Kamis, 01 Maret 2012

Kebijakan-Kebijakan Mata Uang Standar Emas Internasional

Kebijakan-Kebijakan Mata Uang Standar Emas Internasional



Argumen 8: Ketidakseimbangan Global

Argumen 8: Standar Emas menderita kecacatan struktural jika diterapkan secara internasional. Kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh negara-negara bisa memiliki dampak bias terhadap perekonomian negara-negara lain. Meninggalkan standar pertukaran emas selama periode perang adalah bukti untuk masalah ini.

Bantahan: Dari pemeriksaan terhadap standar pertukaran emas di Barat, adalah jelas bahwa ia tidaklah seluruhnya berdasar emas/perak dan juga tidak diterapkan dengan disiplin dan prioritas yang benar. Islam mewajibkan sistem emas/perak penuh, yang penerapannya secara disiplin memungkinkan penyesuaian neraca pembayaran tanpa intervensi bank sentral. Tantangan-tantangan menerapkan sistem pertukaran emas bagi negara yang baru muncul bisa ditangani dengan kebijakan-kebijakan mantap yang dideskripsikan.

Terdapat dua penyebab yang mendasari klaim ketidakseimbangan global:

  1. Ketidakseimbangan dalam respon moneter terhadap aliran emas antara negara-negara surplus dan defisit. Penerapan ideal artinya negara-negara defisit perlu menurunkan suplai uang dan mengalami deflasi, sementara negara-negara surplus akan meningkatkan suplai dan mengalami inflasi. Masalahnya berkaitan dengan kesulitan memberi sanksi untuk mencegah negara-negara surplus dari mensterilkan arus masuk emas dan mengakumulasi cadangan emas, jika tujuan domestiknya menginginkannya.

  1. Persyaratan cadangan emas minimal yang berbeda di antara bank-bank sentral, sehingga ada yang memberi kendali moneter lebih banyak daripada yang lain dalam mengatasi krisis. Dengan cadangan sebagian (tidak cadangan emas 100%), hubungan antara arus emas keluar dan pengurangan suplai uang tidak seimbang; sebagai contoh, dengan 40% persyaratan cadangan emas minimal; dampaknya terhadap suplai uang dari arus emas keluar adalah 2,5 kali dari kerugian eksternal. Berbagai variasi ini di antara negara-negara bisa menyebabkan efek-efek tajam dalam sistem. [8]

Dalam rangka mengatasi masalah ini, kita perlu memahami terlebih dahulu, apa yang dimaksud dengan standar pertukaran emas.

Sistem Standar Emas diharapkan memiliki beberapa fitur dasar seperti kemampuan di mana uang domestik bisa ditukar dengan emas pada harga tetap, kebebasan bagi impor/ekspor emas oleh pribadi dan aturan-aturan mengenai rasio uang beredar terhadap stok emas negara. Standar Emas internasional dikatakan berjalan, ketika sejumlah negara mematuhi prinsip-prinsip ini.

Literatur modern barat biasanya mengutip bahwa sistem Standar Emas beroperasi dalam skala global dari 1880 hingga 1914, di mana sebelumnya kebanyakan mata uang didasarkan pada standar perak. Sebagai contoh, Inggris memelihara Standar Emas, sementara AS dan Perancis berstandar dua-logam.

Adalah penting untuk mencermati ragam cara di mana negara-negara itu menaati sistem Standar Emas. Beberapa negara seperti Inggris memiliki kemampuan pertukaran otomatis dan negara-negara lain seperti Perancis, kemampuan pertukaran bergantung pada pendapat penguasa. Sistem lingkup (cover system - kuantitas mata uang yang dihubungkan dengan cadangan emas) juga diadopsi dalam bermacam cara: fiduciary system yang memungkinkan penguasa menciptakan sejumlah mata uang tanpa cadangan logam mulia sementara sejumlah mata uang yang lain harus sepenuhnya dijamin dengan emas (contoh Inggris); sistem proporsional yang memperlakukan semua mata uang secara sama tapi membolehkan bank sentral untuk menjaga rasio cadangan logam kurang dari 100% (contoh Belanda); kombinasi antara fiduciary dan proporsional (contoh Jerman); dan fleksibilitas dalam membolehkan cadangan logam untuk turun di bawah batas minimum atas pembayaran pajak atau kebijakan menteri keuangan (contoh Perancis).

Negara-negara itu menerapkan Standar Emas karena dipercaya secara luas bahwa ia menyediakan kestabilan harga dan kurs. Kemampuan pertukaran memastikan penjagaan tingkat inflasi dan kestabilan harga yang mendorong spesialisasi domestik dan perencanaan jangka panjang. Dengan kurs stabil, perdagangan internasional bisa dilakukan dengan risiko kerugian kapital minimal; dan bahwa Standar Emas menyediakan hal ini adalah tidak didebat.

Kemampuan pertukaran dihentikan dengan meletusnya Perang Dunia 1, di mana pembelanjaan didanai dengan pencetakan uang kertas, ditambah lagi semangat patriotis yang enggan menukar dengan emas dan kesulitan dalam arus internasional mata uang emas. Berhentinya perang memperlihatkan inflasi yang terus menerus sehingga pemeliharaan cadangan 100% seperti sebelum perang tidak bisa dilakukan, dengan pengecualian AS. Namun terdapat keinginan luas untuk kembali ke Standar Emas. Ketetapan banyak komite dan konvensi tidak mendukung alternatif lain, sehingga Standar Emas tidak hanya diinginkan tetapi esensial bagi kestabilan dan rekonstruksi. Sekitar 50 negara berpartisipasi dengan beragam kapasitas dalam Standar Emas internasional selama tahun-tahun perang. Banyak negara menyetujui kemampuan pertukaran pada kurs yang terdepresiasi, yang lain terpaksa melepas Standar Emas, setelah separuh negara-negara itu kemudian Inggris menyusul melepas Standar Emas.

Ini adalah penjelasan atas kinerja tidak memuaskan yang memunculkan argumen ketidakseimbangan terhadap Standar Emas. Laporan Macmillan 1931 menunjukkan kebanyakan dari ini, khususnya dikontribusi oleh Keynes yang memprediksi kurangnya output dan pekerjaan yang seharusnya dipertukarkan untuk keseimbangan eksternal karena pengembalian Standar Emas.

Juga dikira bahwa kembali ke Standar Emas akan mengakibatkan serbuan mencari emas, yang meningkatkan nilai komoditas emas melalui deflasi kompetitif. Komisi finansial konferensi itu diketuai oleh Robert Horne, Gubernur Harta Negara ketika itu, yang menghasilkan "resolusi mata uang", yang menetapkan ketentuan umum dan proposal-proposal standar pertukaran emas.

Kelemahan serius sistem pertukaran emas adalah variasi tingkat cadangan antarnegara di mana bank-bank sentral bersandar. Ini menunjukkan motif negara-negara selama separuh awal abad lalu untuk mengadopsi standar pertukaran emas dan menaatinya. Meski ada kepentingan umum untuk menghalangi deflasi, mereka tetap cenderung mengabaikan konsekuensi eksternal dari tindakan mereka. Ini mengakibatkan standar pertukaran emas digunakan sebagai perantara praktis oleh negara-negara semacam Perancis, Jerman, Italia dan Polandia. Itu juga dipandang sebagai alat sponsoran Inggris sehingga ia bisa kembali ke cadangan 100% tanpa penyesuaian internal yang diperlukan.

Kompleksitas karena penyimpangan konstan dari kinerja ideal menampilkan gambar kabur untuk analisis. Negara-negara yang umumnya kekurangan disiplin, prioritas yang tidak benar dan mengemban visi global tidak adil adalah mereka yang mempromosikan pendapat negatif terhadap Standar Emas.

Standar Emas/Perak Islam

Islam mengharuskan Standar Emas riil 100%, yang penerapannya dijamin oleh kewajiban konstitusional negara bukannya dari kehendak finansial dan amandemen. Emas dan perak adalah satu-satunya unit pengukur. Adalah jelas dari penjelasan historis di atas bahwa banyak kerugian muncul dari ketidakpatuhan pada Standar Emas, maka menyebabkan banyak fiturnya menjadi terbatas kegunaannya terhadap perekonomian.

Islam menerapkan Standar Emas di mana rasio harga emas dan perak ditentukan oleh mekanisme permintaan dan suplai pasar. Rasionya dibiarkan tidak terbatasi untuk mencegah perbedaan dalam harga tertulis dan harga pasar, yang bisa mengakibatkan penggelapan mata uang yang harganya telah naik dan ditransfer ke pasar eksternal (sebagaimana terjadi pada AS (emas) dan Inggris (perak)). Biaya emas dan perak bergantung pada biaya penambangan dan permintaannya dibanding dengan produk dan jasa. Semua diskusi yang berlaku untuk standar satu-logam juga berlaku untuk standar dua-logam hanya saja basis mata uangnya lebih besar.

Perekonomian global tidak menjadi sasaran peningkatan tiba-tiba dalam peredaran uang. Ketidakmampuan menerbitkan uang tanpa dasar logam mulia menghilangkan inflasi jangka-panjang, yang merupakan fitur konstan standar moneter Fiat.

Standar Emas penuh memungkinkan penyesuaian ketimpangan neraca pembayaran negara tanpa perlu intervensi bank sentral. Penyesuaian harga impor/ekspor dan ketakutan bahwa negara akan kekurangan cadangan emas jika ketimpangan terus berlanjut, dapat membantu memelihara kedisiplinan menerapkan Standar Emas penuh. Ini berkebalikan dengan bagaimana keseimbangan neraca pembayaran diusahakan melalui mencetak mata uang Fiat, yang akhirnya mengganggu keseimbangan.

Karena harga-harga pasar dan spontanitas dalam penyesuaian keseimbangan neraca pembayaran, Standar Emas penuh akan menjaga cadangan emas negara. Ini karena emas dan perak hanya akan pindah untuk membayar produk dan jasa, maka meminimalkan pengawasan.

Penerapan Standar Emas global tidak muncul tanpa tantangan-tantangan, khususnya bagi negara-negara yang menerapkannya di hadapan para adidaya yang memiliki cadangan dan kemampuan lebih besar. Namun demikian, ketika diterapkan dengan baik, tantangan-tantangan itu lebih mudah dikendalikan daripada sistem Fiat atau Standar Emas parsial. Terdapat beberapa pilihan kebijakan yang tersedia bagi negara mengenai masalah ketidakseimbangan dan turunannya, yang termasuk:

a. Program pemenuhan-mandiri dengan mengurangi impor, untuk mencegah kekurangan emas dan perak yang lebih parah.

b. Negara berusaha membayar barang impor dengan barang, bukannya emas dan perak.

c. Transaksi lokal bisa dengan beberapa cara pertukaran, beberapa di antaranya mungkin merupakan sumber model bisnis canggih.

d. Tidak menetapkan rasio harga emas dan perak, untuk mencegah penggelapan logam yang harga tertulisnya lebih rendah daripada harga pasar.

e. Cara bagaimana emas dijaga, di mana deposit harta negara strategis bisa sebagian dipisahkan dari rekening-rekening komersial atau domestik yang membentuk basis cadangan. Ini bisa mengisolasi suplai uang internal dari neraca pembayaran.

f. Netralisasi fluktuasi mata uang global bisa dicapai dengan memiliki cadangan mata uang asing, yang hanya digunakan untuk neraca pembayaran dan impor/ekspor.

g. Dengan basis sumberdaya mentah yang besar di dunia Islam, meminta pembayaran dengan emas dan kemungkinan memberi sanksi adalah pilihan yang mungkin.

h. Dengan posisi geografis strategis dunia Muslim, ini adalah lokasi paling efisien untuk pusat emas.

i. Prospek dunia Islam menjadi pusat emas dibantu oleh fakta bahwa negara menerapkan Standar Emas secara disiplin, menunjukkan kemudahan baginya untuk menjadi mata uang cadangan popular.

j. Konvensi-konvensi internasional akan ditandatangani di mana Standar Emas penuh diberlakukan.

k. Transparansi standar emas dan rasio cadangan emas antar-negara (untuk memungkinkan penyesuaian neraca pembayaran) bisa didorong dengan kemampuan menimpakan pajak cukai yang akan dihitung pada tingkat transparansinya.

l. Akan menjadi usaha strategis prioritas negara untuk membawa dunia kembali ke Standar Emas penuh, dan oleh karenanya mencegah eksploitasi oleh negara yang dominan.

Ketika emas dibiarkan bebas tanpa batasan, suatu pasar terbuka akan terwujud dalam waktu singkat. Semua mata uang internasional akan menentukan harga tukar konstan terhadap emas, dikarenakan tekanan kompetitif. Transaksi internasional dengan emas akan berkembang kapanpun pembayaran harga diestimasi dengan emas, yang akan menjadi penilai yang dipilih.

Kebijakan-Kebijakan Mata Uang Standar Emas Internasional

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda