Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Rabu, 26 Februari 2020

Manusia Bisa Seperti Binatang Ternak - TAFSIR al-Furqan: 44



Oleh: Rokhmat S. Labib, MEI

“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (TQS. al-Furqan [25]: 44).

Di antara faktor yang membedakan manusia dengan hewan adalah akal. Akal itulah yang menaikkan derajat manusia di atas semua makhluk di atas bumi. Namun masalahnya, tidak semua manusia mau menggunakan akalnya dengan benar. Maka, perilaku mereka pun tak ubahnya seperti binatang ternak. Bahkan lebih sesat lagi. Inilah di antara yang dijelaskan dalam ayat ini.

Tidak Mendengar dan Memahami

Allah SWT berfirman: Am tahsabu anna aktsaruhum yasma‘uun (atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar). Dalam ayat sebelumnya diberitakan kepada Nabi ﷺ tentang orang yang menjadikan tuhannya atas dasar hawa nafsunya; atau orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Kemudian ditegaskan kepada Nabi ﷺ bahwa beliau tidak bisa menjadi penjaga dan pemelihara atas mereka.

Kemudian dilanjutkan dengan ayat ini yang diawali dengan firman-Nya: Am tahsabu (apakah kamu mengira). Mukhaathab atau pihak yang diseru ayat ini masih Rasulullah ﷺ. Menurut al-Hijazi dalam al-Tafsiir al-Waadhih, frasa ini bermakna laa tazhunna (janganlah kamu mengira). Jika demikian maknanya, maka frasa tersebut akan menafikan kalimat sesudahnya. Misalnya, kalimat: Janganlah kamu mengira mereka mendengar, memberikan pengertian bahwa mereka tidak mendengar. Demikian pula dengan ayat ini. Ketika setelah kata tahsabu disebutkan: anna aktsaruhum yasma‘uun aw ya’qiluun (bahwa sebagian besar mereka mendengar dan berpikir), maka memberikan pemahaman bahwa sebagian besar mereka tidak mendengar dan berpikir. Dikatakan al-Biqa'i, kalimat istifhaam (kalimat tanya) dalam avat ini menghasilkan makna yang menunjukkan nafi (meniadakan).

Yang dimaksud bahwa mereka tidak mendengar di sini bukan berarti mereka tuli atau tidak bisa mendengar. Akan tetapi yang dimaksud dengannya adalah mereka tidak mau menggunakan pendengarannya untuk mendengarkan petunjuk atau ayat-ayat Allah SWT. Tentang perkara yang tidak didengar, al-Thabari berkata: maa yutlaa 'alayhim, faya'awnahu (apa yang dibacakan atas mereka, lalu mereka memahaminya).

Bukan saja tidak mau mendengar. Mereka juga tidak mau berpikir. Dalam ayat ini disebutkan: aw ya’qiluun (atau mereka berpikir). Diterangkan Fakhruddin al-Razi, yang dimaksud ayat ini bukan berarti mereka tidak memiliki akal. Akan tetapi, mereka tidak memanfaatkan akal. Ini seperti ungkapan seseorang kepada orang lain yang tidak paham: Sesungguhnya kamu buta dan tuli.

Dikatakan al-Khazin, frasa ini berarti: Mereka tidak memeriksa dan menyelidiki hujjah dan pemberitahuan. Masih menurut al-Khazin, ini merupakan celaan yang lebih parah dari celaan sebelumnya terhadap orang-orang kafir itu. Sebab, mereka -karena besarnya permusuhan mereka- tidak mau mendengar perkataan. Kalaupun mendengarnya, mereka tidak memikirkannya. Seolah-olah mereka tidak memiliki pendengaran dan akal sama sekali.

Patut dicatat, dalam ayat ini tidak disebutkan annahum (bahwa mereka). Akan tetapi disebutkan aktsaruhum (sebagian besar mereka). Menurut Fakhruddin al-Razi, hal itu karena ada di antara mereka yang telah mengetahui Allah SWT dan memahami kebenaran. Akan tetapi mereka kemudian meninggalkan Islam hanya disebabkan oleh kecintaan terhadap kekuasaan, bukan karena kebodohan.

Berkaitan dengan sikap orang-orang kafir yang tidak mau mendengar petunjuk dan ayat-ayat Allah SWT ini, banyak disebutkan dalam ayat-ayat lain. Bahkan mereka disebut buta, tuli, dan tidak berakal. Di antaranya adalah firman Allah SWT: “Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.” (TQS. al-Baqarah [2]: 171). Disebutkan pula dalam QS. al-A'raf [7]: 179, al-Jatsiyah [4S]: 23, dan lain-lain.

Lebih Sesat Dari Binatang Ternak

Setelah ditegaskan bahwa sebagian besar mereka tidak mendengar dan tidak berakal, kemudian Allah berfirman: in hum illaa ka al-an'aam (Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak). Huruf in yang diiringi dengan kata illaa bermakna nafiy. Sehingga, ayat ini memberikan makna: Mereka tidak lain kecuali seperti binatang ternak.

Dikatakan al-Khazin, mereka disebut demikian karena perkataan tidak lagi bermanfaat bagi mereka, dan tidak membuat mereka maju untuk memperhatikan dan berpikir. Ibnu Jarir al-Thabari juga berkata, mereka seperti binatang yang tidak memahami dan tidak mengerti apa yang dikatakan kepadanya. Menurut Imam al-Qurthubi dan al-Samarqandi, mereka diserupakan dengan binatang ternak dalam hal makan, minum, dan tidak berpikir tentang akhirat.

Tentang keserupaan orang kafir dengan binatang dalam hal makan, minum, dan bersenang-senang menikmati dunia juga disebutkan dalam firman Allah SWT: “Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan Neraka adalah tempat tinggal mereka.” (TQS. Muhammad [47]: 12).

Kemudian diakhiri dengan firman-Nya: bal hum adhallu sabiil[an] (bahkan mereka lebih sesat jalannya [dari binatang ternak itu]). Menurut imam al-Qurthubi, mereka disebut lebih sesat karena tidak ada hisab dan tidak ada siksa bagi binatang ternak. Al-Samarqandi berkata, ”Mereka lebih salah jalannya daripada binatang ternak. Sebab, binatang ternak tidak diperintahkan dan tidak dilarang.”

Dikatakan al-Thabari, mereka disebut lebih sesat jalannya daripada binatang ternak karena binatang ternak memperoleh petunjuk menuju padang rumput dan dituntun oleh pemiliknya. Sedangkan orang-orang kafir tidak menaati Tuhan mereka, tidak mensyukuri nikmat kepada Dzat yang memberikan kenikmatan kepada mereka. Bahkan mereka mengingkarinya dan bermaksiat kepada Dzat yang menciptakan dan mengatur mereka.

Selain alasan tersebut, al-Khazin juga mengatakan bahwa semua binatang ternak itu bersujud dan bertasbih. Sedangkan orang-orang kafir tidak melakukannya. Dijelaskan al-Razi, mengenai tasbihnya semua binatang tersebut diberitakan dalam beberapa ayat. Di antaranya adalah firman Allah SWT: “Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia?” (TQS. al-Hajj [22]: 18). Juga disebutkan dalam al-Isra' [17]: 44, al-Nur [24]: 41, dan lain-lain.

Tentang lebih buruknya keadaan mereka daripada binatang ternak juga disebutkan dalam QS. al-A'raf [7]: 179. Mereka juga disebut binatang paling buruk. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.” (TQS. al-Anfal [8]: 55).

Demikianlah. Manusia menjadi makhluk paling sempurna yang hidup di atas permukaan bumi disebabkan karena kemampuannya dalam mendengar, melihat, dan berpikir. Ketika kemampuan itu digunakan untuk mendengar dan memahami petunjuk dari Allah SWT yang terdapat dalam ayat-ayat-Nya dan sunnah Rasul-Nya, berupa aqidah dan syariah, maka kesempurnaan mereka kian bertambah. Derajatnya makin tinggi. Mereka pun menjadi khayr al-bariyyah, makhluk paling baik.

Sebaliknya ketika kemampuan untuk mendengar, melihat, dan berakal itu tidak digunakan dengan benar, untuk mendengar dan memahami petunjuk Allah SWT, maka jatuhlah derajat mereka. Perilaku dan kehidupan mereka pun tak ubahnya seperti binatang. Bahkan, lebih sesat dan lebih hina daripada binatang ternak. Mereka pun menjadi syarr al-bariyyah (seburuk-buruk makhluk) dan syarr al-dawaab (seburuk-buruk binatang) Tak ada balasan yang layak buat mereka selain Neraka Jahannam, wa al-'iyaad bilLah. WaLlaah a’lam bi al-shawaab.[]

Ikhtisar:

1. Orang kafir tidak menggunakan pendengaran dan akal mereka untuk memahami petunjuk dan ayat-ayat Allah SWT.
2. Jalan hidup orang kafir seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi.[]

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 152

Selasa, 18 Februari 2020

Menjadikan Pelajaran Kaum Nabi Luth as. - TAFSIR al-Furqan: 40



Oleh: Rokhmat S. Labib, MEI

“Dan sesungguhnya mereka (kaum musyrik Makkah) telah melalui sebuah negeri [Sadum] yang (dulu) dihujani dengan hujan yang sejelek-jeleknya (hujan batu). Maka apakah mereka tidak menyaksikan runtuhan itu; bahkan adalah mereka itu tidak mengharapkan akan kebangkitan.” (TQS. al-Furqan [25]: 40).

Di antara yang dikisahkan Al-Qur’an adalah sikap dan perilaku kaum Nabi Luth As. Mereka tidak beriman dan membangkang kepada nabi yang diutus kepada mereka itu. Mereka juga mengabaikan larangan melakukan perbuatan keji yang tidak pernah dilakukan kaum sebelumnya. Yakni, mendatangi sesama laki-laki melalui duburnya. Merekalah yang menjadi pelaku homoseksual pertama dalam sejarah manusia.

Ayat ini pun mengingatkan tentang kehancuran kaum tersebut. Mereka harus menerima azab pedih di dunia, setelah mengabaikan peringatan Allah.

Kisah Penduduk Sadum

Allah SWT berfirman: Walaqad ataw 'alaa al-qaryah al-latii umthirat mathar al-saw’ (dan sesungguhnya mereka [kaum musyrik Mekah] telah melalui sebuah negeri. [Sadum] yang [dulu] dihujani dengan hujan yang sejelek-jeleknya [hujan batu]). Ayat ini dan beberapa ayat sebelumnya mengingatkan kepada kaum Quraisy dan bangsa Arab tentang azab yang menimpa kaum-kaum terdahulu. Dalam ayat sebelumnya disebutkan tentang kisah kaum 'Ad, kaum Tsamud, dan penduduk Rass.
Sebelumnya lagi juga diingatkan peristiwa yang menimpa kaum Nabi Nuh as. dan Fir'aun. Semuanya, menuai kehancuran dan kebinasaan.

Sebagian sisa-sisa kehancuran itu masih dapat mereka indera. Sebab, tempat tinggal mereka berada dalam negeri Arab, seperti kaum 'Ad dan Tsamud. Demikian pula yang disebutkan ayat ini, yakni penduduk kota Sadum. Disebutkan dalam ayat ini: Walaqad ataw 'alaa al-qaryah (dan sesungguhnya mereka telah mendatangi sebuah negeri).

Yang dimaksud dengan mereka di sini adalah musyrik Makkah. Mereka adalah kaum yang disebutkan dalam ayat sebelumnya menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang ditinggalkan dan diabaikan.

Sedangkan kata al-qaryah (negeri) di sini menunjuk negeri yang dihuni kaum Nabi Luth as. Negeri tersebut bernama Sadum. Demikian diterangkan para mufassir, seperti al-Thabari, al-Qurthubi, al-Syaukani, dan lain-lain. Kesimpulan ini didasarkan pada sifat negeri tersebut yang disebutkan dalam frasa berikutnya: al-latii umthirat mathar al-saw’ (yang [dulu] dihujani dengan hujan yang sejelek-jeleknya). Diterangkan para mufassir, seperti al-Thabari, al-Qurthubi, Ibnu Katsir, al-Alusi, dan lain-lain yang dimaksud dengan hujan yang paling jelek itu adalah batu-batu yang dihujankan kepada mereka sehingga membuat mereka binasa.

Menurut al-Makkiy, sebagaimana dikutip Abu Hayyan al-Andalusi, kata ataw (mereka datang) di sini bermakna marru (mereka melewati). Ibnu 'Abbas, dalam tafsir al-Qurthubi, berkata, ”Quraisy dalam perdagangannya ke Syam melewati kota kaum Nabi Luth, sebagaimana diberitakan dalam firman-Nya: “Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Makkah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi” (TQS. al-Shaffat [37]: 137).

Dengan demikian, ayat ini memberitakan tentang pengetahuan bangsa 'Arab terhadap kehancuran yang pernah menimpa kaum Nabi Luth. AKan tetapi, pengetahuan mereka itu tidak menjadikannya sebagai pelajaran penting bagi mereka.

Hal ini disebutkan pada kelanjutan ayat ini: Afalam yakuunuu yarawnahaa (maka apakah mereka tidak menyaksikan runtuhan itu). Huruf hamzah dalam ayat ini adalah istifhaam (kata tanya). Menurut al-Syaukani, istifhaam tersebut bermakna li al-taqrii’ wa al-tawbiikh (celaan dan teguran). Artinya: Mereka telah melihat negeri yang diberitakan tersebut ketika mereka dalam perjalanan ke Syam untuk berdagang karena mereka melewatinya. Tapi mereka tetap saja mendustakan dan mengingkari Rasulullah ﷺ.

Menerangkan ayat ini, Ibnu Jarir al-Thabari berkata, "Apakah mereka, orang-orang musyrik yang telah mendatangi negeri yang dihujani dengan hujan yang paling buruk itu tidak melihat negeri tersebut dan azab yang diturunkan Allah kepada kaum tersebut yang itu disebabkan karena penduduknya mendustakan rasul mereka. Oleh karena itu, hendaklah mereka menjadikannya sebagai pelajaran dan peringatan, kemudian mereka bertaubat dari kekufuran mereka dan pengingkaran mereka terhadap Nabi ﷺ."

Kemudian Allah SWT berfirman: Bal kaanuu laa yarjuuna nusyuur[an] (bahkan adalah mereka itu tidak mengharapkan akan kebangkitan). Kata nusyuur dalam ayat ini: bermakna ba'ts (kebangkitan). Sedangkan pengertian yarjuuna adalah yuuqinuun (meyakini) atau yushaddiquun (membenarkan). Sehingga, pengertian frasa laa yarjuuna nusyuur[an], sebagaimana diterangkan al-Qurthubi, berarti laa yushaddiquuna bi al-ba'ts (mereka tidak membenarkan kebangkitan). Masih menurut al-Qurthubi, bisa pula kata yarjuuna bermakna yakhaafuuna (mereka takut). Juga bisa bermakna, "Bahkan mereka tidak mengharapkan pahala akhirat."

Dengan demikian, ayat ini memberikan celaan dan teguran keras kepada kaum musyrik Arab yang tidak mau mengambil pelajaran dari kehancuran kaum Nabi Luth. Bahkan, mereka tetap saja mengingkari hari Kiamat yang pasti terjadi.

Kisah Kaum Luth

Tentang kisah Nabi Luth dan kaumnya diberitakan dalam beberapa ayat di dalam Al-Qur’an. Sebagai utusan Allah SWT, Nabi Luth as. diperintahkan untuk menyampaikan dakwah kepada kaumnya. Dia memerintahkan kaumnya untuk hanya menyembah Allah SWT dan menaatinya. Allah SWT berfirman: “Ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak bertakwa?" Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” (TQS. al-Syu‘ara [26]: 161-163).

Secara khusus, Nabi Luth as. juga melarang mereka melakukan perbuatan yang buruk, yakni perilaku homoseksual. Mereka lebih menyukai sesama jenis dan mendatanginya melalui duburnya. Sebaliknya, mereka justru meninggalkan istri-istri mereka. Ini yang dikisahkan dalam QS. al-Syu'ara [26]: 165-166.
Allah SWT juga berfirman: “Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu(mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu).” (TQS. al-Naml [27]: 55).

Akan tetapi nasihat tidak didengar. Mereka mendustakan Nabi Luth as. dan tidak menggubris larangannya. Bahkan mereka mengusir utusan Allah SWT tersebut. (QS al-Naml [27]: 56).

Setelah dakwah tidak lagi berguna bagi mereka, mereka pun ditimpa azab yang amat dahsyat. Mereka dihujani batu dan kota tempat mereka dibalik, hingga mereka semua binasa. Allah SWT berfirman: “Dan Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu), maka amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu.” (TQS. al-Naml [27]: 58).
Allah SWT juga berfirman: “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (TQS. Hud [11]: 82).

Itulah kejadian yang menimpa kaum Luth as. Kejadian ini seharusnya dijadikan sebagai pelajaran penting bagi siapapun. Itulah hukuman yang harus diterima orang-orang yang berani mengingkari dan menolak rasul beserta semua risalahnya. Pelajaran itu tidak hanya berlaku bagi kaum musyrik Arab, namun semua umat sesudah mereka.

Sungguh hanya manusia yang tidak menggunakan akalnya yang berani nekat mendustakan rasul, bersikap sombong, dan menolak syariah-Nya. Wal-Laah a’lam bi al-shawaab.[]

Ikhtisar:
1. Kota Sadum dan penduduknya dihancurkan dengan azab yang amat dahsyat, yakni: kotanya dijungkirbalikkan dan dihujani dengan batu.

2. Azab yang amat dahsyat itu disebabkan oleh pengingkaran dan penolakan mereka terhadap rasul dan risalahnya.

3. Kejadian yang menimpa kaum Nabi Luth itu menjadi pelajaran penting bagi semua umat sesudahnya agar tidak melakukan tindakan serupa.[]

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 149


Kamis, 16 Januari 2020

Menghapus Identitas Muslim Uighur – Di Mana Para Penguasa Muslim?



Komunis telah lama dikenal brutal dan kejam. Dilaporkan bahwa di bawah Josef Stalin 20 juta orang tewas di bawah penindasan aparat komunis [1]. Bahwa lebih dari 40 juta orang mati akibat dari reformasi yang dibawa oleh Mao Zadong, Ketua Partai Komunis China. Kematian itu, di antaranya, akibat dari dogma ekonomi komunis yang menyebabkan wabah kelaparan [2].

China telah lama memandang populasi Uyghur sebagai ancaman. Pertama, karena berbeda etnis dan budaya dibanding dengan mayoritas populasi Han. Kedua, posisi geografis mereka yang strategis di dalam Belt and Road Initiative (BRI) yang ingin diterapkan China. China selalu khawatir jika area ini sulit untuk mereka kendalikan. Tindakan-tindakan yang telah ditimpakan oleh rezim China adalah usaha untuk menghapus penampakan apapun dari Islam dan identitas Uighur di seantero Xinjiang: dengan alasan mencegah terorisme.

Sejumlah besar populasi Uyghur telah dijebloskan ke kamp-kamp interniran. Para pejabat China mengklaim bahwa para tahanan itu justru mendapatkan pertolongan untuk membersihkan diri mereka dari virus pemikiran berbahaya -alias bentuk ketaatan apapun pada Islam. Telah ada laporan-laporan bahwa sementara para pria ditahan, pendatang Han China datang dan tinggal bersama keluarga-keluarga Muslim dan bahkan kejadian pernikahan paksa dan yang lebih parah dari itu. Anak-anak dipisahkan dari orangtuanya dan dikirim ke sekolah asrama di mana mereka dididik di bawah doktrin partai komunis. Itu semua adalah asimilasi paksa atas Umat Islam di daerah itu – paksaan untuk murtad dan menjadi loyal pada Partai Komunis Cina.

Ada pandangan keliru bahwa 11 juta Muslim di Turkistan Timur (Xinjiang) dianggap sebagai kelompok minoritas etnis China. Dalam pandangan Islam asumsi itu salah. Mereka sebagaimana minoritas Muslim di Eropa atau India merupakan anggota Umat Muslim, total 1,8 milyar, sekitar seperempat populasi planet ini. Pandangan Islam terhadap hubungan antar Muslim jelas. Mereka harus saling menolong.

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ اِلَّا تَفْعَلُوْهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الْاَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيْرٌۗ

“Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah (saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar.”
[Q.S. al-Anfāl [8]: 73]

Dengan semua sumberdaya yang dimiliki Umat Muslim, tenaga kerja di sub-benua, kekayaan Teluk dan total angkatan bersenjata hingga jutaan personil: mengapa China sekarang mengumbar kelakuan dengan bebas melawan Kaum Muslimin di daratannya? Benar bahwa para penguasa Muslim juga salah tapi itu hanya urusan di permukaannya. Sebenarnya, mengapa para penguasa di tanah-tanah Muslim bertingkah payah dan lemah, perlu dikaji dan dieksplorasi sehingga ketahuan solusinya.

Tak satupun negeri Muslim yang bertindak menghentikan kelakuan China. Imran Khan Perdana Menteri Pakistan berkoar, “Terus terang saja, Aku tak tahu banyak soal itu” [3]. Mohammad bin Salman Saudi Arabia bilang bahwa kebijakan China itu adalah “hak” China untuk menggunakan taktik-taktik brutal untuk tujuan deradikalisasi dan melawan ekstrimisme. Presiden Cina Xi berterima kasih pada Uni Emirat Arab yang telah mendukung kebijakan represif China terhadap Muslim Uighur [4]. Presiden Turki Erdogan diberitakan mengatakan, “Adalah fakta bahwa orang dari semua etnis di Xinjiang menjalani kehidupan yang bahagia di tengah pembangunan dan kemakmuran China,” meskipun ucapan ini hasil pembahasaan-ulang oleh koran milik pemerintah Cina [5].

Itu jelas menunjukkan bahwa para penguasa Muslim tidak disiapkan untuk menantang kelakuan China. Sementara Perdana Menteri Malaysia Mahatir mengatakan bahwa dia akan menerima para pengungsi Uyghur, dan Turki membolehkan demonstrasi di jalanannya tapi hanya semacam itu saja.

Tekanan paling besar dalam melawan kebijakan China atas Uighur bersumber dari AS. Mereka menaikkan perkara itu sebagai pukulan untuk China. Itu bukan karena AS punya rasa sayang sedikitpun terhadap Umat Muslim. Mereka sendiri telah membantai jutaan Muslim tak bersalah dalam perang yang katanya melawan teror.

Sementara Pakistan mungkin mempertimbangkan CPEC, Negara-Negara Teluk soal pasar China untuk penjualan minyak, dan Turki soal kerjasama persenjataan militer telah membuat marah AS. Problem negara-negara itu adalah tidak sungguhan punya prinsip untuk taat pada Islam sebagai prioritas utamanya. Karena alasan inilah para penguasa dan pemerintah macam begitu acuh tak acuh terhadap kesengsaraan Umat Muslim di Turkistan Timur. Problem ini harus diatasi, tidak cukup hanya disadari.

Banyak Muslim yang merasa simpati atas Muslim Uighur tapi itu tidaklah cukup. Adalah sebuah kewajiban mendakwahkan Islam sebagai asas pemerintahan. Kaum Muslimin keseluruhannya wajib tidak mentolerir bentuk-bentuk pemerintahan yang dicokolkan atas mereka sejak era kolonial. Mereka harus berhenti berpikir bahwa mereka lemah dan harus mengupayakan perubahan keadaan dengan tangan-tangan mereka sendiri.

Umat Islam tak boleh dalam perbuatan mereka menggunakan standar maslahat-madharat menurut akal dan hawa nafsu sebagaimana para penguasa mereka, sebaliknya Umat Islam wajib memahami standar Islam –syariat Islam- yang lengkap dan rinci dan mengharuskan negeri-negeri Muslim untuk mengerahkan semua cara syar’i untuk membela Umat Muslim di manapun mereka berada.

Untuk menolong saudara dan saudari Muslim Uighur kita, kita harus mengusahakan penegakan kembali negara Khilafah. Inilah solusi nyata yang bisa kita lakukan. Kita mungkin saja mengalami kesengsaraan yang sama. Namun jika kita tidak mengupayakannya, berarti hanya akan ada yang semacam si MBS dan Imran Khan, dan itu bukan pertolongan sama sekali!




Minggu, 12 Januari 2020

Mengambil Pelajaran Dari Kaum Nabi Nuh - TAFSIR al-Furqan: 37



Oleh: Rokhmat S. Labib, MEI

“Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul. Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang zhalim azab yang pedih.” (TQS. al-Furqan [25]: 37).

Di antara yang harus diperhatikan oleh manusia adalah berbagai peristiwa yang terjadi di masa lalu. Peristiwa itu bisa menjadi pelajaran bagi manusia dalam menjalani kehidupan.  Dengan begitu, manusia dapat melangkah lebih tepat dan terhindar dari kesalahan. Cukuplah orang lain yang merasakan akibat atas kesalahan yang dilakukan tanpa harus kita terperosok kepada kesalahan yang sama.

Kaum yang Mendustakan

Allah SWT berfirman: Wa qawma Nuuh lammaa kadzdzabuu al-rusul (dan [telah Kami binasakan] kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul). Ayat ini masih dalam konteks pemberitaan kepada Nabi Muhammad ﷺ tentang musuh-musuh para nabi. Setelah sebelumnya diberitakan tentang kaum Nabi Musa As. yang mendustakan beliau, lalu mereka dihancurkan dan dibinasakan, maka dalam ayat ini dibeberkan kisah kaum Nabi Nuh.

Disebutkan bahwa kaum tersebut kadzdzabuu al-rusul (mendustakan rasul). Dalam ayat ini digunakan al-rusul yang bermakna jamak, para rasul. Padahal, yang dimaksudkan adalah satu orang rasul, yakni Nabi Nuh. Kesimpullan ini didasarkan pada realitas bahwa tidak ada seorang rasul yang diutus kepada mereka kecuali Nabi Nuh. Beliau satu-satunya yang diutus untuk menyampaikan kalimah “Laa ilaaha illaal-Laah” dan beriman dengan apa yang diturunkan Allah SWT. Ketika mereka mendustakannya, maka itu berarti mendustakan semua orang yang diutus dengan membawa kalimah yang sama. Demikian penjelasan al-Qurthubi dan para mufassir lain, seperti al-Khazin, al-Biqa'i, dan lain-lain.

Imam al-Qurthubi juga mengutip alasan lain yang mengatakan bahwa: "Sesungguhnya orang yang mendustakan seorang rasul, maka sesungguhnya dia telah mendustakan semua rasul. Sebab, semua nabi itu tidak boleh dibeda-bedakan dalam hal keimanan. Dan tidak ada seorangpun beriman kecuali dia membenarkan semua nabi Allah SWT. Sehingga siapapun yang mendustakan seorang nabi di antara mereka, maka dia telah mendustakan semua orang yang dibenarkan dari kalangan para nabi.”

Tentang diutusnya Nabi Nuh kepada kaumnya diberitakan dalam beberapa ayat, seperti QS al-Mukminun [23]: 23. Juga dalam QS al-A'raf [7]: 59, Hud [11]: 25-26,dan Nuh [71]: 1.

Dakwah yang beliau lakukan terhadap umatnya memakan waktu amat lama, yakni 950 tahun (lihat: QS. al-Ankabut [29]: 14). Beliau telah berdakwah siang dan malam, dengan terang-terangan maupun diam-diam (lihat: QS. Nuh [71]: 5-6). Meskipun demikian, seperti diberitakan ayat ini, mereka mendustakan beliau. Kalaupun ada yang mengikuti beliau, jumlahnya amat sangat sedikit (lihat: QS. Hud [11]: 40). Tak hanya itu, di antara mereka malah menuduh Nabi Nuh berada dalam kesesatan (lihat: QS. al-A’raf [7]: 60). Mereka juga menyebut utusan Allah SWT sebagai orang gila (lihat: QS. al-Qamar [54]: 9).

Balasan

Allah SWT berfirman: Aghraqnaahum (Kami tenggelamkan mereka). Terhadap orang-orang yang mendustakan Nabi Nuh itu, Allah SWT menghukum mereka dengan menenggelamkan mereka dengan banjir besar. Peristiwa ini diberitakan dalam banyak ayat. Selain ini, juga disebutkan dalam QS. al-Ankabut [29]: 14, Yunus [10]: 73, Nuh [71]: 25.

Mengenai gambaran banjir besar yang membinasakan mereka, diberitakan dalam firman Allah SWT: “Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan.” (TQS. al-Qamar [54]: 11-12).

Azab tersebut ditimpakan kepada mereka setelah benar-benar tidak mau beriman, bahkan menantang kepada Nuh agar mendatangkan azab Allah SWT (lihat: QS. Hud [11]: 32).

Mereka juga mengancam beliau, maka, Nabi Nuh pun mengadukan mereka kepada Allah SWT dan meminta pertolongan kepada-Nya (lihat: QS. al-Qamar [54]: 9. Juga QS. al-Mukminun [23]: 26).

Setelah itu, Allah SWT memerintahkan Nuh as. untuk membuat perahu. Allah SWT berfirman: “Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami (TQS. Hud [11]: 37). Ketika Nuh as. membuat bahtera, kaumnya kembali menunjukkan permusuhan dan kebencian mereka. Setiap kali melewati Nuh, mereka mengejek utusan Allah SWT itu. Akhirnya, azab yang mereka tantang datang berupa banjir besar yang menenggelamkan mereka. Termasuk di antara mereka adalah putra beliau sendiri (lihat: QS. Hud [11]: 37-46).

Berbeda nasibnya dengan orang-orang yang beriman kepada beliau, mereka ikut menaiki kapal Nabi Nuh as. dan diselamatkan (lihat: QS. al-A'raf [7]: 64).

Allah SWT berfirman: Wa ja'alnaahum li al-naas aayah (dan Kami jadikan [cerita] mereka itu pelajaran bagi manusia). Dikatakan al-Qurthubi, itu menjadi 'alaamah zhaahirah (tanda yang terang) atas kekuasaan Allah. Ibnu Jarir al-Thabari berkata, ”Dan Kami jadikan hukuman kami berupa menenggelamkan mereka sebagai pelajaran dan ibrah bagi manusia."

Allah SWT berfirman: Wa a'tadnaa li al-zhaalimiin adzaab[an] a‘liim[an] (Dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang zhalim azab yang pedih). Dalam konteks ayat ini, kata al-zhaalimiin adalah kaum musyrik Nabi Nuh. Demikian pejelasan al-Qurthubi dalam tafsirnya. Terhadap mereka, Allah sediakan adzaab[an] a‘liim[an]. Yakni, azab di akhirat.

Dikatakan al-Biqa'i, pada awalnya lahum (untuk mereka). Akan tetapi diterangkan secara umum dan ketentuannya dikaitkan dengan sifat, sehingga disebutkan: li al-zhaalimiin. Yakni untuk semua mereka di setiap zaman dan tempat disebabkan oleh kezhaliman mereka yang meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya.

Demikianlah nasib yang harus dialami oleh kaum yang mendustakan rasul beserta semua risalah yang dibawanya. Kejadian ini seharusnya menjadikan pelajaran bagi siapapun. Bahwa manusia sesungguhnya makhluk yang lemah. Tak mungkin bisa mengalahkan kekuasaan-Nya. Maka tidak ada pilihan lain baginya kecuali tunduk dan patuh kepada-Nya. Terlebih, ketundukan dan kepatuhan itu sesungguhnya akan berakibat baik bagi dirinya.

Jika kaum Nabi Nuh as. yang beriman diselamatkan, demikian pula umat Nabi Muhammad ﷺ. Siapapun yang beriman dan mengikuti risalah beliau akan selamat. Imam Malik dan para ulama salaf lainnya, sebagaimana dikutip Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' al-Fataawa, berkata, ”al-Sunnah kasafiinah Nuuh, man rakibahaa najaa waman takhallafa 'anhaa ghariqa (Sunnah itu seperti kapal Nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya akan selamat dan siapa saja yang tidak menaikinya akan tenggeIam)”.

Allah SWT dengan rahmat dan kasih-sayangnya yang tak terbatas akan memberikan nikmat dan anugerah yang jauh lebih besar ketika hamba mau taat kepada-Nya. Di samping kebahagiaan di dunia, Allah SWT menyediakan Surga yang luasnya seluas langit dan bumi dengan aneka kenikmatan yang luar biasa. Maka, nikmat manakah yang kalian dustakan wahai manusia?

Maka, sungguh amat keterlaluan ada manusia yang mendustakan Allah SWT dan rasul-Nya beserta semua risalah yang dibawanya. Sebaliknya mereka justru menyembah dan tunduk kepada selainnya, mengikuti perintah musuh-musuh-Nya, dan mengambil hukum dan aturan selain syariah-Nya. Tidak ada yang pantas untuk mereka kecuali azab yang pedih di dunia dan akhirat. Wal-Laah a'lam bi al-shawaab.[]

Ikhtisar:
1. Kaum Nabi Nuh as. yang mendustakan dakwah  beliau dibinasakan dengan banjir besar yang menenggelamkan mereka.
2. Nabi Nuh as. beserta orang-orang yang beriman kepadanya diselamatkan.
3. Peristiwa yang menimpa kepada Nabi Nuh seharusnya menjadi pelajaran bagi seluruh manusia.[]

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 147

Selasa, 07 Januari 2020

Azab Bagi Kaum-Kaum yang Mendustakan TAFSIR al-Furqan 38-39



Oleh: Rokhmat S. Labib, MEI

“Dan (Kami binasakan) kaum ‘Ad dan Tsamud dan penduduk Rass dan banyak (lagi) generasi-generasi di antara kaum-kaum tersebut. Dan Kami jadikan bagi masing-masing mereka perumpamaan dan masing-masing mereka itu benar-benar telah Kami binasakan dengan sehancur-hancurnya.” (TQS. al-Furqan [25]: 38-39).

Di daIam Al-Qur’an banyak dikisahkan tentang peristiwa yang dialami kaum-kaum terdahulu. Termasuk, kaum-kaum yang mendustakan Allah SWT dan kesudahan hidup mereka. Semua itu dikisahkan agar menjadi pelajaran penting bagi generasi berikutnya.

Ayat ini memberitakan tentang kisah yang dialami kaum 'Ad, Tsamud, dan penduduk Rass. Juga, kaum-kaum yang hidup di antara masa mereka. Semuanya mendapatkan nasib yang sama, yakni ditimpakan azab. Penyebabnya, mereka semuanya mendustakan  petunjuk dan peringatan rasul-rasul Allah SWT.

Kisah Kedurhakaan

Allah SWT berfirman: Wa 'Aad wa Tsamuud wa Ashhaab al-Rass (dan [Kami binasakan] kaum ‘Aad dan Tsamud dan penduduk Rass). Setelah dalam ayat sebelumnya dikisahkan kaum Nuh yang ditenggelamkan lantaran mendustakan Nabi Nuh As, lalu dilanjutkan ayat ini yang mengisahkan beberapa kaum terdahulu lainnya.

Mereka adalah kaum ‘Ad, Tsamud, dan penduduk Rass. Kaum 'Aad adalah nama satu kabilah Arab pada masa dahulu. Mereka hidup setelah lenyapnya kaum Nabi Nuh As. Di antara keistimewaan mereka adalah tubuh mereka yang kuat dan perkasa. Allah SWT berfirman: “Dan Tuhanmu telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu” (TQS. al-A'raf [7]: 69). Juga kemampuan mereka dalam membuat bangunan-bangunan yang tinggi. Allah SWT berfirman: “Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah yang tinggi bangunan untuk bermain-main? Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)?” (TQS. al-Syu'ara' [26]:128-129).

Sebagaimana kaum 'Ad, kaum Tsamud juga termasuk bangsa Arab terdahulu. Mereka tinggal di daerah Hijr (lihat: QS. al-Hijr [15]: 80), sebuah daerah yang berada di antara Hijaz dan Tabuk. Mereka hidup setelah dibinasakannya kaum 'Ad (QS. al-A’raf [7]: 74). Sedangkan penduduk Rass, terdapat perbedaan di antara para mufassir tentang siapa mereka. Menurut Imam al-Qurthubi, kata Rass dalam bahasa Arab berarti sumur yang tidak kering. Bentuk jamaknya adalah rassaas. Ibnu 'Abbas berkata, "Saya bertanya kepada Ka'ab tentang ash-haab al-Rass.” Dijawab olehnya, "Mereka adalah kaum yang disebutkan dalam surat Yasin: Qaala yaa qawmii [i]ttabi'uu al-mursaliin (“dia berkata, ”Wahai kaumku, ikutilah para utusan Allah).” Kemudian dia dibunuh dan dikuburkan dalam sebuah sumur mereka, yang dinamai sumur Rass, lalu mereka melemparkannya ke dalam sumur itu. Demikian menurut Muqatil, sebagaimana dikutip al-Qurthubi.

Menurut Ali ra., mereka adalah kaum yang menyembah pohon Shaunabir, lalu didoakan keburukan oleh nabi mereka, yang merupakan salah satu anak Yahudza. Maka, pohon itu pun mengering. Kemudian mereka membunuh nabi itu dan menguburkannya di dalam sebuah sumur. Mereka lalu dinaungi awan hitam. Sedangkan Ibnu Jarir mengemukakan bahwa Ash-haab al-Rass adalah Ash-haab al- Ukhduud yang diberitakan dalam QS al-Buruj.

Di samping penjelasan tersebut, masih banyak penjelasan lain yang dikemukakan oleh para mufassir. Perbedaan itu tidak mengherankan karena di dalam Qur’an tidak diberikan keterangan yang jelas mengenai kaum Rass. Bahkan, kaum tersebut hanya disebutkan di dalam dua ayat, yakni dalam ayat ini dan dalam QS. Qaf [50]: 12.

Kemudian Allah SWT berfirman: Wa quruun[an] bayna dzaalika katsiir[an] (dan banyak [lagi] generasi-generasi di antara kaum-kaum tersebut). Di samping tiga kaum tersebut, masih ada kaum-kaum lain yang hidup di antara masa mereka. Ditegaskan ayat ini, jumlah mereka banyak.

Kata al-quruun dalam ayat ini merupakan bentuk jamak dari kata al-qarn. Menurut Ibnu Katsir, makna al-qarn adalah suatu umat dari kalangan manusia. Ini sebagaimana firman Allah SWT: Kemudian, Kami jadikan sesudah mereka qarn[an] aakhariin, umat yang lain (TQS. al-Mukminun [23]: 31). Batas waktu di antara mereka dengan genarasi lainnya adalah 120 tahun. Ada juga yang mengatakan 100 tahun, 80 tahun, 40 tahun, atau jumlah lainnya. Yang jelas, al-qarn adalah umat yang berada dalam satu zaman yang sama. Apabila mereka sudah tidak ada lagi, lalu digantikan oleh generasi berikutnya.

Azab bagi yang Durhaka

Kemudian Allah SWT berfirman: Wa kulla[n] dharabnaa lahu al-amtsaal (dan Kami jadikan bagi masing-masing mereka perumpamaan). Kata kulla[n] menunjuk kepada semua kaum yang disebutkan tersebut. Yakni, ‘Ad, Tsamud, penduduk Rass, dan semua kaum di antara mereka yang tidak disebutkan namanya satu per satu. Terhadap mereka, Allah SWT telah memberikan petunjuk. Menurut Ibnu Katsir, ayat ini berarti: ”Kami telah menjelaskan kepada mereka berbagai hujjah, dan Kami telah menerangkan kepada mereka petunjuk.”

Kepada kaum ‘Ad, petunjuk itu disampaikan oleh utusan-Nya, Nabi Hud as. Allah SWT berfirman: “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Ad saudara mereka, Hud” (TQS. al-A'raf [7]: 65). Sedangkan kepada kaum Tsamud, Allah SWT mengutus Nabi Shaleh as. untuk menyampaikan petunjuk-Nya. Allah SWT berfirman: “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh” (TQS. al-A'raf [7] 73). Sementara penduduk Rass dan generasi yang hidup di antara masa-masa mereka tidak diberitakan nabi yang diutus kepada mereka. Meskipun demikian, semuanya mendapatkan petunjuk dari-Nya. Allah SWT berfirman: “Dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk” (TQS. al-Ra'd [13]: 7). Para utusan Allah SWT itu termasuk dalam kategori yang diceritakan, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: “Dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu” (TQS. al-Mu’min [40]: 78).

Sekalipun telah mendapatkan petunjuk yang terang dan peringatan yang jelas, namun mereka mendustakan rasul-rasul yang diutus untuk mereka. Allah SWT berfirman: “Sebelum mereka telah mendustakan (pula) kaum Nuh dan penduduk Rass dan Tsamud, dan kaum ‘Ad, kaum Fir'aun dan kaum Luth, dan penduduk Aikah serta kaum Tubba‘, semuanya telah mendustakan rasuI-rasul, maka sudah semestinyalah mereka mendapat hukuman yang sudah diancamkan” (TQS. Qaf [50]: 12-14).

Atas sikap dan tindakan mereka itu, mereka pun harus menerima akibatnya. Yakni, ditimpa azab yang dahsyat. Dalam firman Allah SWT disebutkan: Wa kulla[n] tabbarnaa tatbiir[an] (dan masing-masing mereka itu benar-benar telah Kami binasakan dengan sehancur-hancurnya). Menurut al-Alusi, kata al-tatbiir berarti al-taftiit (meremukkan, menghancurkan). Dikatakan al-Zajjaj, kullu syay'[in] kasartuhu wafatattu, faqad tabartuhu (segala sesuatu yang saya pecahkan dan saya remukkan, sungguh telah kuhancurkannya). Dan yang dimaksudkan dengannya adalah al-tamziiq wa al-ihlaak (mengoyak dan menghancurkan).

Dengan demikian, ayat ini memberitakan bahwa mereka dihancurkan Allah SWT. Tentang ayat ini, Ibnu Katsir berkata, ahlaknaa ihlaakan, Kami menghancurkan (mereka) dengan sehancur-hancurnya. Ini seperti firman Allah SWT: “Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan” (TQS. al-Isra’ [17]: 17).

Mengenai azab yang ditimpakan kepada kaum-kaum tersebut, diberitakan dalam beberapa ayat lain. Kaum ‘Ad binasa setelah diterjang angin yang sangat dingin dan amat kencang, selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus. Mereka pun mati bergelimpangan seperti tunggul-tunggul pohon kurma yang telah lapuk. Setelah itu, mereka tak tersisa (lihat: QS. al-Haqqah [69]:6-8).

Sedangkan kaum Tsamud, setelah menyembelih unta yang menjadi mukjizat Nabi Shaleh, mereka ditimpa azab tiga hari setelahnya. Mereka dibinasakan dengan suara keras yang mengguntur, lalu mati bergelimpangan di rumahnya (lihat: QS. Hud [11]: 67). Di samping itu, mereka juga ditimpa oleh gempa (lihat: QS. al-A'raf [7]: 78).

Demikianlah kesudahan kaum-kaum yang mendustakan petunjuk dari Allah SWT. Karena pembangkangan yang mereka lakukan, mereka harus menerima akibatnya. Masihkah ada di antara kita yang berani menolak syariah -Nya? Wal-Laah a'lam bi al-shawaab.[]

Ikhtisar:
1. Kaum ‘Ad, kaum Tsamud, dan penduduk Rass dan beberapa kaum yang hidup di antara masa-masa mereka memiliki kesamaan sikap, yakni mendustakan rasul.
2. Sebagai balasannya, semua kaum tersebut mendapat azab di dunia dan akhirat.[]

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 148

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam