Unduh BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Sabtu, 18 Agustus 2018

Memenangkan Islam Di Negeri Syam



Negeri Syam adalah bagian dunia yang sangat penting yang termasuk dalam pusat urusan politik dan spiritual bagi kaum Muslimin sejak awal sejarah mereka. Kita telah diberitahu mengenai pentingnya as-Syam di dalam hadits Rasul dan bahwa kaum Muslimin memiliki ikatan -spiritual maupun politik- dengan wilayah itu hingga hari Kiamat. Nabi bersabda:

طُوبَى لِلشَّامِ فَقُلْنَا لِأَيٍّ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِأَنَّ مَلَائِكَةَ الرَّحْمَنِ بَاسِطَةٌ أَجْنِحَتَهَا عَلَيْهَا

"Beruntunglah bagi penduduk Syam." Lalu kami bertanya; "Mengapa bisa seperti itu wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Sesungguhnya Malaikatnya Dzat Yang Maha Pengasih (Allah) telah membentangkan sayapnya di atas negeri Syam." (HR. at-Tirmidzi)

Negeri Syam adalah wilayah yang meliputi Lebanon, Palestina, Yordania dan hampir seluruh Suriah. Di bawah pemerintahan Khalifah Abu Bakar ra. kaum Muslimin telah mulai memasuki area-area Suriah. Dan beberapa bulan setelah meninggalnya Abu Bakar, Damaskus jatuh ke tangan Negara Khilafah pada 635 M.

Wilayah Syam di abad ke-9

Terjadi pertempuran penting dan bersejarah antara Kerajaan Byzantine (Kerajaan Romawi Timur) dan Negara Khilafah, di mana kaum Muslimin hanya berjumlah 40.000 sementara tentara musuh berjumlah 200.000 tentara.

Setelah berperang selama beberapa hari, kaum Muslimin mampu mengungguli, dengan sebanyak 70.000 tentara Byzantine terbunuh. Ketika Kaisar Heraclius mendengar kabar kekalahan itu, dia pindah ke Konstantinopel mengatakan, “Selamat tinggal Suriah; betapa sebuah negeri kutinggalkan pada musuh!” Perang ini kemudian dikenal sebagai Perang Yarmuk dan merupakan perang yang signifikan dalam sejarah.

Lalu diikuti oleh penaklukan lanjutan, membawa Aleppo dan Antioch ke dalam kendali Khilafah pada tahun 637 M. Dengan dikuasainya Antioch, hampir seluruh Suriah ada di bawah kendali kaum Muslimin.

Kemenangan terakhir dan paling signifikan dalam rangkaian penaklukan ini adalah dikuasainya Yerusalem oleh Khalifah Umar pada tahun 637 M. Sang Khalifah tiba di kota Yerusalem dengan mengenakan baju berbahan kain kasar, membuat heran banyak orang kafir. Umar menetapkan pakta dengan kaum kafir Yerusalem berdasarkan ajaran Islam yang menjamin nyawa dan harta mereka, gereja-gereja dan salib-salib mereka. Mereka tidak boleh dipaksa masuk Islam, dan tidak boleh dizhalimi.
Pemerintahan Islam diterapkan di al-Syam dan terus berlangsung hingga serangan Pasukan Salib yang pertama. Yerusalem kemudian menjadi pusat konflik antara kaum Muslimin dan kaum Kristen Eropa, yang terwujud dalam Perang Salib.

Era Khilafah Utsmani dan Makar Barat

Selama kekuasaan Utsmani, al-Syam tetap di genggaman kaum Muslimin. Setelah sebelumnya Syam menjadi area perseteruan antara Mamalik dan Utsmani, pada akhirnya menetap di bawah kendali Utsmani, khususnya setelah perpindahan resmi kekuasaan Khilafah kepada Utsmani di bawah Sultan Salim, ayahnya Sultan Sulaiman. Al-Syam menjadi sebuah propinsi Khilafah Utsmani.

Upaya awal Eropa terhadap Syam kemudian dilakukan oleh Perancis, yang menguasai sebagian Mesir di bawah Napoleon. Pada 1798, pasukan Perancis maju ke Syam melalui Semenanjung Sinai, sebelum dipaksa mundur oleh pasukan Utsmani. Upaya yang berikutnya memberikan keberhasilan lebih lanjut bagi Perancis, yang mampu merebut sebagian Palestina, Lebanon dan Suriah selama beberapa waktu, sebelum dipaksa mundur, kali ini Perancis dibantu Aliansi Quadrilateral yaitu Inggris, Rusia, dan dua negara Jerman.

Upaya semacam Napoleon hanya membawa keberhasilan temporer dan terbatas, sementara bisa dikatakan bahwa Barat mendapat keberhasilan lebih besar dengan basis gerakan intelektual dan budaya. Upaya mereka itu menggabungkan antara kerja misionaris dan pemunculan separatis, kecenderungan nasionalisme di kalangan kelompok minoritas di Khilafah Utsmani. Pusat misionaris berdana asing pertama didirikan di Beirut pada tahun 1820. Pada tahun 1834 misionaris terkemuka Amerika Eli Smith membuka sekolah Kristen untuk perempuan.

Dalam kondisi Khilafah Utsmani telah menjadi rentan terhadap pemberontakan di kawasan Balkan,  aktivitas intelektual di Syam berhasil memunculkan aspirasi politik di dalam beberapa kelompok minoritas. Para misionaris Inggris, Perancis dan Amerika yang bekerja di balik topeng institusi ilmiah dan pendidikan, menjadi penyalur paham-paham kufur, yang turut mendorong perkembangan ide “Solidaritas (pan) Arab.”

Nasionalisme Arab Dan Tendensi Separatis

Misionaris bertindak sebagai saluran menuju gerakan politik, dan pada akhirnya menjadi aktivitas fisik. Dengan melemahnya pengaruh Khilafah Utsmani di Syam, perseteruan antara minoritas Druze dan Maronite meletus pada 1841 di daerah pegunungan Lebanon. Inggris berpihak pada Druze dan Perancis berpihak pada Maronite. Ini menghasilkan pertumpahan darah yang signifikan di seluruh Lebanon sebelum meluas ke wilayah Suriah yang lebih besar.

Pertarungan itu memunculkan seruan kemerdekaan politik bagi berbagai kelompok minoritas. Intervensi serta gerakan politik menjadi umum. Itu dijiwai oleh semangat separatis, dan bermacam partai dan kelompok dibentuk untuk tujuan ini. Kelompok semacam “Syrian Scientific Association” dibentuk pada 1857, didesain untuk mewujudkan nasionalisme Arab. The “Secret Association” dibentuk pada 1875, lebih lanjut menumbuhkan tendensi pan-Arab; mendorong permusuhan terhadap Khilafah Utsmani dengan menyebutnya sebagai Negara “Turkish” dan menuduhnya merebut kekuasaan politik dari orang-orang Arab; dan menghasilkan permusuhan di antara kelompok-kelompok Arab (berdasarkan perbedaan dalam hal agama).

Seiring dengan tumbuhnya tendensi-tendensi semacam itu dan dengan berlanjutnya pelemahan politik Utsmani, tumbuhnya perlawanan dan pemberontakan menjadi subur.
Selama keributan yaitu Perang Dunia 1, Inggris mendorong antek barunya Syarif Hussein, yang ketika itu masih wali (gubernur) Khilafah Utsmani di Makkah, untuk melancarkan Revolusi Arab melawan Utsmani.

Revolusi ini terbukti berhasil, memuluskan jalan bagi pemisahan tanah-tanah Arab dari Utsmani, menempatkannya di bawah mandat Inggris dan Perancis. Di tahun yang sama, Inggris dan Perancis setuju atas pembagian tanah-tanah bekas Khilafah melalui Perjanjian Sykes-Picot dengan persetujuan Kekaisaran Russia. Mengikuti Revolusi Komunis di Russia, kaum Komunis membeberkan rencana Inggris-Perancis itu pada dunia.

Peta Kesepakatan Sykes-Picot yang dibocorkan oleh Komunis Rusia

Kesepakatan Sykes-Picot (bersama dengan perjanjian-perjanjian semacamnya) menentukan pengaruh Inggris dan Perancis di dunia Muslim setelah jatuhnya Khilafah. Di bawah kesepakatan ini, Inggris diberi kendali atas Yordania, Irak, dan daerah kecil sekitar Haifa. Perancis diberi kendali atas Turki Tenggara, Irak Utara, Suriah, dan Lebanon. Mereka dibebaskan untuk menentukan batas-batas negara. Keputusan sesukanya itulah yang menentukan dunia Muslim terpecah menjadi wilayah-wilayah geopolitik hingga hari ini.

Zionisme Dan Israel

Pemecahbelahan Khilafah juga diikuti oleh berdirinya Israel, dibantu oleh Inggris dengan Deklarasi Balfour yang menciptakan momentumnya pada 1948.


Al-Syam Hari Ini

Negeri Syam hari ini adalah wilayah dalam kobaran api. Perang di Suriah sekarang sudah lebih dari lima tahun, hasil dari 4 dekade lebih umat Islam hidup di bawah penindasan rezim Ba’ath. Menghasilkan krisis pengungsi skala raksasa, belum pernah disaksikan di manapun selain Afrika sejak PD2.

Sementara Israel tetap bercokol di wilayah itu, dia berada dalam posisi tak aman di antara institusi-institusi politik Muslim, mempersenjatai diri sebanyak-banyaknya sebagai persiapan untuk terjadinya benturan tak terelakkan yang suatu hari akan datang. Sementara negara-negara di wilayah Syam (semacam Yordania) adalah contoh kelemahan dan pengkhianatan, tidak mencerminkan sentimen penduduknya dan dunia Muslim yang lebih luas.

Puluhan tahun eksperimen dengan model pemerintahan asing dan ketundukan politik yang endemik kepada kekuatan-kekuatan asing telah membuat kebanyakan orang yakin bahwa keadaan politik saat ini mengindikasikan peristiwa-peristiwa besar yang akan datang. Umat Islam di Suriah sebagai contoh, meski puluhan tahun ditindas, masih bisa menjaga aspirasi politik Islam. Itu menunjukkan bahwa kaum Muslimin masih terhubung dengan warisan politiknya dan terhubung oleh ide-ide persatuan Islam.

Bisyarah Rasulullah menempatkan as-Syam di pusat perhatian, menunjukkan peristiwa-peristiwa besar yang akan berujung kemenangan kaum Muslimin, hingga Yerusalem sebagai ibukota Khilafah masa depan.

Namun sebagaimana biasanya, keberhasilan itu akan didahului oleh cobaan berat dan pengorbanan besar, yang hari ini kita saksikan di Suriah.

Kita memohon pada Allah Yang Maha Tinggi untuk mengembalikan as-Syam ke tempatnya di “pusat Islam” sebagaimana dahulu, dan ini adalah perkara yang mudah bagi-Nya.


Jumat, 17 Agustus 2018

Musuh Setiap Nabi - TAFSIR al-Furqan: 31



Oleh: Rokhmat S. Labib, MEI

“Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.” (TQS. al-Furqan [25]: 31).

Dakwah tidak selalu diterima dengan tangan terbuka. Sebaliknya, kadang ditolak, bahkan dengan cara yang amat kasar. Ada juga yang justru menjadikan para dai yang mengajak kepada kebenaran dan kebaikan sebagai musuhnya. Mereka adalah orang-orang jahat, yang tidak rela kejahatannya diganggu dan dihentikan.

Ini pula yang dialami oleh Rasulullah dan para nabi lainnya. Mereka semua memiliki musuh yang menghadang dakwah dan mencederai diri mereka. Namun demikian, mereka tidak perlu takut dan khawatir. Sebab, ada Dzat yang senantiasa memberikan petunjuk dan pertolongan terhadap mereka.

Ayat ini adalah di antara yang menjelaskan perkara demikian.

Punya Musuh

Allah SWT berfirman: Wakadzaalika ja'alnaa likulli nabiyy[in] 'aduww[an] min al-mujrimiin (dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa). Dalam ayat sebelumnya diberitakan mengenai pengaduan Rasulullah kepada Allah SWT mengenai kaum beliau. Beliau mengadukan mereka karena mereka telah menjadikan Al-Qur’an sebagai mahjuur[an] (sesuatu yang ditinggalkan, ditelantarkan).

Ayat ini pun menghibur Nabi , bahwa kejadian itu bukan hanya dialami oleh beliau. Akan tetapi juga dialami oleh semua nabi. Diberitakan bahwa semua nabi memiliki musuh dari kalangan para pelaku kejahatan. Oleh karena itu, beliau diminta bersabar atas semua permusuhan kaum beliau, sebagaimana para nabi sebelumnya yang juga bersabar dalam menghadapi musuh-musuh mereka. Dikatakan Syihabuddin al-Alusi, ayat ini merupakan tasliyah (memberikan hiburan) bagi Rasulullah dan mengajak beliau untuk meneladani nabi-nabi sebelumnya. Bahwa setiap mereka memiliki aduww (musuh).

Frasa: Wa kadzaalika (dan seperti itulah) dalam ayat ini memberikan pengertian: Sebagaimana Kami adakan musuh-musuh bagimu dari kalangan kaum Musyrik Arab -padahal mereka adalah kaummu.

Dilanjutkan dengan frasa sesudahnya: ja'alnaa likulli nabiyy[in] 'aduww[an] (telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh). Diterangkan oleh al-Jazairi dalam Aysar al-Tafaasiir, "Sebagaimana Kami jadikan bagimu para musuh-musuh dari kalangan penjahat kaummu, Kami jadikan pula setiap nabi sebelummu musuh para penjahat dari kaum mereka. Karena itu, bersabarlah dan menanggung beban hingga kamu dapat menyampaikan risalah dan menunaikan amanahmu." Penjelasan yang kurang lebih sama juga dikemukakan oleh para mufassir lainnya.

Kata al-'aduww di sini bisa digunakan makna tunggal atau jamak. Ini seperti firman Allah SWT: Fa innahum 'aduww[un] lii (karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, TQS. al-Syuara [26]: 77).

Ditegaskan dalam ayat ini bahwa musuh para nabi itu adalah min al-mujrimiin (orang-orang yang berdosa). Kata mujrim merupakan bentuk ism al-faa'il dari kata ijraam. Menurut Ahmad Mukhtar dalam Mu'jam al-Lughah al-'Arabiyyah al-Mu‘aashirah kalimat ajrama al-rajul berarti irtakaba dzanb[an] aw janaa jinaayah (melakukan suatu dosa atau mengerjakan suatu kejahatan).

Dalam Al-Qur’an, banyak sekali celaan terhadap al-mujrimuun dan ancaman terhadap mereka. Allah SWT berfirman: “Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya, tiadalah beruntung al-mujrimuun (orang-orang yang berbuat dosa)” (TQS. Yunus [10]: 17). Juga firman-Nya: “Dan kamu akan melihat al-mujrimiin (orang-orang yang berdosa) pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu” (TQS. Ibrahim [14]: 49).

Adanya musuh bagi para nabi ini juga diberitakan dalam firman Allah SWT: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (TQS. al-An’am [6]: 112).

Pemberi Petunjuk dan Penolong

Allah SWT berfirman: Wa kafaa bi Rabbika Haadiy[an] wa Nashiir[an] (dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong). Dalam ayat ini ditegaskan cukuplah bagi Allah SWT sebagai Haadiy[an] wa Nashiir[an].

Menurut al-Jazairi, Dia sebagai Haadiy[an] (Pemberi petunjuk) kepada jalan kemenangan dan keselamatan; dan Nashiir[an] (Penolong, Pelindung) bagimu atas semua musuhmu. Tak jauh berbeda, Fakhruddin al-Razi mengatakan bahwa Haadiy[an], menunjukkan kepada kemaslahatan agama dan dunia; Nashiir[an], Pelindung dan Penolong atas para musuh. Perhatikan firman Allah SWT: “Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.” (TQS al-Anfal [8]: 64).

Dalam konteks ayat ini, menurut Ibnu Katsir petunjuk dan pertolongan itu diberikan kepada orang yang mengikuti Rasul, mengimani Kitab-Nya, membenarkan, dan mengikutinya. Maka, sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk dan Penolongnya di dunia dan akhirat. Masih menurut Ibnu Katsir, sesungguhnya Allah SWT berfirman: Haadiy[an] wa Nashiir[an] karena orang-orang musyrik menghalangi manusia untuk mengikuti Al-Qur’an, agar tidak ada seorangpun mendapatkan petunjuk dan sistem kehidupan mereka dapat mengalahkan sistem al-Qur’an.

Musuh Nabi

Sejak Nabi Muhammad diangkat sebagai utusan Allah SWT dan mendakwahkan Islam, mendapatkan penentangan dan permusuhan dari sebagian kaumnya. Permusuhan mereka semakin besar, ketika beliau mendakwahkan Islam secara terbuka dan mendapatkan penerimaan luas dari masyarakat. Berbagai kejahatan dan tindakan buruk ditimpakan kepada beliau, seperti caci-maki, intimidasi, pemboikotan, bahkan rencana pembunuhan.

Penentangan dan permusuhan bukan hanya dilakukan beberapa orang, juga dari berbagai suku Arab yang ada saat itu. Di antara mereka yang amat keras permusuhannya adalah Abu Lahab, pamannya sendiri. Ke manapun Nabi pergi, Abu Lahab mengikutinya, sambil mengatakan kepada setiap orang yang didakwahi Nabi : "Janganlah kalian menaatinya, karena dia pendusta." Hal yang sama ditunjukkan oleh Ummu Jamil, istri Abu Lahab.

Nama lainnya adalah Abu Jahal. Permusuhannya kepada Nabi juga luar biasa. Di antaranya adalah menyiksa para pengikut Nabi dan memprovokasi kaum kafir Quraisy memboikot keluarga Nabi dan pengikutnya. Bahkan dia juga memaki-maki Nabi , melempari beliau dengan pasir dan kotoran hewan, dan menyiksa beliau.

Tak hanya di Makkah, di Madinah pun ada orang-orang yang memusuhi beliau. Mereka adalah dari orang-orang munafik dan Yahudi. Di antara mereka adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Gembong kaum munafik itu menempuh berbagai cara kotor dan keji, seperti menyebarkan fitnah, mengadu-domba antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar, mempengaruhi kaum muslim agar tidak turut mendukung Nabi dalam Perang Badar dan Perang Uhud, menghasut kaum Yahudi agar lebih gencar memusuhi Nabi , dan lain-lain.

Meskipun mereka menempuh aneka cara untuk membunuh dan menghentikan dakwah, namun mereka gagal. Tak sedikit di antara mereka yang binasa dan mati dalam keadaan amat mengenaskan.

Maka siapapun yang menempatkan dirinya sebagai musuh nabi-Nya, kerugian dan penderitaanlah yang akan menimpa mereka di dunia dan akhirat. Semoga kita dijauhkan dari mereka. Wal-Laah a'lam bi al-shawaab.[]

Ikhtisar:

1. Setiap nabi memiliki musuh dari kalangan para penjahat.
2. Allah SWT memberikan petunjuk dan pertolongan kepada para utusannya.
3. Musuh para nabi adalah musuh Allah SWT. Mereka dibinasakan dan dijatuhkan azab yang berat di akhirat.[]

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 143

Minggu, 05 Agustus 2018

Pemerintah Melanjutkan Kebijakannya Menenggelamkan Negeri Ke Dalam Utang



Pada Sabtu, 28/07/2018, sebuah kesepakatan utang antara Negara Tunisia dan Bank Dunia untuk mendanai program pendukung anggaran, yang akan memberi pemerintah 1,28 milyar dinar dengan tingkat riba 0,7% disetujui oleh DPR. Ziyad al-Athari, Menteri Pembangunan dan Investasi, mengatakan bahwa Tunisia tidak punya pilihan selain mengandalkan pinjaman asing untuk menjalankan proyek-proyek pembangunan di mana negara tidak punya cukup sumberdaya, dan bahwa jika berhenti berhutang maka akan menghambat pembangunan.

Mentalitas menteri ini dan pemerintahnya sudah seharusnya mendapat kecaman.
Telah diketahui luas bahwa Bank Dunia adalah salah satu alat kekuatan kolonial untuk mengendalikan dan menguasai masyarakat, maka, meminjam dari mereka berarti membuat penduduk Tunisia menjadi sanderanya kolonis. Itu artinya, tidak ada kemerdekaan ataupun pemerintahan yang sesungguhnya, namun mereka adalah pegawainya kolonis yang menyebut diri mereka sendiri pemerintah!

Menteri mengklaim bahwa Pemerintah harus berutang, yang berarti menyangkal bahwa Tunisia punya sumberdaya lain yang dengannya proyek-proyek bisa didanai, yang berarti bahwa Pemerintah sengaja membiarkan kekayaan negeri terus dirampas perusahaan-perusahaan kolonial.

Kelas penguasa ini (pemerintah maupun oposisi) tidak menganggap bahwa kekayaan di Tunisia adalah hak penduduk Tunisia, tidak juga mereka perhatian terhadap dana publik yang dirampas oleh koruptor, dan setelah itu mengklaim bahwa satu-satunya solusi adalah dengan bergantung pada musuh dan menyerah padanya! Apakah pemerintah seperti ini layak memimpin masyarakat Tunisia?

Si Menteri beralasan bahwa tidak ada solusi bagi pembangunan di Tunisia kecuali dengan berutang utang haram, padahal Allah -Tuhan kita- telah jelas melarang utang riba, Allah SWT berfirman: 

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (QS. al-Baqarah: 275)


“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. al-Baqarah: 278)


“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu POKOK HARTAmu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. al-Baqarah: 279)

Juga Nabi bersabda:
الرِّبَا سَبْعُونَ حُوبًا أَيْسَرُهَا أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ
"Riba itu mempunyai tujuh puluh tingkatan, yang paling ringan adalah seperti seseorang yang menzinai ibunya." (HR. Ibnu Majah no.2265 dari Abu Hurairah)

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَشَاهِدَهُ وَكَاتِبَهُ
“Rasulullah melaknat orang yang makan riba, orang yang memberi makan riba, saksinya dan penulisnya.” (HR. Abu Dawud no.2895)

Betapa kejinya riba, dan betapa hina yang terlibat, dan betapa keras hukumannya!

Apakah Allah membolehkan riba dan menjadikannya solusi bagi manusia?! Tidakkah kita baca Kitab Allah Yang Maha Kuasa?! Tidakkah kita melihat bahwa pemerintah menambah utang hingga menenggelamkan kita?! Tidakkah kita belajar dari krisis, kehancuran dan tidak berkahnya proyek-proyek yang dibangun di atas riba?! Tidakkah kita melihat bahwa semakin banyak berutang, semakin banyak krisis, dan semakin jatuh mata uang, karena penerapan sistem kapitalisme yang berbasis riba?!
Diriwayatkan dari Jabir, dia berkata,
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ
"Rasulullah melaknat pemakan riba, orang yang menyuruh makan riba, juru tulisnya dan saksi-saksinya." Beliau berkata, "Mereka semua sama.” (Shahih Muslim no.2995)

Maka, ke manakah negeri ini dan penduduknya akan dibawa oleh penguasa? Kita melihat bahwa penguasa membawanya kepada kehancuran, kepada kolonialisme yang mengendalikan kita, menghinakan kita dan mengambil kekayaan kita.

Wahai kaum Muslimin,

Pemerintah ini, bersama dengan parlemen, mengklaim bahwa Tunisia tidak punya solusi kecuali berutang dari luar. Umat telah menyodorkan solusi yang jelas untuk diterapkan, yang diambil dari al-Qur’an al-Karim dan dari as-Sunnah Nabi Muhammad , tapi kelas penguasa ini telah berpaling darinya dengan kesombongan. Dan begitulah mereka, terbutakan dalam kezhaliman, tidak berbuat kecuali melempar kita ke bawah kaki musuh jahat. Mereka berpaling dari Islam, yang berisi kecukupan dari Allah, yang diwahyukan pada Nabi, dan di dalamnya ada semua solusi yang benar yang akan menyelamatkan dari semua dampak buruk yang kita rasakan! Dan mereka berada di bawah ancaman Allah SWT:


“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha [20]: 124)
Apakah negara seperti ini yang kita inginkan?!

Maka, apa yang ada pada kita dan di tangan kita, satu agama hebat, yaitu Islam; jalan hidup yang telah Allah wahyukan pada Rasul-Nya, di dalamnya adalah semua solusi bagi problem-problem kita, termasuk problem ekonomi.

Kita membutuhkan negara sejati yang menghormati rakyatnya dan menjaga agama kita, dan negara itu bukanlah negara sipil sekular yang menjauhkan kita dari penerapan Islam dan menempatkan kita di bawah kaki musuh, tapi negara yang kita butuhkan adalah negara yang Allah perintahkan untuk kita dirikan. Ini adalah negara yang telah didirikan Nabi , kemudian Allah Yang Maha Kuasa memerintahkan kita untuk memiliki seorang Khalifah (pengganti) Rasulullah yang menerapkan syariah Allah SWT atas kita dan menyebarkan al-Khayr ke seluruh dunia.
Ingatlah firman Allah SWT:


“Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari Surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha [20]: 123)

Bacaan: The Government Continues its Policy of Drowning the Country into Debt, khilafah.com

Selasa, 31 Juli 2018

Mengokohkan Keteguhan Dalam Mengemban Dakwah - TAFSIR al-Furqan: 51-52



Oleh: Rokhmat S. Labib, MEI

“Dan andaikata Kami menghendaki, benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan (rasul). Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengannya dengan jihad yang besar.” (TQS. al-Furqan: 51-52)

Di antara keistimewaan Rasulullah adalah beliau diutus sebagai rasul untuk seluruh manusia. Tentu tugas ini mengharuskan kesiapan untuk menunaikannya. Kesabaran, keteguhan, den kesungguhan harus dia miliki sehingga dapat menjalankan amanah itu dengan sukses. Tidak boleh mengikuti kehendak kaum kafir, apalagi takluk kepada mereka. Sebaliknya, mereka harus dihadapi dengan sepenuh kekuatan dan kesungguhan.

Inilah di antara yang diterangkan dalam ayat ini.

Bagi Seluruh Manusia

Allah SWT berfirman: Wa law syi'naa laba'atsnaa fii kulli qaryah nazhiir[an] (dan andai kata Kami menghendaki, benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan [rasul]). Dalam ayat sebelumnya diterangkan tentang diturunkannya rahmat Allah SWT kepada manusia berupa hujan. Air yang diturunkan dalam hujan tersebut merupakan air yang suci dan menyucikan. Dengan air hujan itu pula Allah SWT menghidupkan tanah yang gersang sehingga tumbuh aneka tanaman. Selain itu, air tersebut untuk diminum manusia, hewan, dan semua makhluk hidup lainnya. Kemudian ditegaskan, hujan itu dipergilirkan di antara manusia agar dijadikan sebagai pelajaran bagi manusia.

Lalu dalam ayat ini Allah SWT membicarakan tentang keberadaan Rasulullah sebagai utusan-Nya. Ayat ini diawali dengan kata law syi‘naa (seandainya Kami menghendaki). Dalam bahasa Arab, kata law mengandung makna imtinaa’ al-jawaab li imtinaa‘ al-syarth (tercegahnya jawaban karena tercegahnya syarat). Artinya, karena syaratnya tidak ada, maka realitas yang disebutkan juga tidak terjadi. Sebagaimana diterangkan Fakhruddin al-Razi, ini menunjukkan bahwa Allah SWT tidak melakukan hal itu.

Yang dimaksud dengan nadziir (pemberi peringatan) di sini adalah rasul yang memberikan peringatan kepada mereka. Demikian penjelasan Imam al-Qurthubi, al-Khazin, Ibnu Katsir, Abdurrahman al-Sa'di, dan lain-lain.

Tentang ayat ini, al-Thabari juga berkata, "Seandainya Kami menghendaki wahai Muhammad, niscaya akan Kami utus untuk setiap negeri dan kota pemberi peringatan yang memperingatkan mereka adanya siksaan Kami atas kekufuran mereka terhadap Kami, sehingga Kami meringankan kamu dari beban besar yang harus kamu emban dan menghilangkan darimu berbagai kesulitan besar. Akan tetapi, Kami pikulkan kepadamu beratnya beban dalam memberikan peringatan kepada manusia seluruh negeri, yang mengharuskan kesabaranmu atasnya. Apabila kamu bersabar, maka Allah SWT telah menyediakan kemuliaan dari-Nya untukmu dan kedudukan yang tinggi.”

Dikatakan pula oleh Abdurrahman al-Sa'di, "Rasul yang mengingatkan mereka. Maka kehendak-Nya tidak terbatas hanya itu. Akan tetapi, hikmat dan rahmat-Nya kepadamu dan hamba, ya Muhammad, Kami mengutus kamu kepada semua mereka, yang berkulit merah maupun hitam, bangsa Arab maupun bangsa lainnya, manusia maupun jin mereka."

Dengan demikian, ayat ini menegaskan bahwa Allah SWT menghendaki mengutus Nabi Muhammad sebagai rasul untuk semua negeri dan manusia. Tidak terbatas hanya untuk bangsa dan negeri Arab. Bahwa Rasulullah ditetapkan sebagai pemberi peringatan seluruh manusia juga ditegaskan dalam awal surat ini. Allah SWT berfirman: “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (TQS. al-Furqan [25]: 1).

Di samping itu juga dinyatakan dalam beberapa ayat lain. Di antaranya adalah firman Allah SWT: “Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua," (TQS. al-A'raf [7]: 15). Disebutkan pula dalam QS. Saba’ [34]: 28. Dalam hadits, beliau bersabda, “Aku diberikan lima perkara yang belum pernah diberikan kepada nabi sebelumku, yakni: Aku diutus untuk orang yang berkulit merah dan berkulit hitam” (HR. Ahmad dari Abu Dzar). Dalam riwayat yang lain disebutkan: ”Para nabi sebelumku diutus untuk kaumnya saja, sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia" (HR. al-Bukhari dari Jabir bin Abdillah).

Tidak Menaati Orang Kafir

Kemudian dalam ayat berikutnya Allah SWT berfirman: Falaa tuthi' al-kaafiriin (maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir). Setelah diterangkan tentang tugas Rasulullah sebagai pemberi peringatan untuk seluruh negeri, beliau kemudian diseru agar tidak menaati orang-orang kafir.

Menurut Abu Hayyan al-Andalusi dalam tafsirnya al-Bahr al-Muhiith, yang dimaksud dengan al-kaafiriin adalah kaum kafir Quraisy. Mereka menginginkan Rasulullah kembali kepada agama bapak-bapak mereka, menjadikan beliau sebagai raja atas mereka, dan mengumpulkan harta yang amat banyak untuk beliau. Maka Allah SWT melarang beliau menaati mereka hingga menjelaskan kepada mereka bahwa beliau tidak menginginkan semua itu. Akan tetapi yang beliau inginkan adalah dakwah kepada Allah SWT dan beriman kepada-Nya.

Menurut al-Zamakhsyari, perintah ini dimaksudkan untuk mengobarkan semangat Nabi dan kaum Mukminin, serta untuk menggerakkan mereka.

Kemudian ditegaskan dalam firman Allah SWT: wajaahidhum bihi jihaad[an] kabiir[an] (dan berjihadlah terhadap mereka dengannya dengan jihad yang besar). Kata jaahid merupakan fi'l al-amr dari kata al-jihaad. Menurut al-Asfahani, kata tersebut bermakna istifraagh al-wus' fii mudaafa'at al-'aduwwi (mencurahkan segala kemampuan untuk menghadapi lawan).

Sedangkan secara syar'i, al-jihaad berarti badzl al-wus' li al-qitaal fii sabiilil-Laah (mengerahkan kemampuan untuk berperang di jalan Allah), baik secara langsung maupun membantu dengan harta, pendapat, atau memperbanyak perbekalan perang.

Tentang makna al-jihaad dalam ayat ini, ada yang menafsirkan dengan makna syar'i, yakni berperang. Namun menurut al-Qurthubi dan al-Razi, penafsiran itu tidak tepat. Alasannya, surat ini termasuk Makkiyyah yang turun sebelum perintah untuk berperang. Sehingga menurut al-Razi, jihaad di sini bermakna badzl al-juhdi fii al-adaa' (mengerahkan segala kemampuan dalam menunaikan kewajiban).

Sedangkan pengertian frasa bihi pada ayat ini, menurut Ibnu Abbas berarti bi al-Qur‘aan (dengan Al-Qur’an). Ibnu Zaid memaknainya sebagai bi al-Islaam (dengan Islam). Demikian dikutip Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya. Syihabuddin al-Alusi juga mengutip Ibnu Mundzir dari Ibnu Abbas yang berkata, ”Itu dilakukan dengan membacakan apa yang di dalam Al-Qur’an berupa berbagai pelajaran, ancaman, pelarangan, nasihat, dan mengingatkan terhadap berbagai keadaan umat-umat yang mendustakan.”

Adapaun frasa jihaad[an] kabiir[an] (dengan jihad yang besar). Menurut al-Zamakhsyari dan Fakhruddin al-Razi, frasa ini berarti jaami'a[n] likulli mujaahadah (yang menghimpun semua kesungguhan).

Menurut al-Alusi, jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka seolah-olah dikatakan kepada Nabi , ”Kami utus kamu untuk seluruh negeri, Kami lebihkan dan Kami muliakan kamu, dan Kami tidak mengutus setiap negeri pemberi peringatan. Maka, terimalah dengan sikap teguh dan sungguh-sungguh dalam dakwah dan memenangkan kebenaran."

Demikianlah, sudah menjadi kehendak-Nya, Nabi Muhammad diutus untuk semua manusia di seluruh penjuru dunia. Tentu saja ini merupakan beban yang amat berat. Oleh karena itu, beliau diminta untuk mengokohkan kesabaran, kekuatan, dan kesungguhan. Tatkala tugas itu dapat dilakukan, maka kemuliaan dan derajat yang tinggilah yang akan didapat.

Sebagai umat Rasulullah , kita pun harus mewarisi sikap yang sama. Kita juga diperintahkan untuk mengemban dakwah kepada seluruh umat manusia. Maka, kita harus meneguhkan kesabaran dan kesungguhan. Jika itu dapat kita lakukan, insya Allah pahala besar dan derajat yang tinggi akan diberikan. Semoga. Wal-Laah a'lam bi al-shawaab.[]

Ikhtisar:

1. Tidak seperti semua nabi dan rasul lainnya yang diutus untuk kaumnya masing-masing, Rasulullah diutus untuk seluruh manusia.

2. Untuk mengemban tugas berat tersebut, beliau diperintahkan tidak mengikuti kemauan kaum kafir dan bersungguh-sungguh menghadapi mereka dengan sepenuh kemampuan.[]

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 156

Selasa, 24 Juli 2018

Ulama Bersama HTI


Saat ajaran Islam dikriminalkan, para ulama dari berbagai daerah pun turun ke pengadilan. Jadilah Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta Timur, dipenuhi para ulama dari berbagai daerah, Kamis (19/4/2018) lalu.

Shalawat asygil pun dikumandangkan di pelataran. ”Allahumma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammad, wa asyghilidz-dzaalimiin bidz-dzaalimiin (2x) wa akhrijnaa min baynihim saalimiin wa 'alaa alihi wa shahbihii ajma'in.”

Suasana khusyuk begitu terasa, mendengar lantunan shalawat berjamaah tersebut. Siapapun yang berada di situ akan merasakan nuansa yang berbeda. Inilah doa dari hamba-hamba yang berharap pertolongan Allah dari kezhaliman.

Shalawat itu sendiri maknanya: ”Ya Allah, berikanlah shalawat kepada pemimpin kami Nabi Muhammad, dan sibukkanlah orang-orang zhalim agar mendapat kejahatan dari orang zhalim lainnya, selamatkanlah kami dari kejahatan mereka. Dan berikanlah shalawat kepada seluruh keluarga dan para sahabat beliau.”

Para ulama datang dari berbagai daerah di Indonesia. KH. Bahron Kamal dari Malang mengatakan, kedatangannya ke PTUN Jakarta tidak lain adalah karena panggilan iman. "Ini suatu pembelaan, karena ajaran Islam terutama yang diperjuangkan Hizbut Tahrir dinistakan oleh pemerintah dan juga oleh pihak-pihak lain yang tidak senang dengan Islam,” katanya.

Menurutnya, yang juga pengasuh Majelis Ta'lim dan Dzikir Ihyaul Qulub Singosari Malang, ini adalah kesempatan untuk membela agama Allah, membela organisasi yang berjuang untuk agama Allah, menegakkan syariat Allah, menegakkan institusi khilafah yang diwariskan oleh baginda Rasul SAW.

KH. Abdul Qayum, Koordinator Forum Komunikasi Ulama (FKU) Aswaja Malang Raya yang hadir di tempat yang sama menyebut, kedatangan para ulama dimaksudkan untuk memberikan dukungan bagi tegaknya syariah dan khilafah.

Ia menegaskan, khilafah yang diperjuangkan HTI bukanlah ancaman atas negeri ini. "(Kalau dipandang sebagai ancaman) ini pandangan yang sangat keliru, sangat salah sekali. Khilafah bukan ancaman bagi negeri ini dan bagi seluruh bangsa ini. Justru khilafah itu akan mengantarkan umat manusia ke jenjang yang lebih baik. Kemakmuran dan kedamaian.”

Ulama Surabaya, KH. Abdul Kholiq, berpendapat, umat Islam tidak boleh diam jika ada keinginan pihak-pihak tertentu -termasuk pemerintah- memadamkan perjuangan syariat Islam. "Kita sebagai umat Islam kalau ada syariat Islam mau dipadamkan, kita wajib memperjuangkannya. Siapapun yang akan memadamkan, baik pemerintah maupun yang lain, kita wajib melawan,” kata Ketua Forum Umat Islam Bersatu, Surabaya ini.

Ia menjelaskan, khilafah adalah ajaran Islam. Ajaran ini pernah jaya di masa Rasulullah dan para sahabat. Khilafah tidak untuk menghancurkan Indonesia, tapi justru memuliakan dunia. Ia meyakinkan, setiap ajaran Allah dan rasul-Nya itu akan membawa cahaya dan kesejahteraan seluruh umat manusia.

Sementara itu, KH. Muhyidin, pengasuh MT An-Nur Pamijahan, Bogor, melihat ada upaya menzhalimi Islam. Menurutnya, apa yang diperjuangkan oleh HTI yakni khilafah adalah bagian dari ajaran Islam. Rezim penguasa mencoba menyalahkan HTI karena mendakwahkan khilafah ini. ”Ini kan sebuah kezhaliman terhadap Islam,” tandasnya.

Sama dengan para ulama lain, jelasnya, ide khilafah bukanlah ide baru. Ide itu banyak dijumpai dalam khazanah Islam yang ditulis para ulama. Bahkan para ahli sejarah, termasuk dari Barat, mengakui eksistensinya.

Dan, ia mengingatkan, kehadiran khilafah sudah dikabarkan oleh Rasulullah SAW. Ia mengutip sebuah hadits bahwa nanti di akhir zaman akan ada beberapa khilafah. Khilafah akan membagikan harta yang melimpah kepada rakyat. Dengan begitu, umat ini akan sejahtera, termasuk Indonesia akan kuat. "Salah besar jika khilafah dianggap sebagai ancaman. Ini adalah kabar gembira dari Rasulullah. Ini harus disambut," jelasnya.

Dukungan kepada perjuangan HTI pun secara simultan muncul dari berbagai daerah. Dari Ponorogo, Jawa Timur, Gus Nasyir al-Mahdie, menegaskan bahwa di akhir zaman, Islam akan dimenangkan atas segala jenis diin lainnya di muka bumi.

Ia mengajak para ulama menjadi 'aaliman muta'alliman 'aabidan 'aarifan bi syarthil ikhlash, yaitu menjadi manusia yang memiliki ilmu, mau terus belajar, tekun beribadah, memiliki ma'rifah, yang kesemuanya itu dibingkai dalam syarat keikhlasan semata karena Allah.

”Janganlah para ulama menukarkan agama ini demi sekerat dunia, yang di Akhirat justru akan menyeretnya ke Neraka,”… “Kita sudah kenyang dizhalimi oleh penguasa. Jamaah dakwah dibredel," tegas Gus Nasyir kepada para jamaah dalam acara Mudzakarah Ulama Mataraman.

Ulama yang lainnya, KH. Anas Karim mengajak para ulama untuk mau mengajak umat berjuang menegakkan khilafah, yang merupakan penerap dan penegak ajaran Islam.

Dari Semarang, KH. Syamsuddin Al-Hafidz dari Pondok Pesantren The Holy Qur'an Mangkang, Semarang menegaskan bahwa khilafah itu memang diperintahkan oleh Rasulullah. ”Khilafah memang ajaran Islam, di mana khilafah adalah kepemimpinan yang adil bagi manusia,” tegasnya.

KH. Subi'at, muballigh dari Kinibalu Semarang, mewanti-wanti para ulama untuk tidak takut menghadapi musuh Islam. ”Kita tidak perlu khawatir dengan musuh-musuh Islam. Orang-orang kafir di dunia ini akan dikalahkan, bahkan di Akhirat kelak mereka akan dikumpulkan dalam Neraka Jahanam, dan Jahanam adalah seburuk-buruk tempat tinggal di akhirat,” ucapnya.

Di Lampung, Ustadz Candra Alamanda, Pembina BKPRMI Lampung, menyatakan: ”Kalau soal dalil tentang wajibnya khilafah sudah gak usah ditanya, seabreg. Bahkan orang Lampung sendiri, H. Sulaiman Rasyid, menulis Bab Khilafah di dalam kitab Fiqih Islam karya beliau. Maka orang Lampung harusnya juga wajib memperjuangkan khilafah."

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 219

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam