Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Selasa, 06 Maret 2012

Hukum Syariat Mata Uang Emas Dan Perak – Mata Uang Dalam Khilafah

Hukum Syariat Mata Uang Emas Dan Perak – Mata Uang Dalam Khilafah



ARGUMEN ISLAM

Satu-satunya sistem pemerintahan yang dengan tegas memerintahkan Standar Emas adalah perekonomian Islam yang diterapkan oleh Negara Islam (Khilafah). Dalam Islam, standar dua logam dengan emas dan perak diterapkan. Tidak ada uang Fiat yang akan diterbitkan oleh negara, dan mata uang kertas apapun harus didasarkan 100% pada emas/perak riil. Fitur utama pengaturan mata uang negara Islam adalah berikut ini:

1. Negara menjaga standar dua logam (emas dan perak) (sebagaimana ditetapkan dalam teks Islam - Qur'an dan Hadits Nabi Saw.)

2. Negara tidak akan menerbitkan mata uang apapun yang tidak 100% didasarkan pada emas dan perak riil. Perbankan dengan cadangan emas/perak riil parsial tidak akan diterapkan dan tidak dibolehkan.

3. Para warga bisa memiliki dan menggunakan mata uang Fiat dari negara manapun, tapi mata uang resmi Negara adalah emas dan perak.

4. Semua bunga (riba) adalah dilarang; maka penciptaan kredit melebihi sumberdaya yang ada adalah ditiadakan.

5. Penciptaan kredit berbunga oleh bank-bank termasuk oleh Simpanan Negara (Baitul Mal) adalah dilarang.

Emas dan perak adalah media pertukaran ideal; keduanya memiliki nilai intrinsik (termasuk yang untuk perhiasan dan industri), tersedia luas, tidak bisa didominasi (dimonopoli) dan terdapat suplai regular yang berkembang untuk memenuhi pertumbuhan perekonomian. Peningkatan tahunan suplai emas selama banyak generasi adalah sekitar 2%.

Sementara hukum Syari'ah tidak melarang pemilikan mata uang lain (bukan emas atau perak), negara Islam tidak akan mengoperasikan standar mata uang lain, dan sistem berbasis Fiat di mana mata uang tidak didasarkan pada aset apapun adalah dilarang. Islam menetapkan semua aturan terkait mata uang, dengan emas dan perak dalam kapasitasnya sebagai media pertukaran untuk semua barang dan jasa dan sebagai mata uang pertukaran, sebagai koin maupun bijih logam. Tidak ada pembatasan kepemilikan emas dan perak dan tidak ada nilai tukar tetap antara keduanya. Elemen kunci kesuksesan sistem mata uang Islam adalah aturan-aturan Islam yang melarang penimbunan kekayaan.

"Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih" [Terjemah Makna Qur'an Surat (9) At-taubah:34]

Perintah hukum ini bersama dengan sistem zakat yang berfokus pada kekayaan mampu mendorong sirkulasi kekayaan dan investasi, berbeda dengan pajak penghasilan. Ketika kekayaan tidak ditimbun atau tidak dibiarkan saja dalam sistem perbankan yang sempit (yang berfluktuasi dalam kebijakan kredit seiring fluktuasi siklus bisnis), dampaknya adalah kecepatan investasi yang besar di seluruh sektor perekonomian.

Dalam sebuah Hadits Qudsi (diriwayatkan oleh Nawawi) Nabi Saw. bersabda bahwa Allah Swt. berfirman: "Nafkahkanlah hai anak Adam, dan Aku akan memberimu rizki."

Kombinasi antara melarang bank bertransaksi dengan bunga (riba), dan melarangnya bertindak sebagai satu-satunya perantara dalam mengendalikan pasar uang secara efektif, bersama dengan dorongan untuk investasi (zakat diambil dari aset yang tak digunakan, bersama dengan pelarangan penimbunan) berarti bahwa masyarakat Islam mendapat keuntungan dari investasi tinggi yang konsisten. Tiadanya insentif untuk mengambil kekayaan keluar dari sirkulasi telah secara konsisten diterapkan selama ratusan tahun dan secara masif melembutkan dampak kemerosotan bisnis, yang biasanya dihasilkan dari musibah alami seperti bencana iklim. Krisis likuiditas saat ini pasca krisis finansial 2008 adalah berkait dengan mereka yang mengambil kas dan kekayaannya keluar dari sirkulasi karena tingginya tingkat kerugian yang dialami bank-bank dan penurunan suku bunga kredit yang telah mengakibatkan pengurangan masif pembelanjaan.

Sistem mata uang Fiat ada dibawah pengaruh sistem perbankan yang akan menentukan aliran uang beredar menurut estimasi mereka terhadap permintaan dan risiko. Di masa-masa kebutuhan terbesar terhadap investasi dan utang, kita telah sering melihat bank-bank berada dalam periode pengurangan kredit dan oleh karenanya kas yang tersedia terbatasi. Sebaliknya, Islam menyediakan lingkungan non-bunga konsisten di mana tidak ada insentif untuk mengambil uang keluar dari sirkulasi.

"supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu" [Terjemah Makna Qur'an Surat (59) Al-Hasyr:7]

Sistem Islam menyediakan model yang mendorong investasi, dan tidak ada bukti untuk mengatakan bahwa sistem ekonomi Islam tidak mendorong investasi. Sesungguhnya Islam mendorong bisnis dan investasi, tapi tidak mendorong investasi berbasis-bunga (riba), yang akhirnya membatasi arus kekayaan di seantero perekonomian. Allah Swt. membedakan di antara hal ini ketika Dia berfirman: "...mereka berkata, "sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba" padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba" [Terjemah Makna Qur'an Surat (2) Al-Baqarah:275]

Kestabilan perekonomian dibangun atas investasi yang hanya dalam produk riil atau bisnis yang menghasilkan kekayaan sebagai hasil dari bekerja dan keuntungan, bukannya keuntungan bunga dari utang. Sistem mata uang juga menunjukkan hal ini bahwa uang (emas dan perak) adalah benda (tangible) dan riil.

Hukum Syariat Mata Uang Emas Dan Perak – Mata Uang Dalam Khilafah

Senin, 05 Maret 2012

Syarat-Syarat Mata Uang – Mata Uang Emas Dan Perak Adalah Media Pertukaran Terbaik

Syarat-Syarat Mata Uang – Mata Uang Emas Dan Perak Adalah Media Pertukaran Terbaik



KESIMPULAN

"Kita punya di tahap ini suatu uang Fiat yang pada dasarnya uang yang dicetak oleh suatu pemerintah dan itu biasanya oleh suatu bank sentral yang diberi wewenang untuk melakukannya. Beberapa mekanisme harus berjalan untuk membatasi jumlah uang yang diproduksi, standar emas maupun mata uang fiat, karena jika tidak kamu lakukan semua itu, sejarah telah menunjukkan bahwa inflasi akan menimpa dengan efek-efek yang sangat berbahaya terhadap aktivitas ekonomi... Terdapat beberapa dari kita, termasuk diriku sendiri, yang secara kuat meyakini bahwa kita berjalan dengan baik di periode 1870 hingga 1914 dengan standar emas internasional." [Alan Greenspan - Oktober 2007]

10 Argumen yang ditampilkan dalam paper ini ditunjukkan sebagai penghalang utama bagi kembalinya Standar Emas dengan sukses. Sementara kita percaya bahwa argumen-argumen itu tidak sekuat sebagaimana sering ditampilkan dan didukung, argumen-argumen utama untuk Standar Emas juga harus dibuat, dan berhak untuk memberi argumen kuat bagi perubahan radikal yang dibutuhkan.

Ketika para pemerintah dan bank-bank utama punya hak tanpa halangan untuk mencetak uang, malangnya hasilnya selalu sama - peningkatan suplai uang signifikan dan akhirnya inflasi tinggi. Fakta ini adalah argumen terkuat yang mendukung mata uang berbasis aset kuat. Sebagaimana George Bernard Shaw di 1928 menulis:

"Hal paling penting tentang uang adalah menjaga kestabilannya...Kamu harus memilih antara mempercayai kestabilan alami emas dan kejujuran dan intelijensi para anggota pemerintah. Dengan tetap menghormati para bapak yang terhormat itu, aku menasihatimu, selama sistem kapitalis masih bisa hidup, pilihlah emas."

Paper ini adalah tentang uang, khususnya kestabilan uang. Ini perlu dinyatakan sebagai pengingat apa sebenarnya uang itu. Sebagai medium pertukaran ia berfungsi untuk memfasilitasi perdagangan, menyediakan kestabilan dalam transaksi dan tidak bertindak sebagai penghalang bagi berfungsinya perekonomian - suatu tuduhan yang terlalu sering muncul terhadap uang kertas Fiat, khususnya dengan hantu inflasi akibat suplai uang.

Ringkasan berikut ini oleh Richard Russell menunjukkan persyaratan utama medium pertukaran yang harus diharap oleh masyarakat manapun.

Uang yang baik harus punya sejumlah karakteristik unik.

(1) Ia harus awet, itulah mengapa kita tidak menggunakan gandum atau jagung.

(2) Ia harus bisa dibagi, itulah mengapa kita tidak menggunakan lukisan Picasso atau patung giok.

(3) Ia harus mudah, itulah mengapa kita tidak menggunakan timah atau tembaga atau real estate.

(4) Ia harus punya nilai dalam dirinya sendiri, itulah mengapa kita tidak menggunakan kertas.

(5) Ia harus bisa dipindahkan, yang artinya bahwa nilai yang besar harus menempati area yang kecil (koin emas berbobot hanya satu ons bisa bernilai lebih dari lima belas ribu dollar).

(6) Ia harus memiliki sejarah panjang sebagai uang yang diakui dan diterima untuk menyimpan nilai. Emas dianggap berharga sejak 5000 tahun yang lalu di zaman Mesir.

(7) Ia tidak bisa "menghilang" atau habis digunakan dalam produksi seperti tembaga atau bahkan perak. Jadi, koin emas yang kamu punya di tanganmu mungkin tadinya adalah antingnya Cleopatra berabad lalu. Hampir semua emas yang pernah ditemukan masih tersedia dalam satu bentuk atau yang lain.

(8) Ia harus bukan suatu hutang bagi negara berdaulat manapun, tidak juga ia membutuhkan hukum pemerintah untuk menetapkannya sebagai uang. Sebagai contoh, Emas membutuhkan kapital, bakat, risiko, keringat dan keberanian untuk didapatkan kembali atau diakumulasi.

Catatan - Adalah mungkin bahwa berlian kualitas-batu mulia bisa sesuai dengan semua karakteristik di atas tapi berlian tidaklah bisa dibagi, tidak juga mereka punya sejarah panjang sebagai penyimpan nilai. [8]

Sebagai media pertukaran, emas diakui dan diterima secara universal untuk alasan-alasan di atas, namun para pemerintah punya satu alasan atau yang lain (seringkali di masa ketidakpercayaan global seperti Perang Dunia I) untuk menghentikan penggunaan emas dan menuju sempitnya mata uang kertas nasional. Sedikit demi sedikit seiring waktu negara-negara telah menerima mata uang kertas Fiat yang basis emasnya telah disingkirkan, memungkinkan sistem perbankan untuk mencetak dollar, pound, yen dan lain-lain sesuka mereka.

Sejak tahun 2007 terjadi peningkatan pelan tapi signifikan dalam basis uang AS, diikuti dengan peningkatan tajam beriringan dengan krisis finansial 2008 - yang belum juga dibereskan. Bukanlah suatu kejutan bahwa dollar AS telah turun nilainya sebanyak 3000% dibandingkan dengan emas selama rentang waktu dari 1971 ketika Nixon secara unilateral mendeklarasikan berakhirnya Standar Emas Bretton Woods.

"Dalam ketiadaan standar emas, tidak terdapat cara untuk melindungi simpanan dari pencaplokan melalui inflasi.... Ini adalah rahasia bobrok dari para pencemooh terhadap emas. Pembelanjaan defisit hanyalah suatu skema untuk pencaplokan kekayaan. Emas menjadi halangan bagi proses licik ini. Ia berdiri sebagai pelindung hak-hak properti. Jika seseorang memahami ini, dia tidak kesulitan dalam memahami antagonisme para pencemooh terhadap standar emas." [Alan Greenspan, 1971]

Syarat-Syarat Mata Uang – Mata Uang Emas Dan Perak Adalah Media Pertukaran Terbaik

Sabtu, 03 Maret 2012

Mata Uang Emas Dan Perak Bisa Kembali Mendominasi Dunia

Mata Uang Emas Dan Perak Bisa Kembali Mendominasi Dunia



Argumen 10: Masalah Penerapan

Argumen 10: Standar emas dan perak menderita kecenderungan untuk menurun nilainya dengan melakukan debasement (mencampur mata uang emas dengan logam lain sehingga nilai uang tidak sama dengan nilai logam riilnya) untuk menghasilkan likuiditas. Hal ini tidak hanya menghasilkan inflasi tapi juga mendorong uang yang baik keluar dari suplai - suatu konsep yang secara umum dikenal sebagai hukum Gresham.

Bantahan: Islam tidak membolehkan debasement mata uang untuk mengamankan nilai mata uang. Teknologi modern memungkinkan memproduksi uang kertas bercadangan emas/perak, yang mengatasi masalah ini. Berkebalikan dengan hukum Gresham, mata uang yang kuat akan segera menjadi media pertukaran yang dipilih, sehingga standar emas segera melanjutkan posisinya di dunia.

Hukum Gresham secara umum dinyatakan sebagai "uang yang jelek menggusur uang yang baik." Pernyataan ini memerlukan beberapa klarifikasi karena ia telah digunakan melampaui makna aslinya. Pernyataan yang lebih tepat sesungguhnya menunjukkan kebalikannya, yaitu mata uang yang kuat menggusur yang lebih lemah. Sepanjang sejarah, mata uang yang lebih kuat selalu mendominasi yang lain, sebagai contoh Daric Persia, Tetradrachma Yunani, Stater Macedonia, Denarius Romawi, Dinar Islam, Florins/Ducats Italia, Pound Sterling dan Dollar AS. Logam mulia menang atas yang lain karena mereka lebih "mahal" dan efisien daripada instrumen lain dalam memenuhi persyaratan fungsi uang.

Penerapan fenomena hukum Gresham yang tepat adalah berkait dengan debasement, yaitu uang jelek akan menggusur uang baik jika mereka dapat dipertukarkan pada harga yang sama. Ini adalah teori sederhana perilaku ekonomi rasional, ketika diberi pilihan dalam transaksi ekonomi, orang akan menggunakan komoditas (logam) yang lebih murah daripada yang lebih mahal. Kecenderungan bagi koin yang baik untuk menghilang akan terjadi jika pemerintah menerbitkan koin berlogam lebih murah atau lebih ringan.

Negara Islam dahulunya juga menghadapi masalah yang mirip. Ibnu Taimiyah mengkritik penggunaan mata uang logam murah oleh para sultan Mamluk di Mesir, yang mengakibatkan keluarnya uang yang baik ke luar negeri. Mahmud II juga dilaporkan berulang kali melakukan penerbitan mata uang logam murah untuk menghasilkan pendapatan tambahan untuk simpanan negara. Debasement skala besar semacam itu juga menghasilkan inflasi. Beberapa pihak lain juga melaporkan fenomena yang mirip mengenai uang jelek menggusur uang baik, tapi bercampur perkara tidak efektifnya pencetakan uang dan rasio dari logam yang ada di pasaran.

Namun, depresiasi bisa terjadi karena penggunaan umum (menjadi aus), pemotongan dan pemalsuan. Ini bisa dijadikan kritik jika uang yang digunakan adalah logam itu sendiri. Namun, adalah umum ditemukan suplai uang terdiri dari koin baru dan yang telah terpakai (hingga berselisih berabad-abad), semuanya diterima menurut nilai tertulisnya. Perkara yang penting adalah apakah uang diterbitkan berlebih. Dengan kata lain, jika uang jelek tidak cukup untuk memenuhi total permintaan uang, beberapa uang "baik" akan tetap ada untuk membantu. Ini mirip dengan kondisi memiliki mesin berbeda usia, orang berbeda kemampuan dan kertas berbeda kualitas (untuk mencetak uang) yang berjalan bersama pada harga atau nilai yang sama.

Lebih jauh dalam hal ini, kita bisa mengeksplorasi penggantian emas dengan instrumen wakilnya seperti kertas. Uang kertas baru akan menggusur koin yang sama nilainya. John Stuart Mill menganalisis penggantian semacam itu dan menyimpulkan kondisi di mana sistemnya jadi rusak - "Penggunaan kertas yang mewakili mata uang logam adalah keuntungan nasional: peningkatan uang kertas yang melampaui ini adalah suatu bentuk perampokan." Oleh karena itu, tidaklah benar bahwa uang baik dan uang buruk tidak bisa beredar bersama atau uang baik dengan uang premium.

Dari diskusi di atas, beberapa poin berikut ini menjadi jelas:

- Ketika standar emas diterapkan, ia akan segera diadopsi - menggusur uang jelek dari peredaran.

- Ketika mata uang kertas/koin diterbitkan melebihi cadangan logam riil, akan mengakibatkan debasement. Ketika mereka bisa dipertukarkan pada harga yang sama, berlakulah hukum Gresham, dan uang baik akan tergusur dari peredaran.

- Uang kertas atau elektronik bisa digunakan mewakili cadangan dua-logam dengan jumlah yang sama, yang oleh karenanya meniadakan masalah debasement.

- Selama periode transisi, seperti ketika suplai uang ditingkatkan atau diganti, perhatian cermat harus dilakukan terhadap implikasi hukum Gresham.

- Insiden debasement dalam sejarah adalah kejadian tidak sengaja atau melanggar hukum Islam, dan terjadi sebagai episode abnormal selama periode Khilafah.

- Kritik mengenai debasement muncul di hadapan perkara quantitative easing yang merupakan fitur sistem moneter Fiat.

- Debasement tidak dibolehkan dalam Islam, dan ini akan menjadi standar bagi keamanan nilai moneter global.

Mata Uang Emas Dan Perak Bisa Kembali Mendominasi Dunia

Jumat, 02 Maret 2012

Bagaimana Kembali ke Mata Uang Emas Dan Perak – Mengembalikan Mata Uang Standar Emas

Bagaimana Kembali ke Mata Uang Emas Dan Perak – Mengembalikan Mata Uang Standar Emas



Argumen 9: Masalah Perpindahan

Argumen 9: Perpindahan ke Standar Emas dipandang sebagai tugas yang terlalu berat. Penggunaan Standar Emas dikatakan akan mengganggu pasar finansial, menyebabkan kekacauan dan kegoncangan pada perekonomian.

Bantahan: Ketika kita mempertimbangkan bahwa Standar Emas adalah sistem kestabilan tanpa efek-efek besar gejolak siklus, independen dari manipulasi pemerintah, tanpa masalah inflasi nilai, debasement mata uang (mencampur mata uang emas dengan logam lain sehingga nilai uang tidak sama dengan nilai logam riilnya), krisis internasional dan krisis neraca pembayaran jangka panjang - maka kita berpikir mengapa menjadi tugas yang sulit untuk menegakkan Standar Emas, ketika keunggulannya sangatlah nyata mantap.

Berpindah ke Standar Emas, di mata banyak orang dipandang sebagai tugas tak tertanggung - yang akan melibatkan meyakinkan banyak pihak, mengubah opini publik dan juga mendapatkan kepercayaan penerapannya. Penggunaan Standar Emas dikatakan akan mengganggu pasar finansial, menyebabkan kekacauan dan keguncangan pada perekonomian.

Para ekonom popular Barat terbiasa mengkritik 'para penyederhana yang buruk' yang merusak segala sesuatu dengan menimpakan skema-skema simplistik dan keliru. Namun demikian, masalah utama kita adalah kebalikannya; yaitu penciptaan mistik oleh para Kapitalis dan elit teknokrat penguasa, yang ketika seruan kepada Standar Emas dimunculkan, mengkritik secara sarkastik massa yang bodoh yang dianggap 'mencari solusi sederhana bagi masalah rumit'.

Dalam kebanyakan kasus, solusinya memang jelas dan sederhana, tapi secara sengaja itu dikaburkan oleh orang-orang yang bisa kita sebut 'para perumit yang buruk'. Kenyataannya, mengembalikan Standar Emas adalah relatif mengena dan simpel. Ini adalah kebalikan dari uang Fiat yang dikendalikan pemerintah, dengan pasukan ekonomnya yang menyebabkan komplikasi konstan yang menyebabkan keguncangan pada perekonomian kita, yang harus dipandang dengan hina dan diminta pertanggungjawaban karena telah menggiring kita ke jalan suram.

Kemungkinan alasan bagi kesulitan perpindahan ke Standar Emas seperti ketersediaan emas, pengaturan suplai, pembatasan pertumbuhan, biaya menjaga standar itu dan lain-lain, telah dicakup dalam poin-poin sebelumnya dalam paper ini. Jadi, ketika kita mempertimbangkan bahwa Standar Emas adalah sistem kestabilan tanpa efek-efek besar gejolak siklus, independen dari manipulasi pemerintah, tanpa masalah inflasi nilai, debasement mata uang, krisis internasional dan krisis neraca pembayaran jangka panjang - maka kita berpikir mengapa menjadi tugas yang sulit untuk menegakkan Standar Emas, ketika keunggulannya sangatlah nyata mantap.

Dari sudut pandang kendali pemerintah, adalah menjadi mimpi para kaisar dan raja zaman dahulu untuk meningkatkan penimbunan emas mereka, yang sering mereka lakukan melalui penggunaan campuran logam murah yang akhirnya mengawali kehancuran mereka. Namun, para keturunan zaman modern mereka akhirnya bisa memenuhi harapannya ketika emas sepenuhnya diganti dengan kertas. Para pemerintah bisa belanja secara ngawur dan tak langgeng, seringkali dalam bentuk pembangunan imperium melalui mencetak uang, dengan tahu sepenuhnya bahwa pajak terselubung melalui inflasi lebih tinggi sedang diadakan untuk publik. Mereka juga akan harus bertanggung jawab; mencari kenyamanan karena tahu bahwa setelah habis masa jabatan mereka, efek buruknya baru akan dirasakan.

Mengenai para bankir dan kreditur yang menganggap diri mereka sendiri sebagai 'Para Tuan Semesta' (dipompa melalui bonus jutaan pound), sistem perbankan bercadangan parsial yang dibangun atas pondasi uang Fiat adalah apa yang menyokong mereka. Ketika para pemerintah menciptakan uang, para penerima pertama melalui bank-bank sentral adalah bank-bank komersial. Seiring bank-bank itu meningkatkan uang 'dasar' mereka, maka piramida terbalik pembentukan kredit terbentuk, dengan cepat didistribusikan ke para konsumen yang mencari kredit mudah, dan maka periode 'boom' terbentuk yang akhirnya meletus menjadi 'gelembung' yang kempes yang menghancurkan.

Bagaimana mencapai Kembalinya Standar Emas

Kembalinya Standar Emas memerlukan penghapusan alasan-alasan yang menyebabkan ditinggalkannya Standar Emas dan penghapusan faktor-faktor yang menyebabkan penurunannya.

Ini akan membutuhkan hal-hal berikut:

- Menghentikan pencetakan uang kertas
- Mengembalikan bertransaksi dengan standar emas
- Menghapus cukai/tarif atas emas dan semua batasan terhadap impor dan ekspornya
- Menghapus batasan-batasan atas memiliki, membeli dan menjual emas, dan bertransaksi dengannya dalam kontrak.
- Menghapus batasan-batasan atas pemilikan mata uang utama dunia dan membuat kompetisi bebas di antara mereka sehingga mereka menentukan harga tetap antara satu sama lain dan terhadap emas, tanpa intervensi negara dengan menurunkan atau mengambangkan (floating) kurs mata uang mereka.

Adalah di bawah Franklin D. Roosevelt di 1930-an melalui hukum darurat bahwa kepemilikan emas pribadi dilarang bagi warga AS; ini adalah langkah krusial dalam memastikan bahwa pasar untuk emas tidak bisa beroperasi, karena Fiat tidak bisa bersaing dengan pilihan orang terhadap emas. Kapanpun emas dibiarkan bebas, ia akan punya pasar terbuka dalam waktu singkat, dan oleh karenanya semua mata uang akan menentukan harga tukar konstan terhadap emas. Transaksi internasional dengan emas akan berkembang di mana pembayaran harga-harga barang yang diestimasi dengan emas terjadi.

Jika langkah-langkah itu dilakukan oleh satu Negara kuat, maka kesuksesannya akan mendorong negara-negara lain untuk mengikuti, yang akan menghasilkan kembalinya dunia ke Standar Emas sekali lagi.

Bagaimana Kembali ke Mata Uang Emas Dan Perak – Mengembalikan Mata Uang Standar Emas

Kamis, 01 Maret 2012

Kebijakan-Kebijakan Mata Uang Standar Emas Internasional

Kebijakan-Kebijakan Mata Uang Standar Emas Internasional



Argumen 8: Ketidakseimbangan Global

Argumen 8: Standar Emas menderita kecacatan struktural jika diterapkan secara internasional. Kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh negara-negara bisa memiliki dampak bias terhadap perekonomian negara-negara lain. Meninggalkan standar pertukaran emas selama periode perang adalah bukti untuk masalah ini.

Bantahan: Dari pemeriksaan terhadap standar pertukaran emas di Barat, adalah jelas bahwa ia tidaklah seluruhnya berdasar emas/perak dan juga tidak diterapkan dengan disiplin dan prioritas yang benar. Islam mewajibkan sistem emas/perak penuh, yang penerapannya secara disiplin memungkinkan penyesuaian neraca pembayaran tanpa intervensi bank sentral. Tantangan-tantangan menerapkan sistem pertukaran emas bagi negara yang baru muncul bisa ditangani dengan kebijakan-kebijakan mantap yang dideskripsikan.

Terdapat dua penyebab yang mendasari klaim ketidakseimbangan global:

  1. Ketidakseimbangan dalam respon moneter terhadap aliran emas antara negara-negara surplus dan defisit. Penerapan ideal artinya negara-negara defisit perlu menurunkan suplai uang dan mengalami deflasi, sementara negara-negara surplus akan meningkatkan suplai dan mengalami inflasi. Masalahnya berkaitan dengan kesulitan memberi sanksi untuk mencegah negara-negara surplus dari mensterilkan arus masuk emas dan mengakumulasi cadangan emas, jika tujuan domestiknya menginginkannya.

  1. Persyaratan cadangan emas minimal yang berbeda di antara bank-bank sentral, sehingga ada yang memberi kendali moneter lebih banyak daripada yang lain dalam mengatasi krisis. Dengan cadangan sebagian (tidak cadangan emas 100%), hubungan antara arus emas keluar dan pengurangan suplai uang tidak seimbang; sebagai contoh, dengan 40% persyaratan cadangan emas minimal; dampaknya terhadap suplai uang dari arus emas keluar adalah 2,5 kali dari kerugian eksternal. Berbagai variasi ini di antara negara-negara bisa menyebabkan efek-efek tajam dalam sistem. [8]

Dalam rangka mengatasi masalah ini, kita perlu memahami terlebih dahulu, apa yang dimaksud dengan standar pertukaran emas.

Sistem Standar Emas diharapkan memiliki beberapa fitur dasar seperti kemampuan di mana uang domestik bisa ditukar dengan emas pada harga tetap, kebebasan bagi impor/ekspor emas oleh pribadi dan aturan-aturan mengenai rasio uang beredar terhadap stok emas negara. Standar Emas internasional dikatakan berjalan, ketika sejumlah negara mematuhi prinsip-prinsip ini.

Literatur modern barat biasanya mengutip bahwa sistem Standar Emas beroperasi dalam skala global dari 1880 hingga 1914, di mana sebelumnya kebanyakan mata uang didasarkan pada standar perak. Sebagai contoh, Inggris memelihara Standar Emas, sementara AS dan Perancis berstandar dua-logam.

Adalah penting untuk mencermati ragam cara di mana negara-negara itu menaati sistem Standar Emas. Beberapa negara seperti Inggris memiliki kemampuan pertukaran otomatis dan negara-negara lain seperti Perancis, kemampuan pertukaran bergantung pada pendapat penguasa. Sistem lingkup (cover system - kuantitas mata uang yang dihubungkan dengan cadangan emas) juga diadopsi dalam bermacam cara: fiduciary system yang memungkinkan penguasa menciptakan sejumlah mata uang tanpa cadangan logam mulia sementara sejumlah mata uang yang lain harus sepenuhnya dijamin dengan emas (contoh Inggris); sistem proporsional yang memperlakukan semua mata uang secara sama tapi membolehkan bank sentral untuk menjaga rasio cadangan logam kurang dari 100% (contoh Belanda); kombinasi antara fiduciary dan proporsional (contoh Jerman); dan fleksibilitas dalam membolehkan cadangan logam untuk turun di bawah batas minimum atas pembayaran pajak atau kebijakan menteri keuangan (contoh Perancis).

Negara-negara itu menerapkan Standar Emas karena dipercaya secara luas bahwa ia menyediakan kestabilan harga dan kurs. Kemampuan pertukaran memastikan penjagaan tingkat inflasi dan kestabilan harga yang mendorong spesialisasi domestik dan perencanaan jangka panjang. Dengan kurs stabil, perdagangan internasional bisa dilakukan dengan risiko kerugian kapital minimal; dan bahwa Standar Emas menyediakan hal ini adalah tidak didebat.

Kemampuan pertukaran dihentikan dengan meletusnya Perang Dunia 1, di mana pembelanjaan didanai dengan pencetakan uang kertas, ditambah lagi semangat patriotis yang enggan menukar dengan emas dan kesulitan dalam arus internasional mata uang emas. Berhentinya perang memperlihatkan inflasi yang terus menerus sehingga pemeliharaan cadangan 100% seperti sebelum perang tidak bisa dilakukan, dengan pengecualian AS. Namun terdapat keinginan luas untuk kembali ke Standar Emas. Ketetapan banyak komite dan konvensi tidak mendukung alternatif lain, sehingga Standar Emas tidak hanya diinginkan tetapi esensial bagi kestabilan dan rekonstruksi. Sekitar 50 negara berpartisipasi dengan beragam kapasitas dalam Standar Emas internasional selama tahun-tahun perang. Banyak negara menyetujui kemampuan pertukaran pada kurs yang terdepresiasi, yang lain terpaksa melepas Standar Emas, setelah separuh negara-negara itu kemudian Inggris menyusul melepas Standar Emas.

Ini adalah penjelasan atas kinerja tidak memuaskan yang memunculkan argumen ketidakseimbangan terhadap Standar Emas. Laporan Macmillan 1931 menunjukkan kebanyakan dari ini, khususnya dikontribusi oleh Keynes yang memprediksi kurangnya output dan pekerjaan yang seharusnya dipertukarkan untuk keseimbangan eksternal karena pengembalian Standar Emas.

Juga dikira bahwa kembali ke Standar Emas akan mengakibatkan serbuan mencari emas, yang meningkatkan nilai komoditas emas melalui deflasi kompetitif. Komisi finansial konferensi itu diketuai oleh Robert Horne, Gubernur Harta Negara ketika itu, yang menghasilkan "resolusi mata uang", yang menetapkan ketentuan umum dan proposal-proposal standar pertukaran emas.

Kelemahan serius sistem pertukaran emas adalah variasi tingkat cadangan antarnegara di mana bank-bank sentral bersandar. Ini menunjukkan motif negara-negara selama separuh awal abad lalu untuk mengadopsi standar pertukaran emas dan menaatinya. Meski ada kepentingan umum untuk menghalangi deflasi, mereka tetap cenderung mengabaikan konsekuensi eksternal dari tindakan mereka. Ini mengakibatkan standar pertukaran emas digunakan sebagai perantara praktis oleh negara-negara semacam Perancis, Jerman, Italia dan Polandia. Itu juga dipandang sebagai alat sponsoran Inggris sehingga ia bisa kembali ke cadangan 100% tanpa penyesuaian internal yang diperlukan.

Kompleksitas karena penyimpangan konstan dari kinerja ideal menampilkan gambar kabur untuk analisis. Negara-negara yang umumnya kekurangan disiplin, prioritas yang tidak benar dan mengemban visi global tidak adil adalah mereka yang mempromosikan pendapat negatif terhadap Standar Emas.

Standar Emas/Perak Islam

Islam mengharuskan Standar Emas riil 100%, yang penerapannya dijamin oleh kewajiban konstitusional negara bukannya dari kehendak finansial dan amandemen. Emas dan perak adalah satu-satunya unit pengukur. Adalah jelas dari penjelasan historis di atas bahwa banyak kerugian muncul dari ketidakpatuhan pada Standar Emas, maka menyebabkan banyak fiturnya menjadi terbatas kegunaannya terhadap perekonomian.

Islam menerapkan Standar Emas di mana rasio harga emas dan perak ditentukan oleh mekanisme permintaan dan suplai pasar. Rasionya dibiarkan tidak terbatasi untuk mencegah perbedaan dalam harga tertulis dan harga pasar, yang bisa mengakibatkan penggelapan mata uang yang harganya telah naik dan ditransfer ke pasar eksternal (sebagaimana terjadi pada AS (emas) dan Inggris (perak)). Biaya emas dan perak bergantung pada biaya penambangan dan permintaannya dibanding dengan produk dan jasa. Semua diskusi yang berlaku untuk standar satu-logam juga berlaku untuk standar dua-logam hanya saja basis mata uangnya lebih besar.

Perekonomian global tidak menjadi sasaran peningkatan tiba-tiba dalam peredaran uang. Ketidakmampuan menerbitkan uang tanpa dasar logam mulia menghilangkan inflasi jangka-panjang, yang merupakan fitur konstan standar moneter Fiat.

Standar Emas penuh memungkinkan penyesuaian ketimpangan neraca pembayaran negara tanpa perlu intervensi bank sentral. Penyesuaian harga impor/ekspor dan ketakutan bahwa negara akan kekurangan cadangan emas jika ketimpangan terus berlanjut, dapat membantu memelihara kedisiplinan menerapkan Standar Emas penuh. Ini berkebalikan dengan bagaimana keseimbangan neraca pembayaran diusahakan melalui mencetak mata uang Fiat, yang akhirnya mengganggu keseimbangan.

Karena harga-harga pasar dan spontanitas dalam penyesuaian keseimbangan neraca pembayaran, Standar Emas penuh akan menjaga cadangan emas negara. Ini karena emas dan perak hanya akan pindah untuk membayar produk dan jasa, maka meminimalkan pengawasan.

Penerapan Standar Emas global tidak muncul tanpa tantangan-tantangan, khususnya bagi negara-negara yang menerapkannya di hadapan para adidaya yang memiliki cadangan dan kemampuan lebih besar. Namun demikian, ketika diterapkan dengan baik, tantangan-tantangan itu lebih mudah dikendalikan daripada sistem Fiat atau Standar Emas parsial. Terdapat beberapa pilihan kebijakan yang tersedia bagi negara mengenai masalah ketidakseimbangan dan turunannya, yang termasuk:

a. Program pemenuhan-mandiri dengan mengurangi impor, untuk mencegah kekurangan emas dan perak yang lebih parah.

b. Negara berusaha membayar barang impor dengan barang, bukannya emas dan perak.

c. Transaksi lokal bisa dengan beberapa cara pertukaran, beberapa di antaranya mungkin merupakan sumber model bisnis canggih.

d. Tidak menetapkan rasio harga emas dan perak, untuk mencegah penggelapan logam yang harga tertulisnya lebih rendah daripada harga pasar.

e. Cara bagaimana emas dijaga, di mana deposit harta negara strategis bisa sebagian dipisahkan dari rekening-rekening komersial atau domestik yang membentuk basis cadangan. Ini bisa mengisolasi suplai uang internal dari neraca pembayaran.

f. Netralisasi fluktuasi mata uang global bisa dicapai dengan memiliki cadangan mata uang asing, yang hanya digunakan untuk neraca pembayaran dan impor/ekspor.

g. Dengan basis sumberdaya mentah yang besar di dunia Islam, meminta pembayaran dengan emas dan kemungkinan memberi sanksi adalah pilihan yang mungkin.

h. Dengan posisi geografis strategis dunia Muslim, ini adalah lokasi paling efisien untuk pusat emas.

i. Prospek dunia Islam menjadi pusat emas dibantu oleh fakta bahwa negara menerapkan Standar Emas secara disiplin, menunjukkan kemudahan baginya untuk menjadi mata uang cadangan popular.

j. Konvensi-konvensi internasional akan ditandatangani di mana Standar Emas penuh diberlakukan.

k. Transparansi standar emas dan rasio cadangan emas antar-negara (untuk memungkinkan penyesuaian neraca pembayaran) bisa didorong dengan kemampuan menimpakan pajak cukai yang akan dihitung pada tingkat transparansinya.

l. Akan menjadi usaha strategis prioritas negara untuk membawa dunia kembali ke Standar Emas penuh, dan oleh karenanya mencegah eksploitasi oleh negara yang dominan.

Ketika emas dibiarkan bebas tanpa batasan, suatu pasar terbuka akan terwujud dalam waktu singkat. Semua mata uang internasional akan menentukan harga tukar konstan terhadap emas, dikarenakan tekanan kompetitif. Transaksi internasional dengan emas akan berkembang kapanpun pembayaran harga diestimasi dengan emas, yang akan menjadi penilai yang dipilih.

Kebijakan-Kebijakan Mata Uang Standar Emas Internasional

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam