Jumat, 02 November 2007

PEREMAJAAN KELAPA BERBASIS USAHATANI POLIKULTUR

PEREMAJAAN KELAPA BERBASIS USAHATANI POLIKULTUR PENOPANG PENDAPATAN PETANI BERKELANJUTAN

RINGKASAN
Program usahatani kelapa polikultur yang bertujuan untuk meningkatan pendapatan petani dapat diterapkan dan sesuai untuk pertanaman kelapa, sebagai salah satu komoditi ekspor sub sector perkebunan yang hampir dilupakan saat ini. Sasaran utama dari program usahatani kelapa polikultur adalah untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan di pertanaman kelapa pada satu luasan (spatial) dan waktu (temporal) tertentu. Kendala utama peningkatan pendapatan petani kelapa saat ini adalah masih kentalnya kebiasaan membudidaya kelapa untuk tujuan usahatani monokultur. Hal tersebut terlihat dari masih digunakannya jarak dan sistem tanam kelapa konvensional yang diterapkan. Padahal, dengan cara ini fleksibilitas menerapkan pola usahatani polikultur menjadi sangat terbatas.

Iklim mikro, terutama ketersediaan radiasi surya yang layak untuk tanaman sela tidak akan tersedia untuk semua tingkatan umur dengan sistem tanam kelapa yang diterapkan saat ini, sehingga ada waktu-waktu tertentu pola usahatani polikultur tidak dapat diterapkkan secara maksimal dan ini tentunya mengganggu jaminan keberlanjutan pendapatan petani kelapa. Teknologi jarak dan sistem tanam baru kelapa yaitu 5 x 16 m atau 6 x 16 m empat persegi (sistem pagar) pada program peremajaan kelapa sangat tepat untuk mendukung pola usahatani polikultur.

Progam peremajaan yang sedang dan akan terus dilanjutkan di Indonesia sebagai upaya meningkatkan produksi tanaman kelapa akan lebih berhasil jika memberikan jaminan peningkatan pendapatan bagi petani peserta program ini. Kemungkinan keberhasilan tersebut akan lebih nyata jika program ini dikombinasikan dengan menerapkan teknologi jarak dan sistem tanam baru kelapa dengan berwawasan tanaman campuran (polikultur). Dari hasil pengujian lapang menyimpulkan bahwa usahatani polikultur secara agronomis tidak mengganggu pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa. Selanjutnya, secara ekonomis, usahatani semacam ini justru meningkatkan pendapatan petani dibanding usahatani kelapa monokultur.

Hasil simulasi analisis finansial dan uji sensitivitas terhadap beberapa pola tanam tanaman sela di program ini menunjukkan bahwa secara finansial pola usahatani polikultur layak untuk dikembangkan dengan nilai IRR > 100 dan Benefit Cost Ratio (BCR) > 1.5. Sedangkan uji sensitivitas menunjukkan bahwa tiga pola kombinasi tanaman sela yang akan diterapkan sebagai salah satu komponen usahatani polikultur lebih rentan terhadap terjadinya penurunan harga dan produk hingga 25%. Dengan kata lain, terjadinya penurunan tingkat produksi atau penurunan harga hingga 25% tidak akan terlalu mempengaruhi tingkat pendapatan petani, dimana pola yang diterapkan masih dapat memberikan keuntungan bagi petani pelaksana pola ini. Kesimpulan umum yang dapat diambil bahwa pendapatan petani kelapa dijamin akan berkelanjutan jika program peremajaan yang akan diterapkan menerapkan jarak dan sistem tanam baru kelapa disertai dengan usahatani polikultur.

I. PENDAHULUAN
Program pertanian komoditi terpadu dalam pembangunan pertanian dilaksanakan pemerintah sebagai upaya penyempurnaan terhadap apa yang telah dilakukan selama ini. Program semacam ini sudah dan terus digalakkan dengan menggunakan berbagai tanaman perkebunan sebagai tanaman pokok. Salah satu komoditi yang paling relevan untuk dijadikan objek program ini adalah tanaman kelapa.

Selain dari aspek morfologi, maka sistem dan pola tanam kelapa yang diterapkan sangat memungkinkan untuk mengintrodusir jenis komoditi lain. Tanaman yang dapat digunakan untuk program penanaman terpadu dengan kelapa hampir meliputi semua jenis tanaman, termasuk ternak.

Alasan lain pengembangan usahatani kelapa terpadu, atau biasa disebut dengan istilah polikultur dan istilah yang lagi popular saat ini adalah diversifikasi horizontal tidak lain adalah untuk peningkatan pendapatan petani. Karena melihat keadaan pasar saat ini, maka tidak lagi tepat jika petani hanya mengandalkan atau mengharapkan pendapatan yang tinggi dan konstan dari usahatani kelapa secara monokultur.

Adapun sasaran utama dari usahatani kelapa polikultur adalah dalam rangka meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan pada satu luasan dan waktu tertentu, jadi menyangkut aspek spatial dan temporal pada saat yang bersamaan yang luaran akhirnya adalah bertambahnya pendapatan petani dan tentunya akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan. Permasalahan yang sering muncul dalam setiap upaya ini adalah tidak semua umur kelapa dapat dimanfaatkan atau diusahakan secara polikultur.

Faktor pembatas utama dalam usahatani polikultur adalah tidak fleksibelnya pemilihan jenis tanaman yang akan diusahakan karena pada umur-umur tertentu, justru areal di pertanaman kelapa tidak dapat dimanfaatkan. Penyebabnya antara lain karena tingkat naungan tinggi atau sebaliknya, radiasi surya yang diterima tidak layak untuk metabolisme tanaman. Akibat lain adalah unsur iklim mikro lainnya turut menjadi kendala bagi pertumbuhan tanaman atau mungkin ternak yang diusahakan pada pola usahatani ini.

Umumnya, jarak dan sistem tanam untuk kelapa Dalam, Hibrida, dan Genjah masing-masing 9x9, 8.5 x 8.5 , dan 7 x 7 m segitiga yang menghasilkan populasi per ha berturut-turut 143, 160, dan 236 pohon. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pada jarak tanaman anjuran selama ini, maka secara efektif kelapa hanya memanfaatkan lahan sekitar 20% dari areal yang ditanami, atau sekitar 80 persen merupakan lahan tidur. Dalam praktek, pemanfaatan lahan di antara kelapa berpatokan pada jarak 2 m dari pangkal kelapa sehingga areal selebar 4 m sepanjang barisan kelapa tidak diolah. Dengan demikian, sekitar 60% lahan secara efektif masih dapat dimanfaatkan untuk tanaman lain.

Upaya mengoptimalkan pemanfaatan lahan di antara kelapa dapat ditempuh dengan memilih komoditas yang sesuai dengan kondisi iklim mikro yang ada atau meningkatkan intersepsi radiasi surya agar sesuai dengan kebutuhan tanaman sela. Peningkatan intersepsi ini dapat dicapai dengan pemangkasan daun (Akuba, 1994), penjarangan tanaman (Kaat dan Allorerung, 1997), atau penyesuaian jarak dan sistem tanam kelapa (Allorerung dan Mahmud, 1994).

Berdasarkan pada kenyataan tersebut di atas, maka mengatur jarak dan sistem tanam baru tanaman kelapa merupakan alternatif yang lebih menguntungkan. Hal ini dapat dilakukan bersamaan dengan program peremajaan kelapa tua, dimana konsep pengaturan jarak dan sistem tanam baru memungkinkan petani dapat memanfaatkan lahan di antara kelapa sepanjang umur kelapa, kemudian mereka lebih fleksibel memilih jenis usahatani yang akan diterapkan. Hal ini dapat terjadi karena pada jarak dan sistem tanam baru iklim mikro tidak lagi menjadi kendala dan lahan yang tersedia cukup luas untuk diusahakan.

II. TEKNOLOGI PEREMAJAAN KELAPA

Kendala iklim mikro sebagai faktor dominan dapat diperkecil dengan mengatur jarak dan sistem tanam baru, yaitu dengan memperlebar jarak antar barisan. Konsep ini akan lebih bermanfaat dan efektif apabila diterapkan atau dilaksanakan bersama dengan program peremajaan kelapa yang berbasis tanaman campuran. Artinya pada saat yang bersamaan, usahatani polikultur dilaksanakan secara simultan dengan program peremajaan kelapa.

Meskipun sejumlah teknologi telah tersedia dan berbagai program telah diluncurkan dalam beberapa Pelita, ternyata peremajaan perkebunan kelapa rakyat berlangsung sangat seret. Sebagai gambaran perkiraan perkiraan yang disajikan oleh Soebiapradja (1991) bahwa pada tahun 1989 persentase tanaman tua telah menurun menjadi 6.74 dari 7.27% paada tahun 1984. Akan tetapi pada saat yang sama telah terjadi peningkatan areal tanaman baru dengan laju 4.86%. Ini berarti sebenarnya jumlah kelapa yang dikategorikan tua semakin banyak karena yang menurun adalah persentasenya tetapi nilai absolutnya meningkat karena laju penurunan tanaman tua lebih kecil dari peningkatan areal tanaman baru dan memang realisasi program peremajaan selalu jauh dari target. Data tersebut juga mengandung makna bahwa telah terjadi peremajaan tetapi dengan laju yang sangat kecil.

Teknologi peremajaan yang selama ini diterapkan terdiri atas dua sistem yaitu tebang habis (“land clearing”) dan sisipan. Sistem tebang habis digunakan dalam proyek-proyek pemerintah, termasuk saat dilaksanakan program pengembangan kelapa Hibrida, sedangkan sistem sisipan dilakukan secara tradisional oleh petani kelapa (Mahmud, Maliangkay, dan Untu. 1990).

Sistem tebang habis adalah seluruh kelapa tua ditebang, lalu kebun dibersihkan dari sisa tebangan, baru ditanami dengan kelapa pengganti. Biasanya disertai dengan penanaman tanaman penutup tanah sebelum atau segera setelah penanaman tanaman baru. Sistem inimenyebabkan petani kehilangan pendapatan dari kebun kelapanya selama empat tahun disusul periode pendapatan rendah 3 - 4 tahun untuk tanaman pengganti kelapa hibrida dan selama 7 tahun disusul pendapatan rendah 5-6 tahun untuk kelapa Dalam. Oleh karena itu, sistem ini tidak disukai petani, kecuali dilaksanakan program pengembangan kelapa Hibrida karena dibiayai pemerintah berupa kredit kepada petani. Program ini telah menjadi pengalaman traumatis bagi petani karena hampir semuanya tidak mampu mengembalikan kreditnya.

Adapun penerapan peremajaan dengan sistem sisipan yaitu dengan cara menanam tanaman pengganti di antara tanaman tua tanpa rencana penebangan kelapa tua yang jelas. Dalam banyak hal, tanaman tua dibiarkan tumbuh terus bersama tanaman baru atau hanya menjarangkan tanaman tua dan sisanya dibiarkan hingga mati secara alamiah. Akibatnya pertumbuhan tanaman baru tidak baik dan waktu pembungaan tertunda serta produksinya sangat rendah. Dengan demikian, produktivitas usahatani dalam jangka panjang tetap rendah kendati tanaman tua telah mati semua.

Untuk menerapkan konsep peremajaan dengan mengintrodusir jarak dan sistem tanam baru yang dikombinasikan dengan usahatani polikultur memang akan berhadapan dengan berbagai masalah atau hambatan. Adapun kemungkinan masalah atau tantangan tersebut antara lain:
1. Sebagian besar tanaman kelapa tua yang dimiliki merupakan warisan
Keeratan hubungan kekeluargaan dalam budaya masyarakat kita dapat mengatasi pertimbangan ekonomi sehingga petani enggan menebang kelapa tua yang diwarisi.
2. daya nalar petani kita umumnya belum mampu memasukkan pertmbangan-pertimbangan ekonomi dalam pengelolaan usahataninya
Mereka sulit memahami bahwa kelapanya yang sudah tua tetapi tetap berbuah, sebenarnya sudah tidak efisien dan ekonomis lagi. Disamping itu, tidak mudah bagi mereka untuk membayangkan prospek jauh kedepan dari program peremajaan yang ditawarkan ini.
3. Tidak adanya pembanding bagi petani bahwa dengan penerapan teknologi yang tepat (seperti peremajaan misalnya) sungguh-sungguh dapat memberikan manfaat
Selain itu, umur produktif kelapa yang melampaui rata-rata umur penduduk menyebabkan petani sulit memahami secara utuh perubahan yang terjadi pada kelapanya.
4. Harga jual produk tradisional kelapa seperti kopra yang sangat bergejolak pada tingkat yang rendah menyebabkan petani sulit mendapatkan cukup modal untuk melakukan investasi untuk peremajaan kelapa.
5. Tingkat ketergantungan yang cukup besar pada kelapa sebagai sumber nafkah dan tidak adanya jaminan bahwa produk kelapa dapat menyediakan uang kontan secara teratur menyebabkan petani tidak rela untuk meremajakan kelapanya.
6. Program peremajaan selama ini belum disertai upaya program lainnya yang secara memadai dapat meningkatkan pendapatan petani serta mengurangi dampak berkurangnya/terhentinya produksi kelapa akibat peremajaan
Sebagai contoh, program pengembangan berbagai komoditas lain seperti kakao, jagung, palawija, dan lain-lain belum dikaitkan dengan peremajaan.
7. pemanfaatan kayu kelapa belum dimasukkan sebagai bagian integral dari program peremajaan, atau masih kurangnya konsep bagaimana memanfaatkan batang kelapa hasil peremajaan agar lebih mendorong petani melakukan peremajaan.
8. Lemahnya kelembagaan pada tingkat petani serta keterbatasan dan ketidakjelasan dukungan instrumen kebijakan, yang memungkinkan keterlibatan pemilik modal untuk berkiprah dalam peremajaan dan pasca peremajaan

Pemilihan sistem peremajaan tidak semata-mata didasarkan atas kelayakan teknis, tetapi terutama aspek sosial/budaya dan ekonomi, sistem tebang bertahap sebesar 20% per tahun dari kelapa tua diharapkan dapat menjadi kompromi paling optimal dari aspek-aspek tersebut. Keberhasilan program peremajaan di lapang atau di tingkat petani akan lebih nyata jika faktor-faktor tersebut dipertimbangkan betul. Namun satu hal yang sudah harus ditangani dari aspek budidaya adalah bagaimana mengatur jarak dan sistem tanam kelapa yang memberikan jaminan berkelanjutan baik dari aspek spatial dan temporal yang mendukung kesinambungan pendapatan petani.

Konsep peremajaan nampaknya akan lebih berhasil jika pendapatan atau kehidupan sosial ekonomi petani tidak terganggu dengan sistem atau program tersebut. Berdasarkan pengalaman di beberapa negara produsen kelapa yang lebih maju, maka mengintegrasi program peremajaan, pengaturan teknik budidaya kelapa, seperti pengaturan jarak dan sistem tanam, serta dikombinasikan dengan usahatani campuran/polikultur cukup berhasil.

III. JARAK DAN SISTEM TANAM BARU KELAPA

Pengusahaan tanaman sela di antara kelapa sudah tidak diragukan lagi manfaatnya bagi peningkatan pendapatan petani dan belum ada bukti adanya pengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan produksi kelapa. Bahkan sebaliknya dapat meningkatkan produksi kelapa. Meskipun demikian, pemanfaatan sumbedaya lahan tersebut belum mencapai tingkat optimal.

Upaya peningkatan optimalisasi sumberdaya lahan tersebut berkaitan dengan dua aspek yaitu (a) aspek spatial (ruang) dan (b) aspek temporal (waktu). Aspek spatial berkaitan dengan maksimum areal yang dapat digunakan untuk tanaman lain pada tingkat populasi atau produksi kelapa yang relatif sama. Sementara aspek temporal berkaitan dengan kontinuitas dan jangka waktu pemanfaatan lahan di antara kelapa yang berhubungan dengan tersedianya iklim mikro yang sesuai sepanjang usahatani polikultur akan diterapkan. Kedua aspek ini menentukan efektivitas dan efisiensi pemanfaatan sumberdaya lahan di antara kelapa secara berkelanjutan.

Hingga saat ini di tingkat petani maupun perkebunan besar, jarak dan sistem tanam kelapa konvensional adalah 8.5x8.5 m, 9x9 m atau 10x10 m dengan sistem tanam segitiga atau segiempat. Pada jarak dan sistem tanam ini usahatani polikultur mengalami kendala yang cukup berarti baik dari aspek spatial maupun temporal. Untuk itu dikembangkan konsep pengaturan jarak dan sistem tanam baru

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda