insidewinme

Sabtu, 08 Oktober 2016

Rasul SAW Berhasil Menegakkan Negara Islam


 

 
Daulah Islam haruslah ditegakkan dengan benar, secara syar’i, sehingga menjadi negara yang agung bobotnya, kuat kekuasaannya. Negara yang tidak di bawah kendali atau dominasi negara lain, mandiri militernya, sanggup menerapkan Islam di dalam negeri dan mengembannya ke luar negeri dengan dakwah dan jihad futuhat. Negara yang membuat negara-negara kafir gemetar. Negara Islam yang dicintai oleh Allah Swt., Rasul-Nya dan kaum Mukmin; yang memasukkan kebahagiaan di hati kaum Muslim dan memasukkan kemuliaan di negeri mereka.

Rasulullah akhirnya mendapat kesempatan berbicara dengan sekelompok yang datang dari Yatsrib (Madinah) ke kota Makkah yang merupakan sekutu Quraisy. Mereka dipimpin oleh Abu al-Haisar dan Anas bin Rafi’. Bersamanya ikut sekelompok orang dari Bani Asyhal, termasuk Iyas bin Mu’adz. Mereka merupakan representasi dari kabilah Khazraj yang merupakan kabilah Madinah yang kuat dan ahli perang. Kemudian Rasulullah berbicara dengan sekelompok pemuka Khazraj yang berjumlah 6 orang. Merekapun rela dengan tugas meyakinkan kaumnya. Sehingga pertolongan/perlin­dungan (nushrah) didapatkan melalui mereka.

Patut dicatat, sekelompok dari kabilah Khazraj tersebut mau menerima dakwah Rasulullah Saw. meskipun mereka mengetahui bahwa Beliau Saw. beserta gerakannya dipandang sebelah mata oleh mayoritas warga, ditolak, didustakan, dilarang dan ditindas oleh para petinggi Makkah.

Pada tahun berikutnya, mereka kembali menemui Rasulullah Saw. Jumlah mereka pada saat itu adalah 12 orang. Pada pertemuan itu terjadilah peristiwa Bai’at Aqabah I.
“'Ubadah bin Ash Shamit adalah sahabat yang ikut perang Badar dan juga salah seorang yang ikut bersumpah pada malam Aqobah, dia berkata; bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda ketika berada di tengah-tengah sebagian sahabat:
بَايِعُونِي عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا تَسْرِقُوا وَلَا تَزْنُوا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ وَلَا تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ تَفْتَرُونَهُ بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ وَلَا تَعْصُوا فِي مَعْرُوفٍ فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا ثُمَّ سَتَرَهُ اللَّهُ فَهُوَ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ وَإِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ

“Berbai'atlah kalian kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kalian, tidak membuat kebohongan yang kalian ada-adakan antara tangan dan kaki kalian, tidak bermaksiat dalam perkara yang ma'ruf. Barangsiapa di antara kalian yang memenuhinya maka pahalanya ada pada Allah dan barangsiapa yang melanggar dari hal tersebut lalu Allah menghukumnya di dunia maka itu adalah kafarat baginya, dan barangsiapa yang melanggar dari hal-hal tersebut kemudian Allah menutupinya (tidak menghukumnya di dunia) maka urusannya kembali kepada Allah, jika Dia mau dimaafkannya atau disiksanya." Maka kami membai'at Beliau untuk perkara-perkara tersebut.” (Shahih Bukhari no.17)

Lalu dikirimlah Mush’ab bin Umair ke kota Madinah untuk membina orang-orang yang telah memeluk Islam, menyebarluaskan risalah Islam, meraih dukungan dari tokoh-tokoh kabilah, dan mempersiapkan pondasi masyarakat untuk membangun peradaban Islam dalam format Daulah Islamiyah. Pada musim haji tahun berikutnya datang 73 laki-laki dan 2 orang wanita dari Madinah. Mereka bersedia menyerahkan loyalitasnya hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, serta siap sedia untuk membela dan memperjuangkan risalah Islam dari ancaman musuh-musuh Islam. Peristiwa tersebut dikenal sebagai Bai’at Aqabah II.

Pada tahun ke-12 kenabian, Rasulullah mendapatkan nushrah dari kaum Anshar. Kaum yang juga telah dibina itu menyerahkan kekuasaan mereka di Yatsrib (Madinah) kepada Rasulullah Saw. tanpa syarat. Kaum Anshar termasuk para petingginya ridha dengan sistem yang diridhai Allah dan Rasul-Nya serta meninggalkan sistem kufur sepenuhnya.

Keberhasilan thalab an-nushrah ini ditandai dengan peristiwa Bai’at ‘Aqabah I dan II. Bai’at ‘Aqabah I adalah bai’at oleh kaum Anshar untuk menyatakan keIslaman, disertai dengan segala konsekuensinya, seperti meninggalkan zina, tidak mencuri, dan sebagainya. Sedangkan Bai’at ‘Aqabah II adalah bai’at untuk memberikan perlindungan kepada Nabi dan Islam, sebagaimana melindungi diri, harta dan keluarga mereka. Karena itu, Bai’at II ini menandai penyerahan kekuasaan dari kaum Anshar kepada Nabi Saw. secara de yure.

Dari Jabir bin Abdullah disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kalian (kaum Anshor) berbaiat kepadaku untuk mendengar dan taat baik dalam keadaan semangat maupun malas, dan berinfak baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Untuk ber-amar ma'ruf dan nahi munkar. Kalian berkata karena Allah untuk tidak takut karena Allah terhadap orang yang mencela. Kalian menolongku dan menghalangi (musuh) jika saya datang kepada kalian sebagaimana kalian melindungi kalian sendiri, istri-istri kalian dan anak-anak kalian. Niscaya kalian mendapatkan Syurga." (HR. Ahmad no.13934)

Sebelum kekuasaan Islam terwujud memang telah terjadi pembinaan Islam yang sangat intensif di tengah-tengah masyarakat Madinah oleh Sahabat Beliau Saw., Mush’ab bin Umair ra. Akhirnya, Islam menjadi opini umum di tengah-tengah masyarakat Madinah kurang lebih hanya dalam waktu 1 tahun. Pada saat itulah, para pemimpin dari suku Aus dan Khazraj akhirnya memberikan penuh dukungan dan kekuasaannya kepada Nabi Saw. melalui peristiwa Baiat Aqabah II di Bukit Aqabah. Daulah Islam ditegakkan, dengan izin Allah, melalui tangan-tangan ksatria yang perdagangan dan jual-beli tidak bisa melenakan mereka dari mengingat Allah.

Setelah Bai’at Aqabah II itu, Nabi Saw. menyuruh para sahabat untuk hijrah ke Madinah. Baginda Saw. dengan ditemani Abu Bakar ra. kemudian menyusul mereka.

“dari 'Aisyah radliallahu 'anha, dia berkata, "Abu Bakar pernah meminta izin kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk hijrah ketika gangguan (orang-orang Quraisy) semakin menjadi-jadi, lalu Beliau bersabda kepadanya: "Berdiam saja dulu." Abu Bakar berkata, "Wahai Rasulullah, apakah anda hendak menunggu perintah (Allah)?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku berharap hal itu." (Shahih Bukhari no.3784)

Suraqah bin Ju'syam berkata: “Aku berkata kepada Beliau (Saw.): "Sesungguhnya kaum anda telah membuat sayembara berhadiah atas engkau." Lalu aku menceritakan kepada mereka apa yang sedang diinginkan oleh orang-orang atas diri Beliau. Kemudian aku menawarkan kepada mereka berdua perbekalan dan harta bendaku, namun keduanya tidaklah mengurangi dan meminta apa yang ada padaku. Akan tetapi Beliau berkata: "Rahasiakanlah keberadaan kami." (Shahih Bukhari no. 3616) Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melanjutkan perjalanan.

Ibnu Syihab berkata; telah mengabarkan kepadaku 'Urwah bin Az Zubair: “Kaum Muslimin di Madinah telah mendengar keluarnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dari Makkah, dan mereka setiap pagi pergi ke Harrah untuk menyambut kedatangan Beliau sampai udara terik tengah hari memaksa mereka untuk pulang. Pada suatu hari, ketika mereka telah kembali ke rumah-rumah mereka, setelah menanti dengan lama, seorang laki-laki Yahudi naik ke atas salah satu dari benteng-benteng mereka untuk keperluan yang akan dilihatnya, tetapi dia melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan shahabat-shahabatnya berpakaian putih yang hilang timbul ditelan fatamorgana (terik panas). Orang Yahudi itu tidak dapat menguasai dirinya untuk berteriak dengan suaranya yang keras: "Wahai orang-orang Arab, inilah pemimpin kalian yang telah kalian nanti-nantikan." Serta merta Kaum Muslimin berhamburan mengambil senjata-senjata mereka dan menyongsong kedatangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di punggung Harrah. Beliau berdiri berjajar dengan mereka di sebelah kanan hingga Beliau singgah di Bani 'Amru bin 'Auf. Hari itu adalah hari Senin bulan Rabi'ul Awwal.” (Shahih Bukhari no. 3616)

Sesampainya, Beliau disambut sebagai seorang pemimpin dan kepala negara Islam, de facto. Semuanya ini membutuhkan waktu, karena memang Nabi Saw. hendak mewujudkan negara, membangun masyarakat dan peradaban yang luhur nan mulia.

Allah Swt. memberikan janji pertolongan-Nya kepada umat Islam yang berjuang sesuai tuntunan-Nya.
وَلَيَنْصُرَنَّ اللهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al Hajj: 40)

وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِندِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Anfal [8]: 10)

Jadi, thalabun-nushrah adalah ujung dari satu-satunya metode sahih dalam usaha meraih kekuasaan untuk Islam, karena hal ini ditunjukkan secara nyata oleh Baginda Rasulullah Saw. dalam perjuangannya. 


“Katakanlah, “Kebenaran telah datang dan kebathilan telah lenyap. Sungguh, kebatilan itu pasti lenyap.” (QS. al-Isra’ [17]: 81)

Tugas umat Islam adalah menyampaikan kebenaran apa adanya. Ketika kebenaran tampak maka kebathilan akan lenyap. Kebathilan hanya akan tampak kebathilannya dan akan kalah ketika kebenaran disuarakan dengan lantang.


“Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang bathil lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang bathil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya).” (QS al-Anbiya’ [21]:18)

Tanpa amar ma’ruf nahi munkar yang terang maka kebathilan akan terus merajalela. Diam dari menyatakan kebenaran adalah amalan yang buruk. Membiarkan kebathilan adalah amalan yang buruk.

Harus diingat, thalabun nushrah adalah aktivitas politik, bukan aktivitas militer. Aktivitas militer bisa dilakukan bersama ahlun-nushrah setelah terwujud kekuasaan dan kekuatan riil itu bagi Islam. Setelah tegaknya daulah Islam tentu kekuatan militer menjadi kebutuhan yang wajib untuk terus diperkuat....


Rabu, 28 September 2016

Membongkar tipudaya petinggi dzalim


  

Petinggi yang zalim berdampak atas orang banyak dengan kezalimannya– tak layak diikuti dan harus dipahamkan kepada umat penyimpangannya:


“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina; yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah; yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa; yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya; karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak.” (QS. Al-Qalam: 10-14)


“Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (al-Qur’an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui,” (QS. Al-Qalam: 44)

Karena itu, merupakan keharusan untuk menjelaskan dan membongkar makar, tipudaya dan strategi mereka. Dengan begitu, umat selamat dari makar mereka dan tidak bisa dijadikan alat oleh mereka. Ini merupakan bagian dari perjuangan politik (kifâh as-siyasî) yang harus dilakukan.

Meski dakwah politik itu berat dan sungguh tidak mudah, di balik itu dakwah politik mempunyai keutamaan yang justru tidak sedikit. Mereka yang melaksanakannya insyaAllah akan mendapat pahala yang agung (tsawab[un] ‘azhim) karena dianggap melakukan jihad yang paling utama (afdhal al-jihad). Kalaupun sampai mati dalam menjalankan dakwah politik, itu bukan mati konyol atau mati sia-sia, melainkan mati syahid yang sangat mulia di sisi Allah Swt. InsyaAllah.

Al-Hafizh Abu Zakariya bin Syarf an-Nawawi dalam Riyaadh ash-Shaalihiin menyebutkan:
Hadits dari Abu Sa’id al-Khudri ra., Nabi -shallallaahu ‘alayhi wa sallam-, pernah bersabda:
أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَة عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
“Jihad yang paling utama adalah perkataan yang haq kepada penguasa yang zhalim.” (HR. Imam at-Tirmidzi dalam Bab. al-Fitan No.2175 dan Abu Dawud)

Hadits dari Abu Abdullah Thariq bin Syihab al-Bajali bahwa seorang pria bertanya kepada Nabi -shallallaahu ‘alayhi wa sallam-: “Jihad apa yang paling utama?” Nabi -shallallaahu ‘alayhi wa sallam- menjawab:
كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
“Perkataan yang haq di hadapan penguasa yang zhalim.” (Imam an-Nasa’i meriwayatkannya dalam Bab Fadhl Man Takallama bil Haq ’Inda Imaam Jaa’ir; Imam al-Mundziri menyatakan dalam at-Targhiib bahwa sanad hadits ini shahih (Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan at-Tirmidz, al-Hafizh al-Mubarakfuri, juz. VI/ hlm. 396)

Menjelaskan hadits ini, Dr. Mushthafa al-Bugha menuturkan: “Sesungguhnya perbuatan menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar di hadapan penguasa yang zhalim termasuk seutama-utamanya jihad, karena perbuatan tersebut menunjukkan sempurnanya keyakinan pelakunya, di mana ia menyampaikannya di hadapan penguasa yang zhalim nan otoriter dan ia tak takut terhadap kejahatan dan penindasannya, bahkan ia menjual dirinya untuk Allah (berkorban demi memperjuangkan agama Allah), … dan dalam perkara ini terdapat bahaya yang lebih besar ketimbang bahaya peperangan di medan perang.” (Nuzhat al-Muttaqiin Syarh Riyaadh ash-Shaalihiin, Dr. Mushthafa al-Bugha dkk., juz. I/ hlm. 216-217)

Dalam riwayat lainnya dari Imam at-Tirmidzi, dari Abu Sa’id al-Khudri:
إِنّ مِنْ أَعْظَمِ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
“Sesungguhnya di antara seagung-agungnya jihad adalah menyampaikan kalimat yang adil di hadapan penguasa yang zhalim.” (HR. At-Tirmidzi)

Al-Hafizh Abu al-A’la al-Mubarakfuri (w. 1353 H) menjelaskan bahwa: “(كلمة عدل) yakni kalimat yang benar sebagaimana dalam riwayat lainnya dan maksudnya adalah kalimat yang mengandung faidah menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar baik berupa lafazh di lisan atau yang semakna dengannya seperti tulisan dan yang semisalnya.” (Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan at-Tirmidzi, al-Hafizh al-Mubarakfuri, juz.VI/ hlm.396)
 

Minggu, 18 September 2016

Perjuangan Politik Ideologi Islam



Aktivitas politik terbagi menjadi dua bagian: ash-Shira' al-fikri dan aI-kifah as-siyasi. Ash-Shira' al- fikri adalah pergulatan melawan seluruh akidah kufur berikut sistem dan pemikirannya. Ash-Shira' aI-fikri juga berarti pergulatan menentang berbagai akidah yang rusak, pemikiran yang keliru, dan pemahaman yang rancu. Dalam tulisan kali ini, kita hanya akan membahas tentang aI-kifah as-siyasi (perjuangan politik). aI-Kifah as-siyasi intinya adalah perjuangan menantang dan menentang negara-negara kafir imperialis serta mengungkap segala persekongkolan mereka. aI-Kifah as-siyasi juga berarti perjuangan menghadapi penguasa negeri-negeri kaum Muslim, mengkritik dan menasihati mereka, serta mengubah perilaku mereka sehingga bersedia melaksanakan sistem hukum Islam. Inilah yang akan kita bahas lebih jauh -dengan izin Allah- dalam tulisan ini.

Di samping ayat-ayat Al-Qur’an, terdapat sejumlah hadits yang banyak sekali menjelaskan masalah ini. Di bawah ini, kita akan menyebutkan sebagiannya. Ibnu Mas'ud ra. menuturkan bahwa Rasul Saw. pernah bersabda sebagai berikut (artinya): “Sesungguhnya kelemahan pertama pada Bani Israel adalah ketika seseorang bertemu dengan orang lain dan berkata, 'Fulan, bertakwalah kamu kepada Allah dan tinggalkan apa yang sedang kamu kerjakan, sebab hal itu terlarang bagimu.” Kemudian orang tersebut bertemu lagi pada keesokan harinya dengan orang yang diajak bicara itu, sementara yang bersangkutan tetap dalam keadaannya seperti sebelumnya. Akan tetapi, orang tersebut tidak melarangnya. Dia malah menjadi teman makan dan minumnya sekaligus kawan duduknya. Ketika mereka melakukan hal demikian, Allah menghancurkan kalbu-kalbu mereka satu sama lain.” Rasulullah Saw. lantas membaca ayat Al-Qur'an (artinya), “Telah dilaknati orang-orang kafir dari kalangan Bani Israel dengan lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu disebabkan karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan kemungkaran yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kalian melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang kafir. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka sendiri, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka, dan mereka akan kekal di dalam siksaan-Nya. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi Musa, dan kepada wahyu yang diturunkan kepadanya, niscaya mereka tidak akan menjadikan orang-orang musyrik sebagai penolong. Akan tetapi, kebanyakan mereka adalah termasuk orang-orang yang fasik. (TQS. 5:78-81).
Kemudian beliau bersabda, “Jangan begitu. Demi Allah, kalian memilih melakukan amar makruf nahi mungkar -mencegah orang berbuat zalim dan mengembalikannya ke lingkaran yang haq sehingga ia hanya ada dalam lingkaran yang haq saja- atau kalian menghendaki agar Allah kelak menghancurkan kalbu-kalbu kalian satu sama lain, kemudian Dia benar- benar akan melaknat kalian sebagaimana Dia melaknat mereka.” (HR. Abu Dawud dan At-Turmudzi)

Rasulullah Saw. juga bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Abu Sa'id al-Khudri, sebagai berikut: “Jihad yang paling baik adalah ucapan yang haq di hadapan penguasa zalim.” (HR. Abi Dawud dan At-Turmudzi).

Abu Bakar ash-Shiddiq ra. pernah bertutur sebagai berikut: “Wahai manusia, sesungguhnya kalian telah membaca ayat ini: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian, tiadalah orang yang sesat itu akan memudaratkan kalian apabila kalian telah mendapatkan petunjuk. (TQS. 5:105) Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya apabila seorang manusia melihat manusia lain berbuat zalim, sementara dia tidak mencegahnya, pastilah Allah akan menimpakan hukuman-Nya kepada semuanya.” (HR. Abu Dawud, At-Turmudzi, dan An-Nasa'i)

Dengan demikian, dalil-dalil di atas seluruhnya berisi tentang perintah untuk melawan kezaliman, khususnya kezaliman para pemimpin dan penguasa, karena mereka adalah para pemuka masyarakat dan di tangan merekalah kekuasaan itu.

AI-kifah as-siyasi (perjuangan politik) juga mencakup upaya membongkar berbagai persekongkolan serta sepak-terjang para penguasa dan pemimpin yang ada di hadapan rakyat. Dengan itu, rakyat akan dapat mengetahui dengan jelas hakikat para penguasa mereka.

Karena faktor inilah Abu Jahal, Abu Sufyan, 'Umayyah ibn Khalaf, Walid ibn Mughirah, dan yang lainnya berkumpul di Dar an-Nadwah untuk merundingkan perilaku Muhammad Saw. dan dakwahnya yang baru itu, sebelum orang-orang Arab datang ke Makkah untuk haji. Pada saat itu, persoalan Muhammad Saw. telah begitu menyusahkan mereka, membuat mereka susah tidur, dan mengguncang kepemimpinan mereka atas kaum Quraisy. Mereka ingin mengambil satu pendapat yang bisa memanipulasi dakwah baru itu dan mendistorsikan pemikiran-pemikirannya.

Setelah melakukan dialog dan diskusi, mereka sepakat untuk mendatangi orang-orang Arab yang datang ke kota Makkah pada saat musim haji, dan memperingatkan mereka agar tidak mendengarkan “ocehan” Muhammad Saw. Sebab, Muhammad Saw. dianggap memiliki kata-kata yang mampu menyihir seseorang, sering mngucapkan kata-kata yang dapat memisahkan seseorang dari istrinya, dari keluarganya, dan bahkan dari kaumnya. Akan tetapi, Allah kemudian menyingkap persekongkolan ini kepada Rasulullah Saw. dalam firman-Nya (artinya):
“Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan. Celakalah dia, bagaimana dia menetapkan? Celakalah dia, bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan, lalu dia bermuka masam dan merengut. Dia lantas berpaling [dari kebenaran] dan menyombongkan diri. Selanjutnya dia berkata. “(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia. Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Saqar.” (TQS. al-Mudatstsir [74]: 18-26)

Sebagaimana Al-Qur’an telah menyingkapkan persekongkolan para penguasa Arab Jahiliah kepada Rasulullah Saw., Al-Qur’an pun menyingkap pula persekongkolan para pemimpin kufur dan para wali setan. Orang Yahudi di Madinah mengaku beriman kepada Muhammad Saw. Mereka bersikap seolah-olah beriman, tetapi sesungguhnya tetap kafir. Hal ini dilakukan dengan memberi kesan kepada mereka seolah-olah dirinya memiliki niat ikhlas karena Allah; tidak mendustakan Muhammad Saw.

Persekongkolan keji bisa menarik orang-orang yang berakal lemah. Akan tetapi, Allah Swt. membongkar persekongkolan jahat kepada orang-orang Mukmin dan memperingatkan mereka dari para pemimpin kafir dan wali-walil setan. Allah berfirman: “Apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kalian sebagaimana orang-orang lain telah beriman, mereka akan menjawab, “Haruskah kami beriman sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak menyadarinya. Apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.” Sebaliknya, apabila mereka telah kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian dengan kalian. Kami hanyalah berolok-olok.” Allah kemudian membalas olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.” (TQS. al-Baqarah [2]: 13-15)

Allah juga membongkar berbagai makar yang telah diarahkan kepada orang-orang beriman di dalam masjid dhiror yang bertujuan untuk memusnahkan mereka semuanya. Allah Swt. berfirman: “Di antara orang-orang munafik itu ada orang-orang yang menjadikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (bagi orang-orang Mukmin), kekafiran, dan memecah-belah orang-orang Mukmin, serta untuk menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dulu. Mereka sesungguhnya bersumpah, “Kami tidak menghendaki apapun selain kebaikan.” Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta. Janganlah kalian menunaikan shalat di dalam masjid itu selama-selamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan di atas dasar ketakwaan sejak hari pertama adalah lebih patut untuk kalian jadikan tempat menunaikan shalat. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin menyucikan diri. Allah menyukai orang-orang yang suci. Oleh karena itu, apakah orang-orang yang mendirikan masjid di atas dasar ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya itu yang dipandang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunan itu jatuh bersama-sama dengan mereka ke dalam Neraka Jahanam? Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (TQS. 9:107-109)

Semua ini merupakan bentuk persekongkolan terhadap kaum Muslim yang dirancang secara apik. Sesungguhnya persekongkolan keji dan kotor masih terus dirancang sampai saat ini, yang dikomandoi oleh para imperialis kafir dan para wali setan di tengah-tengah masyarakat kita. Tujuannya tidak lain untuk meruntuhkan pertahanan umat Islam dan membuat mereka ragu terhadap agama Islam. Mereka menuduh orang-orang yang ikhlas dari kalangan kaum Muslim dengan tuduhan-tuduhan yang aneh seperti “teroris”, “ekstremis”, “memiliki motif-motif politik jahat”, “ingin mendapatkan kursi kekuasaan”, serta berbagai tuduhan dan celaan buruk lainnya yang tidak didukung oleh fakta sama sekali. Padahal pada hakikatnya, para pemimpin imperialis dan penguasa itulah kaum ekstremis yang sebenarnya.

Pada kenyataannya, orang-orang ikhlas dari kalangan putra-putra kaum Muslim ini justru senantiasa berusaha hidup berdasarkan Islam. Mereka tidak ingin menyimpang dari Islam, amat berbeda dengan para penguasa neoimperialis itu.

Dalam kaitannya dengan persoalan terorisme, semua orang telah menyaksikan sendiri bahwa kediktatoran yang kejam dan teror militer justru dilakukan oleh para penguasa terhadap bangsa mereka sendiri. Tidak ada seorangpun yang meragukan bahwa kediktatoran mereka diwarnai oleh tindak penyiksaan menggunakan alat-alat yang sadis, penghancuran tubuh, penggerebekan rumah-rumah pada malam hari ketika mereka tidur, dan dikumpulkannya para pemuda Muslim -terutama para pemuda yang giat berdakwah untuk mengubah fakta masyarakat yang dekaden. Semua itu tidak pernah dilakukan oleh gerakan-gerakan lslam, meskipun mereka selalu dituduh memiliki senjata dan pistol untuk membela diri.

Sementara itu, kaitannya dengan ambisi politik, perlu dipertanyakan, siapa sesungguhnya yang memiliki sifat buruk itu? Tentu pada diri orang-orang yang berkonspirasi tidak mau menyentuh dan tersentuh hukum-hukum Islam. Sebaliknya, ketamakan politik tidak pernah ditemukan pada orang-orang yang rela meninggalkan kampung halaman mereka, dan menghadapkan dada-dada mereka di depan moncong pistol para penguasa zalim, dibalut sikap pasrah mereka untuk Allah, agama, dan Rasul-Nya; serta bertawakal kepada Allah dalam upaya mengubah kezaliman yang membatu. Semua itu mereka lakukan dalam rangka melepaskan umat ini dari belenggu ketaatan terhadap para penguasa sistem tidak-Islam.

Al-Qur'an membongkar segala bentuk persekongkolan dan makar secara terang-terangan. Al-Qur’an juga, secara langsung ataupun melalui isyarat, menyebut nama dan menjelaskan ciri-ciri orang yang melakukan persekongkolan itu. Al-Qur`an juga menyebutkan nama-nama para wali setan dari kalangan para penguasa dan kroninya. Al-Qur'an secara terus terang berbicara tentang Fir'aun, Hamman, Qorun, dan Samiri; juga berbicara tentang Abu Jahal, 'Umayyah ibn Khalaf, dan yang lainnya. Oleh karena itu, para pengemban dakwah wajib membongkar sekaligus membeberkan kepada umat, tokoh-tokoh yang memiliki persekongkolan jahat terhadap kaum Muslim dari kalangan penguasa sistem bukan-Islam dan kroninya, para pemikir dan politikus ataupun para penulis dan propagandis yang mendukung mereka. Tujuannva adalah agar umat mengetahui hakikat mereka yang sebenarnya, sehingga umat waspada terhadap berbagai makar mereka.

Dalam hal ini ada sebagian dari penguasa yang “membuta”, mereka menjalankan berbagai strategi Barat demi uang dan kekuasaan. Karena agen-agen Barat inilah, kita menyaksikan umat ini terancam musnah, hancur, ataupun dijual murah di pasar-pasar politik internasional.

Di samping para penguasa melakukan praktik keagenan yang memalukan, maka sebagian para pemikir, politikus, sastrawan, juga para jurnalis melakukan hal yang sama dengan cara-cara tertentu. Mereka semuanya bergabung dengan para neo-imperialis untuk melakukan tindakan destruktif di tengah-tengah umat. Mereka menyuntikan berbagai racun yang merusak akidah dan syariah, menebarkan polusi pemikiran. Mereka semuanya mesti dihadapi oleh umat. Kemunkaran mereka mesti dibongkar dan dibeberkan tanpa perlu ditutup-tutupi. Dengan cara seperti ini, masyarakat diharapkan bisa menolak keburukan-keburukan mereka.

Berbagai rencana telah dirancang oleh mereka, seperti persekongkolan luar negeri, desas-desus, dan berbagai makar yang ditujukan kepada umat. Kaum Muslim wajib pula mengetahui berbagai peristiwa yang berputar di sekitar mereka dan berbagai bahaya yang mungkin menimpa mereka. Sebab, berbagai makar dan persekongkolan yang dilakukan oleh neokolonialis terhadap umat Islam ditujukan untuk melemahkan kaum Muslim, untuk kemudian menguasai mereka beserta segala kekayaannya.

Maka, penting sekali bagi pengemban dakwah untuk memperhatikan politik Internasional, mengikuti berbagai peristiwa yang terjadi, dan menyaring segala berita yang bermanfaat bagi mereka. Semua itu untuk dijadikan bahan analisis mereka terhadap situasi politik yang berkembang. Ada sebuah teladan bagus dalam perdebatan antara kaum Quraisy dan Sahabat Nabi membahas peperangan antara Persia dan Romawi, diabadikan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya: “Alif lam mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi di negeri yang terdekat. Mereka, sesudah dikalahkan itu, akan menang dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu, bergembiralah orang-orang yang beriman.” (TQS. ar-Rum [30]:1-4)

Persia dan Romawi ketika itu adalah dua negara adidaya di dunia. Pertarungan antar keduanya dalam memperebutkan wilayah-wilayah mereka terus berlangsung berabad-abad. Kalah dan menang silih berganti. Ketika itu, sebagian wilayah Arab terbagi menjadi dua; sebagian menjadi wilayah jajahan Romawi dan sebagian lain menjadi jajahan Persia. Kekuasaan Persia atas wilayah-wilayah Arab telah mencapai Yaman. Sementara itu, kekuasaan Romawi telah melingkupi semenanjung Arab berbatasan dengan Yordania. Memperhatikan keadaan dua negara ini merupakan keharusan bagi kaum Muslim saat itu. Mereka mengikuti berbagai peristiwa dan kejadian politik saat itu karena berpengaruh terhadap mereka dan tujuan mereka. Ketika itu, terjadi dialog antara Abu Bakar dengan orang-orang Quraisy. Kedua belah pihak berdebat tentang manakah yang akan memenangkan peperangan. Persiakah atau Romawi.

Setiap organisasi politik wajib menyibukkan diri dengan aktivitas perjuangan politik. Menyadari sepenuhnya berbagai fakta dan apa saja yang ada di sekitar mereka. Telah jelas bagi kita, nasihat Nabi Saw. kepada para sahabatnya tatkala diperintahkan untuk berhijrah ke Habsyah, “Apabila kalian pergi menuju Habsyah, sesungguhnya di sana ada seorang raja yang tidak berlaku zalim terhadap seorangpun. Habsyah adalah bumi yang benar sampai Allah menjadikan bagi kalian jalan keluar terhadap masalah yang kalian hadapi.”

Rasulullah Saw tidak berpikir untuk menyuruh kaum Muslim berhijrah kepada salah satu kabilah Arab. Sebab, mereka nyata-nyata telah menolak dakwah beliau. Sementara Yaman, pada waktu itu merupakan jajahan Persia yang belum menganut agama samawi. Di samping itu, sejarah sendiri telah membuktikan kebenaran pandangan beliau. Kisra telah menulis surat kepada Badzan, kaki tangannya di Yaman, yang berbunyi, “Utuslah kepada orang yang berada di Hijaz itu (Muhammad) dua orang laki-laki yang kuat yang kamu miliki [untuk ditangkap]. Hendaklah kedua orang itu membawa lelaki tadi kepadaku.

Dewasa ini, di hadapan kita terdapat banyak sekali aktivitas dan strategi yang dirancang oleh negara-negara imperialis seperti berbagai kesepakatan dan perjanjian atau pakta pertahanan di bidang politik, ekonomi, dan kebudayaan yang berarti turut campur tangan terhadap negeri-negeri kaum Muslim. Contohnya adalah perjanjian militer yang dilakukan oleh negara-negara Teluk dengan AS, Inggris, dan Prancis. Keikutsertaan mereka dalam koalisi internasional yang dipimpin AS untuk memukul Irak. Begitu pula perjanjian-perjanjian ekonomi antara negeri-negeri Muslim dengan IMF; perjanjian-perjanjian kebudayaan yang ditandatangani oleh Tunisia, Maroko, Aljazair, dan Lebanon dengan Perancis; berbagai persekongkolan untuk mengeksploitasi gerakan intifadah sehingga membuat warga Palestina tersiksa, dan mendorong mereka untuk bersikap “pasrah” atas nama perdamaian; pemanfaatan demokrasi di beberapa negeri Islam untuk menyulut perang saudara dan bentrokan berdarah di dalam tubuh umat Islam seperti yang terjadi di Aljazair, Nigeria, dan Afganistan, juga pemanfaatan referendum yang ditawarkan PBB atas wilayah Sahara Barat, dan Timor Timur, meskipun hal itu berarti memecah-belah kaum Muslim dan melemahkan mereka.

Demikianlah, perjuangan politik (aI-kifah as-siyasi) wajib dilakukan oleh berbagai jamaah Islam dan organisasi kepartaian. Mereka harus berusaha untuk mencari dan mengungkap semua itu kepada umat yang tidak mengetahuinya. Jika ini disadari dan dijalankan oleh jamaah Islam atau organisasi kepartaian, maka mereka telah memiliki syarat-syarat yang sempurna untuk beraktivitas di bidang ash-Shira' al-fikri dan aI-kifah as-siyasi. Dengan demikian, mereka bisa menjamin diri mereka sendiri beserta umat yang beraktivitas bersama mereka untuk mengubah peta politik dunia. Tujuannya tidak lain adalah untuk memperbaiki dunia; menyelamatkan seluruh manusia dari kegelapan dan kebodohan; menggiring mereka menuju kebangkitan, kemajuan, dan kesadaran politik Islam yang tinggi. Bila hal ini dimiliki umat, maka mereka akan mampu melanjutkan kehidupan Islam dengan mendirikan Daulah Khilafah. Mereka bisa menjamin eksistensi diri mereka secara terus-menerus di tengah banyak negara, yang sebagian besarnya adalah kaum imperialis yang selalu mengintai mereka.

Benarlah firman Allah Swt. yang menyebutkan: “Seandainya Allah tidak menolak keganasan sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya akan rusaklah bumi ini. Akan tetapi, Allah adalah Pemilik karunia yang dicurahkan atas alam semesta. (TQS. 2:251)
Seandainya Allah Swt. tidak mengaruniai orang-orang shalih kekuasaan -yang haq, yang diridhai Allah- yang membela mereka dalam pertarungan melawan orang-orang yang berbuat kerusakan dan orang-orang sesat, kekuasaan yang menghalangi mereka dari kekufuran dan kezaliman, niscaya akan rusak dan akan hilanglah tempat-tempat kebaikan di muka bumi.
Referensi: artikel “PERGULATAN PEMIKIRAN DAN PERJUANGAN POLITIK,” Majalah al-Wa’ie edisi 2

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda