Kamis, 09 Februari 2012

Paper Mata Uang Standar Emas Mengatasi Krisis Moneter

Paper Mata Uang Standar Emas Mengatasi Krisis Moneter



PENDAHULUAN

Emas adalah uangnya para raja, perak adalah uangnya para terhormat, barter adalah uangnya para petani – tapi utang adalah uangnya para budak” Norm Franz, Money and Wealth in the New Millennium

Pada 31 Desember 2010, Emas mengakhiri tahun itu dengan $1420 per ons: naik lebih dari 30% di tahun itu, dan itu adalah tahun ke-10 berturut-turut di mana ia tumbuh. Sejak 1971, ketika Richard Nixon secara unilateral mengeluarkan dunia dari standar emas Bretton Woods, emas telah mengalami apresiasi (kenaikan nilai) dari harga ketika itu $35 per ons ke tingkat saat ini, menunjukkan apresiasi emas sebesar 3950 persen – atau lebih akuratnya – menunjukkan depresiasi (penurunan nilai) US Dollar.

Emas adalah kelas investasi terdepan di 2010, dan satu-satunya yang naik nilainya setiap tahun sejak tahun 2000. Tapi paper ini bukan mengenai kinerja berbagai aset investasi; ini adalah tentang emas sebagai mata uang. Ini tentang pelapukan berkelanjutan, penurunan nilai berbagai mata uang fiat berbasis kertas dan apakah terdapat alternatif yang lebih baik. Dengan pertumbuhan ekonomi di perekonomian negara-negara maju hanya minimalis dan menghadapi serangan balik dalam perang berbagai mata uang, seiring negara-negara berusaha bangkit dari devaluasi (penurunan nilai) mata uang di ronde berikutnya dengan cara mencetak uang, banyak dari mereka sekarang mempertanyakan apakah emas bisa menjadi pondasi sistem moneter dunia lagi.

Ketua Bank Dunia, Robert Zoellick di November 2010 dalam artikel Financial Times memicu kembali debat dengan mendesak para pemimpin dunia untuk mempertimbangkan menggunakan kembali standar emas untuk mengendalikan pergerakan berbagai mata uang. Dia berargumen bahwa perekonomian terbesar dunia perlu membangun sistem moneter yang lebih kooperatif, yang dia klaim akan meningkatkan kepercayaan investor dan menstimulasi pertumbuhan ekonomi:

“G20 harus melengkapi program pemulihan pertumbuhan dengan suatu rencana untuk membangun sistem moneter kooperatif yang mewakili kondisi-kondisi ekonomi bertumbuh. Sistem baru ini mungkin butuh untuk melibatkan dollar, euro, yen, pound dan renminbi (yuan) yang bergerak ke arah internasionalisasi dan kemudian suatu rekening modal terbuka. Sistem harus juga mempertimbangkan menggunakan emas sebagai titik referensi ekspektasi pasar tentang inflasi, deflasi dan nilai mata uang di masa depan. Meskipun buku diktat mungkin memandang emas sebagai uang kuno, pasar-pasar sedang menggunakan emas sebagai aset moneter alternatif hari ini.” [1]

Komentar-komentar Zoellick terprediksi memicu badai protes dari berbagai kepentingan finansial dan perbankan. Namun, sistem sekarang tetap dan terus gagal.

Penggunaan Quantitative Easing (yang secara dramatis meningkatkan suplai uang) oleh pemerintah AS juga telah dikritik secara luas. Perdana Menteri China Hu Jintao menjelang kunjungannya ke AS di pertengahan Januari secara cukup agresif menekankan:

“Likuiditas US$ harus dijaga di tingkat yang masuk akal dan stabil.”

Hu Jintao juga menyinggung kebutuhan untuk perbaikan besar dalam sistem moneter fiat ketika dia berkata di perjalanan kunjungan itu:

“sistem mata uang internasional sekarang adalah produk dari masa lalu.”

Mr. Hu hanya menyatakan kembali fakta bahwa mata uang de facto dunia (US$) terus mengalami depresiasi secara cepat dan bahwa negara-negara kreditor besar seperti China tidak akan terus mendanai defisit AS. Sistem fiat berbasis emas memungkinkan AS untuk secara liar mencetak dollar karena dan ketika dia merasa perlu. Sebagai mata uang utama global, ini punya efek dramatis pada perekonomian dunia, dengan inflasi yang menggerogoti dan devaluasi terus-menerus dalam dollar (dan tentu juga berbagai mata uang kertas utama dunia yang lain).

Seiring dampak-dampak langsung krisis finansial dirasakan, dan devaluasi mata uang muncul mungkin sebagai alat terakhir untuk menumbuhkan pemulihan, sekarang adalah waktunya untuk mempertimbangkan lagi alternatif untuk rezim kertas fiat tidak stabil ini. Dengan pendiskreditan mendalam terhadap sistem perbankan dunia melalui krisis baru-baru ini, terdapat kesempatan untuk memeriksa kembali pilar-pilar moneter perbankan Barat – termasuk penciptaan kredit melalui mata uang fiat yang sepenuhnya kekurangan aset riil. Bisakah dan haruskah dunia kembali ke Standar Emas?

Paper ini memicu kembali debat dengan menunjukkan kemudian membantah 10 argumen utama yang dituduhkan terhadap Standar Emas. Argumen-argumen itu disaring dari literatur ilmu ekonomi dan analisis media. Argumen-argumen tandingan itu mewakili siklus hidup dan cakupan sistem moneter berbasis emas masa kini.

Kami menjelaskan argumen-argumen itu dan berbagai argumen tandingan untuk mengeksplorasi apakah mereka tetap valid di masa ini dan sejarah, dan apakah mereka tidak bisa diungguli dalam usaha pencarian mata uang lebih stabil di dunia yang tidak stabil.

Terakhir, kami menyatakan posisi Islam mengenai mata uang: kedisiplinannya terhadap standar emas/perak dan bagaimana ini akan diterapkan berkaitan dengan sepuluh argumen yang melawan kesuksesannya.

Paper Mata Uang Standar Emas Untuk Mengatasi Krisis Moneter

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda