Jumat, 21 Juni 2013

KEISTIMEWAAN DO’A

KEISTIMEWAAN DO’A




Kedudukan Do’a
Allah Swt. menjelaskan kedudukan do’a dan posisinya yang agung, yaitu dengan memulai dan menutup Al Qur’an dengan do’a. Do’a pembuka dengan Surat Al Fatihah dan do’a penutup dengan Surat Al Ikhlas dan al mu’awidzatain (Al Falaq dan An Naas).
Syaikhul islam Ibnu Taimiyah berkata, “Dalam Surat Al Ikhlas terdapat pujian hamba kepada Allah sedangkan dalam al mu’awidzatain terdapat do’a hamba kepada Allah agar Dia senantiasa melindunginya. Pujian dan do’a selalu digabungkan, sebagaimana digabungkan dalam Ummul Qur’an. Ummul Qur’an dibagi menjadi dua antara Tuhan dengan hamba, setengahnya adalah pujian kepada Tuhan dan setengahnya yang lain adalah do’a untuk hamba.”

Keistimewaan-Keistimewaan Do’a

Do’a memiliki keistimewaan yang banyak sekali, jarang terdapat pada ibadah-ibadah yang lain. Keistimewaan ini adalah bahwa manfaat do’a terjadi pada waktu hidup dan sesudah mati. Nas-nas Al Quran dan Hadits telah menetapkan bahwa orang yang telah meninggal bisa mengambil manfaat dari do’a. Rasulullah Saw. bersabda, artinya:
Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali dari tiga hal “Anak shalih yang mendo’akannya.” [HR. Muslim (3/1255) hadits no:1631]

Allah Swt. berfirman, artinya:
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami.” [QS. Al Hasyr: 10]

Shalat jenazah merupakan do’a bagi orang yang mati. Telah disepakati bahwa pahala do’a sampai kepada orang yang dido’akan.

Di antara keistimewaan-keistimewaan do’a adalah kemudahannya dan tidak terikat dengan waktu, tempat dan kondisi, ini juga membedakannya dengan ibadah-ibadah yang lain. Do’a membuka pintu hati, menumbuhkan rasa ketundukan yang sempurna dan perasaan selalu membutuhkan Tuhan dalam semua kondisi yang dihadapi.

Selain itu, do’a menunjukkan kerendahan, kelemahan, rasa membutuhkan, penghambaan dan pengagungan Tuhan. Keistimewaan-keistimewaan ini menunjukkan betapa agung dan tingginya kedudukan do’a.

Saudaraku seiman! Kini anda telah tahu, bahwa di antara yang tertulis dalam takdir adalah tertolaknya musibah dengan do’a. Do’a menjadi sebab untuk menolak musibah dan mendatangkan rahmat, seperti tameng menjadi sebab untuk menyelamatkan diri dari serangan panah dan air menjadi sebab tumbuhnya pepohonan di bumi. Tameng menolak anak panah, sehingga tameng dan anak panah saling menyerang dan menolak. Begitu pula halnya dengan do’a dan musibah keduanya saling menyerang dan menolak. Mengakui takdir Allah Swt. bukan berarti membuang senjata dan berpangku tangan, karena Allah Swt. telah berfirman, artinya: “Bersiap siagalah kalian.” [QS. An Nisaa`: 71] Dia yang telah menentukan kebaikan, tentu telah menentukan sebab-sebab untuk mendatangkannya. Demikian pula halnya dengan kejelekan, tentu Dia telah menentukan sebab-sebab untuk menolaknya. [Ihyaa` ‘Ulumuddin, karya Abu Hamid Al Ghazali]

Saudaraku seiman! Jangan pernah meninggalkan do’a, karena Allah Swt. telah berkata dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Abu Dzar ra. dari Nabi Muhammad Saw., artinya:
Sesungguhnya Allah Swt. berkata, ‘Hai, hambaku! Sesungguhnya Aku mengharamkam kedzaliman atas diri-Ku dan Kuharamkan pula atas dirimu, karena itu janganlah kamu berlaku dzalim! Hai, hamba-Ku! Kamu sekalian sesat, melainkan orang-orang yang mendapat petunjuk-Ku, karena itu mohonlah petunjuk kepada-Ku, Aku berikan petunjuk kepadamu. Hai, hamba-Ku! Kamu sekalian lapar, melainkan orang yang Kuberi makan, karena itu mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku beri kamu makanan. Hai, hamba-Ku! Kamu sekalian telanjang, melainkan orang yang Kuberi pakaian, karena itu mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku beri kamu pakaian. Hai hamba-Ku! Kamu sekalian banyak bersalah siang dan malam hari, padahal Aku bersedia mengampuni segala dosa semuanya, karena itu minta ampunlah kepada-Ku, Kuampuni kamu. Hai, hamba-Ku! Kamu tidak akan dapat mendatangkan mudharat kepada-Ku. Seandainya kamu dapat, tentulah kamu telah mendatangkannya kepada-Ku. dan kamu tidak dapat memberikan manfaat kepada-Ku, seandainya kamu dapat tentu kamu telah memberikannya kepada-Ku. Hai, hamba-Ku! Seandainya orang-orang yang sebelum dan sesudah kamu, manusia maupun jin, lebih bertakwa daripada orang yang paling bertakwa di antara kamu, maka hal itu tidak akan menambah sesuatupun bagi kekuasaan-Ku. Hai, hamba-Ku! Seandainya orang-orang yang sebelum dan sesudah kamu, manusia maupun jin, lebih durhaka daripada orang yang paling durhaka di antara kamu sekalian, maka hal itu tidaklah mengurangi sesuatupun bagi kekuasaan-Ku. Hai, hambaku! Seandainya orang yang sebelum dan sesudah kamu, manusia maupun jin, mereka berkumpul pada suatu tempat yang luas, lalu mereka meminta kepada-Ku dan Kupenuhi permintaan mereka semuanya, maka hal itu tidak akan mengurangi sesuatupun dari perbendaharaan-Ku, melainkan hanya seperti berkurangnya sebuah jarum bila dimasukkan ke dalam samudera. Hai, hamba-Ku! Hanya amal kamu sajalah yang Kuperhitungkan untukmu, lalu kubayar penuh pahalanya, maka siapa yang beroleh kebaikan, hendaklah dia memuji Allah Swt. dan siapa yang mendapatkan selain kebaikan, maka janganlah dia mencela siapa-siapa kecuali dirinya sendiri (karena dia yang bersalah).” [HR. Muslim (2759), At Timidzi, Ibnu Majah dan An Nasa’i dalam Sunannya (11180)]

Wahai, orang yang terkena musibah! Wahai mereka yang sedang sakit! Wahai mereka yang teraniaya! Mengapa kalian mengetuk semua pintu dan meninggalkan pintu-Nya? Dia yang malu jika ada hamba-Nya mengangkat kedua tangannya dan membiarkannya dengan tidak memberi apa-apa. Saudaraku! Mengapa kalian bergantung kepada manusia, mengapa kalian mengadu kepada manusia, mengapa kalian mengadu kepada yang tidak memiliki kasih-sayang padahal Yang Maha Kasih senantiasa membuka pintu-Nya?

Apabila musibah menimpamu, jangan tampakkan kesusahanmu dengan mengadu kepada manusia, karena sesungguhnya mereka tidak memiliki kekuatan untuk menghilangkan kesusahanmu. Akan tetapi bergantunglah kepada Allah Swt., karena sesungguhnya Dia membuka tabir kedukaan, menghilangkan kesedihan dan merubah keadaan kepada yang lebih baik. Segala sesuatu yang terjadi di kerajaan-Nya terjadi dengan kehendak-Nya.

Kekuatan yang sesungguhnya terletak pada sikap tawakkal kepada Allah. Orang yang bertawakkal akan dijamin dengan kekuatan, penjagaan, rezeki dan perlindungan. Namun hal itu tergantung pada kuat-lemahnya ketakwaan dan tawakkal seseorang. Apabila ketakwaan dan tawakalnya kuat, maka Allah akan memberikan jalan keluar bagi semua kesempitan dan musibah yang menimpanya. Allah akan menjadi pelindung dan penjamin semua kebutuhannya. Nabi Muhammad Saw. telah menunjukkan kepada umatnya jalan menuju kesempurnaan dalam mendapatkan apa yang diinginkan, yaitu dengan senantiasa mencari apa yang bisa memberikan kemanfaatan bagi dirinya dengan mengerahkan segala usaha sesuai syariah Allah yang sempurna. Ketika tawakkal dan usaha telah dijalankan, maka akan bermanfaat perkataan, “Hasbiyallahu wa ni’ma al-wakil.” (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung). Berbeda dengan orang yang berpangku-tangan dan berdiam diri, tidak berusaha mengikuti syariat Islam, sehingga kemaslahatannya lewat, kemudian ia berkata, “Hasbiyallahu wa ni’ma al-wakil.” (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung). Maka Allah akan mencelanya dan tidak akan menjadi penolongnya. Karena Dia hanya menjadi penolong orang yang bertakwa dan bertawakkal kepada-Nya.

Jadi tidak ada kekuatan bagi manusia, tanpa tawakkal kepada Allah Swt. Allah-lah tempat berlindung semua manusia. Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, Dia akan mencukupkan segala kebutuhannya. Barangsiapa yang berdo’a kepada-Nya Dia akan mengabulkan do’anya. Barangsiapa yang mendekatkan diri kepada-Nya, menerapkan syariat-Nya, Dia akan mendekatkan diri-Nya. Barangsiapa bertaubat kepada-Nya, Dia akan menerima taubatnya. Barangsiapa bergantung kepada selain diri-Nya, maka Dia akan meninggalkannya bersama orang yang menjadi tempat bergantungnya. Di tangan-Nya tergenggam urusan segala sesuatu. Allah kuasa untuk merubah hati semua manusia dan menjadikannya membenci orang yang bergantung kepada selain diri-Nya. Allah Swt. berfirman, artinya:
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” [QS. Ath-Thalaaq: 3]

Saudaraku seiman! Apabila musibah menimpa hartamu, jiwamu, keluargamu atau anak-anakmu, maka sikap sabar dan menerima dengan lapang dada, ketika itu bukan hanya menjadi kewajiban agama semata. Akan tetapi itu adalah realita yang harus dihadapi. Tidak ada yang lebih baik yang bisa engkau lakukan selain bersabar, bertindak sesuai tuntunan syariat Islam.

Orang yang sabar dan tidak menghiraukan musibah yang menimpanya, tidak bersedih dan bahkan menampakkan ketegaran, ketika tertimpa bencana padahal hatinya menangis dan dia berusaha untuk menguatkan batinnya yang meratap, menghibur hatinya yang sedang berduka dan menerima apa yang telah dikehendaki oleh Allah Swt., maka dia telah diberi kebaikan yang sangat banyak. Telah sampai di puncak kesabaran yang tertinggi dan telah mencapai derajat keyakinan teratas. Dia telah mengambil kesabaran para rasul dan menempuh jalan para nabi. Sikap sabar ketika tertimpa musibah, menjadi tanda yang jelas bagi keimanan seseorang.

Allah Swt. berfirman, artinya:
“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” [QS. Faathir: 15]

Saudaraku sekalian! Kita semua berkehendak kepada Allah dalam semua perkara dan kondisi, baik ringan maupun sulit, kecil maupun besar. Ketahuilah saudaraku! Bahwa tidak ada seorangpun yang celaka disebabkan do’a.
Ali ra. berkata, “Rasulullah Saw. bersabda, artinya:
Do’a adalah senjata orang beriman, tiang agama dan cahaya di langit dan di bumi.’” [HR. At Tirmidzi dan Al Hakim dalam bukunya Al Mustadrak (1/497). Al Hakim berkata, “Hadits ini sanadnya shahih.” Pendapatnya ini disepakati oleh Adz Dzahabi. Ibnu Hibban meriwayatkannya dalam buku Shahihnya (872)]

Bergantung kepada Allah dalam semua keadaan adalah jalan untuk mendapatkan ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Kita bisa melihat dan menyaksikan pengaruh do’a pada diri kita dan orang-orang di sekitar kita.

Wahai orang-orang yang memiliki keperluan! Wahai orang-orang yang mengadukan sakitnya! Wahai mereka yang tertimpa musibah dan kesedihan! Wahai mereka yang membutuhkan! Wahai mereka yang merasakan kesempitan bumi padahal bumi itu luas! Kepada siapa kita harus mengadu? Bukankah hanya Allah saja tempat untuk mengadu? Di mana keyakinan terhadap Allah? Di mana sikap tawakkal kepada Allah?

Saudaraku seiman! Marilah kita angkat tangan kerendahan kepada Allah, sambil mengucapkan, “Wahai Dzat yang mendengar semua keluhan!” Bukankah Allah telah berkata, artinya:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku.” [QS. Al Baqarah: 186]

Ini adalah janji yang sangat jelas tentang dikabulkannya do’a dan Allah tidak akan menghianati janji-Nya. Janji ini dikaitkan dengan kata bantu (idza) artinya “apabila” yang memiliki arti pasti terjadi. [Ad Du’a wa Manzilatuhu min al Aqidah al Islamiyah]

"Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” [QS. Ghaafir: 60]

Mengapa kita bergantung kepada diri kita dan orang-orang di sekitar kita? Mengapa kita melemahkan hubungan kepada Allah? Allah Swt. berkata, artinya:
“Katakanlah: "Tuhanku tidak mengindahkan kalian, melainkan kalau ada do’a kalian.” [QS. Al Furqaan: 77]

Ketahuilah wahai mereka yang tertimpa kesedihan! Sungguh tidak ada kebahagiaan, kemenangan dan kesembuhan kecuali lewat tangan Allah. Karena di tangan-Nya tergenggam segala urusan yang telah lampau dan yang akan datang. Hati tidak akan tenang dan tenteram kepada selain Allah. Allah telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdo’a kepada-Nya dan Dia berjanji akan mengabulkannya, sebagai bentuk kemurahan, anugerah dan kebaikan dari-Nya? Allah Swt. berkata, artinya:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku.” [QS. Al Baqarah: 186]

Dalam ayat yang lain Allah berfirman, artinya:
“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” [QS. Al Furqaan: 60]

Janji dari Allah ini tidak akan berubah. Allah berkata, artinya: “Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” [QS. Ar Ra`d: 31]

Keyakinan bahwa Allah tidak akan menyalahi janji-Nya adalah akidah bagi semua orang yang beriman kepada-Nya. Inilah yang dituntut oleh nash-nash sebagaimana menjadi tuntunan fitrah yang lurus, akal yang terang dan tradisi yang berlaku bagi orang-orang yang mulia.

Saudaraku seiman! Wahai mereka yang tertimpa musibah atau kesedihan! Menghadaplah kepada Allah dengan hati dan jiwamu! Angkatlah kedua tanganmu ke atas dan ucapkan, “Wahai penjawab semua do’a!”

Bergantunglah kepada Allah semata, menangislah kepada-Nya, mintalah kepada-Nya dan mohonlah kepada keluasan rahmat-Nya. Memperbanyak do’a kepada Allah dan senantiasa menghadap kepada-Nya akan menambah dan menguatkan keimanan, menghidupkan fitrah, menghaluskan dan membersihkannya dari hal-hal yang mengotorinya serta menjadikan hati selalu ingat kepada Allah dan cinta kepada-Nya dengan harap-harap cemas. Demikian pula do’a akan membuka pintu kenikmatan bermunajat, merasakan manisnya iman, menanamkan keyakinan, menenangkan hati serta menenteramkan jiwa.

Sebagian ulama berkata, “Jadilah seperti anak kecil, jika dia meminta sesuatu kepada orang tuanya, namun orang tuanya tidak memberikan apa yang diinginkannya, maka dia akan duduk di depan orang tuanya sambil menangis. Jadilah engkau seperti anak kecil! Apabila engkau meminta kepada Tuhanmu, duduklah sambil menangis di hadapan-Nya.”

Abu Darda ra berkata, artinya: “Sungguh-sungguhlah dalam berdo’a! Karena sesungguhnya orang yang sering mengetuk pintu, akan dibukakan pintu untuknya.” [HR. Ibnu Abi Syaibah, dalam Mushannafnya, (9224)]

Apabila engkau didzalimi, maka berusahalah sesuai tuntunan syariat Islam dan yakinlah bahwa Allah akan menolongmu cepat atau lambat, insya Allah. Karena do’a orang teraniaya pasti dikabulkan. Tenanglah saudaraku! Karena Nabi Muhammad Saw. telah berkata kepada Mu’adz ketika beliau mengutusnya ke Yaman untuk menjadi pejabat pemerintahan untuk wilayah Yaman, “Hati-hatilah terhadap do’a orang yang teraniaya! Karena tidak ada penghalang antara do’a orang yang teraniaya dengan Allah.” [HR. Ibnu Abi Syaibah, dalam Mushannafnya, (9224)]

Sabda Rasulullah Saw. yang lain, artinya:
Hindarilah do’a orang yang teraniaya! Karena do’a mereka naik ke langit seperti pijaran api.” [HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya (361)]

Mengadu kepada Allah akan memberikan kekuatan dan kebahagiaan dalam dirimu. Sedangkan mengadu kepada manusia dan mengharapkan apa yang mereka miliki tidak lain hanyalah kelemahan, kehinaan dan kerendahan. Abdullah Ibnu Mas’ud ra. berkata, “Rasulullah Saw. bersabda, artinya:
Barangsiapa menghadapi suatu kebutuhan, lalu dia mengadukannya kepada manusia, maka kebutuhannya tidak akan terpenuhi. Sedangkan barangsiapa yang menghadapi kebutuhan, lalu dia mengadukannya kepada Allah, maka Allah akan memberikan rezeki kepadanya cepat atau lambat.’” [HR. Abu Dawaud dan Al Hakim dalam bukumnya Al Mustadrak. At Tirmidzi berkata, “Hadits hasan, shahih, gharib.”]

Bukankah mengadu kepada Allah, merendahkan diri, menampakkan rasa butuh kepada-Nya, merupakan tanda kekuatan iman dan bukankah ini salah satu dasar tauhid?

Wahai saudaraku seiman! Sesungguhnya Allah sangat senang jika diminta dan sangat membenci kepada orang yang tidak meminta kepada-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw., artinya:
Siapa saja yang tidak meminta kepada Allah, niscaya Dia marah kepadanya.” [HR. At Tirmidzi dan Al Hakim dalam Al Mustadrak, (1/ 491). Ibnu Majah meriwayatkan dalam keutamaan do’a (3872)]

Abu Umamah ra. berkata, “Rasulullah Saw. bersabda, artinya: “Sesungguhnya Allah Swt. memiliki malaikat yang ditugasi menjaga kalimat: “Ya Arhama Ar Rahimin” (Wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara para pengasih), barangsiapa yang mengucapkannya tiga kali, maka malaikat tersebut berkata kepada orang yang mengucapkannya, ‘Sesungguhnya Dzat Yang Maha Pengasih di antara para pengasih telah menerimamu, maka mintalah sesuatu kepada-Nya.” [HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak, (1/544) dia menshahihkan hadits ini]

Sesungguhnya Allah menghendaki hamba-hamba-Nya agar butuh kepada-Nya dan menghendaki mereka agar meminta dan mengharapkan-Nya. Dia mencintai orang yang bersungguh-sungguh dalam do’anya.

Rasulullah Saw. bersabda, artinya: “Mintalah kebaikan selama hidupmu dan carilah limpahan rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah mempunyai limpahan rahmat yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. Mintalah kepada Allah, supaya menutup aibmu dan menenteramkan ketakutanmu.” [HR. Ath Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir (720), Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa` (3/162), Al Baghawi dalam Syarhu As Sunnah (5/179) dan Al Qadhi Iyadh dalam Musnad Asy Syihab (1/427)]

Janganlah dosa dan banyaknya kesalahan yang engkau ketahui dalam dirimu, menghalangimu untuk berdo’a.

Tidak seharusnya engkau meninggalkan do’a karena takut ditolak, akan tetapi berdo’alah dengan penuh pengharapan dan berbaik sangka kepada Allah Swt., karena Dia menjawab do’amu dengan kemurahan dan kemuliaan-Nya.

Pada suatu hari seorang laki-laki datang menemui Rasulullah Saw. sambil berkata, “Celakalah diriku disebabkan dosa-dosa yang telah aku lakukan.” Dia mengucapkannya dua atau tiga kali, maka Rasulullah Saw. berkata kepadanya,
Ucapkanlah do’a ini, ‘Ya, Allah! Ampunan-Mu lebih luas daripada dosa-dosaku dan rahmat-Mu lebih bisa diharapkan daripada amal perbuatanku.’” Laki-laki itu mengucapkan do’a yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Kemudian Rasulullah Saw. berkata kepadanya, “Ulangilah!” Maka orang itu mengulanginya. Rasulullah Saw. berkata kepadanya, “Ulangi sekali lagi!” Maka orang itu mengulanginya. Kemudian Rasulullah Saw. berkata, “Bangunlah! Karena Allah telah mengampuni dosamu.” [Al Hakim dalam Al Mustadrak, (1/543)]

Wahai, engkau yang sakit! Mintalah kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa, supaya memberi kesembuhan kepadamu secepatnya dan menyelamatkanmu dari segala penyakit dan kesulitan. Aku ingin bertanya kepadamu: “Pernahkah kamu bertanya, mengapa Allah mencobamu dengan penyakit dan musibah ini?” Barangkali untuk kebaikan-kebaikan yang tidak engkau ketahui, namun Allah mengetahuinya. Pernahkah terlintas dalam pikiranmu bahwa Allah mencobamu dengan penyakit ini agar Dia bisa mendengar suaramu ketika kamu berdo’a, meminta kepada-Nya. Dia ingin melihat kebutuhanmu, kelemahanmu, kerendahanmu dan kekhusyu’anmu dihadapan-Nya?! Maha Suci Allah yang telah memunculkan do’a dengan musibah dan memunculkan syukur dengan kesempitan.

Wahai, orang yang sakit! Jauhilah prasangka buruk kepada Allah, jika penyakitmu tidak sembuh-sembuh. Jangan menyangka bahwa Allah tidak menginginkan kesembuhan atau keselamatan bagimu atau menyangka Dia ingin mendzalimi dirimu. Jangan sampai engkau berpikiran seperti itu! Pergunakanlah baik-sangka kepada Allah untuk menghilangkan musibah yang menimpa dirimu. Rasulullah Saw. bersabda, artinya:
Sesungguhnya Allah Swt. berkata, ‘Aku berada dalam persangkaan baik hamba-Ku kepada-Ku. Jika dia menyangka dengan kebaikan, maka dia akan mendapatkan kebaikan. Apabila dia menyangka kejelekan, maka dia mendapatkan kejelekan yang dia sangkakan.’” [HR. Imam Ahmad dengan sanad shahih]

Jika engkau berbaik sangka kepada Allah, niscaya engkau akan dapatkan kebaikan. Seorang muslim harus tahu bahwa semua yang telah ditentukan oleh Allah kepadanya adalah kebaikan untuknya selama hamba itu tidak bermaksiat. Karena pengaturan Allah kepada hamba-Nya lebih baik daripada pengaturan hamba terhadap dirinya sendiri. Dia lebih tahu kemaslahatan hamba-Nya daripada hamba itu sendiri dan lebih mampu mendatangkan manfaat daripada hamba itu sendiri. Dia lebih bijak, lebih sayang lebih baik kepada hamba daripada hamba terhadap dirinya sendiri. Tundukkanlah dirimu di hadapan-Nya dan serahkan segala urusan kepada-Nya! Bersujudlah di hadirat-Nya, seperti sujudnya seorang budak yang lemah di hadapan raja yang agung nan perkasa. Ketika itulah hatimu akan tenang dan tenteram serta dijauhkan dari kesedihan, kedukaan dan nestapa.

Manusia apabila dalam keadaan lapang dan sehat, sering melupakan Tuhannya, melarikan diri dan mendurhakai-Nya. Apabila dia tertimpa musibah dan kesulitan, maka fitrahnya dan perasaannya bergerak menuju kepada Tuhan serta melupakan apa yang terjadi sebelumnya. Di sini dia meyakini, bahwa sesungguhnya tidak ada penyelamat selain Tuhan. Akhirnya tabir terbuka, kedukaan hilang dan syak wasangka lenyap. Lalu dia menjatuhkan dirinya dihadapan-Nya dengan rasa lemah, hina sambil memuji, tadharru’ dan menangis. Menyerahkan segala urusan dan bergantung kepada Allah, Pembuka kedukaan, Penjawab orang yang membutuhkan, Penolong orang yang minta tolong, Penyelamat orang yang tertimpa bencana, Penguat orang yang lemah, Penyelamat orang yang tenggelam dan Pendengar bisikan. [Ad Du’a wa Manzilatuhu min al Aqidah al Islamiyah]

Namun yang aneh dan mengherankan, bahwa ada orang apabila ditimpa penyakit dia menempuh semua jalan duniawi untuk mengobati penyakitnya, seperti pergi ke dokter, membeli obat namun tidak berdo’a pada Yang Maha Kuasa. Tidakkah dia tahu bahwa tidak ada kesembuhan, melainkan melalui kekuasaan Allah? “Apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku.” [QS. Asy Syu’araa`: 80]

Saudaraku seislam! Benar, engkau bisa menempuh semua sebab-sebab duniawi, namun semuanya tidak ada pengaruhnya, jika Allah tidak menolongmu dan membukakan pintu taufik-Nya kepadamu.

Aduhai sengsaranya orang-orang yang mendurhakai  dan melanggar larangan-larangan Allah. Ayat-ayat Al Qur’an telah menyebutkan bahwa do’a menjadi sebab diangkatnya bencana dan musibah dan menjadi penghalang dari siksa dan kebinasaan. Sedangkan meninggalkan do’a menjadi sebab turunnya siksa dan bencana. Do’a amat jelas pengaruhnya dalam mencegah turunnya siksa dan bencana, begitu pula sebaliknya. Allah Swt. berfirman, artinya:
“Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepada kalian atau datang kepada kalian hari Kiamat.” [QS. Al An’aam: 40] Sampai dengan firman-Nya dalam ayat selanjutnya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan menimpakan kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon kepada Allah dengan tunduk dan merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” [QS. Al An’aam: 42-43]

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat ini, “bil ba`saa`,” artinya kemiskinan dan kesempitan dalam mencari nafkah, sedangkan “adh-dharra`,” maksudnya adalah segala macam bentuk penyakit, jadi dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia menimpakan kemiskinan dan juga penyakit kepada manusia. “La’allahum yatadharra’un,” maksudnya supaya mereka meminta kepada Allah dengan tunduk dan merendahkan diri. “Fa laula idz ja ahum ba`suna tadharra’uu,” maksudnya maka mengapa mereka tidak memohon kepada Allah dengan tunduk dan merendahkan diri, ketika datang siksaan Kami. [Tafsir Ibnu Katsir]

Ini artinya jika mereka berdo’a dan bertakwa mengikuti syariat dari Allah Swt., niscaya akan diangkat bencana dari mereka, sebagaimana terjadi pada kaum Yunus, namun mereka tidak berdo’a kepada Allah dan tidak tunduk sambil merendahkan diri kepada-Nya, sehingga bencana menimpa mereka. Keterangan ini sangat jelas, mengenai pengaruh do’a dalam menghilangkan bencana dan musibah. Sebagaimana dijelaskan dalam perkataan Allah dalam permulaan ayat ini, artinya:
“Maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdo'a kepadaNya, jika Dia menghendaki.” [QS. Al An’aam: 41]

Di sini sangat jelas bahwa do’a adalah sebab untuk menghilangkan musibah. Huruf “fa’” dalam ayat ini adalah “fa’” yang menunjukkan arti sebab. Hal ini seperti ayat yang telah lalu, yaitu,
“Katakanlah: "Tuhanku tidak mengindahkan kalian, melainkan kalau ada do’a kalian. Tetapi bagaimana kalian berdo’a kepada-Nya, padahal kalian sungguh telah mendustakan-Nya? karena itu kelak azab pasti menimpa kalian.” [QS. Al Furqaan: 77]
Huruf “fa`” dalam ayat ini menjelaskan penafsiran do’a, bahwa Allah tidak mengindahkan hamba-hamba-Nya, melainkan kalau ada do’a mereka kepada-Nya. Maka hal ini menunjukkan bahwa do’a memiliki pengaruh yang besar. [Ad Du’a wa Manzilatuhu min Al Aqidah Al Islamiyah]

KEISTIMEWAAN DO’A

DOWNLOAD BUKU: PENJAWAB SEMUA DO’A

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda