Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Minggu, 09 November 2014

Muslimah Berpikir Cerdas

Muslimah Berpikir Cerdas



BAB X
KAUM MUSLIMAH ADALAH PEREMPUAN YANG BERPIKIR

Muslimah yang memahami secara pasti bahwa tujuan hidupnya adalah mencari keridhaan Sang Pencipta, dan menyadari apa yang dihadapinya kelak di akhirat –yakni jannah (surga) atau neraka jahannam– adalah perempuan yang berpikir. Ia bukan orang-orang yang terbuai dengan mitos kecantikan dan terperosok dalam belenggu jati diri yang dangkal, yang disebarluaskan oleh negara-negara kapitalis Barat. Ia tidak disibukkan dengan berbagai pembahasan mengenai perkara-perkara yang dangkal, seperti tentang penampilan yang tepat, tata rambut yang benar, busana yang cocok, atau membuang-buang waktu dan energinya untuk berupaya memenuhi harapan-harapan yang tidak wajar sebagaimana yang dipandang oleh masyarakat Barat sebagai “Wanita Cantik”. Fokus perhatian terbesar dalam hidupnya adalah bagaimana dapat menjadi hamba yang taat kepada Penciptanya dan mengumpulkan bekal pahala yang cukup untuk menghadap Allah Swt. di akhirat kelak.

Figur-figur yang menjadi teladan dalam kehidupannya bukanlah para bintang film, pemusik, dan model-model terkemuka baik di Barat maupun di Timur, tetapi para sahabiyat dan para Muslimah terdahulu yang menjadi hamba-hamba yang taat kepada Allah Swt., serta mampu memenuhi semua kewajiban mereka kepada Allah Swt. dengan segala daya dan upaya yang mereka bisa. Kalangan Muslimah yang taat itu bukan dikenal dan dipuji oleh Rasulullah Saw., para ulama, maupun buku-buku sejarah masa lalu hanya karena kecantikannya, tetapi dikenal dan dipuji karena sifat-sifat mulia, kualitas kecerdasannya, kemurahan hatinya, kerendahan hatinya, kesetiaannya, keberaniannya, keuletannya, pengorbanannya, serta ketaatannya sebagai istri dan kasih sayangnya sebagai ibu. Mereka dikenal dalam peradaban Islam bukan karena wajahnya, tetapi karena mereka menjadi pemikir besar, ulama yang besar, pejuang terkemuka, penyair terkenal, politisi ulung, maupun pengemban dakwah.

Itulah perempuan-perempuan seperti Khadijah ra., istri pertama Rasulullah Saw., yang memberikan dukungan kepada suaminya dalam mengemban dakwah untuk menegakkan Daulah Islamiyah yang pertama; yang memikul beban akibat segala macam kesulitan dan kesengsaraan dengan penuh keberanian dan kesabaran, bahkan menyaksikan sendiri penderitaan anak-anaknya akibat aktivitas dakwah itu. Rasulullah Saw. pernah berkisah tentang beliau ra.:

Aku belum pernah mendapatkan seorang istri yang lebih baik daripada dia (Khadijah). Ia beriman kepadaku ketika semua orang, bahkan keluarga dan kabilahku, mendustakanku. Dan ia menerimaku sebagai Nabi dan Rasul Allah. Ia masuk Islam, mengeluarkan seluruh harta bendanya untuk menolongku mendakwahkan agama ini; dan ini terjadi ketika hampir seluruh dunia memalingkan dirinya dariku dan menganiayaku. Dan melalui dia Allah memberkahi diriku dengan anak-anak.

Demikianlah sifat seorang Muslimah yang Allah Swt. sendiri berkenan memberikan salam kepadanya, sebagaimana tercantum dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Dalam hadits tersebut dikatakan bahwa malaikat Jibril mendatangi Rasulullah Saw., kemudian berkata:

Wahai Rasulullah! Ini Khadijah yang membawa kepadamu satu piring bekas yang terdapat di dalamnya lauk, makanan atau minuman. Apabila beliau sampai kepadamu, sampaikan salamku kepadanya dan salam dari Tuhannya. Sampaikan berita gembira kepadanya mengenai sebuah rumah di dalam surga yang dibuat dari mutiara, di dalamnya tidak ada kebisingan dan kesusahan. (HR. Bukhari)

Itulah perempuan-perempuan seperti Fatimah ra., putri Rasulullah Saw., yang kemurahan hatinya menyala terang seperti mercusuar. Sebagai contoh, pada suatu ketika, Salman –salah seorang sahabat Nabi– berusaha mencari makanan untuk seorang muslim yang merasa kelaparan karena tidak makan selama beberapa waktu. Beliau mengajak orang tersebut mendatangi beberapa rumah, namun tidak satu pun yang dapat menyediakan makanan bagi orang itu. Sampai akhirnya mereka melintasi rumah Fatimah ra. Beliau mengetuk pintu dan mengatakan kepada Fatimah maksud kedatangannya. Dengan air mata berlinang, Fatimah ra. mengatakan bahwa selama tiga hari itu beliau tidak memiliki makanan di rumah. Meski demikian, karena tidak ingin menolak kedatangan seorang tamu, beliau berkata, “Aku tidak dapat membiarkan seorang tamu yang sedang lapar pulang sebelum membuatnya kenyang.” Lantas, Fatimah menyerahkan selembar kain milik beliau kepada Salman, sembari meminta Salman agar membawa kain tersebut kepada Syamun –seorang Yahudi– untuk ditukarkan dengan jagung. Karena merasa terkesan dengan kemurahan hati putri Rasulullah Saw., Yahudi tersebut kemudian memeluk Islam. Ketika Salman kembali dengan membawa jagung, segera Fatimah menggilingnya dan memasaknya menjadi beberapa potong roti. Ketika Salman menyarankan agar Fatimah menyimpan sebagian dari roti tersebut, beliau menjawab bahwa beliau tidak berhak atas roti tersebut, karena beliau telah memberikan kain tersebut semata-mata untuk Allah.

Itulah perempuan-perempuan seperti Aisyah ra., istri Rasulullah Saw., yang mempunyai akal yang cerdas dan ingatan yang kuat, sehingga mampu menghafal lebih dari 2000 hadits. Beliau juga memiliki pengetahuan yang mendalam pada ilmu tafsir, hadits, fiqih, dan syariat. Suatu kali Rasulullah Saw. pernah bermimpi bahwa Malaikat Jibril datang membawa gambar Aisyah ra. yang dibungkus dengan sutera hijau, kemudian berkata, “Inilah istrimu di dunia ini dan di akhirat.”

Itulah perempuan-perempuan seperti Khansa’, yang merupakan seorang penyair terkemuka dan menggunakan kemampuannya itu untuk mendorong anak-anaknya pergi berjihad meninggikan kalimat Allah Swt. Ia berkata, “Kalian mengetahui pahala yang dijanjikan Allah kepada hamba-Nya yang memerangi orang-orang kafir di jalan-Nya. Kalian harus ingat bahwa kehidupan abadi di akhirat jauh lebih baik daripada hidup sementara di dunia ini. Kalau kalian bangun tidur esok pagi, bersiaplah untuk memberikan kemampuan terbaik kalian dalam peperangan. Majulah ke dalam barisan musuh dan mintalah pertolongan kepada Allah. Kalau kalian melihat api pertempuran semakin menyala, maka tempatkan diri kalian di tengah-tengah musuh dan hadapilah para pemimpin musuh. Maka insya Allah kalian akan mendapatkan tempat kalian di surga dengan kehormatan dan keberhasilan.” Pada hari berikutnya, keempat anak laki-lakinya terjun dalam perang Qadisiyyah. Sembari membacakan syair ibunya, keempat anak laki-laki Khansa’ maju berperang hingga mereka semuanya gugur. Ketika mendengar berita kematian keempat anaknya, Khansa’ berkata, “Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kemulian kepadaku dengan syahidnya mereka. Aku berharap Allah akan mengumpulkan aku dengan mereka di bawah naungan kasih sayangNya.”

Itulah perempuan-perempuan seperti Ummu Amarah, yang merupakan pejuang yang terampil dan turut berperang dalam berbagai pertempuran, seperti Perang Uhud, Hunain, dan Yamamah. Dalam Perang Uhud, beliau turut melindungi Rasulullah Saw. dengan tubuhnya, hingga mengalami luka yang cukup parah. Ketika itu, ke mana pun Rasulullah Saw. memandang –ke kanan maupun ke kiri– beliau Saw. menyaksikan perjuangan Ummu Amarah untuk melindungi keselamatan Rasulullah Saw. Oleh sebab itulah Rasulullah Saw. pernah berdoa bagi Ummu Amarah dan keluarganya, yang telah berperang dengan penuh keberanian dan kekuatan pada hari itu, sebagai berikut:

Ya Allah, jadikanlah ia dan keluarganya sebagai sahabatku di surga.

Itulah perempuan-perempuan seperti Ummu Syariq, yang mencurahkan segenap kemampuannya untuk mengemban dakwah Islam di tengah-tengah kaum perempuan suku Quraisy, sampai akhirnya ia diusir dari kalangan orang-orang Quraisy oleh para pemukanya. Itulah perempuan-perempuan seperti Sumayyah, yang merupakan muslim pertama yang mati syahid. Beliau terus menerus menyeru kepada orang-orang untuk menyembah kepada Allah pada saat disiksa sampai mati oleh Abu Jahal.

Seorang Muslimah adalah individu yang menggunakan akal pikiran dengan sebaik-baiknya, sehingga ia tidak membabi buta meniru dan mengikuti segala sesuatu yang ada di sekitarnya, sekalipun itu berarti bahwa ia harus menentang norma-norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. Ia bukan seorang yang terbelenggu dengan perasaan rendah diri akibat penampilannya; tetapi sebaliknya, seorang Muslimah adalah seorang yang penuh percaya diri berada dalam kehidupan yang dipilihnya sendiri, karena ia telah menegakkan kebenaran Islam melalui akal pikiran dan keyakinannya. Terakhir, ia bukan seorang perempuan yang asyik dengan citra dirinya, penampilan fisiknya, atau kehidupan pribadinya. Seorang Muslimah adalah individu yang memahami masalah-masalah dunia, mempunyai kepedulian terhadap masalah-masalah umat manusia, dan berpikir cermat mengenai peran dirinya dalam mewujudkan sistem yang sahih untuk mengatur umat manusia, yakni negara Khilafah Islamiyah.

Download Buku MITOS KECANTIKAN BARAT

Mencari Istri Muslimah Berkepribadian

Mencari Istri Muslimah Berkepribadian



BAB IX
BAGAIMANA SEHARUSNYA SEORANG MUSLIM MENILAI SEORANG MUSLIMAH?

Sebagaimana pernah dibahas sebelumnya, kaum Muslim laki-laki tidak bebas memandang kaum perempuan menurut keinginannya, tetapi harus memahami bahwa dirinya bertanggung jawab kepada Sang Khaliq Swt. Mereka harus membatasi pandangannya sesuai dengan ketentuan Islam.

Sebagai contoh, jika seorang laki-laki berusaha mencari jodoh, Rasulullah Saw. memberikan petunjuk dengan hadits yang sangat terkenal, diriwayatakan oleh Abu Hurairah sebagai berikut:
«تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ ِلأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِنَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدَّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ»
Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara: Kekayaannya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Maka kawinilah yang baik agamanya, niscaya engkau akan beruntung.

Oleh karena itu, bila seorang laki-laki Muslim ingin mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, maka ia akan berusaha mendapatkan istri yang dikenal baik dan teguh dalam beragama, melebihi perhatiannya terhadap sifat-sifat utama lainnya yang barangkali dimiliki perempuan tersebut. Dia tidak akan pernah terperosok dengan mitos kecantikan yang selalu menyebarluaskan pandangan bahwa seorang perempuan dianggap cantik bila mempunyai ciri khas tertentu, misalnya tinggi, ramping, dan berkulit putih. Dia juga tidak pernah tergoda dengan pendapat bahwa penampilan adalah faktor terpenting dalam pergaulan.

Sebaliknya, ia akan berusaha mencari seorang istri yang memiliki pemahaman yang baik tentang tugas-tugas seorang Muslimah; yang akan melaksanakan tugas-tugas seorang istri sebagaimana yang diperintahkan Islam; yang dengan penuh kasih sayang akan merawat dan memelihara pemikiran anak-anaknya dengan tsaqafah Islam; dan yang akan menjaga suaminya agar tetap taat beribadah sebagaimana sang suami menjaga agamanya. Rasulullah Saw. bersabda:
«اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَمِنْ خَيْرِ مَتَاعِهَا امْرَأَةٌ تُعِيْنُ زَوْجَهَا عَلَى الآخِرَةِ»
Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah seorang wanita (istri) yang senantiasa mengingatkan suaminya tentang hari akhir.

Realitas yang kini terjadi di negeri-negeri kaum Muslim memperlihatkan bahwa sikap yang benar dalam hal menilai seorang perempuan ternyata –secara umum– tidak hadir di tengah-tengah masyarakat. Namun, hal ini tidaklah mengejutkan, mengingat tidak ada satu pun bagian dari dunia Islam yang memperoleh kemuliaan dengan menerapkan Islam secara keseluruhan. Sebaliknya, andaikata syari’at dapat diterapkan secara utuh dalam bingkai Daulah Islamiyah atau negara Khilafah, di mana kemudian masyarakat Islam yang sejati dapat diwujudkan, maka niscaya mentalitas seperti itu akan muncul di tengah-tengah masyarakat secara alamiah sebagaimana pernah terbukti dalam sejarah Islam.

Dalam masalah ketenagakerjaan, misalnya, seorang majikan Muslim yang berada di tengah-tengah masyarakat Islam akan menyadari tanggungjawabnya kepada Sang Khaliq ketika dia mempekerjakan seseorang untuk tugas tertentu. Maka dia akan menyadari bahwa haram baginya mengangkat seseorang dalam jabatan tertentu semata-mata atas dasar pilihan ras dan jenis kelamin, atau kecantikan, sementara ada orang lain yang lebih tepat untuk jabatan tersebut. Lebih jauh lagi, dia tidak akan dapat mempekerjakan seorang perempuan pada tugas-tugas tertentu yang akan membuat auratnya terbuka, karena dia menyadari bahwa dirinya –seperti halnya kaum laki-laki lainnya di masyarakat– tidak mempunyai hak untuk melihat aurat atau kecantikan perempuan-perempuan yang bukan mahramnya, termasuk perempuan-perempuan yang bekerja dengannya. Apabila seorang laki-laki, meskipun tanpa sengaja, melihat bagian tubuh –selain wajah dan telapak tangan– perempuan bukan mahramnya, maka ia wajib menundukkan pandangannya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Jarir bin Abdullah, ia bertanya kepada Rasulullah:
«سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ r عَنْ نَظْرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِيْ أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِيْ»
Aku bertanya kepada Rasulullah Saw. mengenai pandangan yang tiba-tiba. Beliau kemudian menyuruhku untuk memalingkan pandanganku.

Dalam hadits yang lain dari Ali bin Abi Thalib ra., diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda kepadanya:
«لاَ تَتَّبِعْ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّمَا لَكَ اْلأُوْلَى وَلَيْسَ لَكَ اْلآخِرَةَ»
Janganlah engkau mengikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya. Pandangan pertama adalah untukmu, sedangkan pandangan berikutnya bukan untukmu.

Kaum perempuan juga tidak dapat dipekerjakan untuk menggarap tugas-tugas yang mengeksploitasi sifat-sifat kewanitaannya, atau bilamana kecantikannya merupakan sifat yang dimanfaatkan dalam bidang kerjanya, seperti memperagakan busana atau mengiklankan produk yang membuat orang tertarik dengan kecantikannya. Gambar-gambar yang mendorong timbulnya hasrat seksual laki-laki dan membuat perempuan hanya menjadi objek pemuas syahwat tidak akan diizinkan dalam masyarakat Islam yang sejati. Bahkan sebenarnya, laki-laki dilarang memandang wajah perempuan yang menarik perhatiannya lebih dari satu kali, sebagaimana terungkap dalam hadits berikut ini. Abu Dawud meriwayatkan bahwa al-Fadhl bin Abbas suatu ketika berkuda bersama Rasulullah Saw., kemudian datanglah seorang perempuan dari Bani Khats’am untuk meminta penjelasan dari Rasulullah Saw. Fadhl lantas memandang perempuan tersebut, dan perempuan itu pun memandangnya. Karena itu, Rasulullah Saw. kemudian memalingkan wajah Fadhl dari perempuan tersebut. Dalam riwayat Ali bin Abi Thalib ada kalimat tambahan, yaitu ketika al-Abbas bertanya kepada Rasulullah Saw., “Ya Rasulullah, mengapa engkau memalingkan wajah keponakanmu?” Maka Rasulullah Saw. menjawab: Aku melihat seorang pemuda dan seorang gadis yang aku khawatir kalau-kalau setan menggoda keduanya.

Terakhir, pergaulan antara seorang perempuan dengan laki-laki bukan mahram di tempat kerja, di rumah, maupun di tengah masyarakat luas bisa dibenarkan bila dilakukan dalam rangka pelaksanaan pekerjaan atau aktivitas muamalah lainnya. Haram hukumnya melakukan berbagai macam bentuk pergaulan di luar perkara-perkara yang diizinkan oleh syara’. Ini menunjukkan bahwa, sekalipun dalam lingkungan pekerjaan, kaum laki-laki dan kaum perempuan juga dipisahkan. Ini dilakukan untuk mengikuti salah satu aturan dalam sistem pergaulan Islam. Pemisahan ini memberikan kepastian bahwa kaum perempuan akan dinilai dan dinaikkan jabatannya berdasarkan kualitas pekerjaannya, bukan semata-mata karena kecantikannya atau sekedar ‘memanfaatkan daya tarik kewanitaannya’. Maka perempuan akan mampu melaksanakan pekerjaannya secara profesional, baik sebagai dokter, guru, insinyur, ilmuwan, atau pengusaha, tanpa rasa khawatir mengalami pelecehan fisik maupun seksual dari teman kerja laki-laki.

Semua pembahasan di atas menunjukkan bahwa dalam Daulah Islamiyah dan masyarakat Islam, kaum perempuan dinilai berdasarkan sifat-sifatnya, pemikirannya, kecerdasannya, dan ketrampilannya. Itu semua membuat mereka memiliki peran yang berharga bagi masyarakat. Kaum perempuan tidak akan dipandang sebagai komoditas yang layak dieksploitasi, atau dijadikan objek hanya untuk memuaskan nafsu dan keinginan kaum laki-laki, tetapi justru mendapat perlindungan dan penghargaan dari masyarakat.

Germaine Greer, tokoh feminis Barat yang terkemuka, menulis dalam bukunya ‘The Whole Woman’, “Empat tahun setelah buku ‘The Female Eunuch’ ditulis, saya berkeliling dunia untuk melihat apakah saya dapat melihat satu saja perempuan yang utuh. Dia adalah seorang perempuan yang tidak sekedar menjadi fantasi seksual laki-laki, atau tergantung pada sosok laki-laki yang memberinya jati diri dan status sosial; seorang perempuan yang tidak mesti cantik, namun boleh jadi cerdas, dan tumbuh menjadi perempuan yang berwibawa ketika usianya semakin lanjut.” Saran kami kepadanya untuk mengakhiri perjalanannya dan menghemat uangnya adalah dengan meneliti status sejati perempuan dalam Islam dan posisi perempuan dalam sistem negara Khilafah.

Download Buku MITOS KECANTIKAN BARAT

Jumat, 07 November 2014

Bagaimana Menilai Kepribadian Muslimah

Menilai Kepribadian Muslimah

http://m.hizbut-tahrir.or.id/2014/11/07/majalah-cermin-wanita-sholihah-edisi-7-siap-hadir-di-tengah-tengah-kita/


BAB VIII
BAGAIMANA MUSLIMAH MENILAI DIRINYA?

Kaum Muslimah tidak semestinya menilai kepribadian mereka atas dasar sesuatu yang sangat dangkal, seperti kecantikan. Demikian pula, tidak selayaknya kaum Muslimah memandang rendah diri mereka karena dianggap gagal memenuhi harapan-harapan masyarakat untuk memperoleh predikat “Wanita Cantik”. Kaum Muslimah harus menyadari sepenuhnya, bahwa citra kecantikan seperti itu hanyalah sebuah mitos yang dimanfaatkan untuk mengalihkan pemikiran dari pertanyaan-pertanyaan yang sangat penting dalam hidup ini, seperti: apakah tujuan hidup yang hakiki, atau bagaimana mengatur kehidupan umat manusia dengan cara yang benar.

Kaum Muslimah seharusnya memahami bahwa landasan yang menjadi tolok ukur untuk menilai kepribadian dirinya bukanlah kecantikan wajahnya, tetapi pemikiran dan perilakunya. Ia semestinya menilai dirinya dengan ukuran sejauh mana ketaatannya sebagai seorang hamba kepada Sang Khaliq, serta kuantitas dan kualitas amal perbuatannya dalam melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya semata-mata untuk meraih keridhaan-Nya. Inilah yang menjadi ukuran keberhasilan dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Inilah kunci untuk mendapatkan kebahagiaan yang abadi di surga. Allah Swt. mengungkapkannya dalam surat al-Ahzab:
]إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا[
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta'atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (TQS. al-Ahzab [33]: 35)

Oleh karena itu, seorang Muslimah semestinya mengukur kepribadiannya atas dasar ketakwaannya kepada Allah Swt. Sebab, dengan ketakwaan inilah Sang Khaliq menilai umat manusia, dan dengan ukuran ini pula Dia meninggikan derajat seorang manusia dari manusia lainnya. Allah Swt. berfirman dalam surat al-Hujurat:
]إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ[
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. (TQS. al-Hujurat [49]: 13)

Rasulullah Saw. juga menjelaskan dalam khutbah beliau yang terakhir, bahwa tidak ada kelebihan seorang manusia atas manusia lainnya, kecuali atas dasar ketaqwaan dan amal shalihnya.

Oleh karena itu, perjuangan yang seharusnya dilakukan oleh kaum Muslimah dalam hidup ini adalah untuk membangun kepribadian Islam seutuhnya dan berusaha menerapkan hukum-hukum Allah Swt. dalam kehidupan pribadinya, di tengah keluarganya, serta dalam kehidupan masyarakat. Perjuangan kaum Muslimah bukan diarahkan untuk sekedar mendapatkan kecantikan atau meniru pola pikir masyarakat Barat yang dangkal. Rasulullah Saw. pernah bersabda:
«اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ»
“Dunia dan segala isinya adalah perhiasan, tetapi sebaik-baik perhiasan di dunia adalah perempuan yang shalihah.”

Download Buku MITOS KECANTIKAN BARAT

Kamis, 06 November 2014

Konsep Kecantikan Menurut Islam

Konsep Kecantikan Menurut Islam



BAB VII
ISLAM DAN KONSEP KECANTIKAN

Sama sekali berkebalikan dengan jati diri orang-orang Barat yang menjadikan akal dan hawa nafsu manusia sebagai standar untuk menentukan bagaimana manusia menjalani kehidupan, jati diri Islam berlandaskan pada keyakinan bahwa Sang Pencipta manusia dan alam semesta adalah satu-satunya Zat yang mempunyai kedaulatan dan otoritas untuk menentukan bagaimana umat manusia menjalani kehidupannya. Lebih dari itu, Dia-lah satu-satunya Zat yang menciptakan manusia, berikut naluri dan kebutuhan fisik yang dimilikinya, dan bahwa Dia-lah yang paling tahu bagaimana cara terbaik untuk mengatur mereka.

Pandangan hidup sekuler Barat mengemban konsep kebebasan pribadi yang menetapkan bahwa kaum laki-laki dan perempuan memiliki kebebasan untuk menentukan bagaimana mereka berbusana, bagaimana mereka berpenampilan, bagaimana semestinya mereka memandang lawan jenisnya, bagaimana model pergaulan di antara mereka, apa peran mereka dalam kehidupan rumah tangga dan di tengah-tengah masyarakat, serta bagaimana seharusnya mereka bertingkah laku. Sebaliknya, kaum Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, menjalani kehidupan mereka atas dasar keyakinan bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatan mereka di dunia kepada Sang Khaliq. Oleh karena itu, kaum Muslim paham bahwa mereka harus mengembalikan setiap permasalahan pada hukum dan aturan, serta pada standar halal dan haram yang telah ditetapkan oleh Sang Khaliq. Oleh karena itu, kaum Muslimah tidak menjadikan akal pikiran dan hawa nafsunya sebagai penentu bagaimana mereka mendefinisikan kecantikan, penampilannya, atau bagaimana mereka menilai dirinya; tetapi mereka mengembalikan semua permasalahan tersebut kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Bagi kaum Muslim, hawa nafsu tidak boleh menjadi standar dalam menentukan bagaimana mereka melihat dan memperlakukan kaum perempuan; tetapi mereka menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai standar. Allah Swt berfirman dalam Surat al-Ahzab:
]وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا
أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا
[
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (TQS. al-Ahzab [33]: 36)

Islam tidak menentukan konsep yang pasti mengenai kriteria “Wanita Cantik”, dan juga tidak menentukan bagaimana penampilan seorang perempuan agar nampak kecantikannya. Oleh karena itu, dalam Islam tidak terdapat harapan-harapan yang tidak wajar yang mesti diraih oleh perempuan, maupun diharapkan oleh kaum laki-laki. Namun demikian, Islam memang membahas konsep tentang bagaimana seorang Muslimah harus berpenampilan pada berbagai kesempatan, dan kepada siapa saja ia dapat sepenuhnya menunjukkan kecantikannya.

Di depan laki-laki yang bukan mahramnya, atau kalangan yang boleh menikah dengannya, seorang Muslimah diwajibkan berpenampilan sesuai dengan syariat, yaitu menutup seluruh bagian tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Selain itu, busana yang dikenakannya tidak boleh terlalu tipis sehingga kulitnya bisa kelihatan, dan juga tidak boleh terlalu ketat sehingga tampak bentuk tubuhnya. Dengan demikian, seluruh bagian tubuh perempuan, termasuk lehernya, kakinya, dan rambutnya (meski hanya sehelai saja) –selain wajah dan kedua telapak tangannya– merupakan aurat, yang haram ditampakkan di depan laki-laki yang bukan mahramnya. Segala bentuk pengecualian atas ketentuan ini harus ditetapkan melalui nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah, bukan akal manusia.

Dalam satu hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah ra., beliau berkata bahwa Asma’ binti Abu Bakar telah memasuki rumah Rasulullah Saw. dengan memakai busana yang tipis, maka Rasulullah Saw. pun berpaling seraya berkata:
«يَا أَسْمَاءَ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَّغَتْ المَحِيْضَ لَمْ يَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا وَهَذَا، وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيِهِ»
Wahai Asma’, sesungguhnya perempuan itu jika telah baligh tidak pantas untuk ditampakkan dari tubuhnya kecuali ini dan ini – sambil menunjuk telapak tangan dan wajahnya.

Dalam surat an-Nur, Allah Swt berfirman:
]
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَائِهِنَّ أَوْ ءَابَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي اْلإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنّ]
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. (TQS. an-Nur [24]: 31)

Ibnu Abbas menafsirkan kalimat “yang (biasa) nampak daripadanya” sebagai wajah dan kedua telapak tangan.

Selain itu, di depan laki-laki yang bukan mahramnya, seorang perempuan juga tidak boleh memakai pakaian, perhiasan, dan menggunakan dandanan yang akan menarik perhatian laki-laki atas kecantikannya (tabarruj). Sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat al-Ahzab:
]وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُولَى[
Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu. (TQS. al-Ahzab [33]: 33)

Kemudian, apabila seorang perempuan keluar rumah dan memasuki kehidupan umum (ruang publik), penampilan atau pakaian yang diwajibkan baginya adalah khimar, yakni penutup kepala yang menutup seluruh bagian kepala, leher, dan bagian bahu menutupi dada; serta jilbab, yaitu kain panjang yang menutup pakaian kesehariannya dan diulurkan sampai ke bagian bawah. Apabila seorang perempuan keluar rumah tanpa kedua macam pakaian ini maka ia memperoleh dosa, karena telah mengabaikan perintah Sang Khaliq Swt. Dalilnya sangat jelas, sebagaimana tersebut dalam ayat berikut ini yang memerintahkan pemakaian khimar:
]وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ[
Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. (TQS. an-Nur [24]: 31)

Sementara itu, dalam surat al-Ahzab, Allah Swt. mewajibkan jilbab:
]يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ ِلأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ[
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". (TQS. al-Ahzab [33]: 59)

Selain itu, dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Ummu ‘Athiyah, bahwa ia berkata:
«أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ r أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي اْلفِطْرِ وِاْلأَضْحَى، الْعَوَاتِقُ وَاْلحَيْضُ وَذَوَاتِ الْخُدُوْرِ، فَأَمَّا الْحَيْضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاَةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِحْدَانَا لاَ يَكُوْنُ لَهَا جِلْبَابٌ. قاَلَ: لِتُلْبِسَهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا»
Rasulullah Saw. memerintahkan kami, baik ia budak perempuan, perempuan haid, ataupun anak-anak perawan agar keluar (menuju lapangan) pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Bagi perempuan yang sedang haid diperintahkan untuk menjauh dari tempat shalat, tetapi tetap menyaksikan kebaikan dan seruan atas kaum Muslimin. Aku lantas berkata, ‘Ya Rasulullah, salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab’. Maka Rasulullah pun menjawab, ‘Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbab kepadanya.’

Bagi Muslimah, yang dimaksud dengan kecantikan (kebaikan) adalah manakala ia mengikuti hukum-hukum dan aturan Allah Swt., sedangkan keburukan adalah tatkala ia mengesampingkan aturan tersebut dan menuruti hawa nafsunya. Ia tidak boleh mengikuti ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh manusia. Upaya untuk mendapatkan penampilan dan perilaku yang ditentukan Allah Swt. tersebut jelas masih berada dalam batas-batas kemampuan setiap perempuan, dan pasti tidak akan menimbulkan berbagai macam permasalahan, seperti gangguan pola makan yang diakibatkan karena harapan-harapan yang tidak wajar untuk memperoleh penampilan, ukuran tubuh, dan bentuk tubuh tertentu yang harus dipenuhi oleh kaum perempuan Barat.

Sekalipun Islam tidak memiliki konsep yang pasti tentang kriteria “wajah atau bentuk tubuh yang cantik”, namun kaum Muslimah didorong untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu yang membuat penampilannya menarik hati suaminya, seperti berdandan untuk suaminya serta berpenampilan yang rapi dan bersih. Kaum Muslimah tahu bahwa tindakan seperti itu akan mendatangkan ridha Allah Swt. Namun ketika melakukan upaya mempercantik diri tersebut –seperti memperindah bentuk tubuh atau memutihkan wajahnya– kaum Muslimah harus menyadari bahwa itu semua sama sekali bukan dimaksudkan untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku di tengah-tengah masyarakat, namun semata-mata untuk menuruti batas-batas yang ditentukan Allah Swt. baginya. Demikian pula para suami Muslim, ketika menentukan apa yang disukai dan apa yang dibenci, mereka harus dapat memastikan bahwa sikap mereka itu bukan semata-mata karena menuruti harapan-harapan yang tidak wajar dari masyarakat Barat.

Download Buku MITOS KECANTIKAN BARAT

Rabu, 05 November 2014

Mengapa Harga BBM Dinaikkan


  1.   Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro secara terbuka menyatakan : ‘Liberalisasi sektor hilir migas membuka kesempatan bagi pemain asing untuk berpartisipasi dalam bisnis eceran migas…. Namun, liberalisasi ini berdampak mendongkrak harga BBM yang disubsidi pemerintah. Sebab kalau harga BBM masih rendah karena disubsidi, pemain asing enggan masuk.” (Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro, Kompas, 14 Mei 2003).

    Pembatasan BBM subsidi (rencana mulai Oktober 2010) hanya untungkan SPBU asing. (republika.co.id,19/9/2010).

    KOMENTAR:
     (1) Semua kebijakan yang liberal hanya untungkan asing dan para kapital besar. Sebaliknya, rakyat yang jadi korban,
     (2) Ekonomi kapitalis menjadi penyebab problem kemiskinan. Umat butuh sistem yang adil yakni Islam.

    Harus Menolak Kenaikan Harga BBM ...

    insidewinme.blogspot.com/.../harus-menolak-kenaika...
    Mar 15, 2012 - Penaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) diperkirakan akan menaikkan harga bahan pokok karena kenaikan harga BBM akan berdampak ...
  2. Mengapa Menolak Kenaikan BBM - Alasan ...

    insidewinme.blogspot.com/.../mengapa-menolak-kena..
    Mar 15, 2012 - Aksi menentang rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM makin marak. Di Purwokerto, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam ...
  3. Menolak Kenaikan Harga BBM - Tolak ...

    insidewinme.blogspot.com/.../menolak-kenaikan-harg...
    Mar 15, 2012 - HTI Press- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengatakan, kenaikan harga BBM bersubsidi merupakan keputusan ...
  4. Demo Menolak Kenaikan Harga BBM ...

    insidewinme.blogspot.com/.../demo-menolak-kenaika...
    Mar 21, 2012 - Mereka menolak rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Bila pemerintah menaikkan harga BBM, alat-alat dapur ini diyakini menganggur ...
  5. Para Ulama Menolak Kenaikan Harga BBM ...

    insidewinme.blogspot.com/.../para-ulama-menolak-ke..
    Mar 21, 2012 - Halqah Islam dan Peradaban Khusus Temu Tokoh Nasional dan Ormas Islam “TOLAK KENAIKAN HARGA BBM:Pemerintah Bohong, Khianat, ...
  6. Aksi Bontang Menentang Kebijakan Zalim ...

    insidewinme.blogspot.com/.../aksi-bontang-menentan..
    Apr 8, 2012 - Menaikkan BBM: Mengkhianati Allah SWT dan Umat ...Kebijakan BBM tidak diragukan lagi akan menambah kesulitan dan beban masyarakat ...
  7. Demokrasi Adalah Sistem Rusak Menuruti Hawa Nafsu

    insidewinme.blogspot.com/.../demokrasi-adalah-sistem..
    Apr 14, 2012 - Penolakan Terhadap Penaikkan BBM Harus Diikuti Dengan Penolakan ... bahan bakar minyak (BBM) tetapi juga menolak sistem demokrasi.
  8. Sistem Pemerintahan Islam Bukan Kekaisaran / Imperium

    insidewinme.blogspot.com/.../sistem-pemerintahan-isla...
    Apr 8, 2011 - ...jelas menyerang Islam, serta mengungkap agenda pemerintah mengenai rencana pembatasan subsidi BBM yang sejatinya adalah ...
  9. Sep 26, 2007 - Mantan Direktur Utama Bank Pembangunan Daerah Kal-Sel menyayangkan sikap ... dan BBM tidak bersubsidi untuk industri menyebabkan ...


    1. Maret 2012

      insidewinme.blogspot.com/2012_03_01_archive.html
      Mar 30, 2012 - Halqah Islam dan Peradaban Khusus Temu Tokoh Nasional dan Ormas Islam “TOLAK KENAIKAN HARGA BBM:Pemerintah Bohong, Khianat, ...
    2. Malam Bina Iman Takwa MABIT Kota Bontang

      insidewinme.blogspot.com/.../malam-bina-iman-takwa..
      Nov 9, 2012 - ...mengadakan Majelis Bina Syakhsiyah (MBS) dengan tema “Kenaikan BBM Bersubsidi Kebijakan Khianat & Dzalim : WAJIB DITOLAK” ...
    3. Penguasa Umat Islam Pemerintah Kaum Muslimin

      insidewinme.blogspot.com/.../penguasa-umat-islam-pe..
      Jul 2, 2010 - Setelah kafir IMF meminta kenaikan pajak haram, pemerintah dengan segera menerapkan pajak karbon atas BBM. Ketika hal ini ditentang, ...
    4. insidewinme: April 2012

      insidewinme.blogspot.com/2012_04_01_archive.html
      Apr 25, 2012 - Dalam rangka merespon kenaikan Harga BBM yang mulai diberlakukan pemerintah mulai 1 April 2012, Hizbut Tahrir Indonesia beserta 1500 ...
    5. Hizbut Tahrir Adalah Partai Politik Islam Global

      insidewinme.blogspot.com/.../hizbut-tahrir-adalah-part..
      Mar 8, 2012 - Para Ulama Menolak Kenaikan Harga BBM – Kaum Musli... Demo Menolak ... Mengapa Menolak Kenaikan BBM - Alasan Menolak Kena.
    6. Sep 26, 2007 - Hizbut Tahrir Indonesia » Panitia Khusus Angket BBM. - [ ]. 1 Agu 2008 ... Bagaimana juga mekanisme ekspor dan impor BBM, ... pengelolaan ...

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam