insidewinme

Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Selasa, 07 April 2020

Orang-Orang yang Mengucapkan Janji Setia - TAFSIR al-Fath: 10



Oleh: Rokhmat S. Labib, MEI

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (TQS. al-Fath [48]: 10)

Dalam ayat sebelumnya diterangkan tentang tugas yang diemban Rasulullah kepada manusia. Beliau diutus agar menjadi saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.

Dengan dijalankannya tugas itu, diharapkan manusia mau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan agama-Nya, membesarkan-Nya, dan dan bertasbih kepada-Nya.

Kemudian, Allah SWT berfirman: Inna al-ladziina yubaayi'uunaka (bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu). Ayat ini memberitakan tentang orang-orang yang membaiat Rasulullah . Secara bahasa, kata al-bay'ah adalah akad yang diakadkan seseorang atas dirinya untuk mengerahkan segala kemampuan dan menepati janji yang telah ditekadkan.

Yang dimaksud dengan baiat di sini adalah baiah al-Ridhwan di Hudaibiyyah. Demikian menurut para mufassir. Mereka berbaiat kepada Rasulullah di bawah sebuah pohon untuk memerangi Quraisy. Jumlah sahabat yang ikut berjanji setia pada saat itu berjumlah 1.300 orang. Ada yang mengatakan 1.400 orang, bahkan 1.500 orang. Menurut Ibnu Katsir yang tepat adalah yang pertengahan, yakni 1.400. Ini didasarkan oleh riwayat Jabir yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

Ketika itu, Rasulullah mengutus Utsman ra. untuk menemui Abu Sufyan dan para pembesar Quraisy dan menyampaikan bahwa Rasulullah dan kaum Muslim datang bukan untuk berperang, namun berziarah di Baitullah. Seteleh bertemu dengan mereka, Utsman menyampaikan surat yang dikirim Rasulullah untuk mereka. Setelah membacakan surat Rasulullah , Utsman dipersilakan untuk berthawaf. Utsman menjawab, "Aku tidak akan mengerjakan thawaf hingga Rasulullah bertawaf.” Kemudian orang-orang Quraisy menahan Utsman. Hingga akhirnya berita itu terdengar Rasulullah dan kaum Muslimin bahwa Utsman telah terbunuh.

Mendengar berita tersebut, Rasulullah bersabda: “Kita tidak akan tinggal diam sehingga kita berperang dengan kaum itu.” Kemudian Rasulullah menyeru umat manusia untuk berbaiat. Itulah yang disebut sabagai bay'atur al-ridhwaan yang terjadi di bawah sebatang pohon. Jabir bin Abdullah ra. berkata, "Sesungguhnya Rasulullah tidak membaiat mereka atas kematian, akan tetapi kami berbaiat untuk tidak lari.” Demikian dikatakan Ibnu Katsir.

Kemudian ditegaskan: Innamaa yubaayu'uunaLlaah (Sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah). Bahwa orang-orang yang membaiat atau berjanji setia terhadap Rasulullah sesungguhnya telah berbaiat kepada Allah SWT. Dikatakan al-Syaukani, ini sebagaimana firman Allah SWT: “Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah” (TQS. al-Nisa‘ [4]: 80). Hal itu disebabkan karena mereka membaiat diri mereka dengan Allah SWT untuk memperoleh Surga.

Penjelasan serupa juga dikemukakan oleh al-Alusi. Menurutnya, mereka dikatakan berbaiat kepada Allah SWT karena maksud atau tujuan berbaiat kepada Rasulullah adalah menaati Allah SWT dan mengerjakan semua perintah-Nya karena barangsiapa menaati Rasul sesungguhnya dia telah menaati Allah SWT (lihat: QS. al-Nisa [4]: 80). Maka, berbaiat kepada Allah SWT bermakna menaati-Nya.

Kemudian Allah SWT berfirman: YaduLlaah fawq aydiihim (tangan Allah di atas tangan mereka). Ada beberapa penjelasan tentang makna ayat ini. Menurut al-Syaukani, ayat ini mengandung makna bahwa sesungguhnya akad perjanjian dengan Rasulullah seperti halnya akad dengan Allah SWT tanpa ada perbedaan.

Imam al-Qurthubi menukil pendapat al-Kalbi yang berkata, ”Sesungguhnya nikmat Allah SWT berupa hidayah atas mereka melebihi baiat yang mereka kerjakan." Sedangkan al-Kaisan berkata, ”Kekuatan dan pertolongan Allah SWT di atas kekuatan dan pertolongan mereka."

Menurut Ibnu Katsir, "Dia hadir bersama mereka, mendengar perkataan mereka dan melihat tempat mereka, mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan mereka tampakkan. Dialah Dzat yang Maha Tinggi yang mereka baiat melalui rasul-Nya. Ini seperti firman Allah SWT: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan Surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar” (TQS. al-Taubah [9]: 111).”

Melanggar Baiatnya

Kemudian Allah SWT menerangkan tentang orang yang melanggar sumpahnya dengan firman-Nya: Faman nakatsa fa innamaa yankutsu 'alaa nafsihi (maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri).

Kata al-naktsu berarti melepaskan. Kemudian digunakan untuk menyebut tindakan membatalkan perjanjian. Ini seperti dalam QS. al-Taubah [9]: 12. Pengertian ini pula yang dimaksud oleh ayat ini.

Ibnu Jarir al-Thabari berkata, ”Barangsiapa melanggar dan membatalkan baiatnya kepadamu, wahai Muhammad, maka dia tidak akan menolongmu atas musuh-musuhmu dan menyalahi janjinya kepada Tuhannya."

Menurut Imam al-Qurthubi, itu artinya kemudharatan yang terjadi sebagai akibat pelanggaran itu akan menimpa dirinya sendiri. Sebab, dia telah menjadikan dirinya tidak mendapatkan pahala dan mengharuskan hukuman atas dirinya.

Balasan

Setelah diterangkan tentang ancaman bagi orang-orang yang melanggar dan membaiat Rasulullah , kemudian diterangkan tentang balasan bagi orang-orang yang memenuhi baiatnya. Allah SWT berfirman: Waman awfaa bimaa 'aahadaLlaah 'alayhi (dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah). Sebagaimana telah diterangkan, baiat tersebut adalah sumpah atau janji setia untuk membela Utsman yang dikabarkan dibunuh oleh orang-orang Quraisy.

Terhadap mereka, Allah SWT berfirman: Fasayu‘tiihi ajr[an] 'azhiim[an] (Maka Allah akan memberinya pahala yang besar). Menurut al-Qurthubi, ajr[an] azhiim[an] adalah Surga. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Qatadah. Tak jauh berbeda, al-Thabari juga memaknainya sebagai tsawaab[an] 'azhiim[an] (pahala yang besar). Menurutnya, dengan pahala tersebut Allah SWT memasukkannya ke dalan Surga sebagai balasan atas penunaian janjinya kepada Allah SWT dan kesabarannya bersama Rasulullah dalam kesulitan yang membuktikan keimanan.

Demikianlah. Orang-orang yang mengucapkan baiat kepada Rasulullah lalu melanggar janjinya, akan menjerumuskan dirinya kepada kerugian dan kemudharatan. Sebaliknya, jika mereka menunaikan janji setia mereka, mereka akan diberikan pahala yang besar. Wa-Llaah a'lam bi al-shawaab.[]

Ikhtisar:

1. Orang-orang yang mengucapkan baiat kepada Rasulullah mendapatkan pujian.

2. Barangsiapa yang melanggar janji setia maka itu menjerumuskan dirinya kepada kerugian dan kemudharatan.

3. Barangsiapa yang menunaikan janji setia, mereka akan diberikan pahala yang besar.[]

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 195

Minggu, 05 April 2020

Balasan Bagi Orang yang Menolak Dan yang Menerima Petunjuk - TAFSIR QS Muhammad: 16-17



Oleh: Rokhmat S. Labib, MEI

“Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu, orang-orang berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): "Apakah yang dikatakannya tadi?” Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaannya.” (TQS. Muhammad [47]: 16-17)

Manusia mendapatkan apa yang diusahakan. Orang yang menolak petunjuk dari Allah SWT, enggan mendengarkan nasihat yang baik, bahkan melecehkannya, hati mereka akan dikunci mati. Itu adalah hukuman bagi mereka. Hukuman lainnya, mereka akan terus mengikuti hawa nafsu dan kekufuran.

Sebaliknya, orang-orang yang mau menerima petunjuk, akan ditambah oleh Allah SWT dengan petunjuk dan diberikan taufik untuk melakukan amal shalih. Inilah di antara yang diterangkan oleh ayat di atas.

Hukuman Bagi Orang Kafir

Allah SWT berfirman: Wa minhum man yastami'u ilayka (dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu). Dalam ayat sebelumnya diberitakan tentang balasan yang akan diterima oleh orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang kafir di akhirat. Bagi orang yang bertakwa, balasan yang akan diterima adalah Surga, yang di dalamnya dipenuhi dengan beragam kenikmatan. Sebaliknya, orang-orang kafir dimasukkan ke dalam Neraka yang berisi aneka siksaan yang mengerikan.

Ayat ini pun masih membicarakan dua golongan tersebut. Yang pertama diberitakan adalah golongan orang-orang kafir. Ini ditunjukkan oleh dhamiir hum (kata ganti mereka) pada kata minhum. Mereka yang dimaksudkan ayat ini adalah orang-orang munafik. Demikian menurut para mufassir, seperti Ibnu Jarir al-Thabari, al-Qurthubi, Fakhruddin al-Razi, Ibnu Katsir, al-Khazin, al-Alusi, al-Jazairi, dan lain-lain.

Kesimpulan para mufassir itu mengisyaratkan bahwa orang-orang munafik termasuk golongan orang-orang kafir. Mereka menampakkan dirinya sebagai orang Mukmin, padahal tidak ada iman dalam hati mereka.

Dikatakan pula oleh Ibnu Jarir al-Thabari, ketika itu orang-orang munafik mendengar perkataan Rasulullah . Akan tetapi, mereka tidak mengerti dan memahaminya lantaran meremehkan kitab yang dibacakan kepada mereka, melalaikan perkataan beliau, dan keimanan yang beliau serukan.

Kemudian dalam frasa berikutnya disebutkan: Hattaa idzaa kharajuu min 'indika qaaluu li al-ladziina uutuu al-'ilm maa dzaa qaala anifa[n] (sehingga apabila mereka keluar dari sisimu orang-orang berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan [sahabat-sahabat Nabi]: "Apakah yang dikatakannya tadi?"). Jika orang-orang yang keluar dari majelis Rasulullah adalah orang-orang munafik, maka orang-orang yang diberi ilmu, menurut Ibnu Zaid adalah para sahabat. Demikian pula penjelasan al-Alusi, al-Khazin, al-Jazairi, dan lain-lain. Sehingga, ayat ini dapat dipahami bahwa setelah keluar dari majelis Rasulullah , orang-orang munafik itu bertanya kepada beberapa sahabat.

Mereka bertanya sebagaimana disitir ayat ini: Maa dzaa qaala anifa[n] (apa yang dikatakan tadi). Pertanyaan ini sesungguhnya ungkapan untuk melecehkan. Dikatakan al-Khazin, itu terjadi ketika Rasulullah khutbah dan menyebut aib orang-orang munafik, lalu mereka keluar dari masjid seraya bertanya kepada Ibnu Mas'ud dengan nada mengolok-olok. Bahwa pertanyaan mereka itu sebagai bentuk ejekan, juga dikemukakan oleh Imam al-Qurthubi, al-Khazin, al-Jazairi, dan lain-lain.

Menurut al-Jazairi, seandainya mereka orang Mukmin yang mencintai Rasulullah , niscaya mereka akan berkata: Maa dzaa qaala Rasuulul-Laah anifa[n] (apa yang dikatakan Rasulullah tadi?) dan bukan Maa dzaa qaala anifa[n] (apa yang dia katakan tadi?). Dengan ucapan itu, mereka bermaksud untuk mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Rasulullah itu sama sekali tidak bermanfaat sedikitpun.

Menurut Sayyid Quthb dalam Fii Zhilaal al-Qur'aan, pertanyaan yang mereka ajukan setelah menyimak perkataan Rasulullah -kata al-istimaa' bermakna al-samaa' bi al-ihtimaam, mendengarkan dengan penuh perhatian- menunjukkan kepura-puraan mereka mendengar perkataan Rasulullah , padahal sesungguhnya hati mereka lalai dan terkunci rapat.

Kemudian ditegaskan: Ulaaika al-ladziina thaba'al-Laah 'alaa quluubihim (mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah). Ayat ini memberikan penjelasan tentang balasan yang diberikan atas sikap mereka. Balasannya adalah ditutupnya hati mereka.

Dikatakan al-Jazairi, hati mereka telah dikunci mati hati mereka oleh Allah SWT adalah karena kekufuran dan kemunafikan mereka. Hal itu disebabkan oleh banyaknya noda-noda kekufuran dan kemunafikan hingga menutupi hati mereka, maka menutup dan mengunci mati hati mereka.

Lalu diberitakan balasan lainnya untuk mereka dengan firman-Nya wa [i]ttaba'uu ahwaa‘ahum (dan mengikuti hawa nafsu mereka). Yang dimaksud dengan mengikuti hawa nafsu mereka adalah mengikuti kekufuran dan kemunafikan. Artinya, ketika mereka tidak mau mengikuti kebenaran, maka Allah SWT mematikan hati mereka, sehingga hati mereka tidak memahami dan tidak mengerti. Ketika itulah, mereka mengikuti hawa nafsu mereka dalam kebatilan. Demikian, penjelasan al-Khazin dalam tafsirnya.

Diterangkan al-Jazairi, 'mengikuti hawa nafsu mereka' menjadi sebab dua hal. Pertama, penutup dan penghalang mereka dalam mencari hidayah. Kedua, yang membuatnya menjadi buta dan tuli, sehingga mereka tidak mendapatkan petunjuk.

Balasan Bagi Penerima Petunjuk

Setelah menceritakan sikap orang-orang kafir yang meremehkan petunjuk dari Rasulullah serta balasan yang diberikan kepada mereka, kemudian Allah SWT berfirman: Wa al-ladziina [iJhtadaw zaadahum hud[an] (dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka). Mereka yang dimaksudkan ayat ini adalah orang-orang Mukmin. Demikian penjelasan al-Khazin dan al-Jazairi.

Orang Mukmin yang diterangkan ayat ini adalah orang-orang yang mau menerima petunjuk. Karenanya, mereka pun mendengarkan semua petunjuk yang disampaikan Rasulullah dengan cermat dan sungguh-sungguh. Maka, mereka pun memahami petunjuk dan ilmu yang diajarkan Nabi . Ilmu mereka pun bertambah.

Menurut Ibnu Katsir, mereka adalah orang-orang yang bertujuan untuk mendapatkan petunjuk. Terhadap mereka, Allah SWT pun memberikan taufik kepada mereka, dengan memberikan petunjuk kepada mereka, meneguhkan mereka agar tetap berada di atas petunjuk, dan menambahkan petunjuk kepada mereka.

Diterangkan al-Khazin, frasa: Zaadahum huda[n] mengandung makna bahwa setiap kali mereka mendengarkan wahyu yang disampaikan Rasulullah , mereka pun mengimani dan membenarkan apa yang mereka dengar, maka hal itu menambah hidayah yang telah ada pada mereka dan menambah keimanan yang juga telah ada pada mereka.

Menurut Fakhruddin al-Razi, ayat ini bermaksud untuk menerangkan perbedaan dua golongan tersebut. Seolah-olah dikatakan: Mereka (golongan pertama) tidak memahaminya; sedangkan mereka (golongan yang kedua) memahaminya. Juga, seolah-olah Allah SWT telah mengunci mati hati mereka, lalu menambah mereka menjadi buta; sedangkan kepada al-muhtadii (orang yang menerima petunjuk) ditambahkan petunjuk.

Kemudian disebutkan: Wa aataahum taqwaahum (dan memberikan balasan ketakwaannya). Frasa ini bermakna, Allah SWT mengilhamkan kepada mereka petunjuk. Demikian Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Tak jauh berbeda, al-Khazin juga memaknai ayat ini bahwa Allah SWT memberikan taufik kepada mereka untuk mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka. lnilah takwa.

Menurut Abdurrahman al-Sa'di, Allah SWT memberikan taufik kepada mereka kepada kebaikan, menjaga mereka dari keburukan. Diingatkan dalam ayat ini, al-muhtadiin (orang-orang yang mendapatkan petunjuk) mendapatkan dua balasan, yakni: ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.

Demikianlah. Setiap manusia mendapatkan hasil dari apa yang dikerjakannya. Ketika mereka enggan mendengarkan petunjuk, apalagi mengolok-olok dan meremehkannya, maka hati mereka dibuat semakin tertutup rapat. Sebaliknya, mereka bersungguh-sungguh mencari petunjuk dan bersedia menerima penjelasannya, Allah SWT pun menambahkan petunjuk buat mereka. Semakin banyak ilmu yang bermanfaat yang mereka dapatkan. Tak hanya itu, mereka pun diberikan taufik dan kekuatan untuk mengamalkannya dalam kehidupan. Semoga kita termasuk golongan yang terakhir ini. WalLaah a'lam bi al-shawaab.[]

Ikhtisar:

1. Orang-orang kafir yang tidak mau mendengarkan perkataan Nabi dengan sungguh-sungguh, apalagi melecehkan perkataan beliau, hati mereka ditutup dan mengikuti kekufuran.

2. Orang-orang Mukmin yang mau menerima petunjuk, diberikan tambahan petunjuk dan diberikan taufik untuk mengerjakan amal shalih.[]

Sumber: “Balasan Bagi Orang Menolak Dan Mencari Petunjuk” Tabloid Media Umat edisi 172

Minggu, 29 Maret 2020

Bertawakal, Bertasbih, Dan Bertahmid - TAFSIR al-Furqan: 58



Oleh: Rokhmat S. Labib, MEI

“Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.” (TQS. al-Furqan [25]: 58)

Di antara perkara penting yang harus dimiliki manusia adalah sikap tawakkal kepada Allah SWT. Sikap ini lahir dari keyakinan bahwa Allah SWT menjadi tempat bersandar manusia dalam segala urusan. Di samping itu, manusia juga mensucikan dan memuji Allah SWT yang telah melimpahkan berbagai kenikmatan tak terhingga kepada manusia. Inilah di antara yang dikandung dalam ayat ini.

Diperintahkan Bertawakal

Allah SWT berflrman: Wa tawakkal 'alaa al-Hayyi al-ladzii laa yamuutu (dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup [Kekal] Yang tidak mati). Huruf wawu dalam ayat ini adalah wawu al-'athf menyambungkan kalimat dengan kalimat sesudahnya. Karena khithaab atau seruan ayat sebelumnya ditujukan kepada Rasulullah , maka demikian pula khithaab ayat ini, masih ditujukan kepada beliau.

Setelah dalam ayat sebelumnya diberitakan bahwa orang-orang kafir menjadi penolong dalam menyakiti beliau, maka Allah SWT memerintahkan beliau untuk tidak meminta upah dari mereka sama sekali dan memerintahkan beliau untuk bertawakal kepada-Nya dalam menolak semua mudharat dan menarik semua manfaat. Demikian penjelasan Fakhruddin al-Razi.

Dalam ayat ini digunakan fi'l al-amr (kata perintah): tawakkal (bertawakallah). Menurut al-Khazin dalam tafsirnya ketika menerangkan QS Ali Imran [3]: 122, al-tawakkul (tawakal) merupakan bentuk tafa’ul dari kata wakala amrahu ilaa ghayrihi (mewakilkan urusannya kepada pihak lain), ketika dia mempercayakan kepada pihak lain itu dalam memenuhi dan melaksanakan urusan tersebut.

Imam al-Qurthubi juga mengatakan bahwa secara bahasa al-tawakkul adalah menampakkan kelemahan dan mempercayakan kepada pihak yang lain. Disebutkan: Waakala Fulaan apabila dia meletakkan urusannya dan memasrahkan kepada pihak lain. Masih menurut al-Qurthubi, bertawakkal kepada Allah berarti percaya kepada Allah SWT dan meyakini bahwa keputusan-Nya pasti berlaku. Tak jauh berbeda, al-Syaukani juga berkata, "Tawakal adalah bergantungnya hamba kepada Allah SWT dalam segara urusan."

Abdurrahman al-Sa'di berkata, ”Tawakal adalah percayanya hati terhadap Allah SWT dalam menarik manfaat dan menolak mudarat disertai dengan kepercayaan kepada Allah. Sesuai dengan kadar keimanannya, demikian pula kadar tawakalnya."

Bertolak dari semua penjelasan itu, tampak jelas bahwa tawakal berkaitan dengan masalah akidah. Yaitu meyakini bahwa Allah-lah yang dijadikan sebagai tempat bersandar oleh setiap Muslim ketika mencari manfaat dan menolak mudharat. Orang yang mengingkari perkara ini berarti dia kafir. Tawakal juga merupakan aktivitas hati. Sehingga jika ada seseorang yang mengucapkannya namun tidak meyakini dengan hatinya, maka ia tidak dimasukkan sebagai orang yang bertawakal.

Dalam ayat ini disebutkan: 'alaa al-Hayy al-ladzii Laa yamuutu (kepada Allah Yang Hidup [Kekal] Yang tidak mati). Dikhususkannya sifat hidup di sini untuk mengisyaratkan bahwa yang hidup adalah pihak yang dapat dipasrahi berbagai kemaslahatan. Tidak ada kehidupan abadi kecuali bagi Allah SWT. Sehingga, tidak bisa menggantungkan kepada makhluk yang kehidupannya terputus. Sebab, jika dia mati, hilanglah orang yang bergantung kepadanya. Demikian diterangkan al-Syaukani.

Menurut Ibnu Katsir, perintah dalam ayat ini seperti halnya firman Allah SWT: “(Dia-lah) Tuhan timur dan barat, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai wakiil[an] (pelindung)” (TQS. al-Muzzammil [73]: 9). Juga dalam QS. Hud [11]: 123 dan al-Mulk [67]: 29.

Patut dicatat, ketika seseorang bertawakal kepada Allah SWT bukan berarti meninggalkan yang secara sunnatullah menjadi sebab-sebabnya. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, "Yang dimaksud dengan tawakal kepada Allah SWT adalah meyakini apa yang ditunjukkan oleh firman Allah SWT: ”Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya” (TQS. Hud [11]: 6). Dan bukanlah yang dimaksud dengan tawakal itu adalah meninggalkan sebab dan mempercayakan kepada apa yang akan datang dari makhluk. Sebab, hal itu terkadang justru menyeret kepada sesuatu yang berlawanan dengan tawakal. Imam Ahmad pernah ditanya tentang seseorang yang duduk-duduk saja di rumahnya atau di masjid seraya berkata, "Aku tidak mengerjakan sesuatu hingga rezeki datang kepadaku." Beliau berkata, "Orang-orang itu bodoh terhadap ilmu. Sungguh Nabi bersabda: “Sesungguhnya Allah menjadikan rezekiku di bawah bayang-bayang tombak.”

Nabi juga mencontohkan dalam kehidupannya. Untuk mendapatkan rezeki-Nya, beliau juga bekerja. Demikian juga ketika berdakwah, berperang, dan berjuang. Beliau merencanakan, menyiapkan, dan mengerjakan dengan serius segala wasilah yang dapat mengantarkan kepada keberhasilan dan kemenangan.

Diperintahkan Bertasbih dan Bertahmid

Kemudian Allah SWT berfirman: Wa sabbih bihamdihi (dan bertasbihlah dengan memuji-Nya). Menurut al-Qurthubi, yang dimaksudkan dengan al-tasbiih adalah al-tanziih (menyucikan). Sehingga perintah: wa sabbih bihamdihi berarti, ”Sucikanlah Allah SWT dari semua yang disifatkan oleh orang-orang musyrik."

Dijelaskan al-Alusi, ”Menyucikan-Nya dengan disertai pujian terhadap-Nya dengan sifat-sifat-Nya yang sempurna untuk meminta tambahan nikmat dengan mensyukuri kenikmatan sebelumnya.”

Kemudian ayat ini ditutup dengan firman-Nya: Wa kafaa bihi bidzunuub ‘ibaadihi Khabiir[an] (dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya). Menurut al-Syaukani, berarti hasbuka (cukuplah engkau). Kalimat ini dimaksudkan untuk mubaalaghah (melebihkan), seperti halnya kalimat: kafaa bilLaah Rabban (cukuplah bagimu Allah sebagai Tuhanmu).

Sedangkan pengertian al-Khabiir adalah yang mengawasi dan mengetahui segala urusan, sehingga tidak ada satupun yang tersembunyi bagi-Nya. Menurut al-Alusi, makna kata al-khibrah adalah mengetahui perkara yang tersembunyi. Barangsiapa yang mengetahui perkara yang tersembunyi, tentu lebih mengetahui perkara yang tampak. Ibnu Katsir berkata, "Karena ilmu-Nya yang sempurna, tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya dan tidak ada yang samar bagi-Nya walaupun hanya seberat biji dzarrah.”

Diterangkan Fakhruddin al-Razi, ayat ini memberikan pengertian bahwa kamu tidak membutuhkan selain-Nya. Sebab, Dia mengetahui keadaan mereka dan mampu menghadapi mereka, sehingga merupakan ancaman keras. Seolah-olah dikatakan, "Jika kalian mengerjakan perbuatan yang melanggar perintah-Ku, cukuplah bagi kalian ilmu-Nya dalam memberikan balasan dan hukuman yang layak kepada kalian.”

Bahwa penggalan akhir ayat ini konteksnya adalah ancaman keras bagi orang-orang kafir juga dikemukakan al-Alusi. Di samping menurutnya, untuk menghibur hati Rasulullah . Makna ayat ini adalah Dia mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya, lantaran tidak ada sedikitpun yang tersembunyi bagi-Nya. Kemudian Dia membalas mereka atas semua perbuatan tersebut. Dan bukanlah menjadi tanggung jawabmu (Rasulullah ) jika mereka beriman atau kafir.

Demikianlah. Rasulullah diperintahkan untuk bertawakal kepada-Nya, bergantung dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Beliau juga diperintahkan untuk menyucikan-Nya dari segala sifat lemah dan memuji-Nya atas semua nikmat tersebut.

Beliau tak perlu takut dan risau terhadap ulah kaum kafir. Sekalipun mereka mengerahkan segala daya-upaya dan menjadi pembantu setan dalam memusuhi beliau, akan berakhir dengan kegagalan. Sebaliknya, akibat kejahatan itu akan kembali kepada mereka. Mereka akan mendapatkan siksa dan azab atas kejahatan mereka. Patut diingat, perintah kepada Rasul dalam ayat ini juga berlaku bagi umatnya. Semoga kita diberikan kekuatan untuk mengerjakannya. WalLaah a'lam bi al-shawaab.[]

Ikhtisar:

1. Rasulullah dan umatnya diperintahkan untuk bertawakal, bertasbih, dan bertahmid kepada Allah SWT.

2. Tawakal berkaitan dengan masalah akidah sehingga orang yang mengingkari perkara ini menyebabkan pelakunya jatuh kepada kekufuran.

3. Tawakal merupakan kegiatan hati sehingga jika hatinya tidak meyakininya tidak dikategorikan sebagai tawakal.

4. Tawakal kepada Allah tidak berarti meninggalkan hukum kausalitas ketika beramal.[]

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 161

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda