Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Senin, 12 April 2010

Besarnya Perbedaan Derajat Surga


Besarnya Perbedaan Derajat Surga

URGENSI AMAL DAN MENGAKHIRI KETIDAKBERDAYAAN

B. Besarnya Perbedaan Derajat di Dalam Surga

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjanjikan surga kepada orang-orang yang taat. Namun Allah memasukkan mereka ke surga semata-mata dengan rahmat dan fadhilah, bukan atas dasar hak seorang hamba sebagaimana yang diketahui.

Tetapi keadilan Ilahi menentukan bahwa orang yang mencurahkan segala tenaga dan kemampuannya untuk taat kepada Tuhannya serta selalu berusaha menegakkan agama-Nya itu tidak sama dengan orang yang melalaikan semua itu. Begitu juga tidak sama orang yang banyak mencurahkan harta dan tenaganya, dengan orang yang hanya sedikit mencurahkan tenaga dan hartanya. Begitulah seterusnya. Manakala keadilan Ilahi telah menakdirkan perbedaan maka Allah pun menyediakan untuk hamba-hambanya surga yang berbeda-beda tingkatannya, dan Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya agar mencari derajat yang tinggi. Allah berfirman,

Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga). Mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari perasan anggur murni yang masih tertutup rapat. Sedang tutupnya dari kesturi yang amat harum dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. “33

33) Qur'an Surat al-Muthaffifin (83) : 22-26

Allah juga berfirman,

Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu. Dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata. Seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda. Dengan membawa gelas, cerek dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir. Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk. Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih. Dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli. Laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa. Kecuali ucapan salam.”34

34) Qur'an Surat al-Waqi'ah (56) : 10-26

Begitu juga di dalam surah ar-Rahman dan surah lainnya. Allah menyeru hamba-hamba-Nya untuk saling berlomba mencapai derajat yang tinggi.

Cukuplah kita tahu bahwa Allah menjelaskan tingkatan para shahabat itu tidaklah sama. Mereka saling berlomba. Lalu bagaimana dengan kita. Allah berfirman,

.... Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Makkah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”35

35) Qur'an Surat al-Hadid (57) : 10

Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam menyampaikan di dalam beberapa hadits derajat yang tinggi. Beliau menyeru umatnya kepada derajat tersebut, serta menerangkan betapa besar keberuntungan orang yang mendapatkannya. Nabi bersabda :

Sesungguhnya surga itu mempunyai beberapa kamar. Ruangan luarnya dapat dilihat dari dalam, begitu juga ruang dalamnya dapat dilihat dari luar.” Kemudian seorang 'Arabi berdiri seraya bertanya : “Wahai Rasulullah, untuk siapakah kamar-kamar itu?” Kemudian Rasul menjawab : “Untuk orang yang selalu berkata baik, suka memberi makan orang lain, membiasakan puasa dan suka melakukan shalat malam sewaktu manusia sedang terlelap.”36

36) Diriwayatkan oleh Imam Nawawi dan Tirmidzi dalam Sunan-nya, kitab al-Birru wash-Shilah, bab ma Ja'a fi Qaulil-Ma'ruf. Imam Ahmad juga meriwayatkan dalam Musnad-nya dengan beberapa jalur riwayat yang menguatkan sebagian terhadap sebagian lain. Hadits ini hasan insya Allah. Baca Majma'uz-Zawa'id : 10/422-423.

Rasulullah bersabda :

Sesungguhnya surga itu mempunyai seratus tingkatan (derajat), yang semua itu Allah Subhanahu wa Ta'ala sediakan untuk orang-orang yang berjihad di jalan-Nya. Sedangkan jarak antara dua tingkatan seperti jarak antara langit dan bumi. Jika kamu meminta surga kepada Allah maka mintalah surga Firdaus karena merupakan surga yang paling luas. ... Di atasnya terdapat 'arsy Rahman, dan sungai-sungai surga terpancar darinya.”37

37) Shahih Bukhari, kitab Jihad, bab darajatul-Mujahidin fi Sabilillah.

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu bahwa Ummu Rubayyi' binti al-Barra', ibu Haritsah bin Suraqah mendatangi Nabi dan berkata,

Wahai Nabi Allah, bersediakah engkau menceritakan kepadaku tentang Haritsah – ia terbunuh sewaktu Perang Badar, terkena anak panah nyasar 38 – seandainya ia berada di surga niscaya aku sabar, dan seandainya tidak di surga maka aku akan senantiasa menangisinya.” Maka Rasulullah menjawab : “Wahai Ummu Haritsah, sesungguhnya surga itu bertingkat-tingkat dan anakmu berada di dalam surga Firdaus yang tertinggi.”39

38) Tidak diketahui siapa pemanahnya.

39) Shahih Bukhari, kitab Jihad, bab Man Atahu Sahmun Gharibun Faqatalahu.

Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,

Kelompok pertama yang masuk surga, wujud mereka seperti bulan pada malam purnama, sedangkan orang yang terkena pancaran mereka bagaikan bintang-bintang yang paling kuat cahayanya.”40

40) Shahih Bukhari, kitab Bad'ul-Khalqi, bab Ma Ja'a fi Shifatil-Jannah wa annaha Makhluqah.

Sesungguhnya penduduk surga saling melihat penduduk surga yang ada di atasnya, seperti mereka memandang bintang yang berkilau, seperti mutiara yang melintas di ufuk langit dari arah timur atau barat, karena keutamaan yang ada pada mereka. Para shahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, bukankah tempat itu untuk para Nabi, sedangkan orang lain tidak dapat mencapainya?” Lalu Rasul menjawab : “Ya, demi Dzat Yang diriku ada dalam kekuasaan-Nya, tempat itu juga untuk orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan membenarkan para utusan-Nya.”41

41) Ibid.

Nabi pernah menceritakan perbedaan tingkatan di surga :

Dua surga yang bejana dan isinya terbuat dari perak. Dan ada dua surga yang bejana dan isi keduanya terbuat dari emas ...”42

42) Shahih Bukhari, kitab Tafsir, bab Qauluhu Ta'ala “Wa min Dunihima Jannatani”.

Para shahabat telah mengetahui perbedaan derajat surga. Karena itu A'isyah berkata, “Seorang lelaki datang kepada Rasulullah lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, demi Allah, engkau lebih kucintai daripada diriku, lebih kucintai daripada keluargaku, dan lebih kucintai daripada anak-anakku. Setiap kali aku berada di rumah aku selalu teringat kepadamu, aku tidak bisa bersabar hingga aku menemuimu, kemudian menatapmu. Jika aku teringat akan ajalku dan ajalmu, tentunya engkau masuk surga bersama para Nabi. Sedangkan jika aku masuk surga, aku takut tidak bisa bertemu denganmu.” Rasul tidak memberikan jawaban atas pertanyaannya hingga malaikat Jibril turun dengan membawa ayat : “Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para Shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”43

43) Qur'an Surat an-Nisa' (4) : 69. Hadits diriwayatkan oleh Ibnul Qayyim di dalam Hadil-Arwah, hlm. 77. Menurutnya, al-Hafizh Abdullah al-Muqaddasi berkata : aku tidak tahu sanad hadits ini sama sekali. Hadits juga di-takhrij oleh Abu Nu'aim.

....

Tentang Buku : Saleh Tapi Tak Berdayaguna

Minggu, 11 April 2010

Riwayat Hidup Imam Nawawi – Kisah Muslim BerGuna


Riwayat Hidup Imam Nawawi – Kisah Muslim BerGuna

URGENSI AMAL DAN MENGAKHIRI KETIDAKBERDAYAAN

A. Minimnya Waktu yang Disediakan untuk Beramal Shaleh

....

Riwayat hidup Imam Nawawi 25 rahimahullah merupakan riwayat hidup yang harum dan besar, yang layak merepresentasikan kondisi kaum salaf dalam hal mengelola waktu untuk berbuat shaleh, mengurangi makanan, minuman, bekerja dan tidur, sehingga mereka memiliki banyak waktu yang dapat digunakan untuk berbuat taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

25) Yahya bin Syaraf bin Mari, seorang mufti, syaikhul Islam, Muhyiddin Abu Zakariya an-Nawawi, hafizh, faqih, penganut madzhab Syafi'i, lahir tahun 631 di Nawa, sebuah desa di kota Huran, utara Syam. Ia datang ke damaskus dan sungguh-suingguh belajar. Ia banyak menulis karangan yang cukup populer dan menyebar ke segenap penjuru dunia serta bermanfaat bagi umat Muslimin. Wafat di Nawa tahun 676, pada umur 45 saja. Lihat Fawatul-Wafyat : 4/264-268, dan al-A'lam : 8/149-150.

Ketika Imam Nawawi rahimahullah pindah dari kampung kelahirannya, Nawa, ke Damaskus, ia bertambah giat mempergunakan waktunya hingga selama 2 tahun penuh ia tidak merebahkan badannya ke bumi, melainkan tidur bersandar pada bukunya,26 selalu sibuk belajar, memperbanyak ibadah seperti shalat malam, puasa setahun penuh, disertai sifat zuhud dan wara'. Bahkan berpegang teguh pada sifat wara' secara ketat dan tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Setiap hari ia mempelajari 12 mata pelajaran dari gurunya. Ia menjadi panutan dalam hal kesungguhan mencari ilmu siang dan malam, tidak tidur kecuali tertidur dan selalu menjaga waktunya.

Ia pernah berkata, “Apabila kantuk mengalahkan diriku maka aku bersandar pada buku sebentar lalu aku terbangun.” 27 Salah seorang temannya datang dengan membawa makanan yang masih ada kulitnya, namun ia tidak bersedia memakannya. Ia berkata, “Saya khawatir tubuhku lembab sehingga aku tertidur.” 28 Dalam sehari semalam ia tidak makan kecuali sekali setelah waktu akhir Isya' dan tidak minum kecuali sekali pada waktu sahur. 29

26) Al-Manhalul-'Adzabur-Rawi, hlm. 39

27) Ibid., hlm. 115

28) Ibid., hlm. 120

29) Ibid., hlm. 121

Ia makan roti yang dibawakan oleh ayahnya dari negeri Nawa yang dibuat sendiri dan cukup untuk persediaan selama satu minggu. Ia juga tidak pernah memakan kecuali satu macam makanan seperti madu, cuka, atau minyak. Sedangkan daging, Imam Nawawi memakannya sekali dalam sebulan, dan hampir tidak pernah ia memakan makanan dengan dua lauk selama hidupnya. 30

Secara garis besar Imam Nawawi adalah seorang yang jauh dari kemewahan dan bersenang-senang, serta memiliki sifat takwa, qana'ah, wara', selalu muraqabah kepada Allah di waktu sendiri atau ramai, meninggalkan hawa nafsu, sedikit tertawa, jarang bermain bahkan selalu menghindarinya, selalu berkata benar sekalipun itu pahit, tidak takut terhadap celaan orang yang mencela jalan Allah. 31

30) Ibid.

31) Ibid.

Tidakkah kamu lihat – saudara pembaca – bagaimana orang-orang shaleh memanfaatkan waktunya, bahkan berkejaran dengan waktu. Semua itu tidak lain karena mereka mengetahui betul nilai dan singkatnya waktu, sehingga mereka memanfaatkannya sebaik mungkin.

Cukup sebagian riwayat hidup Imam Nawawi yang saya ceritakan sebagai contoh. Di kalangan kaum salaf masih ada berpuluh-puluh orang yang memiliki tekad besar sepertinya. Semoga Allah merahmati mereka semua.

Saya kemukakan satu contoh lagi orang yang dekat masanya dengan kita. Syaikh Basyir Ibrahimi al-Jaza'iri. Beliau mempelajari al-Qur'an semenjak usia tujuh tahun dan menghafalnya, kemudian ia menghafal berbagai matan ushul, hadits, bahasa serta balaghah dan syair. Beliau mendapat gelar profesor pada usia 14 tahun. Kemudian beliau pindah ke Mesir, Hijaz dan Syam untuk belajar pada ulama-ulama terkemuka negeri itu, khususnya di Madinah al-Munawarah. Bersama dengan Syaikh Ibnu Badis, ia menggagas berdirinya Jam'iyah Ulama Muslimin al-Jaza'irin pada tahun 1913. jam'iyah tersebut tidak berkembang, kecuali pada tahun 1941 yang menjadi seperti duri dalam tenggorokan bangsa Prancis. Beliau juga mengajar di Wehran salah satu kota di Aljazair, di mana dalam sehari beliau mengajar 10 pelajaran, dari Subuh hingga Isya'. Kemudian setelah Isya' belaiu menghadiri seminar universitas untuk menyampaikan ceramah tentang sejarah Islam. Dengan himmah-nya beliau membangun 400 sekolah Islam, 200 masjid yang digunakan untuk shalat dan ceramah, yang sempat menyiutkan nyali penjajah sehingga beliau diasingkan ke padang pasir. Setelah kembali dari pengasingannya, beliau mengemban tugas besar memimpin Jam'iyah Ulama menggantikan Ibnu Badis yang wafat. Dalam banyak kesempatan ia tidak tidur sepanjang siang dan malam. Beliau pernah membangkitkan semangat pemuda-pemuda Aljazair. Beliau juga mendirikan ma'had dan sekolah-sekolah yang melahirkan pejuang-pejuang kemerdekaan. Dan menyaksikan hasil usahanya berupa kemerdekaan Aljazair pada tahun 1962. Syaikh Basyir Ibrahimi al-Jaza'iri meninggal dengan tenang dan bahagia pada tahun 1965, semoga Allah merahmatinya. 32

32) An-Nahdhah al-Islamiyah: 1/251-268

Memang benar jika dikatakan Islam itu adalah agama yang mencakup segala aspek; bekerja adalah ibadah, tidur dengan niat shaleh menjadi ibadah. Pendapat ini benar, namun saya ingin mengingatkan sedikitnya waktu yang tersisa – setelah memenuhi kebutuhan manusia berupa kerja dan tidur – untuk berlomba dalam mencapai derajat yang tinggi. Niat ibadah memang banyak dilakukan oleh mayoritas orang Muslim, tapi pemanfaatan waktu yang benar terkadang dilupakan oleh kebanyakan tsiqah. Kepada Allah-lah tempat memohon pertolongan.

Tentang Buku : Saleh Tapi Tak Berdayaguna

Kamis, 08 April 2010

Memberdayakan Umat Islam Tsiqah – Tsiqah BerAmal


Memberdayakan Umat Islam Tsiqah – Tsiqah BerAmal

URGENSI AMAL DAN MENGAKHIRI KETIDAKBERDAYAAN

Sesungguhnya penegakkan agama Allah di atas bumi merupakan perkara yang mulia dan besar. Amal itu merupakan amal para Nabi, Rasul dan para reformis (mushlih), dalam kafilah penuh cahaya yang panjang sejak Nabi Adam sampai hari kiamat. Orang yang tergabung dalam kelompok itu akan mendapatkan kemuliaan besar, sedangkan orang yang tertinggal dari kelompok itu terlewatkan banyak amal kebaikan.

Allah memberi orang-orang yang beramal kecukupan yang besar di dunia dan akhirat. Allah menguatkan dan menolong mereka di dunia, mengikat hati mereka, menyinari jalan mereka, dan menghalau godaan setan.

Allah berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” 21

Sedang di akhirat derajat-derajat tinggi dikhususkan untuk mereka, berteman dengan para Nabi merupakan ganjaran mereka, melihat Dzat Tuhan secara berulang-ulang merupakan nikmat paling besar yang bisa mereka nikmati di Surga.

Ketahuilah, orang yang beramal itu tidak lain beramal untuk dirinya sendiri demi mencari kebaikan dan derajat yang tinggi. Dan orang yang tak berdayaguna itu tidak lain menganiaya diri sendiri dengan menyia-nyiakan kebaikan dan martabat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

Dan barangsiapa yang beramal shaleh maka untuk mereka sendirilah mereka menyiapkan tempat yang menyenangkan.” 22

21) Qur'an Surat Muhammad (47) : 7

22) Qur'an Surat ar-Rum (30) : 44

Orang yang beramal akan diganjar oleh Allah, akan melihat hasil amalnya, serta berbahagia di dunia sebelum di akhirat nanti. Allah berfirman,

Dan katakanlah, 'Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu'.” 23

Kehidupan orang tak berdayaguna selalu berada antara malas, kejemuan, was-was, tidak menentu arah, tertekan dan gampang rapuh, hingga ajal menjemput pun keberadaanya tetap tidak berubah. Sedangkan orang yang beramal adalah orang yang menentukan jalannya sejarah untuk mencatat riwayat hidup dan peninggalan-peninggalannya. Sedangkan tsiqah yang tak berdayaguna hidup di pinggir lembaran sejarah. Ia tidak mengetahui bagaimana cara membaca segala kejadian dan mengambil faedah dari kejadian itu, alih-alih mempengaruhinya. Ia terpaku di tempatnya hingga ajal menjemputnya, tanpa seorang pun mengenal dirinya, tanpa ada penduduk langit maupun bumi menangisi kepergiannya.

Orang yang mengamati segala peristiwa sejarah semenjak Nabi Adam 'alaihissalam hingga zaman kita sekarang, pasti meyakini tidak ada tempat bagi orang yang tak berdayaguna di dalam sejarah. Lain halnya bagi orang-orang tsiqah yang beramal; mereka saling berkompetisi dalam mencapai puncak kemuliaan, yaitu keridhaan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Saya akan menyebutkan aspek-aspek yang menjelaskan pentingnya mempergunakan usia di dunia. Sebab jika kita lalai dan tidak mendayagunakannya niscaya banyak sekali kabaikan yang kita lewatkan. Aspek-aspek tersebut adalah sebagai berikut :

A. Minimnya Waktu yang Disediakan untuk Beramal Shaleh

Orang yang mengamati kondisi kaum Muslimin saat ini dapat memperkirakan bahwa kebanyakan orang-orang shaleh yang beramal menapaki jalan keshalehan dan mempelajarinya, dimulai pada usia kurang lebih 20 tahun. Artinya ia telah kehilangan kira-kira sepertiga usianya tanpa memanfaatkannya seperti yang diharapkan. Hal ini berdasarkan pada hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

Usia umatku dari enam puluh sampai tujuh puluh tahun.24

24) Diriwayatkan Imam Tirmidzi dalam Sunan-nya, bab Zuhud, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bab Ma Ja'a fi A'mari hadzihil-Ummati ma bainas-Sittina ila Sab'ina. Hadits ini dinilai hasan oleh Tirmidzi dan Ibnu Hajar. Lihat Tuhfatul-Ahwadzi : 6/623-624.

Ini adalah sebuah kenyataan. Katakanlah seorang shaleh hidup di dunia ini selama 60 tahun. Jadi yang tersisa dari usianya hanya sekitar 40 tahun. Umur 40 tahun ini biasanya berjalan seperti berikut :

Pertama, 1/3 usia dipergunakan untuk tidur. Ini merupakan kebiasaan kebanyakan manusia. Ada juga manusia tidur sehari 12 jam – kami berlindung kepada Allah. Itu sama halnya ½ kehidupan mereka. Ada juga yang tidur kurang dari 8 jam sehari, itupun sedikit. Artinya dari usianya 40 tahun berkurang sekitar 13 tahun 6 bulan.

Kedua, 1/3 usia digunakan untuk bekerja. Ini juga menurut kebiasaan, karena sebagian manusia ada yang mempunyai dua pekerjaan atau lebih. Dengan demikian – bila 1/3 waktunya untuk bekerja – dari usia 40 tahun berkurang sekitar 13,5 tahun lagi.

Ketiga, berdasarkan perincian di atas maka usia yang tersisa bagi orang yang hidup 60 tahun sekitar 13 tahunsaja. Sisa usia tersebut digunakan untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban agama, masalah-masalah dunia seperti menikah, memelihara anak, mengunjungi kerabat dan teman-teman, makan, minum, pergi bertamasya atau ke pasar, dan lain-lain. Jadi masih adakah usia yang tersisa baginya untuk ikut serta berlomba mencapai masalah-masalah akhirat dan berlomba mendapatkan kenikmatannya?

Karena itulah generasi salaf mengurangi waktu tidur, kerja dan pemenuhan kebutuhan mereka, sehingga tersedia waktu lebih banyak dari yang telah saya sebutkan di atas. Wallahu A'lam.

Tentang Buku : Saleh Tapi Tak Berdayaguna

Rabu, 07 April 2010

Makna Arti Definisi Tsiqah – Tsiqah BerDakwah



Makna Arti Definisi Tsiqah – Tsiqah BerDakwah
KETIDAKBERDAYAAN PARA TSIQAH
A. Makna Ketidakberdayaan ('Ajz)
dalam Mu'jamul-Maqayis al-Lughah disebut: 'ain, jim, za'.
'Ajz adalah kata dasar yang memiliki dua arti; salah satunya menunjukkan makna dha'if (lemah),2 yang kedua menunjukkan arti sesuatu yang diakhirkan.
Derivasi yang pertama adalah 'ajaza, ya'juzu, 'ajzan, 'ajiz, artinya dha'if (orang yang lemah). Mereka berkata, “A'jazani fulan”, artinya fulan membyuatku tidak mampu mencari dan menemukannya.
'Ajz juga bisa berarti meninggalkan apa yang ingin dilakukan dengan cara menunda. Hal ini mencakup perkara-perkara duniawi dan agama.
'Ajz adalah lawan kata hazm (keteguhan hati).3
2) Inilah yang dimaksud dalam bahasan ini.
3) Lisanul-'Arab : 'ain, jim, za'
B. Makna Tsiqah
Terkadang tsiqah dipahami sebagai 'adil lagi dhabith sebagaimana definisi yang ada pada ilmu hadits.4 Tsiqah dalam pembahasan disini maksudnya bukan demikian, sekalipun maksud dari tsiqah adalah orang yang baik agamanya. 'Adil ditafsiri sebagai orang Muslim, baligh, berakal dan terhindar dari sebab-sebab kefasikan dan kerusakan moral.5
Tsiqah yang dimaksud pada pembahasan ini adalah orang yang diberi kepercayaan oleh orang lain, dalam hal agama, perilaku, dan akal. Kepercayaan ini diberikan karena dianggap mampu atau memiliki kelayakan yang mencukupi untuk diserahi tugas. Sedangkan dalam bidang dakwah di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala, kelayakan itu berarti mampu menangani berbagai tugas dakwah ilallah di setiap tahapan.”6
4) Tadribur-Rawi: 1/43
5) Ibid., 1/253-254
6) At-Tautsiq wat-Tadh'if bainal-Muhadditsin wad-du'at, hlm. 14
Definisi tsiqah – di sini – berdekatan dengan definisi tsiqah menurut ulama hadits. Hanya saja perlu ditambahkan kepada definisi ulama hadits ini hingga, tsiqah di sini berarti memiliki pengalaman dan kemampuan untuk mengemban tugas dakwah di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dikarenakan dakwah ini memerlukan pengalaman lapangan yang bila seseorang tidak memilikinya maka tidak dapat dikatakan 'adil atau memiliki kelayakan untuk menangani berbagai tugas dakwah.”7
Di sini ada penjelasan dari perkataan anak perempuan Nabi Syu'aib 'alaihissalam sebagaimana dikisahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada kita dalam firman-Nya :
Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, 'Hai bapakku ambillah ia sebagai orang yang yang bekerja (pada kita) karena sesungguhnya orang yang peling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya'.”8
7) Ibid.
8) Qur'an Surat al-Qashash (28) : 26
Maksudnya, Musa adalah orang yang paling pantas dijadikan pekerja karena memiliki kekuatan dan amanah. Sebaik-baik pekerja ialah orang yang memiliki kekuatan dan kemampuan. Kedua sifat tersebut harus menjadi pertimbangan ketika seseorang hendak memberikan pekerjaan kepada orang lain, baik dengan upah atau tidak.9
Kuat dan amanah adalah bentuk kepercayaan yang tinggi, yang bila seorang Muslim disebut dengan kedua sifat itu berarti ia tsiqah. Insya Allah.
Hal ini diperjelas juga dengan perkataan Nabi Yusuf 'alaihissalam dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
Berkata Yusuf, 'Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan'.”10
9) Taysirul-Karim ar-Rahman fi Tafsiri Kalamil-Mannan: 6/17
10) Qur'an Surat Yusuf (12) : 55
Pandai menjaga dan memiliki pengetahuan merupakan dua martabat penting dalam jenjang tautsiq (pemberian kepercayaan) yang tidak bisa ditinggalkan.
Inilah contoh tautsiq Abu Bakar kepada Zaid bin Tsabit – semoga Allah meridhai keduanya – untuk mengerjakan pekerjaan yang tidak mudah, yaitu mengumpulkan ayat-ayat al-Qur'an. Abu Bakar berkata,
Sesungguhnya kamu adalah seorang pemuda yang berakal lagi tekun, kami tidak mencurigaimu, kamu pernah menulis wahyu Rasulullah, maka periksalah al-Qur'an dan kumpulkanlah.”11
Ibnu Hajar12 rahimahullah berkata, “Dalam hal ini Abu Bakar menyebutkan empat sifat yang menjadi keistimewaan Zaid bin Tsabit. Empat sifat itu adalah : usia muda sehingga lebih bersemangat mengerjakan apa yang dibebankan kepadanya; berakal sehingga lebih memahami lagi perhatian; tidak dicurigai berbuat fasik sehingga jiwa akan cenderung kepadanya; penulis wahyu sehingga ia lebih terbiasa mengerjakannya. Semua sifat yang terkumpul pada diri Zaid terkadang bisa ditemui pada orang lain, tetapi terpisah-pisah; tidak berkumpul pada satu orang.”13
11) Shahih Bukhari, kitab fadha'ilul-Qur'an, bab Jam'ul-Qur'an.
12) Ahmad bin Ali bin Muhammad, imam hafizh, penulis banyak karangan, asalnya dari 'Asqalan, lahir, hidup dan wafat di Mesir tahun 825. lihat riwayat hidupnya dalam adh-dhau' al-Lami' : 2/36-40.
13) Fathul-Bari : 19/14.
Sebagaimana tautsiq menurut ahli hadits memiliki beberapa tingkatan, maka tautsiq pada bahasan ini juga memiliki beberapa tingkatan. Di antaranya ada orang yang memiliki tingkatan tsiqatu-tsiqah (sangat terpercaya), atau Jabal (kokoh) atau ruknul Islam; ada yang tsiqah saja; ada juga yang tingkatannya mendekati jujur dan diterima ucapannya; ada juga orang yang tidak termasuk tingkatan tazkiyah dan tautsiq, baik sedikit maupun banyak.
Terkadang orang-orang berbeda pandangan dalam menilai dan men-tautsiq mereka. Pendapat yang benar dalam masalah ini adalah:
orang yang lebih banyak kebaikannya, nyata kesempurnaannya, tidak nampak kesalahannya, serta tidak diketahui mengajak kepada bid'ah besar atau kepada mazhab sesat maka ia orang yang tsiqah, insya Allah. Sedangkan orang yang berbeda pandangan mengenainya maka ia memandang kondisi orang itu dengan pandangan objektif, bukan dengan pandangan radikal, tajrih, emosional dan terkuasai hawa nafsu. Jadi, jika seseorang memiliki sifat-sifat atau kebaikan-kebaikan yang memberinya kelayakan masuk ke deretan orang-orang tsiqah maka ia orang baik. Namun, jika tidak, hendaknya ia memperbaiki perilakunya dan segera bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, hingga termasuk orang-orang yang tsiqah.
Sa'id bin Musayyab14 berkata, “Tidak ada satupun orang mulia, berilmu, dan memiliki keutamaan, kecuali pasti ada aibnya. Namun di antara manusia ada yang tidak pantas disebutkan aibnya. Orang yang kebaikannya lebih banyak dari kekurangannya maka kekurangannya itu tertutup oleh kelebihannya.”15
14) Sa'id bin Musayyab bin Hazn bin Abu Wahb al-Qurasyi al-Makhzumi, salah seorang uama fiqih besar. Para ulama sepakat bahwa hadits-hadits mursal-nya adalah yang paling shahih. Ibnu al-Madini berkata : aku tidak mengetahui di antara tabi'in orang yang lebih luas ilmunya daripada dia. Wafat pada umur 90 tahun. Baca at-Taqrib, hlm. 241.
15) Manhaj Ahlis-Sunnah wal-Jama'ah fi Taqwimir-Rijal wa Mu'allafatihin, hlm. 30.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata, “Orang yang mengerti syari'at dan realitas pasti mengetahui bahwa manusia terhormat yang memiliki tingkah laku shaleh dan pengaruh baik dalam Islam, terkadang melakukan kesalahan dan kekeliruan, tetapi kesalahan itu dapat dimaafkan bahkan diberikan pahala untuk ijtihadnya. Ijtihadnya memang tidak boleh diikuti, tetapi keimanan dan keberadaanya tidak boleh dihilangkan dari hati kaum Muslimin.”16
16) Ibid., hlm. 33.
Sebuah pendapat mengatakan bahwa kaidah tersebut menyerupai kaidah yang disyaratkan oleh ahli hadits dalam masalah tautsiq. Pada hari ini kita tidak membutuhkan kaidah semisal itu. Tetapi sebaiknya syarat-syarat di atas dipermudah.
Menurut saya, dakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala pada saat ini adalah menumpas madzhab-madzhab yang sesat, aqidah yang rusak, serangan kristenisasi serta rencana cermat Yahudi. Jika semua itu tidak dihadapi oleh para tsiqah yang terpercaya, yang terdidik dengan pendidikan yang sehat berdasarkan manhaj ulama salaf maka aktivitas dakwah akan terhenti dan terpedaya. Akan tetapi bagi orang yang tidak memenuhi persyaratan atau hanya sebagiannya saja maka masih bisa menjadi pembela, pecinta dan penegak ajaran Islam di bawah bimibingan dan pengawasan para tsiqah yang disebutkan di atas.
Seleksi ketat dan persyaratan sifat-sifat sempurna hanya wajib diterapkan pada pemimpin dan murabbi. Di luar itu, sesungguhnya amal Islami perlu memanfaatkan setiap potensi meskipun kecil, dan mengelola para simpatisannya meskipun diberatkan oleh aib-aib yang tidak membahayakan mayoritas da'i.”17
Selayaknya diketahui bahwa ketidakberdayaan itu mewarnai kehidupan masyarakat kita sekarang, sedangkan orang-orang tsiqah jumlahnya sangat sedikit. Semua itu terdapat di hampir setiap tempat dan waktu. Karena itulah orang-orang yang tak berdayaguna menjadi kelompok mayoritas sedangkan orang-orang tsiqah – sekalipun mereka banyak – merupakan kelompok minoritas. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
Kalian temukan manusia seperti seratus onta tetapi tidak ada satu pun dari onta itu menjadi tunggangan.” 18
17) Al-'Awa'iq, hlm. 140-141.
18) Shahih Muslim, kitab Fadha'ilush-Shahabah, bab an-Nasuka Ibili Mi'atin la Yajidur-Rajulu fiha Rahilatan : 16/79. Ibnu Qutaibah berkata : ar-rahilah berarti unta yang terpilih karena sempurna sifat-sifatnya. Kata ini dikenal pada unta. Al-Azhari berkata : makna hadits adalah bahwa zahid di dunia yang sempurna zuhudnya dan cinta akan akhirat, jumlahnya sedikit sekali seperti sedikitnya rahilah di antara banyak unta. Imam Nawawi menyebutkan makna yang lebih baik, yaitu bahwa orang yang diridhai keadaannya adalah yang sempurna sifatnya, baik dilihat, dan kuat – Ibid.
Walaupun merupakan kelompok minoritas, kepada mereka jugalah bendera agama, kekuatan Islam saat ini, dan segala permasalahan-permasalahan penting ditujukan. Jika mereka tidak berdaya atau lemah maka siapa lagi yang diharapkan membela agama; kepada siapa diserahkan segala permasalahan sesudah kepada Allah? Karena itulah pembahasan ini ditujukan kepada mereka; membahas kesulitan mereka, dan menolong mereka keluar dari ketidakberdayaan. Demi Allah, sesungguhnya mereka adalah tentara yang gagah, andaikata mendedikasikan diri untuk berjihad, bertawakkal kepada Allah, dan melaksanakan apa yang ditetapkan atas mereka.
C. Amal dan Ketidakberdayaan Menurut Terminologi Kontemporer
Sifat yang memungkinkan manusia mengerjakan kewajibannya untuk mencapai tujuan yang dibebankan kepadanya, dimasukkan ke dalam istilah-istilah kontemporer pada bahasan “fa'aliyah” (fungsionalitas), “numuw” (kemajuan), dan “miqdarah ta'tsiriyah (kemampuan afektif). Sebagaimana 'ajz diistilahkan untuk sesuatu yang menimpa manusia degnan istilah “la fa 'iliyah” (disfungsionalitas), “salabiyah” (negatif) dan “takhaluf” (keterbelakangan).
Tema ini patut diperhatikan karena al-Qur'an telah mengungkapkannya dalam perumpamaan dua orang yang digambarkan Allah Subhanahu wa Ta'ala,
Allah Subhanahu wa Ta'ala membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatu pun dan seorang yang Kami beri rezeki yang baik dari Kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rezeki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan. Adakah mereka itu sama? Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala, tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui. Dan Allah membuat pula perumpamaan : dua orang lelaki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu pun dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di jalan yang lurus.” 19
Ayat di atas dengan – sangat tepat dan jelas – menunjukkan fa'aliyah (fungsionalitas) di dalam perumpamaan dua orang laki-laki buta yang tidak dapat mengerjakan sesuatu apapun, bahkan menjadi beban bagi penanggungnya. Setiap kali disuruh ia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Ini adalah gambaran tepat disfungsionalitas dalam ketidakmampuannya akan suatu hal, dan kehidupannya menjadi beban bagi orang lain. Sebagaimana ayat di atas menunjukkan bahwa ketidakberdayaannya itu bersifat menyeluruh, bukan hanya dalam satu aspek saja; karena setiap kali disuruh ia tidak mampu mendatangkan suatu kebajikan apapun. [] 20
19) Qur'an Surat an-Nahl (16) : 75-76.
20) Al-Insanu hina Yakunu Kalla wa hina Yakunu 'Adlan, hlm. 4-5.

Selasa, 06 April 2010

Kaum Muslimin Beramal Berdayaguna - Motivasi


Kaum Muslimin Saleh Berdayaguna - Motivasi Pendahuluan

PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, Yang memberi taufik kepada orang-orang yang beramal, pahala kepada orang-orang yang taat. Barangsiapa beramal maka Allah membalasnya. Barangsiapa menuju ridha-Nya maka Dia akan menjaganya. Barangsiapa tawakkal kepada-Nya maka Dia mencukupinya. Dia mengetahui hamba-Nya yang cinta akan kebaikan. Dia menunjukkan jalannya. Hamba-Nya memohon ridha-Nya lalu Dia memberinya, memohon keteguhan lalu Dia meneguhkannya hingga datang ajalnya. Barangsiapa bertaqarrub kepada-Nya satu jegnkal maka Allah mendekat kepadanya satu hasta. Barangsiapa bertaqarrub kepada-Nya satu hasta maka Dia mendekatinya satu depa. Allah meridhai hamba-Nya karena amal, curahan cinta dan cita kepada-Nya. Allah memiliki ketetapan dalam kesempurnaan amal itu. Allah mempunyai sebuah qadha yang telah dia putuskan, sedangkan kita hanya wajib taat. Milik Allah jua rezeki yang telah Dia cukupkan untuk kita, tidak ditunda dan tidak dipercepat satu saat pun. Hanya kepada-Nya rasa takut di setiap waktu, hanya kepada-Nya tawakkal diserahkan, dan hanya kepada-Nya keyakinan ditujukan.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas orang yang dengannya Allah menyingkap mendung, menyinari kegelapan, membahagiakan seluruh alam, menolong orang-orang yang beramal; yang diteladani para shahabat sehingga mereka menebarkan cahaya kepada manusia, dan diikuti oleh para tabi'in sehingga mereka beramal dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan tidak mengeluh. Sungguh banyak orang yang beramal dan sedikit orang-orang yang berpangku tangan. Lalu kita duduk di atas singgasana umat pada beberapa masa, maka kita adalah nikmat, rasa aman, cahaya dan keselamatan.

Kemudian kita mencintai dan memburu dunia. Sebagian kita berlomba dengan yang lain. Kita telah lupa makna-makna luhur selama berabad-abad. Lalu kita lebih mencintai dunia, melupakan kerja keras (untuk meraih surga – menolong agama) dalam setiap masa, kita mnyukai perkara-perkara kecil, sehingga kita mewarisi kehinaan dan kekerdilan selama berabad-abad. Lalu kita memanggil diri kita sendiri dengan kegagalan, kehancuran dan melupakan perkara-perkara besar. Kecuali sebagian kecil yang mengetahui jalan kemuliaan, lalu ia menyusuri pintu kemuliaan dan mengetuknya. Jumlah yang sedikit ini – pada hari ini – menjadi 'harapan' di antara hamba. Semoga Allah menjaganya, mengabulkan cita-citanya dan menolongnya karena hati telah jenuh dengan kesedihan yang mewarnainya, dan akal telah penat mengikuti berbagai kejahatan.

Risalah ini ditujukan kepada orang-orang Mukmin yang jujur, yang mengetahui jalan yang benar dan menetapinya. Namun karena banyak sebab mereka tidak melaksanakannya. Mereka berdiam diri di tempatnya, tidak maju, seakan-akan lupa makna-makna mulia, sehingga tidak beramal demi makna itu.

Mereka adalah pemuda-pemudi yang shaleh, yang masih berpegang pada jalan keutamaan dan kebaikan. Namun mereka terkalahkan oleh kamapanan dan kemalasan, cinta dunia dan panjang angan-angan. Mereka ingin menjadi orang shaleh tanpa beramal dan tanpa capek. Tapi apakah mungkin? Tidakkah mereka tahu bahwa “dunia adalah manis dan hijau. Allah menjadikanmu khalifah di dunia, dan melihat bagaimana kalian beramal.”1 Apakah mereka tidak butuh derajat-derajat yang tinggi di surga yang tidak dicapai oleh selain para Nabi, serta teman-teman mereka di kalangan orang-orang shaleh, shiddiq, dan syuhada?

Risalah ini merupakan peringatan untuk para tsiqah yang tak berdayaguna, yang mempunyai sarana untuk menggapai sesuatu yang tinggi berupa nikmat. Namun mereka mengabaikannya dan rela menerima hal kecil (hal-hal duniawi belaka). Semoga jelas bagi mereka betapa besar apa yang mereka sia-siakan dan betapa banyak kebaikan yang mereka sepelekan. Hanya Allah tempat memohon pertolongan dan kepada-Nya-lah tawakkal diserahkan.

1) Sebagian dari hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, diriwayatkan Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, Thabrani dan selainnya. Kalimat “Dunia itu manis dan warna hijau” adalah shahih. Sedangkan lanjutannya ada kelemahan. Lihat Majma'uz-Zawa'id : 10 / 249, dan Sunan at-Tirmidzi, kitab al-Fitan bab Ma Ja'a ma Akhbaran-Nabi Ashhabahu bima huwa Ka'inun ila Yaumil-Qiyamah (Berita Nabi kepada para Shahabatnya tentang Kejadian Hingga Hari Kiamat); dan Sunan Ibni Majah : kitab al-Fitan, bab Fitnatun-Nisa'.

Saya menyusun tema ini selama bertahun-tahun dari materi-materi yang telah disampaikan dalam ceramah dan nasihat, yang kemudian terakumulasi dalam pikiran. Saya melihat tema-tema ceramah dan nasihat tersebut terepresentasikan pada banyak orang yang saya kenal keadaannya. Benarlah gambaran apa yang saya tulis dan terbuktilah apa yang saya sampaikan, karena orang yang melihat tidak seperti orang yang mendengar, dan berita tidak seperti kesaksian mata.

Saya tidak menilai diri bersih dari banyak hal yang saya tulis. Namun tujuannya semata mengingatkan dan menasihati, berbagi pengalaman, menceritakan peristiwa yang dihadiri, serta tahun-tahun yang dilalui. Hanya Allah yang diharap, Dia-lah sebaik-baik Wakil. La haula wa la quwwata illa billahil-'Aliyyil-'Azhim. []

Tentang Buku : Saleh Tapi Tak Berdayaguna

Senin, 05 April 2010

Umat Islam Saleh Berdayaguna - Buku


Umat Islam Saleh Berdayaguna - Buku

Buku Bagus Untuk Dibaca:


Buku : Saleh Tapi Tak Berdaya Guna

Muhammad bin Hasan Aqil Musa Syarif

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” [Al-Qur'an Surat (9) at-Taubah : 111]

Saleh tapi Tak BerdayaGuna

banyak orang saleh di sekitar kita. Diantara mereka ada yang ahlul'-ibadah (gemar beribadah), faqih (berilmu pengetahuan luas), cerdas, memiliki keahlian tertentu dan potensi-potensi lain yang signifikan. Peran mereka sangat dibutuhkan guna menopang amar ma'ruf nahi munkar dan mengangkat derajat kaum muslimin menuju izzul-Islam wal-Muslimin.

Namun sayang, banyak dari mereka yang kesalehannya masih sebatas kesalehan individu dan belum bernilai sosial. Potensi besar mereka belum berdayaguna padahal umat sangat berharap kepada mereka. Mengapa mereka belum berdaya guna? Buku ini mengungkap fenomena ketidakberdayaan mereka, sebab-sebab ketidakberdayaan dan bagaimana mengobatinya.

Buku ini merupakan kritik terhadap mereka yang saleh dan memiliki potensi bagus namun tidak berdayaguna, juga terhadap aktivis dakwah yang stagnan 'mandeg' di tengah jalan serta menjadi nasehat bagi kaum Muslimin pada umumnya. Selamat membaca!

Buku : Saleh Tapi Tak Berdayaguna

Dr. Muhammad nin Hasan Aqil Musa Syarif

Judul Asli : Ajzuts-Tsiqat

Penerbit : Darul-Andalus al-Khadhra, Jeddah

cetakan pertama, 1419 H / 1998 M

Penerjemah : M. Misbach

Penerbit : ROBBANI PRESS

Jl. Raya Condet No. 27B

Batuampar Jakarta

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

Peganglah dengan sungguh-sungguh apa yang telah kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya agar kamu bertakwa” [Al-Qur'an Surat (2) al-Baqarah : 63]

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ketidakberdayaan dan kemalasan ... “

Al-Faruq radhiyallahu 'anhu berkata :

Aku berluindung kepada Allah dari semangatnya orang yang durhaka dan ketidakberdayaan seorang tsiqah.”

Abu Taman rahimahullah berkata :

Aku tidak melihat aib di antara aib-aib manusia

...

Seperti kekurangan orang-orang yang mampu mencapai kesempurnaan ... []

PENGANTAR PENERBIT

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikutinya hingga akhir zaman.

Ketidakberdayaan adalah wujud ketidakmampuan seseorang mengaktualisasikan potensi dirinya, baik dalam perkara duniawi maupun agama. Ketidakberdayaan bisa juga dalam bentuk menunda dari apa yang ingin dilakukannya. Fenomena ini banyak kita temui di tengah-tengah masyarakat kaum Muslimin. Tidak sedikit dari mereka adalah pribadi yang secara individu tergolong shaleh, cerdas, memiliki skill bagus dan potensi-potensi lain yang signifikan. Tentunya keberadaan mereka adalha asset umat yang bila tidak diberdayakan akan memperlambat proses kebangkitan Islam dan mgnurangi derajat umat Islam di hadapan umat lain. Sebaliknya bila diberdayakan akan memacu umat dalam menapaki kebangkitannya dan mengangkat derajat mereka.

Namun fenomena yang banyak kita dapati, dari sekian banyak individu shaleh masih banyak yang belum memaksimalkan potensi dirinya. Ini kerugian besar umat Islam. Dan kami mencoba memberikan sumbangsih atas problematika tersebut dengan menerbitkan buku ini.

Harapan kami terbitnya buku ini merupakan amal shalih yang bisa dirasakan kemanfaatannya bagi umat.

Jakarta, Agustus 2007

Sabtu, 03 April 2010

Download Buku Kebijakan Luar Negeri Barat

Mendukung Para Diktator dan Tirani

Metode Umum Kebijakan Luar Negeri Barat

Mendukung Kediktatoran dan Penguasa Tiran
Alat-alat tradisional dalam Kebijakan Politik Luar Negeri Barat



Mendukung Kediktatoran dan Penguasa Tiran
Alat-alat tradisional dalam Kebijakan Politik Luar Negeri Barat

Supporting Dictatorship and Tyranny
Traditional tools in Western Foreign Policy



Mendukung Kediktatoran dan Penguasa Tiran

Alat-alat tradisional dalam Kebijakan Politik 


Luar Negeri Barat




Demokrasi vs. Kedikatatoran – Demokrasi dan Tirani


Buku Bagus Untuk Dibaca:


Buku : Mendukung Para Diktator dan Tirani

Metode umum Kebijakan Luar Negeri Barat

Buku : Mendukung Kediktatoran dan Penguasa Tiran

Alat-alat tradisional dalam Kebijakan Politik Luar Negeri Barat

Download Lengkap Buku Metode Umum Kebijakan Luar Negeri Barat [PDF]

Demokrasi vs. Kedikatatoran – Demokrasi vs. Tirani

Setelah citra para pemerintah Barat ternoda tidak bisa hilang melalui perang Irak dan 'pergantian rezim' yang mengikutinya, sudah ada usaha untuk sekali lagi menampakkan motif-motif kebijakan luar negeri Barat secara keseluruhan sebagai mulia. Dalam suatu kunjungan ke Kairo pada Juni 2005, Sekretaris Negara AS, Condoleeza Rice, mengatakan, bahwa “Amerika tidak akan menimpakan gaya pemerintahan kita pada yang tidak mau. Tujuan kita sebaliknya adalah membantu yang lain menemukan suara mereka sendiri, untuk mendapatkan kebebasan mereka sendiri, membuat jalan mereka sendiri.” Dia berargumen bahwa pengusahaan kestabilan di Timur Tengah oleh AS dengan mengorbankan demokrasi telah “tidak mencapai apapun”, dan mengklaim “Sekarang, kita menggunakan jalur berbeda. Kita mendukung aspirasi-aspirasi demokratis semua orang.”

Presiden AS yang baru terpilih, Barack Obama, membuat komentar-komentar yang mirip dengan Sekretaris Rice, berusaha menggunakan 'soft power' dan pesona pribadi untuk menyelamatkan citra USA. Begitupun di 2002, sebagai senator negara bagian Illinois, Obama menyeru Arab saudi dan Mesir untuk berhenti menzalimi rakyatnya dan menekan protes, dia tidak membuat komentar-komentar semacam itu ketika dia memberi pidato yang tersiar luas di Kairo pada Juni 2009.

Tapi dalam kunjungannya ke Arab Saudi, Obama menolak mengkritik kediktatoran, malah memilih untuk memuji sang raja atas 'kebijaksanaan dan kedermawanannya'. Dalam suatu wawancara dengan BBC sesaat sebelum perginya ke Timur Tengah, BBC Justin Webb menanyai Obama secara langsung, “Apakah kamu menganggap Presiden Mubarak sebagai penguasa otoriter?” Obama menjawab “Tidak ... Aku berniat untuk tidak menggunakan label-label bagi orang-orang berpaham (folds)”. Dia di waktu kemudian menolak mengakui ke-otoriter-an atas dasar bahwa “Aku belum bertemu dengan dia”. Dia juga mendeskripsikan Mubarak sebagai “kekuatan kestabilan di daerah itu”.

Inilah yang sering menjadi kasus, bahwa penduduk dunia Muslim disodori pilihan antara demokrasi atau kediktatoran. Satu contoh yang bagus tentang ini adalah kekacauan politik sekarang di Pakistan. Setelah merealisasi jaringan dukungan untuk diktator Jenderal Musharraf karena pelayanan butanya terhadap 'perang terhadap teror', Barat mulai menciptakan satu gerakan untuk kembalinya kekuasaan demokrasi di Pakistan. Ini terjadi meski fakta bahwa para pengusa demokratis Pakistan sama-sama memiliki track record yang buiruk dibandingkan dengan para tiran yang telah berkuasa selama 60 tahun terakhir. Para pemerintah Barat, mengetahui bahwa kepentingan-kepentingan mereka akan bisa dilindungi oleh para diktator atau para politisi yang terpilih secara demokratis, adalah bahagia untuk menekan Musharraf untuk memuluskan jalan untuk kembalinya kekuasaan PPP. Ini memastikan bahwa massa dibujuk rayu, sementara rezim pakistan tetap menjadi pelayan loyal bagi kepentingan-kepentingan Barat. Barat tahu bahwa mengubah dari para pemimpin militer menjadi para pemimpin poplitik tanpa mengubah sistem politik yang mendasarinya tidak membawa perubahan yang nyata yang mungkin mengancam kepentingan-kepentingannya.

Dibalik bicara soal kemerdekaan, demokrasi dan 'kebijakan luar negeri etis', dukungan kepada para tirani dan kebijakan luar negeri jahat terhadap dunia Muslim terus berlanjut.

Kesimpulan

Setelah penghancuran Khilafah Ottoman pada Maret 1924 di tangan Mustafa Kemal yang memproklamasikan dirinya sendiri, rezim-rezim barat, khususnya Inggris dan Perancis, mengeksploitasi kejatuhan ini yang mereka ikut rancang.

Dunia Muslim telah diukir di bawah persetujuan Sykes-Picot menjadi sekumpulan negara-negara lemah dan tidak efektif dengan para diktator korup yang menguasainya. Fitur utama dunia Muslim sejak saat itu adalah kepemimpinan yang tidak memperjuangkan kepentingan-kepentingan rakyatnya tapi malah memperjuangkan kepentingan-kepentingan para pemerintah luar negeri.

Dalam booklet pendek ini, kita hanya menyodorkan sampel bukti kecurangan, korupsi dan kriminalitas yang ditampilkan oleh Barat dengan hubungan mereka dengan para tangan besi, para tirani dan para diktator dahulu dan sekarang. Semua orang yang bisa berpikir harus mempertanyakan peran Barat dalam memimpin dan membentuk urusan-urusan di dunia.

Hari ini, para Muslim mencari kepemimpinan baru, pilihan lain bagi para diktator dan tiran itu – suatu kepemimpinan yang akan jujur, independen, transparan dan akuntabel dan para politisi yang akan menjadi pelayan bagi massa dan bukan budak-budak bagi Washington dan London. Ini hanya bisa terjadi ketika Khilafah (Caliphate) dikembalikan sebagai sistem pemerintahan di dunia Muslim.

Khilafah akan mengakhiri korupsi, membangun potensi negeri-negerinya dan membangun hubungan-hubungan dengan dunia pada tingkat lahan bermain. Ia tidak akan membawa dunia Muslim ke model mitos teokrasi abad pertengahan, tapi akan memajukan dunia di bawah keteraturan sosial, ekonomi dan politik yang tercerahkan, berhadapan dengan ketimpangan, ketidakadilan dan teror korporasi yang dirasakan oleh mayoritas di bawah Kapitalisme.

Selected Bibliography

Aris, B & Campbell D. How Bush’s grandfather helped Hitler’s rise to power. The Guardian, 25th September 2004.

Black, E. IBM and the Holocaust: The Strategic Alliance between Nazi Germany and America's Most Powerful Corporation, London: Crown Publishers.

Chomsky, N. Dictators R Us. Toronto Star, 21st December 2003.

Curtis, M. The Web of Deceit: Britain’s Real Role in the World, London: Vintage.

Finkel, A & Leibovitz, C. Hitler-Chamberlain Collusion, The Merlin Press Ltd.

Louis, WR. The British Empire in the Middle East 1945-1951: Arab Nationalism, the United States, and Postwar Imperialism: Arab Nationalism, the United States and Postwar Imperialism, Oxford: OUP.

Muggeridge, M. The Infernal Grove Chronicles of Wasted Time: No. 2, William Morrow and Co.

Radzinsky, E. Stalin, Hodder & Stoughton Ltd.

Nationalist and radical movements in the Arabian Peninsula, 10 February 1958, Public Record Office, CAB 158/31.

Buku : Mendukung Kediktatoran dan Penguasa Tiran

Alat-alat tradisional dalam Kebijakan Politik Luar Negeri Barat

Supporting Dictatorship and Tyranny

Traditional tools in Western Foreign Policy

Download Lengkap Buku Metode Umum Kebijakan Luar Negeri Barat [PDF]

oleh Hizb ut-Tahrir Inggris

Tentang Hizbut Tahrir

Hizb ut-Tahrir Britain

Suite 301

28 Old Brompton Road

London SW7 3SS

http://www.hizb.org.uk

info@hizb.org.uk

Supporting Dictatorship and Tyranny [PDF]

Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda