi seperti sewa tanah, dikarenakan kontrak sewa jangka panjang yang sulit direnegosiasi. Kekakuan upah bisa terjadi karena faktor psikologis di mana individu melihat nominal upah bukannya nilai riil uangnya. Konsep ini dikenal sebagai ‘ilusi uang’ yaitu fenomena di mana para pekerja akan kurang suka jika menerima bayaran lebih rendah meskipun harga-harga sedang jatuh, sedangkan mereka akan lebih menuntut kenaikan upah ketika harga-harga naik. Jika para pekerja menyadari kontradiksi ini, mereka akan kurang cenderung menolak pengurangan upah khususnya jika mereka melihat implikasi lebih luas mengenai prospek pekerjaan mereka dan keseluruhan perekonomian.

Pasar tenaga kerja yang fleksibel oleh karenanya menjadi kondisi yang dibutuhkan untuk menanggulangi efek-efek negatif jatuhnya harga-harga produk. Dalam Islam terdapat berbagai konsep seperti konsep bahwa Allah menyediakan rizki dan juga konsep lebih jelas terhadap nilai, dalam hal ini nilai uang didefinisikan sebagai daya belinya, untuk memastikan pasar tenaga kerja tidak menderita dari kekakuan semacam itu.

Bertolak belakang dengan pandangan yang mengukur utilitas (kegunaan) sebagai fitur komoditas yang berdiri sendiri, para ahli teori Kapitalis di masa awal (Aliran Marginal) mengadopsi konsep nilai yang disebut teori ‘diminishing marginal utility’ yang mendefinisi nilai suatu komoditas sebagai kegunaannya di titik konsumsi ketika ia memuaskan titik terendah kebutuhan; tingkat kegunaan ini memungkinkan perbandingan berbagai komoditas untuk tujuan pertukaran/jual-beli.

Uang secara alami menjadi barang universal yang bertindak untuk mengukur nilai semua benda. Namun masalahnya adalah bahwa dengan rasio ini (yang disebut ‘harga’) orang-orang mulai mengukur nilai objek-objek melalui prisma harga bukannya kegunaan intrinsik dari objek. Maka jika harga, atau jumlah absolut upah mereka dikurangi, implikasinya menjadi bahwa ini pasti hal yang buruk.

Implikasi kebingungan memandang nilai melalui harga secara jelas ditunjukkan dalam contoh fenomena ilusi uang di mana para pekerja tidak bisa melihat nilai riil upah-upah mereka. Malah, para pekerja berpikir tentang upah mereka dalam tulisan nominalnya dan mengukur upah mereka melalui jumlah moneter absolutnya (tulisan nominalnya) tanpa melihat nilai riilnya, dalam hal ini nilai riil adalah daya beli uang.

Jika saja para partisipan beroperasi dalam lingkungan ekonomi Islam dengan kejelasan atas konsep-konsep itu (bahwa nilai menjadi dibingungkan oleh para ahli teori ekonomi klasik) dan oleh karenanya mampu melihat nilai dalam keadaan riilnya, maka pandangan yang benar terhadap nilai upah seseorang dalam fase deflasi akan membuat para pekerja lebih cenderung menerima upah lebih rendah karena mengetahui daya belinya dan nilai upah mereka akhirnya tidak akan terpengaruh. Selain itu, ketakutan terus-menerus terhadap inflasi yang lekat dengan sistem Fiat memperparah ketakutan ini dan lebih jauh membuat para pekerja tidak suka menerima pengurangan upah.

Selain itu, penelitian di 1999 di Amerika Utara berjudul “Why Wages Don’t Fall During a Recession” (Mengapa Upah-Upah Tidak Turun Selama Resesi) oleh Truman Bewley [diterbitkan oleh Harvard University Press], yang didasarkan pada wawancara dengan lebih dari 300 pebisnis, para pemimpin serikat pekerja, dan para perekrut tenaga kerja, menemukan kesenjangan besar antara model teoretis kekakuan upah dan penyebab-penyebab sesungguhnya.

Penelitian itu mengutip alasan-alasan seperti ketakutan para pemberi kerja terhadap turunnya morale (motivasi) pekerja karena anggapan bahwa nominal upah yang lebih rendah akan mengakibatkan standar hidup lebih rendah. Penelitian itu menemukan bahwa para pemberi kerja akan takut terjadi peningkatan ‘staff turnover’ (keluarnya pekerja dari tempat kerjanya) dan ini memakan biaya yang tinggi. Akibatnya para pemberi kerja lebih memilih memutus hubungan kerja sebagian pekerja sebagai cara menurunkan biaya tenaga kerja untuk menanggulangi efek ini daripada menurunkan upah. Jelas jika realitas ilusi uang dijelaskan, dan pandangan terhadap nilai dipahami, maka keengganan untuk menurunkan upah akan diminimalkan sehingga efek negatif pengurangan upah terhadap motivasi pekerja juga akan minimal.

Kesimpulannya di titik ini, bisa dikatakan bahwa harga upah dan harga input produksi lainnya perlu turun untuk membantu pasar menyesuaikan kembali ke tingkat keseimbangan yang baru untuk menghindari spiral menurun menuju kontraksi pasar menuju resesi, pengangguran tinggi dan akhirnya depresi. Namun jika investasi yang mendasari suatu bisnis tidaklah cukup kokoh untuk menghadapi tekanan seperti itu maka akan lebih baik bagi entitas bisnis itu untuk gagal daripada di-‘bail out’ (ditalangi) oleh rakyat.

Kedua, sejauh mengenai meningkatkan beban utang, model Islam dibangun atas premis mendorong para partisipan pasar kesalehan untuk hidup dengan kemampuan sendiri dan mendanai investasi melalui menabung dan bukan dari utang yang tidak bisa disokong. Maka akan berada dalam situasi di mana jasa utang dengan bunga (riba) tidak ada. Di sana, etos umum pendekatan distributif dalam sistem Islam akan memastikan terdapat jauh lebih banyak pemerataan kekayaan di antara para agen pasar dan maka menabung adalah norma umumnya bukannya menjadi suatu pengecualian sebagaimana dalam sistem distribusi kekayaan dengan kesenjangan tinggi dalam sistem kapitalis yang secara bertahap jauh memisahkan antara kaya dan miskin dengan tingkat kecepatan yang semakin tinggi. Bukanlah kejutan bahwa orang-orang sering terpaksa mengambil utang untuk berusaha mencapai tangga kekayaan.

Akhirnya, argumen ini: ‘selama orang-orang menunda melakukan pembelian’ adalah argumen yang dibesar-besarkan lebih dari proporsi sebenarnya untuk menjustifikasi program Quantitative Easing yang bersasaran menciptakan inflasi untuk menanggulangi deflasi yang dideskripsikan di atas. Jika upah telah lebih fleksibel sebagaimana ditunjukkan dalam analisis sebelumnya, maka insentif untuk menunda pembelian ketika upah akan turun, bisa jadi sebelum turunnya harga barang atau jasa, menihilkan dogma keliru ini.

Haruslah dicatat bahwa kita mendukung standar bi-metal yaitu emas dan perak sebagai dasar moneter. Standar bi-metal ini akan meningkatkan suplai uang, karena ia tidak bergantung pada emas saja.

Pasar Tenaga Kerja yang Fleksibel Mengatasi Masalah Deflasi Nilai Mata Uang

Sabtu, 11 Februari 2012

Makalah Mata Uang Standar Emas Mengatasi Inflasi

Makalah Mata Uang Standar Emas Mengatasi Inflasi



Argumen 1: Masalah Kemampuan Bermanuver dengan Standar Emas

Argumen 1: Standar Emas tidak menyediakan pengungkit untuk kendali kebijakan moneter. Oleh karena itu para pemerintah akan tidak bisa memulihkan fase penurunan dalam siklus bisnis, menstimulasi pertumbuhan dan memproduksi uang tunai untuk dibelanjakan untuk proyek-proyek darurat.

Bantahan: Kemampuan sistem fiat untuk meminimalkan siklus bisnis adalah pernyataan yang buram karena ia adalah penyebab utamanya. Islam secara khusus melarang bunga (riba) dan melarang perbanyakan uang tanpa dasar Emas atau Perak penuh. Pembelanjaan darurat dalam sistem fiat menguntungkan kaum kaya dan menghasilkan pajak tersembunyi bagi mayoritas orang, sementara dalam Islam pembelanjaan darurat disumberkan dari kaum kaya.

Ketidakmampuan untuk mempengaruhi Siklus Bisnis

Siklus bisnis dianggap oleh aliran arus utama mayoritas kapitalis sebagai hal yang menyatu dengan berfungsinya pasar bebas. Ditekankan bahwa dengan Standar Emas, berbagai alat kebijakan, seperti penggunaan kebijakan Fiskal dan Moneter, tidak bisa digunakan untuk meminimalkan fase negatif siklus semacam itu. Siklus bisnis dikarakterisasi oleh periode-periode pertumbuhan cepat dalam output, diikuti oleh suatu periode melambat dan kemudian kontraksi dalam output yang sering disebut resesi.

Dikatakan bahwa bank-bank sentral, yang beberapa di antaranya independen dari kendali langsung pemerintah, bisa membantu mengurangi dampak siklus semacam itu dan dengan melakukannya maka bisa memperpanjang periode ‘boom’ dan meminimalkan fase ‘kempes’ dari siklus. Tujuan ini, diklaim bisa dicapai melalui berbagai alat kebijakan moneter seperti meningkatkan tingkat bunga dan meningkatkan suplai uang. Tindakan-tindakan semacam itu tidak akan mungkin dilakukan di bawah Standar Emas penuh di mana Emas akan bertindak sebagai faktor pembatas bagi suplai uang di dalam perekonomian.

Siklus bisnis adalah produk dari faktor-faktor eksternal dan internal. Bisa terdapat kasus-kasus di mana tren penurunan atau resesi bisa disebabkan oleh faktor-faktor eksternal seperti lonjakan harga minyak 1970-an; namun faktor-faktor eksternal atau eksogen semacam itu di luar cakupan paper ini.

Faktor-faktor internal yang menyebabkan resesi cenderung berkaitan dengan kebijakan pengetatan moneter (biasanya dengan menaikkan tingkat bunga) untuk membatasi perekonomian yang terlampau panas yang mempercepat inflasi.

Riba dan Uang Fiat

Bank-bank sentral melakukan berbagai tindakan untuk mendorong peminjaman dan investasi khususnya ketika pasar sedang dalam resesi. Ini termasuk meningkatkan suplai uang dalam peredaran dan juga dengan menetapkan tingkat bunga sangat rendah yang menjadi basis bagi bank-bank untuk melakukan peminjaman antar-bank dan pemberian pinjaman pada konsumen-konsumen bersemangat seperti kredit yang mudah didapat.

Hal-hal ini termasuk di antara faktor-faktor internal yang bertanggung jawab menyebabkan siklus bisnis dan mereka jelas muncul dari sistem moneter saat ini. Budaya konsumerisme yang dibahanbakari oleh penciptaan kredit tak berbatas di tingkat bunga rendah mengakibatkan ‘boom’ yang keliru dan tidak langgeng yang mengakibatkan fase ‘kempes’ atau resesi yang tak terhindari sebagai bagian dari siklus.

Sekalinya terjadi permintaan berlebih tak terhindarkan yang dipicu oleh kredit murah, menyebabkan harga umum meningkat dan dalam kasus-kasus tertentu menyebabkan harga-harga melambung, suatu fenomena yang sering disebut sebagai ‘bubble’ (gelembung), semacam ‘bubble’ perumahan 2008 di AS, kemudian bank-bank cenderung merespon dengan menaikkan tingkat bunga untuk mengendalikan inflasi.

Biasanya di sekitar titik puncak ini, kredit menjadi terlalu mahal bagi banyak orang dan gagal bayar mulai terjadi ditambah dengan sadarnya para agen pasar bahwa harga-harga telah memuncak dan sudah waktunya untuk menjual aset-aset semacam itu. Ini mengakibatkan kontraksi tak terhindari dalam harga-harga dan dalam banyak kasus terjadi jatuhnya harga-harga yang akhirnya mengakhiri fase ‘boom’ yang keliru.

Setelah pasar bersih dari perilaku berlebih semacam itu karena resesi, keseluruhan proses dimulai kembali dan fenomena ini mengulang dirinya sendiri dalam siklus tiada henti. Poin kunci di sini adalah bahwa ‘boom’ keliru semacam itu akan diganti dengan pertumbuhan langgeng melalui standar moneter yang didasarkan pada emas dan perak, yang bukan merupakan sasaran manipulasi semacam itu. Penyimpangan apapun dari jalur pertumbuhan umum akan disebabkan oleh faktor-faktor di luar pasar seperti krisis minyak yang akan memperlambat pertumbuhan output.

Oleh karena itu untuk menyatakan tuduhan bahwa hanya pendekatan moneter Fiat, dengan kredit murahnya dan penciptaan uang tiada akhir, yang bisa meminimalkan siklus bisnis adalah argumen suram karena ia sendiri adalah satu penyebab utamanya.

Kestabilan Harga

Inflasi tidak akan terjadi dengan skala yang sama dengan yang sekarang terjadi jika suatu negara mengadopsi Standar Emas. Kita tidak perlu melihat lebih jauh selain harga emas sebagai komoditas selama beberapa tahun terakhir (yaitu bahwa emas mulai diminati untuk menyimpan nilai kekayaan). Ini adalah gejala orang-orang kehilangan kepercayaan dalam mata uang Fiat dan juga melemahnya daya beli mata uang semacam itu. Keburukan sebenarnya sistem di balik pencetakan uang tiada akhir menjadi terihat jelas dalam bagian berikutnya dari buku ini di mana motif-motif sesungguhnya peningkatan uang dalam semua bentuknya dieksplorasi. Efek akhir produksi uang tiada akhir adalah transfer kekayaan kepada faksi-faksi elit dalam masyarakat dan ini dilakukan di bawah dalih kestabilan harga.

Risiko hyperinflation (inflasi super tinggi) secara signifikan naik di bawah sistem suplai uang tak berbatas sebagaimana terbukti dalam hyperinflation akhir-akhir ini di Zimbabwe di mana tingkat inflasi di 2008 mencapai lebih dari 200 juta persen. Nasib yang mirip bisa cocok terjadi pada US dollar jika dunia kehilangan kepercayaan dalam kemampuan pemerintah AS untuk membayar kembali utang-utangnya. Cina telah mulai menjauh dari membeli utang AS dalam bentuk utang pemerintah jangka-panjang dan Treasury bills, yang hal ini bisa menjadi katalis untuk memendekkan nyawa utang AS dan membuat nasib yang mirip bagi dollar di bawah rezim produksi uang Fiat tanpa dasar riil ini, tidak seperti Standar Emas.

Pembelanjaan Darurat

Kritik terhadap mata uang berbasis Emas sering mengutip bahwa pembelanjaan darurat tidak bisa dilakukan dengannya sebagaimana bisa dilakukan dengan standar Fiat. Ini berkait dengan perkara-perkara semacam pendanaan yang diperlukan selama masa perang yang merupakan faktor kunci di belakang Presiden Nixon untuk mengakhiri Standar Emas yang paling akhir di 1971, setelah sebelumnya berlaku suatu bentuk standar emas berdasar logam mulia parsial. Ini karena biaya Perang Vietnam membutuhkan pembelanjaan selain dari cara-cara biasa yang tersedia di departemen Treasury (Bendahara).

Dalam respon terhadap tuduhan ini, pengamatan dan pendekatan alternatif berikut ini bisa didiskusikan.

Mungkin terdapat beberapa keuntungan awal dari memiliki kemampuan untuk menghemat jumlah produksi uang dan membelanjakannya untuk proyek-proyek darurat, namun untuk itu harus melalui efek-efek jangka panjangnya yaitu inflasi dan suatu transfer kekayaan dari massa ke para elit. Uang tambahan yang disuntikan ke dalam sistem di awalnya tidak mempengaruhi tingkat umum harga dan para penerima ‘uang baru’ ini bisa meraup keuntungan sebelum efek-efek negatifnya yaitu menurunnya daya beli uang (inflasi) mencapai masyarakat luas. Orang-orang yang bertransaksi dengan tunai dan utang biasanya massa dan mereka adalah yang terpukul oleh penurunan daya beli uang ketika inflasi terjadi. Sebagai hasilnya, ini menjadi suatu pajak tersembunyi yang ditarik dari mayoritas orang yang bertransaksi tunai dan deposit bank. Tidaklah mengherankan mengapa para pemerintah menyukai model Fiat bersama dengan kelompok-kelompok elit kepentingan khusus yang mereka wakili – dan juga bank-bank yang menagih utang atas uang yang bukan merupakan hasil ekonomi riil, tetapi yang diciptakan dari debu.

Kedua, kebutuhan pendanaan semacam ini sering merupakan hasil dari negara-negara kapitalis yang memulai perang sebagai strategi ekonomi untuk meningkatkan pertumbuhan dan kemakmuran ekonomi untuk perekonomian mereka. Maka ada slogan: “perang itu baik untuk perekonomian”. Masih bisakah dikatakan bahwa pembelanjaan semacam ini adalah suatu faktor penting jika pandangan utilitarian ini dihapus?

Sebaliknya, dalam sistem Islam berdasarkan pandangannya dan nilai-nilainya yang unik, ketika kebutuhan nyata terhadap pendanaan untuk proyek-proyek darurat muncul di Negara Khilafah, nilai-nilai luhur populasi, dengan orientasinya terhadap pengorbanan, kesabaran dan mentalitas kebersamaan berdasarkan kecenderungan spiritual para penganutnya, bisa dijadikan sandaran untuk menggalang dana untuk proyek-proyek kunci seperti itu (penerjemah: selain itu juga dana dari hasil kekayaan alam sebagai kepemilikan rakyat). Ini termasuk penggunaan aturan-aturan Syari’ah mengenai meminta harta kaum kaya hingga kebutuhan dana terpenuhi (tindakan tidak biasa yang bisa menarik suatu prosentase kekayaan warga kaya, mirip dengan Zakat).

Makalah Mata Uang Standar Emas Mengatasi Inflasi

Kamis, 09 Februari 2012

Paper Mata Uang Standar Emas Mengatasi Krisis Moneter

Paper Mata Uang Standar Emas Mengatasi Krisis Moneter



PENDAHULUAN

Emas adalah uangnya para raja, perak adalah uangnya para terhormat, barter adalah uangnya para petani – tapi utang adalah uangnya para budak” Norm Franz, Money and Wealth in the New Millennium

Pada 31 Desember 2010, Emas mengakhiri tahun itu dengan $1420 per ons: naik lebih dari 30% di tahun itu, dan itu adalah tahun ke-10 berturut-turut di mana ia tumbuh. Sejak 1971, ketika Richard Nixon secara unilateral mengeluarkan dunia dari standar emas Bretton Woods, emas telah mengalami apresiasi (kenaikan nilai) dari harga ketika itu $35 per ons ke tingkat saat ini, menunjukkan apresiasi emas sebesar 3950 persen – atau lebih akuratnya – menunjukkan depresiasi (penurunan nilai) US Dollar.

Emas adalah kelas investasi terdepan di 2010, dan satu-satunya yang naik nilainya setiap tahun sejak tahun 2000. Tapi paper ini bukan mengenai kinerja berbagai aset investasi; ini adalah tentang emas sebagai mata uang. Ini tentang pelapukan berkelanjutan, penurunan nilai berbagai mata uang fiat berbasis kertas dan apakah terdapat alternatif yang lebih baik. Dengan pertumbuhan ekonomi di perekonomian negara-negara maju hanya minimalis dan menghadapi serangan balik dalam perang berbagai mata uang, seiring negara-negara berusaha bangkit dari devaluasi (penurunan nilai) mata uang di ronde berikutnya dengan cara mencetak uang, banyak dari mereka sekarang mempertanyakan apakah emas bisa menjadi pondasi sistem moneter dunia lagi.

Ketua Bank Dunia, Robert Zoellick di November 2010 dalam artikel Financial Times memicu kembali debat dengan mendesak para pemimpin dunia untuk mempertimbangkan menggunakan kembali standar emas untuk mengendalikan pergerakan berbagai mata uang. Dia berargumen bahwa perekonomian terbesar dunia perlu membangun sistem moneter yang lebih kooperatif, yang dia klaim akan meningkatkan kepercayaan investor dan menstimulasi pertumbuhan ekonomi:

“G20 harus melengkapi program pemulihan pertumbuhan dengan suatu rencana untuk membangun sistem moneter kooperatif yang mewakili kondisi-kondisi ekonomi bertumbuh. Sistem baru ini mungkin butuh untuk melibatkan dollar, euro, yen, pound dan renminbi (yuan) yang bergerak ke arah internasionalisasi dan kemudian suatu rekening modal terbuka. Sistem harus juga mempertimbangkan menggunakan emas sebagai titik referensi ekspektasi pasar tentang inflasi, deflasi dan nilai mata uang di masa depan. Meskipun buku diktat mungkin memandang emas sebagai uang kuno, pasar-pasar sedang menggunakan emas sebagai aset moneter alternatif hari ini.” [1]

Komentar-komentar Zoellick terprediksi memicu badai protes dari berbagai kepentingan finansial dan perbankan. Namun, sistem sekarang tetap dan terus gagal.

Penggunaan Quantitative Easing (yang secara dramatis meningkatkan suplai uang) oleh pemerintah AS juga telah dikritik secara luas. Perdana Menteri China Hu Jintao menjelang kunjungannya ke AS di pertengahan Januari secara cukup agresif menekankan:

“Likuiditas US$ harus dijaga di tingkat yang masuk akal dan stabil.”

Hu Jintao juga menyinggung kebutuhan untuk perbaikan besar dalam sistem moneter fiat ketika dia berkata di perjalanan kunjungan itu:

“sistem mata uang internasional sekarang adalah produk dari masa lalu.”

Mr. Hu hanya menyatakan kembali fakta bahwa mata uang de facto dunia (US$) terus mengalami depresiasi secara cepat dan bahwa negara-negara kreditor besar seperti China tidak akan terus mendanai defisit AS. Sistem fiat berbasis emas memungkinkan AS untuk secara liar mencetak dollar karena dan ketika dia merasa perlu. Sebagai mata uang utama global, ini punya efek dramatis pada perekonomian dunia, dengan inflasi yang menggerogoti dan devaluasi terus-menerus dalam dollar (dan tentu juga berbagai mata uang kertas utama dunia yang lain).

Seiring dampak-dampak langsung krisis finansial dirasakan, dan devaluasi mata uang muncul mungkin sebagai alat terakhir untuk menumbuhkan pemulihan, sekarang adalah waktunya untuk mempertimbangkan lagi alternatif untuk rezim kertas fiat tidak stabil ini. Dengan pendiskreditan mendalam terhadap sistem perbankan dunia melalui krisis baru-baru ini, terdapat kesempatan untuk memeriksa kembali pilar-pilar moneter perbankan Barat – termasuk penciptaan kredit melalui mata uang fiat yang sepenuhnya kekurangan aset riil. Bisakah dan haruskah dunia kembali ke Standar Emas?

Paper ini memicu kembali debat dengan menunjukkan kemudian membantah 10 argumen utama yang dituduhkan terhadap Standar Emas. Argumen-argumen itu disaring dari literatur ilmu ekonomi dan analisis media. Argumen-argumen tandingan itu mewakili siklus hidup dan cakupan sistem moneter berbasis emas masa kini.

Kami menjelaskan argumen-argumen itu dan berbagai argumen tandingan untuk mengeksplorasi apakah mereka tetap valid di masa ini dan sejarah, dan apakah mereka tidak bisa diungguli dalam usaha pencarian mata uang lebih stabil di dunia yang tidak stabil.

Terakhir, kami menyatakan posisi Islam mengenai mata uang: kedisiplinannya terhadap standar emas/perak dan bagaimana ini akan diterapkan berkaitan dengan sepuluh argumen yang melawan kesuksesannya.

Paper Mata Uang Standar Emas Untuk Mengatasi Krisis Moneter

Rabu, 08 Februari 2012

Mata Uang Standar Emas Lebih Unggul dari Mata Uang Fiat

Mata Uang Standar Emas Lebih Unggul daripada Mata Uang Fiat



RINGKASAN

Di awal Agustus 2011 emas mencapai tingkat tertinggi, naik ke lebih dari $1900 per ons – dan akan mengejutkan sedikit orang jika semakin naik. Bukanlah pertama kalinya, ketakutan terhadap inflasi dan ketidakstabilan politik telah membuat para investor mencari tempat aman di emas. Perak, demikian juga, mencapai tingkat tertinggi dalam 30 tahun di hampir $50 per ons.

Seiring mata uang fiat – tanpa dasar logam emas/perak – (khususnya dollar-US) diperkirakan akan kehilangan nilai, emas dan perak telah memberikan kegunaan nilainya sekali lagi. Di masa krisis, emas secara efektif adalah mata uang pengaman dunia, karena ia bisa dipercaya untuk menjaga nilainya.

Paper ini berargumen bahwa emas tidaklah hanya untuk masa-masa krisis tapi harus menjadi dasar moneter yang digunakan untuk memastikan integritas finansial, kestabilan ekonomi dan pertumbuhan yang langgeng.

Sementara tidaklah mengejutkan bahwa pandangan Islam terhadap uang adalah penggunaan emas dan perak yang nilainya 100% dengan emas dan perak riil, paper ini menunjukkan, kemudian membantah, sepuluh argumen utama yang dituduhkan terhadap  Standar Emas dalam sejarah dan saat ini.

Beberapa poin kunci yang dibahas dalam dokumen ini adalah sebagai berikut:

  1. Tuduhan bahwa hanyalah pendekatan moneter Fiat, dengan kredit murah dan penciptaan mata uang tiada akhir, yang bisa meminimalkan gejolak siklus bisnis adalah suatu argumen buram karena sebenarnya dialah penyebabnya.

  1. Pusat kritik terhadap Standar Emas adalah ketidaksukaan dan ketakutan tak rasional terhadap deflasi (penurunan harga). Pasar tenaga kerja fleksibel adalah satu kondisi yang dibutuhkan untuk menanggulangi efek-efek negatif dari jatuhnya harga-harga produk, memungkinkan bisnis untuk tetap kompetitif dan menguntungkan dalam kondisi deflasi.

  1. Bukti mengenai inflasi, setidaknya untuk Inggris, adalah jelas-jelas tidak bersesuai dengan argumen bahwa Standar Emas menyebabkan deflasi. Antara tahun 1800-1914, harga-harga Inggris bisa dikatakan sama kecenderungannya untuk turun maupun naik, dan inflasi tahunan rata-rata hampir nol.

  1. Problemnya bukanlah bahwa terdapat terlalu sedikit Emas, tapi fakta bahwa terdapat terlalu banyak dollar.

  1. Sementara biaya produksi kertas bisa diabaikan dibandingkan dengan ekstraksi, penambangan dan penyaluran emas, problemnya ada pada biaya total uang Fiat pada masyarakat.

  1. Standar Emas tidak cocok dengan sistem Fiat, dan untuk menjadi efektif dibutuhkan perekonomian berbasis tanpa-bunga.

  1. Islam mewajibkan 100% nilai uang berdasar emas dan perak sesungguhnya, tidak ada pilihan lain. Ini berdasarkan berbagai dalil Al-Qur’an.

  1. Islam mewajibkan sistem emas/perak penuh, yang penerapannya secara disiplin memungkinkan penyesuaian neraca pembayaran tanpa intervensi bank sentral.

  1. Keuntungan Standar Emas benar-benar komprehensif: suatu sistem kestabilan tanpa efek-efek besar gejolak siklus; independen dari manipulasi pemerintah; tanpa masalah inflasi nilai, debasement mata uang (mencampur mata uang emas dengan logam lain sehingga nilai uang tidak sama dengan nilai logam riilnya), krisis internasional dan defisit neraca pembayaran jangka panjang.

  1. Berkebalikan dengan hukum Gresham, mata uang kuat akan segera menjadi media pertukaran, memungkinkan standar emas untuk dengan cepat melanjutkan posisinya di dunia.

Satu-satunya sistem pemerintahan yang dengan tegas mengharuskan penggunaan Standar Emas sebagai yang terbaik adalah perekonomian Islam, sebagaimana diterapkan oleh Negara Islam (Khilafah). Dalam Islam standar dua logam yaitu emas dan perak diterapkan. Tidak ada uang fiat yang akan diterbitkan oleh negara, dan mata uang kertas apapun harus didasarkan 100% emas/perak.

Emas dan perak adalah ideal untuk media pertukaran: mereka punya nilai intrinsik (termasuk yang untuk perhiasan dan bahan baku industri), tersedia secara luas, tidak bisa didominasi (dimonopoli), dan terdapat suplai kedua logam itu secara rutin dan bertumbuh untuk memenuhi kebutuhan perekonomian berkembang.

Krisis finansial telah membeberkan seberapa besar sistem mata uang fiat ada di bawah kendali sistem perbankan, menghasilkan profit yang fenomenal sementara mengeksploitasi masyarakat luas.

Sebaliknya, Islam menyediakan lingkungan tanpa-bunga yang didalamnya terdapat sedikit insentif untuk mengambil uang keluar dari peredaran.

Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” [Terjemah Makna Qur’an Surat (59) Al-Hasyr 7]

Jamal Harwood

Mata Uang Standar Emas Lebih Unggul dari Mata Uang Fiat

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam