Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Minggu, 28 Februari 2010

Artikel Laporan Perang Afghanistan tak dapat dimenangkan

Buku Bagus Untuk Dibaca:

Buku Afghanistan dan Pakistan : Perang yang Tak Dapat Dimenangkan

Strategi Barat saat ini untuk Afghanistan dan Pakistan dan jalan alternatif untuk daerah itu


Bab 1 Afghanistan: Perang yang Tak Dapat Dimenangkan

Download lengkap : Buku Perang Afghanistan Pakistan Perang yang Tak Dapat Dimenangkan – bahasa Indonesia [PDF]

Apa yang mereka pikirkan? Satu-satunya superpower dunia dengan sumberdaya tak terhitung, kekuatan militer terbesar ditambah dengan NATO, aliansi militer paling dominan di dunia, menginvasi dan menjajah pada Oktober 2001, salah satu negara paling miskin di dunia dengan populasi 28 juta, dua per tiganya hidup dengan kurang dari dua dolar sehari. Meski begitu, delapan tahun berlangsung telah diterima secara univesal sebagai kegagalan untuk menundukkan negara itu dan telah kalah perang.

Pada 16 September 2001, yang tadinya Presiden US George W. Bush menyatakan : “Perang salib ini, perang terhadap terorisme, akan membutuhkan waktu cukup lama.” Argumen legal yang digunakan Washington dan NATO untuk menginvasi Afghanistan adalah bahwa serangan 11 September merupakan “serangan bersenjata” yang tidak dideklarasikan dari luar negri oleh kekuatan asing tak bernama, dan bahwa konsekuensinya sebagai “negara di bawah serangan” boleh menyerang balik dengan kebebasam atas nama “membela diri”. Menguasai telah menjadi formalitas, membuatnya tetap begitu delapan tahun kemudian – sangat tidak meyakinkan. Seiring prajurit US dan NATO yang mati menumpuk dan opini publik Barat bergerak secara sadar melawan penjajahan itu, semakin banyak pertanyaan-pertanyaan diajukan tentang perang ini. Dan meskipun dengan superioritas sumberdaya dan militer yang luar biasa – ini tetap perang yang tak dapat dimenangkan.


Pendudukan Soviet – jumlah tentara bukanlah solusi

Pada Desember 1979, pasukan Soviet masuk Afghanistan, sepuluh tahun setelahnya tidak hanya mereka telah dikalahkan, tapi juga semua badan negara Soviet Sosialis berada dalam kekacauan. Tembok Berlin runtuh dan negara Soviet terfragmentasi dan berakhir setelah itu.

Jika diperhatikan, Soviet punya banyak keunggulan lebih daripada penjajah yang sekarang. Mereka punya batas yang bersinggungan langsung dengan Afghanistan melalui apa yang sekarang disebut Turkmenistan, Uzbekistan, dan Tajikistan. Mereka menggunakan jumlah kekuatan militer yang jauh lebih besar – 250.000 puncaknya. Sebagai pemain regional yang kuat mereka juga memiliki keahlian bahasa yang luas (Uzbek, Pushto, dan Tajik) yang telah menjadi hambatan bagi orang Amerika dan NATO, yang sekarang bergantung pada para ahli Afghanistan termasuk para dokter dan guru sebagai penerjemah mereka.

Orang Soviet tidak mengalami kesulitan mengendalikan pusat-pusat populasi, tapi meskipun demikian pemerintah pusat bentukan tidak dapat mengendalikan daerah pinggiran. Kenyataannya ribuan kota dan desa tetap berada di luar pengaruh mereka. Seperti yang orang Amerika temukan sekarang ini, tidaklah sulit mengambil alih kota-kota tapi mengambil hati, memimpin, menyediakan kebutuhan dasar kepada orang-orang miskin, meyakinkan maksudnya adalah di mana kesulitan itu berada.

Marshal Akhromeyev menyebutkan di tahun 1986, “Kita mengendalikan Kabul dan pusat-pusat propinsi, tapi ... kita telah kehilangan pertarungan untuk penduduk Afghanistan.” [1]

Pasukan Rusia juga menunjukkan kekurangan nyata kegesitan yang memaksa mereka hanya menggunakan doktrin-doktrin perang konvensional dan penggunaan kekuatan mekanisasi / berat – taktik dan strategi yang sama sekali tidak cocok untuk melawan perlawanan di medan bergunung kasar dan urban. Pasukan Mujahidin jauh lebih gesit dan bisa dengan mudah melakukan serangan-serangan bergaya gerilya yang terbukti menghancurkan pasukan yang lemah semangat dan kurang persiapan (perang besar Rusia yang lalu adalah Perang Dunia II). Tiga puluh tahun berlangsung dan pihak Amerika tampaknya telah belajar sedikit saja dari taktik konvensional Soviet – bersihkan, kuasai, dan bangun, pasukan kurang motivasi (mengapa kita di sini?) dan kekurangan kesuksesan yang nyata dalam memenangkan 'hati dan pikiran'.

Presiden Obama pada pidatonya 1 Desember 2009 menjanjikan untuk menghentikan atau memperlambat kehancuran meluncur spiral menuju kekalahan di Afghanistan. Namun begitu, pidato ini tercatat tidak membawa apapun yang baru dari stratregi gagal delapan tahun yang lalu. Intinya janji Obama adalah “lebih banyak orang, lebih banyak uang, dan kita harus berusaha lebih keras.” Kenyataannya, tidak mirip dengan pidato Mikhail Gorbachev yang memerintahkan pergerakan masuk pasukan Soviet yang mirip ukurannya, temporer ke Afghanistan di 1986.


Vietnam diulangi?

Dengan serangan-serangan pada pasukan Amerika dan NATO beranjak naik sejak 2003, sedikit usaha awal menghambat korupsi atau melegitimasi rezim Karzai dan peningkatan oposisi di sepanjang 2009, adalah mudah menghubungkan dengan Perang Vietnam yang sangat cacat. Afghanistan adalah terisolasi secara geografis sehingga memerlukan dukungan logistik melalui negara-negara tetangga, populasinya yang antagonistik terhadap US. Afghanistan juga empat kali ukuran Vietnam, namun jumlah pasukan bahkan setelah Desember 2009 dinyatakannya penyerangan tidak akan pernah mencapai apa yang dicapai di Vietnam dengan 535.000 tentara. Konsentrasi pasukan US/NATO di Afghanistan adalah 1/32 di Vietnam. Meski dengan ketidak-konsistenan nyata seperti itu banyak pihak menolak menyatakan kalah.

Terdapat banyak persamaan jelas antara kedua konflik yang oleh para penasihat kebijakan luar negeri akan mempertimbangkan sebaik-baiknya:


a. Sejarah agresi Eropa / Imperial

Perancis di Vietnam dan Uni Soviet di Afghanistan adalah yang paling baru dalam urutan panjang para agresor. Kedua konflik memiliki persamaan sejarah dalam mengusir para pasukan bersenjata agresor yang lebih besar dan lebih kuat. Adalah sejarah ini yang telah membantu membentuk dan menghasilkan pasukan perang yang mumpuni di kedua konflik.

b. Berbasis Asia : ribuan mil dari US

Dalam kedua kasus terdapat kekurangan pengalaman berperang dalam kondisi tiu dan dengan masalah logistik yang sulit untuk dihadapi. Di Afghanistan terdapat masalah tambahan tidak adanya garis pantai, sangat membatasi kemampuan Angkatan laut.

c. Perang berbasis perkampungan

Di kedua konflik terdapat lebih dari 80% populasi kampung di mana para penjajah sangat tidak popular.

d. Medan yang sulit dan kurangnya jalan

Permukaan sulit memaksa para agresor baik di Afghanistan maupun Vietnam untuk bergantung pada dukungan udara dan membuat tank-tank konvensional dan kendaraan semacamnya menjadi tidak berlaku.

e. Pertalian etnis dan kantong perlindungan

Dalam kedua kasus pasukan perlawanan menikmati kantong perlindungan di balik batas panjang, tertutup, dan tak dapat dihuni. Pasukan US berjuang menghadapinya dan hanya memiliki sedikit atau tak ada legitimasi.

f. Infiltrasi

Dalam kedua perang para penerjemah seringkali memberi informasi kepada tentara lokal mengenai setiap gerak pasukan penjajah.

g. Ketidakpekaan kultural

Di kedua perang para penjajah menggunakan taktik-taktik berat termasuk mengebom secara acak dan sama sekali tidak memahami kepercayaan dan budaya lokal yang membuat mudah merekrut untuk pasukan perlawanan. Di dalam kedua perang “penghitungan tubuh” US musuh yang terbunuh adalah popular meskipun terakhir ini Jendral Stanley McChrystal menahannya di Afghanistan.

Pidato Barack Obama 1 Desember 2009 mengumumkan masuknya pasukannya ke Afghanistan sama seperti keputusan fatal Presiden Lyndon B. Johnson di tahun 1965 untuk melanjutkan perintah dari para komandan US untuk memperluas Perang Vietnam dengan mengirim banyak tambahan tentara US. Obama kehilangan kesempatan untuk membalik bencana perang Bush di Afghanistan dan bahkan mengimitasi praktek Bush mengumumkan kebijakan-kebijakan dengan dikelilingi lebih dari 4.000 tentara kadet di Akademi Militer West Point.


Koalisi Mistis

Obama dalam pidatonya Desember 2009 memberikan alasan-alasan mengapa kedua perang itu berbeda. Yang paling penting di antaranya adalah bahwa di Afghanistan terdapat koalisi yang lebih kuat, seolah-olah kekuatan jumlah akan bisa menambah legitimasi bagi perang melawan salah satu negara-negara termiskin dunia.

Namun, pemeriksaan lebih dekat terhadap “koalisi” mengungkap bahwa hanya sembilan dari 43 negara di Afghanistan memiliki pasukan lebih dari 1.000 di sana, kebanyakan negara lainnya mengirim sejumlah kecil termasuk hanya bisa dihitung jari dalam kasus sepuluh negara. Banyak yang lainnya dibatasi untuk peran non-tempur – tidak mau mengganggu si superpower – tapi siap mengambil peran tidak penting. Jumlah aktual pasukan tempur negara-negara lain adalah lebih tinggi di Vietnam dan negara-negara itu telah belajar pelajaran tentang bahayanya petualangan Amerika seperti itu.


Masalah-Masalah Lain

Eric Bergerud, ahli sejarah Perang Vietnam terpandang menggaris-bawahi bahwa:

The Government of Vietnam (GVN) kekurangan legitimasi dengan orang kampung lokal, segmen terbesar dari populasi ... Orang kampung menganggap GVN busuk, korup, dan tidak efisien ... Para elit urban Vietnam Selatan memiliki penampilan budaya asing ... yang lebih penting, kelompok kecil ini memiliki paling banyak kekayaan dan kekuasaan di negara miskin, dan sikap elit penguasa terhadap populasi rural hanyalah, paling baik, hubungan keturunan, paling buruk, ke-predator-an. [2]

Mengulang situasi yang sama di Afghanistan pemerintah Karzai memiliki legitimasi kecil baik secara global atau yang paling penting di Afghanistan sendiri. Anthony Cordesman menggaris-bawahi fakta ini ketika mengungkapkan kegagalan kronis kebijakan US di Afghanistan.

Kebutuhan untuk menstruktur elemen polisi dan keamanan lain dengan cara yang sesuai dengan batasan-batasan karena kurangnya kapasitas pemerintah, korupsi, perbedaan nilai-nilai kultural, dan kebutuhan menciptakan “aturan hukum” atau aturan sipil di negara terduduki bukannya nilai-nilai US atau Barat.” [3]

Tidak saja pemerintahan Karzai korup dan tidak kompeten, ia menunjukkan hanya sedikit maksud untuk menawarkan kepemimpinan berdasarkan nilai-nilai Afghanistan yang terutamanya Islami. Juga akan menjadi tanda yang ekstrim jika Amerika menggunakan struktur kepemimpinan dan masyarakat sipil berdasar Islam di negara yang ia kendalikan.


Kembalinya 'Domino'

Mungkin justifikasi yang paling kontroversial untuk Vietnam adalah teori domino yang cacat yang memprediksi penyebaran komunisme dari satu negara ke negara lain dengan cepat dan tidak terkontrol jika Vietnam Selatan jatuh. Suatu teori yang sangat terlemahkan oleh fakta-fakta setelah hengkangnya US dan kegagalan komunisme untuk menancapkan pengaruhnya secara signifikan hingga hari ini. Yang sama kontroversialnya adalah pendapat bahwa tanpa kontrol langsung terhadap tuan rumah terorisme – sebagaimana Afghanistan dituduh dalam kasus ini – US akan terus menghadapi ancaman terorisme secara domestik. Meski Taliban selalu berargumen bahwa mereka sejatinya tidak punya urusan dengan orang Amerika dan tidak punya ambisi untuk mengadakan perang di US, juga telah jelas bahwa sumber kunci antagonisme di dalam dunia Muslim adalah keberlangsungan penjajahan tanah-tanah Muslim. Sayangnya, telah memakan waktu terlalu lama bagi pandangan ini untuk mendapatkan persetujuan yang merupakan haknya.

Berkebalikan dengan klaim bahwa militer US akan menstabilisasi daerah itu dan menurunkan ancaman terorisme, study tahun 2008 oleh RAND Corporation menemukan bahwa kebijakan-kebijakan US yang menekankan penggunaan kekerasan cenderung menciptakan , bukannya mengubur oposisi. Dalam “How Terrorist Groups End : Lessons for Countering Al-Qaeda,” Seth Jones & Martin Libicki berpendapat bahwa militer US “harus secara umum menolak digiring ke dalam operasi-operasi tempur dalam masyarakat Muslim, karena kehadiran [militer U.S.] kemungkinan besar meningkatkan serangan-serangan teroris.” [4]


Islam di Afghanistan

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

[Terjemah Makna Qur'an Surat (2) Al-Baqarah : 190]

... ,dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

[Terjemah Makna Qur'an Surat (9) At-Taubah : 36]

Terdapat banyak ayat Qur'an yang memerintahkan orang-orang Muslim untuk mempertahankan tanahnya. Seperti halnya semua negeri berdaulat tidak ada rasa malu di antara Muslim untuk memastikan integritas tanahnya. Bagi orang-orang Muslim ini adalah masalah vital (hidup dan mati) dan artinya orang-orang beriman diperintahkan untuk berjuang dalam Jihad dengan harta mereka, lidah mereka, dan jiwa mereka untuk mengusir penjajah. Tidak ada biaya atau usaha tersiakan – baik hasilnya kemenangan maupun kemartiran.

Al Qur'an juga mengharuskan bahwa otoritas atas tanah Muslim tetap bersama orang-orang Muslim dan hukum Islam (Syari'at).

... dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.

[Terjemah Makna Qur'an Surat (4) An-Nisaa' : 141]

Taliban sebenarnya bermakna para pelajar, atau pencari pengetahuan dalam bahasa Pushto. Pengetahuan yang dipakai adalah pengetahuan Islam – yang mana mencarinya adalah kewajiban bagi semua Muslim. Penjajahan militer, penimpaan pemerintah boneka (Karzai) dan pembuangan Jirga (dewan) tradisional Islami regional dan desa adalah tidak akan pernah diterima oleh Taliban dan orang-orang Afghanistan secara umum. Memperluas kontrol pemerintah pusat ke seluruh Afghanistan bukannya menjadi solusi terhadap perlawanan tapi telah menjadi penyebabnya. Tidak pernah sulit memotivasi Jihad dari area pedesaan.

Tidak juga pernah masuk akal membayangkan bahwa US bisa dengan enaknya menyalakan “keinginan” Jihad, memotivasi dan secara rahasia mendanai Mujahidin dalam alasannya yang adil untuk mengenyahkan agresor Soviet. Tapi juga semudah mematikan keinginan itu ketika sang agresor adalah mantan teman. Demikian juga, pembantaian tak pandang bulu terhadap penduduk sipil mengkerdilkan mantra yang sering dibaca dalam memenangkan hati dan pikiran; itu hanya akan menghapuskan kredibilitas dan integritas Barat, mengagetkan negara-negara dunia dan semakin signifikan memperteguh resistensi orang-orang Afghanistan.


Taliban bukanlah pejuang asing

Sedangkan bagi Taliban, apapun juga mereka itu, mereka adalah pribumi Afghanistan. Ini tidak bisa dikatakan Al-Qaeda, tapi juga tidak bisa dikatakan, tentara, pelatih, penasihat, dan kontraktor yang dikirim oleh United States.” [5]

Pokok bagi strategi US untuk Afghanistan adalah untuk membangun Tentara Nasional Afghanistan, dalam persiapan untuk menghadapi resistensi ketika US akhirnya hengkang. Kebijakan ini gagal. Rekrutmen dan training lambat dan diwabahi oleh pengunduran diri dan kegagalan kronis orang-orang terekrut untuk mendaftar kembali. Pelamaran-kembali kurang dari 50% dan meskipun terjadi 40% tingkat pengangguran di negara itu, rekrutmen jauh di bawah target dan terlalu banyak merupakan orang asal etnis Tajiks. Dalam latihan membangun pasukan yang loyal dan kredibel untuk rezim sebagai lawan bagi Taliban, singkatnya tidak punya kesempatan untuk berhasil. Delapan tahun yang lalu telah menyediakan bukti yang banyak untuk ini.

The Afghan National Army (ANA) – dirancang untuk mengambil alih konflik ketika koalisi hengkang – tidak akan bisa bahkan untuk memberi makan dirinya sendiri dalam lima tahun, apalagi membalik ombak menggunung Taliban.” [6]

Bentuk asosiasi apapun dengan orang Amerika adalah rusak. Bukannya menyebarkan kedamaian dan keamanan bagaikan kertas-kertas tersebar ke seantero daerah dan area-area rural khusunya, orang-orang Amerika malah meninggalkan jejak bernoda yang mencekam bagi orang-orang pribumi. Kebijakan pembunuhan hanyalah satu contoh ketidak-percayaan yang ditimbulkan oleh penjajahan. Dalam artikel New Yorker akhir-akhir ini Jane Mayer membicarakan akibat dari mentarget Baitullah Mehsud (dengan pesawat tak berawak): “16 serangan adalah kebutuhan, lebih dari 14 bulan, membunuh total sebanyak 538 orang, yang di antaranya 200-300 adalah penggembira. Apa hasilnya bagi reputasi polisi dalam perumahan penuh kejahatan ketika mereka berlaku seperti itu? Dan apa yang membuat orang mengira kalau reaksinya akan kalah ekstrem ketika polisinya datang dari negara lain? [7]

David Kilcullen, mantan penasihat senior anti-perlawanan bagi David Patreus, menulis, “Setiap orang dari non-tempur yang mati adalah mewakili keluarga yang teralienasi, usaha balas dendam baru, dan lebih banyak calon rekrut bagi gerakan militan.”


Afghanistan, Kuburan Kerajaan-Kerajaan

Dari invasinya oleh Ghenghis Khan dan dengan dua-juta penyerbu Mongolnya hingga perang jarak-jauh adidaya antara United States dan Uni Soviet, rute perdagangan Afghanistan dan posisi terkunci secara geografis di tengah daerah itu selama berabad-abad membuatnya kebal terhadap invasi oleh kekuatan-kekuatan eksternal. Meskipun Afghanistan telah mengalami pergantian penjajah Persia, Yunani, Arab, Turki, Mongol, Inggris, dan Soviet, tidak ada kekuatan penjajah yang pernah sukses menguasainya. Memang terdapat alasan mengapa ia telah dideskripsikan sebagai “kuburan kerajaan-kerajaan” [8]

Kekuatan politik baru yang kokoh, bahkan yang ditimpakan, membutuhkan legitimasi dan dukungan populasi. Mantan Kepala Deputi misi UN di Afghanistan mendeskripsikan pemilihan umum Agustus 2009 sebagai “kereta rusak”. Dengan sedikit tanda legitimasi baik sebelum maupun sesudah pemilu itu, Karzai menikmati mungkin paling banyak 30% tingkat persetujuan. Kunci dari menguras perlawanan adalah dukungan bagi otoritas pemerintah sebanyak 85 hingga 90% [9]. Rezim Karzai baru-baru ini dideskripsikan sebagai “jelas-jelas tidak sah, perampok yang tidak kompeten.” [10]

Dengan pemerintah timpaan dan sistem-sistem aturan timpaan (demokrasi) haruskah ada harapan keberhasilan dengan tidak ada sejarah demikian di daerah itu?

Banyak dilakukan polling opini domestik yang menunjuk untuk mendukung pengenalan demokrasi dan menimpakan perlawanan / Taliban. Tapi bisakah bentuk apapun polling di suatu negara yang berada di bawah penjajahan dianggap serius?

Orang-orang Afghanistan terkenal ramah; polling opini Barat hanya memperlihatkan apa yang dianggap oleh orang Afghanistan kuesioner itu inginkan, seperti yang diinginkan budaya mereka, bukan apa yang sebenarnya mereka pikirkan.” [11]

Mengapa ada yang harus menjawab sebaliknya jika ketika ditanya di belakang kamera televisi Barat, dengan pasukan militer penjajah Barat di dekatnya?

Amerika telah begitu saja meremehkan derajat oposisi yang telah ia hasilkan dari negara kecil dan miskin ini – suatu negara yang telah menerima kebanggaan besar dalam mengusir kekuatan penjajah yang bergantian selama beberapa abad. Dick Cheney memang mengatakan aksioma dari “perang tiada akhir”, istilah yang sangat tidak dianggap di US yang materialis – sedangkan orang-orang Afghanistan hidup dengan itu, bukannya karena memilih tapi karena kebutuhan dalam mempertahankan tanah mereka dan sebagaimana diperintahkan oleh kepercayaan mereka. Mereka adalah terkuatkan oleh pertempuran di kondisi rural yang keras, dan generasi ke generasi hanya sedikit tahu hal lainnya.

Meskipun jelas memiliki superioritas dalam senjata militer pasukan US / NATO telah mengikuti jebakan klasik mengendalikan pusat-pusat populasi utama dan membuat usaha kecil di antara populasi yang dominan rural. Ini hanyalah masalah waktu sebelum mereka ikut Alexander The Great, kerajaan Inggris, dan Uni Soviet dalam dipaksa meninggalkan perang yang tak dapat dimenangkan ini.

[1] Michael Dobbs, The Afghan Archive: Secret Memos Trace Kremlin’s March to War, The Washington Post, 15 November 1992, p. A1

[2] Eric Bergerud, The Dynamics Of Defeat: The Vietnam War In Hau Nghia Province (Boulder, Co: Westview Press, 1993)

[3] Anthony Cordesman, CSIS Afghan National Security Forces, Nov 2009

[4] Seth Jones and Martin Libicki, How Terrorist Groups End: Lessons for Countering al Qa’ida (Washington,DC: RAND Corporation, 2008).

[5] David Bromwich, ‘The Afghanistan Parenthesis’ http://www.huffingtonpost.com/david-bromwich/the-afghanistan-parenthes_b_377141.html

[6] Thomas H Johnson, 10 Dec 09 http://www.foreignpolicy.com/articles/2009/12/10/sorry_obama_afghanistans_your_vietnam?page=0,0

[7] Jane Meyer, http://www.newyorker.com/online/blogs/newsdesk/2009/10/jane-mayer-predators-drones-pakistan.html#ixzz0b0ER34gA

[8] ESCAPING THE GRAVEYARD OF EMPIRES A strategy to exit Afghanistan, Malou Innocent and Ted Galen Carpenter, CATO Institute, 2009

[9] Kalev I. Sepp, “Best Practices in Counterinsurgency,” Military Review (May-June 2005), 8-12.

[10] Thomas H Johnson, Chris Mason http://www.foreignpolicy.com/articles/2009/12/10/sorry_obama_afghanistans_your_vietnam

[11] Thomas H Johnson, M Chris Mason http://usacac.army.mil/CAC2/MilitaryReview/Archives/English/MilitaryReview_20091231_art004.pdf

Afghanistan & Pakistan: The Unwinnable War

The current Western strategy for Afghanistan and Pakistan and an alternative path for the region


Laporan dari Hizb ut-Tahrir Inggris

Hizb ut-Tahrir

Britain

1st Safar 1431 / 17th January 2010

Afghanistan Pakistan Dossier [PDF]

Download lengkap : Buku Perang Afghanistan Pakistan Perang yang Tak Dapat Dimenangkan – bahasa Indonesia [PDF]

Sabtu, 27 Februari 2010

Laporan Afghanistan Pakistan Perang Tak Dapat Dimenangkan


Buku Bagus Untuk Dibaca:


Buku Afghanistan dan Pakistan : Perang yang Tak Dapat Dimenangkan

Strategi Barat saat ini untuk Afghanistan dan Pakistan dan jalan alternatif untuk daerah itu


Bab 1 Afghanistan: Perang yang Tak Dapat Dimenangkan


Bab 2 Kekuasaan NATO yang Tidak Kompeten Sejak 2001


Bab 3 Mitos Sekitar Perang Afghanistan


Bab 4 Pakistan: Dalam Kecamuk Perang


Bab 5 Alternatif Islami: Memisahkan fakta dari Mitos

Download lengkap : Buku Perang Afghanistan Pakistan Perang yang Tak Dapat Dimenangkan – bahasa Indonesia [PDF]

Ringkasan dan Rekomendasi


Tanda terbesar ketidak-kompetenan seseorang adalah orang yang melakukan hal yang sama terus-menerus tapi setiap kali mengharapkan hasil yang berbeda. Presiden Barack Obama dan Perdana Menteri Gordon Brown tampaknya terjebak dalam ilusi demikian. pada 2001, ketika para pemimpin Barat memerintahkan invasi Afghanistan, mereka memutuskan suatu tujuan atau sasaran untuk penjajahan mereka. Mereka menyatakan tentang membawa kedamaian ke daerah itu, mendirikan pemerintah yang akuntabel, mendorong pertumbuhan ekonomi dan industri, mengakhiri perdagangan opium dan mengamankan hak-hak orang Afghanistan.


Pada akhir dekade, Barat tidak dapat menyelamatkan Afghanistan. Tapi malah penduduk Afghanistan menjadi sasaran penjajahan brutal, ribuan penduduk sipil telah dibunuh dan banyak orang Afghanistan yang menyaksikan sendiri secara langsung janji-janji kosong Barat tentang 'kebebasan' dan 'hak-hak manusia' ketika ditahan dan disiksa di Bagram dan Kandahar. Rezim Karzai, semakin terpuruk karena kezaliman, korupsi, dan bekerja sama dengan para oportunis perang, yang terus didukung oleh London dan Washington. Perdaagangan opium meledak dan para politisi yang memiliki hubungan dekat dengan Barat diduga terlibat di dalamnya. Juga di sana tidak ada perkembangan ekonomi atau industri dan meskipun ada komitmen untuk bantuan miliaran dolar, hampir tidak ada bukti pembangunan kembali Afghanistan seperti yang dijanjikan.


Setelah delapan tahun Barat telah kehilangan otoritas moral apapun untuk melanjutkan penjajahannya dan dukungannya pada rejim Karzai yang bobrok. Tidak ada alasan berdasar untuk percaya bahwa mereka memulai kemajuan meskipun ditambah delapan tahun lagi. Misi neo-kolonial di Afghanistan telah gagal. Barat dan rezim suruhannya di Kabul tidak punya legitimasi atau kredibilitas di mata penduduk Afghanistan atau dunia muslim seluruhnya. Guyonan delapan tahun itu harus diakhiri.


Meskipun adalah pendahulu mereka yang gila perang yang memulai perang Afghanistan, baik Obama maupun Brown telah memutuskan untuk menggandakan dan terus menyediakan sumber daya lebih banyak dalam usaha kosong untuk "menyelesaikan pekerjaan." Tapi tanpa strategi koheren, penggunaan taktik-taktik kekerasaan yang berlebihan ditambah dengan ketidak-kompetenan parah, kekuasaan NATO telah menggiring Afghanistan menjadi dikendalikan oleh raja narkotika dan para pejabat korup. Jauh dari menguasai dan mengalahkan Al-Qaeda atau Taliban di Afghanistan, perang itu akan menimbulkan kebencian dan kemarahan di dunia Muslim di mana reputasi Barat telah terus dalam kerusakan memproduksi ketidakstabilan dan kekacauan.


Meskipun setelah kekalahnnya di Irak, kegagalan lebih lanjut di Afghanistan dan berada dalam selubung perang terhadap teror, Obama dan Brown sekarang terlibat dalam 'perang tidak dinyatakan' di Pakistan untuk merusak kestabilan satu negara lain di dunia Muslim.


Meskipun agenda nyata neo-konservatif mungkin telah berakhir dengan pemerintahan US sebelumnya, semangatnya tetap hidup dalam perang-perang yang masih aktif di Irak dan Afghanistan dan sekarang perang yang tidak dinyatakan di Pakistan, Yaman, dan Somalia. Tidak diragukan bahwa strategi terakhir yang dirancang oleh presiden Amerika di pidatonya di West Point pada 1 Desember 2009, seperti semua strategi sebelumnya yang dilakukan sejak Oktober 2001, akan gagal dan bahwa Afghanistan akan terus menderita sebagai bangsa dan sebagai penduduk.


Hal ini karena berbagai strategi itu tidak hanya hanyalah dilaksanakan secara serampangan, tetapi juga dipikirkan secara serampangan. Analisis-analisis strategi perang Barat adalah bahwa perang Afghanistan telah kekurangan sumberdaya karena perang di Irak dan ini menjelaskan kemunculan kembali Taliban. Para pendukung strategi baru ini percaya bahwa kekurangan tentara telah menyebabkan penduduk Afghanistan kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan NATO untuk menyediakan keamanan lebih besar, yang merupakan persyaratan untuk pemerintahan efektif. Kekurangan kemampuan ekonomi, penduduk Afghanistan khususnya orang Pashtun, menyalurkan secara efektif frustasi mereka melalui ikut Taliban karena Taliban menyediakan gaji dan status. Dikarenakan persepsi bahwa pemerintahan pusat Afghanistan adalah korup, orang-orang itu melakukan kekerasan terhadap NATO, melihat mereka sebagai penjaga status quo yang korup, untuk mengeringkan kolam radikalisme mereka, para pendukung strategi baru percaya bahwa US harus meningkatkan jumlah tentara dalam waktu singkat dan mencopot mereka yang tidak berideologi keras dalam menangani perlawanan balik. Dengan memperoleh kembali momentum, Barat percaya bahwa mereka dapat membangun angkatan keamanan pribumi untuk mengambil alih dari NATO pada suatu waktu di masa depan yang tidak ditentukan. Namun, untuk memastikan strategi ini bisa berjalan secara efektif Pakistan harus juga dipastikan melalui suatu penggabungan melibatkan orang-orang Pakistan untuk melakukan lebih banyak dan meningkatkan aksi militer terselubung Amerika.


Pendapat ini mengabaikan beberapa faktor kunci:


Pertama, perang ini adalah tidak bisa dimenangkan (lihat Bab 1), karena Amerika telah belajar dengan kesakitan di vietnam dan telah menemukan biayanya sejak 9/11. Dalam sejarah, negara-negara semacam Uni Soviet telah berusaha dan gagal untuk menang di Afghanistan dan tidak dapat menaklukkan suku-suku Pashtun. Bukannya tanpa dasar bahwa Afghanistan dikenal sebagai "kuburan kerajaan-kerajaan." Selain itu, jika janji bahwa perang ini akan menyediakan keamanan ekstra, ini tidak akan tercapai. Kekuatan Inggris di Irlandia Utara, penjajahan India di Kashmir, aneksasi Palestina oleh Israel tidak pernah memberikan satu iotapun keamanan ekstra untuk penduduknya dari negara yang menjajah. Penjajahan secara natural menumbuhkan kemarahan dan kebencian yang mengarahkan pada penolakan, melanjutkan siklus kekerasan dan kekerasan dalam melawan yang kita lihat di dunia sekarang ini.


Kedua, Penjajahan Barat sejak Oktober 2001 memiliki catatan yang buruk ketika berurusan dengan pemerintahan (lihat Bab 7). Afghanistan hari ini lebih korup daripada ketika tahun 2001, ia memproduksi lebih banyak narkotika daripada di tahun 2001, dan ia punya lebih sedikit keamanan daripada yang dimilikinya di tahun 2001. Ia punya presiden yang menjalankan pemilihan umum penuh manipulasi dan keluarganya berhubungan erat dengan perdagangan opium. Setelah delapan tahun, di mana banyak bantuan untuk Afghanistan telah disia-siakan di kantong para konsultan swasta dan pejabat pemerintah, Afghanistan tetap salah satu negara termiskin di dunia. Dengan catatan lembek seperti ini, NATO harus dilarang bahkan mengelola kios kecil pasar, apalagi suatu negara dengan 28 juta penduduk.


Ketiga, Kamu tidak butuh 140.000 tentara NATO dan 190.000 tentara Afghanistan untuk mengalahkan 100 operatif Al-Qaeda di Afghanistan (lihat Bab 3). Jika misinya adalah untuk mengalahkan Taliban (suatu grup yang nyata-nyata tidak punya peran dalam 9/11 dan tidak bertanggung jawab terhadap rencana serius apapun yang menyerang ibukota-ibukota Barat), lalu NATO harus menyatakannya di depan dan lalu mempersiapkan populasi domestiknya untuk ber-dekade dalam konflik di pinggiran Afghanistan berdebu, yang mana akan sangat merugikan para pembayar pajak mereka. Faktanya adalah bahwa Taliban adalah komunitas asli Pashtun dan telah menyaksikan penjajah asing sejak berabad-abad. Seiring NATO meningkatkan jumlah pasukannya, mereka juga akan meningkatkan pasukannya. Muslim Pashtun ada 50 juta di dua sisi garis Durand dengan hubungan kesukuan dan etnis yang kuat antara penduduk di kedua sisi batas. Maka, harus dipahami bahwa jika NATO pergi perang dengan Taliban lalu mereka secara efektif berperang dengan seluruh komunitas Pashtun.


Keempat, Strategi keluar itu (lihat Bab 3) berasumsi bahwa bahkan jika mereka bisa sempat mencapai kesiapan operasional, pasukan keamanan Afghanistan akan melakukan kehendak NATO dan siap melawan perlawanan-perlawanan. Telah jelas bahwa dari meningkatnya jumlah kasus personel keamanan Afghanistan menembakkan senjatanya ke arah tentara NATO bahwa mereka tidak terkait dan tidak juga dibeli dan kepercayaan telah patah. Jika NATO tidak punya strategi keluar yang bagus lalu ia akan melakukan penjajahan permanen yang akan meningkatkan fatalitas juga mengeluarkan biaya tambahan ratusan miliar dolar. Selain itu, jika perang meningkat sebagaimana tampaknya, pasukan Inggris dan Amerika akan mengalami kerugian yang tidak proporsional. Total mati di Afghanistan pada 2009 adalah 504, dengan US dan UK bertanggung jawab untuk 80% fatalitas. Dengan mengabaikan US, UK kehilangan lebih banyak tentara di 2009 daripada 41 anggota koalisi yang lain digabungkan. Ke-43 negara koalisi ada hanya dalam nama, dengan 34 negara menyumbangkan tentara kurang dari 1.000 dan 10 negara (hampir seperempat koalisi) menyumbangkan kurang dari sepuluh tentara. Jika negara-negara selain US dan UK seperti Perancis, Jerman, Spanyol, atau Italia hanya menyumbangkan sedikit pasukan sekarang dengan batasan-batasan yang signifikan mengenai apa yang mereka boleh dan tidak boleh lakukan, mereka hampir pasti tidak mendukung eskalasi perang lebih jauh.


Kelima, jika Al-Qaeda memang mentarget Barat, lalu menurut kebanyakan ahli mereka kebanyakan berada di luar Afghanistan, dengan operatif sekarang di Pakistan, Irak, Arab Saudi, Yaman, dan Somalia di antara negara-negara lain. NATO dan pemerintah-pemerintah Barat seharusnya jujur dengan publik mereka sendiri mengenai misinya, bahwa Afghanistan sebenarnya basis untuk proyek perang baik ke Pakistan maupun untuk menyebarkannya ke Jazirah Arab dan tanduk Afrika. Namun, perang semacam ini memerlukan sumberdaya yang signifikan – manusia dan keuangan – komitmen jangka panjang dan agenda untuk perang berkelanjutan di dunia Muslim untuk ber-dekade-dekade lamanya.


Keenam, suara-suara yang tumbuh dan berkembang sekarang mempertanyakan biaya oleh Pakistan dalam mendukung perang Amerika. Amerika sedang menjalankan perang yang tidak diucapkan di Pakistan karena tidak berada dalam posisi bisa melakukan kampanye perang konvensional, baik karena alasan batasan politik maupun finansial. Dalam rangka mengatasi agresi Amerika, Pakistan harus mengungkap apa yang sudah tampak jelas bagi banyak pihak, bahwa US telah melanggar kedaulatan Pakistan sebagai negeri independen, dan telah melakukan banyak aksi yang berakibat kesulitan ekonomi, kekacauan politik, ketegangan sosial yang parah, dan penentangan dengan kekerasan di negara itu. Turut campur secara jelas ini dalam urusan-urusan negeri berdaulat merupakan ancaman yang jelas dan nyata yang harus dibalik dengan cara apapun. Ini termasuk pemutusan diplomatik, politik, dan akses bantuan US ke masyarakat Pakistan, pemindahan secepatnya dari Pakistan semua personel yang berkaitan dengan organ-organ militer dan intelijen US termasuk afiliasi Blackwater (Xe), dan pemutusan semua perjanjian berkaitan dengan militer Pakistan menjalankan aksi atas nama US, baik secara eksplisit maupun implisit. Selain itu, konvensi apapun yang memberikan kekuatan asing akses ke wilayah udara Pakistan, teritori atau perairan harus dibatalkan. Hanya dengan mengambil langkah-langkah komprehensif itu Pakistan bisa menghentikan US dari memperluas kampanyenya secara bertahap memperluas ketidakstabilan dan kekerasan di mana itu mengkonsumsi negara mengakibatkannya lumpuh. (lihat bab 4)


Terakhir, Tidak perlu bagi Barat untuk menjajah Afghanistan atau Irak sekarang. Dengan menarik pasukannya, barat tidak akan membahayakan peradabannya juga tidak meningkatkan ketidak-amanannya. Guantanamo Bay, pelanggaran hak-hak manusia di Afghanistan dan di Abu Ghraib dan menyebabkan ribuan orang di bawah peraturan anti-teror draconian telah menghancurkan reputasi US dan sekutunya dalam cara yang jauh lebih besar. Tidak juga menjajah tanah Muslim memberikan keamanan lebih besar bagi penduduk Barat; seiring jumlah serangan sejak 9/11 membuktikannya. Hanyalah Khilafah dengan sistem politiknya yang teruji dan terpercaya yang bisa mengakhiri siklus kekerasan dan menyediakan stabilitas yang sangat dibutuhkan dan merupakan hak daerah itu. Mereka yang percaya sistem Islam akan menjadi langkah mundur ke era Taliban tidak lagi punya kredibilitas menyatakan klaim seperti itu. Ini karena telah semakin jelas bahwa satu-satunya sistem yang mempunyai semua bahan inti yang dibutuhkan untuk membawa kemakmuran ke dunia Muslim – perekonomian yang stabil, eksekutif yang akuntabel dan representatif, sistem yang konsisten dengan nilai-nilai rakyatnya, kemandirian dari kontrol asing, dan memprioritaskan kebutuhan dasar rakyat bukannya perolehan segelintir orang dari segelintir perusahaan swasta – hanya bisa diamankan dan dijamin oleh sistem Islam. Selain itu, citra mengenai penggantungan televisi, penolakan pendidikan bagi perempuan, kezaliman pengadilan dan keagamaan yang acak adalah khas milik tradisi lokal, bukan negara Islam. Khilafah memiliki sejarah mengadopsi dan memacu belajar dan inovasi sains, memberikan hak-hak bagi perempuan dan kepemimpinan terjaga oleh pengadilan independen dengan kekuatan yang cukup besar. (lihat Bab 5)


Rekomendasi-Rekomendasi


Apa yang kita tampilkan dalam laporan ini adalah berperspektif berdasar. Jutaan orang berbagi kemarahan dengan kita atas perang di Afghanistan dan tetap berharap setidaknya, mendapat beberapa kebaikan dari episode mengerikan ini. Namun demikian, kami menyimpulkan bahwa terdapat akar penyebab masalah di Afghanistan yang tidak banyak diperdebatkan dan bahwa terdapat solusi bagi konflik hanya jika mereka yang punya maksud baik dan keberanian untuk menerapkannya. Bukti untuk ini dipaparkan dalam bab yang selanjutnya.


Kesimpulan kita bukanlah pesan akan kehancuran tetapi pesan akan harapan, karena politik harapan bukanlah milik Barat pribadi – faktanya, demokrasi Barat di Afghanistan hanya membawa korupsi dan kemalangan. Islam punya sistem pemerintahan tersendiri – Khilafah – yang pasti layak dipertimbangkan yang merupakan aturan hukum, otoritas politik bersama rakyat dan akuntabilitas. Persamaan permukaan memang ada, tapi ini berbeda dari liberalisme sekular dan maka kami menghadirkan fitur-fitur utamanya dalam beberapa detail dalam bab terakhir.


Kami merekomendasikan pengakhiran yang jujur atas penjajahan demi penduduk Afghanistan dapat merealisasikan sistem pemerintahan yang berhasil yang berumur seribu tiga ratus tahun di dunia Muslim dan maka dari itu menyerukan implementasi rekomendasi-rekomendasi berikut ini:


Rekomendasi 1


Afghanistan dan Pakistan harus berhenti mendukung perang oleh Barat dan pasukan Barat harus diminta pergi secepatnya oleh negara-negara terduduki


Ini bisa dibagi lagi menjadi tujuh rekomendasi yang lebih spesifik:


  1. Para pemimpin Pakistan dan Afghanistan harus berusaha mengenyahkan pasukan militer asing dari negara-negara mereka.

  2. Pemerintah Pakistan harus mencegah wilayah udaranya digunakan untuk serangan drone (pesawat tak berawak) US dan harus berhenti menyediakan dukungan intelijen bagi usaha-usaha seperti itu.

  3. Pemerintah Pakistan harus menghentikan serangan brutalnya ke FATA dan menyadari bahwa serangan-serangan semacam itu melawan suku-suku Pashtun mereka sendiri hanya akan mengakibatkan ketidakstabilan lebih jauh di seluruh negara.

  4. Pemerintah Pakistan harus berhenti memberi dukungan logistik ke usaha perang Afghanistan oleh NATO dengan melarang penggunaan pelabuhan Karachi dan rute-rute logistik di NWFP dan Baluchistan.

  5. Pemerintah Pakistan harus membatalkan seluruh visa para kontraktor asing seperti Blackwater (Xe) dan DynCorp di Pakistan.

  6. Pakistan juga harus membatalkan dukungannya terhadap Kerry-Lugar Bill – legislasi yang menghilangkan seluruh kedaulatan Pakistan yang masih dinikmatinya.

  7. Pasukan Barat juga harus dienyahkan dari daerah itu, termasuk yang ditempatkan di Irak, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan tanduk Afrika.


Rekomendasi 2


Pemerintah-pemerintah Barat harus menghentikan dukungan material pada para pemimpin diktatorial di daerah itu.


Daripada tidak henti memuji dan memunculkan para pemimpin korup di daerah itu, yang jelas ditolak oleh populasinya, orang-orang semacam Presiden Hamid Karzai dan Presiden Ali zardari, US, Uk, dan EU harus paham sejelas-jelasnya bahwa gagalnya mengakhiri dukungan politik dan militer untuk para pemimpin semacam itu pasti akan memiliki konsekuensi pada hubungan Barat-Muslim. Dunia Muslim telah menyaksikan kemunculan kembali Islam di antara seluruh bagian masyarakat dan kemunculan kembali identitas religius dalam tahun-tahun terakhir. Berargumen bahwa Barat tidak mendiskriminasi dunia Muslim akan menjadi jauh lebih sulit jika para pemerintah Barat terus mendukung para pemimpin korup semacam itu yang menghamburkan kekayaan negeri mereka sedangkan puluhan juta orang diabaikan aksesnya kepada tempat tinggal, listrik, dan pendidikan.


Rekomendasi 3


Dunia Muslim harus dibiarkan menentukan jalan politiknya sendiri tanpa gangguan


Pemerintah US dan UK perlu berhenti menimpakan secara paksa sistem nilai sekular Barat di dunia Muslim. Ide bahwa terdapat nilai universal adalah sebuah mitos yang tidak bisa dijustifikasi di hadapan masyarakat kontemporer dan pencapaian sejarah. Meskipun mungkin terdapat kesamaan permukaan dalam aspirasi bersama, ide bahwa nilai-nilai liberal sekular adalah satu-satunya cara dengan mana masyarakat bisa maju itu berarti adalah imperialisme kultural. Pendekatan ‘Henry Ford’ ini terhadap peradaban di dunia Muslim, yaitu, ‘kamu boleh punya sistem politik apapun yang kamu mau asalkan itu Barat,’ gagal memahami bahwa banyak pihak di Barat sendiri mempertanyakan vitalitas, keberlanjutan dan kebaikan sistem demokrasi mereka sendiri. Setelah perang di Irak dan Afghanistan dan kebrutalan di Abu Ghraib dan Teluk Guantanamo, banyak pihak di dunia Muslim juga menentang klaim Barat sebagai suatu otoritas moral. Dunia Muslim telah melihat sepanjang sejarah empat belas abadnya satu dasar jalan untuk peradaban terbuka dan kaya berdasarkan konstruk nilainya sendiri dan memancar dari sumber ideologi yang berbeda dari Barat. Peradaban kontemporer semajemuk Cina, Rusia, dan bagian besar Amerika Latin saat ini memiliki model-model sosial, ekonomi, dan politik yang unik dibandingkan dengan yang dipraktekkan di negri-negri Barat. Dunia Muslim oleh karenanya harus dibiarkan mengembangkan jalan politiknya sendiri bebas dari gangguan dan jika ini terjadi berdasarkan prinsip-prinsip Islam, maka terjadilah.


Sebagaimana sejarah telah mendemonstrasikan dalam daerah bermasalah ini, tidak ada pilihan mudah dan tidak ada jaminan kesuksesan. Kami percaya langkah-langkah di atas adalah cetak biru yang bisa dalam memecahkan kebuntuan dan membawa harapan baru bagi daerah itu dan kestabilan dan keamanan ke seluruh dunia. Namun, apa yang begitu jelas di dunia Muslim adalah bahwa “tetap melakukan tindakan sekarang” atau mencoba lagi apa yang telah gagal di masa lalu, adalah strategi yang tidak dapat diterima. Kecuali arus penjajahan asing berakhir dan daerah itu akan terus tetap dalam keadaan disfungsi yang sekarang dialami. Sekali penjajahan asing dihentikan, daerah itu kemudian akan bisa menjegal seabrek tantangan-tantangan lain yang dihadapinya di depan, baik itu kemiskinan dan pendidikan parah atau korupsi tak terkendali.


Afghanistan & Pakistan: The Unwinnable War

The current Western strategy for Afghanistan and Pakistan and an alternative path for the region


Laporan dari Hizb ut-Tahrir Inggris

Hizb ut-Tahrir

Britain

1st Safar 1431 / 17th January 2010

Afghanistan Pakistan Dossier [PDF]

Download lengkap : Buku Perang Afghanistan Pakistan Perang yang Tak Dapat Dimenangkan – bahasa Indonesia [PDF]

Senin, 22 Februari 2010

Bombs Attacking Islam – Bombings 5


Bombs Attacking Islam – Bombings 5

Bombing Accusing Islam Bombs 5

Here is various quotations about Bombs Attacking Accusing Islam 5

The 2005 Haditha massacre in Iraq is a vivid example of this. After a US marine was killed in a roadside bomb, US soldiers blinded by hatred went on a rampage killing 24 Muslim men, women and children.

Only the Khilafah will truly eradicate torture

Firstly, the Muslims should expose the violent, barbaric and inhumane foreign policy of the ‘civilised’ colonial powers that have destroyed nations, states and people; left millions to starve for the sake of securing capitalist interests, appointed and protected oppressive regimes that suppress the will of their people; plundered resources of the lesser developed and invade lands with brute force, terrorising the local civilian people with indiscriminate policies of killing, imprisonment, rape, ‘carpet bombing’; razing whole villages and towns into the ground; and forcing the people to adopt their life-styles, values and political structures. What right do such people have after witnessing the implementation of such a wicked and brutal foreign policy with their own eyes – in South America, Africa, Palestine, Afghanistan and more recently in Iraq, from the various credible news sources – to even begin laying a criticism against Jihad.

Clarifying the meaning of Jihad

Califate
TIME Magazine
Monday, Mar. 24, 1924

When Turkey went to war against the Allies in 1914, the most dreaded weapon in her armory was the threat of the Jehad or Holy War—power to declare which was vested in the office of the Califate. Dutifully the Calif pushed the button. Nothing much happened. The Jehad did not prevent the British Moslems and the French North African troops from fighting against the Central Powers, nor did it hold back the Arabs from declaring their independence and fighting as Allies of the British in Palestine. The Jehad proved to be a "dud" shell; but when the Grand National Assembly at Angora abolished the Califate and sent the Calif, Abdul Medjid, to Switzerland in exile (TIME, March 10), the dud proved to be a bomb. The reverberations of the explosion still resound throughout all Christendom as well as the Moslem world.

….

The Siege of Palestine: A Slow Excruciating Death
Eight months have passed since Israel started its latest round of massacring Muslims in Gaza. Although the bombs have stopped falling - and the media has stopped paying attention - the Massacre in Gaza continues. However, instead of bombs, Israel is using a deadly siege to squeeze the life out of the people of the area. For example, as the people cannot access building materials, they must use tents as makeshift shelters. As filmed in a documentary aired by the UK's Guardian, fathers must stay up all night to protect their family and children from being eaten by wild animals! As any objective observer would clearly see, the true brutality in Palestine lies in the day-to-day reality of being occupied by Israel, which includes waiting hours upon hours at checkpoints, watching helplessly as Israel comes in and bulldozes one's homes, watching in horror as the Israeli army uproots olive trees (which is often the only source of sustenance one has), or being subject to house raids in the middle of the night. As was documented by in the news show "60 Minutes", Israeli troops can arbitrarily take up residence in a Muslim's house and use it as a temporary post of operation.

Repercussions of Destroying the Khilafah

These rulers have committed far more heinous crimes against the Muslims than simply issuing empty resolutions. Western colonialism put in place a motley crew of dictators, monarchs, autocrats and downright puppets that have served their colonial masters in a manner more loyal than their own populations. Successive rulers have betrayed the interests of Muslims. With their brutality and lack of self-respect seemingly having no limits, the Muslim rulers are falling over themselves in an attempt to please. For example, Qatar today hosts the largest airstrip in the Middle East, to be used exclusively by the US Air Force to bomb Muslim lands and control the skies of the Middle East. Bahrain, which previously hosted the naval forces of the British Empire, now serves as the base for the US Navy’s 5th Fleet. Almost every nation in the Muslim world today has facilitated the military aims of the various colonial at some point. Present day Pakistan, in a clear contradiction of General Musharraf’s own motto of “Pakistan First”, is engaging in a war with his own people whilst compromising the sovereignty of the country in allowing US troops to act with impunity. Deploying his powerful military not to defend Muslims from aggression, he has made the Pakistani Armed forces nothing more than mercenaries. They are forced to act as mercenaries by the regime for some paltry economic aid for a corrupt government whilst the blood and honour of their brothers and sisters is violated on a global scale. Due to these tyrannical rulers the armies of the Muslim world have been held back, shackled to their bases, unable to come to the aid of their brethren in Chechnya, the Balkans, Kashmir, Afghanistan, Iraq or anywhere else that conflict rages.

….

The Muslim world has indeed seen destruction, devastation and calamity for the past 83 years. However, the signs of awakening for the return of the Khilafah are now clear for all to see. The proof of this can be seen in the growing gulf between the rulers and the ruled; the speeches and Khutbahs in universities and mosques throughout the Muslim world that call for a sincere and rightly guided Khaleefah to lead the Ummah; witness the mass demonstrations against the bombing and killing of innocent Muslims by US and UK forces in Karachi, Jakarta, Hebron, Dhaka and other places; the increasingly brutal methods and oppression that the regimes are forced to use to quell the desire for political change such as in Egypt and Uzbekistan. It can also be seen by the actions of the colonial powers who realise that the rulers they imposed upon the Muslim world have no support and no legitimacy, hence they are forced to resort to occupying Muslim lands and cementing their presence through military bases. The global reawakening for Khilafah can also be seen in the desperate and pathetic attempts by the regimes and their scholars, who they have bought for a cheap price, to malign, slander and attack the idea of Khilafah. They lie by saying that the Khilafah cannot be established in the modern age, that Islam and politics do not mix, that sectarian differences are too great, that the western powers are too powerful and that the Ummah of Muhammad Saw. can never be unified. All of the efforts of the enemies of Islam will be in vain for Allah Swt. has promised the believers that the Khilafah will return on the method of the Prophet and there is no power or might other than Allah Swt.

3 March: Dark days for the Ummah since the destruction of the Khilafah

Russia continues to follow an independent route and employ policies that demonstrate this such as its view that Hamas and Hezbollah are not terrorist organisations despite numerous US resolutions to the contrary. Russia has signed a deal with India to develop a stealth fighter as well as various military pacts. Its Middle East tours, position it as an alternative superpower to the US which is supplemented with its observer status in the Arab League and Organisation of Islamic conference (OIC). Russia continues to use its relations with Iran as a means to frustrate US plans on imposing sanctions against Iran. Russia plans to spend over $200 billion in the next 5 years to modernise its military.1 This includes new nuclear submarines, aircraft carriers, a fleet of TU-160 supersonic strategic bombers and the development of a fifth generation fighter jet. Such production is also leading to Russia ornering the arms industry; Russia is the largest supplier of arms to China, Iran, and Venezuela and is courting the Middle East.

….

The US has forced Pakistan, through an international campaign of propaganda, to carry out bombing campaigns in its own territory. This has resulted in a very questionable bombing campaign taking place in Pakistan were innocent civilians are regularly being killed in retaliation. Zardari has used this as a justification to target militants thus aiding the US when it has been unable to halt the insurgency it faces in Afghanistan. The US has used various carrots and sticks to get Pakistan to play the role of regional surrogate. Slowly but steadily, Washington is tightening the noose around the neck of Pakistan - civilian and military – and forcing them to make strategic choices. Major General Ashfaq Nadeem, the top commander of the 2009 Swat Valley offensive, said that most of the leadership of the Swat Valley Taliban has simply relocated to Karachi and South Waziristan.7 Pakistan could cut a deal with the Tehrik-i-Taliban; this would suit both parties; it would however be against US aims. The actions of Zardari’s government are in no way dealing with any of Pakistan’s real issues, they are implicitly placing Pakistan in an even more perilous position and weakening her in the face of US demands.

2010 will indeed be crunch time for Pakistan. Gripped by a bombing campaign, an economy in disarray, with some provinces looking for secession and an army at odds with the civilian government, Pakistan will, in all likelihood, see the US increase its presence in the region, which will include more troops and the challenge of supplying such troops. It should be borne in mind that the ultimate aim of the US in the Muslim world is to prevent the emergence of any major power; Khilafah or otherwise. US intervention in the Muslim world has never been to achieve any ultimate settlement – even though the rhetoric may have said so. US aims are to prevent stability in areas where another power could possibly emerge.

Strategic Estimate 2010

Adnan Khan

g. Cultural insensitivity

In both wars the aggressors used heavy handed tactics including indiscriminate bombing and a complete lack of understanding of the local beliefs and customs making it easy to recruit for domestic opposition forces. In both wars the infamous US “body count” of enemy killed was popular although recently General Stanley McChrystal has suspended it in Afghanistan.

….

Secondly, even if it is argued that Al-Qaeda exists in the border regions between Afghanistan and Pakistan (according to Prime Minister Gordon Brown three quarters of the most serious plots facing the UK have links to Pakistan) [2], then what are NATO troops doing in Kabul or Herat or in Mazhar-e-Sharif. If Al-Qaeda is on the Pakistani side then presumably the responsibility to deal with them lays with the Pakistani security services. Even then according to Prime Minister Brown the numbers of foreign fighters based in the FATA area of Pakistan, learning bomb making and weapons skills only rank several hundred [2].

Who is Bombing Pakistan?

This unchecked influx of American personnel and equipment has prompted at least one former director of the ISI, as well as a number of other defence related Pakistani commentators to allege that the US, through operatives such as those affiliated with Xe, is the culprit behind the wave of terrorism that has gripped Pakistan in the last few months [6]. This wave of bombings erupted following the Pakistani military’s latest and most large scale foray into South Waziristan launched in October 2009. Pakistan’s major cities have been gripped by random and devastating bombings that have resulted in hundreds of civilian deaths. Although those reported in the Western media tend to be the spectacular bombings in which dozens or, as in some cases, over a hundred at a time are killed, the fact remains that bombings on a smaller scale persist across the country on a daily basis.

Bombings have struck markets and busy streets in Peshawar, Lahore, Multan, Rawalpindi and numerous smaller towns and even villages across Pakistan. After each incident, the government has promptly issued declarations linking the bombings to the Taliban, or the Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), or an amalgamation of these and others, or just terrorists which demonstrates how speculative the government’s operational information really is. This is despite a number of denials by the TTP of involvement in the worst of these atrocities [7]. The fact that the bombings have largely targeted Peshawar, and specifically large centres of population from FATA residing in Peshawar, have led many to question why Islamist militants from FATA, seeking to expand support for their stated ambition of establishing authority over FATA and NWFP en route to the rest of Pakistan, would randomly and repeatedly bomb the very people they seek support amongst. Such questions have led observers to speculate that in fact it is highly unlikely to be the case that the Mehsud tribe, which forms the bulk of the leadership cadre of the TTP, is waging a bombing campaign against Pakistani society.

….

Many politicians in Pakistan blame the bombings upon Indian covert operations in Pakistan. They allege that evidence exists which implicates Indian operatives in Baluchistan and FATA in the ongoing bombings. They allege that the government is trying to cover up these facts so that it can use the bombings as a reason to continue to push further through North and South Waziristan in operations undertaken through strategic subservience to America’s regional ambitions.

Others allege that the bombings are orchestrated through the activities f individuals affiliated with Blackwater (Xe) or the CIA more directly. They speculate that these attacks are undertaken to generate support across Pakistan, particularly NWFP and Punjab, for the continuation of unpopular military operations by the Pakistani army in FATA. Some others suggest that the bombing are actually punitive strikes carried out at the behest of the US as a result of Pakistan’s resistance of US demands to expand Pakistani military operations across FATA.

It has to be borne in mind that incidents of bombings have been numerous and widespread across Pakistan. It must also be borne in mind that Pakistan is afflicted with a number of insurgencies, and faces violent Shia-Sunni clashes each year around the month of Muharram. In addition to this, there are a number of foreign states who, to varying degrees, seek to destabilise Pakistan through civil unrest and violence.

More so than any other factor, it must be understood that the absence of effective leadership of the state and protection of society will invariably lead to destructive foreign intervention in the state’s functioning and in society. Hence, the current wave of violence afflicting Pakistan, aside from the perpetrators who are mechanically responsible for the destruction, is ultimately the result of the absence of any effective overall leadership of the state, and the provision of any protection for society. The government has failed to demonstrate any initiative in any critical area facing the state, whether in the sphere of security and sovereignty, political stability, developmental and economic recovery, or social cohesion. It is evident that this failure is what has made it possible for an external entity to wage this bombing campaign.

….

The illusory economic enticements of alliance with America, which have since evaporated, were allegedly backed up by the proverbial big stick in the person of then Deputy Secretary of State Richard Armitage. In September 2006, it became public that the Bush administration through Armitage had threatened Pakistan by ‘bombing it back to the stone age’ if it did not extend the required support to the US in its campaign in Afghanistan [10].

….

Over 60% of Pakistan’s population live on less than $2 a day [1] and nearly a quarter on less than $1.25 a day [2]. According to the World Food Programme, 7.4 million Afghans – nearly a third – are unable to get enough food to live active, healthy lives, and 8.5 million, or 37%, are on the borderline of food insecurity [3]. Corruption is rife, demonstrated by the ongoing court cases in Pakistan looking into allegations of corruption at all levels. In a recent corruption assessment for 2008, Pakistan and Afghanistan were ranked 134 and 176 out of 180 countries respectively [4]. Misrule is the norm with some of Pakistan’s history being under non civilian rule. Afghanistan’s much lauded elections have been the subject of serious fraud and rigging allegations. To make matters worse, we are now witnessing the onset of violence on an unprecedented scale, both with American forces attacking targets in Pakistan and Afghanistan, and the recent bombings across major Pakistani cities.

….

More recently, commentators shrink in horror at the prospect of Pakistan heading towards ‘balkanisation’ because successive recent governments have capitulated to US demands in the ‘war on terror’, and also because of the rise of bombings targeting civilian areas.

Afghanistan And Pakistan : The Unwinnable War

The Current Western Strategy For Afghanistan & Pakistan And an Alternative path For The Region

A Report From Hizb ut-Tahrir Britain

Web: www.hizb.org.uk

A society where men and women are bombarded with a variety of sexual imagery at all times of the day whether on television, billboards, newspapers or magazines will lead inevitably to widespread sexual agitation.

Does Islam Oppress Women?

Lopa Hussain

Adnan Khan

www.Khilafah.com

Since Vladimir Putin become Russian President he has managed to gain a grip on the nation and counter US attempts to weaken Russia. Today Russia is rapidly developing without following the example of Western liberal democracy. Russia has opted to openly challenge the West as well as the US at practically every turn, whether by planting a flag on the seabed beneath the Arctic icecap, testing the massive ordnance air blast bomb or disputing the sitting of US early-warning defence systems in Eastern Europe, which it has managed to successfully halt for the moment. Russia has begun re-inventing itself as a regional power, after winning back Kazakhstan and Uzbekistan from America’s grip and managed to reverse the colour revolutions. The US after nearly 20 years of having no rival is now facing the grim prospect of a challenge from a nation with the world’s largest gas reserves and substantial oil reserves.

….

Russia continues to follow an independent route, such policies include Russia’s continued position that it does not view Hamas and Hezbollah as terrorist bodies despite numerous US resolutions to the contrary. Russia has signed a deal with India to develop a stealth fighter as well as various military pacts. Its Middle East tours, position it as an alternative superpower to the US which is supplemented with its observer status in Arab league and OIC. Russia continues to use its Iran card and the sale of the S-300 missile systems card to frustrate US plans on UN sanctions against Iran. Russia plans to spend over $200 billion in the next 5 years to modernise its military. This includes new nuclear submarines, aircraft carriers, a fleet of TU-160 supersonic strategic bombers and the development of a fifth generation fighter jet. Such production is also leading to Russia cornering the arms industry; Russia is the largest supplier of arms to China, Iran, and Venezuela and is courting the Middle East.

….

The US brought Japanese expansion to a grinding halt by dropping nuclear bombs upon the nation, it occupied Japan with 500 000 troops, the threat of communist expansion however resulted in the US to develop Japan to be a model democracy with a flourishing economy. The US allowed the transfer of technology which greatly speeded Japans post war development and ever since Japan has concentrated on electronics and has becomes a leading exporter of technological products.

Constructing The Khilafah’s Foreign Policy

Adnan Khan

In the 1930’s Japan began a territorial expansion programme to solve the shortage of raw materials. It conquered Manchuria and surged deep into China to exploit labour and resources. Yet the situation with China quickly deteriorated and war broke out while tensions with the West were coming to a boil. The United States, concerned about its Pacific territories gave Japan an ultimatum to abandon its territorial acquisitions or face an oil embargo (at the time, the United States provided about 80% of Japan’s oil). Japan could either capitulate or lay claim to the vast resources of Southeast Asia. The latter option involved striking the Dutch and British, both US allies, and thus engaging in war with the United States. The Japanese made a gamble and pre-emptively attacked Pearl Harbour and as a result were then on the receiving end of US nuclear bombs.

….

What also needs to be accepted is that all the Superpowers for the last four centuries concentrated on manufacturing which ensured they became self-sufficient, not having to rely on any external nation. They all developed defence industries to be able to defend their nations and deter those who had designs on them. Hence Britain was the first to develop a naval marine industry and conquered the seas in the 18th century; Germany shifted the balance of power on the eve of WW1 by industrialising, developing the first fighter planes and building most of Eastern Europe’s railways. The US achieved world power status by developing the first nuclear bomb, its contribution in WW2 was what halted almost certain German victory. The USSR’s shift from agriculture to manufacturing is what made it compete with the US and today Chinese development is firmly rooted in manufacturing. The point here being without industry one cannot become self-sufficient, without industry one cannot defend itself and without industry one will always be at the mercy of foreign powers.

….

Iran’s air defence is also weak, its aircrafts are mainly second generation with the rest of the world constructing fourth generation jets. Iran’s air defence forces are the weakest link in the overall defence posture of the country. This situation will remain until the modernisation of Iran’s aircrafts occur where the numbers of such aircraft increase and the training of its pilots and depth of its repair parts inventory improve. The majority of the inventory of the replacements to its aging US manufactured fighters and fighter-bombers is a mix of Russian and Chinese aircraft. Iran remains vulnerable to attack from the air due to the poor state of its air defences.

….

The National Organization for Military Production within the Ministry of Military Production supervises a number of manufacturing plants, which were usually named after their location. These plants are:

- Abu Zaabal Company for Engineering Industries, which produced artillery pieces and barrels

- Abu Zaabal Tank Repair Factory, which overhauled and repaired tanks and would eventually become the producer of Egypt's main battle tank

- Al Maadi Company for Engineering Industries, which produced light weapons, including the Egyptian version of the Soviet AK-47 assault rifle

- Hulwan Company for Machine Tools, which produced mortars and rocket launchers

- Hulwan Company for Engineering Industries, which produced metal parts for ammunition, shells, bombs, and rockets

- Heliopolis Company for Chemical Industries, which produced artillery ordnance, bombs, and missile warheads

- Banha Company for Electronic Industries, which produced communications devices.

….

Iran’s principal mining industries are oil refining, petrochemicals, steel, and copper. Today there are nine refineries with a potential refining capacity of over one million barrels per day. In late 1980, Iraqi bombing forced the closure of the Abadan refinery, (for long the world’s largest oil refinery).

….

- Pakistan's is the first Muslim nation to develop a nuclear weapons development program. Based primarily, on highly-enriched uranium (HEU), Pakistan is believed to posses 30 to 50 nuclear warheads with thousands of centrifuges in operation. Pakistan has continued its pursuit of expanded uranium-enrichment capabilities and currently has 3 Nuclear reactors and two pressurised water reactors. A further two reactors are currently under production. Whilst Pakistan procured elements of the necessary technology from other states the development of such weapons of mass destruction means Pakistan has an indigenous programme, an atomic bomb requires enriched uranium, and to enrich uranium, machines called centrifuges are required – rapidly spinning tubes that are used to separate and concentrate isotopes in gasified uranium. Spinning at several thousand revolutions per minute, they rest on superb bearings, in perfect balance, in a vacuum, linked by pipes to thousands of other spinning units. When the process works, the gas ends up in a solid form, but any minute defect, and the product is decisively marred. The same is true of the other equipment required: tools, magnets, exotic steel, vacuum pumps, ball bearings and instruments of all kinds, all must be perfect. Pakistan has mastered this all.

Constructing an Industrialised Muslim World

Adnan Khan

Khilafah.com

The initial view in Islam is that in generality all objects are permitted. However, their use has been restricted as all actions require a Shari’ah evidence. Although Intercontinental Ballistic Missiles (ICBMs) are allowed in Islam, how they are to be used would require knowledge of the Shari’ah rule. ICBMs could be used for reasons ranging from legitimate deterrent measures to the illegitimate killing of innocent civilians. Islam permits the study and use of medicine, engineering, maths, astronomy, chemistry, physics, agriculture, industry, communications including the internet, and the science of navigation and geography. This includes what results from them such as industry, tools, machinery and factories. Also included in this would be industries, whether military or not, such as heavy industry (manufacture of tanks, aeroplanes, rockets, satellites, nuclear technology, hydrogen, electronic or chemical bombs, tractors, lorries, trains and steamships) as well as consumer industries and the manufacture of laboratory instruments, medical instruments, agricultural tools, furniture, carpets and consumer products such as the TV, DVD and Playstation etc. The point being illustrated here is that all objects we know of past, present and future are allowed without restriction unless Shari’ah evidence exists to definitively disallow it.

Islam in The 21st Century

Khilafah.com

Therefore, despite the sheer numbers of Muslims that dwarf other nations, the Islamic Ummah is ineffective even against the insignificant nations and even they take advantage of this. The Muslims are looted by whoever wishes to do so and whenever they so wish, due to the fact that the real forces of the Muslims sit idle in the barracks under the instruction of the insincere leadership and the only resistance that the aggressors face are boys, stones and slingshots against their tanks, missiles, helicopter gunships, aircraft carriers, destroyers, bombers and ground attack aircraft.

….

The First and Second World War claimed the lives of millions of people and confounded misery on the survivors. Two atomic bombs in Japan have annihilated over 3 million people.

Jihad and the Foreign Policy of the Khilafah State

Khilafah Publication

website: http://www.khilafah.com

The change in Pakistan’s leadership in 2008 did nothing to halt the economic crisis with the difference on this occasion being the number of problems it faces at the same time. The Zardari government continued for months to lie about seeking IMF funding. The IMF’s managing director Dominique Strauss-Kahn on the 22nd October 2008 confirmed Pakistan had formally requested a bailout package. As IMF loans require US approval, Pakistan would need some understanding with the US with regards to the war along the Durand line. The Economic crisis suits the US fine as it is able to extract concessions from Pakistan – that include bombing inside Pakistan.

….

What also needs to be accepted is that all the superpowers for the last four centuries concentrated on manufacturing which ensured they became self-sufficient, not having to rely on any external nation. They all developed defence industries to be able to defend their nations and deter those who had designs on them. Hence Britain was the first to develop a naval marine industry and conquered the seas in the 18th century; Germany shifted the balance of power on the eve of WW1 by industrialising, developing the first fighter planes and building most of Eastern Europe’s railways. The US achieved world power status by developing the first nuclear bomb, its contribution in WW2 was what halted almost certain German victory. The USSR’s shift from agriculture to manufacturing is what made it compete with the US and

today Chinese development is firmly rooted in manufacturing. The point here being without industry one cannot become self-sufficient, without industry one cannot defend itself and without industry one will always be at the mercy of foreign powers.

….

47 'Pak's N-bomb prevented Indian retaliation after 26/11,' express India, May 2009, retrieved May 2009, http://www.expressindia.com/latest-news/Paks-Nbomb-prevented-Indian-retaliation-after-26-11/432730/

The Quest For Economic Progress

An Islamic Bluprint For Pakistan

Hizb ut-Tahrir Britain

Therefore, for all these reasons, the state has to carry out by itself the manufacture of its own arms and everything it requires for its war machine and spare parts. This can’t be achieved unless the state possessed heavy industry and started to build factories that produce heavy industry, both the military and the non-military alike. Thus it is necessary that the state has factories for producing all types of atomic bombs, rockets, satellites, aeroplanes, tanks, spacecraft, mortars, naval ships, armoured vehicles, and all types of heavy and light weapons. It is necessary that it has factories which produce machines, motors, materials, and electronics and factories which have relation with public property and light factories which have relation with the military or war industries. All this is required by the duty of preparation that is obliged upon the Muslims by the saying of Allah :

“Make ready for them all that you can of (armed) force.” [TMQ Al-Anfal: 60]

The Ruling System in Islam

Hizb ut-Tahrir

Fifth edition

Khilafah Publications

Suite 298 56 Gloucester Road London SW7 4UB

website: http://www.1924.org

Bomb Attacking Islam – Bombs 4

Bombing Accusing Islam Bombs 4

Bomb Attacking Islam - Bombs 4

Bombing Accusing Islam Bombs 4

Bomb Attacking Islam - Bombs 4

Bombing Accusing Islam Bombs 4

Bomb Attacking Islam - Bombs 4

Bombing Accusing Islam Bombs 4

Bomb Attacking Islam - Bombs 4

Bombing Accusing Islam Bombs 4

Bomb Attacking Islam - Bombs 4

Bombing Accusing Islam Bombs 4

Bomb Attacking Islam - Bombs 4

Bombing Accusing Islam Bombs 4









Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda