insidewinme

Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Rabu, 20 Januari 2021

Mewujudkan Islam Rahmatan lil ‘Alamin



Sejak Khilafah Islamiyah dihancurkan oleh Mustafa Kamal Attaturk 28 Rajab 1342 H –dengan dukungan Inggris dan sekutunya- kaum Muslim tak lagi memiliki institusi negara. Kaum Muslim yang kini berjumlah lebih dari 1,5 milyar jiwa bercerai-berai dalam banyak negara, lebih dari 50 negara bangsa. Ikatan iman yang sebelumnya menyatukan mereka berganti menjadi ikatan atas dasar kebangsaan.

Bersamaan dengan hancurnya institusi khilafah ini, lenyap pula penerapan syariah Islam secara kaffah. Hukum dan perundang-undangan Barat yang notabene dari orang-orang kafir mendominasi sistem hukum di wilayah-wilayah kaum Muslim. Tak aneh, bila mereka rajin shalat, zakat, puasa, bahkan haji dan umrah, tapi pola pikir dan pola sikap mereka justru mengikuti peradaban Barat.

Dalam situasi terbaratkan tersebut, kaum Muslim pun masih dicekoki pemahaman yang disimpangkan oleh Barat dan antek-anteknya mengenai makna Islam rahmatan lil ‘alamin. Islam ala Barat ini dimaknai sebagai Islam yang bisa menerima nilai-nilai Barat seperti toleransi, kebebasan hak asasi manusia, gender, menentang ajaran jihad, dan sejenisnya.

Makna sesungguhnya, Islam adalah agama yang sempurna. Agama ini diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengatur interaksi manusia dengan Tuhannya, diri dan sesamanya. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan umat manusia, tanpa kecuali.

Di sisi lain, kaum Muslim diperintahkan oleh Allah SWT agar memeluk Islam secara kaffah, tidak setengah-setengah: ”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 208)

Sebagai agama yang diturunkan oleh Dzat yang Maha Sempurna, Islam diturunkan sebagai rahmat bagi alam semesta. Allah SWT menegaskan: “Kami tidak mengutus Kamu [Muhammad], kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (TQS. al-Anbiya' [21]: 107)

Ayat ini, menurut al-Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahuLlah, menjelaskan bahwa tujuan diutusnya Rasulullah SAW adalah agar risalahnya menjadi rahmat bagi manusia. Konsekuensi menjadi ”rahmat bagi manusia”, maka risalah ini diturunkan untuk mewujudkan kemaslahatan [jalb al-mashalih] manusia, dan mencegah kemafsadatan [dar'u al-mafasid].

Perlu dipahami bahwa terwujudnya kemaslahatan [jalb al-mashalih], dan tercegahnya kemafsadatan [dar’u al-mafasid] bukanlah 'illat [alasan hukum] disyariatkannya hukum syariah. Tapi kerahmatan itu akan muncul manakala Islam diterapkan secara menyeluruh sebagai satu kesatuan. Bukan satu per satu hukum.

Terjaganya agama [hifdz ad-din], jiwa [hifdz an-nafs], akal [hifdz al-'aql], harta [hifdz aI-mal], keturunan [hifdz an-nasl], kehormatan [hifdz al-karamah], keamanan [hifdz al-amn] dan negara [hifdz ad-daulah] yang notabene merupakan kemaslahatan bagi individu dan publik, misalnya, bisa disebut sebagai hasil penerapan syariah.

Semuanya itu juga tidak bisa diwujudkan sendiri-sendiri, tetapi harus diwujudkan dalam sistem syariah secara kaffah. Sebagai contoh, hukum potong tangan tidak bisa diterapkan sendiri, agar harta terjaga, sementara problem kemiskinan dan ketimpangan ekonomi tidak diselesaikan dengan sistem ekenomi syariah. Sedangkan sistem ekonomi syariah, dan hukum potong tangan tidak bisa dijalankan kecuali di dalam Negara Khilafah.

Karena itu, kerahmatan Islam bagi alam semesta [Islam rahmat[an] Ii al-'alamin] merupakan konsekuensi logis dari penerapan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Bukan Islam yang hanya diambil sebagai simbol, slogan, asesoris dan pelengkap ”penderita” yang Iain. Bukan Islam yang hanya diambil ajaran spiritual dan ritualnya saja, sementara ajaran politiknya ditinggalkan, paham politik malah diambil dari kapitalisme maupun sosialisme, yang notabene bertentangan dengan Islam.

Inilah Islam rahmat[an] li al-‘alamin yang sesungguhnya. Islam sebagaimana yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi-Nya, Muhammad SAW. Islam yang benar-benar pernah diterapkan selama 14 abad di seluruh dunia. Memimpin umat manusia, dari Barat hingga Timur, Utara hingga Selatan. Di bawah naungannya, dunia pun aman, damai dan sentosa, dipenuhi keadilan. Muslim, Kristen, Yahudi, dan penganut agama lain pun bisa hidup berdampingan dengan aman dan damai selama berabad-abad lamanya.

Begitulah Islam rahmat[an] li al-'alamin, yang telah terbukti membawa kerahmatan bagi seluruh alam. Inilah Islam yang dirindukan oleh umat manusia untuk kembali memimpin dunia. Membebaskan umat manusia dari perbudakan dan penjajahan oleh sesama manusia. Menebarkan kebaikan, keadilan dan kemakmuran di seluruh penjuru dunia. Islam yang hidup sebagai peradaban di tengah umat manusia, diterapkan, dipertahankan dan diemban oleh umat manusia di bawah naungan Khilafah Rasyidah.

Khilafah Kewajiban, Bukan Romantisme Sejarah atau Tuntutan Kekinian Belaka

Mewujudkan kembali Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin adalah panggilan iman. Ini adalah kewajiban Allah SWT kepada kaum Muslim, sampai-sampai para sahabat Nabi SAW ber-ijma' bahwa kaum Muslim tidak boleh kosong dari kekhilafahan dalam waktu tiga hari lamanya.

Dan secara fakta terbukti, tanpa sistem Islam kaum Muslim terpuruk. Baik di Indonesia maupun di negeri Muslim lainnya. Padahal, dulu kaum Muslim pernah berjaya selama lebih 13 abad memimpin hampir dua pertiga dunia dengan gemilang.

Sejarah mencatat, penerapan syariah Islam secara kaffah dalam institusi yang sesuai syariah, yakni khilafah, mampu menjadikan dunia Islam mercusuar peradaban. Ini pula yang diakui secara jujur oleh para orientalis Barat sendiri.

"Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para khalifah itupun telah menyediakan berbagai peluang bagi siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa..." (Will Durant, The Story of Civilization).

Namun, satu hal penting dicatat, menurut M. Ismail Yusanto, kewajiban menegakkan khilafah bukan didasarkan realitas historis atau kenyataan empiris, tetapi berdasarkan kewajiban yang diperintahkan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW sebagai jalan untuk menerapkan syariah dan mewujudkan ukhuwah.

Dalam konteks Indonesia, ide khilafah adalah jalan untuk membawa Indonesia ke arah lebih baik. Syariah akan menggantikan sekulerisme yang terbukti memurukkan negeri ini. Ide khilafah sebenarnya juga merupakan bentuk perlawanan terhadap penjajahan multidimensi yang kini nyata-nyata mencengkram negeri ini dalam berbagai aspek. Dan yang terpenting, khilafah akan mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil' alamin yang hakiki.

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 172
---

Selasa, 19 Januari 2021

Kafir Imperialis Musuh Utama Kaum Muslimin



Dengan demikian, musuh kaum Muslim saat ini adalah negara-negara kafir imperialis seperti AS, Inggris, Perancis, Rusia, Cina, dan sekutu-sekutu mereka…”

Buku yang berjudul Foreign Relation of the United States: 1964-1968, volume XXVI- yang membeberkan hubungan AS dengan berbagai intrik politik di kawasan Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina- akhirnya ditarik kembali dari peredaran oleh Deplu AS terhitung mulai tanggal 27 juli 2001. Alasannya, belum ada izin dari Deplu AS. Padahal, buku terbitan Office of the Historian Departement of State Publication ini, dalam kata pengantarnya, sang editor menyebutkan, bahwa penerbitannya telah seizin Deplu AS. Lagipula, menurut UU kebebasan informasi AS, arsip-arsip yang bergolong rahasia dan sensitif –yang memenuhi buku tersebut- sudah lewat dari 25 tahun, sehingga diperbolehkan untuk dibuka kepada publik. Dari sini, para pengamat menilai bahwa CIA telah menekan Deplu AS agar menarik kembali buku tersebut dari peredaran. CIA khawatir isi buku tersebut akan membuka aib-aib AS di masa lalu.

Namun demikian, bagi orang yang mengamati perilaku AS, penarikan buku tersebut berkaitan dengan kekhawatiran, beredarnya buku tersebut akan merusak hubungan dan kepenttingan AS di Indonesia pada era pemerintahan Megawati.

Yang menarik dari buku tersebut adalah keterlibatan AS dalam mengganyang kekuatan komunis pada masa rezim Soeharto; upaya AS menggusur kekuasaan Soekarno; dan dukungan AS terhadap munculnya Soeharto. Keterlibatan AS dalam penggulingan kekuasaan Soekarno, yang diikuti dengan naiknya Soeharto ke tampuk kekuasaan, diakui sendiri oleh pemerintah AS. Dalam sebuah dokumen yang diedarkan untuk para wartawan, pemerintah AS mengaku hanya memberikan ‘bantuan kecil’ kepada para jenderal di Indonesia dalam peristiwa pembantaian pengikut komunis tahun 1965-1966. Bantuan itu berupa pembayaran secara rahasia sebesar Rp50 juta, yang diberikan sebulan setelah upaya kudeta tanggal 30 september 1965 dan langsung ditandatangani oleh Dubes AS waktu itu, Marshall Green, kepada Menlu Adam Malik. Akan tetapi, buku tersebut mengungkap lebih jauh dan lebih banyak lagi peranan AS dalam mendorong perubahan politik di Indonesia saat itu.

Untuk mencapai tujuannya, AS tidak segan-segan menggunakan segala cara, termasuk operasi rahasia. Di dalam operasi rahasia ini tercakup propaganda hitam untuk menjatuhkan seseorang atau pihak yang dianggap menghalang-halangi kepentingan AS, perang urat syaraf, pembentukan milisi-milisi, upaya mengirim persenjataan dan alat komunikasi, merusak perekonomian dengan mencetak dan menyebarkan uang palsu, memanipulasi informasi dan data, memalsukan dokumen, pesekongkolan, pembunuhan, dll. Itulah yang dilakukan CIA di berbagai negara, dengan skala yang berbeda-beda; termasuk memorandum CIA yang disampaikan kepada Menlu S. Rusk (tgl 18 Sept 1964), yang mengusulkan digelarnya operasi rahasia untuk menggulung kekuatan komunis di Indonesia.

Suhu perang dingin pada tahun 60-an antara kekuatan Barat yang kapitalis serta Uni Sovyet dan Cina yang komunis menghangat. Soekarno yang didukung oleh kekuatan komunis, serta persahabatannya yang erat dengan Uni Sovyet dan Cina, menjadi simbol hegemoni komunis di Indonesia. Dengan semangat dan propagandanya yang anti AS, Soekarno dan partai komunis dijadikan alasan oleh AS untuk melibatkan diri dalam pertarungan tingkat tinggi.
AS yang saat itu tengah gencar-gencarnya menggempur kekuatan Vietcong di daratan Vietnam dan Kamboja, meski akhirnya gagal, tidak menginginkan poros Jakarta-Hanoi-Beijing terwujud. Jika itu terjadi, dominasi Barat yang kapitalis dari kawasan Asia Tenggara dan Timur Jauh yang kaya akan runtuh.

Oleh karena itu, Inggris, yang menjadi sekutu AS -meskipun berbeda kepentingan dalam perkara ini- mendorong Malaysia yang berada di bawah pengaruhnya untuk menghadang gerak maju Soekarno. Meletuslah konfrontasi antara Malaysia dan Indonesia, yang sebenarnya menggambarkan pertarungan negara-negara besar, yakni blok kapitalis dengan blok komunis.

Kaum muslim dan TNI telah juga dimanfaatkan AS untuk menghantam dan menghancurkan komunis. Jadilah komunis bahaya laten bagi kaum muslim di negeri ini. Sayangnya, hal ini tidak diikuti pula dengan “membahayalatenkan” ideologi kapitalis. Sejak naiknya Soeharto ke puncak keuasaan, AS berhasil memenangkan pertarungan politiknya dengan komunis di Indonesia. Hingga kini, AS leluasa memainkan bidak-bidak caturnya di negeri ini; semata-mata untuk menjaga eksistensi serta kepentingan negara dan bangsa mereka sendiri, tanpa mempedulikan keadaan bangsa-bangsa jajahan.

Buku tersebut mengingatkan kepada kita, kaum Muslim, betapa AS berada di belakang berbagai krisis politik yang melanda negeri-negeri Islam, bahkan yang melanda belahan dunia lainnya. Posisinya sebagai negara adidaya amat memungkinkan untuk mengontrol peta politik, ekonomi, sosial, dan militer di seluruh dunia.

AS telah menggunakan segala cara dan sarana yang ada -termasuk lewat lembaga-lembaga keuangan internasional, PBB, dewan keamanan, dan industri yang bernaung di bawah PBB- untuk menguasai dan mengeksploitasi kaum muslim dan negeri-negeri Islam.
AS menyadari bahwa setelah ideologi dan kekuatan komunisme runtuh, Islamlah yang menjadi halangan utama mereka. AS juga sangat khwatir dengan munculnya politik Islam ideologis, apalagi jika kaum Muslim menginginkan dibangunnya kembali negara Khilafah Islamiah yang mencakup seluruh negeri-negeri Muslim; yang akan menerapkan seluruh peraturan Allah SWT dan Rasul-Nya; yang akan membebaskan negeri-negeri Muslim dari hegemoni AS dan sekutunya; dan yang akan berhasil berhadapan secara militer, ekonomi, dan politik dg kekuatan AS. Oleh karena itu, sasaran utama politik luar negeri kaum kafir imperialis saat ini dan masa datang adalah Islam dan kaum Muslim. Allah SWT berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, yang kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan.” (TQS. Al-Anfal 8: 36)

Dengan demikian, musuh kaum Muslim saat ini adalah negara-negara kafir imperialis seperti AS, Inggris, Perancis, Rusia, China, dan sekutu-sekutu mereka. Kaum musim harus menjadikan mereka musuh, bukan sahabat; apalagi teman untuk meminta pertolongan dan bantuan dalam upaya menangani berbagai krisis yang melanda negeri-negeri Islam, sesungguhnya aneka krisis di negeri-negeri Muslim adalah karena konspirasi para imperialis itu.

Kaum Muslim harus mewaspadai seluruh muslihat dan mulut manis mereka dan antek-anteknya yang mengaku Muslim. Pasalnya, sejarah dan kenyataan saat ini membuktikan, bahwa merekalah hakikatnya yang berada di balik seluruh krisis yang sengaja diciptakan di negeri-negeri Islam.
Apakah kita lupa terhadap sejarah dan kenyataan yang ada di depan mata kita? Allah SWT berfirman:
“Oleh karena itu, perhatikanlah bagaimana akibat makar mereka itu.” (TQS. an-Naml: 51)

“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (TQS. Al-Mu’min: 51)

Bacaan: Jurnal Politik Dan Dakwah al-Wa’ie edisi 13

Senin, 18 Januari 2021

Islam Harapan, Bukan Ancaman


Islam adalah agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk negeri ini. Keberadaannya di Indonesia jauh lebih lama dibandingkan adanya negara ini. Berkat para ulama dan pejuang Islamlah, negeri ini bisa dibebaskan dari penjajah asing. Bahkan cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI) adalah laskar-laskar pejuang Islam. Kiprah kaum Muslim sangat besar dalam memerdekakan dan menjaga negeri ini.

Sayangnya, kini Islam sering dituding sebagai ancaman negeri ini. Lebih aneh lagi, yang menuding itu mengaku juga beragama Islam. Jika yang menuduh itu adalah orang kafir, mungkin itu masih wajar. Bagaimana mungkin mereka menuding agama yang dianutnya sendiri?

M. Ismail Yusanto menegaskan, sesungguhnya Islam adalah potensi besar bagi bangsa ini, dan juga bangsa lain. ”Lihatlah, berkat Islam lahir para pahlawan yang dengan semangat jihad berani berjuang melawan penjajah Belanda. Tanpa semangat jihad, mungkin kita masih terus dijajah, karena mana ada yang berani berhadapan dengan Belanda?” jelasnya.

Oleh karena itu, menurutnya, Islam harus dianggap sebagai modal dasar yang penting, bahkan paling penting, dalam membangun bangsa ini. "Tidak boleh dianggap sebagai ancaman,” tandasnya.

Ia menjelaskan, Islam adalah agama yang diturunkan oleh Yang Maha Baik dan Maha Benar yakni Allah SWT. Dalam praktiknya selama lebih dari 13 abad, Islam mampu mengayomi dan menyejahterakan rakyatnya, baik itu Muslim maupun non-Muslim. Bahkan para orientalis Barat sendiri mengakui bagaimana keberhasilan Islam membangun peradaban manusia dengan berbagai kemajuan yang hasilnya bisa dinikmati hingga sekarang.

”Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah itu pun telah menyediakan berbagai peluang bagi siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa… (Will Durant, The Story of Civilization).

Berkat Islam pula, bangsa Arab yang sebelumnya tidak diperhitungkan sama sekali dalam kancah politik internasional saat itu berubah menjadi bangsa besar dan titik sentral peradaban dunia. Dengan karakter Islam yang sesuai dengan fitrah manusia, Islam menyebar ke berbagai kawasan di seluruh penjuru dunia dengan sangat cepat.

Bisa dibayangkan, andai saja tidak ada Islam, bagaimana kondisi manusia sekarang? Saat Islam sampai di Andalusia, Spanyol, Barat dalam masa kegelapan. Peradabannya terbelakang. Mereka hidup liar. Agama mereka, Nasrani, tak mampu mengarahkan peradaban mereka.

Pengaruh peradaban Islam kemudian mengubah mereka. Mereka mulai belajar ke negeri-negeri Islam. Anak-anak raja dikirim untuk belajar ke wilayah khilafah. Mereka pun belajar peradaban Islam dan kemudian mempraktikkannya.

Itu sebabnya, WE Hocking berkomentar, ”Oleh karena itu, saya merasa benar dalam penegasan saya, bahwa Qur’an mengandung banyak prinsip yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya sendiri. Sesunguhnya dapat dikatakan, bahwa hingga pertengahan abad ketiga belas, Islam lah pembawa segala apa yang tumbuh yang dapat dibanggakan oleh dunia Barat.” (The Spirit of World Politics, 1932, hlm.461)

Ismail mempertanyakan, apakah kebaikan Islam ini perlu ditakuti? Siapa yang tidak mau negeri yang mayoritas Muslim ini akan memiliki peradaban tinggi? Siapa yang tidak ingin negeri ini rakyatnya sejahtera dan mendapat ridha Allah SWT? Siapa yang tidak suka negeri ini menjadi barometer peradaban dunia? Siapa yang tidak suka negeri ini bebas dari tindak kriminal dan pergaulan yang rusak? Siapa yang mau negeri ini bebas dari penjajahan dan intervensi asing?

”Tentu saja Islam adalah ancaman buat para perampok kekayaan alam negara ini, koruptor, para komprador negara kapitalis dan imperialis, juga menjadi ancaman bagi mereka yang suka melakukan kemaksiatan dan sebagainya. Karena semua itu bakal dihapus oleh Islam," tegasnya.

Kerugian

Ia menjelaskan, rugi besar baqi bangsa ini jika menjadikan Islam sebagai ancaman. Sebab, Islam adalah agama mayoritas rakyat. ”ltu seperti menjadikan diri kita sendiri sebagai ancaman,” kata Ismail.

Rezim yang menjadikan rakyatnya sebagai musuh maka akan gagal membawa perubahaan. Bagaimana mungkin memperbaiki kondisi negara sementara mereka tidak mendapatkan dukungan dari rakyatnya? Menjadikan Islam sebagai ancaman, berarti rezim itu tidak berkiblat kepada Islam. Kalau tidak berkiblat kepada Islam, dapat dipastikan berkiblat kepada kekufuran. Itulah yang kini sedang menguasai dunia dalam wujud nyata. Maka jangan bermimpi menjadi negara yang besar jika masih menjadikan negara lain [baca: Barat] sebagai kiblat. Negeri ini akan tetap menjadi jajahan negara-negara kafir.

Lebih dari itu, menjadikan Islam sebagai ancaman, berarti menentang kewajiban Allah SWT untuk menerapkan Islam secara kaffah di muka bumi ini. Dapat dipastikan, keberkahan tidak akan turun dari langit dan bumi. Karena keberkahan Allah terhadap penduduk sebuah negeri sangat ditentukan oleh keimanan dan ketaatannya terhadap seluruh aturan Allah.

Musuh Nyata

Beliau menegaskan, musuh sejati bangsa ini ada dua. Yang pertama adalah neoliberalisme dan neoimperialisme. Kedua adalah siapa saja yang mendukung neoliberalisme dan neoimperialisme itu sendiri.

Musuh ini, menurutnya, nyata dan sedang berkuasa di negeri ini. Para pendukung neoliberalisme dan neoimperialisme sedang mempraktikkan sistem kapitalisme liberal di segala bidang kehidupan.

Walhasil, puluhan juta rakyat miskin, tingginya angka pengangguran, meluasnya kemaksiatan, perampokan atas nama privatisasi BUMN, investasi, dan pasar bebas, termasuk maraknya korupsi dan manipulasi. Negara disetir oleh asing melalui intervensi terhadap penyusunan undang-undang. Agama disingkirkan atas nama sekulerisme. []emje

Syariah Dan Khilafah Wujudkan Islam Rahmatan lil Alamin

Allah SWT mengutus Rasulullah Muhammad SAW membawa risalah Islam. Risalah itu dimaksudkan tidak lain kecuali membawa rahmat bagi seluruh alam. Itulah Islam rahmatan lil alamin (lihat: QS al-Anbiya' [21:] 107).

Kerahmatan Islam bagi seluruh alam semesta ini hanya akan tampak manakala seluruh syariahnya diterapkan secara sempurna. Dan itu tidak mungkin diterapkan oleh sistem kufur demokrasi, federasi kerajaan, kekaisaran atau lainnya. Aturan Islam yang mulia ini pun hanya bisa diterapkan oleh sistem yang sesuai yakni khilafah -sistem yang diwajibkan Islam.

Dan begitulah dulu Rasulullah mencontohkan Rasulullah membangun Daulah Islam yang pertama di Madinah, sebuah miniatur pemerintahan yang khas, yang tidak ada sebelumnya, dengan menerapkan seluruh aturan Islam bagi warga negaranya -Muslim maupun non-Muslim. Penerapan Islam secara kaffah ini kemudian diikuti oleh para khalifah berikutnya secara terus menerus hingga akhirnya -pada saat pejabat dan kaum muslimin telah teracuni paham-paham kufur- sistem khilafah diruntuhkan tahun 1924 oleh Mustafa Kemal Attaturk –Yahudi terlaknat, antek sekutu Barat.

Islam yang dulunya menjadi mercusuar peradaban dunia akhirnya tenggelam. Negeri-negeri Muslim yang dulunya bersatu dan kuat serta ditakuti, terpecah-belah tak berdaya serta menjadi jajahan kaum kafir Barat yang rakus. Walhasil, penerapan syariah kaffah daiam naungan khilafah akan mengembalikan kemuliaan umat. Tentu bukan khilafah ala ISIS, tapi Khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah. Di sanalah Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin akan terwujud nyata.

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 170
---

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda