Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Selasa, 07 April 2020

Orang-Orang yang Mengucapkan Janji Setia - TAFSIR al-Fath: 10



Oleh: Rokhmat S. Labib, MEI

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (TQS. al-Fath [48]: 10)

Dalam ayat sebelumnya diterangkan tentang tugas yang diemban Rasulullah kepada manusia. Beliau diutus agar menjadi saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.

Dengan dijalankannya tugas itu, diharapkan manusia mau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan agama-Nya, membesarkan-Nya, dan dan bertasbih kepada-Nya.

Kemudian, Allah SWT berfirman: Inna al-ladziina yubaayi'uunaka (bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu). Ayat ini memberitakan tentang orang-orang yang membaiat Rasulullah . Secara bahasa, kata al-bay'ah adalah akad yang diakadkan seseorang atas dirinya untuk mengerahkan segala kemampuan dan menepati janji yang telah ditekadkan.

Yang dimaksud dengan baiat di sini adalah baiah al-Ridhwan di Hudaibiyyah. Demikian menurut para mufassir. Mereka berbaiat kepada Rasulullah di bawah sebuah pohon untuk memerangi Quraisy. Jumlah sahabat yang ikut berjanji setia pada saat itu berjumlah 1.300 orang. Ada yang mengatakan 1.400 orang, bahkan 1.500 orang. Menurut Ibnu Katsir yang tepat adalah yang pertengahan, yakni 1.400. Ini didasarkan oleh riwayat Jabir yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

Ketika itu, Rasulullah mengutus Utsman ra. untuk menemui Abu Sufyan dan para pembesar Quraisy dan menyampaikan bahwa Rasulullah dan kaum Muslim datang bukan untuk berperang, namun berziarah di Baitullah. Seteleh bertemu dengan mereka, Utsman menyampaikan surat yang dikirim Rasulullah untuk mereka. Setelah membacakan surat Rasulullah , Utsman dipersilakan untuk berthawaf. Utsman menjawab, "Aku tidak akan mengerjakan thawaf hingga Rasulullah bertawaf.” Kemudian orang-orang Quraisy menahan Utsman. Hingga akhirnya berita itu terdengar Rasulullah dan kaum Muslimin bahwa Utsman telah terbunuh.

Mendengar berita tersebut, Rasulullah bersabda: “Kita tidak akan tinggal diam sehingga kita berperang dengan kaum itu.” Kemudian Rasulullah menyeru umat manusia untuk berbaiat. Itulah yang disebut sabagai bay'atur al-ridhwaan yang terjadi di bawah sebatang pohon. Jabir bin Abdullah ra. berkata, "Sesungguhnya Rasulullah tidak membaiat mereka atas kematian, akan tetapi kami berbaiat untuk tidak lari.” Demikian dikatakan Ibnu Katsir.

Kemudian ditegaskan: Innamaa yubaayu'uunaLlaah (Sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah). Bahwa orang-orang yang membaiat atau berjanji setia terhadap Rasulullah sesungguhnya telah berbaiat kepada Allah SWT. Dikatakan al-Syaukani, ini sebagaimana firman Allah SWT: “Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah” (TQS. al-Nisa‘ [4]: 80). Hal itu disebabkan karena mereka membaiat diri mereka dengan Allah SWT untuk memperoleh Surga.

Penjelasan serupa juga dikemukakan oleh al-Alusi. Menurutnya, mereka dikatakan berbaiat kepada Allah SWT karena maksud atau tujuan berbaiat kepada Rasulullah adalah menaati Allah SWT dan mengerjakan semua perintah-Nya karena barangsiapa menaati Rasul sesungguhnya dia telah menaati Allah SWT (lihat: QS. al-Nisa [4]: 80). Maka, berbaiat kepada Allah SWT bermakna menaati-Nya.

Kemudian Allah SWT berfirman: YaduLlaah fawq aydiihim (tangan Allah di atas tangan mereka). Ada beberapa penjelasan tentang makna ayat ini. Menurut al-Syaukani, ayat ini mengandung makna bahwa sesungguhnya akad perjanjian dengan Rasulullah seperti halnya akad dengan Allah SWT tanpa ada perbedaan.

Imam al-Qurthubi menukil pendapat al-Kalbi yang berkata, ”Sesungguhnya nikmat Allah SWT berupa hidayah atas mereka melebihi baiat yang mereka kerjakan." Sedangkan al-Kaisan berkata, ”Kekuatan dan pertolongan Allah SWT di atas kekuatan dan pertolongan mereka."

Menurut Ibnu Katsir, "Dia hadir bersama mereka, mendengar perkataan mereka dan melihat tempat mereka, mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan mereka tampakkan. Dialah Dzat yang Maha Tinggi yang mereka baiat melalui rasul-Nya. Ini seperti firman Allah SWT: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan Surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar” (TQS. al-Taubah [9]: 111).”

Melanggar Baiatnya

Kemudian Allah SWT menerangkan tentang orang yang melanggar sumpahnya dengan firman-Nya: Faman nakatsa fa innamaa yankutsu 'alaa nafsihi (maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri).

Kata al-naktsu berarti melepaskan. Kemudian digunakan untuk menyebut tindakan membatalkan perjanjian. Ini seperti dalam QS. al-Taubah [9]: 12. Pengertian ini pula yang dimaksud oleh ayat ini.

Ibnu Jarir al-Thabari berkata, ”Barangsiapa melanggar dan membatalkan baiatnya kepadamu, wahai Muhammad, maka dia tidak akan menolongmu atas musuh-musuhmu dan menyalahi janjinya kepada Tuhannya."

Menurut Imam al-Qurthubi, itu artinya kemudharatan yang terjadi sebagai akibat pelanggaran itu akan menimpa dirinya sendiri. Sebab, dia telah menjadikan dirinya tidak mendapatkan pahala dan mengharuskan hukuman atas dirinya.

Balasan

Setelah diterangkan tentang ancaman bagi orang-orang yang melanggar dan membaiat Rasulullah , kemudian diterangkan tentang balasan bagi orang-orang yang memenuhi baiatnya. Allah SWT berfirman: Waman awfaa bimaa 'aahadaLlaah 'alayhi (dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah). Sebagaimana telah diterangkan, baiat tersebut adalah sumpah atau janji setia untuk membela Utsman yang dikabarkan dibunuh oleh orang-orang Quraisy.

Terhadap mereka, Allah SWT berfirman: Fasayu‘tiihi ajr[an] 'azhiim[an] (Maka Allah akan memberinya pahala yang besar). Menurut al-Qurthubi, ajr[an] azhiim[an] adalah Surga. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Qatadah. Tak jauh berbeda, al-Thabari juga memaknainya sebagai tsawaab[an] 'azhiim[an] (pahala yang besar). Menurutnya, dengan pahala tersebut Allah SWT memasukkannya ke dalan Surga sebagai balasan atas penunaian janjinya kepada Allah SWT dan kesabarannya bersama Rasulullah dalam kesulitan yang membuktikan keimanan.

Demikianlah. Orang-orang yang mengucapkan baiat kepada Rasulullah lalu melanggar janjinya, akan menjerumuskan dirinya kepada kerugian dan kemudharatan. Sebaliknya, jika mereka menunaikan janji setia mereka, mereka akan diberikan pahala yang besar. Wa-Llaah a'lam bi al-shawaab.[]

Ikhtisar:

1. Orang-orang yang mengucapkan baiat kepada Rasulullah mendapatkan pujian.

2. Barangsiapa yang melanggar janji setia maka itu menjerumuskan dirinya kepada kerugian dan kemudharatan.

3. Barangsiapa yang menunaikan janji setia, mereka akan diberikan pahala yang besar.[]

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 195

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam