Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Kamis, 06 Mei 2021

Membentengi Akidah Umat Dari Pemurtadan



H. Muhammad Idris, Wakil Ketua Yayasan Nurul Iman
Khilafah Menjaga Akidah Umat

Sembari menerawang ke masa kecil, H Muhammad ldris mengenang awal pendirian Yayasan Nurul lman. “Masih jelas dalam ingatan saya, waktu itu saya masih SD, para orang tua dan guru ngaji kami resah dengan keberadaan rumah ibadah non Muslim di tengah-tengah lingkungan kami yang 100 persen Muslim. Saya juga ingat dua orang teman sekelas saya orang tuanya dimurtadkan," ujarnya kepada Media Umat.

Untung saja, para orangtua dan guru ngaji segera menyadarkannya kembali sehingga mereka kembali masuk Islam. “Mungkin seandainya para orang tua dan guru-guru kami tidak menguatkan kami dengan pendidikan Islam, boleh jadi pemurtadan akan terus berlanjut,” tambah lelaki kelahiran Tuban (Jawa Timur), 9 Juni 1969.

Sebagai alumni MI Nurul Iman angkatan pertama, Pak ldris, demikian ia biasa disapa berupaya menjadikan Yayasan Nurul Iman sebagai wadah pengabdian yang bisa disumbangkan untuk kemajuan Syiar Islam di desanya.

Namun, ia merasa prihatin dengan serangan budaya dan pemikiran kufur dari Barat melalui media yang hadir di tengah-tengah kehidupan umat sampai ke pelosok desa seperti Rantau Makmur yang semakin banyak mempengaruhi gaya hidup terutama generasi mudanya. Upaya menelorkan generasi yang kokoh dalam akidah dan patuh pada syariah (berkepribadian Islam) menjadi banyak kendala.

Karenanya, kepala di salah satu Puskesmas di Kabupaten Tanjung Jabung Timur ini berharap khilafah yang diperjuangkan Hizbut Tahrir segera tegak. “Sebab khilafah akan menjaga akidah dan menegakkan syariah secara kaffah," pungkasnya. []


Yayasan Pendidikan Nurul Iman, Rantau Makmur, Berbak, Tanjung Jabung Timur, Jambi

Membentengi Akidah Umat Dari Pemurtadan

Awal tahun 1980-an Rantau Makmur adalah daerah eks permukiman transmigrasi yang identik dengan kemiskinan, tetinggal, dan terpencil. Transportasi ke kota kabupaten maupun provinsi ditempuh semalaman menggunakan kapal motor. Penduduknya para transmigran asal Jawa, 98 persen Muslim. Setiap tahun desa di delta sungai Batang Hari dan Batang Berbak itu langganan banjir akibat pasang laut dan luapan sungai terpanjang di Pulau Sumatera. Gagal panen akibat banjir seolah menjadi rutinitas sebelum akhirnya dibuat tanggul pengendali banjir sekitar awal 1990-an.

Kemiskinan yang menimpa masyarakat Rantau Makmur menarik perhatian kalangan agama tertentu untuk melaksanakan aktivitas sosial yang mengarah pada pemurtadan. Beberapa orang dan keluarga berpindah agama sesuai arahan misi tersebut, dan ikut meramaikan rumah ibadah yang berdiri di tengah-tengah komunitas Muslim.

Kejadian di atas memicu keprihatinan tokoh agama dan masyarakat. Lalu dicapailah kesepakatan mendirikan lembaga pendidikan keagamaan agar umat khususnya para generasi muda terbentengi akidahnya. Tersebutlah tokoh-tokoh agama seperti Kiai Syamsuri Ahmad (alm), Ustadz Syarif Hidayat, Ustadz Samsuri dan tokoh masyarakat HM Syarif (alm), H Ramadhan, serta beberapa tokoh lainnya mendirikan pendidikan formal Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada 1983. Berdirinya lembaga pendidikan tersebut mendapat dukungan kuat.

Awalnya MI Nurul Iman menyelenggarakan pendidikan sore hari menumpang di gedung SD Negeri. Sebagian besar siswanya merangkap sebagai siswa SD di pagi hari. Sehingga meski baru berdiri sudah memiliki santri mulai dari kelas 1-6.

Di tahun kedua barulah menempati gedung sendiri dengan memanfaatkan bekas asrama penampungan transmigran yang tak terpakai lalu dibongkar dan dipindahkan ke lokasi tanah desa yang dihibahkan untuk madrasah seluas (+/-) 29.000 meter persegi.

Melawan Pemurtadan

Perjuangan merintis berdirinya madrasah hampir bersamaan dengan usaha pihak agama lain mendirikan rumah ibadah di Rantau Makmur. Saat itu sempat timbul ketegangan dan perang dingin antara masyarakat sekitar tempat pendirian rumah ibadah yang notabene 100 persen Muslim dengan panitia pendirian rumah ibadah yang dimotori salah seorang oknum guru SD. Masyarakat bersikukuh menolak dan tak bersedia memberi izin berdirinya rumah ibadah non Muslim tersebut. Akibatnya banyak siswa SD dari lingkungan tersebut tidak naik kelas dan tidak diluluskan.

”Untungnya mereka bersekolah di MI sehingga biarpun tak lulus SD tapi dapat ijazah dari MI," ungkap Wakil Ketua Yayasan Nurul Iman H Muhammad Idris kepada Media Umat.

Upaya pendangkalan akidah terus berlanjut. Setelah rumah ibadah ilegal berdiri, oknum guru SD yang kemudian menjabat kepala sekolah pernah mengajak siswa kerja bakti menanam padi di lahan sekitar rumah ibadah tersebut. Mereka disediakan makanan ringan dan minuman padahal saat itu bulan Ramadhan.

Di kesempatan lain pada hari Jum'at, kepala sekolah pernah menahan beberapa siswa laki-laki kelas enam, diajak ngobrol diskusi masalah keagamaan termasuk mengomentari keberangkatan haji seorang pengusaha setempat di tengah kemiskinan sebagian besar warga desa. Obrolan berlangsung sampai lewat tengah hari sehingga mereka tak sempat menunaikan shalat Jum'at.

Lalu beberapa siswa yang kebetulan juga belajar di MI mengirim surat pengaduan ke gubernur perihal perlakuan oknum kepala sekolah. "Alhamdulilah, pengaduan tersebut ditanggapi dengan menerjunkan tim investigasi dari provinsi. Akhirnya kepala sekolah tersebut dipindahtugaskan ke daerah lain," bebernya.

Agar siswa-siswi SMP tidak mengalami nasib serupa, pada 1986, yayasan mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Nurul Iman. Pertimbangannya adalah agar lulusan MI Nurul Iman dapat melanjutkan sekolah, sementara SMP dan MTs yang telah ada sangat jauh dari jangkauan," terangnya.

Bukan Tempat Cari Uang

Kemiskinan yang dialami warga juga mempengarunr keberlangsungan lembaga pendidikan Nurul Iman. Para guru tak bisa mengandalkan gaji dari iuran siswa atau dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang waktu itu belum ada. Mereka hanya mendapatkan gaji sekadarnya per enam bulan dari pungutan ke warga setelah panen palawija dan padi. Itupun kalau tak gagal panen karena banjir.

Untuk menguatkan kelembagaan yang menaungi MI dan MTs Nurul Iman, pertengahan tahun 1990-an didirikan Yayasan Pendidikan Nurul Iman yang dikukuhkan dengan akta notaris. Akta pendirian ditandatangani oleh Kepala Desa, Ketua LMD/LKMD, beberapa tokoh agama dan tokoh masyarakat. Dengan demikian, Yayasan Pendidikan Nurul Iman adalah milik dan aset masyarakat Desa Rantau Makmur. Kepengurusan periode pertama diketuai Ustadz Bajuri. Lalu pada 2014 digantikan Suparto, mantan Kepala Desa.

Dengan misi membentengi akidah umat dan meningkatkan syiar Islam, khususnya dalam pendidikan formal bercirikan Islam, berkat dukungan masyarakat dan beberapa pengusaha asal Rantau Makmur serta para alumni yang telah sukses, kiprah yayasan semakin dirasakan masyarakat. Kini yayasan telah mengelola selain MI dan MTs juga TK Islam, Madrasah Aliyah (MA) dan pondok pesantren. Masing-masing memiliki aset berupa tanah (hibah dari desa) dan bangunan permanen.

Yayasan yang pertama berdiri diamanahi 60 santri kini di tahun ajaran 2015/2016 diamanahi sekitar 260 santri. Nurul Iman pun telah mengantarkan para alumninya menjadi ustadz, guru, kepala sekolah, perawat, bidan, tentara dan lain-lain. []

---
Tabloid Media Umat edisi 161


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda