Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Senin, 30 Oktober 2017

Membebaskan Umat Dari Jeratan Sekularisme-Demokrasi



Format sebuah negara maupun masyarakat sangat ditentukan oleh asas yang mendasarinya. Jika sejak awal asasnya rusak dan bathil dengan sendirinya bangunan negara dan masyarakat juga rusak dan batil. Oleh karena itu, pembahasan tentang asas negara dan masyarakat, UUD, dan yang sejenisnya tidak dapat dianggap enteng. Implikasinya amat luas dan berkelanjutan. Pasalnya, rusak dan bathilnya asas bernegara dan bermasyarakat, sebagaimana yang kita saksikan saat ini, jelas akan mengakibatkan rusak dan -tidak mustahil- hancurnya negara dan masyarakat tersebut.

Negara yang berasas Islam saja, jika penguasa dan rakyatnya tidak menjaga penerapan sistem Islam itu sebaik-baiknya, tetap bisa hancur; apalagi jika asasnya memang bukan-Islam –semacam sekularisme-demokrasi, jebakannya yahudi- dan cacat parah sejak lahir, sudah barang tentu hidupnya sakit-sakitan dan umurnya tidak lama.

Telah tampak bahwa demokrasi yang juga dipraktekkan di negeri ini (lebih-lebih demokrasinya negara jajahan, bukan negara penjajah) semakin lama hanya bisa semakin rusak, penduduknya mengalami krisis multidimensi yang semakin parah, upaya-upaya perbaikan sesuai sistem itu hanya sedikit saja memperlambat kerusakan laten.

Semakin lama umur negara sistem bukan-Islam, maka semakin banyak undang-undang yang pro-imperialis (dan pro-setan). Dan setelah ratusan aturan diterapkan –yang merugikan penduduk negeri dan menguntungkan asing-aseng beserta segelintir antek-anteknya- maka dapat dipastikan sistem tidak-Islam itu tidak bisa diharapkan sama sekali untuk memperbaiki kerusakan. Semakin lama, semakin rusak, maka semakin tampak jelas kecacatan sistem republik/demokrasi yang memang diimpor dari hawa nafsu kaum kafir itu.

Kehancuran sebuah negeri bisa terjadi bukan semata karena dampak faktor internal sistemnya, tapi juga karena kaum kafir imperialis Timur dan Barat tidak akan menghentikan nafsu penjajahannya.

Pemegang tampuk kepemimpinan yang baru dalam sistem bukan-Islam pasti terjebak dan terikat ratusan aturan bathil yang telah diterapkan -yang terus menghasilkan kerusakan- sehingga wajah-wajah baru penguasa itu meski seandainya dengan semangat untuk memperbaiki melalui sistem, akan tersandera oleh sistem rusak itu sendiri. Sistem tidak-Islam itu memang tidak memiliki mekanisme dan landasan untuk sungguh-sungguh melawan kebathilan undang-undang yang bathil, serta tidak mampu sungguh-sungguh membela kebenaran dan keadilan, karena sekularisme-demokrasi semata-mata menuruti hawa nafsu, tanpa kejelasan mana yang haq dan mana yang bathil, mana yang adil dan mana yang zhalim, mana yang taqwa dan mana yang maksiat. Ketidakjelasan itu memanglah cacat permanen dalam demokrasi, ingat, demokrasi ada untuk memfasilitasi hawa nafsu. Sistem aturan yang rinci, jelas, dan selalu tepat untuk memperbaiki kehidupan umat manusia –yaitu dalam sistem Islam- nyata bertentangan dengan demokrasi.

Kampanye yang pro terhadap sistem bukan-Islam selalu berupaya untuk mengesankan seakan-akan pemerintahan baru –yaitu pemenang pemilu- nantinya mampu mewujudkan mimpi-mimpi masyarakat. Namun, masyarakat saat ini berada dalam iklim kesadaran untuk perubahan dari status quo; dan perubahan itu sudah seharusnya ke arah Islam, dengan perjuangan metode Rasul Saw., demi ridha Allah Swt., untuk kemenangan kebenaran dan keadilan Islam beserta umat, kemenangan dalam hidup di dunia dan di akhirat.

Manusia akan diadili di Hari Pembalasan dalam hal aqidah dan syariahnya, apakah aqidahnya Islam, apakah mengimani dan membenarkan ayat-ayat al-Qur’an seluruhnya, apakah rela diatur dengan syariah Islam, apakah menolak semua hukum selain syariah Islam, apakah perbuatannya selama hidup di dunia sesuai syariah Islam, apakah menolak sistem negara bukan-Islam, apakah membela Islam dan umatnya atau justru membela kebathilan, apakah menerima syariah Islam sebagai standar perbuatan dan untuk menghukumi manusia.

Ideologi Islam (aqidah dan syariah) inilah faktor yang menentukan nasib kaum Muslimin, jika berpegang teguh dengannya maka mereka akan ditolong Allah Swt. di dunia dan di akhirat mendapat kemenangan hakiki. Sebaliknya, jika umat terjauhkan dan awam terhadap ideologi Islam, maka bahaya akan menjadi semakin besar meski perasaan mereka tulus terhadap agama Islam. Ideologi pada diri umat haruslah ideologi Islam, jika ideologinya tidak jelas maka kondisi memprihatinkan akan terus berlanjut, kehidupan umat akan jauh dari kemuliaan Islam.

Kondisi realitas buruk akibat bercokolnya sistem bukan-Islam yang menjadi bahaya laten, yang terus berpotensi memakan korban, terjauhkannya umat dari aqidah dan syariah Islam, inilah yang harus diprihatinkan oleh setiap elemen umat Islam. Para nabi dan rasul diutus oleh Sang Pencipta pada dasarnya adalah untuk mewujudkan ideologi yang berasal dari Allah Swt. kepada umatnya sehingga diterima dan diamalkan, bukan lain-lain.

“Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, maka hukumilah di antara manusia dengan kebenaran dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (TQS. Shad: 26)

“Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang haq); dan kepada masing-masing mereka (Dawud dan Sulaiman) telah Kami berikan hikmah dan ilmu...” (TQS. Al-Anbiya: 79)

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” (TQS. Al-Maidah: 78)

Nabi Ibrahim dan Ismail telah sabar –atas dasar keimanan- menerima perintah, syariat dari Allah Swt. untuk mereka:

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (TQS. Ash-Shaffat: 102)
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).
Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim.
Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu," sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.
(yaitu) "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim."
Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (TQS. Ash-Shaffat: 103-111)

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Dawud.” (TQS. An-Nisa’: 163)

Kepada Nabi Muhammad Saw. dan umatnya juga diturunkan ayat:

“dan hendaklah kamu menghukumi di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka.” (TQS. Al-Maidah: 49)

Asas bagi negara haruslah al-Qur’an dan as-Sunnah:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (as-Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (TQS. an-Nisa’: 59)

Alhamdulillah. []

Artikel terkait: “Tawaran Perubahan Di Tengah Euforia Perubahan” Majalah Al-Wa`ie No.13 tahun 2, 1-30 September 2001

Jumat, 27 Oktober 2017

Gerakan Islam dan Komitmen Terhadap Ideologi Islam


Ketika Barat yang kafir mampu menjadikan metode kehidupannya sebagai metode yang diikuti oleh umat manusia, kaum Muslim justru hidup dalam berbagai kondisi pemikiran, sosial, ekonomi, politik sistem kufur yang menyengsarakan. Mereka hidup dengan pemikiran yang bertentangan dengan akidah Islam mereka. Akibatnya, mereka kehilangan jejak yang lurus.
Mereka pun telah kehilangan kepribadian ketika berusaha mengkompromikan berbagai pemikiran yang memancar dari akidah Islam dengan berbagai pemikiran asing (non-Islam) yang sebetulnya tidak diakui oleh umat ini. Akan tetapi kemudian, “asap” pemikiran asing ini masuk juga menyelimuti umat karena kebodohan dan karena tidak adanya upaya mereka untuk mengambil segala persoalan dengan dilandaskan pada akidah Islam.

Pada gilirannya, umat terjebak pada sinkretisme atau ekletisisme (pencampuradukan) absurd antara Islam dengan berbagai pemikiran atau metode kehidupan bukan-Islam yang kontradiktif. Umat pun menjadikan kemaslahatan yang didasarkan hawa nafsu sebagai maksud syariat (maqshûd syarî’ah). Mereka juga menerima segala bentuk penakwilan dan melakukan justifikasi atas semua penyimpangan yang terjadi. Akibat lanjutannya, seluruh kehidupan sosial-ekonomi umat manusia dipenuhi dengan berbagai kontradiksi, dan berbagai realitas politik pun diarahkan untuk memperkuat berbagai pemikiran asing pada posisi pemikiran umat yang asli.

Di dalam berbagai situasi yang sangat buruk semacam ini, bermunculanlah berbagai gerakan Islam untuk menghadapi akumulasi berbagai pemikiran yang salah, pemahaman yang keliru, perasaan yang menyimpang, dan kondisi politik yang terikat dengan pihak asing.

Sebuah gerakan atau partai Islam sudah seharusnya memiliki penawar racun dan obat yang menyembuhkan. Gerakan atau partai Islam juga sudah seharusnya meretas jalan yang lurus yang bisa dilewati manusia berdasarkan bimbingan ideologi Islam, bukan jalan “nyaman” yang justru menjerumuskan manusia ke dalam lubang biawak yahudi semacam demokrasi.

“dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (TQS al-An’am [6]: 153)

Sebuah jamaah atau partai Islam juga sudah selayaknya memiliki sejumlah sifat yang menjadikannya mampu mencapai tujuan. Sifat-sifat itu antara lain kejelasan pemikiran Islam dan semangat untuk mencapai tujuan; upaya mempersiapkan kelompok yang tercerahkan dan mempersiapkan umat, serta komitmen terhadap berbagai hukum Islam yang terkait dengan metode (tharîqah) dalam merealisasikan gagasan (fikrah), dengan kata lain, komitmen terhadap ideologi Islam.

Gagasan atau pemikiran (fikrah) Islam sudah seharusnya mendapatkan perhatian utama dari sebuah jamaah atau partai Islam. Bagi sebuah jamaah atau gerakan Islam, pemikiran Islam harus dipandang sebagai kebenaran yang wajib diyakini oleh setiap manusia; sebagai petunjuk yang dapat menyinari setiap orang yang dibimbingnya; sebagai rahmat yang diberikan oleh Allah Swt. kepada para hamba-Nya; sekaligus sebagai cahaya yang mampu mengeluarkan manusia seluruhnya dari kegelapan hawa nafsunya.
Pemikiran Islam harus dipandang sebagai sesuatu yang layak bagi manusia, sesuai dengan fitrahnya, memuaskan akalnya, dan menentramkan hatinya. Pemikiran Islam pun harus dipandang sebagai sesuatu yang mampu membahagiakan kehidupan dan membangkitkan harapan. Di dalamnya terdapat kedalaman dan kesempurnaan.
Oleh karena itu, pemikiran Islam akan mampu menjawab setiap persoalan manusia tentang kehidupan yang dihadapinya; mampu menghubungkan manusia secara benar dengan Hari Perhitungan Amal; serta mampu mengikat manusia secara shahih dengan Penciptanya sehingga ia bisa memahami tujuan hidupnya dan menjadikannya bahagia hakiki.

Sebuah jamaah atau partai Islam yang meyakini pemikiran Islam harus pula meyakini bahwa seandainya bukan pemikiran Islam (akidah maupun syariah) yang mendominasi masyarakat, maka kebatilan akan berkuasa, kemungkaran akan merajalela, hawa nafsu akan diikuti, kezaliman akan menyebar, kegelapan akan merata, dan kehidupan yang sempit akan membuat manusia tidak bisa tidur. Akibatnya, jiwa-jiwa manusia tampak tidak pernah merasakan ketenangan, fitrah mereka tidak pernah merasakan kedamaian, dan akal-akal mereka pun tidak pernah lurus.

Dengan demikian, topik utama yang harus diperhatikan dengan cermat oleh jamaah atau partai Islam adalah menentukan pemikiran Islam secara tepat dari nash-nash wahyu. Dengan begitu, jamaah atau partai akan selalu memegangnya; menjaga kejernihannya, sehingga ia akan terhindar dari segala anasir yang bukan berasal dari Islam; mencegahnya dari percampuradukan dengan berbagai pemikiran asing yang bukan bersumber dari Islam; serta menentukan sikapnya terhadap berbagai propaganda lain.
Kejernihan pemikiran diharapkan menciptakan kecemerlangan pandangan yang dimiliki oleh jamaah. Kecemerlangan pandangan diperoleh melalui pemahaman terhadap hukum syariat dengan metode penggalian dalil (istidlâl) yang benar. Hukum ini wajib berasas akidah Islam.

Ketika pemikiran yang jernih, cemerlang, mengkristal, dan jelas itu hilang maka akan hilang pula keistimewaannya; cahaya, petunjuk, dan rahmat pun tidak akan kembali. Akibat lanjutannya, legitimasi keberadaan partainya pun akan hilang, sehingga ia menjadi seperti gerakan-gerakan lainnya yang pasrah menyerah di hadapan realitas yang berhasil mempengaruhinya.

Sejauh mana kristalisasi pemikiran (fikrah) terjadi pada anggota-anggota gerakan akan berbanding lurus dengan kristalisasi metode (tharîqah) untuk mewujudkankannya ke dalam realitas praktis. Jalan untuk mencapai tujuan adalah termasuk hukum syariat yang harus direalisasikan sebagaimana halnya hukum-hukum syariat yang lain.

Sebuah jamaah atau partai politik berideologi Islam adalah jamaah atau partai yang senantiasa mengikatkan diri dengan ideologi Islam di dalam setiap gerak dan diamnya. Sebab, sebuah pemikiran ideologis sejatinya akan mencegah para penganut dan pengembannya untuk mengambil ideologi lain. Di samping itu, sebuah pemikiran ideologis merupakan pemikiran pokok yang pertama-tama membahas segala perkara dari dasarnya dan memberikan jawaban yang khas tentang arti keberadaan manusia di alam ini. Semua pemikiran cabang lahir dan memancar dari pemikiran pokok ini. Segala pemikirannya tentang kehidupan, berbagai pemahamannya tentang segala sesuatu, dan berbagai hukum tentang perbuatan-perbuatan semuanya berasal dari pemikiran pokok ini.

Bangunan Islam demikian sempurna, tidak ada sedikitpun kekurangan, meskipun hanya satu topik. Semua ajaran yang ada di dalam Islam sangat harmonis satu sama lain karena memancar dari landasan ideologis yang sama dan baku serta menyatu dengan fitrah kehidupan dan tabiat penciptaan.

Siapa saja yang beriman dengan Islam, maka halal dan haram –bukan asas manfaat- menjadi standar (miqyâs) bagi setiap perbuatan dan pandangannya terhadap segala sesuatu. Sebab, manfaat –menurut pendapat akal manusia- pada dasarnya selaras dengan pemikiran tidak-Islam bahwa manusialah yang membuat hukum, bukan Allah Swt. Oleh karena itu, kebahagiaan seorang Muslim sejatinya adalah memperoleh keridhaan Allah, bukan memperoleh sebanyak-banyaknya kelezatan.
Kehidupannya pun merupakan kehidupan yang penuh pengabdian kepada Allah dan ketundukkan pada segala perintah-Nya, bukan kehidupan yang berdiri di atas ide kebebasan yang menjadikannya terlepas dari ikatan syariat. Sebab, siapa saja yang menerima asas, ia akan menerima apa saja yang lahir dari asas itu. Siapa saja yang ingin melakukan perubahan, ia mesti memulainya dari asasnya dulu, di samping harus memperhatikan kesesuaian antara berbagai pemikiran cabang dengan asasnya. Inilah watak dari sebuah pemikiran dan dakwah yang bersifat ideologis yang seharusnya menjadi titik-tolak sebuah jamaah atau partai Islam.

Oleh karena itu, kaum Muslim tidak layak untuk mencampuradukan (sinkretisasi) Islam dengan ideologi ataupun sistem hidup yang lain. Islam menolak sistem pemerintahan sekularisme-demokrasi yang menjadikan Islam sebagai salah satu faktor berpengaruh di samping berbagai sumber perundang-undangan lainnya.
Islam juga menolak jika sejumlah jamaah Islam melakukan upaya sinkretisasi ini, misalnya dengan melaksanakan sebagian hukum Islam dan sebagian hukum bukan-Islam. Tindakan demikian merupakan bentuk penghancuran Islam yang ditolak oleh Allah Swt. dan hamba-hamba-Nya yang beriman.

Dengan demikian, seluruh jamaah atau partai Islam yang berdiri di atas asas Lâ Ilâha Ilâ Allâh Muhammad Rasûlullâh atau tidak ada yang berhak disembah dan ditaati kecuali Allah, haram untuk berkiblat ke Barat atau ke Timur di dalam mengambil berbagai hukum tentang kehidupannya. Artinya, setiap pemikiran apapun harus bersumber dari akidah Islam, diambil dari sumber-sumber syariat yang terpercaya, dan digali dari dalil-dalilnya yang terperinci.

Lalu, bagaimana mungkin kalimat Lâ Ilâha Ilâ Allâh dapat selaras dengan pendapat yang mengatakan bahwa sosialisme -yang tegak di atas konsepsi atheisme dan materialisme- adalah berasal dari Islam; atau selaras dengan pendapat yang mengatakan bahwa demokrasi -yang berdiri di atas aqidah sekularisme- adalah berasal dari Islam; atau selaras dengan pendapat yang mengatakan bahwa primordialisme dan nasionalisme -yang berlandaskan pada sikap fanatisme yang telah dianggap hina oleh Islam- adalah berasal dari Islam?

Bagaimana mungkin kalimat Lâ Ilâha Ilâ Allâh Muhammad Rasûlullâh -yang berarti hanya Allah Yang berhak membuat undang-undang- bisa sesuai dengan pendapat yang mengatakan bahwa kita juga bisa ikut serta untuk membuat undang-undang? Bagaimana mungkin pula kalimat Lâ Ilâha Ilâ Allâh Muhammad Rasûlullâh -yang tegak di atas sikap merendahkan diri, ketaatan, dan ibadah kepada Tuhan semesta alam- akan selaras dengan kebebasan (liberalisme) yang ada di dalam sistem Barat yang menjadikan manusia sebagai tuan bagi dirinya sendiri dalam segala sesuatu, serta tidak tunduk kepada Tuhan kecuali kalau ketundukan itu sesuai dengan syahwat, keinginan, dan kepentingannya?

Memang, sesungguhnya berpegang teguh pada akidah Islam menuntut pula untuk berpegang teguh pada apa saja yang terpancar dari akidah tersebut. Jika tidak demikian, akan hilanglah kepribadian atau karakter jamaah atau partai Islam, tergilas oleh sikap kompromi yang tidak diridhai Allah dan hamba-hambanya yang beriman.

Untuk memelihara pemikiran agar tetap jernih, cemerlang, jelas, dan terkristal, ia wajib dijauhkan dari pengaruh realitas rusak yang ada; dari ketundukan pada berbagai situasi dan kondisi; dan dari penyimpangan, penggantian, dan proses tawar-menawar. Sebab, sebagaimana pengemban dakwah ingin mengubah masyarakat sesuai dengan pemahamannya, maka penguasa pun -dengan berbagai pemahaman dan pemikirannya yang salah serta dengan berbagai hukumnya yang bathil- akan berusaha menekan pengemban dakwah dan jamaah atau partai Islam yang berusaha untuk melakukan perubahan ke arah sistem Islam.

Menolak Kompromi

Sebuah jamaah, gerakan, atau partai Islam, ketika melandaskan dirinya pada pemikiran ideologi Islam dan kemudian terjun ke dalam realitas masyarakat, ia pasti akan diterpa “angin ribut” yang berusaha untuk mencerabutnya dari akarnya. Sikap penguasa terhadap jamaah ini akan berbeda dengan sikap mereka terhadap gerakan-gerakan lainnya. Hal itu terjadi karena jamaah lain hanya melontarkan pemikiran yang bersifat parsial dan tidak ideologis sehingga tidak secara langsung menohok sistem yang ada. Kadang-kadang, berbagai jamaah tersebut tidak jarang malah berfungsi sebagai penutup berbagai borok yang dihasilkan oleh sistem penguasa yang ada.

Kenyataan ini akan berbeda dengan jamaah yang mengemban dakwah yang mengakar dan berlandaskan pada pemikiran ideologi Islam. Jamaah semacam ini akan senantiasa mencari solusi atas berbagai masalah dari akarnya. Ia tidak akan pernah rela jika persoalan yang dihadapi diselesaikan secara tambal sulam atau dengan sikap kompromi.
Ia akan menolak prinsip “jalan tengah”, tidak akan mau menerima penyelesian yang ditawarkan oleh sistem yang ada, tidak akan meninggalkan dakwah yang ditujukan bagi sebuah perubahan total dan komprehensif, serta tidak akan mau mengambil hanya yang cabang seraya meninggalkan asasnya. Oleh karena itu, “wajar” jika penguasa atau sistem bukan-Islam yang ada akan berusaha menghancurkannya. Kadar permusuhan dan perlawanan penguasa sistem kufur terhadap sebuah jamaah Islam ideologis semacam ini tentu akan sebanding dengan kadar konsistensi jamaah tersebut terhadap perubahan fundamental dan total yang diperjuangkannya.

Kerasnya perlawanan penguasa tidak jarang ditujukan secara langsung terhadap para individu pengemban dakwah atau aktivis jamaah tersebut. Ia harus menjauhi pikiran untuk lebih bersikap “moderat” dan “lunak”. Kedzaliman penguasa bisa saja mulai menekan jamaah dan mendesaknya untuk mengganti tuntutannya dari perubahan total dan revolusioner (taghyîr) ke arah perubahan parsial (ishlâhiyyah). Jamaah yang rela dengan upaya-upaya parsial minimalis menyangka bahwa mereka tetap mampu berusaha demi dunia dan agamanya serta dapat tetap memperoleh ridha Tuhannya. Dalam kondisi semacam ini, sebuah jamaah yang tetap memegang teguh komitmennya terhadap ideologi Islam laksana menggenggam bara.

Seandainya jamaah Islam lebih memilih sikap kompromi dan tawar-menawar, maka jamaah itu berarti telah menjual umat dan ayat-ayat Allah dengan harga yang murah. Sebaliknya, jika gerakan Islam tetap konsisten dengan komitmen ideologi Islamnya, ia tentu harus siap berhadapan dengan sikap keras dan permusuhan penguasa.

“Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (TQS. Ali Imran: 160)

Dari paparan di atas, jelas sekali bahwa pemikiran Islam yang bersifat ideologis dan benar membutuhkan jamaah Islam yang bersifat ideologis dan benar pula. Para pemimpin dan para anggota partai seperti ini harus memiliki keterikatan yang kuat dengan -sekaligus menjunjung tinggi- syariat Islam. Mereka juga akan senantiasa berusaha keras untuk memelihara kejernihan dan kecemerlangan pemikiran Islam yang mereka emban; menjaga kesucian dan kesabaran mereka. Semua itu dimaksudkan agar tidak terjadi penyelewengan dari jalan dakwah dan proses pelemahan cita-cita ideologisnya.

Agar gerakan ideologi Islam tetap bisa berjalan dengan senantiasa memelihara aktivitasnya serta terjauh dari penyelewengan, ia wajib selalu mengikatkan setiap pemikiran dengan akidah Islam. Dengan begitu, sikap tegar dan sabar dalam dakwah akan mengalahkan keinginan nafsu cinta dunia dan takut mati. Fitnah dan ujian yang menderanya, jika selalu disikapi dengan sikap tegas dan sabar, justru akan semakin mensucikan diri mereka sebagaimana api membersihkan emas dari kotoran.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu (Muhammad) beberapa orang rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (TQS. Ar-Rum: 47)

Lebih dari itu, agar “perahu” jamaah ideologi Islam tidak karam dan tenggelam di tengah samudera realitas yang demikian buruk, ia mesti memiliki pijakan ideologis yang kuat yang menentukan corak pemikiran (fikrah) dan metode (tharîqah) untuk mewujudkannya. Jika pijakan ideologis jamaah telah melemah dan bahkan hilang, jamaah tersebut akan dengan mudah dikendalikan oleh realitas di sekelilingnya. Dalam kondisi semacam ini, jamaah tidak boleh mendistorsi pemikiran Islamnya dan malah mendukung kepentingan penguasa sistem bukan-Islam.
Inilah yang telah diperingatkan oleh Allah Swt. ketika berfirman kepada Rasul-Nya dan kepada umatnya:

“Waspadalah engkau terhadap mereka, jangan sampai mereka memalingkan dirimu dari sebagian wahyu yang diturunkan Allah.” (TQS. al-Maidah [5]: 49).

Semoga Allah Swt. menguatkan dan selalu menolong kami dalam kebenaran Islam.

Bacaan: Jurnal Politik Dan Dakwah Al-Wa'ie No.07 Tahun I, 1-31 Maret 2001

Senin, 18 September 2017

Survei: Syariah Disetujui 67 Persen Penduduk Pakistan Sebagai Hukum Satu-Satunya yang Diterapkan



Survei di tahun 2017 ini dilakukan secara kerjasama oleh Gallup Pakistan dan Gilani Research Foundation. Dari total yang disurvei, berjumlah 1.846 laki-laki dan perempuan, hanya 5% yang menolak Syariah sebagai hukum yang berlaku. 24% responden setuju Syariah menjadi hukum yang berlaku tapi bukan satu-satunya. Sementara 4 persen mengatakan mereka tak punya pendapat dalam hal itu.

Sebelumnya, pada tahun 2010 Gallup Pakistan-Gilani Research Foundation telah melakukan survei yang sama di mana 51% setuju bahwa Syariah harus menjadi hukum satu-satunya, 8% mengatakan Syariah tidak boleh menjadi hukum yang berlaku, dan 11 persen menyatakan tidak punya pendapat atau pandangan mengenai hal itu.

Jika dilakukan perbandingan, maka survei itu menunjukkan adanya 16% peningkatan jumlah penduduk di Pakistan yang meyakini Syariah dan mendukung diterapkannya hukum Syariah semata, sebagai konsekuensi akidah Islam yang mereka imani.

Seperti biasanya, media massa Barat sekular menstigma negatif ketakwaan kaum Muslimin kepada Allah Swt. Demikian pula financialexpress.com menyebut keinginan umat Islam untuk tegaknya Syariah Islam secara totalitas, termasuk dalam mengatur negara, sebagai keinginan untuk meradikalisasi negara. Mereka membuat judul mengenai hasil survei Syariah itu, “Pakistanis want a radicalised Pakistan: Poll”. Tentu saja kaum penganut aqidah sekularisme meyakini bahwa Syariat dari Allah Swt. adalah hukum kuno yang berbahaya bagi peradaban umat manusia, mereka tentu akan mencari-cari dalih untuk menghina Syariah Islam dan memaklumi rusaknya peradaban sekularisme-kapitalisme-demokrasi di depan mata mereka sendiri.

Kepedulian kaum muslimin terhadap politik dan kewajibannya untuk melakukan aktivitas politik sudah dimulai sejak pertama kali diutusnya Rasulullah Saw., yaitu pada saat Beliau Saw. mulai membentuk partai politik di kota Mekah. Lalu beliau tampil bersama-sama dengan kelompoknya, yaitu para sahabat, menyerang sistem pemerintahan jahiliyyah. Beliau membongkar kezaliman dan menyerang kesesatan penguasa-penguasa kota Mekah dengan serangan politik yang amat keras. Dilihat dari sisi Shira' al-fikri (serangan pemikiran) terhadap aqidah kufur di Mekah, kaum muslimin yang ada di Mekah saat itu telah mencurahkan kemampuan maksimalnya untuk merubah sistem yang rusak itu.

Rasulullah Saw. memberikan predikat kapada seseorang yang menyampaikan kalimat haq (Islam) di hadapan penguasa yang dzalim sebagai jihad yang paling utama. Mendakwahkan kalimat haq merupakan refleksi dari kepedulian terhadap urusan kaum muslimin. Dalam hadits dinyatakan: “Barangsiapa menyaksikan penguasa yang dzalim yang suka melanggar perintah Allah, menghalalkan apa yang diharamkan Allah, serta bergelimang dengan dosa dan kelaliman, tidak (berusaha andil) merubahnya dengan perkataan atau perbuatan, maka Allah pasti memasukkannya kepada golongan mereka (penguasa dzalim itu).” (HR. Thabrani)

Tatkala kaum muslimin menjauhi politik dan aktivitas politik Islam untuk melawan penyelewengan dan penyimpangan para penguasa, maka pada saat itu penguasa akan tetap leluasa mempermainkan rakyat seenak perutnya dengan hukum jahiliyah. Ini adalah akibat umat berpaling dari aktivitas politik Islam melawan para penguasa, umat tidak lagi peduli terhadap sepak terjang sistem bukan-Islam atas segala aspek kehidupan mereka.

Dengan bantuan dan makar jahat negara-negara kafir, dahulu para penguasa semacam itu merobohkan negara mereka sendiri, yakni Daulah Khilafah Islamiyyah pada tahun 1924, mengerat-ngeratnya menjadi lebih dari 50 negara, dilanjutkan dengan mengeksploitasi kekayaan negeri-negeri umat Islam, lalu menyembelih dan merobek kehormatan kaum muslimin.

Mereka berhasil menerapkan sistem politik tidak-Islam dengan bertuankan Yahudi dan negara-negara Barat kafir. Bagaimana tidak! Sejak diruntuhkannya Khilafah dan diterapkannya sistem politik kufur di negeri-negeri Islam, keberadaan Islam sebagai institusi politik telah berakhir. Kedudukannya digantikan oleh pemikiran-pemikiran politik barat yang terpancar dari ideologi Kapitalisme, yaitu berakidah sekulerisme, beristem politik demokrasi, bersistem ekonomi kapitalisme, bersistem sosial liberalisme.

Umat harus memahami bahwa pengaturan urusan mereka dengan sistem Islam tidak akan pernah terwujud tanpa keberadaan Daulah Khilafah. Pemisahan Islam dari kehidupan bernegara adalah liang lahat bagi Islam, sistem dan aturannya, serta menjadi penghancur umat, nilai-nilai, peradaban dan pengembanan risalah Islam yang kaffah.
Keberadaan Daulah Khilafah Islamiyah akan melahirkan eksistensi dan kejayaan umat, penyebaran rahmat Allah Swt. kepada umat manusia dengan tegaknya syariah Islam. Sebaliknya, ketiadaannya dapat pula meniadakan eksistensi umat Islam.

Umat Islam meyakini aqidah Islam sebagai sebuah pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan kehidupan, Islam sebagai aqidah siyasah (aqidah politis), qa'idah fikriyyah, qiyadah fikriyyah (kepemimpinan berpikir), memiliki sudut pandang yang khas.

Meskipun dunia tengah berada di bawah dominasi politik dan ekonomi ala yahudi, tunduk kepada kekuatan lalim, mengerang-erang di bawah penderitaan, perbudakan, dan kehinaan; umat Islam tetap harus berupaya membebaskan dunia dan mengentaskannya dari kesesatan dan penyesatan menuju petunjuk, cahaya (Islam), dan kebahagiaan hakiki. Upaya memenuhi kewajiban umat Islam ini niscaya mendapatkan pertolongan Allah Swt.

Contoh Multi Akad: Mendapat Utang Dengan Harus Mengutangi


Ditulis oleh Annas I. Wibowo, SE

Dalil haramnya melakukan transaksi multi-akad:

نَهَى عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ

“Nabi Saw. telah melarang adanya dua jual-beli dalam satu jual-beli.” (HR. at-Tirmidzi, hadits shahih).
(pembahasan mengenai multi akad lihat: Majalah al-Wa’ie edisi 144)

Dari Ibnu Mas’ud ra.:

نَهَى عَنْ صَفْقَتَيْنِ فِي صَفْقَةٍ واَحِدَةٍ

“Rasulullah Saw. melarang dua akad dalam satu akad (transaksi).” (HR. Ahmad: 2/174, hadits shahih)

Maksud hadits ini adalah adanya dua akad dalam satu akad, seperti seseorang yang mengatakan, “Saya jual rumah ini kepada anda dengan harga sekian, dengan catatan lima tahun kemudian saya jual kepada anda rumah yang lain dengan harga sekian,” atau, “dengan  catatan kamu menjual rumah anda pada saya,” atau, “dengan syarat anda mau mengawinkan aku dengan putrimu.” Model seperti ini tidak diperbolehkan, karena ucapan “saya menjual rumahku kepada anda” adalah satu transaksi, dan ucapan “dengan syarat saya juga menjual rumah yang lainnya kepada anda” adalah transaksi yang berbeda. Dan keduanya dikumpulkan dalam satu transaksi. (lihat: Taqiyuddin an-Nabhani, As-Syakhshiyah al-Islamiyah, juz 2 (terjemahan)

Contoh multiakad:

Sekelompok orang, yaitu si E, D, C, B, dan si A melakukan kesepakatan hutang (qardh) dengan cara sebagai berikut:
1.  Mereka sepakat mengumpulkan uang iuran sebesar Rp1.000.000/orang setiap bulan untuk dihutangkan kepada masing-masing dari mereka sendiri.
2.  Orang yang akan mendapat utangan pertama kali, yaitu di bulan Januari, dari kumpulan uang itu sebesar Rp5.000.000 belum diketahui, dan baru dapat diketahui setelah diadakan undian di antara mereka.
3.  Lalu ternyata, dari hasil undian, yang pertama mendapat utangan adalah si A.
4.  Maka diserahkanlah Rp5.000.000 kepada si A, yang artinya bahwa si E, D, C, dan si B memberi utang kepada si A sebesar masing-masing Rp1.000.000.
5.  Di awal ketika mereka mengumpulkan uang sebelum mengundi, mereka juga telah bersepakat untuk terus melakukan iuran bulanan yang akan digunakan dalam utang-piutang itu selama 5 bulan ke depan.
6.  Siapa yang akan diberi utang pada masing-masing bulan Februari hingga Mei oleh masing-masing mereka, baru akan diketahui dengan melakukan undian pada bulan yang bersangkutan.

Sampai di sini tampak bahwa apa yang mereka lakukan tidak sesuai syariat Islam, (salah satunya) yaitu bahwa kesepakatan mereka di awal belumlah merupakan akad utang yang lengkap rukunnya, di mana tidak diketahui siapa memberi utang kepada siapa, meskipun jumlah uang dan jatuh temponya sudah diketahui. Bahkan si A menjadi memberi utang kepada dirinya sendiri sebesar Rp1.000.000?

Demikian pula, kesepakatan mereka untuk terus saling mengadakan utang-piutang pada bulan-bulan berikutnya hingga bulan Mei, juga tidak jelas siapa yang akan diberi utang oleh siapa.

Menyadari hal ini, mereka lalu melakukan utang-piutang sebagai berikut:
1)    Mereka melakukan undian untuk menentukan siapa yang mendapat utangan.
2)    Ternyata si A adalah yang pertama mendapat utangan.
3)    Mereka terus mengundi untuk menentukan siapa orang yang akan mendapat utangan pada bulan-bulan berikutnya yang hasilnya secara urut adalah si B, C, D.
4)    Mereka menuliskan:
a.  Pada bulan Januari si B, C, D, E masing-masing memberi utang Rp1.000.000 kepada si A, total Rp4.000.000.
b.  Pada bulan Februari si A melunasi utang Rp1.000.000 kepada si B terlebih dahulu. Dan si C, D, E masing-masing memberi utang Rp1.000.000 kepada si B. (Rp1 juta dari si A adalah uangnya si B sendiri yang sebelumnya telah diutangkan kepada si A, bukan mendapat utangan dari si A. Jadi total utangan yang diterima si B adalah Rp3.000.000)
c.   Pada bulan Maret si A melunasi utang kepada si C. Dan si B melunasi utang kepada si C terlebih dahulu. Dan D, E masing-masing memberi utang Rp1.000.000 kepada si C. (Rp1 juta dari si A adalah uangnya si C sendiri yang sebelumnya telah diutangkan kepada si A, bukan mendapat utangan dari si A. Demikian pula Rp1 juta yang dari si B. Jadi total utangan yang diterima si C adalah Rp2.000.000)
d.  Pada bulan April si A, B, C melunasi utang kepada si D. Dan E memberi utang Rp1.000.000 kepada si D. (Rp1 juta dari si A adalah uangnya si D sendiri yang sebelumnya telah diutangkan kepada si A, bukan mendapat utangan dari si A. Demikian pula Rp2 juta yang dari si B dan C. Jadi total utangan yang diterima si C adalah Rp1.000.000 dari si E)
e.  Pada bulan Mei si A, B, C, D melunasi utang kepada si E.
5)  Berarti si A mendapat utang totalnya Rp4 juta dan tidak memberi utang kepada siapapun. Sementara si E memberi utang yang totalnya Rp4 juta dan tidak mendapat utang dari siapapun.
6)  Mereka semua menandatangani kesepakatan utang-piutang di atas.

Dengan demikian maka menjadi jelas siapa memberi utang kepada siapa dalam 5 bulan itu. Namun, akad utang mereka ini masih juga menyalahi syariah yaitu jelas merupakan multi-akad yaitu si B, C, D harus memberi utang untuk mendapatkan utang sebagaimana skema yang mereka sepakati di atas. Maka haram hukumnya bagi si A, B, C, D, maupun si E melakukan undian, menentukan dan melangsungkan transaksi multiakad.

Menyadari hal ini, mereka lalu saling bertanya, siapakah di antara mereka yang memang memerlukan utang, berapa besarnya dan kapan, apakah yang memerlukan utangan itu sanggup melunasi, perlukah agunan, berapa lama temponya, kemudian siapa di antara mereka yang sanggup memberi utang kepada yang memerlukan itu. Wallahu a’lam. []

Rabu, 13 September 2017

Doa Perjuangan Pengemban Dakwah

 Disusun oleh:
AIDA

PUJI-PUJIAN DAN SHALAWAT

اَعُوْذُ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللّهِ الرَحْمنِ الَّحِيْمِ.
اَلْفَا تِحَةُ
اَسْتَغْفِرُاللّهَ العَظِيْمِ اَلّذِي لَااِلهَ اِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ
اللَّهُمَّ أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَلَكَ الْحَمْدُ ، وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَلَكَ الْحَمْدُ ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَلَكَ الْحَمْدُ ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ وَلَكَ الْحَمْدُ .
Ya Allah, Engkau MahaAwal tidak ada suatu apapun sebelum-Mu dan bagi-MU segala puji; Engkau MahaAkhir dan tidak ada suatu apapun setelah-Mu dan bagi-Mu segala puji; Engkau MahaTampak dan tidak ada suatu apapun yang mengungguli-Mu dan bagi-Mu segala puji; dan Engkau MahaTersembunyi dan tidak ada suatu apapun di bawah-Mu (lebih tersembunyi) dan bagi-Mu segala puji.

اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، أَنْتَ الحَقُّ، وَوَعْدُكَ الحَقُّ، وَقَوْلُكَ الحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ الحَقُّ، وَالجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، وَعَوْدَةُ الْخِلَافَةِ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْنَا، وَبِكَ آمَنَّا، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا، وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا، وَبِكَ خَاصَمْنَا، وَإِلَيْكَ حَاكَمْنَا، فَاغْفِرْ لَنَا مَا قَدَّمْنَا وَمَا أَخَّرْنَا، وَمَا أَسْرَرْنَا وَمَا أَعْلَنَّا، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنَّا، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ .
Ya Allah, bagi-Mu segala puji Engkaulah cahaya langit dan bumi dan siapa-siapa yang ada di dalamnya, bagimu segala puji, Engkaulah penegak langit dan bumi dan siapa-siapa yang ada di dalamnya; bagi-Mu segala puji, Engkaulah Rabb langit dan bumi dan siapa-siapa yang ada di dalamnya; Engkau adalah Benar; janji-Mu adalah benar; firman-Mu adalah benar; perjumpaan dengan-Mu adalah benar; Surga adalah benar; Neraka adalah benar; para nabi-nabi adalah benar; hari kiamat adalah benar; kembalinya khilafah adalah benar. Ya Allah, untuk-Mu lah kami berserah diri; terhadap-Mu kami beriman; atas-Mu kami bertawakkal; kepada-Mu kami mendekat; dengan-Mu kami memusuhi musuh; kepada-Mu kami berhukum; maka ampunilah kami apa-apa yang telah kami lakukan dan apa-apa yang telah kami tinggalkan; apa-apa yang telah kami sembunyikan dan apa-apa yang telah kami tampakkan; dan apa-apa yang Engkau lebih tahu daripada kami; Engkau Dzat yang memajukan dan mengakhirkan; tidak ada Ilah yang patut disembah selain Engkau.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ، وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ، كَماَ صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ.
وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي اْلعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
وَ أَشْغِلِ الظَّالِمِيْنَ بِالظَّالِمِيْنَ
وَ أَخْرِجْنَا مِنْ بَيْنِهِمْ سَالِمِيْنَ
وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
Ya Allah curahkanlah sholawat untuk baginda Nabiyallah Muhammad sholla 'alaih.
Dan sibukkanlah orang-orang zholim dengan keburukan orang-orang zholim lainnya. Adu orang zholim dengan orang zholim lainnya. Sibukkan mereka dengan diri mereka sendiri dan dengan yang sejenis mereka.
Dan keluarkanlah kami dari tengah-tengah mereka dengan selamat. Dan (berikan pula sholawat) kepada keluarga Nabi, juga para Sahabatnya seluruhnya.

حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ
يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ
"Dengan pujian yang sesuai dengan nikmat-nikmat-Nya dan memadai dengan penambahan-Nya. Wahai Tuhan kami, hanya bagi-Mu segala puji, sebagaimana pujian itu patut terhadap kemuliaan-Mu dan keagungan- Mu."

MOHON AMPUNAN

اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذُنُوْبَنَا، وَذُنُوْبَ آبَائِنَا، وَذُنُوْبَ أُمَّهَاتِنَا، وَذُنُوْبَ أَسَاتِذَتِنَا، وَذُنُوْبَ مَشَايِخِنَا، وَذُنُوْبَ أَحْبَابِنَا، وَذُنُوْبَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْحَاضِرِيْنَ وَالْحَاضِرَاتِ، وَالْغَائِبِيْنَ وَالْغَائِبَاتِ، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِجَمِيْعِ مَوْتَى الْمُسْلِمِيْنَ وَارْحَمْهُمْ، الَّذِيْنَ شَهِدُوْا لَكَ بِالْوَحْدَانِيَّةِ، وَلِنَبِيِّكَ بِالرِّسَالَةِ، وَمَاتُوْا عَلَى ذَلِكَ.
  
DOA MENGHADAPI MUSUH DAKWAH SERTA MAKAR ORANG KAFIR, FASIK, DAN ZALIM

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Dengan menyebut asma Allah, Dzat yang tidak ada satupun yang celaka bersama nama-Nya, baik di bumi maupun di langit. Dialah Dzat yang MahaMendengar lagi Mahatahu

اللَّهُمَّ بِسَطْوَةِ جَبَرُوْتِ قَهْرِكَ، وَبِسُرْعَةِ إِغَاثَةِ نَصْرِكَ، وَبِغَيْرَتِكَ لِانْتِهَاكِ حُرُمَاتِكَ، وَبِحِمَايَتِكَ لِمَنِ احْتَمَى بِآيَاتِكَ، نَسْأَلُكَ يَا اللهُ يَا قَرِيْبُ يَا مُجِيْبُ يَا سَرِيْعُ يَا جَبَّارُ يَا مُنْتَقِمُ يَا قَهَّارُ يَا شَدِيْدَ الْبَطْشِ يَا مَنْ لَا يُعْجِزُهُ قَهْرُ الْجَبَابِرَةِ، وَلَا يُعْظِمُ عَلَيْهِ هَلَاكُ الْمُتَمَرِّدَةِ مِنَ الْمُلُوْكِ وَالأَكَاسِرَةِ، أَنْ تَجْعَلَ كَيْدَ مَنْ كَادَنَا فِي نَحْرِهِ، وَمَكْرَ مَنْ مَكَرَ بِنَا عَائِداً عَلَيْهِ، وَمَنْ حَفَرَ لَنَا حُفْرَةً وَاقِعاً فِيْهَا.
اللَّهُمَّ بَدِّدْ شَمْلَ أَعْدَائِنَا وَأَعْدَاءِ الْمُسْلِمِيْنَ ، وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ، وَقَلِّلْ عَدَدَهُمْ، وَفُلَّ حَدَّهُمْ، وَاجْعَلِ الدَّائِرَةَ عَلَيْهِمْ، وَأَرْسِلِ الْعَذَابَ إِلَيْهِمْ ، وَأَخْرِجْهُمْ عَنْ دَائِرَةِ الْحِلْمِ، وَاسْلُبْهُمْ مَدَدَ الْإِمْهَالِ، وَغُلَّ أَيْدِيْهِمْ، وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوْبِهِمْ، وَلَا تُبَلِّغْهُمُ الْآمَالَ.
اللَّهُمَّ مَزِّقْهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ، وَانْتَصِرْ لَنَا اِنْتِصَارَكَ لِأَحْبَابِكَ عَلَى أَعْدَائِكَ .اللَّهُمَّ لَا تُمَكِّنِ الْأَعْدَاءَ فِيْنَا، وَلَا تُسَلِّطْهُمْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا. اَللَّهُمَّ عَذِّبِ الْكَفَرَةَ الذِّيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ، وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ.اَللَّهُمَّ اَهْزِمْهُمْ وَدَمِّرْهُمْ، وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ، وَاجْعَلْ تَدْمِيْرَهُمْ فِيْ تَدْبِيْرِهِمْ. اَللَّهُمَّ اهْزِمْ جُيُوْشَ الْكُفَّارَ الْمُسْتَعْمِرِيْنَ، أَمْرِيْكَا وَ رُوْسِيَا وَحُلَفَاءِهَا الْمَلْعُوْنِيْنَ.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِيْ نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شُرُوْرِهِمْ
Ya Allah, sesungguhnya kami menjadikan Engkau di leher mereka (agar kekuatan mereka tidak berdaya dalam berhadapan dengan kami). Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan mereka. HR. Abu Dawud 2/89. 

اَللَّهُمَّ أَنْتَ عَضُدِيْ، وَأَنْتَ نَصِيْرِيْ، بِكَ أَجُوْلُ، وَبِكَ أَصُوْلُ، وَبِكَ أُقَاتِلُ
Ya Allah, Engkau adalah lenganku (pertolongan-Mu yang kuandalkan dalam menghadapi lawanku). Engkau adalah pembelaku. Dengan pertolongan-Mu aku bergerak, dengan pertolongan-Mu aku menyergap dan dengan pertolongan-Mu aku berperang. HR. Abu Dawud 3/42, At-Tirmidzi 5/572, dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/183.

اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، كُنْ لِيْ جَارًا مِنْ فُلاَنٍ بْنِ فُلاَنٍ، وَأَحْزَابِهِ مِنْ خَلاَئِقِكَ، أَنْ يَفْرُطَ عَلَيَّ أَحَدٌ مِنْهُمْ أَوْ يَطْغَى، عَزَّ جَارُكَ، وَجَلَّ ثَنَاؤُكَ، وَلاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ
Ya Allah, Tuhan Penguasa tujuh langit, Tuhan Penguasa 'Arsy yang agung. Jadilah Engkau pelindung bagiku dari Fulan bin Fulan, dan para kelompoknya dari makhluk-Mu. Jangan ada seorangpun dari mereka menyakitiku atau melampaui batas terhadapku. Sungguh kuat perlindungan-Mu, dan agunglah puji-Mu. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau. HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 707.

اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَعَزُّ مِنْ خَلْقِهِ جَمِيْعًا، اَللَّهُ أَعَزُّ مِمَّا أَخَافُ وَأَحْذَرُ، وَأَعُوْذُ بِاللَّهِ الَّذِيْ لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ هُوَ، اَلْمُمْسِكِ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ أَنْ يَقَعْنَ عَلَى اْلأَرْضِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، مِنْ شَرِّ عَبْدِكَ فُلاَنٍ، وَجُنُوْدِهِ وَأَتْبَاعِهِ وَأَشْيَاعِهِ، مِنَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ، اَللَّهُمَّ كُنْ لِيْ جَارًا مِنْ شَرِّهِمْ، وَجَلَّ ثَنَاؤُكَ وَعَزَّ جَارُكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَلاَ إِلَـٰهَ غَيْرُكَ
Allah Maha Besar. Allah Maha Perkasa dari segala makhluk-Nya. Allah Maha Perkasa dari apa yang aku takutkan dan khawatirkan. Aku berlindung kepada Allah, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia, yang menahan tujuh langit agar tidak menjatuhi bumi kecuali dengan izin-Nya, dari kejahatan hamba-Mu Fulan, serta para pembantunya, pengikutnya dan pendukungnya, dari jenis jin dan manusia. Ya Allah, jadilah Engkau pelindungku dari kejahatan mereka. Agunglah puji-Mu, kuatlah perlindungan-Mu dan Maha Suci asma-Mu. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau (3x). HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 708.

اَللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ، سَرِيْعَ الْحِسَابِ، اِهْزِمِ اْلأَحْزَابَ، اَللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ
Ya Allah, yang menurunkan Kitab Suci, yang menghisab perbuatan manusia dengan cepat. Ya Allah, cerai-beraikanlah golongan musuh dan goncangkan mereka. HR. Muslim 3/1362.

اَللَّهُمَّ اكْفِنِيْهِمْ بِمَا شِئْتَ
Ya Allah, cukupilah aku dalam menghadapi mereka dengan apa yang Engkau kehendaki. HR. Muslim 4/2300.

MOHON KETETAPAN DALAM DAKWAH

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ، وَاهْدِنَا إِلَى طَاعَتِكَ، وَثَبِّتْنَا عَلَيْهَا، وَأَحْيِنَا عَلَيْهَا، وَأَمِتْنَا عَلَيْهَا، وَابْعَثْنَا عَلَيْهَا، وَلاَ تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ.
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ.

DOA UNTUK KAUM MUSLIMIN

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فِلِسْطِيْنَ، وَفِي سُوْرِيَّة ، وَفِي .... ، وَفِي كُلِّ مَكَانٍ.
اللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ وَسَدِّدْ رَمْيَهُمْ، وَالدُّعَاةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَسَدِّدْ رَأْيَهُمْ، اللَّهُمَّ سَهِّلْ أُمُوْرَهُمْ كُلَّهَا، دِقَّهَا وَجِلَّهَا، فَإِنَّهُ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا، وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا .
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الأَمْوَاتِ إِنّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
“Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin laki-laki dan perempuan, mukmin laki-laki dan perempuan, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Sesungguhnya Engkau MahaMendengar, dekat dan mengabulkan doa-doa, wahai Dzat yang memenuhi segala kebutuhan.”

“Ya Allah, siapa yang engkau beri pemerintahan untuk mengurus urusan kaum muslimin lalu dia mempersulit  urusan kami, maka persulitlah dia. Dan siapa yang engkau beri pemerintahan untuk mengurus urusan kaum muslimin lalu dia berusaha menolong kami, maka tolong pulalah dia.”


MOHON PERLINDUNGAN

بِسمِ اللَّهِ الْخَالِقِ الأْكْبَرِ
لاَ قُدْرَةَ لمِخَلْوُقٍ وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ ۖ
وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلىٰ وَنِعْمَ النَّصِيْرُ
ولاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْم

                  MOHON PERTOLONGAN, KEBAIKAN, DAN DIMUDAHKAN URUSAN

اللهم انا نَشْكُوْ إليك ضَعْفَ قُوَّتِنَا، وَقِلَّةَ حِيْلَتِنا، وَهَوَانَنَا عَلى النَّاسِ. يا أرحم الراحمين
أَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِينَ وأنت ربُّنا. إِلَى مَنْ تَكِلُنا؟ إِلَى عَدُوٍّ مَلَكْتَهُ أُمُوْرَنا، أَمْ إلى بَعِيْدٍ يَتَجَهَّمُنَا؟ إِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ غَضَبٌ عَلَيْنَا فَلاَ نُبَالِيْ. وَلكِنْ عَافِيَتُكَ أَوْسَعُ لَنَا. نَعُوْذُ بِنُوْرِ وَجْهِكَ الَّذِيْ أَشْرَقَتْ بِهِ الظُّلُمَاتُ، وَصَلُحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، أَنْ تُنْزِلَ بِنَا غَضَبَكَ، أَوْ تُحِلَّ عَلَيْنَا سُخْطَكَ. لَكَ الْعُتبْىَ حَتَّى تَرْضَى، وَلاَ حَولَ ولا قوة إلّا بك
Ya Allah sungguh hanya kepada-Mu, kami mengadukan lemahnya kekuatan kami, sedikitnya upaya kami dan hinanya kami di hadapan manusia. Wahai Yang Paling Penyayang di antara para penyayang. Engkau adalah Tuhan pelindung orang-orang yang lemah, Engkau adalah Tuhan Pelindung kami. Kepada siapa Engkau akan menyerahkan kami,  kepada musuh yang Engkau berikan kekuasaan  terhadap urusan-urusan kami? atau kepada orang dari jauh yang bermuka masam terhadap kami, jika engkau tidak murka kepada kami, maka kami tidak peduli dengan itu semua.  Namun keselamatan dari-Mu lebih luas bagi kami. Kami berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang karenanya segala yang gelap menjadi terang benderang, yang karenanya urusan dunia dan akhirat menjadi beres, kami berlindung kepada-Mu dari Engkau turunkan kemarahan-Mu kepada kami atau Engkau timpakan murka-Mu kepada kami. Hanya milik-Mu lah segala akibat yang baik hingga Engkau Ridho kepada kami. Tidak ada peralihan kondisi dan kekuatan kecuali karena Engkau Ya Rabb.[]

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا، وَأَصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لنا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَلاَ نَكْفُرُكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ وَنَخْلَعُ مَنْ يَفْجُرُكَ.
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا، أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ
“Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami karena kelupaan dan kesalahan kami. Rabb kami janganlah Engkau beri kami beban sebagaimana beban yang Engkau beri kepada para pendahulu kami. Rabb kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa-apa yang tidak kami sanggupi. Maafkanlah kami, ampunilah kami, sayangilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”

اَللَّهُمَّ يَا مُسَهِّلَ الشَّدِيْدِ، وَيَا مُلَيِّنَ الْحَدِيْدِ، وَيَا مُنْجِزَ الْوَعِيْدِ، وَيَا مَنْ كُلَّ يَوْمٍ بِأَمْرٍ جَدِيْدٍ، أَخْرِجْنَا مِنَ الْحَلْقِ الضَّيِّقِ إِلَى أَوْسَعِ الطَّرِيْقِ، بِكَ نَدْفَعُ مَا نُطِيْقُ وَمَا لاَ نُطِيْقُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ
“Ya Allah, Zat yang Maha Memudahkan kesulitan, Zat yang Maha melembutkan besi, Zat yang Maha Mewujudkan apa yang dijanjikan, Zat yang Maha Mewujudkan perkara baru tiap hari, keluarkanlah kami dari kerongkongan yang sempit menuju jalan yang lebih luas. Dengan-Mu, kami menolak apa yang mampu Kami tolak, dan apa yang tidak mampu kami tolak. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali pada Allah, Zat yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.”


MOHON TEGAKNYA KHILAFAH DAN KEMENANGAN DAKWAH

اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ، وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ، وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ، وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ، بِيَدِكَ الْخَيْرُ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ، وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ، وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ 
اَللَّهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ اصْلِحْ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ احْفَظْ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ اَلَّذِيْنَ يُقْرَأُوْنَ الْقُرْآنَ وَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَ يُؤْتُوْنَ الزَّكَاةَ وَيَصُوْمُوْنَ صَوْمَ رَمَضَانَ، وَيَحُجُّوْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ وَيُجَاهِدُوْنَ فِي سَبِيْلِكَ بِأَمْوَالِنَا وَأَنْفُسِنَا وَيحْمِلُوْنَ الدَّعْوَةَ الإِسْلاَمِيَّةَ لاِسْتِئْنَافِ الْحَيَاةِ الإِسْلاَمِيَّة.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لَنَا دَوْلَةً إِسَلاَمِيَّةً خِلاَفَةً رَاشِدَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، اَلَّتِي تُطَّبِّقُ شَرِيْعَتَكَ الْعُظْمَى وَتَحْمِي دِيْنَكَ وَالأُمَّةَ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَيا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ.
أللَّهُمَّ إنَّا نَسْألُكَ خِلآفَةً رَاشِدَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، تُعِزُّ بِهَا الإسْلآمَ وَ أهْلَهُ وَ تُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَوَأهْلَهُ،إنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Ya Allah, sungguh kami memohon kepada-Mu Negara Al-Khilafah Al-Raasyidah yang mengikuti Manhaj Kenabian, yang dengannya mulialah Islam beserta umatnya dan dengannya pula hinalah kekufuran beserta penganutnya. Sesungguhnya, Engkau MahaKuasa atas segala sesuatu.
 

 
اللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلْدَتَنَا هَذِهِ وَسَائِرَ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ دَوْلَةً إِسْلَامِيَّةً خِلَافَةً رَاشِدَةً ، تَجْرِيْ فِيْهَا أَحْكَامُكَ وَسُنَّةُ رَسُوْلِكَ يَا حّيُّ يَا قَيُّوْمُ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَن تُكْرِمَنَا بِدَوْلَةِ الْخِلَافَةِ ، وَأَنْ تُحَقِّقَ أَمَلَنَا بِمُبَايَعَةِ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ ، عَلَى كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِهِ ، وَأَنْ تُعَجِّلَ لَنَا بِنَصْرٍ مُؤَزَّرٍ مُبِيْنٍ ، وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُوْنَ بِنَصْرِ اللهِ وَبِعِزَّةِ الاِسْلَامِ ، وَبِخُسْرَانِ الْكُفَّارِ وَالْمُنَافِقِيْنَ وَمَنْ وَالَاهُمْ ، اللَّهُمَّ اجْعَلْ ذَلِكَ قَرِيْبًا، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، وَبِالْاِجَابَةِ جَدِيْرٌ .
اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لَنَا مَا وَعَدْتَكَ عَلَى رَسُوْلِكَ بِعَوْدَةِ الْخِلَافَةِ الرَّاشِدَةِ عَلَى مِنْهَاجِ نَبِيِّكَ ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ أَقَامَهَا بِأَيْدِيْنَا ، اللَّهُمَّ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا فِي طَاعَتِكَ .
رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ .
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau MahaKuasa atas segala sesuatu. [QS. Ali Imran: 26]

اَللَّهُمَّ أَعِـزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ
وَدَمِّـرْ أَعْـدَاءَ الدِّيْنِ وَاخْذَلْ من خَـذَلَ الدِّيْنَ
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin, binasakanlah musuh-musuh dien ini, hinakanlah orang-orang yang telah menghina dien-Mu.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِينَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ وَدَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّينَ وَجْمَعْ كَلِمَةَ الْمُسْلِمِينَ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَلَمِينَ
Ya Allah, muliakanlah Islam dan Kaum Muslimin, hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrikin, hancurkanlah musuh-Mu, musuh agama, himpunkanlah kalimat kaum muslimin di atas kebenaran, wahai Rabb semesta alam.

اَللَّهُمَّ أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Ya Allah, limpahkanlah atas kami kesabaran, kokohkanlah pijakan kami, dan menangkanlah kami atas kaum kafirin.

اَللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ
Ya Allah, satukanlah hati-hati antar kami sebagaimana Engkau satukan antara kaum Muhajirin dan Anshar. 

اَللَّهُمَّ افْتَحْ جِهَادًا فِى بِلاَدِنَا وَفِى كُلِّ مَكَانٍ
Ya Allah, menangkanlah jihad di negeri kami dan di segala penjuru muka bumi.

اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ مُجْرِيَّ السَّحَابِ هَازِمَ اْلأَحْزَابِ سَرِيعَ الْحِسَابِ اِهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ يَا قَوِيُّ يَا عَزِيزٌ
Ya Allah, Yang menurunkan Kitab, Yang menggerakkan awan, Yang menghancurkan sekutu-sekutu, Yang cepat perhitungan-Nya, hancurkan dan guncanglah mereka, wahai Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمِ
Ya Rabb kami, kabulkanlah kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُبِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَبِكَ مِنْكَ لاَ نُحْصِى ثَنَاءًا عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung dengan keridhoan-Mu dari murka-Mu, dan dengan kemaafan-Mu dari hukuman-Mu, dan dengan-Mu dari-Mu. Tidaklah kami bisa menghitung pujian atas-Mu, Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji Diri-Mu sendiri.
 

PUJIAN TERAKHIR DAN SHALAWAT PENUTUP

يَا مَنْ أَجَابَ نُوْحاً فِيْ قَوْمِه، يَا مَنْ نَصَرَ إِبْرَاهِيْمَ عَلَى أَعْدَائِه ، يَا مَنْ رَدَّ يُوْسُفَ عَلَى يَعْقُوْب، يَا مَنْ كَشَفَ الضُّرَّ عَنْ أَيُّوْبَ، يَا مَنْ أَجَابَ دَعْوَةَ زَكَرِيَّا، يَا مَنْ قَبِلَ تَسْبِيْحَ يُوْنُسَ بِنِ مَتَّى .
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ . وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ .
اِسْتَجِبْ لَنَا يَا مَنْ لَيْسَ سِوَاكَ رَبٌّ يُدْعَى، وَاقْطَعْ دَابِرَ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا .
وَصَلِّ اللَّهُمَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأَمِينِ وَالرَّسُولِ الْكَرِيمِ، وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ، وَأَصْحَابِهِ الَّذِينَ نَصَرُوا الدِّينَ، وَسَلِّمْ تَسْلِيماً كَثِيراً .
اَللّٰهُمَّ اِنَّانَسْئَلُكَ سَلَامَةًفِى الدِّيْنِ، وَعَافِيَةًفِى الْجَسَدِوَزِيَادَةًفِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةًفِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةَقَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةًعِنْدَالْمَوْتِ وَمَغْفِرَةًبَعْدَالْمَوْتِ،اَللّٰهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِيْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ، وَنَجَاةًمِنَ النَّارِوَالْعَفْوَعِنْدَالْحِسَابِ
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada engkau akan keselamatan Agama dan sehat badan, dan tambahnya ilmu pengetahuan, dan keberkahan dalam rizki dan diampuni sebelum mati, dan mendapat rahmat waktu mati dan mendapat pengampunan sesudah mati. Ya Allah, mudahkan bagi kami waktu (sekarat) menghadapi mati, dan selamatkan dari siksa Neraka, dan pengampunan waktu hisab.

رَبَّنَا أَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan hidup di dunia dan kebaikan hidup di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api Neraka.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ .
Maha Suci Engkau ya Allah dengan memuji-Mu, aku bersaksi tidak ada tuhan selain Engkau, dan aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.
---

Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda