Minggu, 03 April 2016

Fardhu kifayah kewajiban semua muslim cth Khilafah


 


Imam Al-Qurthubi ketika menafsirkan Surah Al-Baqarah ayat 30 berkata:
… هذه الآية أصل في نصب إمام وخليفة يسمع له ويطاع، لتجتمع به الكلمة، وتنفذ به أحكام الخليفة.
“…ayat ini pokok bahwa mengangkat Imam dan Khalifah untuk didengar dan dita’ati, untuk menyatukan pendapat serta melaksanakan, melalui Khalifah, hukum-hukum tentang Khalifah…” (Al-Imam Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farah Al-Qurthubi, Al-jami’ li Ahkamil Qur’an, juz 1 hal. 264-265)
Terdapat ayat selain al-Baqarah 30 yang juga sejalan dengan kesimpulan Imam Qurthubi yaitu:
يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ
“Wahai Daud sesungguhnya kami menjadikan engkau sebagai Khalifah di bumi maka hukumilah manusia dengan kebenaran dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu sehingga ia menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah maka bagi mereka adalah azab yang pedih karena mereka telah melupakan Hari Perhitungan.” (QS. Shad [38]: 26)

Berkata Syeikh Sayyid Husain Afandi:
اعلم انه يجب على المسلمين شرعا نصب امام يقوم باقامة الحدود وسد الثغور وتجهيز الجيش

“Ketahuilah bahwa mengangkat Imam yang yang menegakkan hudud, memelihara perbatasan (negara), menyiapkan pasukan, secara Syar’i adalah wajib.” (Sayyid Husain Afandi, Al-Husun Al-Hamidiyyah, li Al-Muhafadzah ala Al-Aqa’id Al-Islamiyyah, hal. 189)


Imam an-Nawawi menyebutkan:
لاَ بُدَّ لِلأُمَّةِ مِنْ إِمَامٍ يُقِيْمُ الدِّيْنَ وَيَنْصُرُ السُّنَّةَ وَيَنْتَصِفُ لِلْمَظْلُوْمِيْنَ وَيَسْتَوْفِي الْحُقُوْقَ وَيَضَعُهَا مَوَاضِعَهَا.قُلْتُ تَوْلَي اْلإِمَامَةِ فَرْضُ كِفَايَةٍ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَنْ يَصْلُحُ إِلاَّ وَاحِدٌ تُعُيِّنَ عَلَيْهِ وَلَزِمَهُ طَلَبُهَا إِنْ لَمْ يَبْتَدِئُوْهُ.
“Sudah menjadi sebuah keharusan bagi umat untuk memiliki seorang Imam (Khalifah) yang menegakkan Din (Islam), menolong Sunnah, menolong orang-orang yang dizalimi, memenuhi hak-hak dan menempatkan hak-hak pada tempatnya. Saya berpendapat bahwa
menegakkan Imamah (Khilafah) adalah fardhu kifayah.
Jika tidak ada lagi orang yang layak (menjadi Imam/Khalifah) kecuali hanya satu orang, maka ia dipilih menjadi Imam/Khalifah dan wajib atas orang tersebut menuntut jabatan Imamah jika orang-orang tidak meminta dirinya terlebih dulu.” (Imam an-Nawawi, Raudhâh ath-Thâlibîn wa ‘Umdah al-Muftîn, III/433)

Syaikh al-Islam Imam Zakariya bin Muhammad bin Ahmad bin Zakariya al-Anshari menyatakan:
وَهِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ كَالْقَضَاءِ
“(Imam al-A’zham/ Khalifah) hukumnya adalah fardhu kifayah seperti halnya peradilan.” (Imam Zakariya bin Muhammad bin Ahmad bin Zakariya al-Anshari, Fath al-Wahab bi Syarh Minhaj ath-Thulâb, II/268)
Al-‘allamah Asy-Syeikh Muhammad Asy-Syarbini Al-khatib berkata:
فَقَالَ [ فَصْلٌ ] فِي شُرُوطِ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ وَبَيَانِ انْعِقَادِ طُرُقِ الْإِمَامَةِ .وَهِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ كَالْقَضَاءِ

“…maka (penulis) berkata (pasal) tentang syarat-syarat Imam Al-A’zham serta penjelasan metode-metode in’iqad (pengangkatan) Imamah. (Mewujudkan Imamah Al-A’zham) itu adalah fardhu kifayah sebagaimana peradilan.” (Mughni al-Muhtâj ilâ Ma‘rifah Alfadz al-Minhâj, XVI/287)
Al-allamah Asy-Syeikh Abdul Hamid Asy-Syarwani menyatakan:
قوله: (هي فرض كفاية) إذ لا بد للامة من إمام يقيم الدين وينصر السنة وينصف المظلوم من الظالم ويستوفي الحقوق ويضعها موضعها…
“…perkataannya: (mewujudkan Imamah itu adalah fardhu kifayah) karena merupakan keharusan bagi umat adanya Imam untuk menegakkan agama dan menolong sunnah serta memberikan hak orang yang didzalimi dari orang yang dzalim serta menunaikan hak-hak dan menempatkan hak-hak tersebut pada tempatnya…” (Hawasyi Asy-Syarwani, juz 9 hal. 74)
Dalam kitab Hasyiyata Qalyubi wa Umairah dinyatakan:
فَصْلٌ فِي شُرُوطِ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ وَمَا مَعَهُ وَالْإِمَامَةُ فَرْضُ كِفَايَةٍ كَالْقَضَاءِ فَيَجْرِي فِيهَا مَا فِيهِ مِنْ جَوَازِ الْقَبُولِ وَعَدَمِهِ .
“…pasal tentang syarat-syarat Imam Al-A’zham dan hal-hal yang menyertainya. Imamah itu adalah fardhu kifayah sebagaimana peradilan maka berlaku di dalam Imamah tersebut apa yang berlaku untuk peradilan baik dalam kebolehan menerima maupun tidaknya..” (Hasiyata Qalyubi wa ‘Umairah, juz 15 hal. 102)
Al-‘allamah Asy-Syeikh Sulaiman bin Umar bin Muhammad Al-Bajairimi berkata:
…فِي شُرُوطِ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ وَفِي بَيَانِ طُرُقِ انْعِقَادِ الْإِمَامَةِ وَهِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ . كَالْقَضَاءِ فَشُرِطَ لِإِمَامٍ كَوْنُهُ أَهْلًا لِلْقَضَاءِ …
“…tentang syarat-syarat Imam Al-A’zham serta penjelasan metode-metode sahnya in’iqad (pengangkatan) Imamah. Dan (mewujudkan Imamah) tersebut adalah fardhu kifayah sebagaimana peradilan. Maka disyaratkan untuk Imam itu hendaknya layak untuk peradilan (menjadi hakim)…” (Hasyiyah Al-Bajayrimi ala Al-Khatib, juz 12 hal. 393)

Dalam kitab Hasyiyyatul Jumal disebutkan:
…فِي شُرُوطِ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ ، وَفِي بَيَانِ طُرُقِ انْعِقَادِ الْإِمَامَةِ وَهِيَ فَرْضُ كِفَايَةٍ كَالْقَضَاءِ …
“…tentang syarat Imam Al-A’zham dan tentang penjelasan metode in’iqad Imamah. Mewujudkan Imamah itu adalah fardhu kifayah sebagaimana peradilan…” (Hasyiyyatul Jumal, juz 21 hal. 42)
Dalam kitab Mathalibu Ulin Nuha fii Syarhi Ghayatil Muntaha dinyatakan:
…( وَنَصْبُ الْإِمَامِ فَرْضُ كِفَايَةٍ ) ؛ لِأَنَّ بِالنَّاسِ حَاجَةً لِذَلِكَ لِحِمَايَةِ الْبَيْضَةِ ، وَالذَّبِّ عَنْ الْحَوْزَةِ ، وَإِقَامَةِ الْحُدُودِ ، وَابْتِغَاءِ الْحُقُوقِ ، وَالْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنْ الْمُنْكَرِ
“…(dan mengangkat Imam itu adalah fardhu kifayah) karena manusia memang membutuhkan hal tersebut untuk menjaga kemurnian (agama), memelihara konsitensi (agama), menegakkan had, menunaikan hak-hak, dan amar makruf serta nahi munkar…” (Al-‘allamah Asy-Syeikh Musthafa bin Sa’ad bin Abduh As-Suyuthi Ad-Dimasyqi Al-Hambali, Mathalibu Ulin Nuha fii Syarhi Ghayatil Muntaha, juz 18 hal. 381)

Al-’Allamah al-Mardawi, dari mazhab Hanbali, dalam Bab Qital Ahl al-Baghy, menyatakan, “Mengangkat Imam (Khalifah) hukumnya fardhu kifayah.”
Dalam kitab al-Furu’, dia menegaskan, “Hukumnya fardhu kifayah menurut pendapat yang paling tepat.”
Pada bagian yang lain, dia menegaskan kembali, bahwa mengangkat Imam hukumnya fardhu kifayah menurut mazhab yang sahih. (Al-’Allamah ‘Ala’uddin al-Mardawi, Al-Anshaf, Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, 1997, X/271 dan XI/42)

Syaikh Abdul Qadir Audah menyatakan: “Khilafah dapat dianggap sebagai satu kewajiban di antara fardhu-fardhu kifayah yang ada, seperti halnya jihad dan peradilan (al-qadhâ’). Jika kewajiban ini telah dilaksanakan oleh orang yang memenuhi syarat maka gugurlah kewajiban ini dari seluruh kaum Muslim. Namun, jika tidak ada seorangpun yang melaksanakannya, seluruh kaum Muslim berdosa hingga orang yang memenuhi syarat dapat melaksanakan kewajiban Khilafah ini.” (Audah, Al-Islâm wa Awdha’unâ as-Siyâsiyah, hlm. 124)

Dijelaskan oleh al-Imam al-’Allamah as-Syathibi, dalam kitabnya, Al-Muwafaqat:
إنَّهُ وَاجِبٌ عَلَى الْجَمِيْعِ... لأَنَّ الْقِيَامَ بِذَلِكَ الْفَرْضِ قِيَامٌ بِمَصْلَحَةٍ عَامَّةٍ، فَهُمْ مَطْلُوْبُوْنَ بِسَدِّهَا عَلَى الْجُمْلَةِ، فَبَعْضُهُمْ هُوَ قاَدِرٌ عَلَيْهَا مُبَاشَرَةً، وَذَلِكَ مَنْ كَانَ أَهْلاً لَهَا، وَالْبَاقُوْنَ ـ وَإِنْ لَمْ يَقْدِرُوْا عَلَيْهَا ـ قَادِرُوْنَ عَلَى إِقَامَةِ الْقَادِرِيْنَ، فَمَنْ كَانَ قَادِراً عَلىَ الْوِلاَيَةِ فَهُوَ مَطْلُوْبٌ بِإِقَامَتِهَا، وَمَنْ لاَ يَقْدِرُ عَلَيْهَا مَطْلُوْبٌ بِأَمْرٍ آخَر وَهُوَ إِقَامَةُ ذَلِكَ الْقَادِرِ وَإِجْبَارُهُ عَلَى الْقِيَامِ بِهَا، فَالْقَادِرُ إِذاً مَطْلُوْبٌ بِإِقَامَةِ الْفَرْضِ، وَغَيْرُ الْقَادِرِ مَطْلُوْبٌ بِتَقْدِيْمِ ذَلِكَ الْقَادِرِ، إِذْ لاَ يَتَوَصَّلَ إِلَى قِيَامِ الْقَادِرِ إِلاَّ باِلإقَامَةِ؛ مِنْ بَابِ مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ
“Fardhu kifayah merupakan kewajiban bagi semua orang…
Karena melaksanakan fardhu ini merupakan pelaksanaan kemaslahatan publik. Mereka dituntut untuk menunaikannya secara akumulatif. Sebagian ada yang mampu secara langsung, seperti orang yang mempunyai kelayakan. Sebagian yang lain, sekalipun tidak mampu, tetap mampu mengusahakan orang yang mampu. Orang yang bisa mengangkat pemimpin, ia wajib mengangkatnya. Bagi yang tidak mampu, ia mampu melakukan yang lain, yaitu mengusahakan orang yang mampu, dan memaksanya untuk menegakkannya. Jadi, yang mampu wajib menunaikan kewajiban ini, sedangkan yang tidak mampu wajib mengusahakan orang yang mampu. Sebab, orang yang mampu tidak akan melakukannya, kecuali dengan diupayakan [oleh yang tidak mampu]. Ini merupakan bab suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengan sesuatu [maka sesuatu itu hukumnya wajib].” (Al-Imam al-’Allamah as-Syathibi, Al-Muwafaqat, Dar al-Fikr, Beirut, t.t., I/119)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda