Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Jumat, 08 Januari 2021

Jakarta Butuh Sistem Baru!



Menurut pengamat politik Andi Azikin, setelah berkuasa, para kepala daerah hanyalah menjalankan kewenangan yang diberikan oleh pemerintah pusat. Mereka tidak boleh membuat perda atau kebijakan yang bertentangan dengan UU yang lebih tinggi dan menyalahi kebijakan pemerintah pusat. ”Jadi sebenarnya tidak akan ada perubahan yang signifikan di daerah kecuali hanya soal-soal teknis," jelasnya.

Dalam konteks Jakarta, siapapun gubernurnya, dari sisi perubahan, sangat tergantung kepada kebijakan pemerintah pusat karena pemerintah daerah meski dikatakan desentralisasi, kewenangannya sangat terbatas. Siapapun yang memimpin tak akan banyak berpengaruh karena mesin birokrasi sebenarnya sudah berjalan.

Sayangnya masyarakat tidak sadar dengan kondisi ini. Mereka tertipu. Seolah-olah harapan bisa digantungkan kepada sosok pribadi orang yang memimpin dengan mengesampingkan sistem yang diterapkan. Pemimpin dianggap segalanya dalam mewujudkan kesejahteraan dan keadilan kendati fakta sudah berulang kali terungkap bahwa pemimpin sebaik apapun tak akan bisa berbuat banyak jika ia berada dalam kubangan lumpur sistem yang buruk.

Selain tidak akan menghasilkan perubahan mendasar, pemilihan kepala daerah justru membuka keharaman bagi kaum Muslim sebab orang kafir pun mendapat kesempatan untuk meraih kekuasaan. Sistem demokrasi tak membatasi siapapun untuk memimpin. Seorang Muslim jelas tak boleh setuju terhadap sistem yang membolehkan orang kafir menjadi pemimpin atas kaum Muslimin, sistem yang menyerahkan penetapan hukum kepada hawa nafsu voting manusia.

Tipuan Demokrasi

Setiap lima tahun rakyat selalu didorong untuk menentukan pemimpinnya dengan dalih ini adalah bagian dari perubahan. Saking luar biasaanya mengawal demokrasi ini sampai-sampai ada yang menakut-nakuti rakyat dengan secara keliru menafsirkan ayat-ayat Allah SWT untuk menyukseskan pesta tersebut. Bahkan sering dimunculkan pernyataan, jika umat Islam tidak ikut memilih maka orang kafir yang akan memenangi pemilu. Padahal, kata Ketua Lajnah Siyasiyah DPP HTI Yahya Abdurrahman, justru pemilu demokrasi inilah jalan untuk mempertahankan sistem yang rusak ini. "Tidak akan ada perubahan mendasar melalui pemilu atau pilkada ini. Soalnya sistemnya tidak akan berubah, malah tidak boleh diubah. Pemilu atau pilkada merupakan bagian dari mempertahankan sistem,” jelasnya.

Siapapun yang memenangi pesta tersebut, jelasnya, akan melaksanakan prinsip demokrasi yakni pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Atas nama rakyat, seorang pemimpin bisa mengeluarkan kebijakan apa saja. Dan yang pasti aturan itu bukan berasal dari Allah seluruhnya. Soalnya, mengambil aturan agama dalam mengatur urusan publik termasuk sebuah keharaman dalam kacamata demokrasi. Prinsip sekulerisme yang menjadi pilar sistem tersebut tak bisa diganggu gugat.

Ia menjelaskan, tidak mungkin demokrasi ditujukan untuk menghancurkan dirinya sendiri. Wajar pula jika para pemimpin yang terpilih baik di pusat maupun di daerah -termasuk yang Muslim- tidak akan mengambil aturan agama secara menyeluruh untuk mengatur urusan umat. Kalaupun ada aturan agama yang diambil, itu adalah aturan agama yang sesuai dengan prinsip demokrasi itu sendiri.

Lepaskan Belenggu Demokrasi!

Siapa pun -termasuk warga Jakarta- pasti menginginkan kebaikan berupa kesejahteraan dan keadilan. Berharap pada sistem yang ada, dapat dipastikan seperti pungguk merindukan bulan.

Dan sudah terbukti secara nyata, fenomena Pilkada Jakarta ini telah menguras energi umat gara-gara negara menampakkan ketidakadilan demi mempertahankan calon yang digadang-gadang terpilih kembali memimpin Jakarta.

Fakta menunjukkan, selama ini semua yang terpilih didukung kekuatan modal dan popularitas, ditambah tidak adanya suara partai yang dominan yang mengharuskan mereka berkoalisi. Koalisi pun tak jarang hanyalah politik dagang sapi. Demokrasi akhirnya menjadi kedok penguasaan sekelompok orang yang punya modal untuk menguasai rakyat untuk kepentingannya sendiri. Rakyat berdaulat hanya omong kosong.

Ketua Lajnah Siyasiyah DPP HTI Yahya Abdurrahman menegaskan, Jakarta yang baik akan muncul jika negeri berpenduduk mayoritas Muslim ini mengganti sistem yang rusak sekarang dengan sistem baru. Sistem ini adalah sistem Islam. Dengan sistem Islam, Jakarta bisa dibangun dengan menggunakan prinsip-prinsip Islam dalam seluruh kehidupan.

“Tidak cukup ganti orang. Harus ganti sistem. Dan ini tentu tidak hanya sistem yang berlangsung di Jakarta tapi sistem yang sedang bercokol di negeri ini,” jelas Yahya.

Sistem yang baik, jelasnya, akan bisa mewujudkan peradaban yang baik. Termasuk membangun manusianya sesuai dengan fitrahnya sebagai manusia. Sistem ini tegak atas prinsip tauhid sehingga terbebas dari kepentingan segilintir orang yang ingin memaksakan kehendak demi urusan duniawi. Sistem ini dijaga oleh ketakwaan. Para pemimpinnya dipaksa tunduk di bawah aturan Islam sehingga bebas dari nafsu pribadi atau kelompok.

Dan yang lebih penting, papar Yahya, sistem Islam ini akan menjadikan Jakarta dan daerah lain di Indonesia menjadi wilayah yang dirahmati oleh Allah SWT, negeri yang baldatun thayibatun wa rabbun ghafur.

“Umat harus berani melepaskan belenggu demokrasi ini. Sudah saatnya kita harus berani bersuara lantang untuk menyuarakan perubahan sistem bagi negeri ini," tandas Yahya.

Ketua DPP HTI Rokhmat S Labib mengatakan, perubahan terjadi jika kaum itu menginginkan perubahan. "Kita harus mengarahkan umat pada perubahan Islam, jika tidak maka perubahan yang terjadi semakin buruk dan lebih buruk,“ paparnya.

Ia berharap para tokoh umat bisa memahami hal ini dan terus mengarahkan umat kepada perubahan hakiki seperti yang dulu dilakukan oleh Rasulullah SAW hingga terwujud Daulah Islam di Madinah.

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 191
---

Kamis, 07 Januari 2021

Bangga Mewarisi Islam. Islam Harus Diinstal


muslim denmark perjuangkan ideologi Islam

Polaritas umat beragama di Indonesia kian tajam. Ide toleransi dalam kacamata pluralisme pun kembali didengungkan. Tak ayal seorang remaja putri asal Banyuwangi, Afi Nihayah (18) menjadi perbincangan karena mengungkapkan idenya tentang kebhinekaan, toleransi, dan agama.

Salah satu kutipannya adalah: “Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan Muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak. Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan. Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan."

Generasi Kritis

Sangat jarang remaja kritis seperti Afi yang mau mengungkapkan pandangannya secara terbuka. Apalagi memiliki pandangan yang cukup sensitif, yakni masalah agama. Sayangnya, pemahamannya soal agama terlihat masih mentah. Maklum, usianya masih remaja. Tampak sekali jika proses belajar Islamnya pun belum kaffah. Maka, ada kesalahan mendasar mengenai pandangannya bahwa agama Islam yang dipeluknya “hanyalah" warisan dari orang tuanya.

Benar, sebagai manusia kita lahir dari orang tua siapa, di kota mana, negara mana, warna kulit apa, bentuk hidung seperti apa, dll, tidak bisa memilih. Itulah qadha AIlah. Takdir, orang menyebutnya. Tidak perlu kita pertengkarkan dan tidak perlu disesali. Toh, wilayah itu juga tidak akan di-hisab oleh Allah SWT.

Seseorang tidak akan masuk Neraka disebabkan ia lahir dari orangtua miskin, berkulit gelap atau karena hidungnya tidak mancung. Karena itu semua memang tidak diadili oleh Sang Pencipta. Tetapi, masalah keyakinan, ini akan ditanya di hari kiamat. Mengapa kita beriman pada Allah SWT atau mengapa kita kufur?

Maka, pertama-tama yang harus dilakukan seorang Muslim adalah bersyukur sepenuh syukur, ketika dilahirkan dari orang tua Muslim. Karena dengan begitu, jalan menuju hidayah lebih terbuka. Setidaknya, inilah titik awal seseorang akan terkondisikan dengan suasana keIslaman.

Islam Harus Diinstal

Begitu lahir ke dunia, saat bayi Muslim membuka mata, disambut azan dan iqamah oleh sang ayah. Itu adalah peletak dasar Islam pada sang anak. Anak yang kelak akan bertumbuh, membesar, remaja hingga dewasa.

Dalam proses bertumbuh itulah, keberIslaman harus diinstal secara terus-menerus agar sang anak benar-benar menerima Islam secara menyeluruh. Mewujud menjadi seorang Muslim yang paham Islam seutuhnya. Islam kaffah. Membentuk kepribadian Islam yang sempurna. Unik.

Siapa yang menginstalnya? Orang tua di rumah, pendidik di sekolah dan guru ngaji di lingkungannya. Ditambah bacaan-bacaan Islami, teman-teman yang shalih dan lingkungan yang baik. Itu semua akan membentuk kepribadian seorang Muslim.

Karena, yang namanya pemahaman, tidak langsung terinstal begitu saja dalam tubuh si anak sejak lahir. Ketika kita lahir dari orang tua Muslim, tidak otomatis kita langsung paham Islam seutuhnya. Tidak otomatis tahu tata cara wudhu, syarat sahnya salat, paham fikih Islam, ngerti tafsir Al-Qur’an, paham sirah Nabawiyah, dll. Tidak. Semua itu perlu proses.

Pemahaman Islam tidak diwariskan melalui jalur genetik secara otomatis, melainkan dipelajari. Turun-temurun. Terus-menerus. Melalui periwayatan dengan sanad yang jelas. Melalui proses pendidikan dan pembiasaan.

Rasulullah SAW, menerima wahyu secara berurutan dari Allah SWT melalui malaikat Jibril. Lalu mewariskan kepada para sahabatnya dengan proses belajar-mengajar. Halaqah. Mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an secara face to face. Para sahabat mengajarkannya kembali kepada generasi setelahnya, setelahnya dan setelahnya.

Semua melalui proses belajar-mengajar yang tiada habisnya. Maka benar ketika Rasulullah SAW memerintahkan umat Islam agar menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat. Belajar ilmu Islam hampir-hampir tiada habisnya. Demikian cara mewariskan Islam kepada umat sedunia.

Dengan cara seperti itulah, umat Islam yakin terhadap kebenaran agamanya. Ia paham bahwa hanya Islam saja yang benar, sebagaimana ia mengkaji surat Al-Maidah ayat 3 yang artinya: ”…pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu…” (Al-Maidah: 3)

Iman 100 Persen

Seseorang yang beragama, sudah pasti dia akan mengklaim agamanyalah yang benar. Karena agama menyangkut keyakinan. Terkait iman. Penganut Islam, harus yakin 100 persen agamanya yang benar. Keyakinan ini tidak diwariskan begitu saja. Al-Qur’an jelas dapat dibuktikan kemukjizatannya; kerasulan Nabi Muhammad Saw. jelas bisa dibuktikan; singkatnya, Islam bisa 100% diyakini sebagai satu-satunya agama yang benar.

Maka, jika hari ini ada Muslim yang merasa berIslam sekadar mendapat warisan orang tuanya, tetapi belum pernah duduk halaqah mengkaji Islam; rutin menuntut ilmu-ilmu Islam; belum memiliki guru bersanad; belum pernah membahas kitab-kitab para ulama, belum memahami ayat-ayat al-Qur’an yang jelas, belum pernah belajar sirah Nabawiyah, belum pernah menelusuri perjalanan hidup para ulama, dsb. Sesungguhnya, dia belumlah mendapat warisan apa-apa. Islamnya baru sebatas status, boleh jadi baru sebatas Islam KTP.

Artinya, kalau Islam tetapi merasa biasa-biasa saja dalam berIslam, tidak bangga sedikitpun, tidak ada dorongan membela Islam, tidak ada keinginan menyampaikan kebenarannya yang tunggal, maka sejatinya ia belumlah menjadi umat yang mewarisi Islam. Apalagi jika malah ragu, membenarkan agama-agama lain, dan membela propaganda mereka atas nama toleransi. Ini sungguh bukan sikap seorang Muslim sejati.

Aset Muslim

Seseorang yang telah mengalir dalam darahnya kebanggaan dan rasa syukur atas keIslamannya, tak akan betah berdiam diri. Ia akan terdorong mengemban dakwah. Bersemangat menyampaikan kebenaran Islam, mengajak orang lain memahami Islam seperti dirinya. IniIah yang tampak pada karakter seorang Muslim yang telah bersyakhsiyah Islamiyah.

Jika sikap ini belum muncul pada generasi muda saat ini, tak lain karena sekarang mereka telah banyak teracuni ide-ide sekular yang memisahkan agama dari kehidupan. Di dalam dirinya telah terinstal pemikiran-pemikiran yang bertolak belakang dengan Islam. Baik melalui kurikulum pendidikan, bacaan, tayangan, teman, opini di media, dan sebagainya.

Kita bisa belajar dari kasus Malala Yousafzai, remaja kritis asal Pakistan yang kini menjadi pion Barat untuk menghantam agamanya sendiri. Remaja Muslim seperti Afi, adalah aset umat. Mari entaskan dari kebutaan terhadap Islam, agama yang seharusnya mengalir deras dalam darahnya. Membuatnya bangga dan gigih membela Islam.

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 198


Rabu, 06 Januari 2021

Islam, Ideologi Rahmatan Lil ‘Alamin



Salah satu tuduhan yang kerap dilontarkan penganut ideologi sekular terhadap Islam adalah tudingan Islam sebagai ideologi yang bersifat dogmatis, tidak ada dialog, ditopang kekuasaan otoriter dan totaliter. Islam pun dianggap sebagai ideologi teror yang berbahaya bagi masyarakat dengan sifatnya yang intoleran dan mengancam kebhinnekaan. Tudingan seperti ini seharusnya tidak muncul dari seorang Muslim. Bagaimana mungkin seorang Muslim, menyerang agamanya sendiri dan menganggapnya sebagai ancaman? Islam, bukanlah agama tanpa nalar. Betapa banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang mengajak manusia untuk berpikir dengan beragam redaksi seperti afala tatafakkarun, afala ta'qilun. Akidah Islam justru muncul dari proses berpikir mendalam untuk membuktikan keberadaan Allah SWT, kebenaran Al-Qur’an dan Rasulullah SAW sebagai utusan Allah. Semuanya melalui nalar yang kuat, sehingga ketika seseorang beriman kepada Allah, benar-benar kuat dan kokoh.

Ketika Islam memerintahkan manusia untuk tunduk total kepada aturan-aturan Allah SWT, inipun bukanlah tanpa nalar. Bukankah Allah SWT paling mengetahui apa yang paling baik untuk kita? Bukankah Allah SWT Maha Sempurna, sementara kita serba terbatas dan penuh dengan kekurangan? Adalah wajar dan sudah seharusnya kita merujuk kepada aturan-aturan Allah SWT yang Maha Sempurna. Semua sekaligus merupakan penerimaan terhadap fitrah manusia dan cerminan keimanan seorang Muslim. Bagaimana mungkin kita mengklaim sebagai hamba Allah, tapi kita tidak mau tunduk kepada Allah SWT, tentu termasuk kepada aturan-aturannya?

Bagaimana mungkin pula, penerapan syariah Islam dianggap ancaman bagi negara ini? Adalah tidak masuk akal, Allah SWT yang memiliki sifat Ar-Rahman ar-Rahim (Maha Pengasih dan Penyayang), membuat hukum untuk mencelakakan manusia. Justru Islam hadir sebagai agama yang rahmatan lil 'alamin, yang memberikan kebaikan kepada setiap manusia, bukan hanya Muslim tapijuga orang-orang kafir (non-Muslim).

Berbagai masalah yang terjadi di negeri ini, seperti kemiskinan yang parah, kebodohan yang menyebar, angka kriminalitas yang tinggi, perampokan terhadap kekayaan alam negeri ini, bukanlah disebabkan oleh Islam, tapi akibat ideologi kapitalisme sekuler yang diterapkan di negeri ini. Dan Allah sesungguhnya sudah banyak mengingatkan hal ini kepada kita, bagaimana kerusakan di daratan dan di lautan akibat dosa-dosa dan kemaksiatan yang dilakukan manusia. Allah juga menimpakan kehidupan yang sempit, resah, gelisah, kepada siapapun yang berpaling dari Al-Qur’an, berpaling dari ayat-ayat Allah SWT.

Tudingan kekuasaan Islam sebagai otoriter, jelas keliru besar. Memang Islam menempatkan kedaulatan itu sepenuhnya di tangan Allah SWT (as-siyadah lil syar'i). Artinya sumber hukum satu-satunya adalah Al-Qur’an dan as Sunnah (dan yang ditunjuk oleh keduanya). Seorang kepala negara atau khalifah, juga diperintahkan untuk menerapkan syariah Islam. Namun tentu saja, sebagai manusia biasa, dia mungkin saja keliru, salah, atau terjerumus kepada syahwat kekuasaan. Karena itu khalifah mungkin keliru dan sah untuk dikritik.

Dalam Islam, mengkritik penguasa (muhasabah lil hukkam) bukan saja hak tapi juga wajib. Rasulullah SAW menyebut sebagai sebaik-baik jihad (afdhalul jihad) adalah melontarkan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim. Bahkan siapapun yang terbunuh karena menjalankan kewajiban ini disebut Rasulullah SAW sebagai penghulu para syuhada. Karenanya, keberadaan kelompok-kelompok politik atau partai politik dalam rangka melakukan amar ma'ruf nahi munkar adalah sah dan tidak boleh dilarang.

Tidak hanya itu rakyat pun boleh mengadukan pejabat-pejabat yang menyimpang kepada khalifah. Termasuk mengadukan kebijakan khalifah yang dianggap keliru atau merugikan masyarakat kepada mahkamah mazalim, yang mengadili pengaduan masyarakat terkait kebijakan khalifah atau negara. Mahkamah ini pula yang berhak memberhentikan khalifah. Bahkan dalam kondisi khalifah melakukan bentuk kekufuran yang nyata (kufran bawahan), rakyat boleh angkat senjata untuk menjatuhkan khalifah.

Intoleran adalah tudingan palsu yang penuh dengan kebencian terhadap Islam. Islam membolehkan perbedaan pendapat dalam perkara-perkara ikhtilaf yang memang dibolehkan hukum syara'. Namun tentu Islam tidak pernah toleran terhadap kekufuran dan kemaksiatan. Jangan tanyakan kebhinnekaan dalam Islam dalam pengertian pluralitas (keberagaman). Sistem khilafah adalah negara yang menanungi beragam ras, bangsa, warna kulit, bahkan agama hidup tentram dan damai di dalamnya.

Namun bukan dalam pengertian pluralisme yang intinya menganggap semua agama benar dan menolak syariah Islam dengan tudingan berasal dari satu kelompok masyarakat (tanpa lagi mempertimbangkan apakah sistem Islam itu baik atau buruk).

Cukuplah kita mengutip dari sejarawan Will Durant dalam The Story of Civilization, untuk menggambarkan bagaimana ideologi Islam hadir memberikan kebaikan kepada setiap umat manusia. Durant menulis: "Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para khalifah telah mempersiapkan berbagai kesempatan bagi siapapun yang memerlukannya dan meratakan kesejahteraan selama berabad-abad dalam luasan wilayah yang belum pernah tercatatkan lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka.” Allahu Akbar! []farid wadjdi

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 189


Selasa, 05 Januari 2021

Indonesia Negara Sekuler Sejak Awal



Bukan hanya menerapkan sekularisme, secara tegas Presiden Jokowi juga mengajak semua pihak untuk memisahkan betul antara agama dengan politik. Hal itu diungkapnya saat meresmikan Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara di Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Jumat (24/3/2017). Tentu saja pernyataan itu sangat berbahaya dan mengonfirmasi kebijakannya selama ini. Namun apakah dia satu-satunya kepala negara yang sekuler di negeri ini? Lantas, mengapa negara ini bisa sekuler? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, wartawan Media Umat Joko Prasetyo mewawancarai Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto. Berikut petikannya.

Bagaimana tanggapan Anda dengan pernyataan Jokowi bahwa agama harus dipisah betul dengan politik?

Pilihan kita dalam memosisikan agama terhadap politik itu memang cuma ada dua. Pertama, mengaitkan agama dengan politik, bahkan menjadikan agama sebagai dasar politik. Atau, memisahkan antara keduanya. Sebenarnya ada lagi yang ketiga, yaitu mengaitkan, tapi keterkaitannya di sini hanya menempatkan agama sebagai sumber etika. Dengan definisi manapun, memisahkan agama dari politik itu namanya sekuler. Dan rezim ini memang sekuler. Jadi sebenarnya pernyataan Jokowi itu tidaklah aneh. Yang aneh adalah mengapa seorang presiden kok ya mengungkapkan pikiran sekuler itu sebegitu terang ke hadapan publik. Yang sudah-sudah biasanya akan mengungkapkan secara lebih halus, setidaknya supaya tampak menghargai peran agama. Dengan kata lain, mengikuti pola ketiga.

Apa saja indikasinya rezim Jokowi ini sekuler?

Kalau tidak sekuler, pasti seluruh kebijakan pemerintahannya akan mendasarkan pada agama Islam dan pernyataan seperti itu tidak akan keluar dari mulut dia. Juga penista agama tidak akan dilindungi.

Bagaimana dengan rezim-rezim sebelumnya, apakah sekuler juga atau tidak?

Sama juga.

Rezim Soekarno juga?

Ya.

Berarti negara ini sudah sekuler sejak awal?

Ya.

Kenapa begitu?

Memang itu pilihan (voting) sejak awal. Hanya saja, orang tidak pernah mau mengakui negara ini sebagai sekuler. Selalu dibilang, negara ini bukan negara agama, tapi juga bukan negara sekuler.

Berarti, masalahnya bukan hanya pada rezim tetapi juga sistem?

Ya. Tapi sekulernya Indonesia itu memang tidak sepenuhnya alias sekuler setengah hati. Hal ini dipengaruhi oleh kuatnya peranan Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka. Pergerakan kemerdekaan banyak diinisiasi oleh organisasi Islam seperti Syarikat Islam. Sebelumnya ada tokoh-tokoh pejuang Islam seperti Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Cut Nyak Dien dan lainnya yang semua bergerak oleh karena dorongan agama. Dalam tahap persiapan kemerdekaan, tuntutan agar Indonesia yang hendak didirikan adalah negara yang berdasar Islam sangatlah gencar. Kalimat ”Atas berkat Rahmat Allah” dalam pembukaan UUD 45 menunjukkan kuatnya kesadaran keaqamaan dalam prases proses politik di negeri ini. Andai tidak ada pengkhianatan, mungkin Indonesia yang berdasar Islam akan sudah terwujud.

Setelah merdeka pun peran Islam tak surut. Hari Pahlawan itu terjadi karena peristiwa Hotel Oranye yang digerakkan oleh para pemuda dengan semangat jihad yang dipicu oleh adanya Resolusi Jihad. Resolusi Jihad itu sendiri jelas muncul dari kesadaran para ulama tentang kewajiban dalam melawan penjajah. Oleh karena itu, usaha untuk memisahkan agama dari politik tidak pernah sungguh-sungguh berhasil. Bahkan meski di masa Orde Baru diberlakukan secara paksa asas tunggal, tapi setelah itu, dalam Era Reformasi, asas Islam dalam ormas dan orpol kembali mengemuka. Bahkan sekarang ada kecenderungan kesadaran Islam di tengah masyarakat justru semakin kuat, meski yang sekuler juga makin mengental.

Memang masalah pokok dari sistem yang diberlakukan itu apa sehingga semua rezim kok jadi sekuler?

Sejak dari awal, pada tahap penyusunan landasan negara menjelang Indonesia merdeka, sudah terjadi debat sengit antara Indonesia yang berdasar Islam atau bukan. Dan kita tahu, setelah melalui proses yang berliku-liku, pilihan (voting) jatuh pada yang kedua. Semenjak itu, Indonesia sesungguhnya adalah negara sekuler, dalam arti tidak menjadikan Islam sebagai dasar dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Selanjutnya, Islam, sebagaimana agama dalam pengertian Barat, hanya ditempatkan dalam urusan individu dengan tuhannya saja.

Sementara dalam urusan sosial kemasyarakatan, Islam ditinggalkan. Maka, di tengah-tengah sistem sekuleristik tadi lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Yakni tatanan ekonomi yang kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik machiavellistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik serta sistem pendidikan yang materialistik.

Kegiatan politik tidak didedikasikan untuk tegaknya nilai-nilai Islam melainkan sekadar demi kekuasaan dan kepentingan sempit lainnya. Makanya, perjuangan Islam justru dihambat, dan tokohnya dikriminalisasi.

Sikap beragama sinkretistik menyebabkan sebagian umat Islam telah memandang rendah, bahkan tidak suka, menjauhi dan memusuhi aturan agamanya sendiri. Lihatlah, siapa yang paling giat menolak pemberlakukan syariah? Siapa juga yang mendukung pemimpin kafir? Ya umat Islam yang tersekulerkan tadi.

Apa bahayanya sekulerisme?

Di Akhirat pasti akan menjadi orang yang merugi, karena telah mengingkari perintah Allah dan meninggalkan prinsip ibadah dalam menjalani kehidupan ini. Sementara dalam kehidupan dunia, sebagaimana disebut dalam surah al-Baqarah ayat 85, sebagai akibat mengimani Islam sebagian dan mengingkari sebagian yang lain, umat Islam akan menjadi orang yang terhina. Umat Islam yang semestinya mulia, karena hidup dalam sistem sekuler menjadi hilang kemuliaannya, seperti yang terlihat dewasa ini.

Lantas sistem apa sebagai gantinya?

Kembali kepada Islam, karena sistem Islamlah yang benar dan karenanya akan memberikan rahmat atau kebaikan kepada semua (rahmatan lil alamin).

Bagaimana agar sistem tersebut dapat ditegakkan?

Pertama, umat Islam harus paham bahwa sekulerisme telah menjauhkan mereka dari Islam, dan membuat Islam tidak bisa memberikan kerahmatan karena tidak diterapkan secara kaffah.

Kedua, setelah paham, umat Islam harus bergerak untuk melakukan perubahan. Didukung oleh ahlul quwwah dan ahlul sultah, umat yang sadar akan menjadi kekuatan perubahan yang dahsyat, yang tak akan bisa dibendung oleh siapapun. Insya Allah. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 194
---

Rabu, 30 Desember 2020

Sudahlah… Demokrasi Dan HAM Memang Bukan Untuk Kita!


demokrasi omong kosong

Kembali pengusung demokrasi dan HAM menampakkan standar ganda yang nyata terhadap umat Islam. Pertama, perbedaan sikap Barat terhadap bom Ankara, Lahore dan Brussel. Termasuk sikap menyakitkan Barat yang mendukung penuh zionis Israel yang secara sistematis hampir setiap hari membunuh umat Islam. Kita pun jangan lupa, bagaimana Barat melakukan pembiaran terhadap Bashar Assad yang bertindak brutal dalam konflik Suriah yang telah menelan 400 ribu jiwa manusia. Barat pun secara terbuka mendukung rezim kudeta Jenderal Sisi di Mesir yang nyata-nyata telah bersikap represif terhadap lawan politiknya.

Kedua, sikap standar ganda pendukung demokrasi yang peraih nobel perdamaian, Aung San Suu Kyi. Sosok pejuang demokrasi yang dikenal penyabar, berjuang dengan damai ini, kehilangan kesabarannya usai diwawancara presenter BBC Today, Mishal Husain. Sambil menggerutu, dia mengeluh tidak diberitahu akan diwawancara seorang Muslim.

Sikap diamnya selama ini terhadap nasib menyedihkan umat Islam minoritas Rohingya pun dipertanyakan berbagai pihak. Padahal di depan matanya, sangat jelas, lebih dari 140 ribu Muslim Rohingya hidup sengsara di kamp-kamp pengungsi. Belum lagi yang dibunuh, rumahnya dibakar, dan yang tenggelam di lautan ganas dalam pelarian menjadi pengungsi.

Sudah berulang-ulang kita mengingatkan tentang standar ganda ini. Dan tidak ada perubahan yang nyata. Ini artinya apa, standar ganda, sikap hipokrit adalah bagian yang integral dalam sistem demokrasi.

Menjadikan kekuasaan dan uang (modal) sebagai panglima, inilah yang membuat sistem demokrasi dalam praktiknya penuh dengan standar ganda. Sebab, dalam pandangan politik kapitalisme Barat, yang terpenting adalah berkuasa untuk mempertahankan dan memperluas pemilikan modal. Karena itu, sudahlah! Jangan berharap pada sistem demokrasi. Sistem ini memang dirancang untuk keuntungan para perancang, yaitu negara-negara imperialis seperti Amerika, Inggris, dan sekutu-sekutunya. Sistem ini tidak bisa diharapkan akan melindungi umat Islam secara menyeluruh. Kalaupun ada manfaatnya sangatlah sedikit dibanding dengan bahaya utamanya, yaitu menjadikan kedaulatan di tangan manusia bukan di tangan Allah SWT.

Sudahlah, berhenti berharap (bahwa) lewat sistem demokrasi, umat Islam akan berkuasa untuk menerapkan ajaran Islam secara menyeluruh. Kalau sekadar parsial (sebagian) atau kulit-kulitnya, memang memungkinkan. Tapi kalau lewat demokrasi kita berharap bisa menegakkan khilafah, ini utopis dan omong kosong. Pasalnya sistem demokrasi tidak akan membiarkan unsur apapun yang bisa menghancurkan sistemnya sendiri.

Tidakkah kita bisa mengambil pelajaran dari Aljazair, Mesir, Turki, maupun Tunisia? Di Tunisia, lewat sistem demokrasi pula aspirasi umat Islam dikebiri, [jadi] sebatas tidak bertentangan dengan nilai-nilai sekuler. Di Mesir, meskipun sudah menunjukkan kesediaan menerima jalan demokrasi, tapi Barat tetap saja tidak percaya dan meragukan kelompok-kelompok Islam yang menang secara demokratis. Mereka lebih percaya militer akan menjadi pengawal setia terhadap sistem sekuler di Mesir yang bisa mencegah tegaknya syariah Islam. Sementara Turki, hanya menjadi pemain regional yang dikontrol oleh Barat untuk kepentingan-kepentingan politik Barat di kawasan Timur Tengah dan dunia Islam.

Kita harus dengan tegas bersikap: campakkan sistem demokrasi dan kembalilah ke jalan sejati, yakni Islam. Jangan serukan lagi umat untuk menerima sistem kufur demokrasi dengan alasan 'daripada' yang nyatanya hanya omong kosong. Ajaklah umat dengan tegas ke arah sistem Islam yang jelas: syariah Islam dan khilafah. Umat harus kita sadarkan untuk menolak sekeras-kerasnya dan melemparkan sejauh-jauhnya sistem demokrasi busuk ke tong sampah peradaban. Jangan pernah didaur ulang!

Mari kita berjuang seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. Perjuangan yang dengan tegas menjadikan Islam sebagai dasar dan tujuan. Perjuangan yang bertumpu pada dua hal penting yang menjadi kunci perubahan. Pertama, terdapatnya kesadaran dari umat IsIam untuk menuntut penerapan Islam secara totalitas. Kedua, terdapatnya dukungan dari ahlul quwwah, mereka yang memiliki kekuasaan yang riil, yang dengan dasar keimanan dan keikhlasan mereka semata-semata demi Islam, memberikan kekuasan mereka untuk menerapkan syariah Islam secara totalitas. Dua perkara inilah yang harus secara serius kita kerjakan yang bisa mengantarkan kita kepada kembalinya khilafah.

Kesadaran umat yang akan membangun opini umum, akan menggerakkan umat untuk menuntut perubahan yaitu tegaknya khilafah. Mereka bukan hanya menuntut tapi juga siap berkorban apapun untuk kemuliaan Islam. Ini diperkuat dengan dukungan ahlul quwwah seperti militer. Kalau ini tercapai siapa yang bisa menolak perubahan menuju khilafah. Umat yang sadar sudah menuntut dan ahlul quwwah yang ikhlas sudah mendukung.

Walhasil, hanya dengan khilafah, Islam rahmatan lil 'aIamin bisa kita wujudkan. Sebab Islam yang menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia, bisa diwujudkan ketika syariah Islam secara totalitas (menyeluruh) diterapkan. Dan semua itu membutuhkan khilafah sebagai institusi politik. Dengan khilafah, kemuliaan agama bisa ditegakkan, nyawa umat manusia akan terjaga, kehormatan umat Islam akan dilindungi, harta dan keturunan umat manusia akan terlindungi. Allahu akbar! []farid wadjdi

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 171


Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam