Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Minggu, 12 Februari 2012

Pasar Tenaga Kerja yang Fleksibel Mengatasi Masalah Deflasi Mata Uang

Pasar Tenaga Kerja yang Fleksibel Mengatasi Masalah Deflasi Mata Uang



Argumen 2: Masalah Suplai Emas – Ketakutan terhadap Deflasi

Argumen 2: Terdapat tidak cukup suplai emas, yang bisa mengakibatkan deflasi jika standar emas diadopsi. Terdapat juga ketidakseimbangan besar dalam suplai emas di seantero wilayah dunia, dan menjaga cadangan emas/perak yang cukup adalah tugas yang sulit. Penyuntikan emas ke dalam perekonomian akan menghasilkan inflasi yang mirip dengan quantitative easing dalam sistem fiat.

Bantahan: Pusat kritik terhadap Standar Emas ini adalah ketidaksukaan dan ketakutan tidak rasional terhadap deflasi. Pasar tenaga kerja yang fleksibel adalah kondisi yang dibutuhkan untuk menanggulangi efek-efek negatif turunnya harga-harga produk yang memungkinkan bisnis tetap kompetitif dan menguntungkan dalam kondisi deflasi.

Seringkali dinyatakan bahwa terdapat tidak cukup emas dalam peredaran untuk mewakili semua perdagangan di sekeliling dunia. Perkiraan nilai emas ada di wilayah 6,5 triliun dollar sedangkan GDP dunia, sejauh perekonomian riil dipertimbangkan, ada di sekitar 50-70 trilyun dollar. Lalu bagaimana bisa mata uang emas digunakan menggantikan mata uang fiat yang telah menggantikan emas itu?

Mengenai hal di atas, dikatakan bahwa negara-negara yang melakukan transisi ke Standar Emas jelas tidak akan mampu menjaga harga-harga saat ini dan penyesuaian harga-harga akan terjadi yang mengakibatkan tingkat deflasi harga yang cukup tinggi di seantero sektor perekonomian. Setelah kejatuhan awal ini, kemudian stabilisasi-relatif akan terjadi.

Pusat kritik ini terhadap Standar Emas adalah ketidaksukaan dan ketakutan tak rasional terhadap deflasi. Untuk membantah dogma ini, suatu analisis terhadap anggapan bahaya deflasi akan didiskusikan seiring dengan pandangan alternatif mengenai bagaimana deflasi bisa menjadi kekuatan positif dalam perekonomian, bukannya menjadi pemicu resesi dan juga sebagai kekuatan positif di belakang pendistribusian kekayaan dalam perekonomian. Deflasi dikatakan sebagai keburukan yang lebih besar daripada inflasi karena banyak alasan termasuk yang berikut ini:

  • Ia meningkatkan beban utang karena utang-utang meningkat dalam nilai riilnya karena uang menjadi lebih berharga ketika harga-harga jatuh.

  • Dikatakan bahwa orang-orang akan menunda membeli barang dan jasa dalam antisipasi jikalau harga-harga semakin jatuh, maka produk kekurangan permintaan sehingga mengakibatkan turunan spiral menuju resesi dan akhirnya depresi.

  • Ia menyebabkan kebijakan moneter menjadi tidak efektif karena tidak ada insentif untuk meminjam dan oleh karenanya tidak ada cara bagi bank sentral untuk memicu pemulihan. Beberapa ahli teori seperti John Maynard keynes menyebut fenomena ini jebakan likuiditas.

Dalam respon terhadap tuduhan ini adalah jelas bahwa ada banyak produk yang mengalami pertumbuhan penjualan yang cepat selama fase panjang deflasi harga dikarenakan faktor pertama yaitu kemajuan teknologi seperti pertumbuhan e-commerce, atau karena faktor kedua yaitu periode di mana pertumbuhan output telah melampaui suplai mata uang. Kemajuan teknologi akan menyebabkan harga-harga mengalami deflasi dalam sektor-sektor tertentu perekonomian. Sedangkan keadaan yang kedua akan menyebabkan penurunan umum harga semua komoditas seiring rasio uang terhadap barang dan jasa turun dan jumlah uang yang lebih sedikit akan bisa meraup volume perdagangan yang lebih besar dan maka tiap unit uang nilai riilnya akan bernilai lebih (yang terbukti dengan jatuhnya harga-harga).

Perdagangan dan investasi tidaklah dihalangi oleh harga-harga yang jatuh yang diakibatkan peningkatan efisiensi. Pertumbuhan sebagai hasil dari revolusi industri adalah bukti yang cukup untuk ini, di mana para entrepreneur bisa secara efektif mengantisipasi dan memprediksi tren harga dan biaya dan membuat keputusan berdasar informasi di masa sekarang untuk memastikan keuntungan maksimum. Jika fakta ini tidak benar, maka turunnya biaya teknologi komunikasi akan menyebabkan banyak perusahaan teknologi menjadi bangkrut bukannya mendapat peningkatan pertumbuhan dan penjualan di pasar, padahal partisipan pasar baru sekarang bisa membeli produk-produk semacam itu sehingga meningkatkan penjualan lebih jauh lagi.

Salah satu alasan yang dikutip oleh aliran Keynesian mengenai deflasi sebagai awal menuju resesi adalah bahwa sementara harga jual barang dan jasa jatuh, harga-harga biaya, khususnya biaya upah, harganya sulit turun dan maka bisnis mulai mengalami kelebihan tenaga kerja dan mengurangi kelebihan itu yang mengakibatkan turunnya tingkat permintaan dalam perekonomian yang lebih memperparah jatuhnya harga ke dalam spiral menurun hingga pemerintah mengintervensi untuk mengakhiri proses itu dan mulai mengadakan permintaan sendiri dengan mengadakan proyek-proyek untuk mengkompensasi kekurangan permintaan di sektor swasta.

Tantangannya di sini adalah menunjukkan bagaimana biaya-biaya produksi bisa jatuh untuk memungkinkan bisnis tetap kompetitif dalam iklim deflasi seperti itu dan maka tidak menderita efek sakit yang dideskripsikan di atas. Jika bisnis-bisnis mampu menurunkan biaya input mereka dan dengan melakukan itu mampu menjaga profitabilitasnya, mereka akan kebal secara relatif dari efek-efek turunnya harga-harga.

Gerak turun biaya produksi bisa terjadi di area-area seperti biaya tenaga kerja di mana biaya itu biasanya disebut sebagai ‘kekakuan upah’, atau dalam faktor-faktor lain dalam produksi seperti sewa tanah, dikarenakan kontrak sewa jangka panjang yang sulit direnegosiasi. Kekakuan upah bisa terjadi karena faktor psikologis di mana individu melihat nominal upah bukannya nilai riil uangnya. Konsep ini dikenal sebagai ‘ilusi uang’ yaitu fenomena di mana para pekerja akan kurang suka jika menerima bayaran lebih rendah meskipun harga-harga sedang jatuh, sedangkan mereka akan lebih menuntut kenaikan upah ketika harga-harga naik. Jika para pekerja menyadari kontradiksi ini, mereka akan kurang cenderung menolak pengurangan upah khususnya jika mereka melihat implikasi lebih luas mengenai prospek pekerjaan mereka dan keseluruhan perekonomian.

Pasar tenaga kerja yang fleksibel oleh karenanya menjadi kondisi yang dibutuhkan untuk menanggulangi efek-efek negatif jatuhnya harga-harga produk. Dalam Islam terdapat berbagai konsep seperti konsep bahwa Allah menyediakan rizki dan juga konsep lebih jelas terhadap nilai, dalam hal ini nilai uang didefinisikan sebagai daya belinya, untuk memastikan pasar tenaga kerja tidak menderita dari kekakuan semacam itu.

Bertolak belakang dengan pandangan yang mengukur utilitas (kegunaan) sebagai fitur komoditas yang berdiri sendiri, para ahli teori Kapitalis di masa awal (Aliran Marginal) mengadopsi konsep nilai yang disebut teori ‘diminishing marginal utility’ yang mendefinisi nilai suatu komoditas sebagai kegunaannya di titik konsumsi ketika ia memuaskan titik terendah kebutuhan; tingkat kegunaan ini memungkinkan perbandingan berbagai komoditas untuk tujuan pertukaran/jual-beli.

Uang secara alami menjadi barang universal yang bertindak untuk mengukur nilai semua benda. Namun masalahnya adalah bahwa dengan rasio ini (yang disebut ‘harga’) orang-orang mulai mengukur nilai objek-objek melalui prisma harga bukannya kegunaan intrinsik dari objek. Maka jika harga, atau jumlah absolut upah mereka dikurangi, implikasinya menjadi bahwa ini pasti hal yang buruk.

Implikasi kebingungan memandang nilai melalui harga secara jelas ditunjukkan dalam contoh fenomena ilusi uang di mana para pekerja tidak bisa melihat nilai riil upah-upah mereka. Malah, para pekerja berpikir tentang upah mereka dalam tulisan nominalnya dan mengukur upah mereka melalui jumlah moneter absolutnya (tulisan nominalnya) tanpa melihat nilai riilnya, dalam hal ini nilai riil adalah daya beli uang.

Jika saja para partisipan beroperasi dalam lingkungan ekonomi Islam dengan kejelasan atas konsep-konsep itu (bahwa nilai menjadi dibingungkan oleh para ahli teori ekonomi klasik) dan oleh karenanya mampu melihat nilai dalam keadaan riilnya, maka pandangan yang benar terhadap nilai upah seseorang dalam fase deflasi akan membuat para pekerja lebih cenderung menerima upah lebih rendah karena mengetahui daya belinya dan nilai upah mereka akhirnya tidak akan terpengaruh. Selain itu, ketakutan terus-menerus terhadap inflasi yang lekat dengan sistem Fiat memperparah ketakutan ini dan lebih jauh membuat para pekerja tidak suka menerima pengurangan upah.

Selain itu, penelitian di 1999 di Amerika Utara berjudul “Why Wages Don’t Fall During a Recession” (Mengapa Upah-Upah Tidak Turun Selama Resesi) oleh Truman Bewley [diterbitkan oleh Harvard University Press], yang didasarkan pada wawancara dengan lebih dari 300 pebisnis, para pemimpin serikat pekerja, dan para perekrut tenaga kerja, menemukan kesenjangan besar antara model teoretis kekakuan upah dan penyebab-penyebab sesungguhnya.

Penelitian itu mengutip alasan-alasan seperti ketakutan para pemberi kerja terhadap turunnya morale (motivasi) pekerja karena anggapan bahwa nominal upah yang lebih rendah akan mengakibatkan standar hidup lebih rendah. Penelitian itu menemukan bahwa para pemberi kerja akan takut terjadi peningkatan ‘staff turnover’ (keluarnya pekerja dari tempat kerjanya) dan ini memakan biaya yang tinggi. Akibatnya para pemberi kerja lebih memilih memutus hubungan kerja sebagian pekerja sebagai cara menurunkan biaya tenaga kerja untuk menanggulangi efek ini daripada menurunkan upah. Jelas jika realitas ilusi uang dijelaskan, dan pandangan terhadap nilai dipahami, maka keengganan untuk menurunkan upah akan diminimalkan sehingga efek negatif pengurangan upah terhadap motivasi pekerja juga akan minimal.

Kesimpulannya di titik ini, bisa dikatakan bahwa harga upah dan harga input produksi lainnya perlu turun untuk membantu pasar menyesuaikan kembali ke tingkat keseimbangan yang baru untuk menghindari spiral menurun menuju kontraksi pasar menuju resesi, pengangguran tinggi dan akhirnya depresi. Namun jika investasi yang mendasari suatu bisnis tidaklah cukup kokoh untuk menghadapi tekanan seperti itu maka akan lebih baik bagi entitas bisnis itu untuk gagal daripada di-‘bail out’ (ditalangi) oleh rakyat.

Kedua, sejauh mengenai meningkatkan beban utang, model Islam dibangun atas premis mendorong para partisipan pasar kesalehan untuk hidup dengan kemampuan sendiri dan mendanai investasi melalui menabung dan bukan dari utang yang tidak bisa disokong. Maka akan berada dalam situasi di mana jasa utang dengan bunga (riba) tidak ada. Di sana, etos umum pendekatan distributif dalam sistem Islam akan memastikan terdapat jauh lebih banyak pemerataan kekayaan di antara para agen pasar dan maka menabung adalah norma umumnya bukannya menjadi suatu pengecualian sebagaimana dalam sistem distribusi kekayaan dengan kesenjangan tinggi dalam sistem kapitalis yang secara bertahap jauh memisahkan antara kaya dan miskin dengan tingkat kecepatan yang semakin tinggi. Bukanlah kejutan bahwa orang-orang sering terpaksa mengambil utang untuk berusaha mencapai tangga kekayaan.

Akhirnya, argumen ini: ‘selama orang-orang menunda melakukan pembelian’ adalah argumen yang dibesar-besarkan lebih dari proporsi sebenarnya untuk menjustifikasi program Quantitative Easing yang bersasaran menciptakan inflasi untuk menanggulangi deflasi yang dideskripsikan di atas. Jika upah telah lebih fleksibel sebagaimana ditunjukkan dalam analisis sebelumnya, maka insentif untuk menunda pembelian ketika upah akan turun, bisa jadi sebelum turunnya harga barang atau jasa, menihilkan dogma keliru ini.

Haruslah dicatat bahwa kita mendukung standar bi-metal yaitu emas dan perak sebagai dasar moneter. Standar bi-metal ini akan meningkatkan suplai uang, karena ia tidak bergantung pada emas saja.

Pasar Tenaga Kerja yang Fleksibel Mengatasi Masalah Deflasi Nilai Mata Uang

Sabtu, 11 Februari 2012

Makalah Mata Uang Standar Emas Mengatasi Inflasi

Makalah Mata Uang Standar Emas Mengatasi Inflasi



Argumen 1: Masalah Kemampuan Bermanuver dengan Standar Emas

Argumen 1: Standar Emas tidak menyediakan pengungkit untuk kendali kebijakan moneter. Oleh karena itu para pemerintah akan tidak bisa memulihkan fase penurunan dalam siklus bisnis, menstimulasi pertumbuhan dan memproduksi uang tunai untuk dibelanjakan untuk proyek-proyek darurat.

Bantahan: Kemampuan sistem fiat untuk meminimalkan siklus bisnis adalah pernyataan yang buram karena ia adalah penyebab utamanya. Islam secara khusus melarang bunga (riba) dan melarang perbanyakan uang tanpa dasar Emas atau Perak penuh. Pembelanjaan darurat dalam sistem fiat menguntungkan kaum kaya dan menghasilkan pajak tersembunyi bagi mayoritas orang, sementara dalam Islam pembelanjaan darurat disumberkan dari kaum kaya.

Ketidakmampuan untuk mempengaruhi Siklus Bisnis

Siklus bisnis dianggap oleh aliran arus utama mayoritas kapitalis sebagai hal yang menyatu dengan berfungsinya pasar bebas. Ditekankan bahwa dengan Standar Emas, berbagai alat kebijakan, seperti penggunaan kebijakan Fiskal dan Moneter, tidak bisa digunakan untuk meminimalkan fase negatif siklus semacam itu. Siklus bisnis dikarakterisasi oleh periode-periode pertumbuhan cepat dalam output, diikuti oleh suatu periode melambat dan kemudian kontraksi dalam output yang sering disebut resesi.

Dikatakan bahwa bank-bank sentral, yang beberapa di antaranya independen dari kendali langsung pemerintah, bisa membantu mengurangi dampak siklus semacam itu dan dengan melakukannya maka bisa memperpanjang periode ‘boom’ dan meminimalkan fase ‘kempes’ dari siklus. Tujuan ini, diklaim bisa dicapai melalui berbagai alat kebijakan moneter seperti meningkatkan tingkat bunga dan meningkatkan suplai uang. Tindakan-tindakan semacam itu tidak akan mungkin dilakukan di bawah Standar Emas penuh di mana Emas akan bertindak sebagai faktor pembatas bagi suplai uang di dalam perekonomian.

Siklus bisnis adalah produk dari faktor-faktor eksternal dan internal. Bisa terdapat kasus-kasus di mana tren penurunan atau resesi bisa disebabkan oleh faktor-faktor eksternal seperti lonjakan harga minyak 1970-an; namun faktor-faktor eksternal atau eksogen semacam itu di luar cakupan paper ini.

Faktor-faktor internal yang menyebabkan resesi cenderung berkaitan dengan kebijakan pengetatan moneter (biasanya dengan menaikkan tingkat bunga) untuk membatasi perekonomian yang terlampau panas yang mempercepat inflasi.

Riba dan Uang Fiat

Bank-bank sentral melakukan berbagai tindakan untuk mendorong peminjaman dan investasi khususnya ketika pasar sedang dalam resesi. Ini termasuk meningkatkan suplai uang dalam peredaran dan juga dengan menetapkan tingkat bunga sangat rendah yang menjadi basis bagi bank-bank untuk melakukan peminjaman antar-bank dan pemberian pinjaman pada konsumen-konsumen bersemangat seperti kredit yang mudah didapat.

Hal-hal ini termasuk di antara faktor-faktor internal yang bertanggung jawab menyebabkan siklus bisnis dan mereka jelas muncul dari sistem moneter saat ini. Budaya konsumerisme yang dibahanbakari oleh penciptaan kredit tak berbatas di tingkat bunga rendah mengakibatkan ‘boom’ yang keliru dan tidak langgeng yang mengakibatkan fase ‘kempes’ atau resesi yang tak terhindari sebagai bagian dari siklus.

Sekalinya terjadi permintaan berlebih tak terhindarkan yang dipicu oleh kredit murah, menyebabkan harga umum meningkat dan dalam kasus-kasus tertentu menyebabkan harga-harga melambung, suatu fenomena yang sering disebut sebagai ‘bubble’ (gelembung), semacam ‘bubble’ perumahan 2008 di AS, kemudian bank-bank cenderung merespon dengan menaikkan tingkat bunga untuk mengendalikan inflasi.

Biasanya di sekitar titik puncak ini, kredit menjadi terlalu mahal bagi banyak orang dan gagal bayar mulai terjadi ditambah dengan sadarnya para agen pasar bahwa harga-harga telah memuncak dan sudah waktunya untuk menjual aset-aset semacam itu. Ini mengakibatkan kontraksi tak terhindari dalam harga-harga dan dalam banyak kasus terjadi jatuhnya harga-harga yang akhirnya mengakhiri fase ‘boom’ yang keliru.

Setelah pasar bersih dari perilaku berlebih semacam itu karena resesi, keseluruhan proses dimulai kembali dan fenomena ini mengulang dirinya sendiri dalam siklus tiada henti. Poin kunci di sini adalah bahwa ‘boom’ keliru semacam itu akan diganti dengan pertumbuhan langgeng melalui standar moneter yang didasarkan pada emas dan perak, yang bukan merupakan sasaran manipulasi semacam itu. Penyimpangan apapun dari jalur pertumbuhan umum akan disebabkan oleh faktor-faktor di luar pasar seperti krisis minyak yang akan memperlambat pertumbuhan output.

Oleh karena itu untuk menyatakan tuduhan bahwa hanya pendekatan moneter Fiat, dengan kredit murahnya dan penciptaan uang tiada akhir, yang bisa meminimalkan siklus bisnis adalah argumen suram karena ia sendiri adalah satu penyebab utamanya.

Kestabilan Harga

Inflasi tidak akan terjadi dengan skala yang sama dengan yang sekarang terjadi jika suatu negara mengadopsi Standar Emas. Kita tidak perlu melihat lebih jauh selain harga emas sebagai komoditas selama beberapa tahun terakhir (yaitu bahwa emas mulai diminati untuk menyimpan nilai kekayaan). Ini adalah gejala orang-orang kehilangan kepercayaan dalam mata uang Fiat dan juga melemahnya daya beli mata uang semacam itu. Keburukan sebenarnya sistem di balik pencetakan uang tiada akhir menjadi terihat jelas dalam bagian berikutnya dari buku ini di mana motif-motif sesungguhnya peningkatan uang dalam semua bentuknya dieksplorasi. Efek akhir produksi uang tiada akhir adalah transfer kekayaan kepada faksi-faksi elit dalam masyarakat dan ini dilakukan di bawah dalih kestabilan harga.

Risiko hyperinflation (inflasi super tinggi) secara signifikan naik di bawah sistem suplai uang tak berbatas sebagaimana terbukti dalam hyperinflation akhir-akhir ini di Zimbabwe di mana tingkat inflasi di 2008 mencapai lebih dari 200 juta persen. Nasib yang mirip bisa cocok terjadi pada US dollar jika dunia kehilangan kepercayaan dalam kemampuan pemerintah AS untuk membayar kembali utang-utangnya. Cina telah mulai menjauh dari membeli utang AS dalam bentuk utang pemerintah jangka-panjang dan Treasury bills, yang hal ini bisa menjadi katalis untuk memendekkan nyawa utang AS dan membuat nasib yang mirip bagi dollar di bawah rezim produksi uang Fiat tanpa dasar riil ini, tidak seperti Standar Emas.

Pembelanjaan Darurat

Kritik terhadap mata uang berbasis Emas sering mengutip bahwa pembelanjaan darurat tidak bisa dilakukan dengannya sebagaimana bisa dilakukan dengan standar Fiat. Ini berkait dengan perkara-perkara semacam pendanaan yang diperlukan selama masa perang yang merupakan faktor kunci di belakang Presiden Nixon untuk mengakhiri Standar Emas yang paling akhir di 1971, setelah sebelumnya berlaku suatu bentuk standar emas berdasar logam mulia parsial. Ini karena biaya Perang Vietnam membutuhkan pembelanjaan selain dari cara-cara biasa yang tersedia di departemen Treasury (Bendahara).

Dalam respon terhadap tuduhan ini, pengamatan dan pendekatan alternatif berikut ini bisa didiskusikan.

Mungkin terdapat beberapa keuntungan awal dari memiliki kemampuan untuk menghemat jumlah produksi uang dan membelanjakannya untuk proyek-proyek darurat, namun untuk itu harus melalui efek-efek jangka panjangnya yaitu inflasi dan suatu transfer kekayaan dari massa ke para elit. Uang tambahan yang disuntikan ke dalam sistem di awalnya tidak mempengaruhi tingkat umum harga dan para penerima ‘uang baru’ ini bisa meraup keuntungan sebelum efek-efek negatifnya yaitu menurunnya daya beli uang (inflasi) mencapai masyarakat luas. Orang-orang yang bertransaksi dengan tunai dan utang biasanya massa dan mereka adalah yang terpukul oleh penurunan daya beli uang ketika inflasi terjadi. Sebagai hasilnya, ini menjadi suatu pajak tersembunyi yang ditarik dari mayoritas orang yang bertransaksi tunai dan deposit bank. Tidaklah mengherankan mengapa para pemerintah menyukai model Fiat bersama dengan kelompok-kelompok elit kepentingan khusus yang mereka wakili – dan juga bank-bank yang menagih utang atas uang yang bukan merupakan hasil ekonomi riil, tetapi yang diciptakan dari debu.

Kedua, kebutuhan pendanaan semacam ini sering merupakan hasil dari negara-negara kapitalis yang memulai perang sebagai strategi ekonomi untuk meningkatkan pertumbuhan dan kemakmuran ekonomi untuk perekonomian mereka. Maka ada slogan: “perang itu baik untuk perekonomian”. Masih bisakah dikatakan bahwa pembelanjaan semacam ini adalah suatu faktor penting jika pandangan utilitarian ini dihapus?

Sebaliknya, dalam sistem Islam berdasarkan pandangannya dan nilai-nilainya yang unik, ketika kebutuhan nyata terhadap pendanaan untuk proyek-proyek darurat muncul di Negara Khilafah, nilai-nilai luhur populasi, dengan orientasinya terhadap pengorbanan, kesabaran dan mentalitas kebersamaan berdasarkan kecenderungan spiritual para penganutnya, bisa dijadikan sandaran untuk menggalang dana untuk proyek-proyek kunci seperti itu (penerjemah: selain itu juga dana dari hasil kekayaan alam sebagai kepemilikan rakyat). Ini termasuk penggunaan aturan-aturan Syari’ah mengenai meminta harta kaum kaya hingga kebutuhan dana terpenuhi (tindakan tidak biasa yang bisa menarik suatu prosentase kekayaan warga kaya, mirip dengan Zakat).

Makalah Mata Uang Standar Emas Mengatasi Inflasi

Kamis, 09 Februari 2012

Paper Mata Uang Standar Emas Mengatasi Krisis Moneter

Paper Mata Uang Standar Emas Mengatasi Krisis Moneter



PENDAHULUAN

Emas adalah uangnya para raja, perak adalah uangnya para terhormat, barter adalah uangnya para petani – tapi utang adalah uangnya para budak” Norm Franz, Money and Wealth in the New Millennium

Pada 31 Desember 2010, Emas mengakhiri tahun itu dengan $1420 per ons: naik lebih dari 30% di tahun itu, dan itu adalah tahun ke-10 berturut-turut di mana ia tumbuh. Sejak 1971, ketika Richard Nixon secara unilateral mengeluarkan dunia dari standar emas Bretton Woods, emas telah mengalami apresiasi (kenaikan nilai) dari harga ketika itu $35 per ons ke tingkat saat ini, menunjukkan apresiasi emas sebesar 3950 persen – atau lebih akuratnya – menunjukkan depresiasi (penurunan nilai) US Dollar.

Emas adalah kelas investasi terdepan di 2010, dan satu-satunya yang naik nilainya setiap tahun sejak tahun 2000. Tapi paper ini bukan mengenai kinerja berbagai aset investasi; ini adalah tentang emas sebagai mata uang. Ini tentang pelapukan berkelanjutan, penurunan nilai berbagai mata uang fiat berbasis kertas dan apakah terdapat alternatif yang lebih baik. Dengan pertumbuhan ekonomi di perekonomian negara-negara maju hanya minimalis dan menghadapi serangan balik dalam perang berbagai mata uang, seiring negara-negara berusaha bangkit dari devaluasi (penurunan nilai) mata uang di ronde berikutnya dengan cara mencetak uang, banyak dari mereka sekarang mempertanyakan apakah emas bisa menjadi pondasi sistem moneter dunia lagi.

Ketua Bank Dunia, Robert Zoellick di November 2010 dalam artikel Financial Times memicu kembali debat dengan mendesak para pemimpin dunia untuk mempertimbangkan menggunakan kembali standar emas untuk mengendalikan pergerakan berbagai mata uang. Dia berargumen bahwa perekonomian terbesar dunia perlu membangun sistem moneter yang lebih kooperatif, yang dia klaim akan meningkatkan kepercayaan investor dan menstimulasi pertumbuhan ekonomi:

“G20 harus melengkapi program pemulihan pertumbuhan dengan suatu rencana untuk membangun sistem moneter kooperatif yang mewakili kondisi-kondisi ekonomi bertumbuh. Sistem baru ini mungkin butuh untuk melibatkan dollar, euro, yen, pound dan renminbi (yuan) yang bergerak ke arah internasionalisasi dan kemudian suatu rekening modal terbuka. Sistem harus juga mempertimbangkan menggunakan emas sebagai titik referensi ekspektasi pasar tentang inflasi, deflasi dan nilai mata uang di masa depan. Meskipun buku diktat mungkin memandang emas sebagai uang kuno, pasar-pasar sedang menggunakan emas sebagai aset moneter alternatif hari ini.” [1]

Komentar-komentar Zoellick terprediksi memicu badai protes dari berbagai kepentingan finansial dan perbankan. Namun, sistem sekarang tetap dan terus gagal.

Penggunaan Quantitative Easing (yang secara dramatis meningkatkan suplai uang) oleh pemerintah AS juga telah dikritik secara luas. Perdana Menteri China Hu Jintao menjelang kunjungannya ke AS di pertengahan Januari secara cukup agresif menekankan:

“Likuiditas US$ harus dijaga di tingkat yang masuk akal dan stabil.”

Hu Jintao juga menyinggung kebutuhan untuk perbaikan besar dalam sistem moneter fiat ketika dia berkata di perjalanan kunjungan itu:

“sistem mata uang internasional sekarang adalah produk dari masa lalu.”

Mr. Hu hanya menyatakan kembali fakta bahwa mata uang de facto dunia (US$) terus mengalami depresiasi secara cepat dan bahwa negara-negara kreditor besar seperti China tidak akan terus mendanai defisit AS. Sistem fiat berbasis emas memungkinkan AS untuk secara liar mencetak dollar karena dan ketika dia merasa perlu. Sebagai mata uang utama global, ini punya efek dramatis pada perekonomian dunia, dengan inflasi yang menggerogoti dan devaluasi terus-menerus dalam dollar (dan tentu juga berbagai mata uang kertas utama dunia yang lain).

Seiring dampak-dampak langsung krisis finansial dirasakan, dan devaluasi mata uang muncul mungkin sebagai alat terakhir untuk menumbuhkan pemulihan, sekarang adalah waktunya untuk mempertimbangkan lagi alternatif untuk rezim kertas fiat tidak stabil ini. Dengan pendiskreditan mendalam terhadap sistem perbankan dunia melalui krisis baru-baru ini, terdapat kesempatan untuk memeriksa kembali pilar-pilar moneter perbankan Barat – termasuk penciptaan kredit melalui mata uang fiat yang sepenuhnya kekurangan aset riil. Bisakah dan haruskah dunia kembali ke Standar Emas?

Paper ini memicu kembali debat dengan menunjukkan kemudian membantah 10 argumen utama yang dituduhkan terhadap Standar Emas. Argumen-argumen itu disaring dari literatur ilmu ekonomi dan analisis media. Argumen-argumen tandingan itu mewakili siklus hidup dan cakupan sistem moneter berbasis emas masa kini.

Kami menjelaskan argumen-argumen itu dan berbagai argumen tandingan untuk mengeksplorasi apakah mereka tetap valid di masa ini dan sejarah, dan apakah mereka tidak bisa diungguli dalam usaha pencarian mata uang lebih stabil di dunia yang tidak stabil.

Terakhir, kami menyatakan posisi Islam mengenai mata uang: kedisiplinannya terhadap standar emas/perak dan bagaimana ini akan diterapkan berkaitan dengan sepuluh argumen yang melawan kesuksesannya.

Paper Mata Uang Standar Emas Untuk Mengatasi Krisis Moneter

Rabu, 08 Februari 2012

Mata Uang Standar Emas Lebih Unggul dari Mata Uang Fiat

Mata Uang Standar Emas Lebih Unggul daripada Mata Uang Fiat



RINGKASAN

Di awal Agustus 2011 emas mencapai tingkat tertinggi, naik ke lebih dari $1900 per ons – dan akan mengejutkan sedikit orang jika semakin naik. Bukanlah pertama kalinya, ketakutan terhadap inflasi dan ketidakstabilan politik telah membuat para investor mencari tempat aman di emas. Perak, demikian juga, mencapai tingkat tertinggi dalam 30 tahun di hampir $50 per ons.

Seiring mata uang fiat – tanpa dasar logam emas/perak – (khususnya dollar-US) diperkirakan akan kehilangan nilai, emas dan perak telah memberikan kegunaan nilainya sekali lagi. Di masa krisis, emas secara efektif adalah mata uang pengaman dunia, karena ia bisa dipercaya untuk menjaga nilainya.

Paper ini berargumen bahwa emas tidaklah hanya untuk masa-masa krisis tapi harus menjadi dasar moneter yang digunakan untuk memastikan integritas finansial, kestabilan ekonomi dan pertumbuhan yang langgeng.

Sementara tidaklah mengejutkan bahwa pandangan Islam terhadap uang adalah penggunaan emas dan perak yang nilainya 100% dengan emas dan perak riil, paper ini menunjukkan, kemudian membantah, sepuluh argumen utama yang dituduhkan terhadap  Standar Emas dalam sejarah dan saat ini.

Beberapa poin kunci yang dibahas dalam dokumen ini adalah sebagai berikut:

  1. Tuduhan bahwa hanyalah pendekatan moneter Fiat, dengan kredit murah dan penciptaan mata uang tiada akhir, yang bisa meminimalkan gejolak siklus bisnis adalah suatu argumen buram karena sebenarnya dialah penyebabnya.

  1. Pusat kritik terhadap Standar Emas adalah ketidaksukaan dan ketakutan tak rasional terhadap deflasi (penurunan harga). Pasar tenaga kerja fleksibel adalah satu kondisi yang dibutuhkan untuk menanggulangi efek-efek negatif dari jatuhnya harga-harga produk, memungkinkan bisnis untuk tetap kompetitif dan menguntungkan dalam kondisi deflasi.

  1. Bukti mengenai inflasi, setidaknya untuk Inggris, adalah jelas-jelas tidak bersesuai dengan argumen bahwa Standar Emas menyebabkan deflasi. Antara tahun 1800-1914, harga-harga Inggris bisa dikatakan sama kecenderungannya untuk turun maupun naik, dan inflasi tahunan rata-rata hampir nol.

  1. Problemnya bukanlah bahwa terdapat terlalu sedikit Emas, tapi fakta bahwa terdapat terlalu banyak dollar.

  1. Sementara biaya produksi kertas bisa diabaikan dibandingkan dengan ekstraksi, penambangan dan penyaluran emas, problemnya ada pada biaya total uang Fiat pada masyarakat.

  1. Standar Emas tidak cocok dengan sistem Fiat, dan untuk menjadi efektif dibutuhkan perekonomian berbasis tanpa-bunga.

  1. Islam mewajibkan 100% nilai uang berdasar emas dan perak sesungguhnya, tidak ada pilihan lain. Ini berdasarkan berbagai dalil Al-Qur’an.

  1. Islam mewajibkan sistem emas/perak penuh, yang penerapannya secara disiplin memungkinkan penyesuaian neraca pembayaran tanpa intervensi bank sentral.

  1. Keuntungan Standar Emas benar-benar komprehensif: suatu sistem kestabilan tanpa efek-efek besar gejolak siklus; independen dari manipulasi pemerintah; tanpa masalah inflasi nilai, debasement mata uang (mencampur mata uang emas dengan logam lain sehingga nilai uang tidak sama dengan nilai logam riilnya), krisis internasional dan defisit neraca pembayaran jangka panjang.

  1. Berkebalikan dengan hukum Gresham, mata uang kuat akan segera menjadi media pertukaran, memungkinkan standar emas untuk dengan cepat melanjutkan posisinya di dunia.

Satu-satunya sistem pemerintahan yang dengan tegas mengharuskan penggunaan Standar Emas sebagai yang terbaik adalah perekonomian Islam, sebagaimana diterapkan oleh Negara Islam (Khilafah). Dalam Islam standar dua logam yaitu emas dan perak diterapkan. Tidak ada uang fiat yang akan diterbitkan oleh negara, dan mata uang kertas apapun harus didasarkan 100% emas/perak.

Emas dan perak adalah ideal untuk media pertukaran: mereka punya nilai intrinsik (termasuk yang untuk perhiasan dan bahan baku industri), tersedia secara luas, tidak bisa didominasi (dimonopoli), dan terdapat suplai kedua logam itu secara rutin dan bertumbuh untuk memenuhi kebutuhan perekonomian berkembang.

Krisis finansial telah membeberkan seberapa besar sistem mata uang fiat ada di bawah kendali sistem perbankan, menghasilkan profit yang fenomenal sementara mengeksploitasi masyarakat luas.

Sebaliknya, Islam menyediakan lingkungan tanpa-bunga yang didalamnya terdapat sedikit insentif untuk mengambil uang keluar dari peredaran.

Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” [Terjemah Makna Qur’an Surat (59) Al-Hasyr 7]

Jamal Harwood

Mata Uang Standar Emas Lebih Unggul dari Mata Uang Fiat

Senin, 06 Februari 2012

Mengapa Mata Uang Fiat Terus Menurun Nilainya

Mengapa Mata Uang Fiat Terus Menurun Nilainya



CATATAN PENERJEMAH

Dollar-AS (uang fiat – tanpa dasar emas/perak) yang saat ini digunakan sebagai standar mata uang dunia nilainya terus merosot disebabkan oleh besarnya suplai uang itu dari pemerintah AS ke masyarakat. Kelebihan uang yang beredar di masyarakat menyebabkan daya beli uang itu turun yaitu inflasi. Namun dalam sistem kapitalis, uang harus terus diproduksi, harus terus disuplaikan untuk memenuhi likuiditas bagi pemerintah maupun masyarakat. Keharusan suplai uang terus-menerus ini salah satunya didasari oleh kuatnya daya serap perekonomian non-riil yang berbasis riba dalam sistem kapitalis. Uang yang beredar terserap sedemikian banyak ke ‘industri’ finansial non-riil ini. Sedangkan perekonomian riil membutuhkan banyak uang untuk tumbuh dan untuk membayar bunga (riba).

Mengenai hal ini, para pemerintahan kapitalisme tidak bisa melarang atau membatasi sistem riba maupun perekonomian non-riilnya karena bertentangan dengan prinsip liberalisme mereka. Perekonomian non-riil adalah satu alat utama para kapitalis rakus untuk menjadi kaya dan menguasai perekonomian dan masyarakat. Maka pada akhirnya yang menjadi korban para kapitalis adalah masyarakat yang nyata-nyata tanpa perlindungan pemerintah dalam hal ini.

Dalam kapitalisme dengan sistem uang fiat, ‘industri’ finansial yang menguasai mata uang fiat itu bisa menghasilkan keuntungan yang luar biasa yang sejumlah besarnya dihasilkan dari perekonomian non-riil. Padahal keuntungan berbasis riba dan berbasis ‘the big casino’ itu mengakibatkan inflasi yang memiskinkan masyarakat karena uang harus terus disuplaikan ke masyarakat namun uang yang beredar kembali lagi terserap ke perekonomian non-riil. Dengan kata lain, uang yang terus merosot nilainya itu semakin banyak dimiliki para ‘pemain besar’ di sektor non-riil sehingga mereka tetap kaya meskipun nilai mata uang merosot. Sementara itu, masyarakat dengan uang yang sama-sama merosot nilainya akan terus menurun daya belinya. Ditambah lagi, teori ‘trickle down effect’ – yaitu menularnya kekayaan kaum kaya dari perekonomian non-riil kepada orang umum di sektor riil – nyata tidak terjadi.

Secara internasional, dollar-US dijadikan standar dan negara-negara di dunia menjadikannya sebagai cadangan devisa negara. Jika kemerosotan nilai dollar menjadi semakin parah, maka daya beli cadangan devisa berbagai negara juga ikut merosot. Hal ini tentu akan memicu dunia internasional untuk mencari penyimpan nilai yang lebih baik daripada dollar. Mereka bisa saja menggunakan poundsterling Inggris sebagai standar atau menggunakan mata uang lain yang sedang kuat misalkan Euro. Namun uang fiat manapun sebagai produk negara penganut kapitalisme akan bernasib sama seperti dollar yang meniscayakan inflasi. Karena uang fiat itu berfungsi dan diperlakukan sama di negara kapitalis yang satu dan yang lain.

Jikalau ada suatu mata uang yang menguat nilainya, penguatan itu adalah relatif terhadap mata uang-mata uang yang lain. Jatuhnya nilai dollar mengakibatkan mata uang lain menguat secara relatif terhadap dollar. Sedangkan yang dibutuhkan untuk kestabilan moneter dunia bukanlah mata uang fiat yang terus bergejolak nilainya karena tidak memiliki dasar riil. Selain itu, kuatnya suatu mata uang dunia seperti dollar, dalam sejarah telah menjadi alat untuk mengeksploitasi negeri-negeri lain, terutama di dunia yang terjajah secara ekonomi seperti negeri-negeri Muslim, semata-mata atas dasar perbedaan nilai mata uang. Di mana mata uang yang secara relatif lebih kuat bisa membeli barang lebih banyak di negara yang nilai mata uangnya lebih lemah. Sebagai contoh, harga sebungkus biskuit coklat yang sama di dalam negeri, di Jepang harganya sekitar lima puluh ribu rupiah yang berarti seseorang yang berpenghasilan satu juta rupiah sebulan hanya akan memperoleh senilai 20 bungkus biskuit coklat di Jepang. Dunia jelas membutuhkan satu mata uang yang berbasis logam mulia yang secara intrinsik memiliki nilai dan mata uang ini bisa digunakan secara global, yaitu Uang Emas dan Perak.

Mengapa Mata Uang Fiat Terus Menurun Nilainya

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam