Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Rabu, 25 Mei 2022

Materi Ceramah: Muhasabah dalam Menjaga Allah


‘Menjaga’ Allah SWT (Al-Arba’ûn an-Nawawiyah hadits ke-19)

 

 

Alhamdulillah... Alhamdulillah 'ala kulli hal. Selama kita berbuat benar sesuai tuntunan syariat, sesuai Islam dalam apapun urusan kita, dalam keadaan seperti apapun, maka itu adalah kebaikan bagi kita.

 

Kita pastinya sebagai orang yang beriman, ingin kualitas keislaman kita hari ini lebih baik daripada hari kemarin, ingin hari esok lebih baik daripada hari ini.

 

Kalau kita membandingkan kondisi keislaman kita hari ini dengan setahun yang lalu bisa jadi tidak terasa banyak berbeda, meski bisa juga dalam 1 tahun sudah ada banyak peningkatan pada diri kita, tiap-tiap orang berbeda-beda potensinya. Namun, jika kita bandingkan kondisi diri kita hari ini dengan diri kita 3 tahun, atau 5 tahun yang lalu, mestinya kita telah merasakan banyak peningkatan kita dalam berIslam. Jika belum merasa, maka harus menjadi motivasi lebih untuk meningkatkan iman dan taqwa.

 

Yang sudah mengalami banyak peningkatan pun mesti terus bercita-cita untuk berlanjut lebih meningkat di masa yang akan datang.

 

Sebagai bahan muhasabah kita, berikut ini hadits yang tercantum di dalam Al-Arba’ûn an-Nawawiyah hadits ke-19. Mengenai "Menjaga Allah."

 

Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, Ahmad dan al-Hakim:

Ibn Abbas (sepupu Nabi SAW) berkata: Suatu hari aku ada di belakang Rasulullah saw. Beliau bersabda,

 

 « يَا غُلاَمُ إِنِّى أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ »

 

 “Nak, aku ajari kamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu.  Jagalah Allah, niscaya engkau mendapati Allah di hadapanmu.  Jika kamu meminta maka mintalah kepada Allah. Jika kamu meminta tolong maka mintalah tolong kepada Allah.  Ketahuilah, sesungguhnya jika umat bersatu untuk memberi kamu manfaat dengan sesuatu, tiadalah mereka dapat memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan untuk kamu.  Andai mereka bersatu untuk mencelakakan kamu dengan sesuatu, tiadalah mereka dapat mencelakakan kamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan atas kamu.  Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR at-Tirmidzi, dan al-Hakim). (http://hizb-indonesia.info/2011/08/10/%e2%80%98menjaga-allah-swt-al-arbaun-an-nawawiyah-hadits-ke-19/ )

 

Dan di dalam riwayat Ahmad,

"Jagalah Allah, kamu pasti mendapatkan-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah di saat senang, niscaya Dia mengenalmu di saat susah. Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang ditentukan menimpamu, niscaya tidak akan meleset darimu. Dan apa saja yang ditentukan meleset darimu niscaya tidak akan menimpamu. Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan ada bersama kesabaran, kelapangan bersama kesusahan, dan sesungguhnya bersama kesusahan ada kemudahan." (HR. Ahmad dan Abu Ya'la) (Abdurrahman bin Abdullah as-Sanad, Himpunan Materi Kultum, 2010, Darul Haq)

 

Apa yang dimaksud dengan "menjaga Allah?" Maksudnya adalah menjaga hukum hudud, hak-hak, perintah-perintah dan larangan-larangan Allah SWT. (http://hizb-indonesia.info/2011/08/10/%e2%80%98menjaga-allah-swt-al-arbaun-an-nawawiyah-hadits-ke-19/ )

Menaati syariat Islam. Jadi, "menjaga Allah" memiliki makna yang sangat luas mencakup semua ajaran Islam.

 

Seluruh ajaran Islam bisa dibagi menjadi 3 kategori atau 3 dimensi besar...


Bagaimana kita "menjaga Allah" dalam hal aqidah: meyakini, mengimani apa-apa yang harus diimani di dalam Islam, terkandung di dalam wahyu Allah, nash-nash al-Qur'an dan as-Sunnah.

 

Di masa kita hidup saat ini, yaitu bukan di dalam sistem Islam, bukan pemerintahan yang menegakkan al-Qur'an dan as-Sunnah, menjaga aqidah menjadi hal yang sangat berat. Karena bergantung pada individu kita masing-masing, keluarga kita, dan kelompok-kelompok saja.

> Banyak terjadi pemurtadan, banyak Muslim yang murtad.

> Banyak aliran sesat. Data MUI 2016 lebih 300 aliran sesat.

> Banyak pemikiran liberalisme atau paham kebebasan.

 

Sebagai contoh, Kristenisasi...

 

Ada yang menganggap ajaran Islam tidak lengkap, syariat Islam tidak bisa menjadi solusi...

 

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِيناً﴾

 

“...Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (TQS. AL-Maidah [5] : 3)

 

Dalam hal ibadah, ada yang menganggap shalat 5 waktu itu tidak wajib, yang penting kita ingat kepada Allah. Zakat, zakat fithri. Haji.

 

Pada dimensi 2:

 

Dalam hal makan dan minum: pergi ke Korea Selatan kemudian tidak menjaga makan yang halal. Bahkan ada yang berpendapat kalau ke negeri kafir boleh makan apa saja, semuanya boleh.

 

Hadits 10 pihak yang dilaknat Allah SWT terkait khamr...

 

Dalam hal pakaian, masih banyak yang tidak syar'i...

 

Mengenai akhlak, banyak kita jumpai sifat tidak amanah, berbohong - penipuan, memfitnah - radikal radikul, ghibah, apalagi jika menuruti akhlak Islam itu bertentangan dengan kepentingan duniawi atau hawa nafsu.

 

Pada dimensi 3:

 

1) Sistem pemerintahan. Misalnya, kewajiban menegakkan Kitabullah.

 

Rasul saw. bersabda:

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوْا اللهَ، وَإِنْ أُمِّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ مُجَدَّعٌ، فَاسْمَعُوْا وأَطِيْعُوْا مَا أَقَامَ فِيْكُمْ كِتَابَ اللهِ

 

"Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah. Jika diangkat amir atas kalian seorang hamba sahaya Habasyi yang hitam legam maka dengar dan taatilah dia selama dia menegakkan di tengah kalian Kitabullah."  (HR at-Tirmidzi)

 

Anas bin Malik ra. juga meriwayatkan hadits yang maknanya senada. Rasul saw. bersabda:

 

اِسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَإِنْ اُسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ كَأَنَّهُ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ

 

"Dengar dan taatlah kalian meski seandainya diangkat sebagai pemimpin atas kalian seorang hamba sahaya Habasyiy seolah-olah kepalanya seperti kismis."  (HR al-Bukhari, an-Nasai dan Ahmad)

(http://hizb-indonesia.info/2015/06/03/wajib-menaati-pemimpin/ )

 

 

Haramnya perempuan menjadi penguasa.

 

Hadits dari Abi Bakrah ra. yang berkata, ketika sampai kepada Rasulullah saw. bahwa rakyat Persia menjadikan putri Kisra sebagai penguasa mereka, maka Beliau bersabda:

 

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُم امْرَأَةً

 

"Sekali-kali tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (pemerintahan) mereka kepada seorang perempuan." (HR al-Bukhari).

(http://hizb-indonesia.info/2016/08/24/syarat-syarat-qadhi/ )

 

2) Sistem Ekonomi. Haramnya riba...

Penguasaan oleh individu atau perusahaan swasta terhadap apa-apa yang di dalam Islam merupakan harta milik umum...

 

3) Sistem Sosial. Banyak maksiat pacaran, gaul bebas....

Pernikahan beda agama...

 

4) Sistem Pidana.

 

5) Pendidikan. Dalam Islam membentuk manusia dengan Kepribadian Islam. Aqliyah dan nafsiyah Islam...

 

Putus sekolah. Dalam rentang tahun 2018-2020 angka putus sekolah SMA/SMK di Jateng yakni 31.479 siswa.

(https://jateng.inews.id/berita/angka-putus-sekolah-di-jateng-tinggi-dewan-ingatkan-ppdb-wajib-perhatikan-3-hal-ini )

 

Jumlah sekolah rusak.

Data 2019 ada 251.316 ruang kelas SD hingga SMA rusak parah. (https://nasional.okezone.com/read/2019/12/06/337/2138942/251-316-ruangan-kelas-sd-hingga-sma-di-indonesia-rusak-parah )

 

6) Politik Luar Negeri. Dakwah dan jihad.

Palestina...

 

 

Siapa saja yang "menjaga Allah," balasannya adalah Allah akan menjaga dirinya. 

 

Menurut Ibn Rajab, penjagaan Allah untuk hamba itu ada dua jenis. 

Pertama: penjagaan Allah SWT dalam berbagai kemaslahatan dunia, seperti menjaga hamba dalam hal badannya, anaknya, keluarganya dan hartanya; atau menjaga dia dari bahaya. 

 

Kedua: ini lebih mulia, yaitu penjagaan Allah SWT dalam agama dan keimanan hamba itu sehingga Allah menjaga dia dari syubhat yang menyesatkan, dari syahwat yang haram, dan pada saat kematiannya sehingga Allah mewafatkan dia di atas iman. (http://hizb-indonesia.info/2011/08/10/%e2%80%98menjaga-allah-swt-al-arbaun-an-nawawiyah-hadits-ke-19/ )

 



Selasa, 29 Maret 2022

Materi Kultum: Pidato Nabi SAW Menjelang Ramadhan

 


 

Nabi dan Rasul kita Muhammad SAW sekaligus Beliau sebagai kepala negara berkhutbah di hadapan kaum Muslimin pada akhir bulan Sya'ban untuk menerangkan keutamaan dan keistimewaan bulan suci Ramadhan.

 

Disebutkan di dalam hadits riwayat al-Baihaqi dalam Kitab Syu’ab al-Iman no.3455; Ibnu Khuzaimah di dalam At-Targhib no.1780.

 

Isi khutbah akhir Sya'ban Rasulullah SAW adalah sebagai berikut,

 

”Wahai manusia, sungguh telah dekat kepadamu bulan yang agung, bulan yang penuh dengan keberkahan, yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik (nilainya) daripada seribu bulan, bulan yang Allah tetapkan puasa di siang harinya sebagai fardhu, dan shalat (tarawih) di malamnya sebagai sunnah. Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah di bulan ini dengan satu kebaikan (amalan sunnah), maka pahalanya seperti dia melakukan amalan fardhu di bulan-bulan yang lain. Barangsiapa melakukan amalan fardhu di bulan ini, maka pahalanya seperti telah melakukan 70 amalan fardhu di bulan lainnya.”

 

“Inilah bulan kesabaran, dan balasan atas kesabaran adalah surga, bulan ini merupakan bulan kedermawanan dan simpati (satu rasa) terhadap sesama. Dan bulan di mana rezeki orang-orang yang beriman ditambah. Barangsiapa memberi makan (untuk berbuka) orang yang berpuasa maka baginya pengampunan atas dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan dia mendapatkan pahala yang sama sebagaimana yang berpuasa tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa.”

 

Mereka (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kami mempunyai sesuatu yang bisa diberikan kepada orang yang berpuasa untuk berbuka.”

 

Rasulullah menjawab, “Allah akan memberikan pahala ini kepada orang yang memberi buka puasa walaupun dengan sebiji kurma, atau seteguk air, atau setetes susu.”

 

“Inilah bulan yang permulaannya Allah menurunkan rahmat, yang pertengahannya Allah memberikan ampunan, dan yang terakhirnya Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka. Siapa saja yang meringankan budaknya di bulan ini, maka Allah akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka.”

 

“Dan perbanyaklah melakukan 4 hal di bulan ini, yang 2 hal dapat mendatangkan ridha Tuhanmu, dan yang 2 hal kamu pasti memerlukannya.

2 hal yang mendatangkan ridha Allah yaitu syahadah (Laailaaha illallaah) dan beristighfar kepada Allah, dan 2 hal yang pasti kalian memerlukannya yaitu mohonlah kepada-Nya untuk masuk Surga dan berlindung kepada-Nya dari api Neraka. Dan barangsiapa memberi minum kepada orang yang berpuasa (untuk berbuka), maka Allah akan memberinya minum dari telagaku, di mana dengan sekali minum ia tidak akan merasakan haus sehingga ia memasuki Surga.“

 

 

Bacaan:

muslimahnews.com/2021/04/12/pidato-rasulullah-SAW-di-akhir-bulan-syakban/

Senin, 28 Maret 2022

Hari Gini Umat Makin Cerdas Menyikapi Fitnah terhadap Dakwah Penegakan Islam Kaffah

 


Oleh: Annas I. Wibowo

 

Beredar video fitnah yang perlu ada pelurusan sebagai berikut.

 

🟠 Pertama, jelas fitnah kalau Hizbut Tahrir kantor pusatnya di London, apalagi dibiayai oleh Barat untuk melakukan penyesatan politik pada umat.

 

🟠 Kedua, saya belum tahu soal Ust. Felix Siauw bilang bela tanah air tidak ada dalilnya, fakta video atau tulisannya seperti apa.

 

Yang jelas, Negara Nabi SAW dan para Sahabat adalah Negara Islam dengan konstitusi Islam menerapkan syariat Islam totalitas, kekuasaannya sah menurut syariat Islam.

Jadi, Nabi SAW dan para sahabat bukan bela negara sistem bukan-Islam, negara sekularisme yang bathil menurut hukum Islam.

 

Dan yang jelas, di dalam Islam ada kewajiban bela Kaum Muslimin.

 

Orang-orang kafir boleh ikut berperang sebagai tentara Daulah Islam di bawah bendera Daulah Islam, sebagai individu-Individu, bukan sebagai institusi kafir dengan bendera kafir. Orang kafir termasuk kafir dzimmi tidak wajib berperang.

Ini telah diulas beserta dalil-dalilnya di kitab Muqaddimah ad-Dustur.

 

Kewajiban kaum kafir berperang hanya terbatas selama berlaku Piagam Madinah yaitu melawan musuh yang memerangi pihak yang terikat Piagam Madinah sebagaimana tertulis dalam Piagam tersebut. Itupun, ketika perang Uhud Nabi SAW sudah tidak mewajibkan kaum kafir yahudi ikut berperang.

 

"Sebelum kami (penulis buku) berjalan bersama pasukan kaum muslimin menuju Uhud, kami harus mengingatkan bahwa Rasulullah Saw. tidak setuju adanya elemen di antara elemen-elemen tentaranya yang tidak jelas. Seperti

 

tampak pada reaksi beliau atas perkataan sebagian kaum Anshar, “Wahai Rasulullah, mengapa kami tidak meminta bantuan pada sekutu kami di antara orang-orang Yahudi?” Rasulullah Saw. bersabda, “Kami tidak memerlukan mereka.” (Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, Sirah Nabawiyah - Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Al-Azhar Press)

 

🟠 Ketiga, Baitul Maal sudah ada sejak pertama kali Daulah Islam tegak, sejak ada harta yang dikumpulkan Negara (oleh Nabi SAW) dari Kaum Muslimin untuk membiayai keperluan Negara Islam.

 

Harta pertama yang diperoleh Daulah Islam dari perang adalah dari kaum kafir Quraisy yang diserang oleh detasemen pimpinan Abdullah bin Jahsy ra. pada bulan Rajab tahun 2 Hijriyah.

 

Terkait Mukhairiq, disebutkan dalam bukunya Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, Sirah Nabawiyah - Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw.:

"Di medan perang itu mereka meninggalkan 70 syahid dari kalangan kaum Muslimin, di antara mereka adalah orang Islam yang telah kuat dengan Islamnya; orang Yahudi yang adil yang meminta kaumnya orang-orang Yahudi agar membantu Muhammad, sebab dia Rasul yang dijanjikan, namun kaumnya menolak, maka akhirnya dia bergabung dengan kaum Muslimin dan turut berperang hingga dia terbunuh, seperti “Mukhairik”..."

 

Jadi, orang kafir tidak diwajibkan ikut berperang. Mukhairiq hanya berinisiatif sendiri.

 

Kaum Yahudi yang pertama diusir oleh Daulah Islam adalah Yahudi Bani Qainuqa, terjadi sebelum Perang Uhud. Sehingga, bisa jadi Daulah Islam mendapatkan harta dari mereka sebagaimana diperoleh dari yahudi bani Nadhir.

 

🟠 Keempat, Nabi SAW memerintah Negara Islam murni berdasarkan wahyu Allah SWT, syariat Islam, bukan mengadaptasi dari konsep-konsep kehidupan di Madinah. Justru, kehidupan Daulah Islam di Madinah berjalan sesuai syariat Islam berdasarkan wahyu, bukan berdasar budaya atau tradisi hawa nafsu nenek moyang, bukan pula dengan sekularisme-demokrasi.

WalLâhu a’lam. []

 

Kamis, 24 Maret 2022

Materi Kultum: Mendukung Penegakan Negara Sistem Syariat Islam adalah Konsekuensi Keimanan

 

 

Teladan kita Umat Islam sepanjang masa Rasulullah Muhammad SAW telah menuntunkan kepada kita bagaimana mengemban risalah Islam hingga mencapai keberhasilan.

 

Salah satu bagian dari dakwah Rasul SAW adalah yang disebut dengan Thalabun Nushrah, berdakwah mencari pertolongan dari kalangan pemilik kekuatan untuk tegaknya Islam.

 

Ketika Abu Thalib, paman Nabi SAW, meninggal masyarakat Makkah makin tampak jumud dan tertutup di hadapan dakwah Rasul SAW. Dengan meninggalnya Abu Thalib, permusuhan kafir Quraisy kepada Rasul SAW semakin sengit.

 

Lalu Allah SWT mewahyukan kepada Beliau untuk menyodorkan diri Beliau kepada kabilah-kabilah Arab untuk menyampaikan dakwah Islam dan meminta perlindungan serta Nushrah (pertolongan) mereka kepada Beliau sehingga Beliau mampu menyampaikan apa yang Beliau diutus dengannya dari Allah SWT, sementara Beliau dalam keadaan aman dan terlindungi.

 

Ibn Katsir menyatakan di dalam Sirah dari Ali bin Abi Thalib ra., ia berkata:

 

"Ketika Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menyodorkan diri Beliau kepada kabilah-kabilah Arab, Beliau keluar dan saya dan Abu Bakar bersama Beliau ke Mina hingga kami datangi majelis-majelis orang Arab."

 

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibn Katsir dari Ibn Abbas dari al-‘Abbas ia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepadaku:

 

"Saya tidak melihat padamu dan saudaramu perlindungan. Apakah engkau mau menemaniku keluar ke pasar besok, hingga kita berdiam di tempat-tempat singgah kabilah-kabilah orang –dan mereka adalah sekumpulan orang Arab-“. Al-‘Abbas berkata, “Maka aku katakan, ini [Bani] Kindah dan kemahnya, dan mereka adalah orang yang terbaik yang menunaikan haji dari orang Yaman. Ini tempat singgah Bakar bin Wail. Ini tempat singgah Bani Amir bin Sha’sha’ah. Pilihlah untuk dirimu.” Al-‘Abbas berkata: “Maka Beliau memulai dengan Kindah dan Beliau mendatangi mereka.”

 

Jelas bagi ahlul quwah “kabilah-kabilah” pemilik kekuatan pada waktu itu yang diminta nushrah-nya oleh Rasul saw., jelas bagi mereka bahwa yang diminta adalah menerima dakwah dan melindungi Rasul SAW sehingga memungkinkan Beliau menegakkan di tengah mereka hukum-hukum Allah SWT. Yakni mereka paham dengan gamblang dan jelas bahwa nushrah tersebut adalah untuk mendirikan negara yang memerintah, berdakwah dan berjihad.

 

Karena itu, Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah, ketika Rasul SAW meminta nushrah-nya mereka berkata:

 

“Bagaimana pandanganmu jika kami membai’atmu atas urusanmu, kemudian Allah memenangkanmu atas orang yang menyelisihimu, apakah urusan (kekuasaan) sesudahmu menjadi milik kami? Rasul menjawab, “Urusan (kekuasaan) ada pada Allah, Dia akan serahkan sesuai kehendak-Nya.” Al-‘Abbas berkata: “Maka salah seorang berkata kepada Beliau: “Apakah kami dikorbankan orang Arab untuk melindungimu dan jika Allah memenangkanmu, urusan (kekuasaan) untuk selain kami! Kami tidak ada keperluan dengan urusanmu. Lalu mereka menolak Beliau.”

 

Demikian juga Bani Syaiban berkata kepada Rasul SAW ketika Beliau meminta nushrah-nya:

 

“Sungguh kami tinggal di antara dua bahaya.” Rasul bersabda: “Apakah dua bahaya itu?” Ia berkata: “Sungai Kisra dan perairan al-Arab. Sesungguhnya kami tinggal di atas perjanjian yang diambil oleh Kisra atas kami, bahwa kami tidak membuat insiden dan tidak mendukung pembuat insiden. Dan saya melihat perkara yang engkau minta termasuk apa yang tidak disukai oleh para raja. Jika engkau ingin kami mendukungmu dan menolongmu dari apa yang mengikuti perairan Arab, kami lakukan.” Rasululah SAW pun bersabda: “Engkau tidak berlaku buruk dalam menolak, sebab engkau menjelaskan dengan jujur. Dan sesungguhnya agama Allah itu, tidak akan menolongnya kecuali orang yang melingkupinya dari segala sisinya.”

 

Jadi mereka memahami bahwa nushrah itu berarti pemerintahan dan risiko jihad melawan orang Arab dan non-Arab. Maka Bani Syaiban setuju memerangi orang Arab, dan tidak setuju memerangi Persia.

 

Kemudian ketika Allah SWT memberikan keputusan-Nya, terjadilah bai'at Aqabah kedua yang merupakan nushrah untuk menegakkan Daulah Islam di Madinah.

 

Laa haula walaa quwwata illaa bilLaah.

 

 

Bacaan:

https://tsaqofah.id/jawaban-pertanyaan-seputar-thalab-an-nushrah/

 

Rabu, 23 Maret 2022

Materi Kultum: Pemerintahan Orang Dungu dan Dampak Buruknya

  

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَخَافُ عَلَيْكُمْ سِتًّا إِمَارَةَ السُّفَهَاءِ, وَبَيْعَ الْحُكْمِ, وَكَثْرَةَ الشَّرْطِ, وَقَطِيعَةَ الرَّحِمِ, وَنَشْئًا يَنْشَئُونَ يَتَّخِذُونَ الْقُرْآنَ مَزَامِيرَ, وَسَفْكَ الدَّمِ

 

Rasulullah saw. bersabda, “Aku mengkhawatirkan atas diri kalian 6 perkara: kepemimpinan orang bodoh; jual-beli hukum/pemerintahan; banyakya polisi; pemutusan tali silaturahmi; orang muda yang tumbuh menjadikan al-Qur'an layaknya nyanyian; penumpahan darah” (HR Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, ath-Thabarani).

 

Redaksi hadits tersebut menurut riwayat dari jalur ‘Awf bin Malik. Hadits tersebut juga diriwayatkan dari jalur ‘Abis al-Ghifari. Ia mengatakan, Rasul saw. bersabda:

 

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ سِتًّا: إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ, وَكَثْرَةُ الشُّرَطِ, وَبَيْعُ الْحُكْمِ, واسْتِخْفَافٌ بِالدَّمِ, وَقَطِيعَةُ الرَّحِمِ, وَنَشْوٌ يَتَّخِذُونَ الْقُرْآنَ مَزَامِيرَ, يُقَدِّمُونَ أَحَدُهُمْ لِيُغَنِّيَهُمْ وَإِنْ كَانَ أَقَلُّهُمْ فِقْهًا

 

"Bersegeralah beramal (sebelum) 6 perkara: kepemimpinan orang bodoh; banyaknya polisi; jual-beli hukum/pemerintahan; penyepelean urusan darah; pemutusan tali silaturahmi; orang muda yang menjadikan al-Qur'an layaknya nyanyian, mereka (penduduk zamannya) mengedepankan salah seorang dari mereka untuk mendendangkan al-Qur'an kepada mereka meski dia paling sedikit pemahamannya" (HR ath-Thabarani).

 

Dalam hadits ini, ada 6 kekhawatiran Rasul terhadap umat. Bisa jadi, kekhawatiran yang pertama adalah yang paling penting. Bahkan 5 kekhawatiran lainnya nampaknya turunan dari yang pertama. Rasul saw. menempatkan kepemimpinan bodoh (imâratu as-sufahâ) sebagai kekhawatiran beliau yang pertama.

 

As-Sufahâ‘ bentuk jamak dari safîh. Maknanya orang dungu, kurang akal dan keahlian, ahlu al-hawa (memperturutkan hawa nafsu), sembrono/gegabah, buruk tindakan dan penilaian.

 

Di dalam Islam, as-sufahâ‘ adalah orang yang tidak boleh diberi kepercayaan untuk mengelola hartanya sendiri (QS an-Nisa’ [4]: 5).

 

Islam memerintahkan agar ada washi’ yang diangkat untuk mengurusi harta orang as-sufahâ‘ itu. 

As-Sufahâ’ dilarang untuk bertransaksi.

 

Jika demikian fakta as-sufahâ‘, lalu bagaimana mungkin dia bisa dipercaya mengelola harta orang lain, apalagi harta publik, dan malah dipercaya mengurusi masyarakat? Kerusakan dan kehancuranlah yang akan terjadi.

 

Rasul saw. menjelaskan tentang imâratu as-sufahâ‘. Beliau bersabda kepada Kaab bin Ujrah:

 

أَعَاذَكَ اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ قَالَ وَمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ قَالَ أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِي لَايَقْتَدُونَ بِهَدْيِي وَلَايَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ لَيْسُوا مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُمْ وَلَا يَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ وَسَيَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي …

 

“Kaab bin ‘Ujrah, aku memohonkan perlindungan kepada Allah untukmu dari imâratu as-sufahâ`.” Kaab berkata, “Apa itu, ya Rasulullah?” Rasul bersabda, “Yaitu para pemimpin yang ada sesudahku. Mereka tidak mengikuti petunjukku dan tidak meneladani sunnahku. Siapa saja yang membenarkan mereka dengan kebohongan mereka dan menolong mereka atas kezhaliman mereka maka dia bukan golonganku dan aku bukan bagian dari golongannya dan dia tidak masuk ke telagaku (di Akhirat).

Sebaliknya, siapa yang tidak membenarkan mereka dengan kebohongan mereka dan tidak menolong mereka atas kezhaliman mereka maka dia termasuk golonganku dan aku termasuk golongannya dan dia akan masuk ke telagaku” (HR Ahmad, al-Bazzar, Ibnu Hibban, al-Hakim, al-Baihaqi).

 

Umumnya penguasa Muslim saat ini mengikuti ‘sunnah’ Sekularisme. Mereka mengambil selain syariah Allah SWT sebagai sistem yang diterapkan.

 

Kekhawatiran Rasul yang ke-2: bay’ al-hukmi, jual-beli kekuasaan dan hukum.

 

Kekhawatiran ke-3: safku ad-dimâ‘, penumpahan darah. Nyawa manusia dianggap murah. Banyak terjadi pembunuhan karena sistem rusak yang dijalankan.

 

Kekhawatiran ke-4, katsratu asy-syurath (banyaknya polisi), pemerintahan yang represif militeristik.

 

Kekhawatian ke-5, pemutusan tali silaturahmi. Ini mencerminkan kerusakan sosial.

Sebagai contoh, di Jepang pada 2020 jumlah rumah tangga 1 orang ada 21 juta lebih, atau 38,1% dari semua rumah tangga. Jumlah lansia yang hidup sendirian 6,7 juta lebih.

(https://japan-forward.com/dual-standout-statistics-from-2020-census-rapid-increase-in-foreigners-and-single-person-households/amp/)

 

Di Indonesia pada 2020 jumlah perceraian sebanyak 291 ribu lebih kasus. (https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/02/28/kasus-perceraian-meningkat-53-mayoritas-karena-pertengkaran)

 

Kekhawatiran ke-6, Al-Qur'an dijadikan layaknya nyanyian, tidak dipahami mendalam, kemudian hukum-hukum al-Qur'an dan as-Sunnah tidak diterapkan.

 

Begitulah, kekhawatiran Rasul saw. atas umat ini dimulai dari bahaya pemerintahan sufahâ‘ dan bermacam kerusakan yang dihasilkan terus-menerus.

 

Tentu semua itu harus diakhiri dan diubah. Caranya dengan mewujudkan kembali pemerintahan al-Qur'an dan as-Sunnah sebagaimana Rasul saw. dan para sahabat radhiyalLâhu ‘anhum.

 

 

Bacaan:

https://al-waie.id/hadis-pilihan/pemimpin-bodoh-dan-dampak-buruknya/

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam