Sabtu, 11 Februari 2012

Makalah Mata Uang Standar Emas Mengatasi Inflasi

Makalah Mata Uang Standar Emas Mengatasi Inflasi



Argumen 1: Masalah Kemampuan Bermanuver dengan Standar Emas

Argumen 1: Standar Emas tidak menyediakan pengungkit untuk kendali kebijakan moneter. Oleh karena itu para pemerintah akan tidak bisa memulihkan fase penurunan dalam siklus bisnis, menstimulasi pertumbuhan dan memproduksi uang tunai untuk dibelanjakan untuk proyek-proyek darurat.

Bantahan: Kemampuan sistem fiat untuk meminimalkan siklus bisnis adalah pernyataan yang buram karena ia adalah penyebab utamanya. Islam secara khusus melarang bunga (riba) dan melarang perbanyakan uang tanpa dasar Emas atau Perak penuh. Pembelanjaan darurat dalam sistem fiat menguntungkan kaum kaya dan menghasilkan pajak tersembunyi bagi mayoritas orang, sementara dalam Islam pembelanjaan darurat disumberkan dari kaum kaya.

Ketidakmampuan untuk mempengaruhi Siklus Bisnis

Siklus bisnis dianggap oleh aliran arus utama mayoritas kapitalis sebagai hal yang menyatu dengan berfungsinya pasar bebas. Ditekankan bahwa dengan Standar Emas, berbagai alat kebijakan, seperti penggunaan kebijakan Fiskal dan Moneter, tidak bisa digunakan untuk meminimalkan fase negatif siklus semacam itu. Siklus bisnis dikarakterisasi oleh periode-periode pertumbuhan cepat dalam output, diikuti oleh suatu periode melambat dan kemudian kontraksi dalam output yang sering disebut resesi.

Dikatakan bahwa bank-bank sentral, yang beberapa di antaranya independen dari kendali langsung pemerintah, bisa membantu mengurangi dampak siklus semacam itu dan dengan melakukannya maka bisa memperpanjang periode ‘boom’ dan meminimalkan fase ‘kempes’ dari siklus. Tujuan ini, diklaim bisa dicapai melalui berbagai alat kebijakan moneter seperti meningkatkan tingkat bunga dan meningkatkan suplai uang. Tindakan-tindakan semacam itu tidak akan mungkin dilakukan di bawah Standar Emas penuh di mana Emas akan bertindak sebagai faktor pembatas bagi suplai uang di dalam perekonomian.

Siklus bisnis adalah produk dari faktor-faktor eksternal dan internal. Bisa terdapat kasus-kasus di mana tren penurunan atau resesi bisa disebabkan oleh faktor-faktor eksternal seperti lonjakan harga minyak 1970-an; namun faktor-faktor eksternal atau eksogen semacam itu di luar cakupan paper ini.

Faktor-faktor internal yang menyebabkan resesi cenderung berkaitan dengan kebijakan pengetatan moneter (biasanya dengan menaikkan tingkat bunga) untuk membatasi perekonomian yang terlampau panas yang mempercepat inflasi.

Riba dan Uang Fiat

Bank-bank sentral melakukan berbagai tindakan untuk mendorong peminjaman dan investasi khususnya ketika pasar sedang dalam resesi. Ini termasuk meningkatkan suplai uang dalam peredaran dan juga dengan menetapkan tingkat bunga sangat rendah yang menjadi basis bagi bank-bank untuk melakukan peminjaman antar-bank dan pemberian pinjaman pada konsumen-konsumen bersemangat seperti kredit yang mudah didapat.

Hal-hal ini termasuk di antara faktor-faktor internal yang bertanggung jawab menyebabkan siklus bisnis dan mereka jelas muncul dari sistem moneter saat ini. Budaya konsumerisme yang dibahanbakari oleh penciptaan kredit tak berbatas di tingkat bunga rendah mengakibatkan ‘boom’ yang keliru dan tidak langgeng yang mengakibatkan fase ‘kempes’ atau resesi yang tak terhindari sebagai bagian dari siklus.

Sekalinya terjadi permintaan berlebih tak terhindarkan yang dipicu oleh kredit murah, menyebabkan harga umum meningkat dan dalam kasus-kasus tertentu menyebabkan harga-harga melambung, suatu fenomena yang sering disebut sebagai ‘bubble’ (gelembung), semacam ‘bubble’ perumahan 2008 di AS, kemudian bank-bank cenderung merespon dengan menaikkan tingkat bunga untuk mengendalikan inflasi.

Biasanya di sekitar titik puncak ini, kredit menjadi terlalu mahal bagi banyak orang dan gagal bayar mulai terjadi ditambah dengan sadarnya para agen pasar bahwa harga-harga telah memuncak dan sudah waktunya untuk menjual aset-aset semacam itu. Ini mengakibatkan kontraksi tak terhindari dalam harga-harga dan dalam banyak kasus terjadi jatuhnya harga-harga yang akhirnya mengakhiri fase ‘boom’ yang keliru.

Setelah pasar bersih dari perilaku berlebih semacam itu karena resesi, keseluruhan proses dimulai kembali dan fenomena ini mengulang dirinya sendiri dalam siklus tiada henti. Poin kunci di sini adalah bahwa ‘boom’ keliru semacam itu akan diganti dengan pertumbuhan langgeng melalui standar moneter yang didasarkan pada emas dan perak, yang bukan merupakan sasaran manipulasi semacam itu. Penyimpangan apapun dari jalur pertumbuhan umum akan disebabkan oleh faktor-faktor di luar pasar seperti krisis minyak yang akan memperlambat pertumbuhan output.

Oleh karena itu untuk menyatakan tuduhan bahwa hanya pendekatan moneter Fiat, dengan kredit murahnya dan penciptaan uang tiada akhir, yang bisa meminimalkan siklus bisnis adalah argumen suram karena ia sendiri adalah satu penyebab utamanya.

Kestabilan Harga

Inflasi tidak akan terjadi dengan skala yang sama dengan yang sekarang terjadi jika suatu negara mengadopsi Standar Emas. Kita tidak perlu melihat lebih jauh selain harga emas sebagai komoditas selama beberapa tahun terakhir (yaitu bahwa emas mulai diminati untuk menyimpan nilai kekayaan). Ini adalah gejala orang-orang kehilangan kepercayaan dalam mata uang Fiat dan juga melemahnya daya beli mata uang semacam itu. Keburukan sebenarnya sistem di balik pencetakan uang tiada akhir menjadi terihat jelas dalam bagian berikutnya dari buku ini di mana motif-motif sesungguhnya peningkatan uang dalam semua bentuknya dieksplorasi. Efek akhir produksi uang tiada akhir adalah transfer kekayaan kepada faksi-faksi elit dalam masyarakat dan ini dilakukan di bawah dalih kestabilan harga.

Risiko hyperinflation (inflasi super tinggi) secara signifikan naik di bawah sistem suplai uang tak berbatas sebagaimana terbukti dalam hyperinflation akhir-akhir ini di Zimbabwe di mana tingkat inflasi di 2008 mencapai lebih dari 200 juta persen. Nasib yang mirip bisa cocok terjadi pada US dollar jika dunia kehilangan kepercayaan dalam kemampuan pemerintah AS untuk membayar kembali utang-utangnya. Cina telah mulai menjauh dari membeli utang AS dalam bentuk utang pemerintah jangka-panjang dan Treasury bills, yang hal ini bisa menjadi katalis untuk memendekkan nyawa utang AS dan membuat nasib yang mirip bagi dollar di bawah rezim produksi uang Fiat tanpa dasar riil ini, tidak seperti Standar Emas.

Pembelanjaan Darurat

Kritik terhadap mata uang berbasis Emas sering mengutip bahwa pembelanjaan darurat tidak bisa dilakukan dengannya sebagaimana bisa dilakukan dengan standar Fiat. Ini berkait dengan perkara-perkara semacam pendanaan yang diperlukan selama masa perang yang merupakan faktor kunci di belakang Presiden Nixon untuk mengakhiri Standar Emas yang paling akhir di 1971, setelah sebelumnya berlaku suatu bentuk standar emas berdasar logam mulia parsial. Ini karena biaya Perang Vietnam membutuhkan pembelanjaan selain dari cara-cara biasa yang tersedia di departemen Treasury (Bendahara).

Dalam respon terhadap tuduhan ini, pengamatan dan pendekatan alternatif berikut ini bisa didiskusikan.

Mungkin terdapat beberapa keuntungan awal dari memiliki kemampuan untuk menghemat jumlah produksi uang dan membelanjakannya untuk proyek-proyek darurat, namun untuk itu harus melalui efek-efek jangka panjangnya yaitu inflasi dan suatu transfer kekayaan dari massa ke para elit. Uang tambahan yang disuntikan ke dalam sistem di awalnya tidak mempengaruhi tingkat umum harga dan para penerima ‘uang baru’ ini bisa meraup keuntungan sebelum efek-efek negatifnya yaitu menurunnya daya beli uang (inflasi) mencapai masyarakat luas. Orang-orang yang bertransaksi dengan tunai dan utang biasanya massa dan mereka adalah yang terpukul oleh penurunan daya beli uang ketika inflasi terjadi. Sebagai hasilnya, ini menjadi suatu pajak tersembunyi yang ditarik dari mayoritas orang yang bertransaksi tunai dan deposit bank. Tidaklah mengherankan mengapa para pemerintah menyukai model Fiat bersama dengan kelompok-kelompok elit kepentingan khusus yang mereka wakili – dan juga bank-bank yang menagih utang atas uang yang bukan merupakan hasil ekonomi riil, tetapi yang diciptakan dari debu.

Kedua, kebutuhan pendanaan semacam ini sering merupakan hasil dari negara-negara kapitalis yang memulai perang sebagai strategi ekonomi untuk meningkatkan pertumbuhan dan kemakmuran ekonomi untuk perekonomian mereka. Maka ada slogan: “perang itu baik untuk perekonomian”. Masih bisakah dikatakan bahwa pembelanjaan semacam ini adalah suatu faktor penting jika pandangan utilitarian ini dihapus?

Sebaliknya, dalam sistem Islam berdasarkan pandangannya dan nilai-nilainya yang unik, ketika kebutuhan nyata terhadap pendanaan untuk proyek-proyek darurat muncul di Negara Khilafah, nilai-nilai luhur populasi, dengan orientasinya terhadap pengorbanan, kesabaran dan mentalitas kebersamaan berdasarkan kecenderungan spiritual para penganutnya, bisa dijadikan sandaran untuk menggalang dana untuk proyek-proyek kunci seperti itu (penerjemah: selain itu juga dana dari hasil kekayaan alam sebagai kepemilikan rakyat). Ini termasuk penggunaan aturan-aturan Syari’ah mengenai meminta harta kaum kaya hingga kebutuhan dana terpenuhi (tindakan tidak biasa yang bisa menarik suatu prosentase kekayaan warga kaya, mirip dengan Zakat).

Makalah Mata Uang Standar Emas Mengatasi Inflasi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda