Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Jumat, 02 November 2007

PEREMAJAAN KELAPA BERBASIS USAHATANI POLIKULTUR

PEREMAJAAN KELAPA BERBASIS USAHATANI POLIKULTUR PENOPANG PENDAPATAN PETANI BERKELANJUTAN

RINGKASAN
Program usahatani kelapa polikultur yang bertujuan untuk meningkatan pendapatan petani dapat diterapkan dan sesuai untuk pertanaman kelapa, sebagai salah satu komoditi ekspor sub sector perkebunan yang hampir dilupakan saat ini. Sasaran utama dari program usahatani kelapa polikultur adalah untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan di pertanaman kelapa pada satu luasan (spatial) dan waktu (temporal) tertentu. Kendala utama peningkatan pendapatan petani kelapa saat ini adalah masih kentalnya kebiasaan membudidaya kelapa untuk tujuan usahatani monokultur. Hal tersebut terlihat dari masih digunakannya jarak dan sistem tanam kelapa konvensional yang diterapkan. Padahal, dengan cara ini fleksibilitas menerapkan pola usahatani polikultur menjadi sangat terbatas.

Iklim mikro, terutama ketersediaan radiasi surya yang layak untuk tanaman sela tidak akan tersedia untuk semua tingkatan umur dengan sistem tanam kelapa yang diterapkan saat ini, sehingga ada waktu-waktu tertentu pola usahatani polikultur tidak dapat diterapkkan secara maksimal dan ini tentunya mengganggu jaminan keberlanjutan pendapatan petani kelapa. Teknologi jarak dan sistem tanam baru kelapa yaitu 5 x 16 m atau 6 x 16 m empat persegi (sistem pagar) pada program peremajaan kelapa sangat tepat untuk mendukung pola usahatani polikultur.

Progam peremajaan yang sedang dan akan terus dilanjutkan di Indonesia sebagai upaya meningkatkan produksi tanaman kelapa akan lebih berhasil jika memberikan jaminan peningkatan pendapatan bagi petani peserta program ini. Kemungkinan keberhasilan tersebut akan lebih nyata jika program ini dikombinasikan dengan menerapkan teknologi jarak dan sistem tanam baru kelapa dengan berwawasan tanaman campuran (polikultur). Dari hasil pengujian lapang menyimpulkan bahwa usahatani polikultur secara agronomis tidak mengganggu pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa. Selanjutnya, secara ekonomis, usahatani semacam ini justru meningkatkan pendapatan petani dibanding usahatani kelapa monokultur.

Hasil simulasi analisis finansial dan uji sensitivitas terhadap beberapa pola tanam tanaman sela di program ini menunjukkan bahwa secara finansial pola usahatani polikultur layak untuk dikembangkan dengan nilai IRR > 100 dan Benefit Cost Ratio (BCR) > 1.5. Sedangkan uji sensitivitas menunjukkan bahwa tiga pola kombinasi tanaman sela yang akan diterapkan sebagai salah satu komponen usahatani polikultur lebih rentan terhadap terjadinya penurunan harga dan produk hingga 25%. Dengan kata lain, terjadinya penurunan tingkat produksi atau penurunan harga hingga 25% tidak akan terlalu mempengaruhi tingkat pendapatan petani, dimana pola yang diterapkan masih dapat memberikan keuntungan bagi petani pelaksana pola ini. Kesimpulan umum yang dapat diambil bahwa pendapatan petani kelapa dijamin akan berkelanjutan jika program peremajaan yang akan diterapkan menerapkan jarak dan sistem tanam baru kelapa disertai dengan usahatani polikultur.

I. PENDAHULUAN
Program pertanian komoditi terpadu dalam pembangunan pertanian dilaksanakan pemerintah sebagai upaya penyempurnaan terhadap apa yang telah dilakukan selama ini. Program semacam ini sudah dan terus digalakkan dengan menggunakan berbagai tanaman perkebunan sebagai tanaman pokok. Salah satu komoditi yang paling relevan untuk dijadikan objek program ini adalah tanaman kelapa.

Selain dari aspek morfologi, maka sistem dan pola tanam kelapa yang diterapkan sangat memungkinkan untuk mengintrodusir jenis komoditi lain. Tanaman yang dapat digunakan untuk program penanaman terpadu dengan kelapa hampir meliputi semua jenis tanaman, termasuk ternak.

Alasan lain pengembangan usahatani kelapa terpadu, atau biasa disebut dengan istilah polikultur dan istilah yang lagi popular saat ini adalah diversifikasi horizontal tidak lain adalah untuk peningkatan pendapatan petani. Karena melihat keadaan pasar saat ini, maka tidak lagi tepat jika petani hanya mengandalkan atau mengharapkan pendapatan yang tinggi dan konstan dari usahatani kelapa secara monokultur.

Adapun sasaran utama dari usahatani kelapa polikultur adalah dalam rangka meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan pada satu luasan dan waktu tertentu, jadi menyangkut aspek spatial dan temporal pada saat yang bersamaan yang luaran akhirnya adalah bertambahnya pendapatan petani dan tentunya akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan. Permasalahan yang sering muncul dalam setiap upaya ini adalah tidak semua umur kelapa dapat dimanfaatkan atau diusahakan secara polikultur.

Faktor pembatas utama dalam usahatani polikultur adalah tidak fleksibelnya pemilihan jenis tanaman yang akan diusahakan karena pada umur-umur tertentu, justru areal di pertanaman kelapa tidak dapat dimanfaatkan. Penyebabnya antara lain karena tingkat naungan tinggi atau sebaliknya, radiasi surya yang diterima tidak layak untuk metabolisme tanaman. Akibat lain adalah unsur iklim mikro lainnya turut menjadi kendala bagi pertumbuhan tanaman atau mungkin ternak yang diusahakan pada pola usahatani ini.

Umumnya, jarak dan sistem tanam untuk kelapa Dalam, Hibrida, dan Genjah masing-masing 9x9, 8.5 x 8.5 , dan 7 x 7 m segitiga yang menghasilkan populasi per ha berturut-turut 143, 160, dan 236 pohon. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pada jarak tanaman anjuran selama ini, maka secara efektif kelapa hanya memanfaatkan lahan sekitar 20% dari areal yang ditanami, atau sekitar 80 persen merupakan lahan tidur. Dalam praktek, pemanfaatan lahan di antara kelapa berpatokan pada jarak 2 m dari pangkal kelapa sehingga areal selebar 4 m sepanjang barisan kelapa tidak diolah. Dengan demikian, sekitar 60% lahan secara efektif masih dapat dimanfaatkan untuk tanaman lain.

Upaya mengoptimalkan pemanfaatan lahan di antara kelapa dapat ditempuh dengan memilih komoditas yang sesuai dengan kondisi iklim mikro yang ada atau meningkatkan intersepsi radiasi surya agar sesuai dengan kebutuhan tanaman sela. Peningkatan intersepsi ini dapat dicapai dengan pemangkasan daun (Akuba, 1994), penjarangan tanaman (Kaat dan Allorerung, 1997), atau penyesuaian jarak dan sistem tanam kelapa (Allorerung dan Mahmud, 1994).

Berdasarkan pada kenyataan tersebut di atas, maka mengatur jarak dan sistem tanam baru tanaman kelapa merupakan alternatif yang lebih menguntungkan. Hal ini dapat dilakukan bersamaan dengan program peremajaan kelapa tua, dimana konsep pengaturan jarak dan sistem tanam baru memungkinkan petani dapat memanfaatkan lahan di antara kelapa sepanjang umur kelapa, kemudian mereka lebih fleksibel memilih jenis usahatani yang akan diterapkan. Hal ini dapat terjadi karena pada jarak dan sistem tanam baru iklim mikro tidak lagi menjadi kendala dan lahan yang tersedia cukup luas untuk diusahakan.

II. TEKNOLOGI PEREMAJAAN KELAPA

Kendala iklim mikro sebagai faktor dominan dapat diperkecil dengan mengatur jarak dan sistem tanam baru, yaitu dengan memperlebar jarak antar barisan. Konsep ini akan lebih bermanfaat dan efektif apabila diterapkan atau dilaksanakan bersama dengan program peremajaan kelapa yang berbasis tanaman campuran. Artinya pada saat yang bersamaan, usahatani polikultur dilaksanakan secara simultan dengan program peremajaan kelapa.

Meskipun sejumlah teknologi telah tersedia dan berbagai program telah diluncurkan dalam beberapa Pelita, ternyata peremajaan perkebunan kelapa rakyat berlangsung sangat seret. Sebagai gambaran perkiraan perkiraan yang disajikan oleh Soebiapradja (1991) bahwa pada tahun 1989 persentase tanaman tua telah menurun menjadi 6.74 dari 7.27% paada tahun 1984. Akan tetapi pada saat yang sama telah terjadi peningkatan areal tanaman baru dengan laju 4.86%. Ini berarti sebenarnya jumlah kelapa yang dikategorikan tua semakin banyak karena yang menurun adalah persentasenya tetapi nilai absolutnya meningkat karena laju penurunan tanaman tua lebih kecil dari peningkatan areal tanaman baru dan memang realisasi program peremajaan selalu jauh dari target. Data tersebut juga mengandung makna bahwa telah terjadi peremajaan tetapi dengan laju yang sangat kecil.

Teknologi peremajaan yang selama ini diterapkan terdiri atas dua sistem yaitu tebang habis (“land clearing”) dan sisipan. Sistem tebang habis digunakan dalam proyek-proyek pemerintah, termasuk saat dilaksanakan program pengembangan kelapa Hibrida, sedangkan sistem sisipan dilakukan secara tradisional oleh petani kelapa (Mahmud, Maliangkay, dan Untu. 1990).

Sistem tebang habis adalah seluruh kelapa tua ditebang, lalu kebun dibersihkan dari sisa tebangan, baru ditanami dengan kelapa pengganti. Biasanya disertai dengan penanaman tanaman penutup tanah sebelum atau segera setelah penanaman tanaman baru. Sistem inimenyebabkan petani kehilangan pendapatan dari kebun kelapanya selama empat tahun disusul periode pendapatan rendah 3 - 4 tahun untuk tanaman pengganti kelapa hibrida dan selama 7 tahun disusul pendapatan rendah 5-6 tahun untuk kelapa Dalam. Oleh karena itu, sistem ini tidak disukai petani, kecuali dilaksanakan program pengembangan kelapa Hibrida karena dibiayai pemerintah berupa kredit kepada petani. Program ini telah menjadi pengalaman traumatis bagi petani karena hampir semuanya tidak mampu mengembalikan kreditnya.

Adapun penerapan peremajaan dengan sistem sisipan yaitu dengan cara menanam tanaman pengganti di antara tanaman tua tanpa rencana penebangan kelapa tua yang jelas. Dalam banyak hal, tanaman tua dibiarkan tumbuh terus bersama tanaman baru atau hanya menjarangkan tanaman tua dan sisanya dibiarkan hingga mati secara alamiah. Akibatnya pertumbuhan tanaman baru tidak baik dan waktu pembungaan tertunda serta produksinya sangat rendah. Dengan demikian, produktivitas usahatani dalam jangka panjang tetap rendah kendati tanaman tua telah mati semua.

Untuk menerapkan konsep peremajaan dengan mengintrodusir jarak dan sistem tanam baru yang dikombinasikan dengan usahatani polikultur memang akan berhadapan dengan berbagai masalah atau hambatan. Adapun kemungkinan masalah atau tantangan tersebut antara lain:
1. Sebagian besar tanaman kelapa tua yang dimiliki merupakan warisan
Keeratan hubungan kekeluargaan dalam budaya masyarakat kita dapat mengatasi pertimbangan ekonomi sehingga petani enggan menebang kelapa tua yang diwarisi.
2. daya nalar petani kita umumnya belum mampu memasukkan pertmbangan-pertimbangan ekonomi dalam pengelolaan usahataninya
Mereka sulit memahami bahwa kelapanya yang sudah tua tetapi tetap berbuah, sebenarnya sudah tidak efisien dan ekonomis lagi. Disamping itu, tidak mudah bagi mereka untuk membayangkan prospek jauh kedepan dari program peremajaan yang ditawarkan ini.
3. Tidak adanya pembanding bagi petani bahwa dengan penerapan teknologi yang tepat (seperti peremajaan misalnya) sungguh-sungguh dapat memberikan manfaat
Selain itu, umur produktif kelapa yang melampaui rata-rata umur penduduk menyebabkan petani sulit memahami secara utuh perubahan yang terjadi pada kelapanya.
4. Harga jual produk tradisional kelapa seperti kopra yang sangat bergejolak pada tingkat yang rendah menyebabkan petani sulit mendapatkan cukup modal untuk melakukan investasi untuk peremajaan kelapa.
5. Tingkat ketergantungan yang cukup besar pada kelapa sebagai sumber nafkah dan tidak adanya jaminan bahwa produk kelapa dapat menyediakan uang kontan secara teratur menyebabkan petani tidak rela untuk meremajakan kelapanya.
6. Program peremajaan selama ini belum disertai upaya program lainnya yang secara memadai dapat meningkatkan pendapatan petani serta mengurangi dampak berkurangnya/terhentinya produksi kelapa akibat peremajaan
Sebagai contoh, program pengembangan berbagai komoditas lain seperti kakao, jagung, palawija, dan lain-lain belum dikaitkan dengan peremajaan.
7. pemanfaatan kayu kelapa belum dimasukkan sebagai bagian integral dari program peremajaan, atau masih kurangnya konsep bagaimana memanfaatkan batang kelapa hasil peremajaan agar lebih mendorong petani melakukan peremajaan.
8. Lemahnya kelembagaan pada tingkat petani serta keterbatasan dan ketidakjelasan dukungan instrumen kebijakan, yang memungkinkan keterlibatan pemilik modal untuk berkiprah dalam peremajaan dan pasca peremajaan

Pemilihan sistem peremajaan tidak semata-mata didasarkan atas kelayakan teknis, tetapi terutama aspek sosial/budaya dan ekonomi, sistem tebang bertahap sebesar 20% per tahun dari kelapa tua diharapkan dapat menjadi kompromi paling optimal dari aspek-aspek tersebut. Keberhasilan program peremajaan di lapang atau di tingkat petani akan lebih nyata jika faktor-faktor tersebut dipertimbangkan betul. Namun satu hal yang sudah harus ditangani dari aspek budidaya adalah bagaimana mengatur jarak dan sistem tanam kelapa yang memberikan jaminan berkelanjutan baik dari aspek spatial dan temporal yang mendukung kesinambungan pendapatan petani.

Konsep peremajaan nampaknya akan lebih berhasil jika pendapatan atau kehidupan sosial ekonomi petani tidak terganggu dengan sistem atau program tersebut. Berdasarkan pengalaman di beberapa negara produsen kelapa yang lebih maju, maka mengintegrasi program peremajaan, pengaturan teknik budidaya kelapa, seperti pengaturan jarak dan sistem tanam, serta dikombinasikan dengan usahatani campuran/polikultur cukup berhasil.

III. JARAK DAN SISTEM TANAM BARU KELAPA

Pengusahaan tanaman sela di antara kelapa sudah tidak diragukan lagi manfaatnya bagi peningkatan pendapatan petani dan belum ada bukti adanya pengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan produksi kelapa. Bahkan sebaliknya dapat meningkatkan produksi kelapa. Meskipun demikian, pemanfaatan sumbedaya lahan tersebut belum mencapai tingkat optimal.

Upaya peningkatan optimalisasi sumberdaya lahan tersebut berkaitan dengan dua aspek yaitu (a) aspek spatial (ruang) dan (b) aspek temporal (waktu). Aspek spatial berkaitan dengan maksimum areal yang dapat digunakan untuk tanaman lain pada tingkat populasi atau produksi kelapa yang relatif sama. Sementara aspek temporal berkaitan dengan kontinuitas dan jangka waktu pemanfaatan lahan di antara kelapa yang berhubungan dengan tersedianya iklim mikro yang sesuai sepanjang usahatani polikultur akan diterapkan. Kedua aspek ini menentukan efektivitas dan efisiensi pemanfaatan sumberdaya lahan di antara kelapa secara berkelanjutan.

Hingga saat ini di tingkat petani maupun perkebunan besar, jarak dan sistem tanam kelapa konvensional adalah 8.5x8.5 m, 9x9 m atau 10x10 m dengan sistem tanam segitiga atau segiempat. Pada jarak dan sistem tanam ini usahatani polikultur mengalami kendala yang cukup berarti baik dari aspek spatial maupun temporal. Untuk itu dikembangkan konsep pengaturan jarak dan sistem tanam baru

PENANGGULANGAN PENYAKIT LAYU PISANG

HASIL DISKUSI DAN KESEPAKATAN KOORDINASI KELOMPOK KERJA
PENANGGULANGAN PENYAKIT LAYU PISANG

BANJARMASIN, 18 - 20 APRIL 2007

I. PELAKSANAAN
Kegiatan Koordinasi Pokja Layu Pisang dilaksanakan di Hotel Perdana - Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada tanggal 18 - 20 April 2007, dibuka secara resmi oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Hortikultura. Tujuan Pertemuan Pokja Merumuskan program pengendalian penyakit layu pisang yang efektif dan efisien Memberikan masukan dan koreksi terhadap upaya-upaya pengendalian penyakit layu pisang yang telah dilakukan Melakukan evaluasi hasil penelitian/kajian pokja layu pisang Peserta Pertemuan Pokja dihadiri oleh 37 peserta, yang terdiri atas:
Pakar/Anggota Pokja yang berasal dari Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu) Solok, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat, Fakultas Pertanian IPB, UGM, Universitas Hasanuddin
UPTD BPTPH: Lampung, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur
Dinas Pertanian Provinsi : D I Yogyakarta, Jawa Tengah, Lampung, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur
Balai Besar Peramalan OPT Jatisari
Dinas Pertanian Kabupaten di Kalimantan Selatan: Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Balangan, Kota Baru, Banjar, Tanah Laut, dan Tapin
Bagian Ekonomi dan Ketahanan Pangan Setda Kabupaten/Kota di Kalimantan Selatan
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Kalimantan Selatan
Universitas Lambung Mangkurat, dan PKBT IPB

II. Hasil Diskusi
Dari pertemuan Pokja layu pisang dapat dirumuskan beberapa hal sebagai berikut:

1. Program pengembangan kebun pisang berdasarkan pada aspek-aspek sebagai berikut:
Peningkatan kualitas dan pemenuhan permintaan pasar;
Penerapan prinsip klonalisasi, kolonisasi, konsolidasi, pola kebun dan kelembagaan;
Pengembangan kawasan sentra produksi buah;
Penerapan GAP/SOP;
Pengembangan dan penerapan SCM; serta
Peningkatan kuantitas dan kualitas promosi di tingkat domestik dan internasional.

2. Langkah operasional dalam rangka penanggulangan penyakit layu pisang, antara lain:
Survei identifikasi lokasi dan pertanaman yang terserang
Sosialisasi kegiatan petani (fokus yang tanamannya terserang), petugas lapang, tokoh masyarakat, dan lain-lain
Pelatihan-pelatihan perbanyakan agens hayati (praktek)
Pengorganisasian dalam gerakan penerapan teknologi.
Teknologi antara lain:
pemusnahan tanaman terserang
perbaikan drainase
kompos + agens hayati
pembersihan/pencucian peralatan
menghindari perpindahan patogen melalui peralatan, tanah, aliran air, dan lain-lain.
Pembungkusan tandan buah
Bimbingan dan pembinaan teknis berkelanjutan
Evaluasi dan penyempurnaan teknologi dan pelaksanaan
Peraturan

3. Pendekatan sosial:
Keberhasilan dalam penanggulangan penyakit layu pisang dapat dicapai melalui penerpaan PHT dengan pola SL. Dalam SL ini diharapkan petani dapat termotivasi untuk secara konsisten mematuhi penerapan budidaya tanaman sehat serta melaksanakan pengendalian secara mandiri dan berkelompok;
Pendekatan kepada tokoh masyarakat/petani maju dalam operasionalisasi pengendalian akan cukup membantu efektivitas pengendalian;
Dalam pelaksanaan pengendalian, diperlukan kepatuhan petani mengikuti prosedur baku teknis pengendalian.

4. Pemilihan benih

a. Tingkat kecermatan dalam pemilihan benih pisang sangat berperan/menentukan munculnya penyakit layu pisang. Kemungkinan terdapatnya penyakit pada rumpun diawali/terbawa benih yang memang sudah terserang atau berasal dari rumpun yang terserang;
Penggunaan benih hasil kultur jaringan terhadap penyakit layu perlu waktu untuk aklimatisasi terlebih dahulu. Ukuran benih dari kultur jaringan disarankan minimal ± 50 cm.

Hasil kultur jaringan sebelum di lepas ke petani hendaknya di tanam terlebih dahulu di dalam polybag sampai muncul anakan baru, anakan tersebut yang nantinya diberikan ke petani;
Alternatif pengendalian layu bakteri yaitu dengan penanaman pisang kepok yang tidak mempunyai jantung pisang (terdapat di Pulau Sulawesi) dengan tujuan memotong siklus penularan melalui ooze (eksudat) yang terbawa serangga/tawon yang hinggap pada jantung pisang;
Pisang sepatu Amora (dari Manado) dan pisang Puju (dari Sulawesi) dilaporkan tahan terhadap penyakit layu;
Perlu kawalan teknologi untuk benih pisang yang dibagikan ke petani, antara lain perlu aplikasi agens antagonis terlebih dahulu.

5. Pemanfaatan agens hayati
Eksplorasi agens antagonis Gliocladium, Trichoderma dan Pseudomonad flourescens (Pf) dilakukan oleh Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit Tanaman. Eksplorasi Pseudomonad flourescens memberikan hasil yang lebih baik apabila dilakukan pada lokasi yang potensial ditumbuhi tanaman Mimosa pudica (putri malu). Perbanyakan Pf dilakukan di laboratorium oleh petugas sedangkan perbanyakan Trichoderma dan Gliocladium dapat dilakukan petani langsung;

Laboratorium Pengamatan Hama Penyakit Tanaman hendaknya memiliki koleksi agens hayati dan memeliharanya dengan cara yang benar sehingga tingkat keefektifannya terjaga. Hal ini merupakan aset yang berharga dan bahan untuk perbanyakan agens hayati di tingkat petani/kelompok tani pengguna agens hayati;
Dalam penggunaan Pf, cara perendaman dilaporkan lebih efektif dibandingkan dengan pencelupan;
Kompos yang mengandung agens antagonis sebelum diaplikasi hendaknya dicek terlebih dahulu untuk mengetahui apakah agens antagonis tersebut masih aktif atau tidak;
Aplikasi agen antagonis dapat dilakukan pada pembenihan maupun saat tanam;

Dalam aplikasi agens antagonis perlu memerhatikan kerapatan populasi agens antagonis, standar cara pembuatan, konsentrasi, dan cara aplikasi;
Jumlah propagule (sesuatu yang dapat membentuk koloni) yang dianjurkan sebanyak 1010 untuk cendawan, sedangkan untuk bakteri >1010 ;
Pf ada yang bersifat endofit, keberadaannya dalam tanah dapat menginduksi ketahanan tanaman.

6. Eradikasi tanaman terserang
Eradikasi penyakit layu pisang yang dilakukan dengan penyuntikan minyak tanah/glyphosat lebih efektif dan lebih mudah bila dibandingkan dengan pembongkaran karena kemungkinan masih terdapatnya sumber inokulum. Penggunaan buldozer dikhawatirkan dapat meratakan sumber inokulum ke lahan-lahan sekitarnya;
Pada benih, untuk mengurangi tersebarnya patogen layu eradikasi dapat dilakukan dengan cara mematikan titik tumbuh.

7. Pengerodongan buah
Kerodong buah pisang disarankan sepanjang ± 50 cm sampai dengan di bawah ujung buah, dengan tujuan untuk menghindari terjadinya penularan penyakit melalui serangga, selain itu agar hama Nacoleia octasema (penyebab scab/kudis pada buah)tidak bisa masuk menyerang jantung.

8. Pergiliran tanaman
Pergiliran tanaman dapat dilakukan dengan menanam padi gogo, dapat juga dengan bawang sabrang. Pergiliran tanaman dengan bawang sabrang dilaporkan dapat menurunkan serangan penyakit layu diduga bawang sabrang memiliki zat alelopati yang dapat menghambat patogen.

9. Solarisasi (membiaskan penyinaran sinar matahari) lubang tanam dan tanah
Solarisasi dimaksudkan untuk mengekspose lubang tanam dan tanah agar tekena sinar matahari langsung sehingga dapat mematikan sumber inokulum. Sebelum melakukan penanaman dianjurkan untuk melakukan solarisasi lubang tanam dan tanah selama 2-3 minggu.

10. Epidemiologi
Epidemiologi penyakit layu pisang dilakukan untuk mengetahui faktor abiotik dan biotik
Buah pisang terinfeksi yang terbawa dalam pengangkutan benih dapat menularkan penyakit (menjadi sumber inokulum) di daerah yang belum terserang
Kecepatan penyebaran penyakit dapat mencapai 100 km per tahun
Potongan jantung pisang yang dibuang sembarangan juga dapat menjadi sumber infeksi.

11. Desinfestasi peralatan pertanian, alat potong
Desinfestasi dimaksudkan untuk mensterilkan (suci hama) peralatan pertanian/alat potong yang biasanya digunakan untuk memotong tandan pisang. Sebelum memotong tanaman agar dicelupkan terlebih dahulu dalam larutan desinfektan, misalnya kloroks dengan pengenceran 1:2.

12. Diseminasi informasi
Untuk mengefektifkan upaya penanggulangan OPT pisang penyebaran informasi perlu disebarluaskan mengenai informasi teknologi pengendalian OPT pisang.

13. Sarana Identifikasi
Untuk mengidentifikasi OPT maupun agens hayati diperlukan mikroskop sedangkan saat ini mikroskop tersebut belum dimiliki di tingkat Kabupaten maupun PPAH.

14. Upaya penanaman kembali di lahan bekas daerah serangan
Penanaman kembali di lahan bekas daerah serangan layu pisang dapat dimungkinkan dengan catatan harus dikawal dengan teknologi pengendalian. Lubang tanam dapat dibuat di samping rumpun terserang dan diaplikasi agens hayati dan solarisasi lubang tanam. Untuk mengurangi risiko terjangkitnya penyakit penanaman pisang kembali disarankan dilakukan 6 bulan setelah eradikasi.

15. Peraturan Daerah
Perlu dibuat peraturan untuk pengawasan lalu lintas benih pisang.

16. Agar upaya pengendalian dapat berjalan efektif maka telah disepakati time line seperti tertera pada Lampiran
1. Jadwal pelaksanaan penanggungjawab kegiatan akan diatur berdasarkan kesepakatan dalam pertemuan koordinasi pengendalian layu pisang di daerah.

17. Penyakit lain yang perlu diperhatikan selain layu fusarium dan bakteri adalah penyakit bunchy top
Dilaporkan bahwa di Provinsi Sulawesi Utara terjadi serangan penyakit tersebut. Penyebaran penyakit ini sangat cepat karena disebarkan oleh serangga vektor yaitu aphid/Pentalonia. Untuk itu, perlu diinformasikan ke daerah tentang perlunya peningkatan kewaspadaan terhadap serangan penyakit bunchy top pada pisang. Diseminasi tentang penyakit bunchy top dan cara pengendalian perlu dilakukan melalui lembar teknologi, leaflet, maupun pedoman.

Posted 6 December 2003
Makalah falsafah Sains (PPs 702)
Program Pasca Sarjana/S3
Institut Pertanian Bogor
Desember 2003
Dosen:
Prof. Dr. Ir. Rudy C. Tarumingkeng (Penanggung Jawab)
Prof. Dr. Ir. Zahrial Cotto

Budidaya Kedelai di Lahan Kering

Keluaran

Teknologi budidaya kedelai di lahan kering

Bahan dan Alat
Bahan : bibit, pupuk Urea, TSP, KCl
Alat : garu, cangkul, arit

Syarat Tumbuh

a. Tanah Tanaman kedele dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah dengan drainase dan aerasi tanah yang cukup baik serta air yang cukup selama pertumbuhan tanaman. Tanaman kedele dapat tumbuh baik pada tanah alluvial, regosol, grumosol, latosol atau andosol. Pada tanah yang kurang subur (miskin unsur hara) dan jenis tanah podsolik merah-kuning, perlu diberi pupuk organik dan pengapuran.

b. Iklim
Kedele dapat tumbuh subur pada : curah hujan optimal 100-200 mm/bulan. Temperatur 25-27 derajat Celcius dengan penyinaran penuh minimal 10 jam/hari. Tinggi tempat dari permukaan laut 0-900 m, dengan ketinggian optimal sekitar 600 m.

c. Air
Curah hujan yang cukup selama pertumbuhan dan berkurang saat pembungaan dan menjelang pemasakan biji akan meningkatkan hasil kedele.

Teknik Budidaya

1. Persiapan lahan
Pengolahan lahan dimulai sebelum jatuhnya hujan. Tanah diolah dengan bajak dan garu/cangkul hingga gembur. Untuk pengaturan air hujan perlu dibuat saluran drainase pada setiap 4 m dan di sekeliling petakan sedalam 30 cm dan lebar 25 cm. Kedele sangat terganggu pertumbuhannya bila air tergenang.

2. Perlakuan benih
Untuk mencegah serangan hama lalat bibit, sebelum ditanam benih dicampur Marshall dengan dosis 100 gram/5 kg benih. Benih dibasahi secukupnya lalu dibubuhi Marshall dan diaduk rata.

3. Penanaman
Dianjurkan menggunakan benih bersertifikat dengan kebutuhan benih sekitar 40 kg/ha. Penanaman benih dengan cara ditugal, jarak tanam 40 x 10 cm atau 40 x 15 cm sesuai kesuburan tanah, setiap lubang tanaman diisi 2 butir benih lalu ditutup dengan tanah tipis-tipis.

4. Pemupukan
Dianjurkan menggunakan pupuk Urea 50 kg, TSP 100 kg dan KCl 50 kg/ha atau sesuai anjuran setempat. Seluruh jenis pupuk diberikan pada waktu bersamaan yaitu saat pengolahan tanah terakhir. Mula-mula Urea dan TSP dicampur lalu disebar merata, disusul penyebaran KCl kemudian diratakan dengan penggaruan.

5. Penyulaman
Benih yang tidak tumbuh segera disulam, sebaiknya memakai bibit dari varietas dan kelas yang sama. Penyulaman paling lambat pada saat tanaman berumur 1 minggu.

6. Penyiangan
Penyiangan dilakukan paling sedikit dua kali, karena di lahan kering gulma tumbuh dengan subur pada musim penghujan. Penyiangan I pada saat tanaman berumur 2 minggu, menggunakan cangkul. Penyiangan II bila tanaman sudah berbunga (kurang lebih umur 7 minggu), menggunakan arit atau gulma dicabut dengan tangan.

7. Pengendalian hama
Tidak kurang dari 100 jenis serangga dapat menyerang kedele. Pengendalian di tingkat petani terutama di daerah sentra produksi sering menggunakan insektisida secara berlebihan tanpa memperdulikan populasi hama. Hal ini selain menambah biaya juga merusak lingkungan dan menimbulkan kematian serangga berguna. Untuk mengurangi frekuensi pemberian insektisida adalah dengan aplikasi insektida berdasarkan pemantauan hama. Insektisida hanya akan digunakan bila kerusakan yang disebabkan oleh hama diperkirakan akan menimbulkan kerugian secara ekonomi, yaitu setelah tercapainya ambang kendali.

8. Panen
Kedele harus dipanen pada tingkat kemasakan biji yang tepat. Panen terlalu awal menyebabkan banyak biji keriput, panen terlalu akhir menyebabkan kehilangan hasil karena biji rontok. Ciri-ciri tanaman kedele siap panen adalah : Daun telah menguning dan mudah rontok Polong biji mengering dan berwarna kecoklatan Panen yang benar dilakukan dengan cara menyabit batang dengan menggunakan sabit tajam dan tidak dianjurkan dengan mencabut batang bersama akar. Cara ini selain mengurangi kesuburan tanah juga tanah yang terbawa akan dapat mengotori biji.

9. Analisa Usahatani Kedele
Dengan menerapkan teknik budidaya ini di desa Sekotong Tengah, Lombok Barat pada MH 1994/1995 diperoleh produksi terendah 1,23 ton/ha dan tertinggi 2,0 ton.ha. rata-rata produksi dari 15 orang petani pelaksana adalah 1,56 ton/ha,
Analisa ekonomi menggunakan acuan produksi 1,5 ton/ha adalah sebagai berikut :

a. Saprodi

- Benih 40 kg @ Rp. 1.700,- = Rp. 68.000,-

- Pupuk : Urea 50 kg @ Rp. 300,- = Rp. 15.000,-

TSP 100 kg @ Rp. 480,- = Rp. 48.000,-

Kcl 50 kg @ Rp. 550,- = Rp. 27.500,-

- Obat-obatan :

- Marshal 0,8 kg @ Rp. 35.000,- = Rp. 28.000,-

- Azodrin 1,5 liter @ Rp. 12.000 = Rp. 18.000,-

Biaya saprodi (a) = Rp. 204.000,-


b. Tenaga kerja

- Pengolahan tanah = Rp. 108.000,-

- Penanaman 15 OH @ Rp. 2.500,- = Rp. 37.500,-

- Penyiangan 35 OH @ Rp. 2.500,- = Rp. 87.500,-

- Penyemprotan 4 OH @ Rp. 2.500,- = Rp. 10.000,-

- Panen dan prosesing = Rp. 112.500

Biaya tenaga kerja (b) = Rp. 112.500,-


c. Total biaya (a+b) = Rp. 355.000,-

d. Hasil 15 kw biji @ Rp. 120.000,- = Rp. 1.800.000,-

e. Pendapatan bersih (d-c) = Rp. 1.240.000,-

f. B/C ratio 2,21

(ID:343, posted:29 April 2002 , Source: Departemen Pertanian http://www.deptan.go.id

Teknologi Budidaya Pisang Unggul

Teknologi Memproduksi Pisang Bermutu

Keluaran
Pisang merupakan tanaman asli Asia Tenggara termasuk Indonesia. Jenis pisang yang banyak ditanam di Indonesia antara lain pisang susu, pisang raja, pisang ambon, pisang kepok, pisang mas, dll.

Bahan dan Peralatan
Bibit, pupuk ZA, Ds dan ZK, pupuk kandang, dll

Pedoman Teknis
Tanaman pisang ditanam pada dataran rendah yang beriklim lembab dengan suhu udara antara 15 - 35 derajat celcius dan pH tanah adalah 4,5 - 7,5

Cara Tanam dan Pemeliharaan

a. Persiapan lahan lahan harus bebas dari alang-alang buat lubang tanaman dengan ukuran 60 x 60 x 50 cm jarak antar lubang tanaman 3 - 4 meter setiap lubang diisi pupuk kandang atau kompos sebanyak 2 - 3 kaleng bekas minyak tanah.

b. Penyediaan bibit dan penanaman bibit yang digunakan berasal dari anakan-anakan tanaman pisang bibit berupa tunas-tunas pada bonggol yang dibelah dan disebut 'bit' . bit didederkan pada media tanah campur pasir (1:1) setelah satu minggu bibit mulai berakar dan dipindahkan ke polybag dua bulan kemudian bibit siap dipindahkan ke lubang tanaman di kebun (1 bibit per lubang) penanaman di kebun sebaiknya dilaksanakan awal musim penghujan.

c. Pemupukan sebulan setelah dipupuk dengan campuran 250gr ZA, 100gr DS dan 150 gr ZK per tanaman pemupukan tersebut diulang setiap tiga bulan sekali pupuk dibenamkan melingkar di sekeliling tanaman

d. Penjarangan anakan penjarangan anakan ditujukan untuk menjaga keseimbangan pertumbuhan sehingga tanaman dapat menghasilkan tandan yang lebih besar dan berkualitas baik. Dipilih anakan pedang Untuk anakan kedua yang dipelihara berasal dari anakan pertama, dan anakan ketiga berasal dari anakan kedua. Pemeliharaan anakan sebaiknya dimulai setelah induknya berumur 4 - 6 bulan. Pemeliharaan tanaman induk dengan ketiga anakannya sebaiknya merupakan bentuk melingkar

e. Pemotongan jantung pisang Setelah bunga terakhir pada jantung mekar yang ditandai dengan pertumbuhan buah yang kecil-kecil dan lambat, sisa jantung segera dipotong Pemotongan jantung tersebut dapat meningkatkan produksi buah 2 - 5%

f. Panen Pada bulan-bulan panas buah pisang sudah bisa dipanen setelah 80 hari sejak keluarnya jantung, dan pada bulan-bulan basah setelah 120 hari Ciri-ciri buah pisang sudah bisa dipanen antara lain :
* kulit buah menjadi lebih cerah
* bentuk buah lebih membulat tidak bersiku Pada saat panen jangan sampai terjadi banyak luka pada kulit buah akibat benturan atau gesekan agar mutu dan penampakan buah tetap baik dan menarik.

Mencetak Anak Cerdas

Membuat anak cerdas sejak dini

Dr. Bernard Devlin dari Fakultas Kedokteran Universitas Pittsburg, AS, memperkirakan faktor genetik cuma memiliki peranan sebesar 48% dalam membentuk IQ anak. Sisanya adalah faktor lingkungan, termasuk ketika si anak masih dalam kandungan.

BACA DENGAN KRITIS!

LIHAT:

Mewaspadai Upaya Liberalisasi Keluarga Melalui Ide Gender

Monday, January 18th, 2010 | Posted in Muslimah | 1 Comment »

KELUARGA MUSLIM DALAM ANCAMAN (Mewaspadai Upaya Liberalisasi Keluarga Melalui Ide Gender) Oleh : Siti Nafidah Pengantar Terwujudnya keluarga ideal atau keluarga Islami tentu merupakan dambaan setiap orang. Siapapun akan berharap rumahtangga yang dibangunnya dipenuhi suasana sakinah mawaddah dan rahmah, dengan pasangan yang shaleh atau shalehah, suami atau isteri yang menyejukan mata dan jiwa, serta anak-anak yang cerdas [...]

Baca lebih lanjut »

Ibu di Persimpangan Jalan

Wednesday, December 23rd, 2009 | Tags:
Posted in Muslimah | 5 Comments »

Oleh: Salma Nurul Izza IBU adalah dahan pijakan anak untuk meraih pucuk kehidupannya. Bila dahan itu patah, anak akan jatuh bersamanya dan tidak akan pernah sampai di puncak. Tidak ada yang dapat mengingkari betapa pentingnya peran sosok yang kita sebut IBU. Banyak orang besar yang tampil di kancah dunia karena peran seorang ibu. Thomas [...]

Baca lebih lanjut »

Selamatkan Yogyakarta Sebagai Kota Pelajar Dengan Budaya Islam

Wednesday, July 29th, 2009 | Posted in Muslimah | 2 Comments »

HTI Press-Kapitalisme, ideologi yang mengatur dunia saat ini telah menyumbang krisis di berbagai dimensi kehidupan manusia. Tak ada satu pun negara bisa lolos dari ancaman kehancuran peradaban, akibat penerapan ideologi kapitalis. Tak terkecuali bangsa dan negara ini, Indonesia. Krisis pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah semua warga negara Indonesia, sebagai akibat diterapkannya sistem pendidikan kapitalis global [...]

Baca lebih lanjut »

BAB VIII: KEBIJAKAN PENDIDIKAN MENJADI STANDAR DUNIA DALAM PENDIDIKAN

Tuesday, June 2nd, 2009 | Posted in Manifesto | 1 Comment »

Pendidikan untuk Semua Islam adalah agama yang sangat memperhatikan masalah pendidikan. Besarnya perhatian terhadap pendidikan ditunjukkan oleh Rasulullah ketika menetapkan tebusan bagi tawanan perang Badar dengan mengajar membaca sepuluh anak Muslim. Berdasarkan segmen peserta didik, saat ini terdapat dua jenis pendidikan, yakni pendidikan untuk kalangan orang berada dan pendidikan untuk masyarakat umum. Daulah Khilafah tidak akan [...]

Baca lebih lanjut »

BANGKIT MENYONGSONG MASA DEPAN GEMILANG

Monday, May 25th, 2009 | Posted in Aktualita, Muslimah | 1 Comment »

“Refleksi Hari Kebangkitan 20 Mei: Dengan Islam, Saatnya Generasi Muslim Bangkit Menyongsong Masa Depan Gemilang” Kamis, 22 Mei 2009, saat masyarakat asyik menikmati liburan di tengah minggu, seratus lebih muslimah kota semarang justru keluar rumah berkumpul di Aula Gedung Dewan Riset Daerah (DRD) Jawa Tengah. Para muslimah yang terdiri dari tokoh kota semarang,pakar pendidikan, guru, siswa [...]

Baca lebih lanjut »

Serial Syariah Islam: Mewujudkan “Clean Governance and Good Governmet”

Friday, August 15th, 2008 | Posted in Shari'ah | 3 Comments »

PENDAHULUAN Pemerintahan yang bersih dan baik (clean and good government) adalah idaman. Istilah yang semakin populer dalam dua dekade ini, semakin menjadi tuntutan, dalam kondisi ketika korupsi, kolusi, nepotisme, dan penyalahgunaan wewenang (abuse of power) lainnya begitu menggejala di berbagai belahan dunia. Kekecewaan terhadap performance pemerintahan di berbagai negara, baik di negara dunia ketiga maupun [...]

Baca lebih lanjut »

Metode Pendidikan Rosulullah

Monday, May 5th, 2008 | Posted in Opini Anda | 5 Comments »

Oleh : Arif Firmansyah Era globalisasi seakan tidak bisa dibendung lajunya memasuki setiap sudut negara dan menjadi sebuah keniscayaan. Era ini menghendaki setiap negara beserta individunya harus mampu bersaing satu sama lain baik antar negara maupun antar individu. Persaingan yang menjadi esensi dari globalisasi tak jarang memiliki pengaruh dan dampak yang negatif pula jika dicermati dengan [...]

Baca lebih lanjut »

AKHBAR EDISI KE 90 [FEBRUARI 2008]

Tuesday, February 5th, 2008 | Posted in Akhbar | No Comments »

Mencetak Pejuang Penegak Syariah Alhamdulillah, luar biasa. Banyak pilihan aktivitas untuk mengakhiri 2007. HTI DPD Kota Surabaya pada Ahad 30 Desember memilih melakukan kegiatan Islamic Mega Training (IMT). Acara ini mendapatkan respon yang sangat positif dari seluruh peserta. Hampir 100% mereka menyatakan acara ini menyenangkan, mengesankan dan memberikan manfaat besar untuk mengenalkan Islam dengan syariah dan [...]

Baca lebih lanjut »

Galeri Opini Edisi Khusus [84]

Wednesday, August 1st, 2007 | Posted in Galeri Opini | 1 Comment »

Pengantar: Salah satu tantangan umat Islam terbesar di Tanah Air, juga di Dunia, adalah bagaimana mempersatukan umat Islam. Persatuan umat Islam selama ini sepertinya sulit diwujudkan. Padahal pada masa lalu, sejarah Islam telah membuktikan bahwa umat Islam bisa dipersatukan, bahkan dalam satu kekuasaan Islam, yakni Khilafah Islam.

Baca lebih lanjut »

Ibu Pencetak Generasi Unggul

Tuesday, June 26th, 2007 | Posted in Muslimah, Rumah Tangga | 1 Comment »

Oleh Ir. Arini Retnaningsih Ibu adalah sekolah yang jika engkau telah mempersiapkannya berarti engkau telah mempersiapkan suatu bangsa yang mempunyai akar-akar yang baik (M. Nashih Ulwan) Belakangan ini kita sering dikejutkan dengan berbagai fenomena yang terjadi di kalangan anak-anak. Bukan hanya remaja, tetapi anak-anak SD bahkan TK yang masih ‘hijau”. Berjatuhannya korban-korban smackdown, dua di antaranya [...]

Baca lebih lanjut »


Untuk menjelaskan peran genetika dalam pembentukan IQ anak, seorang pakar lain di bidang genetika dan psikologi dari Universitas Minnesota, juga di AS, bernama Matt McGue, mencontohkan, pada keluarga kerajaan yang memiliki gen elit, keturunannya belum tentu akan memiliki gen elit. ''Keluarga bangsawan yang memiliki IQ tinggi umumnya hanya sampai generasi kedua atau ketiga. Generasi berikutnya belum diketahui secara pasti, karena mungkin saja hilang, meski dapat muncul kembali pada generasi kedelapan atau berikutnya'', ungkap McGue. ''Orang tua yang memiliki IQ tinggi pun bukan jaminan dapat menghasilkan anak ber-IQ tinggi pula.'' Ini menunjukkan genetika bukan satu-satunya faktor penentu tingkat kecerdasan anak.

Faktor lingkungan, dalam banyak hal, justru memberi andil besar dalam kecerdasan seorang anak. Yang dimaksud tak lain adalah upaya memberi ''iklim'' tumbuh kembang sebaik mungkin sejak si anak masih dalam kandungan agar kecerdasannya dapat berkembang optimal. Dengan gizi dan perawatan yang baik misalnya, si Polan bisa cerdas. Atau dengan menjaga kesehatan secara baik dan menghindari racun tubuh selagi ibunya mengandung dia, si Putri dapat memiliki intelegensia baik. Begitu pula dengan memberikan kondisi psikologis yang mendukung, angka IQ si Tole lebih tinggi dari teman sebayanya. Gizi, perawatan, dan lingkungan psikologis itulah faktor lingkungan penentu kecerdasan anak.

Kisah Helen dan Gladys, sepasang bayi kembar, bisa menjadi salah satu buktinya. Pada usia 18 bulan mereka dirawat secara terpisah. Helen hidup dan dibesarkan dalam satu keluarga bahagia dengan lingkungan yang hidup dan dinamis. Sedangkan Gladys dibesarkan di daerah gersang dalam lingkungan ''miskin'' rangsangan intelektual. Ternyata saat dilakukan pengukuran, Helen memiliki angka IQ 116 dan berhasil meraih gelar sarjana dalam bidang Bahasa Inggris. Sebaliknya Gladys terpaksa putus sekolah lantaran sakit-sakitan dan IQ-nya 7 angka di bawah saudara kembarnya.

Gizi dan Perilaku Ibu

Dr. Devlin menemukan bukti bahwa keadaan dalam kandungan juga sangat berpengaruh pada pembentukan kecerdasan. ''Ada otak substansial yang tumbuh dalam kandungan'', jelasnya. ''IQ sangat tergantung pada bobot lahir bayi. Anak kembar, rata-rata memiliki IQ 4 - 7 angka di bawah anak lahir tunggal karena umumnya bayi kembar memiliki bobot badan lebih kecil'', tambahnya.

Lebih dari 20 tahun terakhir berbagai penelitian juga mengungkapkan korelasi positif antara gizi, terutama pada masa pertumbuhan pesat, dengan perkembangan fungsi otak. Ini berlaku sejak anak masih berbentuk janin dalam rahim ibu. Pada janin terjadi pertumbuhan otak secara proliferatif (jumlah sel bertambah), artinya terjadi pembelahan sel yang sangat pesat. Kalau pada masa itu asupan gizi pada ibunya kurang, asupan gizi pada janin juga kurang. Akibatnya jumlah sel otak menurun, terutama cerebrum dan cerebellum, diikuti dengan penurunan jumlah protein, glikosida, lipid, dan enzim. Fungsi neurotransmiternya pun menjadi tidak normal.

Dengan bertambahnya usia janin atau bayi, bertambah pula bobot otak. Ukuran lingkar kepala juga bertambah. Karena itu, untuk mengetahui perkembangan otak janin dan bayi berusia kurang dari setahun dapat dilakukan secara tidak langsung, yakni dengan mengukur lingkar kepala janin.

Begitu lahir pun, faktor gizi masih tetap berpengaruh terhadap otak bayi. Jika kekurangan gizi terjadi sebelum usia 8 bulan, tidak cuma jumlah sel yang berkurang, ukuran sel juga mengecil. Saat itu sebenarnya terjadi pertumbuhan hipertropik, yakni pertambahan besar ukuran sel. Penelitian menunjukkan, bayi yang menderita kekurangan kalori protein (KKP) berat memiliki bobot otak 15 - 20% lebih ringan dibandingkan dengan bayi normal. Defisitnya bahkan bisa mencapai 40% bila KKP berlangsung sejak berwujud janin. Karena itu, anak-anak penderita KKP umumnya memiliki nilai IQ rendah. Kemampuan abstraktif, verbal, dan mengingat mereka lebih rendah daripada anak yang mendapatkan gizi baik.

Asupan zat besi (Fe) juga diduga erat kaitannya dengan kemampuan intelektual. Untuk membuktikannya, Politt melakukan penelitian terhadap 46 anak berusia 3 - 5 tahun. Hasilnya menunjukkan, anak dengan defisiensi zat besi ternyata memiliki kemampuan mengingat dan memusatkan perhatian lebih rendah. Penelitian Sulzer dkk. juga menunjukkan anak menderita anemia (kurang darah akibat defisiensi zat besi) mempunyai nilai lebih rendah dalam uji IQ dan kemampuan belajar.

Maka atas dasar hasil penelitian tadi, kita bisa mengatur makanan anak sejak janin. Ketika anak masih dalam kandungan, si ibu mesti makan untuk kebutuhan berdua dengan gizi yang baik. Perilakunya juga mesti dijaga agar tidak memberi pengaruh buruk terhadap janin. Pasalnya, perilaku ''buruk''ibu hamil, merokok misalnya, ternyata juga menjadikan IQ anak rendah.

Penelitian David L. Olds et. al. (1994) dari Departement of Pediatrics, University of Colorado di Denver, AS, menunjukkan bayi-bayi yang lahir dari ibu perokok memiliki faktor potensial ber-IQ rendah, seperti bobot lahir rendah, lingkar kepala lebih kecil, lahir prematur, dan perawatan saat di ICU lebih lama dibandingkan dengan bayi dari ibu tidak merokok selama hamil. Anak dari ibu perokok selama hamil pada usia 12 - 24 bulan memiliki nilai IQ 2,59 angka lebih rendah, pada 36 - 48 bulan memiliki nilai IQ 4,35 angka lebih rendah ketimbang IQ anak dari ibu tidak merokok saat hamil.

Menurut David, asap rokok diduga akan mengurangi pasokan oksigen yang sangat diperlukan dalam proses pertumbuhan sistem syaraf janin. Nikotin rokok akan membuat saluran utero-plasental menyempit. Akibatnya, sel-sel otak bayi akan menderita hypoxia atau kekurangan oksigen. Asap rokok juga akan memicu terjadinya proses carboxy hemoglobin, yaitu sel-sel darah yang semestinya mengikat oksigen malah mengikat CO dari asap rokok. Selain itu, asap rokok juga mengandung sekitar 2.000 - 4.000 senyawa kimia beracun yang secara langsung mengganggu dan merusak berbagai proses tumbuh kembang sel-sel dan
sistem syaraf.

Merokok selama hamil juga berpengaruh pada kekurangan zat gizi yang diperlukan dalam proses tumbuh kembang sel otak. Misalnya, kebutuhan zat besi akan meningkat karena harus memenuhi keperluan pembentukan sel-sel darah yang banyak mengalami kerusakan. Hal ini akan mengurangi kemampuan dan persediaan zat gizi lainnya, seperti vit. B-12 dan C, asam folat, seng (Zn), dan asam amino. Zat-zat gizi tsb. dilaporkan sangat diperlukan dalam proses tumbuh kembang sel-sel otak janin. Jika terjadi kekurangan zat-zat gizi esensial, proses tumbuh kembang otak tidak optimal, sehingga nilai IQ pun menjadi lebih rendah.

Setelah lahir, asupan gizi bagi bayi juga harus dijaga tetap baik. Idealnya, anak mendapatkan ASI secara eksklusif sampai usia 4 - 6 bulan. Jenis makanan, selain ASI, untuk bayi dan anak balita sebaiknya dibuat dari bahan makanan pokok (nasi, roti, kentang, dll.), lauk pauk, bebuahan, air minum, dan susu sebagai sumber protein dan energi. Jangan lupa, bahan makanan harus diolah sesuai tahap perkembangan dari lumat, lembek, selanjutnya padat. Secara keseluruhan asupan makanan sehari harus mengandung 10 - 15% kalori dari protein, 20 - 35 % dari lemak, dan 40 - 60% dari karbohidrat.

Menu seimbang diberikan sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan. Sejak awal balita, jika memungkinkan, anak diberi susu sebanyak 500 ml. Namun, jika ASI cukup, susu pengganti tidak perlu diberikan hingga usia dua tahun.

Perhatian juga mesti diberikan terhadap jadwal pemberian makanan. Makan besar tiga kali (sarapan, makan siang, dan malam), makan selingan (makan kecil) dua kali yang diberikan di antara dua waktu makan besar, air minum diberikan setelah makan dan ketika anak merasa haus, serta susu diberikan dua kali, yakni pagi dan menjelang tidur malam.

Untuk mengetahui kecukupan gizi pada anak ada dua cara yang bisa digunakan. Pertama cara subjektif, yakni mengamati respon anak terhadap pemberian makanan. Makanan dinilai cukup jika anak tampak puas, tidur nyenyak, aktifitas baik, lincah, dan gembira. Anak cukup gizi biasanya tidak pucat, tidak lembek, dan tidak ada tanda-tanda gangguan kesehatan.

Cara kedua adalah dengan pemantauan pertumbuhan secara berkala. Cara ini dilakukan dengan mengukur bobot dan tinggi anak, dilengkapi dengan mengukur lingkar kepala pada anak sampai usia 3 tahun. Hasil pengukuran dibandingkan dengan data baku untuk anak sebaya. Jika ditemukan tanda-tanda kurang sehat, seperti pucat atau rambut tipis dan kemerahan, anak perlu diperiksa secara medis. Ada baiknya juga dilakukan pemeriksaan psikologis, terutama bila ada kemunduran prestasi belajar.

Tempat Tinggal dan Cerita

Selain faktor gizi dan perawatan, apa yang dilihat, didengar, dan dipelajari anak, sejak dalam kandungan sampai usia lima tahun, sangat menentukan intelegensia dasar untuk masa dewasanya kelak. Setelah usianya melewati lima tahun, secara potensial IQ-nya telah tetap. Dengan begitu, masa itulah merupakan kesempatan emas bagi kita untuk memacu tingkat kecerdasan anak.

Menurut Jean Piaget, psikolog dari Swis, semakin banyak hal baru yang dilihat dan didengar, si anak akan semakin ingin melihat dan mendengar segala sesuatu yang ada dan terjadi di lingkungannya. Karenanya disarankan agar orang tua memperkaya lingkungan tempat tinggal (kamar tidur atau kamar bermain) bayi dengan warna dan bunyi-bunyian yang merangsang. Umpamanya, gambar-gambar binatang atau bunga, musik, kicauan burung, dsb. Semuanya mesti tidak menimbulkan ketakutan dan kegaduhan pada anak.

Para pakar juga yakin lingkungan verbal bagi anak juga tak kalah pentingnya. Bahasa yang didengarkan anak bisa meningkatkan atau menghambat kemampuan dasar berpikirnya. Penelitian hal ini dilakukan psikolog Rusia. Ia membayar para ibu keluarga miskin untuk membacakan cerita dengan suara keras untuk bayi mereka masing-masing selama 15 - 20 menit setiap hari. Menjelang berusia 1,5 tahun, bayi menjalani pengukuran. Hasilnya, bayi-bayi itu memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik ketimbang bayi-bayi seusianya di daerah yang sama.

Penelitian lain dilakukan di sebuah sekolah perawat di New York, AS, terhadap dua kelompok anak usia tiga tahun. Masing-masing anak diperlakukan secara berbeda. Kelompok pertama diberi pelajaran berbahasa selama 15 menit setiap hari. Kelompok kedua diberi perhatian khusus juga selama 15 menit tanpa pelajaran bahasa. Setelah 4 bulan ternyata kelompok pertama mendapatkan kenaikan intelegensia rata-rata sebesar 14 angka. Sedangkan kelompok kedua kenaikan rata-ratanya cuma 2 angka.

Nah, untuk mendapatkan anak cerdas ternyata gampang. Cuma dengan memberi makanan sehat, perawatan baik, dan lingkungan psikologis yang mendukung sejak dalam kandung hingga usia lima tahun, besar kemungkinan harapan kita akan tercapai.

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam