Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Selasa, 19 Maret 2019

Hizbut Tahrir Wilayah Bangladesh Beraksi Memprotes Pembantaian Atas Muslim Di Selandia Baru



Hizbut Tahrir di wilayah Bangladesh pada Jum’at 15 Maret 2019 setelah sholat Ashar melaksanakan aksi damai di depan masjid-masjid di Dhaka dan Chittagong menentang pembantaian atas umat Islam di Selandia Baru. Penembakan massal terhadap jama’ah Sholat Jumat di 2 masjid di Christchurch, New Zealand oleh teroris anti-Muslim telah membunuh setidaknya 49 Muslim dan melukai 48 lainnya. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kami mengutuk keras perbuatan kejam itu, dan berdo’a untuk para korban dan keluarga mereka.

Orator dalam aksi protes itu mengatakan: “Jangan kita lupakan bahwa kejahatan brutal saat ini adalah akibat langsung dari ‘kebencian dan monsterisasi’ selama puluhan tahun terhadap kaum Muslimin oleh kolonialis Barat dan media busuk mereka dengan dalih “Perang Melawan Teror” (alias Perang Melawan Islam). Ketika monsterisasi Anti-Muslim dipropagandakan secara massif oleh para politisi Barat sekular, pembantaian parah semacam ini wajar terjadi. Dalam ketiadaan pelindung sejati kaum Muslimin, kita sekarang merasa sangat lemah di hadapan barbarisme Barat. Sementara itu, Barat sekular mengacau dan merusak di tanah-tanah umat Islam sendiri dengan ‘intervensi’ militer (penjajahan) dan, di sisi lain, histeria anti-Muslim mendorong penduduk lokal untuk bersikap jahat terhadap umat Islam. Ketika berhadapan dengan urusan melindungi umat Islam yang tinggal di tanah-tanah mereka, bangsa-bangsa Barat yang memalukan bahkan tidak merasa malu atas ketidaktulusannya menawarkan perlindungan kepada umat Islam dengan menjunjung apa yang mereka sebut nilai sekular “Kebebasan Beragama.” Dan inilah yang kita saksikan –bahwa, bukannya memastikan umat Islam aman setelah tragedi Jum’at ini, kepolisian Selandia Baru malah memperingatkan mereka supaya tidak pergi ke masjid “di manapun di New Zealand”!

Pembicara juga berkata: “Selain itu, mari kita tidak lupakan bahwa para penguasa negara-bangsa pengkhianat di negeri-negeri Muslim juga menjadi ‘sekutu dalam kejahatan’ sehingga kaum Muslimin berada dalam kondisi menyedihkan. Mereka adalah pihak yang memuluskan jalan bagi berbagai ‘intervensi’ Barat atas tanah-tanah Muslim, dan juga karena membisunya para penguasa pengkhianat dan lembek itu, kebencian dan monsterisasi atas kaum Muslimin meningkat di dunia Barat. Para penguasa hina itu tidak memandang krisis yang menjangkiti Umat sebagai masalah integral, akan tetapi mereka memandangnya dari “kerangka nasionalis sempit” dan dari kepentingan hawa nafsu mereka sendiri sehingga hegemoni zhalim Barat ini dan histeria anti-Muslim terus berlanjut tanpa halangan.”

Hizbut Tahrir Wilayah Bangladesh ingin mengingatkan kaum Muslimin lagi bahwa tanpa naungan Khilafah Rasyidah, kaum Muslimin di sekeliling bumi, baik di Bangladesh ataupun di tempat lainnya di dunia Barat, akan terus berada dalam kondisi sengsara dan ketakutan. Demokrasi-sekularisme Barat telah membawa petaka ke negeri-negeri Muslim melalui ‘intervensi’ langsung maupun melalui para penguasa boneka, dan sekarang umat Islam yang tinggal di Barat menjadi korban menyedihkan propaganda anti-Muslim yang penuh prasangka dan kebencian. Jika kita tidak beraksi mencabut akar sekularisme dan demokrasi sekaligus para antek yang dicokolkan atas kita di dunia Muslim, kehormatan dan kesucian darah Umat yang dirahmati Allah ini tidak bisa dilindungi dari kolonialis Barat.
«إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»
“Imam (Khalifah) itu laksana perisai. Kaum Muslim akan berperang dan berlindung di belakang dia." (HR. Muslim)

Kantor Media Hizbut Tahrir di Wilayah Bangladesh
Jum’at 8 Rajab 1440 H
15/03/2019 M
Ref: 1440 / 19


Selasa, 12 Maret 2019

Hanya Sistem Islam Yang Terap Dengan Khilafah Saja Penjamin Kehidupan Yang Jauh Dari Krisis Multidimensi



Dalam rangka menarik perhatian dan menawarkan solusi-solusi atas krisis keuangan yang dialami di seluruh dunia, Konferensi Ekonomi Islam Internasional diselenggarakan di Istanbul. Konferensi yang diorganisasi oleh Köklü Değişim ini dihadiri oleh para pembicara dan tamu dari berbagai negeri Islam. Konferensi ini mendiskusikan alasan-alasan dan solusi atas krisis ekonomi, politik, dan budaya yang terjadi di dunia secara umum dan khususnya di negeri-negeri Islam.

Pada 3 Maret 1924, Khilafah, yang merupakan metode syar’i menerapkan Islam secara kaffah dalam kehidupan, diruntuhkan oleh Inggris dan para kolaborator lokal yang munafik. Kaum Muslimin khususnya dan kemanusiaan pada umumnya, tidak lagi punya negara yang memerintah dengan keadilan Islam, menjaga rakyatnya dan menyediakan standar kehidupan yang terbaik. Sebaliknya, yang berlaku adalah ideologi buatan manusia dan khususnya ideologi Kapitalisme, yang menciptakan dunia yang penuh kezhaliman, air mata, rasa lapar, dan rasa sakit.

Tidak diragukan lagi, bermacam krisis yang kita saksikan di dunia saat ini dan dirasakan kulit kita adalah perwujudan dari dominasi Kapitalisme, dengan sekularisme sebagai asasnya. Sistem Kapitalisme telah memberikan dampak yang sangat merusak atas umat manusia, karena telah cacat dan rusak sejak dari asasnya.

Krisis-krisis telah mendominasi semua area kehidupan. Data kelaparan global mencengangkan sekaligus membuat kita miris. Kapitalisme adalah sistem penindasan dan eksploitasi yang membuat kaum miskin semakin miskin dan kaum kaya semakin kaya; di mana kekayaan 8 orang milyarder dollar terkaya dunia setara dengan total harta milik sekitar ½ populasi dunia. Menurut World Health Organization, lebih dari 50.000 orang mati per harinya dalam kondisi-kondisi terkait kemiskinan.

Banyak faktor penyebab yang bisa disebutkan sebagai penyebab krisis. Namun, semua faktor penyebab yang dibahas dalam kotak sekularisme hanyalah penyebab-penyebab di tingkat sekunder. Karena faktor mendasar atas bermacam krisis yang mewabahi dunia adalah tiada tegaknya sistem Islam –sebagai sistem hidup yang menyeluruh- secara nyata dan, sebaliknya, malah tegak sistem selain Islam alias sistem kufur.

Bermacam krisis yang dirasakan sampai ke tulang, dan kekacauan yang menyelimuti dunia, menjadi sinyal kuat keruntuhan Kapitalisme, pertanda akan berakhirnya sistem eksploitasi global. Dampak sistem Kapitalis pada aspek moral, ekonomi, dan sosial jelas menunjukkan fakta menyedihkan dan fakta bahwa sistem kufur tidak akan memberikan kebahagiaan kepada manusia umumnya, dan khususnya kepada umat Islam. Mengharapkan kehidupan yang adil dan mapan bisa tercipta dari sumber penindasan dan pelemahan adalah impian utopis.

Ketika sistem ekonomi, sosial dan peradilan Islam diterapkan Khilafah, yang merupakan sistem pemerintahan Islam satu-satunya, sistem kufur yang eksploitatif dan menindas akan tamat riwayatnya. Dengan kebangkitan kembali Negara Khilafah Islam, yang sesuai dengan fitrah manusia sebagai syariat yang khas, dan dengan penerapan sistem syariat Islamnya, kezhaliman akan dikalahkan oleh keadilan Islam, rasa sakit diganti kebahagiaan, dan kemiskinan diganti kehidupan yang sejahtera. Dengan kata lain, ketika Islam diterapkan dalam kehidupan seluruhnya, kaum Muslimin dan umat manusia pada umumnya akan hidup sejahtera.

Langkah yang harus dikerjakan dalam rangka mengakhiri krisis dan ketimpangan yang terus terjadi adalah kita mengenyahkan sistem kapitalisme dari kancah dunia, dan menegakkan Khilafah Rasyidah yang berjalan di atas metode Kenabian, dengan syariat Islam, yang dijanjikan Allah SWT keridhoan-Nya, rahmat dan berkah dari-Nya, kehidupan negara berasas aqidah Islam, bersistem Islam, jauh dari kemunafikan, jauh dari kesesatan sistem pembuatan hukum dengan voting, jauh dari krisis akibat perbuatan zhalim manusia.

Ketika Khalifah Umar Radhiyallahu ‘anhu memasuki tanah Syam yang baru saja penguasa sistem kufurnya dikalahkan dan dikuasai pemerintahan Islam, beliau berkata kepada Panglima Abu Ubaidah bin al-Jarrah Radhiyallahu ‘anhu dengan perkataan:
إِنَّا كُنَّا أَذَلَّ قَوْمٍ فَأَعَزَّنَا اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ، فَمَهْمَا نَطْلُبُ الْعِزَّةَ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللَّهُ بِهِ أَذَلَّنَا اللَّهُ
“Kami tadinya adalah kaum yang hina dan telah dijadikan mulia oleh Allah dengan Islam. Jika kami mencari kemuliaan dengan selain apa yang Allah telah jadikan kami mulia dengannya, maka Allah akan menghinakan kami.” (Riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak)


Senin, 04 Maret 2019

Wahai Dar al-Ifta! Allah Berkehendak Mengekspos Kehinaanmu Setelah Tanganmu Berlumuran Darah Penduduk Mesir



Di website Dar al-Ifta’ dinyatakan, “Apa yang dilakukan oleh lembaga-lembaga negara, militernya dan polisinya melawan dan memerangi ‘kelompok-kelompok teroris menyimpang’ adalah salah satu jenis Jihad tertinggi untuk keridhoan Allah; karena hal itu melindungi agama dari penyimpangan oleh mereka yang sesat, melindungi negara-negara Muslim dan menjaga darahnya, kehormatan dan hartanya. Dan mereka yang dibunuh oleh para Khawarij itu adalah syuhada.”
Dar al-Ifta menjelaskan dalam video tertanggal 21 Pebruari 2019, bahwa Nabi ﷺ mengabarkan kita tentang kemunculan Khawarij dan bermacam kesesatan, yang melakukan Takfir atas umat Islam, dan menghalalkan darah umat Islam. Bahwa Rasul ﷺ menjelaskan kelompok-kelompok itu adalah pembuat kerusakan di dunia, telah murtad, dan bahwa hukum Syariah atasnya adalah mereka harus diperangi dan dibunuh. Dar al-Ifta kemudian mengutip hadits:
«لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ»
“Jika aku menemukan mereka, aku akan membunuh mereka seperti kaum ‘Ad.”
Dar al-Ifta juga menggarisbawahi sabda Rasul ﷺ:
«فأينَما لَقِيتُمُوهُم فَاقتُلُوهُم، فَإِنَّ فِي قَتلِهِم أَجراً لِمَن قَتَلَهُم يَومَ القِيَامَةِ»
“Jadi, di manapun kalian jumpai mereka, bunuh mereka, karena siapapun yang membunuh mereka mendapat ganjaran di Hari Berbangkit.”
Dar al-Ifta katakan bahwa para ulama sependapat bahwa kelompok-kelompok Khawarij dan zhalim harus dilawan; karena dengan melawan mereka, Islam terjaga. Lalu mereka menampilkan foto orang dari satu unit “teroris” – seorang pemuda berjenggot memakai gamis putih.

Barat menganggap Islam adalah “terorisme”, dan bahwa setiap Muslim adalah seorang “teroris” kecuali dia menolak Islam yang totalitas, dan mengikuti agama baru yang dipasarkan oleh Amerika melalui al-Azhar, Awqaf, dan Dar al-Ifta, sebuah agama yang tidak berurusan dengan politik dan tidak punya pandangan hidup lengkap, dan siapapun yang berusaha menolak persepsi ini yang Barat inginkan untuk negeri kita berarti dia adalah “teroris” menurut konsepnya Amerika.

Tidaklah aneh atau mengejutkan bahwa mereka mencitrakan “teroris” dengan model pemuda berjenggot memakai abaya putih. Menggambarkan “teroris” seperti itu adalah penghinaan atas Islam, Rasul ﷺ dan Sunnahnya, tidak berbeda dengan gambar yang dibuat si majalah Perancis.

Dar al-Ifta berpandangan sama dengan para musuh umat Islam dalam mendeskripsikan Islam sebagai “terorisme” dan memprovokasi untuk membunuh mereka yang menyerukan penerapan Islam kembali, sementara di waktu yang sama, kita tidak melihat gambar mereka soal terorisme Amerika di Irak, Libya, Yaman dan Suriah, tidak juga terorisme Cina atas Muslim Uighur, dan kita tidak lihat mereka bicara soal terorisme Yahudi di tempat Mi’raj Rasulullah ﷺ. Mereka hanya ikuti apa yang diinginkan tuan-tuannya di Gedung Putih, mungkin karena agama itu adalah agama baru yang diinspirasikan Pentagon pada rasul baru revolusi reliji dan diskursus pembaharuan keagamaan, Musailamah era sekarang!

Apa yang dilakukan oleh lembaga-lembaga negara, militernya dan polisinya itu tidak bisa disebut Jihad tapi adalah perang melawan Allah dan Rasul-Nya, perlindungan atas sistem kapitalisme yang mengatur Mesir dan Umat, dan eksploitasi zhalim atas kehormatan, darah, uang dan harta masyarakat. Mereka bergotong-royong dalam menumpahkan darah itu dan akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah di Hari Berbangkit.

Dar al-Ifta memprovokasi untuk membunuh mereka yang dia anggap Khawarij sesat, tapi siapakah yang sesat, mereka yang menyerukan penerapan Islam, atau mereka yang menyetujui hukum-hukum kufur yang memerintah negara dan menzhalimi masyarakat?!

Dan siapakah yang dilawan? Apakah mereka yang memerintah dengan hukum-hukum Barat dan membakar dan menghancurkan masjid-masjid sama dengan Ali bin Abi Thalib? Semoga Allah memerangi kalian, betapa rusaknya pikiranmu! Wali al-Amr yang mana yang mereka lawan? Dan mana di antara penguasamu yang memerintah dengan Islam sehingga yang melawan dengan dakwah bisa disebut Khawarij?!

Khawarij adalah mereka yang memberontak terhadap Khalifah kaum Muslimin, sementara rezimmu yang kamu bela tidak mengakui Khilafah sebagai sistem pemerintahan dan -dengan berdalih melawan teroris- melawan mereka yang mengupayakan kewajiban tegaknya Khilafah. Siapa yang Khawarij? Mereka yang berupaya mengembalikan Khilafah atau mereka yang melawannya?!

Pengutipanmu atas Hadits Rasulullah ﷺ itu adalah murni penipuan dan ketahuan sebagai usaha murahan demi membenarkan kejahatan-kejahatan rezim ini, yang telah memakan korban penduduk Mesir. Dengan melakukan itu, kamu telah menyingkirkan daun kecil yang menutupi kehinaanmu di hadapan penduduk Mesir dan mereka yang kamu tipu selama puluhan tahun.

Wahai kaum Muslimin! Merekalah Dar al-Ifta yang katanya berisi para ahli fatwa yang disetujui oleh negara, Allah telah menghinakan mereka di hadapanmu, mereka turut serta dalam dosa pembunuhan dan penghinaan atas agamamu dan Sunnah Nabi, maka jauhi dan jangan dengarkan mereka.

Mereka mengajakmu menuju kehinaan di dunia dan di Akhirat. Bersabarlah bersama-sama dengan orang-orang Mukhlish yang benar-benar sanggup melawan pemikiran dan sistem Barat; saudara-saudaramu di Hizbut Tahrir yang mengusahakan penerapan Islam dalam negara, Khilafah Rasyidah di atas manhaj Kenabian.

Dengan sepenuhnya mengemban aqidah dan syariah Islam dan dengan dukungan militer yang beriman, biografi kaum Anshar dapat terulang, memberikan bai’at kepada Khalifah yang menegakkan kewajiban Khilafah, dan dengan itu menyatukan negeri-negeri kita dalam satu negara yang dipimpin oleh seorang Khalifah, memerintah atas kita dengan Islam, ideologi yang telah Allah ridhoi untuk kita, dan mengembalikan apa yang telah dirampas kaum kafir imperialis, dan sungguh-sungguh melindungi agama kita, kehormatan, uang dan harta kita yang dirampas oleh anjing-anjing Barat yang kalap, para penguasa antek.

Kita berserah diri pada Allah, Allah Maha Melihat atas hamba-hamba-Nya. 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَجِيبُواْ لِلّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُم لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. al-Anfal: 24)


Kamis, 14 Februari 2019

Asia Tengah: Perjuangan Hijab Sedang Berlangsung



Pengadilan Administratif Tashkent mulai mempertimbangkan sebuah gugatan, diajukan oleh seorang ayah dari putri berusia 17 tahun –seorang siswi sekolah menengah atas di International Islamic Academy, di mana pihak sekolah ini melarangnya untuk masuk sekolah memakai kerudung,- demikian diberitakan oleh Radio Liberty edisi Uzbek. Sebelum ini, media telah memberitakan bahwa beberapa mahasiswi dipaksa melepas kerudung mereka dan memakai wig atau tutup kepala untuk masuk ke kelas. Sejak awal tahun ajaran baru setidaknya 4 siswi International Islamic Academy di Tashkent telah dikeluarkan dari universitas itu karena absen karena adanya larangan hijab ini.

Pertarungan tentang pemakaian hijab tidak berhenti di Asia Tengah. Busana Muslimah terus menjadi poin konflik antara pemerintah dan masyarakat di bermacam negara, dan bisa dikatakan bahwa para diktator bersasaran untuk menghapus hijab dari identitas negeri-negeri Muslim, dan mereka berusaha keras untuk mencapainya. Di waktu yang sama, terjadi resistensi yang hebat terhadap larangan itu di masyarakat.

Soal situasi di Uzbekistan, larangan memakai hijab sudah diterapkan di negara itu sejak lama, sejak masa pemerintahan seorang musuh Islam yang terkenal, Karimov. Sejak itu, menurut hukum, memakai hijab adalah pelanggaran administratif, yang hukumannya adalah penahanan dan hukuman administratif.

Situasinya terus berlangsung sampai matinya Karimov di 2016. Setelah itu, presiden yang baru memulai reformasi populis untuk menampilkan citra sebagai “penyelamat rakyat dari penindasan rezim lama.” Penduduk Uzbekistan menerima dengan antusias penghapusan larangan sholat dan pergi ke masjid, kebolehan untuk adzan melalui pengeras suara di menara masjid, hingga masyarakat menuntut pula pembatalan larangan berhijab.

Para pengamat menduga bahwa tuntutan ini memicu Mirziyayev untuk segera mengakhiri hampir semuanya dari reformasi skala-besar di ranah relijius – dalam waktu sesingkat-singkatnya semua program TV Islami ditutup, adzan dari menara masjid dilarang lagi, anak-anak kembali dilarang pergi ke masjid, dst. Jadi, Mirziyayev menyadari bahwa memakai hijab adalah tindakan politik yang penting, dan menghapus larangannya bisa menghilangkan halangan terhadap proses kebangkitan Islam di antara masyarakat Uzbekistan hingga tak mungkin lagi kembali sebagaimana di era represif.

Di Desember 2018 pemerintah Tajikistan juga mengumumkan keinginannya untuk menerapkan undang-undang yang melarang muslimah berhijab untuk memasuki semua institusi – baik negeri maupun swasta. Sebelumnya, di 2017 pemerintah itu sudah menerapkan hukum yang melarang pemakaian hijab di tempat-tempat publik, tapi karena resistensi aktif dari masyarakat, hukum ini tidak pernah sungguh-sungguh dijalankan.

Tapi rezim Rahmon di Tajikistan “tidak bersedih” dan mengatur metode, selangkah demi selangkah, berusaha mengikuti pengalaman Uzbekistan dan untuk pada akhirnya melarang hijab. Namun, pemertimbangan hukum tersebut menyebabkan resonansi terbesar di masyarakat Tajik: aksi damai yang masif muncul di tengah masyarakat, di seantero negeri – ratusan laki-laki dan perempuan dari berbagai usia dan status sosial mempublikasi video-video di mana mereka menyatakan menolak pelarangan hijab dan tidak akan diam atas penerapan hukum ini. Fenomena ini jelas pantas diapresiasi, dan juga menjadi contoh perjuangan kaum Muslimin demi agama mereka di kondisi rezim-rezim tiran Asia Tengah.

Larangan memakai hijab -dengan berbagai perbedaan kecil, dan perbedaan tahapan penerapannya oleh para penguasa- bisa dijumpai di semua negara Asia Tengah lainnya (Turkmenistan, Kazakhstan dan Kyrgyzstan), dan bahkan di seluruh area pasca-Soviet (kawasan Volga, Ural dan Kaukasus, Azerbaijan, Georgia). Penting untuk dipahami, bahwa Hijab juga termasuk ikon penting politik dan ideologi yang semakin sering menjadi sasaran serangan rezim-rezim, dan perjuangan ini harus diekspos secara maksimal dan didukung oleh semua kaum Muslimin di dunia, yang kebanyakannya tidak mengalami penindasan semacam ini.


Senin, 11 Februari 2019

Dokumen Bathil yang Tidak Sesuai Islam Dan Kaum Muslimin, Hanya Mewakili Syaikh al-Azhar Dan Mereka yang Tersesat Di Belakang Dia



Koran Youm7 (Hari ke-7) memberitakan di Senin 4 Pebruari 2019, penandatanganan dokumen persaudaraan kemanusiaan [human fraternity] oleh Grand Syaikh al-Azhar dan Paus Vatican, yang merupakan (menurut klaim mereka) dokumen paling penting dalam sejarah hubungan antara Islam dan Kristen. Dokumen itu mengandung visi tentang bagaimana seharusnya hubungan antar pemeluk agama dan status dan peran yang harus dijalankan oleh agama-agama di dunia kita hari ini. Tiap poin dokumen itu perlu dikritisi secara mendetail karena menyimpang dan melawan Syariat; bahkan faktanya dokumen itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam.

Sebuah dokumen yang –minimalnya disebut sekular- mengandung banyak kata-kata yang diinterpretasikan secara longgar sehingga [harapannya] mudah dipromosikan dan menipu orang umum meski mengandung racun. Sebuah dokumen yang jelas diposisikan dalam koridor intelijen internasional, yang tujuannya adalah memproduksi agama baru, bukan Islam yang kita tahu dan diwahyukan Allah SWT kepada Nabi ﷺ dan Allah SWT ridhoi untuk kita dan kita ridho atasnya. Benar bahwa agama kita mengharuskan kita untuk mengurus makhluk-makhluk Allah, tapi tidak dengan menuruti hukum-hukum internasional yang dibuat oleh Barat dan diberlakukan atas masyarakat, tapi menuruti tuntunan Islam dan keadilannya. Inilah yang sebagaimana dipahami oleh Rab’iy bin ‘Amir (utusan Panglima Sa’ad bin Abi Waqash) ketika dia berdiri di hadapan Jenderal Rustum (Persia) dan menjawab pertanyaannya: “Mengapa kalian datang?” Orang Arab yang sederhana ini, namun memiliki aqidah yang kuat berkata:
...Allah telah mendatangkan kami agar kami mengeluarkan siapa saja yang mau dari penghambaan kepada hamba menuju penghambaan hanya kepada Allah, dari kesempitan dunia menuju kelapangannya dan Akhirat, dan dari kezhaliman agama-agama (selain Islam) menuju keadilan Islam…” 

Tidak ada keadilan kecuali di dalam Islam dan di bawah hukumnya, wahai Syaikh al-Azhar, malah, kezhaliman yang nyata pada semua umat manusia adalah karena penerapan kapitalisme dari kafir Barat, yang didukung oleh Paus Vatikan.

Kemudian muncul dokumen itu yang ditandatangani oleh dua pihak yang menyebutkan: “Kami adalah orang-orang yang beriman kepada Tuhan.” Siapa tuhan di dalam dokumen itu yang menyamakan keimananmu kepadanya dengan keimanannya Paus Vatican, wahai Syaikh al-Azhar?! Parah dokumen itu dan parahlah yang menandatanganinya, notarisnya dan saksi-saksinya. Keimanan kita tidaklah setara dengan keimanan mereka yang menganggap Allah punya anak dan istri!

Sumber sesungguhnya dari semua krisis dan perang di dunia, wahai Syaikh al-Azhar, adalah kapitalisme yang kamu bela hingga nafas terakhir, dan yang kamu menjadi bagian darinya dan menjadi alat atas perangnya melawan Islam, umatnya, dan para pengemban dakwahnya. Kapitalismelah yang menggarong kekayaan Mesir selama puluhan tahun dan membunuh dan memenjara siapapun warga yang berusaha menyingkirkan kekang ketundukan pada Amerika. Kapitalismelah yang membantai penduduk Syam karena mereka menolak semua solusi yang melestarikan hegemoni Barat dan mencaplok kekayaan negeri mereka, kapitalismelah yang membunuh jutaan di Irak demi minyak. Adalah kapitalisme yang memang haus darah yang menyebabkan kesengsaraan umat manusia, burung-burung dan pohon-pohon...

Itu adalah slogan-slogan kemanusiaan yang sama yang dibawa oleh Perancis kepada masyarakat di Aljazair; yang sebenarnya adalah kebencian yang sangat kepada Islam dan umatnya. Kepala-kepala pejuang kaum Muslimin yang melawan penjajahan di Aljazair masih terbalsem di museum-museum Perancis. Mereka melakukan hal yang sama di al-Azhar dan darah para ulama al-Azhar menjadi saksinya, apakah ini kemanusiaan?

Mengenai 4 kebebasan yang dibahas di dokumen itu, menyatakan bahwa kebebasan adalah hak setiap manusia atas keyakinan, pemikiran, ekspresi dan praktik, itu semua adalah jantungnya prinsip sekularisme dan ideologi kapitalismenya, yang mengagungkan 4 kebebasan; kebebasan keyakinan, kebebasan perilaku, kebebasan pendapat, dan kebebasan kepemilikan, semuanya adalah kebebasan yang bukan merupakan ajaran Islam dan Islam sepenuhnya menolak itu semua. Benar bahwa لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)” (QS. al-Baqarah: 256) dan bahwa penerimaan atas Islam melalui pemaksaan tidaklah dianggap, namun dilarang atas siapapun yang masuk Islam untuk keluar dari Islam. Kita tidak punya kebebasan beragama dalam Islam, semua perbuatan hamba diatur dengan aturan Islam, utamanya dalam pemerintahan dan politik. Dan tidak ada kebebasan dalam berpendapat, karena pendapat kita berada dalam kerangka Syariah dan tidak keluar darinya.  مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا
لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)

Kita tidak memiliki harta kecuali berdasarkan Syariah dan seseorang bertanggung jawab di hadapan Allah SWT mengenai uangnya (hartanya); dari mana diperoleh dan untuk apa dia gunakan. Kebebasan Barat tidak ada kaitannya dengan kita, tidak dokumen itu dan tidak pula puluhan dokumen yang Barat jadikan para anteknya menandatanganinya. Apa yang Nabi ﷺ dan ijma’ para sahabat tetapkan, tidak bisa diubah oleh mereka yang menjual dunia dan Akhiratnya demi secuil dari dunia ini.

Wahai penduduk al-Kinanah!

Dokumen itu semuanya berlawanan dengan kebenaran agamamu maka buanglah, dan ketahuilah bahwa agamamu tidak punya para rahib, kependetaan dan wakil yang bertindak mewakili Tuhan, tapi kita punya para ulama, ahli hukum, dan ulama hadits yang semuanya adalah manusia yang berbuat benar dan bisa melakukan kesalahan, tidak berpredikat suci, dan kebenaran bukanlah buatan mereka, tapi kebenaran diketahui dari buktinya dalam Qur’an dan Sunnah. Seruan Allah wajibnya menaati Syari’ah, menerapkannya dan mendakwahkannya, adalah seruan atas seluruh Umat Islam; tidak ada pembedaan antara Arab dan non-Arab, tidak pula antara putih atau hitam. Sedangkan wakil kalian dalam urusan penerapan Islam atas kalian adalah orang yang kalian beri janji setia dan bai’at tangan kalian untuk menjadi seorang Khalifah yang memerintah atas kalian dengan Islam dalam negaranya, negara Khilafah Rasyidah yang mengikuti metode Kenabian, segera, dengan izin Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَجِيبُواْ لِلّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُم لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. al-Anfal: 24)

Sumber:
Kantor Media Hizbut Tahrir di Wilayah Mesir
Rabu, 1 Jumadil Tsani 1440 H
06/02/2019 M
No: 1440 / 03

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam