Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Senin, 14 Mei 2018

Membela Palestina: Lima Poin Aksi Bagi Kaum Muslimin



Entitas Zionis sekali lagi mengerahkan mesin pembunuhnya melawan umat yang tak punya perlindungan di Gaza, sementara dunia melihat dan hanya menawarkan sinyal-sinyal kedok untuk menutupi berbagai kejahatan negara ilegal ini. Sebagai bagian dari Umat yang mulia, Umatnya Rasulullah (Saw.) tidaklah layak bagi kita hanya berdiri diam saja dan bungkam sementara penumpahan darah sedang terjadi. Darah kaum Muslimin punya kesucian.

Abdullah bin Umar ra. menuturkan: “Aku melihat Rasulullah SAW thawaf mengelilingi Ka’bah dan beliau bersabda: “Alangkah baiknya engkau dan alangkah harumnya aromamu! Alangkah agungnya engkau dan agungnya kehormatanmu! Tapi demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di genggaman tangan-Nya, sungguh kehormatan seorang mukmin, hartanya, dan darahnya lebih agung di sisi Allah daripada kehormatanmu, dan agar kami tidak berprasangka kepadanya kecuali yang baik.” (HR Ibnu Majah)

Untuk membela saudara dan saudari kita di Gaza, kita harus melakukan aksi-aksi berikut ini berdasarkan Islam.

1. Mengkritik para penguasa antek karena diam saja

Para penguasa di dunia Muslim adalah tameng pertahanan bagi entitas Zionis. Sementara darah kaum Muslimin mengalir, para penguasa itu tidak menunjukkan perhatian atas apa yang sedang terjadi tapi malah mengirim para tentara mereka untuk proyek-proyek kolonial di Suriah, Yaman, Afghanistan, dan Pakistan. Ini adalah sifat sesungguhnya yang menjijikkan dari para penguasa dan kita harus mengkritik mereka karena sikap diamnya, persetujuannya, dan konspirasinya. Rasulullah (Saw.) bersabda:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar, atau Allah akan mendatangkan siksa dari sisi-Nya yang akan menimpa kalian. Kemudian setelah itu kalian berdo’a, maka (do’a itu) tidak dikabulkan.” (HR. at-Tirmidzi)

2. Menolak intervensi Barat

Kapanpun krisis muncul di antara Umat, dengan sidik-sidik jari penjajah yang tampak, maka adalah negara-negara kolonial dan badan-badan kolonialnya yang itu-itu juga yang menyodorkan solusi bagi problem Umat. Solusi-solusi itu sama sekali tidak berharga dan justru memuluskan berbagai kepentingan mereka sendiri. Berapa kali telah kita lihat PBB menawarkan resolusi atas Palestina tapi dimentahkan oleh Amerika Serikat atau digilas rata oleh entitas Zionis? Solusi Barat itu harus ditolak sebab itu semua tidak lain hanyalah kesengsaraan dan penghinaan lebih jauh atas Umat mulia ini.

3. Menolak semua rancangan untuk memasrahkan Palestina melalui negosiasi dengan entitas Zionis

Kita harus mengatakan tidak pada semua negosiasi dengan entitas Zionis dan tidak boleh mengkompromikan satu inchi pun Palestina, meski tertumpahnya darah sebagaimana yang kita saksikan, sebab negosiasi tidak lain adalah ketundukan pada makar-makar penjajah untuk kokoh menanamkan negara kanker ini di dunia Muslim. Kita tidak menerima sebuah negara Palestina bergaris batas pra-1967 sebab ini berarti melegitimasi penjajahan tanah Muslim yang telah dikangkangi sejak Deklarasi Balfour di 1917. Kita tidak bisa dipaksa oleh realitas dan tekanan-tekanan, tapi kita harus tetap jujur pada keyakinan kita dan menolak semua negosiasi yang mengkompromikan tanah Palestina yang diberkahi.

4. Menyeru angkatan-angkatan bersenjata untuk bergerak

Kita telah menyadari, meski ada maksud baik dari sebagian Muslim, bahwa melobi dan memboikot tidaklah akan menghentikan penumpahan darah dan penjajahan Palestina. Umat ini telah menyadari, solusi (tuntas) Islaminya adalah dengan bala tentara kaum Muslimin bergerak untuk melindungi kaum Muslimin dan tanah Muslim di Palestina. Ini adalah hal yang dituntut dan ini adalah sebuah kewajiban di pundak-pundak tentara Muslim. Kita harus lantang menyeru angkatan-angkatan bersenjata kaum Muslimin untuk melakukan mobilisasi karena mereka punya kemampuan materi untuk mencerabut entitas zionis dan membebaskan Palestina. Rasulullah (Saw.) bersabda:

“Siapa saja yang melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia berusaha mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

5. Berusaha untuk tegaknya Khilafah

Hanya Khilafah Rasyidah yang akan membebaskan al-Quds, Suriah, Kashmir, dan semua tanah-tanah terjajah. Kita harus membantu seruan global untuk mendirikan-kembali Khilafah: mendukungnya, menyerukannya, dan mengusahakannya.

“Imam itu laksana perisai, di belakangnya kalian berperang, dan berlindung dengannya, maka jika dia memerintah dengan taqwa dan adil maka dia mendapat ganjarannya, dan jika dia memerintah dengan selainnya, maka untuknya balasan [dari keburukan itu].” (HR. Muslim)

Hizb ut-Tahrir Britain
3 April 2018 / 16 Rajab 1439





keterangan foto-foto: Hizb ut-Tahrir di Turki mengorganisir demonstrasi di 10 kota pada hari Ahad (13/5) untuk menyikapi masalah al-Quds dan untuk menyeru Umat Islam dan khususnya angkatan bersenjata untuk bekerja sehingga membebaskan Palestina. 
 

Minggu, 06 Mei 2018

Tokoh Umat Dukung HTI




"Pertama harus kita sadari, bahwa penegakan Syariah dan Khilafah adalah sebuah kewajiban seluruh umat Islam, dan penegakan itu dilakukan haruslah berjama'ah, dan tanpa berdirinya Khilafah, tak mungkin rahmat itu akan terwujud." (KH. Abdullah, Pimpinan Ponpes Nurul Ulum, Jember)



"Jangan takut nanti santrinya bubar kalau kita berjuang. Perjuangan penegakan Syariah dan Khilafah harus terus kita dukung, Hizbut Tahrir harus kita dukung." (KH. Suyono, Pimpinan Pesantren Roudhotul Jannah, Lampung Tengah)



"Adalah bohong ketika ingin maju tapi tidak menggunakan ideologi samawi (Islam), sehingga perjuangan penegakan Syariah dan Khilafah harus kita dukung." (KH. M. Sulthon, Pimpinan Ponpes Jabal Nur, Bandar Lampung)



"Kemerdekaan berdasarkan rahmat Allah, lalu setelah merdeka mengapa yang diberlakukan bukann hukum Allah yang membawa rahmat? Itu durhaka namanya. Kita durhaka. Saya mengenal Hizbut Tahrir sejak tahun 2000-an, sebelumnya saya sudah terlibat dalam berbagai organisasi, dan kini saya berjuang bersama Hizbut Tahrir untuk menegakkan Syariah dan Khilafah." (Halim Husein, Hakim Tinggi Agama Jawa Barat)



"Penerapan Syariah yang digaungkan adalah sebuah keharusan yang ditegakkan. Lalu dengan Khilafahlah, Syariah Islam bisa diterapkan secara kaffah, tanpa itu konsekuensinya tidak akan kaffah, dan Hizbut Tahrir adalah partai yang terdepan dalam memperjuangkan Syariah Islam." (Kyai Mahmuddin, Ketua MUI Kabupaten Bekasi)



"Secara umum saya setuju dengan apa yang Hizbut Tahrir perjuangkan, karena hanyalah orang munafik yang tidak menerima penerapan Syariah Islam secara menyeluruh. Mengenai penerapan Khilafah, membutuhkan perjuangan yang konsisten, terutama pada situasi kondisi sekarang." (MA Luqman Toha, Ketua PDM Muhammadiyah Tangsel)



"Islam rahmatan lil 'alamin bukan hanya jaman dulu, tapi sampai akhir jaman bisa terwujud. Dan nantinya rahmat Islam bukan hanya untuk Muslim saja, akan tetapi non-Muslim -jika dia tidak menentang Syariah. Oleh karena itu, para tokoh umat Islam wajib bersatu dan berani bersuara menyampaikan wajibnya Syariah." (KH. Thoha Abdurrahman, Ketua MUI DIY)





"Jika kita benar mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka kita harus berjuang untuk tegaknya Khilafah, dan HTI-lah yang secara aktif dan konsisten dalam perjuangan itu, maka oleh karena itu, saya mengajak para tokoh untuk bersama memperjuangkan tegaknya Syariah dan Khilafah." (Habib Muhammad Nakhel bin Takhib Abdullah al-Attas, Tokoh DIY)



"Apabila Khilafah disia-siakan, maka rahmat Allah yang seharusnya untuk seluruh alam tidak akan dirasakan dari hewan hingga manusia, karena itu tugas kaum Muslim-lah untuk memperjuangkan tegaknya Khilafah 'ala minhajin an-nubuwwah sebagaimana apa yang diwajibkan Allah kepada kita." (Ustadz Abdul Somad, Ulama ahli hadits, Riau)



"Tetap semangat dalam berjuang untuk para pengemban dakwah, tetap istiqomah, karena janji Allah SWT dan Rasul-Nya pasti benar terjadi, dan kita jangan berkecil hati karena Syariah dan Khilafah pasti kembali." (Abah Hideung, Pimpinan Ponpes an-Nizhomiyah, Sukabumi)



"Saya sangat mendukung apa yang dilakukan HTI. Konsisten dalam menegakkan Islam kaffah untuk terwujudnya Islam rahmatan lil 'alamin." (Hj. Deswaty Diningsih, Ketua IWAPI Bogor

Sumber: Tabloid Media Umat 
 

Senin, 16 April 2018

Mengatasi Halangan-Halangan Di Jalan Menuju Kembalinya Khilafah yang Dipasang Oleh Para Kolonialis



Bagi para kekuatan kolonial, menghancurkan Khilafah saja tidaklah cukup. Mereka ingin memastikan bahwa Khilafah tidak akan pernah bisa bangkit lagi di antara kaum Muslimin.

Di saat Umat mengingat kehilangan besar atas Khilafah di bulan Rajab ini, perlu kiranya menilik kembali situasi historis dan melihat hari-hari kelam tanggal 26, 27, dan 28 Rajab.

Umat ingat bagaimana musuh-musuhnya, Inggris dan Perancis, memainkan peran utama dalam penghancuran Khilafah dan membagi-bagi negeri-negeri Muslim di antara mereka. Inggris telah mendapatkan keberhasilan besar untuk agenda politiknya menghapus Khilafah melalui agennya, Mustafa Kamal. Pada 3 Maret 1924 (28 Rajab 1342 H), Mustafa Kamal, menggunakan paksaan dan teror terhadap lawan-lawan politiknya, berhasil menggolkan rancangan penghapusan Khilafah, yang dengannya berhasil diraih penghapusan total Khilafah, pengusiran Khalifah ke luar batas negara, perampasan aset-aset dan pendeklarasian Turki sebagai negara sekular.

Bagi para kekuatan kolonial, menghancurkan Khilafah saja tidaklah cukup. Mereka ingin memastikan bahwa Khilafah tidak akan pernah bisa bangkit lagi di antara kaum Muslimin.

Lord Curzon mengatakan, “Kita harus mengakhiri apapun yang bisa menghasilkan persatuan apapun di antara putra-putra Muslim. Karena kita telah berhasil mengakhiri Khilafah, maka kita harus memastikan bahwa persatuan bagi kaum Muslimin tidak akan pernah bangkit lagi, apakah itu persatuan intelektual maupun budaya.”

Sejak menghancurkan Negara Islam, para kolonialis telah berjuang dalam rangka memasang halangan-halangan di jalan menuju penegakan-kembali Negara Islam. Mereka telah mengkonsentrasikan upayanya untuk menghambat perwujudannya kembali setelah dihapuskan dari muka bumi. Mereka memasang sejumlah halangan di jalan pendirian-kembali Khilafah seperti:
1.            Penyebaran konsep-konsep non-Islami di dunia Islam semacam patriotisme, nasionalisme, sosialisme dan sekularisme; dan para kolonialis mendorong gerakan-gerakan politik berdasarkan ide-ide itu.
2.            Kehadiran kurikulum pendidikan yang dirancang oleh para kekuatan kolonial, yang terus saja terap selama 80 tahun, dan telah membuat mayoritas pemuda lulusannya dan mereka yang ada di dalam institusi pendidikan berjalan ke arah yang bertentangan dengan Islam.
3.            Lahirnya pemerintahan-pemerintahan di negeri-negeri Muslim yang berasas sekular, menerapkan ideologi Kapitalis dan sistem demokrasi atas masyarakat, punya ikatan politik kuat dengan negara-negara Barat, dan didirikan atas nasionalisme.
4.            Pencekikan ekonomi atas dunia Muslim oleh para pemerintah dan perusahaan Barat sehingga masyarakat dipaksa fokus semata pada memberi makan dirinya sendiri dan keluarganya sementara tidak melihat peran sesungguhnya yang dimainkan para kolonialis.
5.            Pemecah-belahan Umat secara sengaja dengan mewariskan garis-garis batas dan wilayah sehingga kaum Muslimin akan selalu terjangkiti banyak masalah kecil.
6.            Penciptaan berbagai organisasi, semacam Liga Arab yang kemudian menjadi Organisation of Islamic Countries (OIC), yang melunturkan ikatan Islam dan melanggengkan keterpecah-belahan dunia Muslim, sementara terus menerus gagal memecahkan masalah atau kasus apapun.
7.            Penancapan negara asing, “Israel”, ke dalam jantung Muslim yang menjadi ujung tombak bagi serangan para kekuatan Barat melawan kaum Muslimin yang tak punya tameng, sementara terus melanggengkan mitos bahwa Muslim itu lemah.
8.            Kehadiran para penguasa tiran di negeri-negeri Muslim, yang loyalitasnya adalah untuk para tuan Barat mereka, dan yang menindas serta menyiksa Umat; mereka tidaklah termasuk golongan Umat dan mereka membenci Umat sebagaimana Umat membenci mereka.

Namun demikian, meski ada rintangan-rintangan, tipudaya dan rencana para kolonialis itu, tegaknya-kembali Khilafah, sekali lagi adalah sebuah realitas bagi dunia Muslim. Kita harus mengambil kesempatan ini, di saat berulangnya tahun setelah Khilafah diruntuhkan, untuk memikirkan situasi kaum Muslimin saat ini dan memastikan bahwa hanya dengan berusaha mengembalikan Khilafah (yang akan mengakhiri sistem bukan-Islam dan menegakkan seluruh sistem Islam) kita bisa sungguh-sungguh meraih kesuksesan di dunia dan di akhirat.

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih di antara kalian, bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia benar-benar akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka; dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa...” (TQS. an-Nur [24]: 55)

Wahai Putra-Putra Umat Muslim yang Mukhlis,

yang sedang di dalam barak-barak militer, saudara dan saudarimu di Kashmir, Palestina, Suriah, Somalia, dll sedang menyerumu untuk memberikan Nushrah (dukungan kekuatan) kepada Hizbut Tahrir untuk mendirikan Khilafah yang akan membebaskan mereka dari penindasan, dan dengannya menyatukan Umat, militer dan wilayahnya dan mulai mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.
Tidakkah kamu ingin dicatat sebagaimana Saad bin Muadz (ra.) yang ketika meninggal Arsy-nya Allah (Swt.) bergetar dan untuknya pintu-pintu Surga dibuka dan yang pemakamannya disaksikan para malaikat yang belum pernah turun ke bumi sebelumnya dan mereka saling berebut tempat untuk menyaksikan pemakamannya dan untuk mengusung kerandanya sebagai penghormatan dan pemuliaan atasnya?
Atau kamu memilih untuk digunakan sebagai pion-pion dalam perang proxy yang hasil akhirnya adalah kehinaan di Bumi dan Jahannam di Akhirat? 
Fajar masih terus hadir, setelah 97 tahun, Allah (Swt.) telah memberimu kesempatan untuk dicatat dalam sejarah sebagaimana Khalid bin Walid (ra.). Lepaskanlah dirimu sendiri dari ketundukan pada para penguasa antek dan ambillah seruan Allah (Swt.) dan Rasul-Nya (Saw.).

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (menolong) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zhalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!” (TQS. an-Nisaa’: 75)

“…Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (TQS. at-Taubah: 13)

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu…” (TQS. al-Anfal: 24)

Bacaan:


Jumat, 13 April 2018

Kafir Penjajah Bicara Soal Dampak Runtuhnya Khilafah



​“The Ottoman Empire lay at our feet dismembered and impotent, its capital and Caliph at the mercy of our guns.” [Harold Nicolson]

“Imperium Ottoman tergeletak di kaki kita, terpecah-belah dan impoten, ibukota dan Khalifahnya ada di bawah ampunan senapan-senapan kita.” (Harold Nicolson, ‘Curzon The Last Phase A Study In Post War Diplomacy 1919-1925,’ hal.3)

28 Rajab 1439 H menandai berulangnya tanggal sejak tahun penghapusan Khilafah di Turki secara resmi pada 1342 H/1924 M. Besarnya peristiwa ini dan dampaknya yang tampak dari berbagai masalah yang dihadapi dunia Muslim hari ini sangatlah signifikan. Setelah 97 tahun tanpa kekuasaan sentral Islam untuk menerapkan, melindungi dan mendakwahkan Islam maka adalah penting untuk mengingat kembali dampak dari runtuhnya Khilafah.

Harold Nicolson dalam bukunya yaitu biografi tentang Lord Curzon, Sekretaris Luar Negeri Inggris yang menyaksikan penghancuran Khilafah setelah penandatanganan perjanjian Lausanne, merangkum situasi yang terjadi di Turki pasca Khilafah runtuh.

“Hasil-hasil aktual dari setujunya Turki pada kepentingan Kekuatan-Kekuatan Sentral bisa dirangkum sebagai berikut.
·  Dia dipaksa melepaskan klaimnya atas Mesir, Tripoli, Barca, the Dodecanase, kepulauan Aegean, dan Siprus.
·  Dia kehilangan Suriah, Lebanon, Palestina, dan apa yang sekarang dikenal sebagai Transjordania.
·  Dia kehilangan peran sebagai penjaga Tempat-Tempat Suci dan kehilangan kedudukan terhormat yang didapat dari melakukannya di seantero dunia Islam.
·  Propinsi Hijaz dan Yaman direnggut dari genggamannya.
·  Mesopotamia, dengan potensi sumberdaya yang sangat besar, mendeklarasikan kemerdekaan dirinya sendiri.
·  Pada 1912 Imperium Ottoman telah, setidaknya secara teori, menaungi 1.500.000 mi² (square miles), dan Sultan bisa mengklaim kekuasaannya atas 36.000.000 orang. Hasil dari Perang-Perang Balkan dan Perang Eropa, Negara Turki saat ini hanya meliputi 445.609 mi² dengan populasi hanya 13.648.270.
·  Turki memasuki perang itu sebagai Imperium Ottoman yang masih kuat: (setelahnya) dia muncul dari keadaan itu sebagai Republik Asiatik, hanya sedikit lebih besar dari Hyderabad. Demikian itulah besaran penentangannya yang sukses terhadap Kekuatan Sekutu.” (Harold Nicolson, ‘Curzon The Last Phase A Study In Post War Diplomacy 1919-1925,’ hal.64)

Lord Curzon, juga menyebutkan hal yang mirip di House of Lords (Parlemen Inggris) pada 28 Pebruari 1924 dalam Pembacaan Kedua Rancangan Perjanjian Perdamaian (Turki):

“Tapi juga sebagai hasil dari Perjanjian itu kita beralih dari Negara Turki, dan merekonstruksi, area-area di Asia Minor (Asia Kecil), di Suriah, di Palestina, dan di Mesopotamia, karena sebagian besarnya dihuni orang Arab, yang selama berabad-abad Turki telah menunjukkan ketidakmampuannya memerintah mereka, dan yang sekarang, sedang terbebas dari ketundukan terhadapnya, sedang menuju, dalam derajat yang beragam, untuk membentuk kehidupan nasional sendiri. Itu, tentu saja, adalah harga yang Turki harus bayar karena kesalahan besarnya masuk dalam perang melawan Sekutu.”

Inggris memainkan peran utama dalam penghancuran Khilafah di Turki. Pernyataan-pernyataan sekretaris luar negerinya, Lord Curzon, jelas menunjukkan kebenciannya terhadap Turki dan Khilafah.

Pada 19 Mei 1919, dalam catatan Kabinet Perang rahasia: “Lord Curzon mengatakan bahwa dia tidak punya keinginan apapun untuk bersikap ramah dalam menghadapi orang-orang Turki. Orang-orang Turki telah secara sukarela membantu Jerman; mereka telah memperlakukan tawanan kita dengan sikap barbar yang belum pernah dilakukan sebelumnya; mereka telah membantai ratusan ribu rakyatnya sendiri. Oleh karena itu, mereka berhak mendapatkan nasib apapun yang ditimpakan atas mereka.”

Nicolson mengutip Curzon: Selama hampir lima abad -dia (Curzon) menulis-, “kehadiran orang-orang Turki di Eropa telah menjadi sumber gangguan, intrik dan kerusakan di politik Eropa; dari penindasan dan pemerintahan-keliru hingga Subject Nationalities (bangsa-bangsa tertindas); dan sebuah insentif bagi ambisi-ambisi di dunia Muslim yang tidak dibenarkan dan keterlaluan. Itu telah mendorong orang-orang Turki untuk menganggap dirinya sendiri sebagai Adidaya, dan telah memungkinkan dirinya untuk menimpakan atas orang lain ilusi yang sama. Itu telah menempatkan dirinya pada posisi untuk memainkan satu Kekuatan atas yang lain, dan dalam kecemburuan mereka dan intrik tipudayanya sendiri untuk menemukan alasan bagi kekebalannya yang berkelanjutan.” (Harold Nicolson, ‘Curzon The Last Phase A Study In Post War Diplomacy 1919-1925,’ hal.76)

Penghapusan Khilafah dan penegakannya-kembali telah dikabarkan oleh Nabi Muhammad Saw., jadi, tidak peduli seberapa banyaknya makar dan rencana para kekuatan kolonial Barat, mereka tidak bisa mencegah kembalinya Khilafah.

Nabi Muhammad Saw. bersabda:

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

“Di tengah-tengah kalian ada zaman Kenabian. Atas kehendak Allah zaman itu akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkat zaman itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj Kenabian. Khilafah itu akan tetap ada sesuai kehendak Allah. Lalu Dia akan mengangkat Khilafah itu jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang menggigit. Kekuasaan ini akan tetap ada sesuai kehendak Allah. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (pemerintahan) diktator yang menyengsarakan. Kekuasaan diktator itu akan tetap ada sesuai kehendak Allah. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan muncul kembali Khilafah yang mengikuti manhaj Kenabian.” (Hudzaifah berkata): Kemudian beliau diam.” (HR. Ahmad)


Sabtu, 07 April 2018

Kebijakan Jual Aset-Aset Negara Jajahan



Jual Negara, Satu-Satunya Kebijakan Pemerintah Tunisia

Hari demi hari, menjadi semakin jelas bagi tiap pengamat urusan publik bahwa kebijakan satu-satunya yang diinginkan negara, yang disiapkan untuk menangani krisis ekonomi dan keuangan adalah menjual aset negara kepada para perusahaan kolonial atas nama “reformasi institusi-institusi publik”. Alasan mereka melakukan itu adalah bahwa institusi-institusi itu telah gagal sehingga menjadi beban bagi anggaran dan harus disingkirkan!

Pemerintah (melalui media dan situs-situs web) mulai mengkampanyekan penjualan ini sebagai satu-satunya solusi. Kepala pemerintahan, Youssef Chahed, mengakui di hadapan Parlemen soal gagalnya pemerintah untuk keluar dari krisis ekonomi dan keuangan, tapi dia mengklaim bahwa kegagalan itu terjadi karena penghentian “reformasi besar” yang disetujui oleh Dewan Kementerian. Dia mengumumkan bahwa dia dan pemerintahannya bertekad untuk melanjutkan “reformasi besar” itu dengan berapapun harga politik yang harus dia bayar.
Pidato pemerintah itu dan kebijakan medianya muncul dalam rangka menyiapkan opini publik untuk memaklumi penerapan syarat-syarat dari International Monetary Fund (IMF) tentang pelepasan institusi-institusi publik, yang mana pemerintah sudah setujui demi mendapatkan utang. Itu adalah solusi-solusi yang ditawarkan oleh para ahli perbankan internasional yang telah ditunjuk sebagai para penasihat dan menteri dalam pemerintahan saat ini untuk menangani krisis keuangan di Tunisia.

Krisis ekonomi dan keuangan yang terus menghimpit, biaya hidup tinggi yang mengeringkan masyarakat di Tunisia, jatuhnya nilai dinar, dan penyempitan pekerjaan masyarakat dengan pajak haram, dan seterusnya, semua adalah buah pahit dari puluhan tahun penerapan sistem kapitalis dan pola pikir dalam sistem ini yang tak berdaya mengatasi masalah masyarakat, dan gagal menyediakan kesejahteraan yang layak bagi mereka.
Malah, buah pahit itu adalah hasil yang pasti didapat dari kepatuhan total terhadap resep maut IMF: pencabutan subsidi – pengurangan belanja pemerintah untuk kesehatan, pendidikan, air, dan kepentingan masyarakat lainnya – privatisasi institusi-institusi negara, khususnya yang menguntungkan, untuk memungkinkan para perusahaan kapitalis menggarong kekayaan negeri. Tujuan dari resep IMF itu adalah untuk memastikan negara mampu membayar utang riba; instrumen untuk memperbudak dalam jangka panjang!

Wahai kaum Muslimin!
Sebuah rezim yang didirikan oleh kolonialisme hanya akan menjadi jongosnya penjajah, menjadi penjaga perusahaan-perusahaan yang menggarong kekayaanmu, dan melawan siapapun yang ingin melepaskan negeri itu dari penjajahan gaya baru, dan melawan siapapun yang berusaha menguak konvensi “kemerdekaan palsu”. Rezim semacam itu tidak akan ragu untuk menjual aset masyarakat (sebagaimana dia telah memboroskan kekayaan perut bumi di masa lalu), dan dia tidak akan berpikir dua kali untuk berbohong dan mengesankan bahwa penjualan itu adalah keputusan mandiri tanpa campur tangan asing.

Sebuah rezim yang tidak mampu menjalankan perusahaannya, mereformasi situasi keuangannya dan melawan korupsi, tidaklah mampu memerintah sebuah negara tanpa menenggelamkannya ke dalam hutang dan kebangkrutan.

Wahai kaum Muslimin,
Hari ini, kita merindukan sebuah negara yang peduli dengan kita dan menangani dengan baik urusan-urusan kita, dan bahwa tugas wajib masa sekarang ini adalah menciptakan negara sejati, yang bebas dari semua jenis ikatan kolonial; sebuah negara yang membela Umat dalam keputusan-keputusannya, dan mengadopsi sistem politik dan ekonomi dari ajaran-ajaran Islam.

Dan ketahuilah bahwa tugas ini adalah fardhu yang ditujukan bagi semua Muslim, khususnya mereka yang berkemampuan dari kalangan berkekuatan dan berpengaruh sehingga tidak menyia-nyiakan Umat sekarang ini dan tidak menyia-nyiakan generasi masa depan di tangan para pecundang dan antek.

Kantor Media Hizb ut Tahrir di Wilayah Tunisia
Jum’at, 12 Rajab 1439 H
30 Maret 2018


Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam