Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Rabu, 07 Agustus 2019

Karakter Orang-Orang Mukmin - TAFSIR at-Taubah: 71



Oleh: Rokhmat S. Labib, MEI

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain, mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (TQS al-Taubah: 71)

Allah SWT berfirman: Wa al-mu'minuun wa al-mu'minaat ba'dhuhum awliyaa' ba'dh (dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka [adalah] menjadi penolong bagi sebagian yang Iain). Kata al-awliyaa' merupakan bentuk jamak dari kata al-waliyy.

Secara bahasa, kata tersebut memiliki beberapa makna. Di dalam kamus al-Muhiith, kata al-waliyy diartikan al-nashiir (penolong), al-muhibb (yang mencintai), al-shadiiq (sahabat). Sedangkan menurut al-Zuhaili dalam tafsirnya, selain makna tersebut, juga bermakna al-mu’iin (pembantu). Al-Raghib menjelaskan secara lebih definitif, bahwa sebutan al-waliyy dapat disematkan kepada setiap orang yang mengurus urusan orang lain.

Karena tidak ada indikasi yang membatasi makna-makna itu, maka semua makna itu tercakup dalam ayat ini. Bahwa sesama kaum Mukmin, mereka saling menolong dan membantu. Sesama mereka tertanam perasaan saling mencintai dan menyayangi hingga terjalin persahabatan yang erat. Sesama mereka juga saling memperhatikan dan mengurusi urusan mereka. Pendek kata, di antara kaum Mukmin terjalin solidaritas yang tinggi, persatuan yang erat, dan kasih sayang yang kuat.

Patut dicatat, sifat saling menolong dan melindungi itu bukan dilandasi karena kesamaan suku, bangsa, atau kepentingan, namun semata dilandasi oleh kesamaan akidah. Kesimpulan ini dapat dipahami dari penggunaan lafazh al-mu'minuun dan al-mu'minaat. Dua kata tersebut termasuk kata sifat. Itu berarti, siapapun yang berstatus Mukmin, tercakup di dalamnya. Sementara status mereka sebagai mu'min atau mu'minah disebabkan karena akidah yang mereka peluk. Dengan demikian, yang menyebabkan sebagian mereka bisa menjadi wali bagi sebagian yang lain adalah karena kesamaan akidah yang dipeluk.

Oleh sebab itu, tepat sekali pernyataan al-Syaukani tatkala menjelaskan ayat ini, bahwa persatuan hati kaum Mukmin dalam kasih sayang, cinta, dan rasa simpati disebabkan oleh perkara yang menyatukan mereka, yakni perkara agama dan iman kepada Allah SWT.

Sifat ini menjadi ciri khas seorang Mukmin. Sebab, jika dia seorang kafir, tentulah yang dia angkat sebagai wali adalah sesama kaum kafir (QS. al-Maidah: 51, al-Anfal: 73). Demikian juga orang zhalim. Mereka juga menjadikan sesama orang zalim sebagai wali (QS. al-Jatsiyah: 19). Lebih dari itu, kaum Mukmin dilarang mengangkat orang kafir sebagai wali mereka (lihat: QS al-Mujadilah: 22, Ali Imran: 118, an-Nisa: 144, al-Mumtahanah: 1, dan al-Maidah: 51-52).

Sifat-Sifat Terpuji

Setelah itu Allah SWT menyebutkan beberapa sifat kaum Mukmin yang terpuji lainnya. Allah SWT berfirman: ya'muruuna bi al-ma'ruuf wa yanhawna 'an al-munkar (mereka menyuruh [mengerjakan] yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar).

Menurut al-Qurthubi, yang dimaksud al-ma'ruuf adalah penyembahan kepada Allah SWT dan segala yang mengikutinya. Sedangkan al-munkar adalah penyembahan kepada berhala dan segala yang mengikutinya. Al-Thabari tidak jauh berbeda. Menurutnya, al-ma'ruuf adalah iman kepada Allah dan rasul-Nya, dan segala yang dibawa Rasulullah dari-Nya.

Bertolak dari penafsiran itu, maka kategorisasi al-ma'ruuf dan al-munkar ditentukan oleh syara'. Sehingga, perkara ma'ruf adalah yang ditetapkan ma'ruf oleh syara'. Demikian pula yang munkar, penentuannya pun diserahkan kepada syara'.

Dalam kaitannya dengan perkara yang ma'ruf dan perkara yang munkar, kaum Mukmin tidak sebatas mengerjakan dan meninggalkan untuk dirinya sendiri. Namun mereka juga menyerukan hal serupa kepada orang lain. Karena menjalankan aktivitas inilah, sehingga mereka dinobatkan menjadi umat terbaik (khairu ummah, lihat: QS. Ali Imran: 110).

Sifat ini juga menjadi sifat khas kaum Mukmin. Sebab, kaum kafir jelas akan bertindak sebaliknya. Sifat orang-orang munafik digambarkan selalu memerintahkan yang munkar dan melarang yang ma'ruf (lihat: QS. al-Taubah: 67).

Sifat terpuji yang disebut berikutnya adalah ketaatan dan ketekunan mereka dalam beribadah. Allah SWT berfirman: Wa yuqiimuuna al-shalaah wa yu'tuuna al-zakaah (mendirikan shalat, menunaikan zakat). Mendirikan shalat juga menjadi sifat khas kaum Mukmin. Orang-orang kafir jelas tidak akan mengerjakannya. Sebab, bagaimana mungkin ada orang yang ingkar kepada-Nya, sementara dia mau menyembah-Nya. Tak mengherankan jika kaum munafik -orang kafir yang berpura-pura memeluk Islam- merasa berat mengerjakannya. Pasalnya, mereka mengerjakan itu bukan dilandasi ikhlas karena Allah, namun bisa dilihat manusia (lihat: QS. an-Nisa: 142).

Pun demikian, menunaikan zakat, sifat itu hanya dimiliki kaum Mukmin saja. Sementara orang munafik berlaku kikir (lihat: QS. al-Taubah: 68). Menurut al-Syaukani, disebutkannya dua ibadah itu secara khusus karena keduanya merupakan rukun yang agung yang berkaitan dengan badan dan harta.

Kemudian Allah SWT menggambarkan sifat mereka secara umum. Mereka adalah orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasulullah . Allah SWT berfirman: wa yuthii'uunaLlaah wa Rasuulah (mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya). Menaati Allah SWT dan Rasul-Nya berarti menjalankan perntah-perintah keduanya dan menjauhi larangan-larangan keduanya.

Kendati sifat-sifat tersebut diungkapkan dalam bentuk kalimat berita (khabar), namun juga memberikan makna tuntutan dilaksanakan dalam perbuatan (thalab al-fi'l). Buktinya, semua amal kebaikan dijanjikan akan mendapat ganjaran dari Allah SWT. Allah Swt. berfirman: Ulaaika sayarhamuhumuLlaah (mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah). Mereka juga akan diberikan Surga, yang di bawahnya ada sungai-sungai mengalir, dan keridhaan-Nya (QS. al-Taubah: 72).

Demikianlah. Orang-orang Mukmin memiliki banyak sifat. Di antaranya, sesama mereka saling membantu dan tolong-menolong. Sungguh aneh jika ada orang yang mengaku Mukmin bersikap sebaliknya. Suka memusuhi umat Islam, namun justru berkasih sayang dengan orang kafir. Di samping itu, mereka juga memerintahkan yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Atas semua yang mereka kerjakan itu, mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Semoga kita termasuk di dalamnya. WaL-laah a'lam bi al-shawaab.[]

Ikhtisar:

1. Orang-orang Mukmin memiliki kepribadian khas yang berbeda dengan yang lainnya.

2. Di antara sifat mereka adalah mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya.

3. Atas sifat mulia mereka itu, Allah SWT memberikan rahmat kepada mereka.[]

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 197

Sabtu, 03 Agustus 2019

Pelajaran dari Pembantaian Muslim Bosnia



Juli 1995, peristiwa yang tak pernah terlupakan bagi Muslim Bosnia. Sebanyak 200 ribu orang dideportasi ke kamp-kamp konsentrasi tempat mereka disiksa, dibuat kelaparan, dan dibunuh. Yang lain hidup di bawah pengepungan, seperti di Sarajevo dan Mostar, dibuat hingga kelaparan dan menjadi sasaran penembak jitu dan penembakan senjata berat. Srebrenika, yang dikenal sebagai kamp penahanan terbesar di dunia, dikepung selama tiga tahun, sebelum jatuh ke tangan pasukan Serbia Bosnia pada Juli 1995. Pasukan Serbia memisahkan anak laki-laki dan orang laki-laki berusia antara 12 dan 77 tahun dari penduduk lainnya dan membawa mereka ke ladang, sekolah, dan gudang untuk dieksekusi.

Pada 11 Juli pukul 16:15 Jenderal Ratko Mladic (sekarang menjadi penjahat perang) memasuki Srebrenika dengan pasukan Serbia, termasuk unit paramiliter dari Serbia, dengan mengklaim kota itu adalah untuk orang-orang Serbia. Sambil berjalan-jalan dengan sorotan kamera-kamera TV, Mladic mengumumkan bahwa akan ada "pembalasan terhadap orang-orangTurki."

Pada hari itu, ribuan pria Bosnia mulai melarikan diri melalui hutan, membentuk satu barisan dan mendaki sejauh sekitar 100 km dalam upaya untuk mencapai wilayah bebas yang dikendalikan oleh tentara Bosnia. Perjalanan itu dikenal sebagai pawai kematian, karena mereka kemudian disergap, ditembaki, dan diserang oleh pasukan Serbia.

Kurang dari seperempat dari mereka yang selamat. Selama enam hari, lebih dari 8.000 orang Bosnia terbunuh. Kaum perempuan dan anak-anak kecil dideportasi. Puluhan ribu Muslimah diperkosa. Menyedihkan.

Inilah peristiwa yang memilukan, PBB menyebutnya sebagai pembantaian terkeji di Eropa di era modern pasca perang dunia kedua.

Sudah seharusnya kita umat Islam juga merasakan pilu yang luar biasa. Karena Muslim Bosnia adalah saudara kita. Genosida ini menunjukkkan kegagalan sistem global dunia di bawah naungan kapitalisme yang dipimpin Amerika Serikat dan sekutu Baratnya. Bahkan Amerika Serikat dengan alat-alat penjajahannya seperti PBB dan NATO, justru paling bertanggung jawab atas genosida ini. Mereka membiarkan pembantaian ini. Padahal mereka bisa mencegahnya.

Penguasa-penguasa negeri Islam juga turut bertanggung jawab. Diamnya mereka, atau ketiadaan aksi nyata, membuat musuh-musuh Islam dengan seenaknya melakukan pembantaian terhadap umat Islam. Tidak ada satupun negara ataupun penguasa negeri Islam yang ditakuti para pembantai itu. Karena mereka tahu, penguasa negeri Islam dalam kebijakan luar negerinya, akan bertindak selalu dalam kontrol Amerika sebagai tuan mereka. Jadi kalau Amerika membiarkan, mereka pun akan melakukan hal yang sama.

Ketertundukan kepada Amerika dan kelemahan penguasa negeri-negeri Islam inilah yang juga membuat kenapa musuh-musuh Islam dengan ringannya membantai umat Islam. Seperti yang dilakukan Cina di Turkistan Timur terhadap Muslim Uighur. Bahkan negara lemah sekalipun seperti Birma dengan leluasa mengusir dan membunuh Muslim Rohingya. Di Palestina, Zionis Israel yang didukung Amerika dengan leluasa menghancurkan rumah sakit, pemukiman, dan mengusir rakyat Palestina dari pemukimannya sendiri.

Inilah yang membuat Rusia tanpa rasa takut, membombardir Suriah, membunuh puluhan ribu umat Islam. Amerika Serikat pun bertindak seenaknya terhadap negeri-negeri Islam. Menjajah, merampas kekayaan alam negeri, mengadu domba sesama umat Islam, dan membunuh kaum Muslimin.

Semua ini, seharusnya membuat kita semakin paham pentingnya keberadaan khilafah di tengah-tengah umat Islam. Khilafah ala minhajin nubuwah yang merupakan negara adidaya yang disegani dunia. Negara yang akan mempersatukan negeri-negeri Islam yang terpecah-pecah akibat racun nasionallsme sempit. Negara khilafah yang akan mengurusi rakyatnya dengan benar berdasarkan syariah Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Dengan syariah Islam ini, akan menjamin kebaikan bagi Muslim maupun non-Muslim.

Dalam kebijakan luar negeri, khilafah akan menyebarkan Islam ke seluruh dunia dengan dakwah dan jihad. Menjaga hubungan dengan negeri Muslim dan melakukan berbagai upaya diplomasi agar terjadi reunifikasi mereka dengan khilafah. Khilafah menjaga hubungan dengan negara kafir dengan tetap berpedom pada hukum syara’. Maka terhadap negara kafir dalam status harbi fl'lan, negara khllafah tidak boleh membuat kerjasama baik secara diplomatik maupun ekonomi.

Negara khilafah ini pulalah yang akan dengan sungguh-sungguh membebaskan negeri-negeri Islam yang tertindas dengan memobilisasi pasukan reguler negeri-negeri Islam. Memberikan pelajaran nyata terhadap Yahudi yang dilaknat Allah. Dengan pasukannya yang kuat, persenjataan yang modern, apalagi didorong oleh iman dan kewajiban jihad fi sabilillah, pasukan khilafah akan menjadi pasukan terkuat yang disegani oleh kawan dan ditakuti musuh. Ditambah lagi, jutaan rakyat negara khalafah siap turun ke medan jihad membantu pasukan reguler karena kecintaan mereka kepada saudara Muslim mereka. Allahu Akbar![]farid wadjdi

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 246

Rabu, 31 Juli 2019

Orang yang Berutang (Debitur) Boleh Membayar Utang Sebelum Jatuh Tempo



Dorongan untuk membayar utang segera:

Hadits riwayat Ibnu Majah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

Dari Abu Hurairah ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Jiwa seorang mukmin itu bergantung dengan hutangnya hingga terbayar." (Sunan Ibnu Majah no.2404)

Hadits riwayat Ibnu Majah:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِيَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ

Dari Ibnu Umar ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa meninggal sementara ia mempunyai tanggungan utang satu dinar atau satu dirham, maka akan diganti dari pahala kebaikannya pada hari yang dinar dan dirham tidak berguna lagi." (Sunan Ibnu Majah no.2405)

Hadits dari Muhammad bin Jahsy:

فَقَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ رَجُلًا قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أُحْيِيَ ثُمَّ قُتِلَ ثُمَّ أُحْيِيَ ثُمَّ قُتِلَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ مَا دَخَلَ الْجَنَّةَ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ دَيْنُهُ

Rasulullah bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya seseorang terbunuh di jalan Allah, kemudian dihidupkan, kemudian terbunuh, kemudian dihidupkan, kemudian terbunuh dan ia memiliki tanggungan hutang maka ia tidak akan masuk Surga hingga terbayarkan hutangnya." (Sunan an-Nasa'i no.4605)

Pemilik piutang boleh menggugurkan sebagian atau membebaskan seluruh utang debitur

Allah SWT berfirman:

وَاِنْ كَانَ ذُوْ عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ اِلٰى مَيْسَرَةٍ ۗ وَاَنْ تَصَدَّقُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 280)

Hadits riwayat Bukhari:

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أُصِيبَ عَبْدُ اللَّهِ وَتَرَكَ عِيَالًا وَدَيْنًا فَطَلَبْتُ إِلَى أَصْحَابِ الدَّيْنِ أَنْ يَضَعُوا بَعْضًا مِنْ دَيْنِهِ فَأَبَوْا فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَشْفَعْتُ بِهِ عَلَيْهِمْ فَأَبَوْا فَقَالَ صَنِّفْ تَمْرَكَ كُلَّ شَيْءٍ مِنْهُ عَلَى حِدَتِهِ عِذْقَ ابْنِ زَيْدٍ عَلَى حِدَةٍ وَاللِّينَ عَلَى حِدَةٍ وَالْعَجْوَةَ عَلَى حِدَةٍ ثُمَّ أَحْضِرْهُمْ حَتَّى آتِيَكَ فَفَعَلْتُ ثُمَّ جَاءَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَعَدَ عَلَيْهِ وَكَالَ لِكُلِّ رَجُلٍ حَتَّى اسْتَوْفَى وَبَقِيَ التَّمْرُ كَمَا هُوَ كَأَنَّهُ لَمْ يُمَسَّ وَغَزَوْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى نَاضِحٍ لَنَا فَأَزْحَفَ الْجَمَلُ فَتَخَلَّفَ عَلَيَّ فَوَكَزَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ خَلْفِهِ قَالَ بِعْنِيهِ وَلَكَ ظَهْرُهُ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلَمَّا دَنَوْنَا اسْتَأْذَنْتُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي حَدِيثُ عَهْدٍ بِعُرْسٍ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا تَزَوَّجْتَ بِكْرًا أَمْ ثَيِّبًا قُلْتُ ثَيِّبًا أُصِيبَ عَبْدُ اللَّهِ وَتَرَكَ جَوَارِيَ صِغَارًا فَتَزَوَّجْتُ ثَيِّبًا تُعَلِّمُهُنَّ وَتُؤَدِّبُهُنَّ ثُمَّ قَالَ ائْتِ أَهْلَكَ فَقَدِمْتُ فَأَخْبَرْتُ خَالِي بِبَيْعِ الْجَمَلِ فَلَامَنِي فَأَخْبَرْتُهُ بِإِعْيَاءِ الْجَمَلِ وَبِالَّذِي كَانَ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَوَكْزِهِ إِيَّاهُ فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَوْتُ إِلَيْهِ بِالْجَمَلِ فَأَعْطَانِي ثَمَنَ الْجَمَلِ وَالْجَمَلَ وَسَهْمِي مَعَ الْقَوْمِ

Dari Jabir radhiyallahu 'anhu berkata; 'Abdullah meninggal dunia dan meninggalkan keluarga yang perlu ditanggung dan hutang. Maka aku meminta kepada para pemilik piutang agar membebaskan sebagian dari hutangnya namun mereka menolaknya. Lalu aku menemui Nabi ﷺ untuk meminta bantuan Beliau untuk meminta keringanan kepada mereka namun mereka tetap menolaknya. Maka Beliau berkata: "Pisahkanlah buah kurma kamu dari segala sesuatunya dari pohonnya, kurma jenis Ibnu Zaid dari pohonnya, kurma jenis Al-Lain dari pohonnya, serta kurma jenis al-Ajwa' dari pohonnya kemudian bawalah kepada mereka hingga aku datang kepadamu." Maka aku kerjakan semua perintah Beliau itu kemudian Beliau ﷺ datang lalu duduk dan membayar bagi setiap utang hingga lunas dan buah kurmanya masih tersisa sebagaimana semula seolah belum pernah disentuh sedikitpun.” (Shahih al-Bukhari no.2229)

Hadits riwayat Bukhari:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ الرَّجُلُ يُدَايِنُ النَّاسَ فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ إِذَا أَتَيْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا قَالَ فَلَقِيَ اللَّهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Ada seorang laki-laki yang biasa memberi pinjaman (utang) kepada orang lain dan dia berpesan kepada muridnya; "Jika kamu datangi mereka untuk menagih tapi mereka dalam kesulitan maka bebaskanlah, sebab dengan begitu semoga Allah membebaskan kita (pada hari qiamat)." Beliau bersabda: "Maka orang itu berjumpa dengan Allah Ta'ala lalu Allah membebaskannya (mengampuninya)." (Shahih al-Bukhari no.3221)

Wallahu a’lam.

Kamis, 25 Juli 2019

Nabi Musa as. Dan Kehancuran Kaum yang Mendustakannya TAFSIR al-Furqan 35-36



“Dan sesungguhnya Kami telah memberikan al-Kitab (Taurat) kepada Musa dan Kami telah menjadikan Harun saudaranya, menyertai dia sebagai wazir (pembantu). Kemudian Kami berfirman kepada keduanya: ”Pergilah kamu berdua kepada kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami.” Maka Kami membinasakan mereka sehancur-hancurnya.” (TQS. al-Furqan [25]: 35-36).

Para nabi dan rasul adalah utusan Allah SWT yang diperintahkan untuk menyampaikan risalah-Nya. Risalah itu menunjukkan kepada jalan yang benar lagi lurus. Jalan yang mengantarkan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jalan yang menuntun manusia mendapatkan ridha-Nya.

Meskipun demikian, tidak semua manusia menerima petunjuk tersebut. Bahkan ada yang menentang dan memusuhinya.

Ayat ini adalah di antara yang memberitakan kesudahan dari nasib mereka yang dibinasakan.

Diutusnya Nabi Musa dan Harun

Allah SWT berfirman: Walaqad aataynaa Muusaa al-Kitaab (dan sesungguhnya Kami telah memberikan al-Kitab [Taurat] kepada Musa). Dalam ayat sebelumnya diberitakan tentang adanya musuh bagi setiap nabi. Ditegaskan pula, cukuplah bagi Allah SWT sebagai Pemberi petunjuk dan Penolong. Berita tersebut untuk menghibur Rasulullah yang didustakan oleh sebagian kaumnya.

Kemudian dalam ayat ini dan beberapa ayat berikutnya dikisahkan kepada Rasulullah tentang dakwah para nabi dan kehancuran musuh-musuh mereka. Kisah Nabi Musa dan Harun yang berhadapan dengan Fir'aun dan pengikutnya diceritakan pertama kali.

Disebutkan dalam ayat ini bahwa Allah SWT telah memberikan kepada Musa al-Kitab. Yang dimaksud dengan al-Kitaab di sini adalah al-Tawraah (Taurat). Demikian diterangkan para mufassir seperti Imam al-Qurthubi, Ibnu Jarir al-Thabari, Abu Hayyan al-Andalusi, dan lain-lain.

Di samping diberi Kitab Taurat, Musa as. juga dibantu oleh saudaranya, yakni Harun. Allah SWT berfirman: Wa ja'alnaa akhaahu Haaruuna waziir[an] (dan Kami telah menjadikan Harun saudaranya, menyertai dia sebagai al-waziir [pembantu]). Dalam ayat ini disebutkan bahwa Harun dijadikan sebagai wazir. Menurut al-Zajjaj -sebagaimana juga dikutip al-Syaukani ketika menafsirkan ayat ini- secara bahasa kata al-waziir berarti yang menjadi tempat kembali dan diamalkan pendapatnya. Ini karena kata tersebut berasal dari al-wazar yang maknanya adalah yang menjadi tempat berlindung.

Wahbah al-Zuhaili memaknai al-waziir sebagai orang yang dimintai pendapat dan diajak bermusyawarah dalam berbagai urusan. Disebut waziir al-malik aw al-raiis karena dia membantu dan menolong raja atau kepala negara dalam menanggung beban tugasnya.

Menurut al-Ashma'i al-muwaazarah berarti al-mu’aawanah (bantuan, pertolongan). Dikemukakan pula oleh Ibnu Jarir al-Thabari, keberadaan Musa sebagai wazir adalah mu'iin wa zhahir (pembantu dan penolong). Al-Baidhawi juga mengatakan bahwa Harun membantu Musa dalam dakwah dan meninggikan kalimat Allah.

Keberadaan Harun sebagai wazir tidak menegasikan kenabiannya. Sebab, dalam satu zaman terkadang diutus beberapa nabi, yang satu sama lain diperintahkan untuk saling bantu. Demikian diterangkan al-Zamakhsyari, al-Syaukani, Abu Hayyan al-Andalusi, dan beberapa mufassir lainnya. Mengenai diutusnya rasul lebih dari seorang pada waktu yang sama juga diterangkan dalam firman Allah SWT: “(Yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya, kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga.” (TQS. Yasin [36]: 14).

Juga perlu dicatat, sekalipun Harun adalah seorang nabi, namun dia mengikuti syariah Musa, sebagaimana layaknya al-waziir mengikuti sultan atau pemimpinnya. Demikian diterangkan Syihabuddin al-Alusi.

Keberadaan Harun as. sebagai nabi diberitakan dalam firman Allah SWT: “Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya sebagian rahmat Kami, yaitu saudaranya, Harun menjadi seorang nabi” (TQS. Maryam [19]: 53). Perbedaannya dengan Musa as., Harun as. hanya seorang nabi, sedangkan Musa nabi sekaligus rasul. “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka), kisah Musa di dalam al-Kitab (al-Qur'an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang dipilih dan seorang rasul dan nabi” (TQS. Maryam [19]: 51).

Sedangkan keberadaan Harun as. sebagai waziir bagi Musa as., itu merupakan pengabulan doa Musa As. Ketika diperintahkan pergi menemui Fir'aun, Musa as. memohon kepada Allah SWT agar saudaranya itu dijadikan sebagai wazir baginya (TQS. Thaha [20]:36).

Fir'aun Dihancurkan

Kemudian Allah SWT berfirman: Faqulnaa [i]dzhabaa ilaa al-qawm al-ladziina kadzdzabuu bi aayaatinaa (kemudian Kami berfirman kepada keduanya: “Pergilah kamu berdua kepada kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami"). Sebagai utusan Allah SWT, mereka diperintahkan untuk menyampaikan dakwah kepada kaumnya. Dalam ayat ini, mereka diperintahkan untuk mendakwahi kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Kaum yang dimaksud ayat ini adalah Fir'aun dan kaumnya. Demikian penjelasan para mufassir, seperti al-Baidhawi, Ibnu Athiyah, dan lain-lain.

Selain dalam ayat ini, perintah Allah SWT kepada Musa as. untuk mendatangi Fir'aun juga diberitakan dalam beberapa ayat lain. Seperti dalam firman-Nya: “Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingat atau takut." (TQS. Thaha [20]: 43-44).

Dari ayat-ayat tersebut, tampak jelas bahwa perintah mendatangi Fir'aun adalah untuk memberikan petunjuk dan peringatan kepada mereka. Untuk menguatkan, beliau pun menunjukkan mukjizat sebaga bukti kebenaran beliau sebagai utusan Allah SWT. Allah SWT berfirman: “Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar” (TQS. al-Nazi'at [79]: 20).

Akan tetapi Fir'aun keras kepala. Dia tetap mendustakan dan mendurhakainya. Bahkan berpaling dan menantang Musa. Lalu mengumpulkan para pembesarnya dan mengaku sebagai tuhan yang paling tinggi (lihat: QS. an-Nazi'at [79]: 21 -24).

Sebagai balasan kedurhakaan mereka, Allah SWT pun menghancurkan mereka. Di akhr ayat ini Allah SWT berfirman: Fadammarnaahum tadmiir[an] (maka Kami membinasakan mereka sehancur-hancurnya). Dikemukakan al-Alusi kata tadmiir berarti kehancuran yang amat parah. Menurutnya, kata al-tadmiir pada asalnya berarti memecahkan sesuatu hingga tidak mungkin bisa diperbaiki lagi.

Sebagaimana diterangkan Fakhruddin al-Razi dan al-Baidhawi, dalam ayat ini sebenarnya ada kata yang dihilangkan, yakni: Fadzahabaa ilayhim fakadzdzabuuhumaa (keduanya pun pergi kepada kaum tersebut, lalu kaum tersebut mendustakan mereka). Itu artinya, azab yang ditimpakan kepada Fir'aun dan kaumnya itu setelah mereka mendustakan Musa dan Harun.

Diterangkan al-Biqai, Allah menghancurkan mereka adalah dengan menenggelamkan mereka di lautan. Peristiwa ini disebutkan beberapa ayat. Di antaranya adalah firman Allah SWT: “Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan” (TQS. al-Baqarah [2]: 50).

Demikianlah. Orang-orang yang menjadi musuh bagi utusan Allah SWT harus menerima hukuman dari Allah SWT atas kejahatan yang mereka lakukan. Allah dengan mudah mencabut semua kekuatan mereka dan menghancurkan mereka.

Inilah pelajaran penting harus dipetik dari ayat ini. Siapapun yang tidak ingin mengalami nasib yang sama seperti Fir'aun dan para pengikutnya, maka tidak boleh melakukan sikap yang sama dengan musuh-musuh para nabi itu. Wal-Laah a'lam bi al-shawaab.[]

Ikhtisar:
1. Musa As. dan Harun As. adalah utusan Allah untuk menyampaikan petunjuk-Nya.
2. Kaum yang mendustakan dakwah para nabi akan ditimpa azab yang dahsyat.[]

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 146

Sabtu, 15 Juni 2019

Membalas Nadirsyah Hosen Dengan Hanya Satu Kali Tebasan



Oleh: Ustadz Irkham Fahmi al-Anjatani

Tampaknya Nadirsyah Hosen terlalu bernafsu terhadap HTI, sehingga ia tidak bisa berpikir jernih, karena tensi darahnya begitu tinggi. Ibarat jalanan yang macet disebabkan tingginya arus kendaraan. Selebar apapun jalan raya itu tidak akan bisa mengurainya.

Ada dua tulisan yang saya anggap prematur dari kesimpulannya, pertama, terkait tidak akan pernah adanya lagi Khilafah. Kedua, terkait Khilafah Rosyidah yang sepatutnya tidak boleh ada kekacauan di dalamnya.

Memang dalam tulisannya yang menguraikan tentang tafsir Surat An-Nuur Ayat 55, tampak ia menguraikannya secara adil, mulai dari mufasir yang memaknai ayat tersebut sebatas di zaman Nabi saw., di zaman Para Khalifah Rosyidun hingga tak terbatas di masa lampau, tetapi juga berlaku untuk masa yang akan datang.

Semua dicantumkan secara berimbang olehnya. Sayangnya, di akhir pembahasan ia menyimpulkan dengan prematur dari pemaparan pendapat Para ulama tafsir tersebut. Nadir mengemukakan, bahwa tidak ada satu pun ulama tafsir yang menjelaskan bahwa Surat An-Nuur Ayat 55 berkaitan dengan Kekhilafahan yang akan dipegang oleh kaum Muslimin.

Dengan hanya mengutip beberapa pernyataan dari para mufasir, tanpa menyuguhkan referensi lain seperti halnya Hadits-hadits Nabi saw. yang shahih kemudian ia langsung menyimpulkan, bahwa Khilafah tidak akan pernah ada lagi. Jelas itu bukanlah tulisan ilmiah. Lebih pasnya disebut argumentasi prematur. Padahal banyak sekali Hadits tentang Kekhilafahan di masa yang akan datang.

Dengan anggapannya yang menyatakan bahwa tidak ada penjelasan tentang Khilafah di masa depan dari Ulama-ulama tafsir terkait Surat An-Nuur tersebut, sehingga ini artinya Khilafah tidak akan tegak kembali, itu berarti sama saja Nadirsyah tidak meyakini akan datangnya kembali Kekhilafahan yang akan dipimpin oleh Al-Mahdi yang akan menaungi dunia.

Padahal banyak sekali ulama Hadits yang meriwayatkan Khabar tentang Al-Mahdi, di antaranya Ibnu Majah, Al-Hakim, Al-Thabrani, dan Abu Ya’la. Sanad hadits mereka sampai pada sejumlah sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Thalhah, Abdullah bin Mas’ud, Abu Hurairah, Abu Sa’id Al-Khudri, Ummu Habibah, Ummu Salamah, Tsauban, Qurrah bin Iyas, Ali Al-Hilali, Abdullah bin Haris bin Jaz’i. Dengan beraneka ragam derajatnya. Ada yang sahih, hasan dan ada juga yang dhaif.

فحديث عبد الله بن مسعود هذا مع شواهده وتوابعه صالح للاحتجاج بلا مرية، فالقول بخروج الإمام المهدي وظهوره هو القول الحق والصواب والله تعالى أعلم

"Adapun hadits Abdullah bin Masud serta syawahid dan tawabi’nya layak untuk dijadikan dalil (kemunculan Imam Mahdi) tanpa keraguan. Pendapat tentang kemunculan Imam Mahdi adalah pendapat yang benar dan hanya Allah Yang Maha Mengetahui,” (Al-Mubarakfuri, Tuḥfatul Aḥwadzi bi Syarḥi Jamiʽ al-Tirmidzi, VI/485).

يُقْتَلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ هذَا ثَلاَثَةٌ كُلُّهُمُ ابْنُ خَلِيفَةٍ ثُمَّ لاَ يَصِيرُ إِلَى وَاحِدٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَطْلُعُ الرَّايَاتُ السُّودُ مِنْ قِبَلِ المَشْرِقِ فَيَقْتُلُونَكُمْ قَتْلاً لَمْ يُقْتَلْهُ قَوْمٌ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْواً عَلَى الثّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ الله المَهْدِيُّ

“Akan berperang tiga orang di sisi perbendaharaan kalian. Mereka semua adalah putra khalifah. Tetapi, tak seorang pun di antara mereka yang berhasil menguasainya. Kemudian muncullah bendera-bendera hitam dari arah Timur, lantas mereka memerangi kamu (orang Arab) dengan suatu peperangan yang belum pernah dialami oleh kaum sebelum kalian. Maka jika kamu melihatnya, berbaiatlah walaupun dengan merangkak di atas salju, karena dia adalah khalifah Allah Al-Mahdi,” (Riwayat Tsauban, Al-Ahkam Asy-Syar’iyyah Al-Kubra, IV/527).

يَخْرُجُ فِي آخِرِ أُمَّتِي الْمَهْدِيُّ

“Al-Mahdi akan keluar di akhir kehidupan umatku," (Jalaluddin As-Suyuti, Jami’ Al-Ahadis, No: 26677).

Itu adalah sebagian kecil referensi daripada kabar tentang akan munculnya kembali Kekhilafahan yang dipimpin oleh Al-Mahdi, yang sebelumnya dipimpin oleh yang lainnya.

Jika Nadirsyah berkata lagi, kenapa mesti ada kekacauan terlebih dahulu, bukankah Khilafah yang HTI perjuangkan itu Khilafah Rasyidah yang akan menebar kedamaian. Pertanyaan ini cukup dijawab dengan kalimat, di zaman Kekhilafahan Umar, Utsman dan Ali pun pernah terjadi kekacauan. Apakah berarti Kekhilafahan mereka (radliyaallahu 'anhum) bukan termasuk Khilafah Rasyidah ?

Kembali ke topik Khilafah. Terlepas nanti terjadi kekacauan ataupun tidak pada periode Khilafah di masa yang akan datang, yang jelas dengan tulisannya itu Nadirsyah sudah ingkar terhadap kedatangan Khalifah Al-Mahdi dan Khalifah-khalifah sebelumnya.

Padahal dalam keyakinan Ahlussunnah maupun Syi'ah (sebagai mana yang selalu ia bela) sendiri dikatakan, bahwa mengingkari kedatangan Al-Mahdi merupakan perbuatan dosa.

مَنْ أَنْكَرَ الْقَائِمَ مِنْ وَلَدِيْ فَقَدْ أَنْكَرَنيِ

“Siapa yang ingkar atas Al-Qaaim (Imam Mahdi) dari keturunanku, maka ia ingkar terhadap Kenabianku," (Al- Saduq, Ikmal al-Din, hal. 390).

Begitulah pandangan tokoh-tokoh Sunni dan Syiah terkait keyakinan mereka akan kemunculan Al-Mahdi sebagai Khalifah di hari akhir nanti, yang Nadirsyah ingkari.
___

Terkait makna dari Surat An-Nuur Ayat 55, Imam Ath-Thabari ketika menerangkan makna "layastakhlifannahum fil ardl" dalam Surat tersebut adalah:

“Allah akan mewariskan kepada mereka (orang-orang yang beriman dan beramal shaleh) negeri orang-orang musyrik dari kalangan Arab maupun Non-Arab, lantas mereka menjadi penguasa-penguasa di negeri tersebut,” (Tafsir Ath-Thabari: IXX/209).

Beliau menyebutnya sebagai penguasa-penguasa. Tentu ini adalah dalam konteks politik, karena berkaitan dengan negara. Dan politik dalam Islam adalah sebagai wasilah dakwah demi tegaknya Hukum-hukum Allah swt. secara sempurna.

Terakhir Nadirsyah mengajarkan kepada kami agar senantiasa bersyukur hidup di Indonesia (yang tidak menjadikan Islam sebagai hukumnya). Ia lupa bahwa wujud syukur kepada Allah adalah dengan cara menunjukan ketaatan sepenuhnya terhadap Aturan-aturan Nya. Bukan malah menuduhnya sebagai ancaman bagi Kebhinekaan.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyah:

الشكر ظهور أثر نعمة الله على لسان عبده: ثناء واعترافا، وعلى قلبه شهودا ومحبة، وعلى جوارحه انقيادا وطاعة

“Syukur adalah menunjukkan adanya Nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah," (Madarijus Salikin, II/244).

Dengan iman dan amal shaleh, melakukan segala apa yang Allah perintahkan, menjauhi segala apa yang Allah haramkan niscaya kekuasaan dunia akan digenggam oleh umat Islam yang mulia.

Tidak mungkin Islam akan berkuasa manakala tidak ada iman dan amal shaleh dari umatnya, apabila umatnya membenarkan semua agama, menganggap berbagai kemaksiatan sebagai trend kemajuan dunia. Sebagaimana yang biasa dilakukan oleh orang-orang liberal. Artinya, tidak ada tampang sedikitpun kaum liberal akan mampu membawa kemajuan bagi Islam.

#KhilafahAjaranIslam
#ReturnTheKhilafah
Cirebon, 14 Juni 2019
___
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik," (Qs. An-Nuur: 55).

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam