Minggu, 12 Februari 2012

Pasar Tenaga Kerja yang Fleksibel Mengatasi Masalah Deflasi Mata Uang

Pasar Tenaga Kerja yang Fleksibel Mengatasi Masalah Deflasi Mata Uang



Argumen 2: Masalah Suplai Emas – Ketakutan terhadap Deflasi

Argumen 2: Terdapat tidak cukup suplai emas, yang bisa mengakibatkan deflasi jika standar emas diadopsi. Terdapat juga ketidakseimbangan besar dalam suplai emas di seantero wilayah dunia, dan menjaga cadangan emas/perak yang cukup adalah tugas yang sulit. Penyuntikan emas ke dalam perekonomian akan menghasilkan inflasi yang mirip dengan quantitative easing dalam sistem fiat.

Bantahan: Pusat kritik terhadap Standar Emas ini adalah ketidaksukaan dan ketakutan tidak rasional terhadap deflasi. Pasar tenaga kerja yang fleksibel adalah kondisi yang dibutuhkan untuk menanggulangi efek-efek negatif turunnya harga-harga produk yang memungkinkan bisnis tetap kompetitif dan menguntungkan dalam kondisi deflasi.

Seringkali dinyatakan bahwa terdapat tidak cukup emas dalam peredaran untuk mewakili semua perdagangan di sekeliling dunia. Perkiraan nilai emas ada di wilayah 6,5 triliun dollar sedangkan GDP dunia, sejauh perekonomian riil dipertimbangkan, ada di sekitar 50-70 trilyun dollar. Lalu bagaimana bisa mata uang emas digunakan menggantikan mata uang fiat yang telah menggantikan emas itu?

Mengenai hal di atas, dikatakan bahwa negara-negara yang melakukan transisi ke Standar Emas jelas tidak akan mampu menjaga harga-harga saat ini dan penyesuaian harga-harga akan terjadi yang mengakibatkan tingkat deflasi harga yang cukup tinggi di seantero sektor perekonomian. Setelah kejatuhan awal ini, kemudian stabilisasi-relatif akan terjadi.

Pusat kritik ini terhadap Standar Emas adalah ketidaksukaan dan ketakutan tak rasional terhadap deflasi. Untuk membantah dogma ini, suatu analisis terhadap anggapan bahaya deflasi akan didiskusikan seiring dengan pandangan alternatif mengenai bagaimana deflasi bisa menjadi kekuatan positif dalam perekonomian, bukannya menjadi pemicu resesi dan juga sebagai kekuatan positif di belakang pendistribusian kekayaan dalam perekonomian. Deflasi dikatakan sebagai keburukan yang lebih besar daripada inflasi karena banyak alasan termasuk yang berikut ini:

  • Ia meningkatkan beban utang karena utang-utang meningkat dalam nilai riilnya karena uang menjadi lebih berharga ketika harga-harga jatuh.

  • Dikatakan bahwa orang-orang akan menunda membeli barang dan jasa dalam antisipasi jikalau harga-harga semakin jatuh, maka produk kekurangan permintaan sehingga mengakibatkan turunan spiral menuju resesi dan akhirnya depresi.

  • Ia menyebabkan kebijakan moneter menjadi tidak efektif karena tidak ada insentif untuk meminjam dan oleh karenanya tidak ada cara bagi bank sentral untuk memicu pemulihan. Beberapa ahli teori seperti John Maynard keynes menyebut fenomena ini jebakan likuiditas.

Dalam respon terhadap tuduhan ini adalah jelas bahwa ada banyak produk yang mengalami pertumbuhan penjualan yang cepat selama fase panjang deflasi harga dikarenakan faktor pertama yaitu kemajuan teknologi seperti pertumbuhan e-commerce, atau karena faktor kedua yaitu periode di mana pertumbuhan output telah melampaui suplai mata uang. Kemajuan teknologi akan menyebabkan harga-harga mengalami deflasi dalam sektor-sektor tertentu perekonomian. Sedangkan keadaan yang kedua akan menyebabkan penurunan umum harga semua komoditas seiring rasio uang terhadap barang dan jasa turun dan jumlah uang yang lebih sedikit akan bisa meraup volume perdagangan yang lebih besar dan maka tiap unit uang nilai riilnya akan bernilai lebih (yang terbukti dengan jatuhnya harga-harga).

Perdagangan dan investasi tidaklah dihalangi oleh harga-harga yang jatuh yang diakibatkan peningkatan efisiensi. Pertumbuhan sebagai hasil dari revolusi industri adalah bukti yang cukup untuk ini, di mana para entrepreneur bisa secara efektif mengantisipasi dan memprediksi tren harga dan biaya dan membuat keputusan berdasar informasi di masa sekarang untuk memastikan keuntungan maksimum. Jika fakta ini tidak benar, maka turunnya biaya teknologi komunikasi akan menyebabkan banyak perusahaan teknologi menjadi bangkrut bukannya mendapat peningkatan pertumbuhan dan penjualan di pasar, padahal partisipan pasar baru sekarang bisa membeli produk-produk semacam itu sehingga meningkatkan penjualan lebih jauh lagi.

Salah satu alasan yang dikutip oleh aliran Keynesian mengenai deflasi sebagai awal menuju resesi adalah bahwa sementara harga jual barang dan jasa jatuh, harga-harga biaya, khususnya biaya upah, harganya sulit turun dan maka bisnis mulai mengalami kelebihan tenaga kerja dan mengurangi kelebihan itu yang mengakibatkan turunnya tingkat permintaan dalam perekonomian yang lebih memperparah jatuhnya harga ke dalam spiral menurun hingga pemerintah mengintervensi untuk mengakhiri proses itu dan mulai mengadakan permintaan sendiri dengan mengadakan proyek-proyek untuk mengkompensasi kekurangan permintaan di sektor swasta.

Tantangannya di sini adalah menunjukkan bagaimana biaya-biaya produksi bisa jatuh untuk memungkinkan bisnis tetap kompetitif dalam iklim deflasi seperti itu dan maka tidak menderita efek sakit yang dideskripsikan di atas. Jika bisnis-bisnis mampu menurunkan biaya input mereka dan dengan melakukan itu mampu menjaga profitabilitasnya, mereka akan kebal secara relatif dari efek-efek turunnya harga-harga.

Gerak turun biaya produksi bisa terjadi di area-area seperti biaya tenaga kerja di mana biaya itu biasanya disebut sebagai ‘kekakuan upah’, atau dalam faktor-faktor lain dalam produksi seperti sewa tanah, dikarenakan kontrak sewa jangka panjang yang sulit direnegosiasi. Kekakuan upah bisa terjadi karena faktor psikologis di mana individu melihat nominal upah bukannya nilai riil uangnya. Konsep ini dikenal sebagai ‘ilusi uang’ yaitu fenomena di mana para pekerja akan kurang suka jika menerima bayaran lebih rendah meskipun harga-harga sedang jatuh, sedangkan mereka akan lebih menuntut kenaikan upah ketika harga-harga naik. Jika para pekerja menyadari kontradiksi ini, mereka akan kurang cenderung menolak pengurangan upah khususnya jika mereka melihat implikasi lebih luas mengenai prospek pekerjaan mereka dan keseluruhan perekonomian.

Pasar tenaga kerja yang fleksibel oleh karenanya menjadi kondisi yang dibutuhkan untuk menanggulangi efek-efek negatif jatuhnya harga-harga produk. Dalam Islam terdapat berbagai konsep seperti konsep bahwa Allah menyediakan rizki dan juga konsep lebih jelas terhadap nilai, dalam hal ini nilai uang didefinisikan sebagai daya belinya, untuk memastikan pasar tenaga kerja tidak menderita dari kekakuan semacam itu.

Bertolak belakang dengan pandangan yang mengukur utilitas (kegunaan) sebagai fitur komoditas yang berdiri sendiri, para ahli teori Kapitalis di masa awal (Aliran Marginal) mengadopsi konsep nilai yang disebut teori ‘diminishing marginal utility’ yang mendefinisi nilai suatu komoditas sebagai kegunaannya di titik konsumsi ketika ia memuaskan titik terendah kebutuhan; tingkat kegunaan ini memungkinkan perbandingan berbagai komoditas untuk tujuan pertukaran/jual-beli.

Uang secara alami menjadi barang universal yang bertindak untuk mengukur nilai semua benda. Namun masalahnya adalah bahwa dengan rasio ini (yang disebut ‘harga’) orang-orang mulai mengukur nilai objek-objek melalui prisma harga bukannya kegunaan intrinsik dari objek. Maka jika harga, atau jumlah absolut upah mereka dikurangi, implikasinya menjadi bahwa ini pasti hal yang buruk.

Implikasi kebingungan memandang nilai melalui harga secara jelas ditunjukkan dalam contoh fenomena ilusi uang di mana para pekerja tidak bisa melihat nilai riil upah-upah mereka. Malah, para pekerja berpikir tentang upah mereka dalam tulisan nominalnya dan mengukur upah mereka melalui jumlah moneter absolutnya (tulisan nominalnya) tanpa melihat nilai riilnya, dalam hal ini nilai riil adalah daya beli uang.

Jika saja para partisipan beroperasi dalam lingkungan ekonomi Islam dengan kejelasan atas konsep-konsep itu (bahwa nilai menjadi dibingungkan oleh para ahli teori ekonomi klasik) dan oleh karenanya mampu melihat nilai dalam keadaan riilnya, maka pandangan yang benar terhadap nilai upah seseorang dalam fase deflasi akan membuat para pekerja lebih cenderung menerima upah lebih rendah karena mengetahui daya belinya dan nilai upah mereka akhirnya tidak akan terpengaruh. Selain itu, ketakutan terus-menerus terhadap inflasi yang lekat dengan sistem Fiat memperparah ketakutan ini dan lebih jauh membuat para pekerja tidak suka menerima pengurangan upah.

Selain itu, penelitian di 1999 di Amerika Utara berjudul “Why Wages Don’t Fall During a Recession” (Mengapa Upah-Upah Tidak Turun Selama Resesi) oleh Truman Bewley [diterbitkan oleh Harvard University Press], yang didasarkan pada wawancara dengan lebih dari 300 pebisnis, para pemimpin serikat pekerja, dan para perekrut tenaga kerja, menemukan kesenjangan besar antara model teoretis kekakuan upah dan penyebab-penyebab sesungguhnya.

Penelitian itu mengutip alasan-alasan seperti ketakutan para pemberi kerja terhadap turunnya morale (motivasi) pekerja karena anggapan bahwa nominal upah yang lebih rendah akan mengakibatkan standar hidup lebih rendah. Penelitian itu menemukan bahwa para pemberi kerja akan takut terjadi peningkatan ‘staff turnover’ (keluarnya pekerja dari tempat kerjanya) dan ini memakan biaya yang tinggi. Akibatnya para pemberi kerja lebih memilih memutus hubungan kerja sebagian pekerja sebagai cara menurunkan biaya tenaga kerja untuk menanggulangi efek ini daripada menurunkan upah. Jelas jika realitas ilusi uang dijelaskan, dan pandangan terhadap nilai dipahami, maka keengganan untuk menurunkan upah akan diminimalkan sehingga efek negatif pengurangan upah terhadap motivasi pekerja juga akan minimal.

Kesimpulannya di titik ini, bisa dikatakan bahwa harga upah dan harga input produksi lainnya perlu turun untuk membantu pasar menyesuaikan kembali ke tingkat keseimbangan yang baru untuk menghindari spiral menurun menuju kontraksi pasar menuju resesi, pengangguran tinggi dan akhirnya depresi. Namun jika investasi yang mendasari suatu bisnis tidaklah cukup kokoh untuk menghadapi tekanan seperti itu maka akan lebih baik bagi entitas bisnis itu untuk gagal daripada di-‘bail out’ (ditalangi) oleh rakyat.

Kedua, sejauh mengenai meningkatkan beban utang, model Islam dibangun atas premis mendorong para partisipan pasar kesalehan untuk hidup dengan kemampuan sendiri dan mendanai investasi melalui menabung dan bukan dari utang yang tidak bisa disokong. Maka akan berada dalam situasi di mana jasa utang dengan bunga (riba) tidak ada. Di sana, etos umum pendekatan distributif dalam sistem Islam akan memastikan terdapat jauh lebih banyak pemerataan kekayaan di antara para agen pasar dan maka menabung adalah norma umumnya bukannya menjadi suatu pengecualian sebagaimana dalam sistem distribusi kekayaan dengan kesenjangan tinggi dalam sistem kapitalis yang secara bertahap jauh memisahkan antara kaya dan miskin dengan tingkat kecepatan yang semakin tinggi. Bukanlah kejutan bahwa orang-orang sering terpaksa mengambil utang untuk berusaha mencapai tangga kekayaan.

Akhirnya, argumen ini: ‘selama orang-orang menunda melakukan pembelian’ adalah argumen yang dibesar-besarkan lebih dari proporsi sebenarnya untuk menjustifikasi program Quantitative Easing yang bersasaran menciptakan inflasi untuk menanggulangi deflasi yang dideskripsikan di atas. Jika upah telah lebih fleksibel sebagaimana ditunjukkan dalam analisis sebelumnya, maka insentif untuk menunda pembelian ketika upah akan turun, bisa jadi sebelum turunnya harga barang atau jasa, menihilkan dogma keliru ini.

Haruslah dicatat bahwa kita mendukung standar bi-metal yaitu emas dan perak sebagai dasar moneter. Standar bi-metal ini akan meningkatkan suplai uang, karena ia tidak bergantung pada emas saja.

Pasar Tenaga Kerja yang Fleksibel Mengatasi Masalah Deflasi Nilai Mata Uang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda