Kamis, 07 April 2016

Pengawasan atas pelaksanaan Syariah Islam


 


Pengawasan atas pelaksanaan Syariah Islam merupakan faktor krusial dalam penyelenggaraan pemerintahan. Dengan pengawasan, berbagai bentuk penyimpangan dan pelanggaran aturan akan dapat diantisipasi. Hasilnya, kedzaliman dan tindakan merugikan orang lain dapat dicegah. Untuk itulah sejak awal, Islam telah mewajibkan amar ma’ruf nahyi munkar sebagai bentuk pengawasan (QS. Ali Imran[3]: 104). Rasulullah SAW adalah orang pertama yang membentuk sistem pengawasan dalam sejarah peradaban Islam.

Abu Hurairah ra., ia menuturkan:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلاً فَقَالَ: مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ. قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: أَفَلاَ جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَىْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّى

“Rasulullah Saw. melewati seonggok makanan, lalu beliau memasukkan tangan beliau ke dalam onggokan makanan itu dan jari-jari beliau sampai pada bagian yang basah, maka beliau bersabda, “Apa ini, wahai pemilik makanan?”  Pemilik makanan itu berkata, “Terkena hujan, ya Rasulullah.”  Beliau bersabda, “Mengapa tidak engkau letakkan di atas makanan supaya orang melihatnya. Siapa yang menipu maka ia bukan bagian dari golongan kami.” (HR. Muslim)

Sa’id bin Al Ash adalah orang pertama yang diangkat menjadi pengawas (qadhi hisbah) di masa Rasulullah SAW. Dia bertugas mengawasi aktivitas pasar di Makkah pasca futuh/penaklukan. Tidak hanya laki-laki, Rasulullah SAW pun pernah mengangkat seorang pengawas dari kalangan wanita yaitu Samura binti Nahik Al Asadi. Ia tetap menjabat sebagai pengawas pasar hingga masa kekhilafahan Umar Ibnu al Khatthab ra.

Kebolehan melakukan penahanan terhadap terdakwa dalam hadits riwayat Bahz bin Hakim dari bapaknya, dari kakeknya:
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم حَبَسَ رَجُلاً في تُهْمَةٍ ثُمَّ خَلَّى عَنْهُ
“Nabi Saw. menahan seorang laki-laki yang menjadi terdakwa, kemudian beliau melepaskannya.” (HR. at-Tirmidzi)
Dalam hadits riwayat Abu Hurairah dinyatakan:
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم حَبَسَ في تُهْمَةٍ يَوْمًا وَ لَيْلَةً
“Nabi Saw. pernah menahan terdakwa selama sehari semalam.” (HR. al-Hakim)
Dalam hadits lain riwayat Bahz bin Hakim dari bapaknya, dari kakeknya, dinyatakan:
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم حَبَسَ رَجُلاً في تُهْمَةٍ سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ ثُمَّ خَلَّى عَنْهُ
“Nabi Saw. pernah menahan seorang laki-laki yang menjadi terdakwa selama setengah hari, kemudian beliau melepaskannya.” (HR. al-Baihaqi)

Penahanan terdakwa dalam hal ini bukanlah hukuman, melainkan penahanan untuk mengungkap sebagian fakta yang masih tersembunyi terkait dengan kasusnya. (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 79)

Ibn Abbas menuturkan:
كَانَ نَاسٌ مِنْ الْأَسْرَى يَوْمَ بَدْرٍ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ فِدَاءٌ، فَجَعَلَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِدَاءَهُمْ أَنْ يُعَلِّمُوا أَوْلَادَ الْأَنْصَارِ الْكِتَابَةَ
“Ada orang yang termasuk tawanan Perang Badar tidak punya harta tebusan. Rasulullah Saw., lalu menjadikan tebusan mereka adalah dengan mereka mengajari anak-anak Anshar baca tulis.” (HR. Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi)

Pada masa Rasulullah Saw. terdapat sekelompok orang yang membunuh, murtad, merampok/ membegal, dan berkhianat sekaligus. Diriwayatkan dari Anas bin Malik:
أَنَّ نَاسًا مِنْ عُرَيْنَةَ قَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَاجْتَوَوْهَا فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ شِئْتُمْ أَنْ تَخْرُجُوا إِلَى إِبِلِ الصَّدَقَةِ فَتَشْرَبُوا مِنْ أَلْبَانِهَا وَأَبْوَالِهَا فَفَعَلُوا فَصَحُّوا ثُمَّ مَالُوا عَلَى الرُّعَاةِ فَقَتَلُوهُمْ وَارْتَدُّوا عَنْ الْإِسْلَامِ وَسَاقُوا ذَوْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَ فِي أَثَرِهِمْ فَأُتِيَ بِهِمْ فَقَطَعَ أَيْدِيَهُمْ وَأَرْجُلَهُمْ وَسَمَلَ أَعْيُنَهُمْ وَتَرَكَهُمْ فِي الْحَرَّةِ حَتَّى مَاتُوا

“Beberapa orang dari kabilah 'Urainah pergi ke Madinah untuk menemui Rasulullah Saw. Setibanya di Madinah [mereka lalu masuk Islam], mereka sakit karena udara Madinah tidak sesuai dengan kesehatan mereka. Maka Rasulullah Saw. bersabda kepada mereka "Jika kalian mau, pergilah kepada unta-unta sedekah (unta Baitul Mal hasil zakat), lalu minum air susu dan kencingnya [sebagai obat]." Lalu mereka melakukan apa yang dianjurkan oleh Nabi Saw., sehingga mereka sehat kembali. Tetapi selang beberapa saat, mereka menyerang para penggembala unta dan mereka membunuhnya. Sesudah itu mereka murtad dari Islam, mereka juga merampas unta-unta Rasulullah Saw. Peristiwa tersebut dilaporkan kepada Rasulullah Saw., kemudian beliau memerintahkan supaya mengejar mereka sampai dapat. Setelah mereka di hadapan beliau, beliau memerintahkan supaya tangan dan kaki mereka dipotong, lalu mata mereka dicukil, sesudah itu mereka dibiarkan di terik matahari yang panas sampai mati [di pinggiran Harrah]." (Shahih Muslim no.3162; hadits serupa juga di Shahih Bukhari no.6306; Sunan Abu Daud no.3798; Musnad Ahmad no.11600; Sunan Tirmidzi no.67)

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.”(QS. al-Maidah [5]: 33)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda