Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Jumat, 02 Juli 2010

Kehidupan Keluarga dalam Islam – Rumah Tangga Islam

Kehidupan Keluarga dalam Islam – Rumah Tangga Islam


[ Solusi Islam Mengatur Keluarga – Pandangan Islam Terhadap Keluarga ]


Di dalam Islam, perkara-perkara seperti “pernikahan kuat”, “kehidupan-sebagai-ibu”, “kehidupan-sebagai-ayah”, “hak-hak dan kewajiban para orangtua, “hak-hak dan kewajiban anak-anak”, “menjaga hubungan dengan keluarga besar (silat-ur-Rahm)" dan “unit keluarga kuat”, memiliki status yang tinggi di dalam komunitas dan masyarakat. Islam oleh karenanya tidak percaya dengan kebebasan personal atau seksual – kebebasan orang untuk punya hubungan apapun yang mereka inginkan, kebebasan untuk melakukan zina dan mengkhianati suami/istri dan keluarga sendiri, kebebasan untuk menjadi bapak dari seorang anak tapi tidak menanggung tanggung jawab fisik, emosi atau keuangan terhadap mereka atau ibu mereka.


Sebaliknya, Islam percaya pada membangun pola pikir akuntabilitas terhadap Sang Pencipta yang memupuk nilai-nilai seperti kesucian, loyalitas dalam pernikahan, dan rasa tanggung jawab terhadap satu sama lain dan terhadap tindakan-tindakannya. Selain itu, hukum-hukum sosial yang ketat – seperti ketentuan pakaian untuk laki-laki dan wanita, pemisahan jenis kelamin, larangan pria dan wanita berduaan sendiri (khalwat), dan hukuman-hukuman keras bagi perzinahan yang dilakukan oleh yang sudah menikah maupun belum. Semuanya bertujuan memastikan bahwa hubungan seksual adalah terbatas pada pernikahan dan bahwa setiap anak yang dilahirkan sebagai hasil dari perkawinan adalah terbatas sebagai hasil dari pernikahan, diketahui siapa yang bertanggung jawab atas kesejahteraan finansialnya, fisiknya dan emosionalnya. Nilai-nilai dan hukum-hukum itu menciptakan rasa saling percaya antara pria dan wanita dalam pernikahan, ketika mencari pasangan untuk menikah dan di dalam masyarakat secara umum.


Islam tidak hanya mendorong pernikahan, mengkaitkan itu dengan menyempurnakan separuh dari agama (deen) seseorang tapi juga mendorong suami dan istri untuk secara konsisten mencari ketenangan di dalam pernikahan untuk menjaga persatuan itu kuat.


Nabi Saw. bersabda, “Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang mampu untuk menikah, menikahlah, karena menikah itu dapat menundukkan mata dan menjaga kehormatan. Siapa saja yang belum mampu, hendaklah dia berpuasa, sebab puasa dapat menjadi perisai baginya.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)


Beliau Saw. juga bersabda, “Ketika seorang lelaki menikah, dia mendapatkan separuh agamanya. Maka dia harus takut pada Allah dalam separuh yang lain.” (Hadits Riwayat al-Baihaqi)


Allah Swt. berfirman dalam Surat ar-Rum:


"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." [Terjemah Makna Qur'an Surat (30) ar-Rum: 21]


Meski Islam memperbolehkan perceraian, kaum Muslimin harus paham bahwa itu adalah tindakan yang dibolehkan yang paling dibenci oleh Sang Pencipta sehingga harus dihindari sebisa mungkin dan arbitrase digunakan untuk menyembuhkan hubungan keluarga. Faktanya, di dalam satu hadits disebutkan bahwa Arsy (Throne) Allah Swt. bergetar ketika mendengar perceraian laki-laki dan wanita beriman.


Mengenai individualisme, Islam mengutuknya. Islam bertujuan membangun mentalitas tanggung jawab antara satu sama lain. Oleh karenanya, sang suami ditetapkan akuntabel pada Sang Pencipta untuk memenuhi hak-hak istrinya. Si istri ditetapkan akuntabel pada Sang Pencipta untuk memenuhi hak-hak suaminya. Para orangtua ditetapkan akuntabel pada Sang Pencipta untuk memenuhi tanggung jawab mereka terhadap anak-anak mereka dengan memastikan kesejahteraan finansial dan fisik mereka juga kepribadian Islam kuat mereka.


Nabi Saw. bersabda, “Berhati-hatilah, Setiap diri kalian adalah pemimpin dan masing-masing kalian akan dimintai tanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta tanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki (suami) adalah pemimpin keluarganya dan akan diminta tanggung jawab atas mereka. Seorang wanita (istri) adalah penjaga (pengurus) rumah-tangga suaminya dan anak-anaknya dan akan diminta tanggung jawab atas mereka.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)


Selain itu, para individu adalah akuntabel pada Sang Pencipta untuk memenuhi kewajiban mereka terhadap orangtua mereka dengan merawat mereka secara finansial dan fisik di usia tua mereka.


Nabi Saw. bersabda, “Sungguh, di Hari Kebangkitan, Allah memiliki hamba-hamba yang kepada mereka Dia tidak akan bicara atau mensucikan atau melihat.” Beliau ditanya, “Siapakah mereka, ya Rasul?” Beliau menjawab, “Dia yang tidak mengakui dan mengabaikan orangtuanya, dia yang tidak mengakui anak-anaknya dan dia yang diberi amanah oleh rakyatnya tapi dia menyangkal amanah itu dan tidak mengakuinya.” (Hadits Riwayat Ahmad)


Allah Swt. berfirman, “


"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.'
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." [Terjemah Makna Qur'an Surat (17) al-Israa': 23-24]


Kaum Muslimin juga akuntabel pada Sang Pencipta untuk menjaga hubungan baik dengan para anggota keluarga besar dan memenuhi hak-hak mereka. Tidak dapat diterima perusakan hubungan-hubungan dengan mereka. Dalam Islam, seorang laki-laki mungkin bertanggung jawab atas pemeliharaan finansial saudara kandung perempuannya dan oleh karenanya harus mengetahui secara regular kesejahteraan mereka. Seorang wanita mungkin mendapat tanggung jawab pemeliharaan anak dari seorang saudara kandung dan oleh karenanya harus mengetahui secara regular kesejahteraan mereka.


Nabi Saw. bersabda, “Ikatan kekerabatan (rahm) ditahan dari arsy (throne) Allah, dan mengatakan, “Siapapun yang mendukungku, Allah akan mendukungnya dan siapa yang memutusku, Allah akan memutusnya. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)


Beliau juga bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kekerabatan.” (HR Muslim dan Abu Dawud)


Jabir (ra) meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda, “Jika seorang di antaramu miskin biarkan dia mulai dengan dirinya sendiri dan jika seorang di antaramu memiliki kelebihan (harta) biarkan dia membelanjakannya pada keluarganya, dan jika seorang di antaramu memiliki tambahan kelebihan biarkan dia membelanjakannya pada kerabat-kerabatnya (keluarga besar).”


Mengenai materialisme, Islam memahami bahwa penghasilan adalah penting untuk kebutuhan fisik individu dan oleh karenanya mendorong kehidupan ekonomi yang sehat bagi masyarakat. Namun, itu juga berdasarkan kepercayaan bahwa meskipun uang adalah mata uang di kehidupan ini, tindakan memenuhi amal baik yang diperintahkan oleh Allah Swt. adalah mata uang di Akhirat. Memiliki banyak anak, memelihara kesejahteraan mereka, dan memberi mereka pendidikan Islam yang bagus untuk membuat mereka menjadi Muslim yang baik dan seorang anggota Islam yang menjadi sumber kebaikan bagi komunitas dan Islam, hanyalah satu dari aksi-aksi yang diberi bobot yang berat sebagai mata uang di Akhirat.


Nabi Saw. pernah bersabda, “Menikahlah dengan (wanita) penyayang dan subur, karena aku akan bangga di antara para Nabi dalam jumlah kalian yang besar di Hari Pembalasan.”


Abu Sa'id al-Khudri menceritakan bahwa Nabi Saw. bersabda, “Jika seseorang mengasuh tiga anak perempuannya, mendidik mereka, menikahkan mereka, dan berbuat baik kepada mereka, dia akan masuk ke Surga.” (Hadits Riwayat Abu Dawud)


Beliau Saw. berkata, “Seorang laki-laki (manusia) akan dinaikkan beberapa derajat di Surga dan dia akan bertanya, “Karena apa aku mendapatkan ini?' Dia akan diberitahu, 'Karena anak laki-lakimu (anakmu) memintakan ampunan untukmu.'” (Hadits Riwayat Bukhari)


Berkebalikan dengan ideologi kapitalis, prinsip sistem Islam tidaklah berdasarkan atas mengamankan “kapital” di atas segalanya melainkan memahami bahwa masyarakat harus diatur dalam rangka memenuhi semua aspek kehidupan manusia secara efektif. Oleh karena itu Islam tidak berusaha memaksimalkan kehidupan ekonomi di atas kehidupan keluarga melainkan memahami bahwa keduanya dibutuhkan untuk masyarakat yang sehat.


Tidak juga di dalam Islam ada peran-peran pria dan wanita dalam kehidupan masyarakat dan keluarga didefinisikan menurut konsep “Kesetaraan Jender”, di mana peran mencari penghasilan lebih dihargai di atas peran sebagai ibu dan pengurus rumah-tangga. Di dalam kehidupan keluarga Islam mendefinisikan tanggung jawab laki-laki sebagai penanggung nafkah dan si wanita sebagai pengurus rumah-tangga dan pendidik anak-anak. Peran yang satu tidak di atas peran yang lain tapi keduanya adalah esensial bagi organisasi efektif dan berfungsinya kehidupan keluarga dan kemajuan masyarakat keseluruhan.


Allah Swt. berfirman:


"Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan..." [Terjemah Makna Qur'an Surat (4) an-Nisa: 32]


Dalam hal ini, wanita sebagai istri dan ibu dibolehkan untuk bekerja tapi harus tidak ada tekanan masyarakat ataupun finansial atas dirinya dalam hal itu jika dia memilih untuk tidak melakukannya karena wanita tidak bisa mengkompromikan peran vitalnya sebagai seorang istri dan ibu, merawat anak-anak dan keluarganya dan memajukan pemikiran dan perkembangan generas-generasi berikutnya. Kapanpun, kewajiban pemeliharaan finansial wanita jatuh pertamanya pada para anggota keluarganya yang laki-laki dan keduanya jatuh pada negara jika tidak ada yang mampu menyediakan dukungan yang memadai baginya. Wanita tidak harus menyandang identitas wanita-super – superwoman yang menderitakan, berjuang untuk melakukan karir sukses dan kehidupan rumah-tangga sukses sekaligus, karena nilai wanita atas masyarakat adalah berdasarkan ketaatannya pada Sang Pencipta dan bukan atas pajak yang dia kontribusikan pada perekonomian.


Sungguh, berkebalikan dengan masyarakat kapitalis, di mana kehidupan-sebagai-ibu telah jatuh nilainya, di mana banyak ibu rumah-tangga merasa kurang dihargai dalam masyarakat dan banyak ibu yang bekerja menghadapi diskriminasi karena punya anak, Islam bertujuan membangun pola pikir di dalam kehidupan publik, tempat kerja dan masyarakat secara keseluruhan agungnya status kehidupan-sebagai-ibu dalam kehidupan.


“Surga berada di bawah telapak kaki ibu” adalah perkataan Rasul Saw. yang terkenal. Seorang laki-laki di masa Nabi Saw. datang kepada beliau dan berkata, “Aku membawa ibuku seorang diri mengelilingi Ka'bah 7 kali, apakah ini membayar kebaikan yang dia tunjukkan padaku sebagai anak-anak?” Nabi Saw. menjawab “Itu tidak membayar satu kontraksi rahim”. Diriwayatkan bahwa pada satu ketika seorang wanita yang disebut Salamah berkata pada Nabi Saw., “Wahai Rasulullah, anda membawa berita baik ini kepada para laki-laki tapi tidak kepada para wanita.” Beliau bersabda, “Apakah teman-teman wanitamu menyuruhmu menanyaiku pertanyaan ini?” Dia mengatakan, “Ya, mereka melakukannya.” Beliau Saw. berkata, “Apakah tidak menggembirakan seorang darimu bahwa jika dia hamil dari suaminya dan dia (suaminya) puas dengannya bahwa dia akan mendapat pahala orang yang berpuasa dan beribadah karena Allah? (Hadits Riwayat Tabrani).


Seorang penyair pernah mengatakan, “Ibu adalah madrasah: jika kamu menyiapkannya dengan baik, kamu mempersiapkan seluruh rakyat berkarakter baik; ibu adalah pendidik yang pertama, yang terdepan dari mereka, dan yang terbaik di antara guru-guru.” Ini adalah pemahaman yang dimiliki Islam – bahwa ibu berada di jantung keluarga dan oleh karenanya adalah krusial bagi masyarakat. Salah satu dampak dari pandangan ini adalah bahkan di tempat kerja, pemahaman, nilai dan fleksibilitas bagi tanggung jawab keluarga harus menjadi apresiasi umum di antara para pemberi kerja.


[ Kesimpulan ]


Dalam dunia hari ini, Islam dan Syariah sedang mengalami serangan konstan, dideskripsikan sebagai tidak beradab, barbar, terbelakang dan berbahaya oleh pemerintah-pemerintah dan media Barat tertentu. Ini mengabaikan fakta bahwa di dalam berbagai masyarakat sekular, struktur sosial dan moral kehidupan keluarga mereka runtuh di hadapan mata mereka menurut pengakuan mereka sendiri karena bahaya dan kekacauan yang diciptakan oleh nilai-nilai liberal, kapitalis dan sekular. Nilai-nilai itu telah dan terus diekspor ke tanah-tanah Muslim, menyebabkan “Kehancuran” juga di kehidupan keluarga dan masyarakat Muslim.


Tetapi Islam, telah menyediakan untuk kita serangkaian prinsip dan nilai indah untuk membuat struktur keluarga dan sosial kita kuat yang harus kita peluk dan membentuk kehidupan kita di atasnya. Namun, kita kekurangan sistem Khilafah Islam untuk mengairi tanah kita dengan nilai-nilai itu, untuk membangun dan melindungi pola pikir ini di antara Umat Muslim. Maka bekerja untuk mendirikan negara Islam ini mengharuskan kita memberikan perhatian penting dan waktu. Selain itu, Allah Swt. telah menyediakan untuk kita, sebagai Muslim, kesempatan besar untuk mengemban dakwah kepada non-Muslim di sekitar kita dengan menjelaskan indahnya Islam dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia termasuk perkara kehancuran keluarga yang sayang sekali sedang mewabahi banyak sekali masyarakat seantero dunia hari ini.


"... barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." [Terjemah Makna Qur'an Surat (20) Thaha: 123-124]


[ Mengatur Keluarga Menurut Islam – Syariat Islam dalam Kehidupan Keluarga ]


Kehancuran Keluarga Masyarakat Sekular : artikel 1 artikel 2 artikel 3


Issues Explained
Thursday, 10 April 2008
Hizb ut-Tahrir Britain
Syariah dan Khilafah


Kehancuran keluarga di dunia membuktikan bahwa trinitas sistem kafir sekularisme, liberalisme, demokrasi adalah rusak, gagal, buruk sejak lahirnya dan itulah sifat dasarnya. Dan memang semua sistem buatan manusia itu adalah HARAM. Dan juga disebarkan oleh para kafir imperialis Barat untuk menghancurkan kaum Muslimin di atas tanah Islam kita yang kaya demi keuntungan dunia agama Kapitalisme.


Ya Allah, Lindungilah umat Islam ini dari paham-paham kafir – jalan hidup kafir. Dan jadikanlah Islam menyelamatkan umat manusia sekali lagi melalui tangan-tangan kami. Aamiin.

Kamis, 01 Juli 2010

Presiden Pakistan Pervez Musharraf – Penguasa Pakistan Pervez Musharraf

Presiden Pakistan Pervez Musharraf – Penguasa Pakistan Pervez Musharraf


Para orang dalam di ketentaraan menjelaskan bahwa rencana-rencana sudah disiapkan bagi Musharraf untuk penggulingan kekuasaan dan baru-baru ini Jenderal Hamid Gul, mantan kepala intelijen Pakistan, membeberkan dukungan Amerika Serikat untuk mengambil-alih kekuasaan. Situasi Drama Kargil menjadi landasan kudeta oleh Musharraf.


Memang, dukungan sebanyaknya Pakistan untuk Perang Melawan Teror oleh Amerika mungkin adalah peninggalan yang awet era Musharraf. Musharraf menjelaskan dukungan yang diberikan Pakistan itu tentang munculnya Taliban adalah bahwa itu adalah yang paling lumayan di antara dua keburukan, Musharraf selalu mendeskripsikan Taliban sebagai 'mereka' bukannya 'kita' meski dekatnya hubungan antara Taliban dan Islamabad. Dia membanggakan fakta bahwa tentaranya menangkap lebih dari 672 'teroris' dan menyerahkan lebih dari separuhnya pada Amerika Serikat. Lagi-lagi terdapat sejumlah ketidak-konsistenan dengan narasinya mengenai Perang terhadap Teror. Adalah Musharraf yang memberikan dukungan sebanyaknya pada Amerika Serikat bahkan sebelum diperintah dan dia tidak perlu diyakinkan.


Musharraf mengecam rezim Nawaz Sharif yang mengikuti dikte Amerika terhadap intrik Kargil, namun bergandengan dengan serangan Amerika terhadap Afghanistan setelah pemerintah AS mengancam akan “mengebom Pakistan ke zaman batu”, dia telah melakukan hal yang sama persis. Selain itu, posisi strategis dan geopolitik Pakistan saat ini yang disebabkan oleh berbagai kebijakannya belum pernah sedemikian kritis. Dukungan membabi buta pada AS telah mengakibatkan kerugian milyaran dollar pada perekonomian melalui perang di Afghanistan; pengerahan tentara Pakistan untuk memerangi sesama Muslim di area suku-suku yang belum pernah dilakukan sebelumnya, menguatnya pengaruh India di Afghanistan dan hilangnya otonomi dengan dibangunnya basis pasukan Amerika Serikat dan FBI di dalam wilayah Pakistan. Aksi-aksinya dalam hal dukungannya pada perang terhadap teror tidak bisa membalik istilah umum 'Busharraf' untuk mendeskripsikan kesamaan poros kedua penguasa itu. Dia jelas-jelas tidak mengikuti kebijakan mendahulukan Pakistan. Tindakan-tindakannya sekarang jelas untuk dilihat semua orang.


Musharraf hanya punya sangat sedikit dukungan di dalam negeri dan di luar negeri dan banyak orang mempertanyakan Pakistan dalam hal komitmen mereka terhadap teror global.


Bahkan hingga akhir, dia terus saja hidup di dalam dunia fantasi percaya bahwa dia akan menempatkan dirinya di dalam sejarah. Mungkin dia memang akan mencapai itu tapi untuk alasan-alasan yang paling salah.


Apakah Musharraf adalah seorang bonekanya Amerika yang tidak punya harga diri atau dia seorang pecandu fantasi, membodohi dirinya sendiri dalam kepercayaan bahwa dia benar-benar melakukan berbagai aksinya demi kepentingan-kepentingan utama Pakistan. Ini akan terlalu baik untuk dia – sejarah akan melihat dia sebagai seorang pengkhianat seperti yang lain-lain bagi rakyat Pakistan dan perjuangan sah mereka. Ini adalah waktunya kita punya pemimpin di dunia Muslim yang akan mengedepankan kaum Muslimin – bukannya berbagai kepentingan kekuatan-kekuatan asing.


Abdullah Bhai: Jenderal George BushArrafOni Blair (Poros Kejahatan). Musharraf adalah Pengkhianat Terbesar di Bumi. Dia adalah ancaman terbesar terhadap kepentingan-kepentingan kaum Muslimin dan Islam. Jika dia populer di jalanan Pakistan lalu Mengapa kemarin 17 Februari 2007 dia mengunjungi Faisalabad dengan kehadiran Para penjaga keamanan Khusus 5000.


sabu: Musharraf dan Dr. Yunus adalah agen-agen Amerika. Musharraf mendukung Amerika hanya untuk mempertahankan kekuasaan dan mendapat keuntungan. Dia bekerja melawan kaum Muslimin untuk memuaskan AS. Dia adalah bonekanya Bush seperti Dr. Yunus di Bangladesh.


Al-mamun: Raisul munafikin abdullah inben ubaey. Ide mengelola dunia dengan demokrasi jelas adalah kemunafikan. Dan oleh karenanya para penguasa di dunia adalah yang paling buruk. Musharraf,,,,,, agennya Barat dan saudaranya Bush itu cukup membantu kaum Muslimin menyadari seperti apa para penguasa yang kita miliki dan seperti apa seharusnya pemimpin yang kita butuhkan.


Abu Bakr: Para penguasa memimpin untuk menghancurkan Islam dan Muslim.
Islam dan Muslim dilukai dengan parah oleh beberapa penguasa negeri-negeri Muslim.
Musharraf adalah salah satu penguasa jenis itu yang membantu musuh Islam dan musuh Muslim untuk
Menghancurkan praktek-praktek Islam dan untuk membunuh kaum Muslimin tak berdosa.
Meskipun mereka Muslim, mereka bekerja untuk keuntungan Kuffar. Jadi kita harus lebih waspada terhadap mereka.


Kashif Amin: Saudara dan Saudari untuk Dijual. Terdapat banyak hal yang bisa didiskusikan panjang lebar tentang penguasa 'demokratis' sekarang ini di Pakistan. Ide bahwa orang menyebut diri mereka sendiri 'Muslim' dan mendukung pemerintahan sekular, adalah sangat bertentangan sejak awal.


Harus diungkapkan, bahwa bersekutunya dia untuk menjual rakyatnya sendiri (beberapa hanya demi sekecil $5000) ke dalam genggaman otoritas AS, banyak dari mereka yang disiksa, dilecehkan dan dipenjara tanpa pengadilan, adalah suatu penghinaan pada seluruh Ummah.


Kita harus mempertanyakan di dalam dinginnya sinar siang hari, komitmennya kepada Ummat, jika dia dipersiapkan untuk menyerahkan saudara dan saudarinya sendiri kepada musuh ganas demi harga yang sedikit di dunia.


Said: Allahu Akbar
Assalyamu aleykum wa rahmatullahi wa barakatuhu saudara-saudariku tercinta!
Insya Allah, datang waktunya...
Allahu Akbar!
Said dari Ukraine


Arslan shabbir abbasi: .
Usaha Musharraf memoderatkan Islam tampak hancur .........' DAN MEREKA TIDAK AKAN PERNAH BERHASIL'


Abbed: ...
Kita tidak perlu membicarakan tentang orang seperti apa dia itu .... lihat saja dia ketika dia bicara.
Semoga Allah Insyaallah Memberi kita Khilafah SEGERA


Umar Vitalli: Sekularisme berkontradiksi dengan Islam. Jika kamu memahami mengapa para pejabat agama dan intelektual Eropa memutuskan untuk memisahkan Agama dari kehidupan, itu adalah karena Kristen tidak punya solusi untuk semua urusan kehidupan dan itu digunakan untuk mengeksploitasi rakyatnya. Jadi berdasarkan ini, seorang Muslim yang menyerukan Sekularisme adalah nyata-nyata mengatakan bahwa Islam tidak menyediakan solusi-solusi untuk setiap permasalahan di dunia.


annonymous: ...
Seorang yang nyata murtad dari Islam, memerintah dengan sesuatu selain dari apa yang diwahyukan Allah, di garda depan perang terhadap Islam dan kaum Muslim, dan menjilati sepatu dunia Barat pula.


[ Presiden Pakistan Pervez Musharraf – Penguasa Pakistan Pervez Musharraf – Bonekanya Amerika Serikat – Penguasa Pengkhianat Islam ]


Dipilih dari: Book review: 'In the Line of fire' a Memoir by Parvez Musharraf
Friday, 16 February 2007
Hizb ut-Tahrir Britain
Syariah dan Khilafah


Berkuasanya pengkhianat di Pakistan membuktikan bahwa trinitas sistem kafir sekularisme, liberalisme, demokrasi adalah rusak, gagal, buruk sejak lahirnya dan itulah sifat dasarnya. Dan memang semua sistem buatan manusia itu adalah HARAM. Dan juga digunakan oleh para kafir imperialis Barat untuk menghancurkan kaum Muslimin di atas tanah Islam kita yang kaya demi keuntungan dunia agama Kapitalisme.


Ya Allah, Lindungilah umat Islam ini dari paham-paham kafir – jalan hidup kafir. Dan jadikanlah Islam menyelamatkan umat manusia sekali lagi melalui tangan-tangan kami. Aamiin.

Selasa, 29 Juni 2010

Penyebab Kehancuran Keluarga Masyarakat Sekular – Sebab Keruntuhan Kehidupan Keluarga Sekuler

Penyebab Kehancuran Keluarga Masyarakat Sekular – Sebab Keruntuhan Kehidupan Keluarga Sekuler


[ Penyebab Kehancuran Keluarga dan Kehidupan Masyarakat Sekular ]


Respon berbagai pemerintah Barat terhadap masalah parah “Kehancuran Keluarga” ini umumnya berdasarkan finansial – insentif pajak untuk mendorong pernikahan dan para pasangan untuk hidup bersama, perawatan anak yang terjangkau supaya para ibu-tanpa-suami bisa bekerja, bekerja dan pengurangan pajak anak bagi keluarga-keluarga miskin, dan bahkan membayar para pasangan agar mereka punya anak kedua atau ketiga seperti yang dilakukan di Perancis. Melempar uang pada berbagai masalah tampaknya menjadi reaksi refleks yang selalu berulang di banyak masyarakat kapitalis sekular dalam berusaha menyelesaikan berbagai masalah-berat masyarakat mereka.


Percaya bahwa sekedar menggunakan lebih banyak uang akan bisa memecahkan keadaan perkara parah keluarga sama saja dengan percaya bahwa segepok kertas dollar bisa menutup lubang kapal Titanic yang mulai tenggelam. Tentu saja para pemerintah Barat telah mencoba berbagai inisiatif lain dan memasyarakatkan pentingnya tanggung jawab keluarga. Itu termasuk kelas-kelas parenting atau denda bagi para orangtua abai, selain itu juga membuat hukum-hukum untuk menindak diskriminasi terkait-kehamilan di tempat kerja tapi aksi-aksi itu gagal memahami bahwa penyebab fundamental kehancuran keluarga ini adalah inti nilai-nilai sekular dan minimnya perhatian yang diberikan pada kehidupan keluarga di dalam masyarakat kapitalis.


Budaya “cinta-kebebasan” masyarakat liberal telah menyuburkan sikap hedonistik dan tak-peduli terhadap kehidupan karena didasarkan atas pemanjaan nafsu dan keinginan hewani dan individualistis bukannya menumbuhkan pola pikir tanggung jawab dan hormat terhadap orang lain. Ini telah menciptakan rasa alergi terhadap pernikahan di kepala banyak orang karena tingkat komitmen, kesetiaan dan tanggung jawab yang dibutuhkan – melihat pernikahan sebagai “mengekang kebebasan mereka” dan memilih “bebas dan bujang” dan untuk mendapatkan hubungan-hubungan seksual dengan “siapapun, kapanpun”.


Itu telah mengembang-biakkan budaya hewani serba-boleh yang menghasilkan tingkat yang semakin meninggi kehamilan remaja, aborsi, ibu tak bersuami dan perzinahan yang merupakan penyebab utama perceraian di Inggris. Itu telah menciptakan situasi di mana seorang pria punya banyak hubungan dengan banyak wanita, ayah dari anak dari berbagai ibu berbeda dan tidak mengambil tanggung-jawab fisik maupun emosional bagi anaknya ataupun si ibu selain cek di kotak pos sebulan sekali.


Situasi ini telah menciptakan krisis kepercayaan pada orang-orang yang mencari pasangan untuk menikah, tidak yakin apakah suatu hubungan yang didasarkan atas loyalitas, kesetiaan dan pemenuhan dan perhatian satu sama lain akan bisa bertahan dalam iklim masyarakat yang didasarkan atas norma perzinahan dan individualisme.


Pola pikir “kanker” individualistis “Saya, diriku, dan Aku” ini, yang terbiakkan di dalam masyarakat kapitalis yang mensakralkan perlindungan kepentingan-pribadi individu atas semua hal yang lain telah memangsa pondasi-pondasi struktur keluarga. Itu telah menyebabkan orang-orang untuk fokus pada apa yang terbaik bagi diri mereka sendiri bukannya apa yang terbaik untuk pasangan mereka atau pernikahan sehingga menghasilkan meningkatnya perceraian.


Itu telah menyebabkan para orangtua untuk mengabaikan anak-anak mereka sementara mengejar kepentingan-kepentingan pribadi mereka sendiri. Itu telah menyebabkan anak-anak mengabaikan orangtua mereka yang sudah renta, memandang mereka sebagai beban-beban atas waktu mereka dan keuangan pribadi mereka, menempatkan mereka di rumah supaya diurus orang lain. Perhatian individualistis terhadap keluarga sendiri dan pengabaian atau pembiaran anggota keluarga telah menyebabkan krisis sistem dukungan bagi keluarga besar yang menghadapi masalah-masalah fisik, finansial dan emosional, menyebabkan orang-orang menderita sendirian dalam kesunyian.


Selain itu, di dalam masyarakat sekular terjadi penurunan nilai keibuan – hidup-menjadi-ibu dan kehidupan keluarga dibandingkan dengan kehidupan ekonomi. Pertama, di tingkat historis, perjuangan Barat untuk kesetaraan jender dan peningkatan feminisme telah menempatkan kehidupan publik dan peran sebagai pekerja di atas kehidupan-sebagai-ibu dan peran asli wanita sebagai pengurus keluarga.


Banyak feminis beralasan bahwa kehormatan dan kebebasan perempuan tidak kompatibel dengan kebergantungan ekonomi pada suaminya, tidak juga pada tanggung jawab penuh domestik dan oleh karenanya ini bukan sekedar perkara wanita punya hak untuk bekerja tapi adalah perlunya untuk bekerja. Christabel Pankhurst, feminis radikal terkenal dan anggota gerakan feminis – suffragette di awal abad 20 berkomentar mengenai tanggung jawab kehidupan-rumah-tangga bahwa itu adalah beban yang tak bisa ditolerir atas seorang wanita menikah, buang-buang waktu dan energi perekonomian, dan adalah tidak dibayar dan tidak dihargai.


Hari ini, salah satu konsekuensi pandangan terhadap kehidupan-rumah-tangga dan konsep “Kesetaraan Jender” ini adalah penciptaan oleh masyarakat di mana wanita tidak sekedar punya hak untuk bekerja tapi juga diharapkan untuk bekerja bahkan jika para ibu-tanpa-suami punya tanggung jawab utama merawat dan mendidik anak-anak mereka. Konsep kesetaraan jender yang dalam teorinya adalah untuk memproduksi “para wanita yang punya segalanya” dalam kenyataannya memproduksi “para wanita yang melakukan segalanya” - yang terus menanggung tanggung jawab menjadi-ibu dan urusan rumah tangga dan sekarang juga berjuang dengan beban tambahan secara finansial untuk menghidupi keluarga.


Dengan kedua orangtua sebagai pekerja terjadi di banyak keluarga, terdapat perjuangan konstan untuk mendapatkan waktu bagi anak-anak mereka atau waktu untuk membuat pernikahan manjadi kuat. Dasar dari kesetaraan jender di mana orang melihat pada apa yang terbaik bagi wanita versus apa yang terbaik bagi pria bukannya apa yang terbaik bagi keluarga dan komunitas secara keseluruhan dapat mengabaikan apa yang terbaik bagi pernikahan yang kuat, bagi anak-anak dan masyarakat.


Selain itu, ide kesetaraan jender yang menggerus penghormatan atas perbedaan jenis kelamin di tempat kerja dan masyarakat, mengabaikan bukannya memfasilitasi perlindungan hak-hak spesifik berdasarkan perbedaan jenis kelamin seperti kehamilan atau hak-hak sebagai-ibu atau jam kerja fleksibel bagi para wanita itu yang memiliki anak-anak kecil dan membuka pintu kepada diskriminasi.


Kedua, sistem kapitalis, materialistis yang telah menempatkan pengejaran "£" or "$" sebagai tujuan ideologis yang paling utama, telah menempatkan keuntungan di atas rakyat dan keuangan di atas keluarga-keluarga. Itu telah berkonsentrasi secara konsisten atas mengamankan peti harta pemerintahan atau bisnis di atas mengamankan keluarga. Dorongan konstan profitabilitas ini telah menjatuhkan nilai hidup-sebagai-ibu dan kehidupan keluarga dan memaksa bahkan para ibu-tak-bersuami untuk bekerja, meninggalkan mereka dengan sedikit waktu untuk mendidik anak-anak mereka secara efektif.


Bahkan, sering ada insentif finansial bagi para ibu untuk kembali bekerja; sangat sedikit ada insentif bagi mereka untuk tinggal di rumah dalam rangka memastikan perkembangan efektif anak-anak mereka jika mereka merasa hal ini perlu, dan itu adalah diperlukan khususnya oleh kebanyakan para orangtua tak-bersuami /beristri. Penghargaan materialisme ini di atas hidup-sebagai-ibu telah menggiring kepada situasi di mana seorang wanita hamil atau wanita yang punya anak kecil seringkali dipandang sebagai beban bagi perusahaan bukannya sebagai satu aset bagi masyarakat.


Suatu survei 2005 terhadap 98 perusahaan oleh the Recruitment and Employment Confederation menemukan bahwa ¾ perusahaan memilih untuk melanggar hukum daripada memperkerjakan seorang wanita hamil atau seorang wanita usia mengasuh anak – suatu fakta yang sangat dikenal oleh banyak wanita yang memilih menunda punya anak atau tetap tak punya anak daripada menghadapi “penalti kesuburan” ini terhadap penghasilan atau karir mereka. Tampak bahwa menjadi “terikat ke tempat cucian piring” telah digantikan menjadi “terikat ke pasar ekonomi”.


Sayangnya, Umat Muslim yang hidup di Barat atau di dunia Muslim telah tak terlindungi dari nilai-nilai sekular atau materialistis itu. Konsekuensinya adalah bahwa konsep “pernikahan kuat” dan “unit keluarga kuat” yang selalu dipahami oleh kaum Muslimin melintasi generasi sebagai jantung atau beton bagi komunitas yang kuat, hari ini juga digerus.


Kita menghadapi problem-problem yang sama dengan yang didiskusikan karena pengadopsian nilai-nilai dan pola pikir sekular dan liberal ke dalam kehidupan kita – peningkatan perceraian, peningkatan dalam perzinahan, kehancuran keluarga, pengabaian atas anak-anak, pengabaian atas lansia, krisis hubungan dengan keluarga besar dan seterusnya. Selain itu, komunitas kita telah dibutakan oleh berbagai tradisi dan budaya Asia/Arab/Afrika non-Islam yang juga mempengaruhi pernikahan, hubungan orangtua-anak, hubungan karena-pernikahan dan struktur keluarga.


Kehancuran Keluarga Masyarakat Sekular : artikel 1 artikel 2 artikel 3


Issues Explained
Thursday, 10 April 2008
Hizb ut-Tahrir Britain
Syariah dan Khilafah


Kehancuran keluarga di Inggris di atas membuktikan bahwa trinitas sistem kafir sekularisme, liberalisme, demokrasi adalah rusak, gagal, buruk sejak lahirnya dan itulah sifat dasarnya. Dan memang semua sistem buatan manusia itu adalah HARAM. Dan juga disebarkan oleh para kafir imperialis Barat untuk menghancurkan kaum Muslimin di atas tanah Islam kita yang kaya demi keuntungan dunia agama Kapitalisme.


Ya Allah, Lindungilah umat Islam ini dari paham-paham kafir – jalan hidup kafir. Dan jadikanlah Islam menyelamatkan umat manusia sekali lagi melalui tangan-tangan kami. Aamiin.

Kehancuran Keluarga Masyarakat Sekular – Keruntuhan Kehidupan Keluarga Sekuler

Kehancuran Keluarga Masyarakat Sekular – Keruntuhan Kehidupan Keluarga Sekuler


Pada 5 April tahun ini, hakim Justice Coleridge, hakim yang menangani pengadilan keluarga di seantero South West England memberikan ceramah kepada para pengacara keluarga dari organisasi “Resolution”, di mana dia mendeskripsikan kehidupan keluarga di Inggris dalam “keruntuhan” ditandai dengan epidemik kehancuran keluarga.


Dia mengatakan, “Sejumlah besar keluarga sekarang terdiri dari anak-anak yang dilahirkan oleh para ibu yang punya anak-anak dari sejumlah bapak yang berbeda, tidak ada dari mereka yang punya andil apapun dalam kehidupan mereka atau dukungan atau pengasuhan.... Itu bukanlah suatu kasus yang terisolasi, bukan kasus yang janggal. Itu adalah bagian dari stok-hasil-dagang di pengadilan-pengadilan keluarga.” Dia berlanjut mengatakan, “Hampir semua penyakit masyarakat bisa ditelusur kembali secara langsung pada kehancuran kehidupan keluarga. Kita semua tahu itu. Memeriksa latar belakang dari hampir semua anak di sistem pengasuhan atau sistem pengadilan anak-anak dan kamu akan menemukan keluarga rusak. Ditto si pecandu narkoba. Ditto si pecandu miras. Ditto mereka anak-anak yang pecandu membolos atau yang tidak bisa berlaku baik di sekolah. Garuk permukaan kasus-kasus itu dan kamu pasti akan menemukan keluarga menyedihkan, dimandori oleh hubungan tak berfungsi dan terpecah dengan orangtua – atau tidak ada hubungan sama sekali.


Deskripsi busuk kehidupan keluarga di Inggris ini muncul seiring meningkatnya cerita-cerita berita akhir-akhir ini – jatuhnya tingkat pernikahan di England dan Wales ke tingkat paling rendah sejak pencatatan pertama dimulai di 1862 (Kantor Statistik Nasional – Office for National Statistics) dan meningkatnya tingkat perceraian ke tingkat paling tinggi sejak 1996. Para guru pada konferensi Asosiasi Guru dan Dosen – Association of Teachers and Lecturers bulan lalu juga mendeskripsikan “lingkaran racun” kehancuran keluarga mempengaruhi kemampuan anak-anak untuk belajar dan kesehatan mental dan kesejahteraan mereka.


Selain dari cerita-cerita itu, orang sangatlah familiar dengan masalah-masalah lain terkait dengan kehidupan keluarga di Inggris – pengabaian terhadap para orangtua atau keluarga renta, mengecilnya “keluarga besar”, kurangnya waktu yang digunakan bersama anak-anak karena kedua orangtua punya harapan kerja tinggi, penderitaan yang dialami “Wanita Super – Superwoman” berjuang menyeimbangkan antara tanggung jawabnya dalam kehidupan rumah tangga dan karir atau pekerjaan yang sangat menuntut, dan menjatuhkan nilai kehidupan keluarga di tempat kerja.


Minggu lalu, the Fawcett society menerbitkan manifesto mereka yaitu “Sexism in the city", menegaskan fakta bahwa 30.000 wanita setiap tahun di Inggris kehilangan pekerjaan mereka karena hamil dan dari seluruh kelompok sosial, para ibu dan yang akan menjadi ibu mengalami diskriminasi terbesar di bursa kerja.


Pada Februari 2006, Institut Penelitian Kebijakan Publik – the Institute for Public Policy Research menerbitkan laporan yang merinci adanya krisis kesuburan di Inggris karena para wanita menunda untuk menjadi ibu atau tidak mau punya anak karena takut mereka nanti akan menghadapi penurunan penghasilan sepanjang hidupnya atau kehilangan posisi mereka di tangga karir karena mengambil cuti untuk melahirkan anak-anak. Laporan itu mendeskripsikan adanya “jarak bayi – baby gap” 90.000 karena penundaan menjadi ibu itu.


Dampak demografi “baby gap” ini adalah bahwa banyak negara-negara Eropa seperti Perancis, Italia dan Inggris memprediksi mereka berada dalam populasi tua, penurunan tenaga kerja nasional karena jarak antar generasi dan sedikitnya orang-orang muda untuk mengurus orang-orang tua.


[ Dampak Kehancuran Keluarga pada Kehidupan ]


Jatuhnya nilai kehidupan keluarga di Inggris dan di banyak masyarakat sekular lain adalah nyata terlihat. Ini terjadi meskipun fakta bahwa laporan demi laporan, studi demi studi telah menunjukkan bahwa pernikahan dan keluarga yang kuat adalah pondasi stabilitas kehidupan anak-anak dan masyarakat yang sehat. Konsekuensi-konsekuensi dari keluarga rusak dan hubungan orangtua-anak yang tak berfungsi atau terabaikan juga jelas bisa dilihat.


Para politisi dari semua kubu telah menghubungkan peningkatan perilaku anti-sosial, kecanduan narkotika dan mabuk berat di antara para remaja dan kehamilan remaja pada meningkatnya kuota keluarga rusak. Hakim Justice Coleridge berkomentar dalam pernyataannya, “Aku tidak mengatakan bahwa setiap keluarga hancur menghasilkan anak yang tak berfungsi tapi aku mengatakan bahwa hampir setiap anak rusak adalah produk dari keluarga rusak.”


Selain dampak emosional dari keluarga-keluarga cerai dan hancur pada pasangan, anak-anak dan para orangtua tunggal yang harus membesarkan anak mereka sendirian, seringkali adalah juga harus menggeluti 2 hingga 3 pekerjaan hingga membuat hakim itu mendeskripsikan, “.... karnaval tiada-akhir kesedihan manusia. Sungai tiada-akhir penderitaan manusia.” Peningkatan depresi anak-anak, perilaku menyakiti diri sendiri, bahkan gangguan makan harus ditanggung dalam keadaan seperti yang sekarang ini dalam kehidupan keluarga di Inggris. Harus tidak dilupakan penderitaan emosional yang dialami oleh wanita yang terpaksa menjalani terapi IVF supaya dapat subur dan hamil, karena mengalami penurunan kesuburan, keguguran dan meningkatnya komplikasi kehamilan yang disebabkan melakukan penundaan menjadi ibu.


Kehancuran Keluarga Masyarakat Sekular : artikel 1 artikel 2 artikel 3


Issues Explained
Thursday, 10 April 2008
Hizb ut-Tahrir Britain
Syariah dan Khilafah


Kehancuran keluarga di Inggris di atas membuktikan bahwa trinitas sistem kafir sekularisme, liberalisme, demokrasi adalah rusak, gagal, buruk sejak lahirnya dan itulah sifat dasarnya. Dan memang semua sistem buatan manusia itu adalah HARAM. Dan juga disebarkan oleh para kafir imperialis Barat untuk menghancurkan kaum Muslimin di atas tanah Islam kita yang kaya demi keuntungan dunia agama Kapitalisme.


Ya Allah, Lindungilah umat Islam ini dari paham-paham kafir – jalan hidup kafir. Dan jadikanlah Islam menyelamatkan umat manusia sekali lagi melalui tangan-tangan kami. Aamiin.

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam