Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Selasa, 22 Februari 2011

Menyerang Sistem Masyarakat yang Tidak Islami

Menyerang Sistem Masyarakat yang Tidak Islami


          Untuk menggambarkan usaha Hizb dalam mengetuk pintu masyarakat hingga dibukakan atau dibuka sendiri, serta memahami hakikat perjalanannya di tengah masyarakat dalam rangka merubah pemikiran-pemikiran mendasar yang berkembang di sana, dan pemikiran-pemikiran cabang (bersifat temporal) yang merajalela, serta merubah perasaan-perasaan yang dominan di tengah-tengah masyarakat, maka makna (tentang) masyarakat wajib dipahami sebagaimana yang didefinisikan oleh Hizb. Kesadaran tentang realitas masyarakat dalam wilayah yang dijadikan sebagai majal dakwahnya wajib dimiliki dengan pemahaman dan kesadaran yang mendalam dan rinci, baik menyangkut keseluruhannya maupun bagian-bagiannya.

          Mengenai masyarakat, Hizb telah mendefinisikannya sebagai akumulasi manusia, pemikiran, perasaan dan sistem. Definisi ini bersifat umum (yang berlaku untuk semua bentuk masyarakat, Islam maupun non Islam-pen), yang merupakan hasil kajian terhadap realitas masyarakat sebagai sebuah masyarakat, tetapi dengan asumsi bahwa masyarakat yang kita kehendaki adalah masyarakat tertentu yang unik, yang berbeda dengan masyarakat-masyarakat  lainnya. Penjelasan tentang kajian ini secara rinci adalah, bahwa satu orang dengan satu orang ditambah lagi satu orang akan membentuk sebuah jamaah. Jika mereka membentuk hubungan secara kontinue, maka mereka menjadi masyarakat, tanpa memperhatikan lagi kuantitas mereka, banyak atau sedikit. Sedangkan yang membentuk hubungan di antara mereka adalah kemaslahatan (mashlahah), di mana masing-masing pihak terdorong untuk meraihnya, baik kemaslahatan itu untuk memperoleh manfaat atau menolak mudarat tertentu. Adapun yang mendorong seseorang untuk meraih mashlahah tersebut adalah potensi kehidupan yang terdapat di dalam dirinya. Itulah yang mendorongnya untuk memenuhi naluri dan kebutuhan jasmaninya. Dari potensi inilah kemudian  lahir perasaan yang berfungsi sebagai penggerak langsung. Namun, dalam diri hewan, penggerak tersebut berjalan mengikuti potensi kehidupan dan pengalaman-pengalamannya, yang pernah dijalaninya secara langsung maupun oleh yang lain. Sedangkan manusia akan terdorong untuk memenuhinya mengikuti mekanisme yang ditentukan oleh pemahamannya. Pemahaman-pemahaman inilah yang menentukan bentuk perasaan yang mendorongnya, serta bentuk mekanisme tindakannya. Dan berdasarkan pemahaman-pemahaman dan perasaan-perasaan tersebut, dia akan mengatur kemaslahatannya, sehingga hubungannya dengan pihak lain dibentuk berdasarkan pemikiran, perasaan dan sistem yang diterapkan, dan dimilikinya. Karena itu, yang merubah manusia dari sebuah jamaah (kumpulan) biasa menjadi masyarakat adalah hubungan yang dilaksanakan di antara sesama mereka. Dengan demikian, terjun ke tengah-tengah masyarakat tidak lain kecuali dengan menentang seluruh bentuk interaksi yang ada di antara sesama manusia dalam masyarakat (tidak Islami).

          Hanya saja seluruh bentuk interaksi (tidak Islami) tersebut terbentuk melalui kekuasaan penguasa yang menguasai dan mengatur masyarakat, di mana antara penguasa dan rakyatnya terdapat interaksi. Oleh karena itu, menyerang seluruh bentuk interaksi (tidak Islami) yang berlangsung di antara sesama anggota masyarakat dalam rangka mempengaruhi masyarakat tidaklah cukup, melainkan dengan menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antara penguasa dengan rakyatnya  harus digoyang dengan kekuatan penuh, dengan cara diserang sekuat-kuatnya dengan penuh keberanian, sehingga seluruh bentuk interaksi (tidak Islami) yang berlangsung di antara sesama anggota masyarakat tersebut dapat terpengaruh. Dengan demikian, terjun dan berjuang di tengah-tengah masyarakat, tidak hanya menyerang seluruh bentuk interaksi (tidak Islami) yang berlangsung di antara sesama anggota masyarakat, akan tetapi menyerang secara total interaksi (tidak Islami) yang berlangsung antara penguasa dengan umat dalam perkara yang menyangkut kemaslahatan manusia. Sebab, di tangan penguasalah wewenang untuk mengatur dan memelihara urusan rakyatnya serta mengontrol seluruh bentuk interaksi di antara sesama mereka, maupun antara mereka dengan pihak lain. Selama tangan yang memegang kewenangan untuk mengatur dan memelihara urusan rakyat tersebut tidak dipukul dengan sekuat-kuatnya dan dilakukan secara terus-menerus, maka masyarakat banyak pasti tidak akan menyadari kebobrokan masyarakatnya serta keharusan untuk merubahnya. Mereka juga tidak mungkin dapat melihat kesalahan pemikiran yang diembannya, serta kepekaan perasaan mereka terhadap kemaslahatannya. Oleh karena itu, semestinya aktivitas Hizb yang paling menonjol  adalah aktivitas menyerang seluruh bentuk interaksi (tidak Islami) yang berlangsung  antara penguasa dengan umat dalam semua aspek, baik menyangkut cara penguasa tersebut mengurus kemaslahatan, seperti pembangunan jembatan, pendirian rumah sakit, atau cara melaksanakan aktivitas, yang menyebabkan penguasa tersebut mampu melaksanakan (urusan umat), seperti pembentukan kementerian dan pemilihan wakil rakyat. Yang dimaksud dengan penguasa di sini adalah pemerintah.
................
Menyerang Sistem Masyarakat yang Tidak Islami

Partai Politik Islam Terjun ke Masyarakat


TERJUN KE MASYARAKAT


          Hizbut Tahrir telah berhasil melewati tahap Muhawalah al-Mukhatabah (usaha menyeru masyarakat) dengan hasil gemilang, dan mampu menjadikan umat  serta pelaku-pelaku politik (seperti politisi, parpol-pen) secara keseluruhan merasakan keberadaan Hizb sebagai partai politik yang berasaskan akidah. Hizb juga mampu mengangkat pemikirannya, sekaligus menempatkannya pada kedudukan yang amat diperhitungkan. Dalam perjalanannya, Hizb –saat ini- telah sampai pada upaya untuk bertolak menuju pintu gerbang masyarakat. Hizb mulai berupaya untuk mengetuknya hingga dibukakan atau  dibuka sendiri (oleh Hizb) sehingga dapat masuk ke dalam.

          Sekarang, Hizb sedang mempelajari hambatan yang mengunci dan memalang apa yang ada di balik pintu tersebut, termasuk para penyambut dan penjaganya, sehingga dapat membuka pintu dan memasukinya dengan kekuatan penuh, yang memungkinnya untuk meneguhkan diri dan berkiprah di dalamnya.

          Akan tetapi, harus dipahami dengan jelas bahwa Hizb telah mempersiapkan segenap kekuatannya untuk terjun dan berjuang di tengah-tengah masyarakat dengan benar-benar menjaga akidah serta coraknya yang berbentuk ideologis, sehingga dapat dipahami secara rinci sebagai sebuah partai Islam, yang terjun di tengah-tengah masyarakat yang tidak Islami untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam dengan jalan mendirikan Daulah Islamiyah, yang mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia. Hizb juga wajib menjaga thariqah (metode)nya, sama persis seperti menjaga fikroh (ide)nya. Begitu pula Hizb wajib menjaga uslub (cara) yang dipilih dan ditentukannya, seperti halnya menjaga fikroh dan thariqahnya, selama kesalahannya tidak tampak. Namun ketika kesalahannya tampak, maka Hizb harus membuangnya, dan mengadopsi yang lainnya.  Seperti meninggalkan semua pemikiran yang salah, yang terdapat di dalam fikroh dan thariqahnya. Oleh karena itu, setiap kesalahan –meskipun tidak disengaja- dalam usaha  (mengeluarkan pendapat-pen)untuk melaksanakan semua jenis pemikiran, baik menyangkut fikroh, thariqah, ataupun uslub yang dipilih dan ditentukannya, dapat dianggap sebagai kesalahan yang berbahaya. Apabila dilakukan dengan sengaja dan terus-menerus, maka dapat dianggap sebagai bentuk penyelewengan yang disengaja. Karena itulah, setiap hizbiyin tidak boleh mempunyai pandangan yang kabur, baik pandangan tersebut berupa pemikiran, politik maupun administratif. Bahkan, pandangan-pandangan tersebut wajib ditanamkan dengan penuh keyakinan, atau diterima dengan suka rela, tanpa reserve.

          Dalam tahap ini, Hizb akan dihadapkan kepada penyimpangan terhadap pandangan-pandangannya, dan banyaknya usulan serta nasehat yang berasal dari  syabab maupun masyarakat, terutama ketika hizb berdiri lama di depan pintu masyarakat, dan tidak kunjung berhasil memasukinya dengan mudah dan cepat. Kadang-kadang realitas partai politik yang menjadi bagian dari masyarakat (yang tidak Islami-pen) dijadikan alasan/bukti bagaimana partai-partai tersebut mampu masuk dan mengambil kendali langsung mengalahkan Hizb. Kadang-kadang sirah Nabi dicoba untuk ditakwilkan, atau pemikiran dan selebaran-selebarannya juga dicoba untuk ditafsirkan. Adakalanya faktor yang memacu semuanya itu adalah keikhlasan syabab kepada Hizb, dan ada juga sebagian yang didorong oleh desakan kuat dari luar Hizb yang telah mempengaruhi banyak kalangan. Usulan-usulan dan nasehat tersebut juga akan meningkat setelah pintu masyarakat berhasil dibuka, dan  ketika Hizb berada di dalamnya. Sebab, akan muncul badai yang menghadang dengan kuat. Islam yang bersih dari segala kotoran –meski tidak didukung dengan sarana yang kuat- akan berhadap-hadapan dengan kekufuran yang menyimpang-dan didukung dengan sarana yang kuat-, saling menghantam dengan kuat dan keras. Oleh karena itu, akan muncul banyak usulan seputar uslub supaya diganti dengan sarana yang lebih kuat dan lebih diperlukan, tanpa memperhatikan lagi apakah uslub itu bertentangan atau tidak dengan pemikiran yang dipilih dan ditentukan oleh Hizb. Dengan demikian, Hizb harus menyadari semua uslub dan sarana tersebut, serta memahami bahwa ketika berusaha terjun ketengah-tengah  masyarakat, wajib berpegang kepada fikroh, thariqah dan uslub-nya, meskipun memerlukan waktu yang lama untuk menunggu di depan pintu gerbang masyarakat. Hizb juga harus hidup di tengah masyarakat sebagai pihak yang berpengaruh, dan bukan terpengaruh, sebagai pihak yang merubah dan bukan yang berubah, serta dengan keteguhannya yang mampu menjatuhkan kepercayaan lawannya, dan mampu mempertahankan nilai-nilai internalnya dengan sekuat-kuatnya.
..........
Partai Politik Islam Terjun ke Masyarakat

Minggu, 30 Januari 2011

Download Buku Titik Tolak Perjalanan Dakwah Islam Hizbut Tahrir

Download Buku Titik Tolak Perjalanan Dakwah Islam Hizbut Tahrir



........
Pada tahapan ini (nuqthatul inthilaq), Hizb akan berhadapan langsung dengan orang-orang yang banyak berbuat zhalim, para penganut tsaqafah asing, serta kelompok-kelompok yang menjadi kroni penguasa. Hizb pada dasarnya tidak ingin berhadapan dengan mereka, tidak bermaksud berkonfrontasi dengan mereka, atau tidak menganggap mereka sebagai musuh. Hizb sebenarnya hanya ingin berhadapan dengan pihak penjajah yang kafir, sebab dialah satu-satunya musuh umat.
........
5. Sesungguhnya umat belum memahami benar pentingnya organisasi politik yang berbasis ideologi, meskipun mereka sudah mampu merasakan urgensinya. Sehingga, umat terbiasa dengan organisasi-organisasi yang ada saat ini, meskipun mereka menampakkan kemarahan terhadapnya, merasa bosan terhadap cara-cara yang dikembangkannya, serta tidak menaruh harapan untuk meraih keberhasilan dari metode yang ditempuhnya.  Karena umat tidak memahami pentingnya organisasi yang berbasis ideologi, tidak aneh jika umat secara keseluruhan nampak terpengaruh dengan format-format yang menonjol dalam organisasi-organisasi tersebut. Bahkan mereka mengikuti format-format  ini dalam aktivitasnya sekalipun mereka tidak merasakan kepuasan. 
........
9. Menyiapkan umat untuk mengemban dakwah Islam berarti menyiapkan umat untuk melakukan aktivitas politik berasaskan Islam. Ini tidak mungkin terwujud dengan sempurna, jika pemikiran-pemikiran Islam belum dominan dan jika  metode politik berdasarkan persepsi Islam masih belum  jelas dan belum mendominasi semua jenis pemikiran yang lain. Tentu saja hal ini mengharuskan Hizb untuk menjelaskan pemikiran-pemikiran Islam dalam tsaqafahnya, serta menjelaskan metode politiknya bukan hanya dengan menjelaskan tsaqafahnya, namun juga dengan menerapkan metode tersebut pada berbagai peristiwa sehari-hari yang terjadi di dunia, baik yang berhubungan dengan politik internasional maupun politik di negeri-negeri Islam.  Ini menuntut kecepatan aktivitas politik yang terwujud nyata dalam kegiatan mengadopsi kepentingan umat  (tabanni mashalih al ummah) serta membongkar strategi-strategi  penjajah.
........
16. Menyerah pada nasib dan situasi yang ada, atau dengan kata lain menerima situasi yang ada secara kebetulan, oleh Hizb atau anggota-anggotanya, berarti suatu stagnasi yang akan menyebabkan terjadinya kemunduran. Karena itu, harus selalu ada upaya untuk berpikir mengkaji apa yang telah dilakukan, memikirkan jalan yang telah ditempuh untuk mewujudkannya, serta memikirkan apa yang seharusnya dilakukan. Tidak dibenarkan  hanya menunggu kedatangan situasi dan akibat-akibat yang dibawanya, sebaliknya Hizb harus menciptakan serta memanfaatkan situasi yang terjadi.
........

19. Hizb harus menyadari bahwa tahap yang sedang dilalui oleh umat Islam adalah tahap revolusi pemikiran dan perasaan, yang akan dapat mendorong kaum muslimin mengemban qiyadah fikriyah mereka secara internasional ke seluruh dunia untuk mengalahkan seluruh qiyadah fikriyah  lain dalam segala aspek kehidupan. Hizbut Tahrir harus menyadari bahwa dia wajib memikul tugas tersebut. Karena itu, aspek pemikiran tetap menjadi asas kegiatan Hizb. Aspek pemikiran ini  (yang harus selalu dibarengi dengan aktivitas politik) adalah tumpuan utama kegiatan Hizb. Maka dari itu, Hizb harus selalu mencermati kondisi politik internasional dan kondisi politik di negeri-negeri Islam, terutama kondisi politik di tempat dia berkiprah. Hizb juga harus berusaha untuk menjadikan pemikiran Islam sebagai  satu-satunya bahan diskusi dan bahan kajian di seluruh negeri-negeri Islam. Di samping itu Hizb juga harus selalu mencermati pemikiran yang berkembang di tengah masyarakat di negeri-negeri Islam.

........
27. Harus diperhatikan bahwa pemikiran-pemikiran mendasar tentang kehidupan di negeri-negeri Islam adalah pemikiran Kapitalisme-Demokrasi. Namun pemikiran tersebut masih labil dan  tidak tertancap dengan kuat, karena masyarakat tidak menjadikannya sebagai pemikiran mendasar bagi mereka. Ini karena aqidah mereka masih Aqidah Islamiyah. Ketika mereka mengadopsi pemikiran Kapitalisme-Demokrasi, mereka mengambilnya begitu saja tanpa disertai keyakinan, atau mereka ditipu oleh orang yang memberikan pemikiran itu kepada mereka, yang menyatakan bahwa pemikiran tersebut tidak bertentangan dengan aqidah mereka, bahkan sesuai dengan aqidah mereka. Karena itulah, pemikiran tersebut tidak kukuh tertanam dalam benak mereka, meskipun mereka bertindak sesuai dengan pemikiran itu. Jika mereka yakin bahwa pemikiran tersebut bertentangan dengan aqidah mereka, mereka akan segera meninggalkannya dan kembali kepada pemikiran Islam. Dengan kembalinya mereka kepada pemikiran Islam, akan terjadi perubahan dalam masyarakat. 
........
 Sebagai contoh, ketika orang menggembar-gemborkan bahwa kemuliaan itu adalah milik bangsa Arab, maka mereka diingatkan bahwa pandangan tersebut bertentangan dengan Islam. Sebab, kemuliaan itu hanya milik Allah, Rasul-Nya, serta orang-orang mukmin. Ketika mereka mempro-pagandakan nasionalisme Arab, mereka diingatkan akan wajibnya menyerukan Islam, di mana Islam telah menyerang fanatisme kesukuan, asal-usul, dan kebangsaan, yang semuanya merupakan fenomena nasionalisme. Dengan cara seperti itu, mereka akan mengetahui kesalahan yang mereka perbuat, karena tindakan-tindakan mereka bertentangan dengan syara’. Akhirnya mereka akan mengetahui kesalahan pemikiran-pemikirannya.
........
    Ketiga, orang-orang yang terpesona dengan pemikiran-pemikiran lain dan organisasi-organisasi lain, atau orang-orang yang sedang kebingungan. Mereka ini adalah penganut pemikiran-pemikiran lain dan orang-orang yang bingung. Terhadap mereka, harus dilakukan diskusi mengenai pemikiran Islam. Mereka harus diajak untuk memahami Islam dan mengemban dakwah Islam, meskipun sudah pasti mereka akan menentang dakwah dengan cara menebarkan keraguan terhadap  pemikiran Islam dan memberikan persepsi-persepsi yang rancu tentangnya serta menyerang pemikiran Islam. Oleh karena itu, seorang pengemban dakwah harus berlapang dada terhadap mereka. Dia harus mengambil posisi sebagai pihak yang menyerang pemikiran-pemikiran mereka yang rusak, pemahaman-pemahaman mereka yang rancu, serta metode-metode berpikir mereka yang bengkok. Dia harus menjauhi posisi sebagai pihak yang diserang dan jangan sampai mau menerima Islam sebagai pihak yang tertuduh.
........
  Akan tetapi, hal itu akan dapat dimengerti oleh mereka yang paham benar tentang kelicikan dan tipudaya penjajah terhadap Islam dan kaum muslimin, tentang ketakutan mereka yang terus menerus terhadap berdirinya Daulah Islam, dan tentang kesadaran mereka bahwa Daulah Islam tidak hanya akan mencabut penjajahan dari akar-akarnya, tetapi juga akan mengambil alih posisi negara nomor satu di dunia dan mengemban dakwah kepada setiap manusia. Mereka yang paham benar akan semua itu dapat memahami mengapa penjajah yang kafir itu secara terus menerus mengawasi kaum muslimin dengan kaca pembesar -yakni dapat melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh banyak orang- sehingga penjajah dapat mengetahuinya dan menyiapkan segala sesuatu untuk menghadapinya. 


Sabtu, 29 Januari 2011

Usaha Penjajah Menindas Islam dan Kaum Muslimin

Usaha Penjajah Menindas Islam dan Kaum Muslimin

Download Buku Titik Tolak Perjalanan Dakwah Islam Hizbut Tahrir [rtf]
Dengan demikian, tidak mengherankan bahwa di wilayah-wilayah yang ada di bawah cengkeramannya, penjajah mulai mengendalikan setiap penguasa dengan berbagai cara agar penguasa itu melarang peredaran kitab-kitab Islam di negeri-negeri Islam, menyitanya dari tangan khalayak ramai, mendobrak rumah-rumah dan menggeledahnya untuk mencari kitab-kitab itu, lalu merampas dan membakarnya. Penjajah juga menyetir penguasa agar melarang perpindahan kaum muslimin di negeri-negeri mereka, menangkap mereka, membatasi domisili mereka di tempat-tempat tertentu, serta mengawasi dan memata-matai mereka. Itu terjadi hanya karena mereka mengemban qiyadah fikriyah Islam dan mengajak masyarakat kepada Islam.  Dengan demikian, tidak aneh penjajah yang kafir itu melakukan semua itu padahal perjalanan dakwah belum melewati tahap pembinaan dalam halaqah-halaqah dan kajian di masjid-masjid. Dengan kata lain, dakwah belum melampaui tahap muhawalah al mukhathabah (usaha menyeru masyarakat). Yang demikian itu karena penjajah mengetahui adanya kekuatan dahsyat yang terkandung dalam Islam untuk mempengaruhi manusia, lebih-lebih orang Islam. 
  Mereka menyadari adanya kekuatan dahsyat dalam diri orang-orang yang mengimani Islam, yakni pengaruh Islam terhadap mereka yang mengalami perombakan total dalam pemikiran dan perasaan. Maka dari itu, kaum penjajah berusaha dengan sekuat tenaga untuk menghalang-halangi keberhasilan dakwah Islam dan berdirinya Daulah Islam.

37. Oleh karena itu, Hizb wajib mewaspadai penjajah serta berhati-hati dengan  pelbagai metode dan taktik yang mereka gunakan dalam menjalankan aktivitasnya. Hizb harus membongkar semua itu kepada segenap orang dan mengajak umat secara keseluruhan untuk waspada terhadap penjajah yang kafir berikut metode dan taktik geraknya.  Hizb wajib pula memahami -ketika dia berada pada titik tolak perjalanan dakwah (nuqthatul inthilaq) - bahwa dia harus mulai menyerang penjajah. Sebab Hizb akan menyeru masyarakat, mengadopsi kemaslahatan mereka, serta membongkar strategi penjajah.  Dalam kondisi seperti ini, penjajah tidak akan berpangku tangan, terutama ketika strategi-strateginya dibongkar. Maka dari itu, dalam keadaan seperti itu akan terjadi friksi secara langsung dengan penjajah yang kafir, yang kemungkinan akan membuat penjajah mencoba mengobarkan konflik (clash) untuk melawan Hizb. Dalam hal ini, penjajah telah menyiapkan diri untuk membuat kaum muslimin saling berperang melawan sesama muslim. Penjajah telah menetapkan hal ini sebagai strateginya, sehingga mereka akan merekayasa kelompok-kelompok dari rakyat negeri-negeri Islam untuk bertarung melawan Hizb. Penjajah akan bersungguh-sungguh menjalankan strateginya ini. Penjajah tidak akan turun tangan langsung  menghadapi Hizb kecuali dalam kondisi mendesak, atau ketika penjajah telah terpukul mundur sampai di parit-parit bagian belakang yang dimilikinya dengan membawa senjata terakhir yang dimilikinya. 
  Dengan demikian, Hizb wajib menghindari konflik dengan penduduk negeri-negeri Islam  dan berupaya agar konflik yang terjadi adalah antara penjajah melawan umat secara keseluruhan, bukan melawan Hizb saja. Oleh sebab itu, Hizb harus menjadikan umat secara keseluruhan sebagai Hizb. Hizb harus meleburkan umat dengan Islam, membuatnya percaya penuh kepada Hizb, menanamkan ketaatan yang sadar kepada Hizb, serta memimpin mereka kepada Hizb dan kepada ideologi yang diemban Hizb, yaitu Islam. Dengan demikian, umat akan berjalan dalam satu barisan yang terbentuk dari kesadaran dan pemahaman, serta mempunyai kekuatan dan daya dorong layaknya badai taufan yang dapat menyapu segala sesuatu. Pertempuran yang hakiki akan berkobar antara umat -bahkan seluruh penduduk negeri-negeri Islam- melawan penjajah yang kafir hingga semua bekas-bekas penjajahan dapat dihapuskan.  
Perubahan pihak yang bertempur, yang semula antara Hizb melawan penjajah menjadi antara penduduk negeri Islam melawan penjajah, akan berlangsung secara pasti dan alami. Ini menuntut Hizb untuk membongkar kepada umat sikap permusuhan yang keji yang bersarang di dada musuh umat yang telah menjajah mereka. Hizb harus membongkar pula berbagai konspirasi jahat yang direkayasa penjajah yang kafir untuk menentang umat serta berbagai tipu muslihat yang licik yang diarahkan kepada umat, yang tujuannya adalah untuk menghinakan umat, memusnahkan mereka, dan menghancurkan ideologi mereka.
Dengan demikian, umat secara keseluruhan bersama-sama Hizb telah memikul tugas mengemban dakwah Islam dan melanjutkan kehidupan Islam dengan jalan mendirikan Daulah Islam dan memusnahkan semua rintangan yang menghalangi berdirinya Daulah Islam.  [  ]

Judul Asli : Nuqthatul Inthilaq
Dikeluarkan oleh : Hizbut Tahrir, 1957
Edisi Indonesia
Judul : Titik Tolak Perjalanan Dakwah Hizbut Tahrir
Penerjemah : Muhammad Maghfur
Penyunting : Muhammad Shiddiq Al Jawi
Penata Letak : Ahmad Hanafi
Desain Sampul : Abdullah Fanani
Penerbit : Pustaka Thariqul ‘Izzah
Jl. Prof. Lafran Pane (RTM) No. 39 Depok16951
Telp. (021) 8703442
Usaha Penjajah Menindas Islam dan Kaum Muslimin

Dakwah Kepada Islam Melanjutkan Kembali Kehidupan Islam

Dakwah Kepada Islam Melanjutkan Kembali Kehidupan Islam


34. Pendapat, pemikiran, dan hukum Islam yang diadopsi oleh Hizb wajib dijadikan materi pembicaraan dan diskusi, serta dijadikan bahan pembinaan. Karena itu, dakwah yang dilakukan wajib melalui Hizb dan dengan mengatasnamakan Hizb. Artinya, dakwah tersebut adalah dakwah kepada Islam, dan aktivitasnya adalah untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam. Tetapi yang mengemban dakwah Islam dan beraktivitas untuk melanjutkan kehidupan Islam adalah Hizbut Tahrir. Yang demikian itu karena masyarakat harus yakin seratus persen dan tidak ragu sedikit pun, bahwa tidak ada jalan keluar baginya kecuali dengan Islam, dan tidak ada kehidupan baginya kecuali dengan mengemban dakwah Islam. Keyakinan ini setiap saat harus terus ditingkatkan. Begitu pula, kepercayaan masyarakat kepada Hizb harus ditanamkan, bahwa Hizb telah dengan baik mengemban dakwah serta memimpin umat. Oleh karena itu, Hizb harus tetap menjalin hubungan dengan masyarakat, dan anggota-anggota Hizb harus tetap melakukan hubungan dengan masyarakat, sebagaimana anggota-anggota Hizb itu menjalin hubungan dengan Hizb.

Hizb juga wajib memahami dan merasakan bahwa umat secara keseluruhan adalah Hizb, sebagaimana umat harus menyadari dan merasakan bahwa Hizb adalah partai mereka dan diri mereka secara keseluruhan adalah Hizb. Dengan demikian, umat akan menjadi satu partai secara alami, dan berjuang dalam satu barisan.

35. Sebagaimana Hizb wajib memahami keadaan umat, Hizb juga wajib memahami kesadaran penjajah terhadap dakwah dan terhadap Hizb itu sendiri. Sebab, penjajah itulah yang mengumumkan peperangan terhadap Islam dan negara Islam. Penjajahlah yang telah menghancurkan negara Islam serta berusaha dengan segala cara untuk menghalang-halangi lahirnya kembali negara tersebut. Penjajah juga yang telah mengemban qiyadah fikriyah yang bertentangan dengan qiyadah fikriyah  Islam serta berusaha untuk mengokohkannya di negeri-negeri Islam.
Karena Hizb mengemban dakwah Islam sebagai qiyadah fikriyah yang melahirkan peraturan kehidupan serta berusaha untuk mendirikan negara Islam di Dunia Islam dalam rangka mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia, maka wajar dan sudah pasti penjajah akan menghalang-halangi Hizb, sekaligus memerangi Hizb dan memerangi Islam. Karena itu, harus ada kewaspadaan terhadap penjajah untuk mengetahui metode-metode dan teknik-teknik kegiatannya.

Kewaspadaan terhadap penjajah telah mampu menunjukkan, bahwa penjajah akan selalu mengawasi kaum muslimin, Islam dan gerakan-gerakan Islam. Pengawasan yang dilakukan penjajah itu sebelumnya telah memberikan banyak manfaat. Dengan mengawasi kaum muslimin, kaum penjajah dapat menundukkan mereka dan menjauhkan mereka dari pemikiran Islam. Dengan mengawasi Islam, kaum penjajah dapat memanfaatkanya untuk bisa memasukkan dan memberikan persepsi-persepsi Kapitalisme dan Demokrasi kepada kaum muslimin seraya menyifatinya sebagai persepsi-persepsi Islam. Dengan mengawasi gerakan-gerakan Islam, penjajah dapat memanfaatkanya untuk bisa mengubah gerakan-gerakan itu menjadi gerakan-gerakan keagamaan dengan persepsi Barat atau gerakan-gerakan yang  berasas patriotisme. Sedang gerakan-gerakan yang tidak dapat diubah, akan dihancurkan oleh penjajah. Mereka mengawasi semua itu dari jarak dekat dengan menggunakan kaca pembesar  sehingga dapat melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh kebanyakan kaum muslimin. 

36. Pengawasan yang dilakukan penjajah terhadap kaum muslimin, Islam, dan gerakan-gerakan Islam telah membuat penjajah benar-benar mewaspadai keberadaan Hizbut Tahrir. Penjajah paham benar bahwa Hizb merupakan kelompok yang sahih dan benar di Dunia Islam. Kewaspadaannya terhadap Hizb ini membuat penjajah terus meningkatkan kewaspadaannya terhadap Islam sebagai sebuah ideologi, bukan sebagai agama yang hanya mengandung aspek ibadah dan akhlak, sebagaimana yang dia gambarkan kepada kaum muslimin. Kewaspadaan itu juga menyebabkan penjajah semakin mewaspadai kaum muslimin ketika penjajah melihat pengaruh yang nyata dari tsaqafah Hizb dan Hizb itu sendiri di setiap tempat di mana Hizb ada. Kewaspadaan ini dalam pandangan banyak orang dinilai terlalu dini, sebab Hizb belum melewati nuqthatul ibtida` (titik permulaan dakwah) kecuali baru beberapa langkah. Hizb juga belum nampak jelas eksistensinya di tengah masyarakat  tempat Hizb beraktivitas, lalu bagaimana mungkin penjajah lebih dulu mempunyai kewaspadaan seperti ini? 

  Akan tetapi, hal itu akan dapat dimengerti oleh mereka yang paham benar tentang kelicikan dan tipudaya penjajah terhadap Islam dan kaum muslimin, tentang ketakutan mereka yang terus menerus terhadap berdirinya Daulah Islam, dan tentang kesadaran mereka bahwa Daulah Islam tidak hanya akan mencabut penjajahan dari akar-akarnya, tetapi juga akan mengambil alih posisi negara nomor satu di dunia dan mengemban dakwah kepada setiap manusia. Mereka yang paham benar akan semua itu dapat memahami mengapa penjajah yang kafir itu secara terus menerus mengawasi kaum muslimin dengan kaca pembesar -yakni dapat melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh banyak orang- sehingga penjajah dapat mengetahuinya dan menyiapkan segala sesuatu untuk menghadapinya. 
..............

Dakwah Kepada Islam Melanjutkan Kembali Kehidupan Islam

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam