Sabtu, 14 Januari 2012

Syariat Islam Sebagai Patokan Tingkah Laku Manusia


Syariat Islam Sebagai Patokan Tingkah Laku Manusia

Muqaddimah

Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah Pencipta dan Pemelihara sekalian alam, yang telah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ’Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) bersedih hati.” (Terjemah Makna Qur’an Surat Al Ahqaaf 13)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (Terjemah Makna Qur’an Surat Al Bayyinah 7)

Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasul-Nya yang terpercaya dan menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa. Beliaulah yang mensucikan kaum Muslimin, mengajarkan mereka Al-Qur’an dan As-Sunnah walaupun mereka sebelumnya dalam kesesatan yang nyata. Pada suatu hari shahabat Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi pernah berkata kepada Beliau: “Wahai Rasulullah! Katakanlah kepadaku satu perkara yang dapat aku jadikan pegangan.” Beliau bersabda: “Katakan ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian beristiqamahlah” (Hadits Riwayat Muslim)

Amma Ba’du,

Sesungguhnya pemikiran-pemikiran Islam adalah mafahim 1, yaitu suatu pemikiran yang dapat dijangkau dan difahami faktanya, bukan sekedar pengetahuan yang hanya cukup dipelajari dan diketahui. Sebab, pemikiran-pemikiran Islam merupakan patokan bagi tingkah laku manusia dalam kehidupan dunia. Pemikiran-pemikiran tersebut selain diturunkan sebagai petunjuk, rahmat dan nasihat, juga sekaligus berfungsi memecahkan problematika yang dihadapi manusia serta menentukan cara mengatasinya. Oleh karena itu, setiap Muslim harus memahami nash-nash Syara’ yang diturunkan memang untuk diterapkan dan secara khusus untuk mengatur aktivitas dan perilaku manusia. Dengan kata lain, setiap Muslim wajib menyadari bahwa Islam datang dengan membawa mafahim untuk mengarahkan perilaku manusia di dalam kehidupan dunia, sehingga ia akan mengambil setiap pemikiran Islam sebagai qanun (perundangan) yang akan mengatur perilakunya agar sesuai dengan qanun tersebut. Dengan demikian aspek yang menonjol dalam Islam adalah pengamalan daripada pengajarannya.

1 Mafahim adalah pemikiran yang dapat dijangkau faktanya oleh akal dan diyakini oleh pemeluknya sehingga mempengaruhi tingkah lakunya

Demikian pula harus dimengerti, apabila pemikiran-pemikiran Islam hanya diambil dari segi pengajarannya, maka akan hilang warna aslinya – yaitu perannya sebagai qanun yang mengatur perilaku manusia – dan hanya akan menjadi pengetahuan seperti ilmu Sejarah atau Geografi. Akibatnya, Islam akan kehilangan daya hidup dan eksistensinya sebagai sebuah ideologi yang lengkap dan sempurna – yaitu aqidah aqliyah yang melahirkan sistem peraturan yang rinci dan sempurna; dan pada akhirnya hanya akan menjadi pengetahuan-pengetahuan Islam yang mendorong setiap Muslim untuk berlomba menyelami dan menguasainya serta selalu mengikuti perkembangannya sebagaimana layaknya sebuah pengetahuan atau sebuah kegiatan ilmiyah yang mengasyikkan, tanpa terbersit dalam benaknya keinginan untuk menjadikannya sebagai patokan bagi tingkah lakunya.

Oleh karena itu, di antara ciri khas para ulama dari kalangan salafush shalih ialah masing-masing menerapkan ilmu yang dimiliki dan perbuatannya tidak berbeda dengan apa yang dikatakannya. Sebab, Allah Swt. telah berfirman:

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab” (Terjemah Makna Qur’an Surat Al-Baqarah 44)

Mereka sangat menjaga diri agar tidak termasuk golongan yang disebut-sebut dalam firman Allah:

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepada mereka Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang memikul kitab-kitab yang tebal …” (Terjemah Makna Qur’an Surat Al-Jumu’ah 5)

Maka dari itu, upaya mempelajari pemikiran-pemikiran Islam dan hukum-hukum Syara’ tanpa memperhatikan fungsinya sebagai patokan tingkah laku manusia adalah bencana yang menjadikan pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum Islam tidak memberi pengaruh terhadap sikap orang kebanyakan. Dan tentunya ini mendapat dosa yang pasti dan siksa pedih pada Hari Kiamat nanti. Yaitu suatu hari yang ketika itu anak-anak dan harta benda tidak lagi memberi guna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang suci.

Islam sangat memperhatikan pembentukan kepribadian para pemeluknya dengan Aqidah Islam. Dengan aqidah inilah terbentuk Aqliyah dan Nafsiyah seorang Muslim. Sebab, Aqliyah Islamiyah adalah pola berfikir atas dasar Islam, yaitu hanya menjadikan Islam sebagai tolok ukur universal bagi pemikiran-pemikirannya tentang kehidupan. Sedangkan Nafsiyah Islamiyah adalah pola sikap yang menjadikan seluruh kecenderungannya atas dasar Islam, yaitu hanya menjadikan Islam sebagai satu-satunya tolok ukur universal pada saat memenuhi segala kebutuhan hidupnya.

Taqarrub Kepada Allah
Kunci Sukses Pengemban Dakwah
Oleh: Fauziy Sanqarith
Penerbit: Daarun Nahdlah Al-Islamiyah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda