insidewinme

Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Rabu, 01 Juli 2020

Dunia Hanya Permainan Dan Senda Gurau, Maka Jangan Menghalangimu Berjihad - TAFSIR QS Muhammad: 36-37



Oleh: Rokhmat S. Labib, MEI

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya) niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu.” (TQS. Muhammad [47]: 36-37)

Kehidupan dunia itu amat singkat. Terlebih jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang selama-lamanya. Jelas tidak ada apa-apanya. Oleh karena itu, kecintaan terhadap dunia tidak melupakan dan menghalangi manusia untuk beriman dan beramal shalih. Termasuk dalam memenuhi panggilan jihad.

Inilah di antara yang dikandung oleh ayat ini.

Hanya Permainan Dan Senda Gurau

Allah SWT berflrman: Innamaa al-hayaah al-dunyaa la’ib[un] wa lahw[un] (sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan sendagurau). Dalam ayat sebelumnya orang-orang Mukmin diseru agar tidak lemah dalam berjihad. Mereka juga dilarang meminta perdamaian dengan orang-orang kafir, sementara dalam posisi di atas mereka. Ditegaskan pula bahwa Allah SWT bersama mereka dan tidak akan menghilangkan amal-amal mereka.

Kemudian dalam ayat ini menggambarkan hakikat kehidupan dunia ini yang sebenarnya. Ditegaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah la'ib[un] wa lahw[un] (permainan dan senda gurau). Menurut Wahbah al-Zuhaili, al-la'ib adalah semua yang tidak bermanfaat di masa yang akan datang dan tidak melupakan perkara-perkara penting lain. Namun jika melupakannya, maka itu adalah al-lahw. Di antaranya adalah alat-alat musik. Sebab, itu melupakan yang lain.

Diterangkan Fakhruddin al-Razi, ini untuk menambah rasa senang. Artinya, bagaimana mungkin dunia bisa menghalangimu mencari akhirat dengan jihad padahal dunia tidak akan meninggalkanmu lantaran kamu akan diberikan pertolongan dan mendapatkan kemenangan? Apabila dunia meninggalkanmu, amalmu juga tidak akan berkurang, lalu bagaimana dan apa yang meninggalkanmu? Apabila ada yang hilang dan tidak diganti; semestinya kamu juga tetap tidak terpalingkan kepada dunia karena itu hanyalah la'ib wa lahw (permainan dan senda-gurau).

Dikatakan al-Khazin, la'ib wa lahw adalah baathil wa ghuruur (palsu dan tipuan). Artinya, bagaimana mungkin dunia bisa menghalangimu dalam mencari akhirat, padahal kamu mengetahui bahwa dunia seluruhnya adalah permainan dan senda gurau kecuali ibadah dan ketaatan kepada-Nya.

Ayat ini juga memberikan makna bahwa Allah SWT meremehkan dan menyepelekan urusan dunia. Demikian dikemukakan oleh Ibnu Katsir. Ibnu Athiyah dalam tafsirnya, al-Muharrar al-Wajiiz, berkata, "Firman Allah SWT ini meremehkan urusan dunia, maka janganlah kalian lemah dalam berjihad karenanya.”

Dengan demikian ayat ini, sebagaimana diterangkan para ulama mengingatkan manusia agar tidak tertipu dengan dunia sehingga meninggalkan jihad dan perintah Allah SWT lainnya.

Jika Beriman Dan Bertakwa

Kemudian Allah SWT berfirman: Wa in tu'minuu wa tattaquu (dan jika kamu beriman dan bertakwa). Jika dunia adalah permainan dan senda gurau, palsu, dan menipu, maka ada perkara lain yang tidak termasuk di dalamnya. Itulah keimanan dah ketakawaan. Ibnu Athiyah berkata, ”Inilah yang dituntut dari kalian, bukan yang lain."

Diterangkan Abdurrahman al-Sa'di, yang dimaksud dengan kamu beriman, adalah kamu mengimani akidah Islam. Yakni beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan Hari Kiamat, serta al-qadha dan al-qadar. Di samping itu juga mengerjakan ketakwaan kepada-Nya yang merupakan keharusan dan konsekuensi keimanan; yakni senantiasa mengerjakan amal yang diridhai-Nya dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya.

Ketika mereka mengerjakan perintah tersebut, yakni keimanan dan ketakwaan, maka pelakunya dijanjikan Allah SWT dengan firman-Nya: Yu'tikum ujuurakum (Allah akan memberikan pahala kepadamu).

Menurut al-Razi, idhaafah pada kata ujuurakum membuat kata tersebut menjadi ma'rifat (perkara yang diketahui). Artinya, pahala yang dijanjikan kepadamu adalah pahala yang telah diterangkan Allah SWT dalam firman-Nya: Wa ajr[un] kariim[un] (dan pahala yang mulia, TQS. Yasin [36]: 11), wa ajr[un] kabiir (pahala yang besar, TQS. Hud [11]: 11), dan wa ajr[un] 'azhim[un] (pahala yang agung, TQS. Ali Imran [3]: 172).

Jika Harta Diminta Semua

Kemudian Allah SWT berfirman: Wa laa yas‘alkum amwaalakum (dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu). Menurut al-Thabari, penggalan ayat ini memberikan pengertian bahwa Tuhanmu tidak meminta harta kalian. Akan tetapi, Dia memerintahkan kalian untuk mentauhidkan-Nya, melepaskan semua sesembahan selain-Nya, mengesakan penyembahan dan ketaatan kepada-Nya.

Tak jauh berbeda, menurut Ibnu Katsir, penggalan ayat ini juga memberitakan bahwa Allah SWT tidak memerlukan kalian dan meminta apapun dari kalian. Sesungguhnya Dia perintah kalian untuk bersedekah dengan harta atas kalian, ini adalah untuk menghibur saudara kalian yang fakir, agar manfaatnya dan pahalanya kembali kepada kalian.

Kalaupun meminta kalian mengeluarkan harta, namun tidak meminta semua hartamu. Dikatakan al-Zamakhsyari, penggalan ayat ini bermakna bahwa Allah SWT tidak meminta hartamu semuanya. Namun Dia hanya meminta 2,5 persen.

Lalu disebutkan: In yas‘alkumuuha fayuhfikum (jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu [supaya memberikan semuanya]). Pengertian yas‘alkumuuha adalah meminta hartamu semuanya. Demikian menurut al-Zamakhsyari dan al-Baidhawi.

Sedangkan kata fayuhfikum dalam ayat ini, menurut al-Jazairi, bermakna al-mubaalaghah fii thalab al-maal (melebihkan dalam meminta harta). Menurut al-Zamakhsyari dan al-Baidhawi, kata al-ihfaa’ dan al-ilhaaf merupakan mubaalaghah (ungkapan untuk melebih-lebihkan) hingga batas akhir. Dikatakan ahfaa syaaribahu (dia itu mencabut jambangnya), ketika dia ista‘shala (mencabut hingga akarnya).

Jika dilakukan, maka: Tabkhaluu (ni'scaya kamu akan kikir), yakni bakhil dan menolak permintaan-Nya, disebabkan oleh kekikiranmu terhadapnya. Akan tetapi Allah SWT mengetahui hal itu padamu dan keberatanmu, sehingga Dia pun tidak memintanya kepadamu. Demikian menurut al-Thabari.

Ayat ini pun diakhiri dengan fiarman-Nya: Wayukhriju adhghaanakum (dan Dia akan menampakkan kedengkianmu). Menurut al-Jazairi, penggalan ayat ini bermakna: ahqaadakum wa bughdhukum li diin al-Islaam (dendam dan kebencian kalian terhadap agama kalian). Tak jauh berbeda, Abdurrahman al-Sa'di juga menafsirkannya: mengeluarkan al-dhaghn (kedengkian) yang ada di dalam hatimu, ketika Dia meminta kalian mencurahkan sesuatu yang mereka benci.

Demikianlah. Dunia itu amat remeh dan sepele, hanyalah permainan dan sendagurau. Sebagai layaknya permainan, semestinya tidak boleh dianggap serius dan penting. Terlebih mengalahkan aktivitas yang jauh lebih penting darinya. Itulah beriman dan takwa. WalLaah a'lam bi al-shawaab.[]

Ikhtisar:

1. Dunia hanya permainan dan senda gurau, maka janganlah menghalangimu untuk berjihad dan amal shalih lainnya.

2. Barangsiapa yang beriman dan bertakwa akan diberikan pahala yang besar.

3. Allah SWT tidak memerintahkan untuk mengeluarkan semua harta yang dimiliki manusia.

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 188

Senin, 22 Juni 2020

Jangan Lemah Berjihad - TAFSIR QS Muhammad: 35



Oleh: Rokhmat S. Labib, MEI


Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu.” (TQS. Muhammad: 35)

Islam adalah dakwah. Agama yang memerintahkan umatnya untuk terus berdakwah dan menyebarkan agamanya ke seluruh dunia. Thariqah atau metode praktisnya adalah dengan berjihad fisabillah. Ini wajib diamalkan oleh umat Islam. Dalam hal ini, umat Islam tidak boleh lemah dan gentar menghadapimusuh-musuhnya. Ayat ini pun menerangkan beberapa sebab yang meniscayakan umat Islam tidak boleh merasa lemah dan meminta orang kafir berdamai.

Ketika Lebih Kuat

Allah SWT berfirman: Falaa tahinuu (janganlah kamu lemah). Dalam ayat sebelumnya, Allah SWT menegaskan bahwa orang-orang kafir dan menghalangi manusia dari jalan-Nya, kemudian mati dalam kafir tidak akan diampuni dosa-dosanya.

Kemudian dilanjutkan dengan ayat ini yang ditujukan kepada hamba-hamba-Nya yang Mukmin. Dikatakan oleh al-Khazin, khithaab atau seruan ayat ini ditujukan kepada para sahabat Nabi , kemudian berlaku umum untuk seluruh kaum Muslimin.

Mereka semua diserukan agar: Falaa tahinuu (janganlah kamu lemah). Makna kata al-wahn adalah al-dha’if (lemah), baik dari segi fisik maupun psikis, seperti dalam firman Allah SWT: Qaala innii wahana al-'azham minnii (Ia berkata "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah; TQS. Maryam [19]: 4). Juga firman-Nya: Famaa wahanuu limaa ashaabahum (Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka; TQS. Ali Imran [3]: 146). Demikian kata al-Raghib al-Asfahani dalam al-Mufradaat fii Gharib al-Qur‘aan.

Makna ini pula yang dikandung dalam ayat ini. Menurut Imam al-Qurthubi, penggalan ayat ini bermakna: ”Janganlah kalian lemah untuk berperang.” Al-Hafidz Ibnu Katsir juga berkata: ”Janganlah kalian lemah menghadapi musuh." Dikatakan pula oleh Ibnu Jarir al-Thabari, "Maka janganlah kalian lemah, wahai orang-orang yang beriman kepada Allah untuk berjihad melawan orang-orang musyrik dan takut memerangi mereka.”

Dengan demikian, ayat ini melarang umat Islam untuk bersikap lemah dalam berjihad menghadapi orang-orang kafir dan musuh-musuh mereka.

Kemudian disebutkan: Wa tad'uu ilaa al-salm (dan minta damai). Huruf al-wawu di sini adalah 'athf yang menyandingkan dengan kata sebelumnya: Falaa tahinuu (janganlah kamu lemah). Sehingga penggalan ayat ini juga merupakan larangan kepada Muslimin. Mereka dilarang meminta al-salm kepada orang-orang kafir. Makna al-salm adalah al-shulh (perjanjian damai). Demikian menurut Imam al-Qurthubi. Ibnu Katsir juga menafsirkannya sebagai al-muhaadanah wa al-musaalamah (perjanjian dan perdamaian), dan melakukan gencatan senjata antar kalian dengan orang-orang kafir.

Menurut al-Khazin, perdamaian yang dilarang oleh ayat ini adalah perdamaian yang sifatnya abadi. Mufassir tersebut berkata, ”Janganlah kalian mengajak orang-orang kafir kepada perdamaian selama-lamanya. Allah SWT telah melarang mereka untuk mengajak kepada orang-orang kafir kepada perjanjian dan memerintahkan untuk memerangi mereka hingga mereka menyerah."

Jika dikaitkan dengan perintah melakukan jihad dan perintah memerangi orang-orang kafir hingga mereka beriman atau menjadi ahli dzimmah yang tunduk terhadap hukum Islam dan membayar jizyah (lihat: QS. al-Taubah [9]: 29), kesimpulan tersebut menemukan benang merahnya. Itu juga yang diputuskan Rasulullah pada Perjanjian Hudaibiyyah. Dalam perjanjian tersebut, dibatasi dengan masa, yakni sepuluh tahun.

Lalu dilanjutkan dengan firman-Nya: Wa antum al-a'lawna (padahal kamulah yang di atas). Huruf al-wawu di sini merupakan wawu al-haal (yang menunjukkan keadaan). Artinya, larangan untuk berdamai dengan orang-orang kafir itu tatkala kalian dalam keadaan lebih kuat, dan lebih besar, baik jumlah kalian maupun persiapan kalian. Ibnu Katsir berkata, ”Yakni dalam keadaan kalian mengungguli musuh-musuh kalian."

Ketika Musuh Lebih Kuat

Manakala keadaannya sebaliknya, yakni orang-orang kafir lebih kuat dan lebih banyak jika dibandingkan dengan seluruh kaum Muslimin dan imam (atau khalifah ) pun memandang terdapat kemaslahatan pada perdamaian tersebut, maka dia bisa melakukannya.

Hal ini juga dilakukan oleh Rasulullah ketika beliau dihalang-halangi oleh kaum Quraisy untuk masuk ke kota Makkah. Mereka mengajak beliau untuk mengadakan perdamaian dan melakukan gencatan senjata antara mereka dengan beliau selama sepuluh tahun. Beliau pun menerima tawaran mereka. Demikian penjelasan Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Menurut Syihabuddin al-Alusi, sebagian ulama juga beristidlal dengan larangan ini bahwa tidak boleh melakukan perjanjian damai dengan orang-orang kafir kecuali dalam keadaan darurat; dan haramnya meninggalkan jihad kecuali dalam keadaan lemah. (ketika lemah maka harus berusaha untuk menjadi kuat)

Selanjutnya Allah SWT berfirman: WalLaah ma'akum (dan Allah pun bersamamu). Ini merupakan kabar gembira yang besar tentang pertolongan dan kemenangan mereka atas musuh-musuh mereka. Al-Qurthubi berkata, "Yakni dengan memberikan pertolongan dan bantuan.” Ini seperti firman Allah SWT: Wa innalLaah lama'a al-muhsiniin (dan sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat ihsan, TQS. al-Ankabut [29]: 69).

Ayat ini pun diakhiri dengan firman-Nya: Walan yatrakum a'maalakum (dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu). Menurut Ibnu Katsir, ini berarti: ”Dia tidak akan menghapus dan menghilangkan amal-amal kalian sedikitpun. Bahkan, Dia akan membalas kalian dengan pahala dan tidak akan mengurangi sedikitpun."

Menurut Abdurrahman al-Sa‘di, tiga perkara tersebut masing-masing meniscayakan kesabaran dan tiadanya sikap lemah.

Pertama, al-a'liina (lebih di atas). Ini berarti faktor-faktor yang menjadi sebab kemenangan bagi mereka telah terpenuhi. Di samping itu, mereka juga dijanjikan Allah SWT dengan janji yang benar. Patut dicatat, sesungguhnya manusia tidak akan merasa lemah kecuali dia merasa lebih rendah dan lebih lemah terhadap orang lain, baik dari segi jumlah maupun kekuatan, baik internal maupun eksternal.

Kedua, sesungguhnya Allah SWT bersama mereka. Hal ini disebabkan karena mereka adalah orang-orang Mukmin; dan Allah SWT pun bersama orang-orang Mukmin dengan bantuan, pertolongan, dan pengokohan. Ini mengokohkan jiwa dan keberanian mereka terhadap musuh-musuh mereka.

Ketiga, sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengurangi sedikitpun amal mereka. Sebaliknya, Dia akan membalas dengan sempurna pahala bagi mereka, menambah mereka dari karunia-Nya, khususnya dalam ibadah jihad. Sebab, infak jihad balasannya dilipatgandakan hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan lebih.

Demikianlah. Islam adalah agama yang diperuntukan bagi seluruh manusia. Sehingga, Islam mewajibkan Rasul dan umatnya untuk senantiasa mendakwahkan Islam. Untuk itu disyariahkan jihad sebagai thariqah atau metode praktis dalam menyebarkan Islam ke seluruh dunia. Jihad dalam rangka nasyr al-Islaam ilaa al'alaam (menyebarkan Islam ke seluruh dunia) dapat dilaksanakan dengan sempurna ketika khilafah  tegak. Wal-Laah a'alam bi al-shawaab.[]

Ikhtisar:

1. Umat Islam tidak boleh lemah dalam berjihad di jalan Allah SWT dan memerangi musuh-musuh-Nya.

2. Umat Islam hanya diperbolehkan melakukan perdamaian dengan orang kafir ketika kondisi mereka dalam keadaan lebih lemah dan khalifah  memandang terdapat kemaslahatan pada perdamaian tersebut.

3. Allah SWT bersama dengan orang-orang Mukmin dan akan membalas semua amalnya dengan sempuma.[]

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 187

Kamis, 18 Juni 2020

Hikmah al-Qur’an Diturunkan Secara Bertahap - TAFSIR al-Furqan: 32-33



Oleh: Rokhmat S. Labib, MEI

“Berkatalah orang-orang yang kafir: ”Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.” (TQS. al-Furqan [25]: 32-33).

Al-Qur’an tidak diturunkan sekaligus. Akan tetapi diturunkan secara berangsur-angsur. Yakni, mulai Nabi Muhammad diutus hingga menjelang beliau dipanggil ke haribaan-Nya. Sehingga, Al-Qur’an terus turun selama 23 tahun.

Realitas ini pun dijadikan objek pertanyaan oleh orang-orang kafir. Mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan sekaliqus saja. Maka, ayat ini pun menjawab pertanyaan mereka, sekaligus menjelaskan hikmah yang terkandung di dalam turunnya Al-Qur’an secara bertahap.

Tidak Sekaligus Diturunkan

Allah SWT berfirman: Wa qaala al-ladziina kafaruu lawlaa nuzzila 'alayhi al-Qur'aan jumlat[an] waahidat[an] (berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"). Dalam ayat sebelumnya diberitakan pengaduan Nabi tentang kaumnya yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang ditelantarkan dan ditinggalkan. Kemudian Nabi dihibur dengan ayat sesudahnya, bahwa realitas demikian tidak hanya dialami oleh beliau saja. Seluruh nabi memiliki musuh dari kalangan pelaku kejahatan.

Ayat ini pun kemudian memberitakan tentang syubhat lain yang dilontarkan oleh orang kafir terhadap Al-Qur’an. Al-Qur’an yang diturunkan secara berangsur-angsur dan tidak sekaligus dijadikan sasaran kritik oleh mereka.

Menurut Imam al-Qurthubi, ada perbedaan tentang siapa orang kafir yang mengatakan kalimat yang diberitakan dalam ayat ini. Pertama, mereka adalah orang-orang kafir Quraisy. Ibnu Abbas adalah di antara yang berpendapat demikian. Kedua, mereka adalah orang-orang Yahudi. Ketika mereka mengetahui Al-Qur’an secara terpisah-pisah, mereka pun berkata, ”Mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan kepadanya (Nabi Muhammad ) sekaligus saja, sebagaimana Taurat yang diturunkan kepada Musa, Injil kepada Isa, dan Zabur kepada Daud.”

Dalam ayat ini, Allah SWT mengabarkan banyaknya bantahan, pertanyaan mengada-ada, dan perkataan tidak berguna dari orang-orang kafir, ketika mereka mengatakan: Lawlaa nuzzila 'alayhi al-Qur‘an jumlat[an] waahidat[an]. Demikian dikatakan Ibnu Katsir ketika mengomentari ayat ini.

Mereka mempersoalkan mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan sekaligus, tetapi berangsur-angsur dan terpisah-pisah. Sehingga, pertanyaan yang mereka lontarkan sesungguhnya bukan untuk mendapatkan jawaban yang benar. Akan tetapi hanya merupakan tasykik (untuk menimbulkan keraguan) terhadap kebenaran Al-Qur’an. Ini semisal pernyataan dan pertanyaan mereka yang telah disebutkan dalam beberapa ayat sebelumnya, seperti mengapa rasul makan dan berjalan-jalan di pasar untuk mencari penghidupan, tidak diberikan kebun yang luas sehingga dapat mencukupi kebutuhannya, tidak diturunkan bersama rasul seorang malaikat, dan lain-lain.

Hikmah Turun Bertahap

Terhadap pertanyaan tersebut, Allah SWT menjawabnya dengan firman-Nya: Wakadzaalika linnutsabbita bihi fu'aadaka (demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya). Kata kadzaalika, berarti Kami turunkan Al-Qur’an secara terpisah-pisah. Demikian penjelasan Abdurrahman al-Sa'di dalam tafsirnya.

Bahwa diturunkannya secara bertahap adalah untuk mengokohkan dan memperteguh hati Rasulullah . Menjelaskan ayat ini, al-Qurthubi berkata: "Kami turunkan secara terpisah-pisah adalah untuk memperkuat hatimu dengannya sehingga kamu dapat memahami dan menghafalnya. Sesungguhnya kitab-kitab sebelumnya diturunkan kepada para nabi yang dapat membaca, sedangkan Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi yang ummi (tidak dapat menulis dan membaca). Di samping itu, di dalam Al-Qur’an juga terdapat naasikh (ayat yang menghapus hukum sebelumnya) dan mansuukh (ayat yang hukumnya dihapus), serta jawaban terhadap orang yang bertanya tentang sesuatu yang terjadi dalam waktu yang berbeda-beda. Maka menurunkannya secara terpisah-pisah agar lebih mudah dihafal oleh Rasulullah dan lebih mudah diamalkan orang yang mengamalkannya. Maka setiap kali turun wahyu yang baru, menambah kekuatan hati Nabi .” Demikian penjelasan al-Qurthubi dalam tafsirnya. Penjelasan senada juga dikemukakan al-Khazin dan lain-lain.

Kemudian Allah SWT berfirman: Warrattalnaahu tartiil[an] (dan Kami membacakannya secara tartil [teratur dan benarl). Menurut Fakhruddin al-Razi dalam tafsirnya, Mafaatiih al-Ghayb, frasa tersebut bermakna: “Kami terangkannya dengan benar-benar terang.” Dikatakan al-Jazairi, pengertian frasa tersebut adalah "Kami turunkan sedikit demi sedikit, ayat demi ayat, surat demi surat, untuk memudahkan dalam memahami dan menghafalnya."

Jawaban Pertanyaan

Kemudian dalam ayat berikutnya Allah SWT berfirman: Walaa ya’tuunaka bi mitsl[in]  (tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu [membawa] sesuatu yang ganjil). Menurut Ibnu Katsir, sesuatu yang dibawa semisal pertanyaan tersebut adalah hujjah (alasan) dan syubhah (sesuatu yang meragukan). Dikatakan Ibnu Abbas, sebagaimana dikutip Ibnu Katsir. Itu artinya, semua yang mereka lontarkan, baik berupa alasan, pernyataan yang meragukan, pertanyaan yang mengada-ada, dan sebagainya.

Terhadap semua alasan dan pernyataan yang meragukan yang dilontarkan orang kafir itu, dijawab oleh Allah SWT dengan jawaban yang benar dan penjelasan yang paling baik. Ini ditegaskan dalam firman Allah SWT selanjutnya: illaa ji’naaka bi al-haqq wa ahsana tafsiir[an] (melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya). Menurut Fakhruddin al-Razi, frasa ji’naaka bi al-haqq bermakna: ”Kami turunkan Jibril dengan membawa Al-Qur’an untuk membantah mereka.” Sedangkan frasa: wa ahsana tafsiir[an] bermakna: "Sebaik-baik penjelasan untuk membantah permusuhan mereka.” Dikatakan Ibnu Athiyah, ”Penjelasan yang paling jelas dan terperinci.”

Dijelaskan juga oleh Ibnu Katsir tentang makna ayat ini, ”Tidaklah mereka mengatakan suatu perkataan yang menentang kebenaran, kecuali Kami jawab mereka dengan jawaban yang benar pada perkara itu dan jawaban yang lebih jelas, lebih gamblang, dan lebih terang daripada perkataan mereka.”

Kemudian Ibnu Katsir berkata, ”Di dalam ayat ini terdapat perhatian besar untuk memuliakan Rasulullah karena datangnya wahyu kepada beliau pagi dan sore, siang dan malam, dan sedang berpergian maupun bermukim. Maka setiap kali malaikat datang kepada beliau dengan membawa Al-Qur’an, seperti ketika malaikat menurunkan kitab-kitab sebelumnya. Sehingga, ini merupakan kedudukan yang lebih tinggi, lebih mulia, dan lebih agung dibandingkan dengan seluruh nabi lainnya. Demikian pula, Al-Qur’an menjadi kitab paling mulia yang diturunkan Allah SWT; dan Nabi Muhammad juga nabi paling agung yang diutus Allah SWT. Sungguh Allah SWT telah mengumpulkan pada Al-Qur’an dua sifat secara bersamaan. Yakni, di Mala’ al-A’la Al-Qur’an diturunkan secara sekaligus dari al-Lauh al-Mahfudz ke Baitu al-'Izzah di langit dunia, kemudian setelah itu diturunkan ke dunia secara berangsur-angsur sesuai dengan realitas dan kejadian.”

Demikianlah. Orang-orang kafir selalu mencari-cari celah untuk meragukan kebenaran Rasulullah dan Al-Qur’an. Diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur tak luput dari kritik mereka. Namun, pernyataan mereka dijawab dengan jelas oleh ayat ini. Wal-Laah a'lam bi al-shawaab.[]

Ikhtisar:

1. Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur terdapat hikmah di dalamnya, yakni untuk mengokohkan hati Nabi  .
2. Di samping itu, juga menunjukkan kemuliaan dan keagungan Al-Qur’an dan Rasulullah  .
3. Semua pernyataan dan pertanyaan mengada-ada dari orang kafir diberikan jawabannya oleh Allah SWT dengan jawaban yang benar dan terang.[]

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 144


Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda