Minggu, 06 Januari 2013

Pengertian Akhlaq Makna Arti Akhlak

Pengertian Akhlaq Makna Arti Akhlak



AKHLAQ DAN KEBANGKITAN UMAT

    Akhlaq adalah bentuk plural dari al-khulq atau al-khuluq.  Secara literal, al-khulq atau al-khuluq bermakna al-sajiyah, al-filaan*, al-muru`ah, al-‘aadah, dan al-thib’ [karakter, kejiwaan, kehormatan diri, adat kebiasaan, dan sifat alami]. *Lihat Imam al-Raziy, Mukhtaar al-Shihaah, hal.187.

    Al-Mawardiy menyatakan bahwa, makna hakiki dari al-khuluq adalah adab (budi pekerti) yang diadopsi oleh seseorang, yang kemudian dijadikan sebagai karakter dirinya. [Imam Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy]. Sedangkan budi pekerti yang telah melekat pada diri seseorang disebut dengan al-khiim, al-syajiyah, dan al-thabi’ah (karakter). Atas dasar itu, akhlaq adalah al-khiim al-mutakallaf (tabiat /karakter) yang dibebankan (karakter ciptaan), sedangkan al-khiim adalah al-thab’u al-ghariziy (karakter yang bersifat naluriah (tabiat atau karakter bawaan).

Kadang-kadang al-khuluq digunakan dengan makna agama (al-diin) dan kebiasaan (al-‘adah). Al-Quran telah menggunakan kata al-khuluq dengan makna agama dan kebiasaan, di dalam surat   al-Syu’araa’ :137, dan  al-Qalam: 4. Allah swt berfirman;
(agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang terdahulu.” [26:137].

“Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” [68:4]

    Makna al-khuluq yang terdapat di dalam surat al-Qalam ayat 4 adalah al-diin (agama). Al-‘Aufiy berkata, “Khuluq ‘adziim” maknanya adalah diinuka al-‘adziim. Penafsiran semacam ini juga dianut oleh al-Dlahak, Mujahid, Abu Malik, al-Rabii’ bin Anas, dan Ibnu Zaid, Imam Ahmad dan lain sebagainya. Sedangkan Ibnu ‘Athiyyah menafsirkan “khuluq ‘adziim” dengan “adab al-‘adziim” [budi pekerti atau karakter yang agung]. [Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsiir]. Sedangkan yang dimaksud “adab” di sini, bukanlah budi pekerti (karakter) yang lahir secara alamiah atau nilai-nilai universal yang luhur, akan tetapi adab yang terlahir dari al-Quran. Imam Thabariy, menyatakan bahwa maksud dari “wa innaka” la’ala khuluqin ‘adzim” adalah “adabin ‘adziim”.  Maksudnya, karakter budi pekerti Rasulullah adalah budi pekerti yang dibentuk oleh al-Quran, bukan karakter alamiah yang terpisah dari al-Quran dan sunnah. Dengan kata lain, budi pekerti Rasulullah saw (adab) adalah Islam dan syariatNya (hukum-hukum Allah swt). Menurut Imam Thabariy, ini adalah pendapat para ahli tafsir. [Imam Thabariy, Tafsir al-Thabariy]

    Qatadah menuturkan sebuah riwayat yang menyatakan bahwa ‘Aisyah pernah ditanya tentang akhlaq Rasulullah saw. Beliau ra menjawab, “Akhlaq Rasulullah saw adalah al-Quran.” Sa’id bin Abi ‘Arubah, tatkala menafsirkan firman Allah swt, “wa innaka la’ala khuluq ‘adziim”, menyatakan, “Telah dituturkan kepada kami, bahwa Sa’id bin Hisyam bertanya kepada ‘Aisyah tentang akhlaq Rasulullah saw. ‘Aisyah menjawab, “Bukankah kamu membaca al-Quran.” Imam Abu Dawud dan Nasa’iy juga meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Aisyah ra, yang menyatakan bahwa akhlaq Rasulullah saw adalah al-Quran.

    Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa akhlaq Rasulullah saw adalah refleksi dari al-Quran. Beliau menambahkan lagi, sesungguhnya karakter (akhlaq) Rasulullah saw merupakan wujud dari ketaatan beliau saw terhadap perintah dan larangan Allah swt. Beliau saw senantiasa mengerjakan apa yang diperintahkan Allah, dan meninggalkan apa yang dilarang olehNya. Wajar saja bila di dalam sebuah riwayat Rasulullah saw bersabda, ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq”. [HR. Imam Ahmad]

    Dari seluruh penjelasan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa akhlaq adalah karakter ciptaan (fabricated), bukan karakter bawaan (al-khiim). Akhlaq seorang muslim berbeda dengan akhlaq non muslim. Akhlaq seorang muslim dibentuk berdasarkan al-Quran (aqidah dan syariatNya). Akhlaq non muslim dibentuk berdasarkan prinsip-prinsip non Islam. Untuk itu, meskipun sama-sama jujur, kita tidak bisa menyatakan bahwa seorang kapitalis dan seorang muslim sama-sama memiliki akhlaq yang baik. Sebab, proses pembentukkan karakter dirinya tidaklah sama. Kejujuran seorang muslim selalu didasarkan pada aqidah dan syariat Islam. Dengan kata lain, kejujurannya adalah buah dari pelaksanaan ajaran-ajaran Islam. Kejujurannya tidak dibentuk, semata-mata karena jujur itu adalah nilai-nilai universal atau karena bermanfaat.

Berbeda dengan kapitalis maupun sosialis. Kejujurannya tidak didasarkan pada prinsip-prinsip Islam. Kejujurannya hanya didasarkan pada prinsip manfaat dan kemanusiaan belaka. Kejujurannya sama sekali tidak dibangun di atas prinsip ketaqwaan kepada Allah swt. Walhasil, akhlaq seorang muslim berbeda dengan akhlaq orang kafir, meskipun penampakannya mungkin sama.

Akhlaq seorang muslim merupakan refleksi dari pelaksanaan dirinya terhadap hukum-hukum syara’. Seseorang tidak disebut berakhlaq Islam ketika nilai-nilai akhlaq tersebut dilekatkan pada perbuatan-perbuatan yang diharamkan Allah swt. Misalnya, pegawai bank ribawi tidak disebut berakhlaq Islam, meskipun ia terkenal jujur, disiplin dan sopan. Sebab, ia telah melekatkan sifat-sifat akhlaq pada perbuatan yang diharamkan Allah swt. Anggota parlemen yang membuat aturan-aturan kufur (hukum yang berdasar pikiran manusia) juga tidak bisa disebut memiliki akhlaq Islam, meskipun ia terkenal jujur, amanah dan seterusnya. Sebab, nilai-nilai akhlaqnya telah melekat pada perbuatan haram.

    Walhasil, akhlaq seorang muslim harus dibentuk berdasarkan al-Quran al-Karim. Dengan kata lain, akhlaq seorang muslim adalah refleksi dari pelaksanaan hukum-hukum Allah swt.

Dari buku Bunga Rampai Pemikiran Islam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda