insidewinme

Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Rabu, 13 Juni 2018

Meraih Kemenangan Dengan Pertolongan Allah SWT


(Materi Kultum Bakda Shalat Isya')

Tidak lama lagi kaum Muslimin akan merayakan hari raya Idul Fitri. Salah satu amalan sunnah pada hari raya adalah mengagungkan asma Allah, mengumandangkan takbir.
اللهُ أكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Maha Besar Allah, dan segala puji bagi Allah, pujian yang banyak, dan Maha Suci Allah, di waktu pagi maupun petang." (Shahih Muslim: 943)

  لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ،

“Tiada tuhan selain Allah, dan Kami tidak beribadah selain kepada-Nya, dengan ikhlas, tunduk, patuh pada agama-Nya, meskipun orang-orang kafir membenci." (Shahih Muslim: 935)

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ

“Tiada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, yang selalu menepati janji-Nya, yang menolong hamba-Nya, dan menghancurkan kelompok musuh dengan ke-Esa-an-Nya.” (*)

لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللهُ اللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ

(Atsar) Riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu al-Mundzir dari Ali dan Abdullah bin Mas’ud ra.)

Kemenangan Islam selalu menjadi cita-cita kaum Muslimin sejak dahulu. Dan tentunya amalan-amalan di dalam Islam, bisa mengantarkan umat Islam untuk memenangkan jalan hidup Islam atas seluruh jalan hidup yang lain, sehingga mengeluarkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya.
Salah satu amalan yang utama adalah dakwah, amar ma’ruf nahi munkar. Allah Swt. berfirman:


“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah…” (QS. ash-Shaff: 14)

Orang-orang yang beriman dan beramal shalih yang menolong agama Allah pasti akan mendapat keberhasilan, karena mereka mendapat pertolongan Allah Swt. Allah Swt. berfirman:


“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)


“…Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya...” (QS. al-Hajj: 40)


“…Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS. ar-Rum: 47)


“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. al-Insyirah: 6)

“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (Akhirat),” (QS. al-Mu’min [40]: 51)


“…Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah: 153)


“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih di antara kalian, bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia benar-benar akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka; dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah Aku tanpa mempersekutukan Aku dengan sesuatupun. Siapa saja yang kafir sesudah janji itu, mereka itulah orang-orang yang fasiq.” (QS. an-Nur [24]: 55)

Dan banyak lagi ayat-ayat yang lain.

Dengan begitu banyak janji pertolongan dari Allah Swt. maka wajar dan sudah semestinya bila kaum Muslimin bersikap optimis dalam mewujudkan kebangkitan Islam dan peradaban Islam, di mana Islam sungguh-sungguh diterapkan di dalam kehidupan.

Oleh: Annas I. Wibowo


(*) Mengenai redaksi takbir dalam dua hari raya, maka tidak ada redaksi tertentu yang didasarkan pada riwayat yang shahih atau hasan dari pernyataan Rasulullah Saw. Bagaimanapun juga perkara takbir ini diberi keleluasaan.
“…Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya, dan hendaklah kamu MENGAGUNGKAN ALLAH atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (TQS. al-Baqarah [2]: 185) 

Rabu, 06 Juni 2018

Contoh Sabar Berpegang Pada Syariat Islam Dari Allah SWT



(Materi Pengajian Jelang Buka Puasa)

Bulan Ramadhan, bulan puasa adalah kesempatan bagi kita untuk melatih kesabaran. Sabar dalam menjalankan syariat dari Allah Swt. sehingga kita bisa menjadi orang-orang yang bertaqwa. Seperti apa orang-orang yang bertakwa itu? Tentu kita tidak akan kesulitan menemukan contoh orang-orang yang bertakwa. Kita telah mempunyai teladan abadi, yaitu Rasulullah Saw. dan para sahabat beliau. Allah Swt. telah memuji para shahabat ra. di dalam al-Qur’an:



“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah: 100)

Mereka adalah orang-orang yang memegang prinsip “sami’naa wa atho’naa” “kami mendengar dan kami menaati” dalam menjalankan ajaran-ajaran Islam. Berikut ini beberapa contoh teladan dari mereka yang disebutkan dalam hadits-hadits.

·                     Imam Bukhâri meriwayatkan hadits dari Abû Sarû’ah, beliau berkata (yang artinya):

“Suatu saat aku shalat Ashar di belakang Nabi Saw. di Madinah. Kemudian beliau Saw. membaca salam dan cepat-cepat berdiri, lalu melangkahi pundak orang-orang yang ada di masjid menuju ke sebagian kamar istrinya. Maka orang-orang pun merasa kaget dengan bergegasnya Nabi. Kemudian Nabi Saw. keluar dari kamar istrinya menuju mereka. Nabi melihat para sahabat sepertinya merasa keheran-heranan karena bergegasnya beliau. Kemudian beliau Saw. berkata, “Aku bergegas dari shalat karena aku ingat suatu lantakan emas (dari zakat) yang masih tersimpan di rumah kami. Aku tidak suka jika barang itu menahanku, maka aku memerintahkan (kepada istriku) untuk membagi-bagikannya.”

·                     Imam Bukhâri meriwayatkan dari Ibnu Abî Aufâ ra., beliau berkata:

“Kami ditimpa kelaparan pada beberapa malam saat perang Khaibar, dan  kami  menemukan  keledai  kampung,  kemudian  kami menyembelihnya. Maka ketika kuali telah mendidih, tiba-tiba berteriak juru bicara Rasulullah Saw., “Matikanlah kuali itu dan kalian jangan makan daging keledai jinak itu sedikitpun.” Abdullah berkata, “Kami pada saat itu mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah Saw. melarang memakan keledai jinak itu hanya karena belum dibagi lima (karena harta rampasan perang).” Tapi sahabat yang lain berkata, “Keledai  jinak itu diharamkan secara mutlak.” Kemudian aku bertanya kepada Sa'id bin Jubair, dan ia menjawab, “Keledai jinak itu diharamkan secara mutlak.”

·                     Imam Bukhâri meriwayatkan dari Anas bin Mâlik ra., beliau berkata:

“Suatu hari aku memberi minum kepada Abû Thalhah al-Anshary, Abû Ubaidah bin al-Jarrah, dan Ubay bin Ka’ab dari Fadhij, yaitu perasan kurma. Kemudian ada seseorang yang datang, ia berkata, “Sesungguhnya khamr telah diharamkan.” Maka Abû Thalhah berkata, “Wahai Anas, berdirilah dan pecahkanlah kendi itu!” Anas berkata, “Maka aku pun berdiri mengambil tempat penumbuk biji-bijian milik kami, lalu memukul kendi itu pada bagian bawahnya, hingga pecahlah kendi itu.”

·                     Imam Bukhâri meriwayatkan dari ‘Aisyah ra. yang berkata:

“Semoga Allah merahmati kaum wanita yang hijrah pertama kali, ketika Allah menurunkan firman-Nya, “Dan hendaklah mereka mengenakan kain kerudung mereka diulurkan ke dadanya.” (TQS. an-Nûr [24]: 31). Maka kaum wanita  itu merobek kain sarung mereka (untuk dijadikan kerudung) dan menutup kepala mereka dengannya.”

·                     Imam Abû Dawud telah mengeluarkan hadits dari Shafiyah binti Syaibah dari ‘Aisyah ra.:

“Sesungguhnya beliau Saw. menuturkan wanita Anshar, kemudian beliau memuji mereka, dan berkata tentang mereka dengan baik. Beliau Saw. berkata, “Ketika diturunkan surat an-Nûr: 31 (tentang kewajiban memakai kerudung hingga menutup dada), maka mereka mengambil kain sarungnya, kemudian merobeknya dan menjadikannya sebagai kain penutup kepala (kerudung).”

·                     Hadits riwayat Imam Ahmad dari Abû Râfi’ bin Khadîj, beliau berkata:

“Kami pada masa Nabi membajak tanah, kemudian menyewakannya dengan (mendapat bagi hasil) sepertiga atau seperempatnya dan makanan tertentu. Pada suatu hari datanglah kepada kami salah seorang pamanku, ia berkata, “Rasulullah Saw. telah melarang suatu perkara yang dulu telah memberikan manfaat (duniawi) bagi kita. Tapi taat kepada Allah dan Rasul-Nya jauh lebih bermanfaat bagi kita. Beliau telah melarang kita membajak tanah (pertanian) kemudian menyewakannya dengan imbalan sepertiga atau seperempat, dan makanan tertentu. Rasulullah Saw. memerintahkan pemilik tanah agar mengolahnya atau  menanaminya  sendiri.  Beliau tidak menyukai penyewaan tanah dan yang selain itu.”

·                     Di dalam  hadits yang  diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas disebutkan:

“Nabi Saw. berangkat bersama para sahabatnya hingga mendahului kaum Musyrik sampai ke sumur Badar. Setelah itu kaum Musyrik pun datang. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda, “Berdirilah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” Anas bin Malik berkata; maka berkatalah Umair bin al-Humam al-Anshary, “Wahai Rasulullah! Benarkah yang kau maksud itu surga yang luasnya seluas langit dan bumi?” Rasulullah Saw. menjawab, “Benar” Umair berkata, “ehm-ehm”. Rasulullah Saw. bertanya kepada Umair, “Wahai Umair, apa yang mendorongmu untuk berkata ehm-ehm?” Umair berkata, “Tidak ada apa-apa Ya Rasulullah, kecuali aku ingin menjadi penghuninya.” Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya engkau termasuk penghuninya, Wahai Umair!” Anas bin Malik berkata, “Kemudian Umair bin al-Humam mengeluarkan beberapa kurma dari wadahnya dan ia pun memakannya. Kemudian berkata, “Jika aku hidup hingga aku memakan kurma-kurma ini sesungguhnya itu adalah kehidupan yang lama sekali.” Anas berkata, “Maka Umair pun melemparkan kurma yang dibawanya, kemudian maju untuk memerangi kaum Musyrik hingga terbunuh.”

Oleh: Annas I. Wibowo

Rabu, 30 Mei 2018

Islam Adalah Standar Untuk Menilai Keyakinan Dan Perbuatan



(Materi Kultum Bakda Sholat Isya’)

Ibadah puasa adalah amalan yang mulia, meninggikan derajat, mendapat balasan pahala dari Allah Swt. yang berlipat ganda. Ada yang membuat perumpamaan bahwa orang yang berpuasa Ramadhan itu seperti ulat yang berubah menjadi kepompong, tidak makan, tidak minum, dalam waktu yang cukup lama, kemudian pada akhirnya berubah menjadi kupu-kupu yang bisa terbang. Ketika masih sebagai ulat, makan daun, makannya banyak, bergeraknya lambat. Ketika telah menjadi kupu-kupu, makannya nectar sari bunga, dan bisa terbang. Bagi kaum Muslimin, puasa adalah amal shalih yang meningkatkan iman dan taqwa.

Bagaimana jika ajaran Islam dipandang dengan pemikiran selain Islam? Bisa jadi ajaran-ajaran Islam dianggap sebagai amalan-amalan yang tidak baik. Sebagai contoh, belum lama ini Menteri Imigrasi Denmark, menyerukan kepada kaum Muslimin yang berpuasa Ramadhan untuk tidak bekerja karena bisa berbahaya ketika bekerja. Dia juga menganggap bahwa puasa sudah tidak cocok untuk zaman modern. Maka jika dipandang dengan kacamata kapitalisme, puasa bisa jadi dipandang buruk.



“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. al-An’am: 116)

Demikian pula jika ajaran Islam dipandang dengan kacamata komunis. Kaum komunis memandang bahwa agama adalah candu, yang membuat orang tidak banyak bekerja, menurunkan produktivitas kerja. Kenyataannya saat ini kaum Muslimin di Xinjiang, kaum Muslim etnis Uyghur, dipaksa tidak puasa oleh penguasa China. Mereka dipaksa makan dan minum di siang hari. Tidak sekedar makan dan minum, tapi makan daging babi dan minum khamr/miras. Begitu pula di tahun-tahun sebelumnya, mereka ditindas.



“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 216)



“…Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya, dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.” (QS. al-An’am [6]: 57)

Maka jelas, bagi orang-orang yang beriman, Islamlah yang harus digunakan untuk menilai segala perbuatan, bukan malah ajaran-ajaran Islam dihakimi dengan pemikiran-pemikiran yang lain.

Semoga kita termasuk orang-orang yang menjadikan al-Qur’an sebagai petunjuk dalam segala bidang kehidupan. Aamiin, yaa Robbal ‘alamin.

Oleh: Annas I. Wibowo

NB: Blog insidewinme jika diakses dengan alamatnya yang berakhiran ".com" maka tidak ada blokiran "internet positif." 
Namun jika diakses dengan alamat web berakhiran ".co.id" akses ada blokiran "internet positif."
Jadi, akses tanpa blokir dengan alamat:

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda