Selasa, 03 Agustus 2010

Dogmatisme Barat Melawan Islam Tidak Kenal Batas

Dogmatisme Barat Melawan Islam Tidak Kenal Batas


[ Dogmatisme Barat Melawan Islam dan Kaum Muslim Tidak Kenal Batas ]


Bagian 1 Perang Ide-Ide : Kapitalisme Barat versus Islam


3 Dogmatisme Barat terhadap Islam Tidak Kenal Batas
"Ajaran Islam telah mewariskan tradisi-tradisi besar untuk sikap dan perilaku persamaan dan kelembutan, dan menginspirasi manusia dengan kemuliaan dan toleransi. Itu adalah ajaran-ajaran manusia tingkat tertinggi dan di saat yang sama bisa dipraktekkan. Ajaran-ajaran itu melahirkan masyarakat di mana hati yang keras dan opresi kolektif dan ketidakadilan adalah paling minimal dibandingkan dengan semua masyarakat lain sebelumnya ... Islam adalah penuh dengan kelembutan, kemuliaan sikap, dan persaudaraan."
- H.G. Wells


Pada ronde terakhir penghinaan Islam oleh Barat, penulis tak jelas Sherry Jones berhasil dalam publikasi bukunya Jewel of Medina, meskipun banyak protes keras dari berbagai kelompok Muslim di seluruh dunia. Sekali lagi kaum Muslimin diharapkan untuk percaya pada konsep kebebasan berekspresi Barat dan menghormati penggambaran keji Rasul Muhammad Saw. dan istri termudanya Aisyah ra. oleh Sherry. ii Sebelumnya di tahun ini, setidaknya ada 17 koran Denmark bersepakat untuk mempertahankan kebebasan berekspresi dan mencetak-ulang karikatur pelecehan Nabi Muhammad Saw. Publikasi pihak konservatif Berlingske Tidende menulis di suatu editorial: 'Kebebasan berekspresi memberimu hak untuk berpikir, berbicara, dan untuk menggambar apa yang kamu suka ... tidak peduli berapa banyak ada rencana teroris ..." Adalah terbukti bahwa Eropa dan Amerika tidak belajar apapun dari tangisan Kaum Muslim yang mengiringi keputusan koran Jyllands-Posten untuk mempublikasikan kartun aslinya di 2005.


Di Eropa penghantaman Islam adalah epidemi yang menginfeksi seluruh benua itu. Pemerintah Belanda menolak untuk mengambil tindakan melawan Anggota Parlemen Belanda Geert Wilders yang membuat video melecehkan tentang al-Qur'an. Pemerintah melindungi aksi-aksi Wilders dengan mengutip kebebasan berekspresi. Perancis dan Jerman telah menimpakan pelarangan memakai hijab. Pasukan keamanan Eropa secara rutin melecehkan, menangkap dan menyiksa kaum Muslimin hanya karena menjadi seorang Muslim. Para penulis dan jurnalis bebas menghina Islam dan hak mereka untuk melakukannya dilindungi oleh para politisi. Ambil contoh Oriana Fallaci, koresponden perang Italia menulis buku berjudul 'Anger and Pride' di mana dia mendeskripsikan kaum Muslimin sebagai 'makhluk keji yang kencing di mangkuk baptis' dan 'mengganda seperti tikus'. Untuk menghormati kaum Muslim, Menteri Pertahanan Italia, Antonio Martino, memuji Fallaci karena punya keberanian untuk menulis buku itu. Di Inggris di balik penyamaran kebebasan dan toleransi, para menteri pemerintah secara rutin merendahkan Islam dan membuat catatan baru bagi kaum Muslim Inggris untuk menyatakan kesetiaan mereka pada negara.


Di mata kaum Muslimin, Amerika - negara pemimpin Barat - adalah terkenal akan penghinaan dan penyiksaannya atas kaum Muslim di Abu Ghraib dan Guantanamo, bertanggung jawab atas penghancuran dan pengotoran masjid-masjid Irak, peleceh kaum Muslimah dan pembantai puluhan ribu kaum Muslim tak berdosa. Pengakuan dari berbagai organisasi hak-hak manusia, jurnalis, pengacara, pejabat AS, mantan tahanan dan korban perkosaan adalah semuanya menceritakan horor sebenarnya perang Amerika melawan Islam. Di perang ini, idealisme Barat 'kebebasan beragama' dan 'kebebasan berekspresi' telah memberi jalan bagi ketidak-toleransian dan propaganda anti-Muslim.


Selain di Washington, media AS, para pemimpin dan pemikir ternama tentang hak beragama yang termasuk sekutu-sekutu terdekat Presiden Bush mengeksploitasi kebebasan berbicara untuk menghina Islam terang-terangan. Reverend Franklin Graham, mendeskripsikan Islam sebagai "agama paling jahat dan buruk". Evangelist Pat Robertson, menyebut Nabi Muhammad 'seorang fanatik absolut liar...perampok dan bandit...seorang pembunuh". Jerry Falwell menyebut Nabinya Islam seorang teroris.


Di kancah internasional Barat dengan cepat mengorbankan kebebasan beragama demi membentuk berbagai aliansi dengan rezim-rezim kejam seantero dunia Muslim. Rezim raja Abdullah, Musharraf dan Karimov yang berkebiasaan menyiksa, menangkap dan membunuh kaum Muslimin yang mengekspresikan keyakinan Islam mereka menjadi garda depan bagi perang salib Barat melawan Islam.


Barat mengklaim bahwa individu bebas untuk menyembah sembahan apapun yang mereka pilih. Tapi dalam prakteknya ini menyebabkan konflik perpetual di antara orang, sebab kepercayaan dan praktek religius yang dianut oleh beberapa pihak bisa diinterpretasi sebagai tindakan menghina dan menyerang oleh pihak lainnya. Maka, para pemerintah barat selalu melakukan intervensi dalam perseteruan dan menggunakan legislasi untuk melindungi hak-hak beberapa orang dengan mengorbankan yang lain. Seringkali, pihak sebenarnya yang diuntungkan oleh kebebasan beragama adalah individu atau kelompok yang kepercayaannya sesuai dengan kepentingan-kepentingan pemerintah atau mereka yang punya kemampuan untuk mempengaruhi pemerintah. Itulah mengapa hak beragama di Amerika dibolehkan untuk menyerang Islam karena retorika kebencian mereka sesuai sepenuhnya dengan perang Bush melawan Islam. Namun, jika para Kristen konservatif menghina Yahudi atau negara Zionis Israel pemerintah Barat akan menggunakan tindakan tegas untuk menghentikan penghinaan mereka. Pendepakan Jimmy Cater oleh media arus utama adalah contoh yang tepat.


Pemerintah Barat menggunakan kebebasan beragama atau kebebasan berekspresi untuk memaksa membuka masyarakat yang menolak nilai-nilai barat atau sepenuhnya mengabaikan kebebasan ketika tidak setuju dengan kepentingan-kepentingan mereka. Dalam kasus pembantaian kaum Muslimin oleh Karimov di Andijon iii , Barat telah memilih untuk memberi respon yang lembek, karena para pemrotes adalah praktisi Islam taat dan bukan demokrasi. Sikap hipokrit semacam itu hanya menghasilkan persepsi buruk di antara kaum Muslim bahwa Amerika dan Eropa hanya tertarik mengutarakan penghancuran nilai-nilai dan praktek-praktek Islam.


Islam tidak percaya pada ide meriah kebebasan beragama dan kebebasan berekspresi, di mana segerombol manusia menentukan keyakinan dan pemikiran mana yang tidak boleh dikritik, dan keyakinan dan pemikiran mana yang jadi sasaran kritik dan legislasi sepuasnya. Islam menentukan bahwa nyawa, kehormatan, darah, kepemilikan, kepercayaan, ras dan pikiran adalah untuk dilindungi oleh Negara Islam. Semua warga negara Khilafah dijamin hak-hak itu, tidak pandang apakah mereka Muslim atau non-Muslim. Islam juga melindungi hak-hak non-Muslim untuk sembahyang tanpa ada ketakutan balas dendam atau penghinaan terhadap keyakinan-keyakinan mereka. Rasul Allah Saw. bersabda: 'Barangsiapa menyakiti seorang dzimmi (warga negara non-Muslim Khilafah), dia menyakitiku dan siapa yang menyakitiku, menyakiti Allah"


Oleh karena itu, adalah terlarang bagi seorang Muslim untuk menghina berbagai kepercayaan non-Muslim atau untuk melukai tempat-tempat ibadah mereka. Sejarah Islam tak tertandingi dalam kapasitasnya untuk menjamin hak-hak beragama non-Muslim di bawah naungan Khilafah. Kaum Muslim yang hidup di bawah rezim-rezim kekuasaan tirani yang didukung oleh Barat perlu menyadari bahwa berdemonstrasi dan memboikot produk-produk Barat tidak akan mencegah Barat mengambil aksi-aksi agresi lebih lanjut melawan mereka. Satu-satunya cara untuk mencegah Barat dan para anteknya dari menyerang Islam dan menghina kaum Muslimin adalah dengan mendirikan-kembali Khilafah. Hak-hak kaum Muslim dulu dilindungi, hingga hari terakhir Khilafah. Selama pemerintahan Sultan Abdul Hamid II, Inggris memutuskan untuk mengadakan pertunjukan, di mana menggambarkan kehidupan Rasul Allah Saw. secara menghina. Mendengar hal ini Sultan Abdul Hamid komplain kepada pemerintah Inggris untuk menghentikan pertunjukan itu. Pemerintah Inggris mempertahankan keputusan mereka untuk mengadakan pertunjukan dengan mengutip kebebasan berbicara. Tapi ketika Sultan Abdul Hamid mengancam Inggris dengan aksi militer, Inggris segera menyerah.


7 Oktober 2008


[ Dogmatisme Barat Melawan Islam dan Kaum Muslimin Tidak Kenal Batas ]


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda