Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Rabu, 15 Oktober 2014

Persaingan Negara Kolonialis Barat



Persaingan Imperialis

13.     Dari paparan di atas, terlihat bahwa penjajahan dan kekejaman merupakan ciri abadi peradaban Barat, dan masalah-masalah di Timur Tengah telah diperburuk selama berabad-abad dengan persaingan Barat yang mencapai puncaknya pada Perang Dunia I dan II. Apa yang kita lihat sekarang ini adalah sama dengan ketika Napoleon mencoba melemahkan kekuatan Inggris dengan menyerang Mesir pada tahun 1798. Doktrin sekular telah menggerakkan ‘dunia bebas’ untuk memaksakan fundamentalisme imperial mereka kepada rakyat Timur Tengah, sebagai bagian upaya negara-negara Barat dalam mencari pengaruh dan dominasi dunia. Serangan politis terhadap dunia Islam yang dimulai pada abad ke-18 terus berlangsung hingga abad ke-21 ini. Joseph Chamberlain mengatakan ambisi negara pada abad ke-9 sebagai upaya ‘membentuk sebuah imperium’ [Ronald Hyam., ‘Britain’s Imperial Century 1815 to 1914’., 1976, hal. 2]. Kata-kata inilah yang mengilhami ambisi Perdana Menteri Blair ‘untuk mengembalikan kekuatan kita agar bisa sejajar dengan kekuatan besar lain’ dan ‘untuk meraih kepentingan Inggris dengan sungguh-sungguh, terus-menerus, dan mantap’ [Mark Curtis, ‘The Great Deception Anglo-American Power and World Order’].

14.     Pada abad ke-19, Inggris terobsesi dengan kemunduran Khilafah Utsmaniyah dan bagaimana hal tersebut akan berdampak terhadap pengaruh Inggris dan keseimbangan kekuatan internasional. Lord Palmerston mengatakan, ‘kepentingan Inggris meliputi seluruh dunia’ [Ronald Hyam, ‘Britain’s Imperial Century 1825-1914; A Study of Empire and Expansion’, 1976, hal. 3] dan kepentingan inilah yang coba dilindungi dari ambisi Perancis dan Rusia, yang berada dalam keadaan terkepung setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Oleh karena itu, para negarawan imperialis memperdebatkan apakah mereka harus mereformasi Khilafah di Eropa agar menjadi protektorat Eropa atau membagi-bagi ke-Khilafahan secara damai di antara negara-negara Barat. Sebelum menjadi Menteri Luar Negeri pada tahun 1878, Lord Salisbury mengatakan, ‘… memelihara kepentingan Inggris dengan mempertahankan Khilafah Utsmaniyah adalah hal yang tidak praktis dan saya pikir sekarang adalah saatnya untuk mempertahankan kepentingan Inggris secara langsung dengan beberapa pengaturan wilayah. Saya khawatir, ketika kita mencapai kesepakatan beberapa tahun kemudian, maka satu dari dua hal akan terjadi. Entah apakah Perancis akan memulihkan kembali posisinya dan merasa iri akan perluasan kekuatan kita di Mediterania, atau Jerman akan menjadi kekuatan di lautan. Kemungkinan-kemungkinan ini akan menyulitkan kita dalam menyiapkan basis, kalau-kalau kita kehilangan Konstatinopel’ [Elie Koudrie., ‘England and the Middle East; the Destruction of the Ottoman Empire 1914-1921’., hal. 21].

15.     Dalam perjalanan sejarahnya, Amerika Serikat juga menghadapi tantangan yang sama dalam kepemimpinan globalnya mengingat AS pun menghadapi masalah kevakuman politis yang disebabkan oleh runtuhnya kekuatan adidaya. Abad 19 merupakan abad keruntuhan Khilafah Utsmaniyah yang sangat berpengaruh terhadap perimbangan kekuatan internasional dan kepentingan Inggris. Sedangkan akhir abad 20 merupakan keruntuhan negara Uni Soviet, yang menciptakan rekonfigurasi konteks geopolitis, yang gelombangnya masih terasa hingga abad 21. Hal itu telah menyita perhatian pemerintahan AS. Mantan Menteri Luar Negeri, Warren Christopher, menyatakan, ‘sebagai satu-satunya negara adidaya yang tersisa, kita memiliki kesempatan yang belum pernah kami peroleh sebelumnya, yaitu membentuk dunia sesuai yang kita inginkan’ [Mark Curtis., ‘The Great Deception Anglo-American Power and World Order’., 1998, hal. 35], dan setelah peristiwa 11 September, Amerika mencoba mengeksploitasi kesempatan yang terbuka lebar untuk menata ulang Timur Tengah. Sebuah laporan dari Presidential Study Group memperlihatkan perdebatan di kalangan negarawan AS di abad 21. Laporan yang diberi judul ‘Navigating through Turbulence; America and the Middle East in a New Century’ itu menggambarkan tantangan strategis pasca era perang dingin. ‘Pada tanggal 20 Januari 2001, presiden baru akan menempati kantor selagi di Timur Tengah situasi makin membahayakan. Selagi beberapa negara di wilayah Teluk masih mencari bentuk hubungan politis dan militer dengan Amerika Serikat, hubungan Arab-Israel berada dalam kondisi kritis, keradikalan wilayah Teluk muncul kembali, dan kondisi rakyat di dunia Arab yang mengkritisi kebijakan AS. Secara keseluruhan, situasi strategis Amerika di Teluk lebih banyak tantangannya ketimbang peluangnya’ [Presidential Study Group, ‘Navigating Through Turbulence; America & the Middle East in a New Century’, Washington Institute for Near East Affairs, 12 Desember 2000, hal. 7].

16.     Puncak pengkajian ulang kebijakan luar negeri AS tertera dalam Strategi Keamanan Nasional (National Security Strategy-NSS) yang diterbitkan pada bulan September 2002. Max Boot, seorang jurnalis dan penulis ‘the Savage Wars of Peace; Small Wars & the Rise of American Power’, menggambarkannya sebagai ‘pernyataan kebijakan luar negeri AS yang signifikan sejak NSC 68, naskah tahun 1958 yang menyusun doktrin penahanan’ [Max Boot, ‘Doctrine of the Big Enchilada’, Washington Post, 14 Oktober 2002] karena NSS menetapkanan prinsip-prinsip bagi pandangan dunia baru di era pasca Perang Dingin. Dapat dikatakan bahwa Presiden Bush menapaki jalan yang dulu pernah ditempuh para pendahulunya yang selalu membuat perubahan kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Dimulai dengan doktrin Truman, diikuti doktrin Eisenhower, dan sekarang Presiden Bush memiliki doktrinnya sendiri bagi kebijakan luar negeri AS. Dalam State of the Union pada bulan Januari 2002, ia menyebutkan tiga prinsip kunci doktrin Bush. Prinsip pertama menekankan pada upaya mempertahankan kepemimpinan AS di dunia; strategi Bush menyatakan, ‘pasukan kami cukup kuat untuk menghadapi lawan yang berpotensi mencapai pengembangan militer dengan harapan bisa melebihi atau minimal menyamai kekuatan Amerika Serikat’ [Max Boot, ‘Doctrine of the Big Enchilada’, Washington Post, 14 Oktober 2002]. Kedua, AS akan melakukan pre-emptive attack terhadap ancaman-ancaman potensial; Presiden Bush mengatakan bahwa ‘musuh Amerika memandang seluruh dunia sebagai medan pertempuran’ dan bersumpah akan ‘memburu mereka di manapun mereka berada’ [Schimtt and Donelly, ‘The Bush Doctrine’, 30 Januari 2002]. William Kristol, mantan Kepala Staf Gedung Putih untuk Wakil Presiden menjelaskan, ‘Pada tahun 1947, Harry Truman membalikkan kebijakan pasca Perang Dunia II mengenai penarikan diri dari Eropa, dan menggiring AS untuk menghambat dan menantang Uni Soviet. Pada tahun 1981, Ronald Reagan membalikkan kebijakan pengurangan tegangan antar negara (detenta) yang gagal dan bertekad untuk menumbangkan komunisme. Pada Selasa malam, George W. Bush mengakhiri dekade yang penuh sikap malu-malu serta saling menunggu dan berkomitmen menghilangkan ancaman tirani musuh yang mengembangkan senjata pemusnah massal. Ini sama dengan apa yang dilakukan Truman dan Reagan. Ini tidak akan mudah sekaligus menyakitkan. Tapi inilah harga bagi sebuah negara besar’ [William Kristol, Taking the War Beyond Terrorism, Washington Post, 31 Januari 2002]. Akhirnya, sama seperti semua ideolog terdahulu, perjuangan terkenal untuk mempromosikan prinsip demokrasi liberal disebarluaskan. Para pemikir pada Project for the New American Century mengatakan, ‘Doktrin Bush sangat terkenal dan berbeda. Ini bukan multilateralismenya Clinton; sang presiden tidak memohon kepada PBB, menyatakan kepercayaan terhadap (perjanjian) pengendalian senjata, atau menumbuhkan harapan untuk ‘proses perdamaian’. Ini pun bukan realisme perimbangan kekuatan yang diusung sang ayah, Bush senior. Ini lebih merupakan penegasan kembali bahwa keberlangsungan keamanan dan perdamaian hanya bisa dimenangkan dan dipertahankan dengan cara memaksakan kekuatan militer AS dan prinsip politik Amerika’.

Download Buku SENJATA PEMUSNAH MASSAL DAN KEBIJAKAN LUAR NEGERI KOLONIALIS

Senin, 13 Oktober 2014

Penjajahan dan Kekejaman AS dan Inggris



Penjajahan dan Kekejaman

4.         Masyarakat yang bebas tidak mengintimidasi melalui penjajahan dan kekejaman’ ujar Presiden Bush dalam usahanya yang gagal membujuk PBB memberi legitimasi menyerang Irak. Gaung kata-kata itu sama arogannya dengan kata-kata Lord Rosebarry satu abad silam, ketika menggambarkan kerajaan Inggris sebagai ‘agen sekular terhebat yang pernah ada di muka bumi’ [J.A.Hobson., Imperialism’s Study]. Dalam sejarah, Presiden Bush akan bergabung dengan Lord Roseberry dalam daftar orang-orang termasyhur yang angkuh, juga bersama Adolf Hitler dan Joseph Stalin, atas kontribusi tindakan tak bermoral mereka yang luar biasa. Sejarah Irak dibentuk bukan hanya oleh kekejaman dan penjajahan melainkan juga oleh masalah-masalah di Timur Tengah yang muncul selama masa imperialisme Eropa yang berabad lamanya, dan diperparah oleh hegemoni AS. Sungguh sebuah ironi terbesar dalam sejarah, bahwa AS menjadi suatu kekuatan imperial pada saat ia berusaha membebaskan dirinya dari kolonialisme Inggris dan Eropa. Hal-hal demikian merupakan konsekuensi yang mengerikan bagi negara yang mendasarkan dirinya pada ideologi sekular seperti AS, yang meniru Kerajaan Inggris di masa lampau.

5.         The East Indian Company, sebuah percontohan korporasi Barat, menginjakkan kakinya untuk kali pertama di Mesopotamia pada tahun 1763, saat Inggris mencari rute perdagangan ke India, koloninya sendiri. Hal itu merupakan pertanda datangnya sesuatu, seperti saat Lord Palmerston memulai sebuah pencarian untuk menemukan pasar-pasar baru di Timur Tengah bagi kepentingan industri dan perdagangan Inggris di tahun 1830-an –sebuah doktrin yang menjadi bagian integral peradaban Barat– sebagaimana yang pernah juga dinyatakan oleh Anthony Lake, Penasihat Keamanan Nasional di masa Presiden Clinton, ‘perusahaan-perusahaan swasta merupakan sekutu alami dalam usaha kita memperkuat ekonomi pasar’ [Mark Curtis., The Great Deception Anglo-American Power & World Order., 1998, hal.310]. Demikian pula mantan Menteri Luar Negeri AS, Cordell Hull, yang mengatakan, ‘Tongkat kepemimpinan menuju sistem baru hubungan internasional dalam perdagangan dan masalah ekonomi lain sebagian besar akan berpindah ke Amerika Serikat… Kita harus memikul kepemimpinan ini, beserta tanggung jawab yang menyertainya, terutama demi kepentingan nasional kita semata’ [Gabriel Kolko., Politics of War., hal.251].

6.         Kepentingan nasional, bahasa eufemisme untuk ketamakan, menjadi stimulus penjajahan Eropa, ketika Inggris menduduki Aden pada tahun 1839. Di tahun 1882, Inggris menginvasi Mesir yang tengah membangun Terusan Suez dengan Perancis sejak 1869, yang oleh Perdana Menteri Gladstone dianggap sebagai ‘pencarian kepentingan Inggris terbesar’ karena pada waktu itu 13% dari seluruh perdagangan luar negeri Inggris berlangsung melalui Terusan Suez. Earl Kimberley, Duta Besar untuk India pada tahun 1885 menyatakan, ‘Apakah orang benar-benar mengira jika kita tidak menguasai Kerajaan India maka kita harus mempengaruhi Mesir? [Ronald Hyam., ‘Britain’s Imperial Century 1815 to 1914’., 1976, hal.180]. Ini merupakan sentimen yang kembali mengemuka selama Perang Teluk tahun 1991 ketika Lawrence Korb, Asisten Menteri Pertahanan di masa pemerintahan Reagan, menyatakan, ‘Kita tidak akan ambil pusing sekalipun Kuwait menghasilkan wortel’ [Paul D’Amato., ‘US Intervention in the Middle East; Blood for Oil’., International Socialist Review, Issue 15, December 2000–January 2001]. Pada tahun 1856, Inggris berupaya membuka jalan ke Persia dalam rangka mencari akses darat menuju koloninya di India dan memenuhi kewajiban-kewajiban perjanjian untuk melindungi para syeikh penguasa Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Oman untuk menjamin bahwa keempat negeri itu hanya akan diberikan kepada Inggris.

7.         Kemenangan atas Khilafah Utsmaniyah pada PD I selanjutnya mengokohkan Inggris sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di Timur Tengah. Ia menguasai Mesopotamia, Persia, Teluk dan Mesir sebagaimana ditetapkan dalam perjanjian yang terkenal, Sykes-Picot, di tahun 1916. Maret 1917, Inggris menduduki Baghdad dan dari sebuah telegram yang dikirimkan kepada pasukan Inggris terdapat indikasi adanya strategi baru kolonialisme Barat pada abad ke-20. War Office memberitakan, ‘Baghdad akan menjadi Negara Arab dengan penguasa atau pemerintahan lokal di bawah perlindungan Inggris dalam segala sesuatunya. Sehingga Baghdad tidak akan memiliki hubungan dengan kekuatan asing…. Baghdad akan diatur di belakang tirai Arab sejauh mungkin [P.W. Ireland, ‘Iraq; A Study in Political Development’, 1937]. Tidak sekadar memelihara rezim boneka sebagai doktrin kolonial, Inggris juga telah menemukan seni kolonisasi. Penjajahan gaya baru itu terurai dalam pernyataan Departemen Luar Negeri pada tahun 1947, ‘Kepentingan keamanan dan strategis kami di seluruh dunia akan terlindungi dengan baik dengan didirikannya ‘kantor-kantor polisi’ di titik-titik yang tepat yang akan diperlengkapi dengan kemampuan mengatasi keadaan darurat dalam radius jarak jauh. Kuwait merupakan salah satu titik untuk mengontrol Irak, Persia Selatan, Arab Saudi dan Teluk Persia’. Namun demikian, era pasca Perang Teluk menunjukkan betapa AS telah menerapkan penjajahan gaya baru itu sekaligus menggantikan posisi Inggris sebagai kekuatan dominan di Timur Tengah.

8.         Dunia melihat AS memelopori doktrin baru kolonialisme Barat, menemukan gaya baru dalam menjajah negara lain dengan menekankan pada aksi-aksi rahasia, perbudakan ekonomi dan intrik-intrik politik. Model penjajahan yang menindas masyarakat Timur Tengah melalui rezim boneka dan mendorong terjadinya penindasan, penahanan dan pembunuhan. Jesse Leaf, Kepala Analis Iran CIA, menjelaskan intimidasi AS di Timur Tengah ketika dia mengatakan, ‘Kami bentuk mereka (SAVAK), kami atur mereka, kami ajari mereka apapun yang kami tahu… teknik interogasi yang ekstrim… termasuk penyiksaan… ruang penyiksaaan dibuat dan semuanya itu dibiayai oleh Amerika Serikat’ [Salaam Al-Sahrqi, ‘Iran: Unholy Alliances, Holly Terror’, Covert Action Information Bulletin, No.37, Summer 1991]. Pengendalian penduduk Timur Tengah lebih jauh lagi diuraikan dalam memorandum pemerintah AS, ‘Kebijakan terbaru Amerika adalah membatasi penjualan senjata ke negara-negara Timur Tengah demi memenuhi jumlah layak yang dibutuhkan untuk menjaga keamanan internal’ [Statement by the United States & United Kingdom Groups, FRUS, 1947, Vol. V hal. 613] dan Dewan Keamanan Nasional AS mengatakan bahwa bantuan militer sangat penting ‘sebagai alat untuk mempertahankan keamanan internal’ [National Security Council, Statement of U.S. Policy toward Iran, 15 November 1958, FRUS, 1958-1960, Vol.XII, hal. 611-613]. Senator AS, Hubert Humphrey menjelaskan kebijakan tersebut dalam kaitannya dengan pertemuan antara pejabat AS dengan pemimpin militer Iran, ‘Tahukah Anda apa yang dikatakan pimpinan tentara Iran kepada salah satu orang kita? Dia mengatakan pasukan berada dalam kondisi yang baik, berkat bantuan AS, sekarang tentara mampu menjalin hubungan dengan penduduk sipil’ [Fred Halliday, ‘Arabia Without Sultans’].

Download Buku SENJATA PEMUSNAH MASSAL DAN KEBIJAKAN LUAR NEGERI KOLONIALIS

Sabtu, 11 Oktober 2014

Kejahatan Uji Coba Nuklir Barat



Kelinci percobaan dalam uji coba nuklir

33.     Selama bertahun-tahun hak-hak tentara angkatan bersenjata AS dan Inggris terus menerus dilanggar. Para tentara itu diberi obat halusinasi, dikirim ke pertempuran tanpa diberi latihan atau mendapat perlindungan yang memadai, juga semua tindakan tak berperikemanusiaan ditimpakan kepada tentara angkatan bersenjata AS dan Inggris. Sehubungan dengan isu terkini ihwal senjata pemusnah massal, ada dua cerita yang muncul ke permukaan mengenai bagaimana perasaan pemerintahan AS dan Inggris terhadap keadaan tentara dan warga sipil mereka. Baru-baru ini Pentagon mengakui bahwa para tentara yang terlibat dalam uji coba senjata kimia dan biologi pada tahun 1960-an, kemungkinan tidak diberi tahu sama sekali mengenai percobaan rahasia yang dilakukan di laut. Beberapa ujicoba menggunakan racun syaraf militer paling mematikan, yaitu VX. Pejabat tinggi Departemen Pertahanan AS mengatakan ribuan rakyat sipil Hawaii dan Alaska juga tidak menyadari bahwa di sekililing mereka terdapat banyak bakteri yang merupakan senjata kuman, seperti anthraks. Menurut laporan Pentagon, dalam uji coba yang dilakukan di Alaska, para tentara dengan menggunakan pakaian pelindung didekatkan ke racun syaraf yang mematikan tersebut, termasuk VX. Sedangkan uji coba di Hawaii menggunakan zat halusinasi yang dikembangkan menjadi senjata kimia. VX merupakan racun syaraf yang canggih, bisa bertahan di lingkungan lebih lama dibandingkan dengan yang sejenis. Uji coba itu dilakukan untuk mengukur seberapa lama VX akan tetap mematikan dan sebaik apa prosedur dekontaminasi yang dilakukan.

34.     Baru-baru ini, sebuah klaim ganti rugi menjadi berita utama di Inggris. Sejumlah mantan tentara berusaha memperoleh ganti rugi karena telah dijadikan saksi peledakan nuklir di Pasifik Selatan. Tetapi apa yang sebenarnya dialami oleh ribuan tentara muda di Christmas Island 40 tahun yang lalu itu? Saat itu merupakan puncak perang dingin dan ribuan tentara Inggris dikirim ke Pasifik Selatan untuk menyaksikan uji coba ledakan senjata nuklir. Kebanyakan mereka baru berusia belasan tahun atau 20-an, dan sedang melaksanakan tugas wajib militernya. Bagi mereka, iklim Christmas Island yang hangat dan eksotis merupakan sebuah pelarian yang menyenangkan dari penderitaan yang mereka alami pasca perang Inggris. Para tentara itu diperintahkan untuk merunduk beberapa saat sebelum ledakan terjadi. Tak banyak upaya yang dilakukan untuk melindungi kesehatan mereka dari radiasi radioaktif. Padahal mereka berada dalam jarak hanya 30 mil dari tempat ledakan. Mereka diperintahkan untuk membelakangi ledakan atau mengenakan celana panjang.

Kesimpulan
Seperti yang telah kita bahas, sistem kapitalisme sedang mengalami keruntuhan dari dasarnya. Kapitalisme sekarang ini hanya ditopang oleh sekelompok elit yang putus asa melihat keuntungan mereka terancam. Inilah saatnya bagi kita untuk mengutip pernyataan pendahulu George W. Bush, William Jefferson Clinton, sang Presiden AS ke-42, sebagai penutup bab ini. Tidak seperti penerusnya, yakni Presiden Bush, Bill Clinton dikenal memiliki kecakapan berorasi dan prestasi akademik yang bagus. Dia dikenal sebagai orang yang mengetahui hakikat sistem yang ia terapkan. Apakah pernyataan berikut ini merupakan refleksi dari apa yang buku-buku sejarah jadikan acuan atau hanya sebuah ironi belaka? ‘Kita lahir dengan sebuah deklarasi kemerdekaan yang menyatakan bahwa kita semua diciptakan sama dan oleh sebuah konstitusi yang mengabadikan perbudakan. Kita berjuang dalam perang sipil yang berdarah untuk menghapuskan perbudakan tetapi kita tetap tidak mempunyai kedudukan yang sama di hadapan hukum dalam beberapa abad setelahnya. Atas nama kebebasan, kita mengalami kemajuan sampai ke luar negeri tetapi kita telah mengusir penduduk asli Amerika dari tanah airnya. Kita menyambut para imigran tetapi setiap gelombang imigran yang datang itu telah merasakan pedihnya diskriminasi’ [Presiden Clinton dalam pidato di Universitas California, tahun 1997].

Download Buku SENJATA PEMUSNAH MASSAL DAN KEBIJAKAN LUAR NEGERI KOLONIALIS

Jumat, 10 Oktober 2014

Korban Diskriminasi Di Amerika Serikat



Impian Amerika

16.     Selain demokrasi, ada aspek lain dari cara hidup orang Amerika yang mereka klaim telah membuat negara-negara lain iri kepada AS. Woodrow Wilson (1919) mengatakan, ‘terkadang orang-orang menyebut saya seorang idealis, memang begitulah adanya selaku orang Amerika. Karena Amerika adalah satu-satunya negara yang idealis.’ Pasca 11 September, AS tidak juga sadar bahwa selama ini mereka tidur sambil berjalan. Akan tetapi, kini AS telah terbangun dari tidur pulas dan mimpinya. Enron, WorldCom dan realitas pertumpahan darah di ibu pertiwinya telah membuat AS menjadi negara yang mencemaskan aspirasinya menjadi rapuh. Mungkin untuk kali pertama sejak Great Depression, para orangtua berbicara secara terbuka tentang anak-anak mereka yang tumbuh di sebuah negeri (AS) yang keadaannya lebih buruk daripada negara tempat orangtua mereka dilahirkan.

17.     Impian Amerika telah berada jauh di luar jangkauan tujuh juta muslim yang tinggal di antara Los Angeles dan New York. Hampir dua pertiganya mengatakan mereka warga Muslim di AS telah menjadi korban prasangka dan diskriminasi sejak peristiwa 11 September. Ketika naik pesawat, mereka dipaksa keluar oleh para penumpang yang menaruh curiga, sebagian yang lain bahkan tidak diperbolehkan sama sekali untuk menaiki pesawat. Hak-hak sipil yang termasyhur dibuat oleh pendiri AS sebagaimana diabadikan dalam Bill of Rights ternyata tidak lebih dari slogan kosong. ‘Para pecinta kebebasan’ yang menguasai tanah kebebasan telah mengorbankan ‘kebebasan’ dengan mengatasnamakan keamanan nasional. Para tersangka ditahan tanpa diadili, para pengacara dilarang menemui kliennya. Edward Said, seorang Profesor di Columbia University– New York, menulis dalam Al Ahram (edisi mingguan) ‘Saya tidak melihat adanya seorang Arab atau Muslim Amerika yang sekarang tidak merasa bahwa ia termasuk kubu musuh dan berada di Amerika saat ini memberi kita pengalaman keterasingan yang tidak mengenakkan dan khususnya menjadi sasaran permusuhan yang begitu meluas [‘Thought about America’, 28 Februari – 6 Maret 2002].

18.     Kita kembali lagi ke suara sentimen imperialis Amerika yang sesungguhnya, The National Review. Kontributor Editor Ann Coulter menulis: ‘Sekarang bukan saatnya lagi mencari individu yang secara langsung terlibat dalam serangan teroris ini.. Tanggung jawab ini termasuk siapapun dan di manapun yang tersenyum dengan peristiwa pembinasaan para patriot seperti Barbara Olsen. Orang-orang yang menginginkan negara kita hancur tinggal di sini, bekerja untuk perusahaan penerbangan kita, dan bekerja untuk bandara yang persis sama sebagai seorang tukang kayu dari Idaho. Ini seperti meminta Wehrmacht berimigrasi ke Amerika dan bekerja untuk perusahaan penerbangan kita selama Perang Dunia II. Tetapi Wehrmacht tidak begitu haus darah. Kita harus menyerbu negara mereka, membunuh pemimpin mereka, dan memurtadkan mereka menjadi Kristen. Kita kurang cermat ketika hanya menemukan dan menghukum Hitler dan para pejabat terasnya. Kita membombardir kota-kota di Jerman, kita membunuhi warga sipil. Itulah perang. Dan ini pun adalah perang [National Review, ‘This is War’ 13 September 2001].

19.     Demikianlah yang tertulis. Bagaimana faktanya? Pada bulan Maret 2002 dilaporkan bahwa Adeel Akhtar, orang Inggris, terbang ke Amerika untuk audisi peran. Ketika pesawat yang ia tumpangi mendarat di bandara JFK New York, ia dan teman wanitanya diborgol. Dari gambarannya ia terlihat tidak seperti seorang fundamentalis. Ia dibawa ke suatu ruangan dan diinterogasi selama beberapa jam. Para petugas bertanya apakah ia memiliki teman di Timur Tengah, atau mengetahui seseorang yang berada di balik serangan 11 September.

Pengalaman diskriminasi di AS itu bukan hal yang asing bagi ratusan orang yang berasal dari Asia atau Timur Tengah. Seperti contoh seorang wanita Inggris (berusia 50 tahun) yang terbang ke JFK untuk mengunjungi saudara perempuannya yang menderita kanker. Di bandara, petugas imigrasi mendapati bahwa pada kunjungan sebelumnya, ia melebihi masa kunjungan yang tertera dalam visanya. Ia menjelaskan bahwa saat itu ia sedang menolong saudaranya yang sedang sakit parah, dan ia telah mengajukan perpanjangan. Ketika petugas memintanya untuk kembali ke Inggris, ia menerima keputusan itu tetapi sebelumnya meminta untuk berbicara kepada konsul Inggris. Mereka menolak permintaannya, malah mengatakan bahwa ia bisa menelepon konsulat Pakistan. Sang wanita menjelaskan bahwa ia orang Inggris, bukan Pakistan. Paspornya pun mengatakan ia adalah warga Inggris. Para petugas keamanan bandara mulai menginterogasinya. Ia bisa bicara dalam berapa bahasa? Sudah berapa lama ia tinggal di Inggris? Mereka membongkar-paksa tas kopornya dan mengambil sidik jarinya. Kemudian ia diborgol dan dirantai serta digiring melewati tempat duduk pemberangkatan. ‘Saya merasa seolah-olah petugas keamanan bandara memamerkan saya di depan para penumpang lain layaknya tangkapan berharga. Mengapa saya diborgol? Saya hanya seorang ibu rumah tangga berusia 50 tahun dari daerah pinggiran London. Ancaman apa yang saya lakukan yang membahayakan keselamatan penumpang lain?’

20.     Juga pada bulan Maret 2001, seorang koresponden majalah Time menemukan 30 orang laki-laki dan seorang wanita bermalam di sebuah hotel kumuh di Mogadishu, Somalia. Mereka semua orang Afrika-Amerika asal Somalia yang sudah tiba di Amerika sejak bayi dan anak-anak. Kebanyakan dari mereka adalah para profesional dengan pekerjaan yang terjamin dan kehidupan yang mapan. Pada bulan Januari, tidak lama setelah dirilisnya film Black Hawk Down (film tentang kegagalan misi militer Amerika di Somalia), mereka ditangkapi. Mereka dipukuli, diancam dengan suntikan dan tidak boleh menerima telepon dan pengacara. Kemudian dua minggu yang lalu, tanpa adanya tuntutan atau alasan, tiba-tiba mereka dideportasi ke Somalia. Sekarang mereka tanpa paspor, surat-surat, atau uang di negara yang asing (bagi mereka).

21.     Semua orang yang kami sebut di atas merupakan korban rasisme AS. Dalam waktu 6 bulan setelah peristiwa 11 September, Jaksa Agung AS memanggil 5000 orang laki-laki asal Arab untuk ditanyai oleh penyelidik federal. Selama periode itu lebih dari 1000 orang yang dilahirkan di Timur Tengah telah ditawan untuk jangka waktu yang tak terbatas dengan alasan ‘pelanggaran imigrasi’. Tidak terhitung lagi banyaknya contoh diskriminasi petugas terhadap wanita muslimah AS yang digeledah di bandara, sementara yang laki-laki diseret dari tempat tidur dengan todongan pistol di tengah malam. Ini menunjukkan bahwa bukti, yang tidak diketahui para tersangka, yang diizinkan oleh US Patriot Act, ‘telah digunakan hampir secara eksklusif terhadap Muslim dan orang Arab-Amerika’. Di AS, saat ini, kaum Muslim dan orang-orang keturunan atau berasal dari Timur Tengah semuanya menjadi tersangka teroris. Mereka dianggap bersalah sampai mereka terbukti tidak bersalah.

Download Buku SENJATA PEMUSNAH MASSAL DAN KEBIJAKAN LUAR NEGERI KOLONIALIS

Kamis, 09 Oktober 2014

Kecurangan Pemilu Amerika Serikat



Paradigma Demokrasi

13.     Pemilihan umum terakhir di Irak menjadi bahan cemoohan pers Barat dan dunia internasional. Rezim Ba’ath memang konyol dan layak mendapatkan kecaman apapun yang diarahkan terhadap tipu daya murahan yang mereka lakukan. Akan tetapi, tipu daya murahan bukan monopoli Saddam semata. Salah satu masalah penting yang masih menjadi misteri bagi orang Amerika adalah proses demokrasi itu sendiri. Sangat sedikit orang di seluruh AS yang memahami sistem Electoral College. Demikian halnya ketika sistem itu berjalan lancar, tak ada yang mempertanyakannya dan ketika tidak berjalan lancar, tak satu orang pun yang peduli. Pemilihan presiden tahun 2000 menggambarkan dengan tepat betapa tidak demokratisnya sistem Amerika. Terlebih lagi pemilihan umum AS tahun 2000 itu menunjukkan bagaimana orang Amerika ditipu serta bagaimana raksasa media dan pemerintah memandang rendah masyarakat awam.

14.     Di dunia ini terdapat berbagai bentuk demokrasi, yang setiap bentuk diimplementasikan dengan coraknya masing-masing. Dalam sistem pemilihan presiden AS, seorang kandidat yang mendapatkan jumlah suara pemilih individual terbanyak di seluruh daerah pemilihan belum tentu menjadi presiden. Karena suara individu tidak langsung untuk memilih presiden melainkan untuk menentukan Electoral College yang diatur secara proporsional sesuai negara bagian masing-masing. Jumlah Elector (orang yang tergabung dalam Electoral College) untuk setiap negara bagian diproporsionalkan dengan jumlah penduduk negara bagian bersangkutan. Tiap-tiap negara bagian memiliki pengaturan yang berbeda-beda dalam hal menentukan para Elector mereka. Di beberapa negara bagian para kandidat mendapati jumlah Elector sesuai jumlah suara yang mereka peroleh, sedangkan di negara bagian lain, pemenang mengambil seluruhnya. Maka untuk terpilih menjadi presiden, seorang kandidat harus memiliki dukungan di beberapa negara bagian. Meraih mayoritas suara popular vote di daerah tertentu, atau bahkan di beberapa negara bagian, bisa jadi tidak berpengaruh terhadap hasil pemilu secara keseluruhan. Manakala terjadi masalah, yang memilih presiden adalah perwakilan pemilih, yakni para politisi profesional di Kongres. Pada tahun 2000, keputusan Mahkamah Agung mengakhiri prosedur yang begitu rumit dan menetapkan George W. Bush sebagai pemenang pemilu. Pada musim panas tahun 1999, Katherine Harris, Ketua Bersama kampanye pemilihan presiden George W. Bush dan sekretaris negara bagian Florida untuk pemilihan umum, membayar US$ 4 juta kepada Database Technologies untuk memeriksa daftar pemilih di Florida dan menghapus setiap orang yang ‘dicurigai’ sebagai mantan narapidana. Hal itu dilakukan dengan persetujuan Gubernur Florida, Jeb Bush, yang notabene adalah saudara dari George W. Bush. Hukum Florida menyatakan bahwa mantan narapidana tidak punya hak pilih –sehingga 31% dari semua penduduk pria berkulit hitam di Florida dilarang mengikuti pemilu karena mereka memiliki catatan kriminal. Rupanya, kaum kulit hitam Florida adalah golongan demokrat. Ini terlihat ketika Al Gore mendapat suara lebih dari 90% dari mereka pada tanggal 7 November 2000. Yaitu 90% dari mereka yang memiliki hak pilih. Ini menunjukkan terjadinya kecurangan massal elektoral di Florida. Tim kampanye Bush tidak hanya menghapus ribuan mantan narapidana kulit hitam dari daftar nama pemilih, melainkan juga menghapus ribuan warga kulit hitam yang sepanjang hidupnya tidak pernah terlibat tindak kriminal –serta ribuan pemilih yang sah yang hanya pernah melakukan tindak pidana ringan.

15.     Walhasil, sejumlah 173.000 pemilih yang terdaftar di Florida dihapus secara permanen dari daftar pemilih. Di Miami-Dade, wilayah terbesar Florida, 66% dari pemilih yang dihapus namanya adalah mereka yang berkulit hitam. Di daerah Tampas, 54% dari pemilih yang hak pilihnya ditolak juga berasal dari kulit hitam. Tak perlu dikatakan lagi betapa banyaknya praktek-praktek tipu muslihat pemilu yang terjadi di Florida, barangkali terlalu banyak untuk disebutkan. Akan tetapi hasil akhirnya menunjukkan bahwa seseorang yang memenangkan minoritas suara telah terpilih menjadi presiden. Surat kabar New York Times merangkum olok-olok yang terjadi di Florida; sebanyak 344 kertas suara tidak jelas diberikan kepada pemilih, apakah pada saat atau sebelum hari pemilihan, 183 kertas suara diberi stempel pos AS, 96 kertas suara tidak memiliki keterangan saksi yang memadai, 169 kertas suara berasal dari pemilih yang tak terdaftar, dengan amplop yang tidak ditandatangani sebagaimana mestinya, atau berasal dari orang yang tidak meminta kertas suara, 5 kertas suara masuk setelah tanggal batas akhir penyerahan yaitu 17 November, 19 pemilih dari luar negeri memilih dalam 2 kertas suara –dan keduanya dihitung. Semua kertas suara di atas melanggar hukum Florida, tetapi tetap dihitung. Singkatnya, Amerika tidak memiliki paradigma demokrasi.

Download Buku SENJATA PEMUSNAH MASSAL DAN KEBIJAKAN LUAR NEGERI KOLONIALIS

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam