Sabtu, 27 Oktober 2012

Stop Penghinaan Pada Nabi Muhammad

Cara Menghentikan Penghinaan Terhadap Islam dan Pengembannya


BAGAIMANA MENGHENTIKAN PENGHINAAN NABI Saw.

Terus-Menerus Menghina Nabi dan Melecehkan Islam, bukti kebencian Yahudi
Bagaimana jika anda dituduh dan dihina orang oleh seseorang sebagai penipu, orang yang suka melakukan pelecehan seksual terhadap anak, padahal anda orang baik-baik, sudah pasti anda tidak terima dengan tuduhan dan penghinaan tersebut.  Bagaimana perasaan anda jika  orang terkasih anda, anak atau orang tua anda yang selama ini anda yakini dan saksikan sebagai orang baik-baik tiba-tiba ramai dibicarakan dan diberitakan sebagai lelaki hidung belang dan suka melakukan pelecehan seksual?

Bagaimana pula perasaan anda, jika pasangan hidup yang yang selama ini anda kenali lemah-lembut, sangat penyayang, perhatian, sangat setia pada anda, senantiasa membantu kesulitan anda, memotivasi anda, menunjuki anda jalan-jalan kebaikan yang membuat hidup anda sukses, bahkan rela mati demi melindungi anda, tiba-tiba di hadapan anda dia dihina sebagai pelaku kekerasan, suka menipu serta maniak seks? Pastilah wajar jika anda marah dan membelanya. Anda tentu ingin memberi orang yang menghina tersebut hukuman yang pantas bagi perbuatannya. Sungguhlah aneh jika anda diam saja dan membiarkan penghinaan tersebut.

Salah satu kewajiban seorang Muslim adalah mencintai, memuliakan, dan menghormati Nabi Muhammad SAW sebelum mencintai, memuliakan, dan menghormati manusia lain.  Mengapa demikian?

Alasannya, tidak hanya karena pribadinya yang tidak pernah cacat; lebih dari itu, beliau dihormati dan dimuliakan karena beliau adalah sosok manusia yang dipilih Sang Pencipta untuk menyampaikan risalah-Nya yang sempurna kepada seluruh umat manusia. Selain itu, Alquran telah menyematkan sejumlah predikat mulia yang akan mencegah siapa saja dari tindakan pelecehan dan penghinaan kepada Rasulullah SAW.

Walaupun beliau SAW tidak pantas dihina dan dilecehkan, namun, sejak beliau SAW memikul tugas risalah dari Allah SWT hingga sekarang, tidak sedikit orang yang terus berusaha menghina personalitasnya maupun risalah Islam yang dibawanya.

Orang-orang kafir terus mengusik kaum Muslimin, terus menerus menghina Nabi SAW dan Islam, kian hari penghinaan mereka semakin lantang, daftar panjang penghinaan mereka terus bertambah. Beragam aksi dan bentuk penghinaan terus menerus bermunculan. Mulai majalah, film, hingga aksi pembakaran Al-Qur`an.

Kali ini sebuah film murahan ‘Innocence of Muslim’ menyerang Islam dengan  menggambarkan Islam sebagai sebagai agama kekerasan, penuh kebencian, dan mengeksploitasi seksual. Penghinaan ini langsung disusul dengan penghinaan lainnya, sebuah majalah Spanyol, El Jueves memasang karikatur Nabi Muhammad SAW pada sampul depannya, lalu menggambarkan sejumlah Muslim yang berdiri seperti barisan para tersangka saat diidentifikasi polisi.

Hanya berselang 1 minggu, majalah Prancis, Charlie Hebdo, memasang karikatur yang menghina Rasulullah SAW. Sampul depan majalah tersebut menunjukkan seorang Yahudi Ortodoks mendorong sosok bersorban di kursi roda dan beberapa karikatur Nabi dimasukkan pada halaman isinya, termasuk beberapa digambarkan dalam keadaan telanjang.

Tidak berhenti sampai di situ, penghinaan berikutnya sudah disiapkan. Majalah satir terkemuka Jerman Titanic berencana menampilkan halaman depan yang menunjukkan sebuah foto Bettina Wulff yang  sedang dirangkul oleh seorang pria Arab yang mengenakan sorban dan memegang pisau. Headline majalah edisi Oktober yang terbit pada 28 September mengatakan: “Barat Bangkit: Bettina Wulff Garap Film tentang Muhammad.” Edisi yang menghina Islam tersebut rencananya akan dicetak sebanyak 100.000 eksemplar.

Pertengahan Agustus 2012, sebuah kelompok anti Islam bernama Pro-German menggelar pesta menggambar karikatur Nabi Muhammad SAW di Berlin, Ibukota Jerman.

Tahun 2008 lalu, politisi anti-Islam Belanda  Geert Wilders membuat film Fitna di internet. Dalam film itu ia mengutip cuplikan video kasus-kasus kekerasan di seluruh dunia. Intinya, dalam film berdurasi 15 menit itu, ia mencitrakan Islam sebagai agama barbar yang tidak berperkemanusiaan. Ajaran Islam digambarkan sebagai ajaran kekerasan. Tidak berhenti di situ, setelah dinyatakan tidak bersalah oleh pengadilan Belanda, Wilders sudah menyiapkan film berikutnya dengan judul yang sama, Fitna 2. Ia mengumumkan, filmnya yang akan mencerca kehidupan Nabi Muhammad tersebut akan dirilis tahun 2012.  Seperti dikutip situs NIS News Bulletin (2/5/2011), Wilders mengungkapkan film terbarunya akan mengupas “kehidupan barbar dari roh sakit Muhammad”. Wilders mengatakan ingin merangsang “debat publik” tentang Nabi Muhammad agar umat Islam meninggalkan Islam (murtad).

Pada 30 September 2005, harian Denmark, Jyllands-Posten memuat karikatur Nabi SAW. Sebelumnya juga beredar novel The Satanic Verses karya Salman Rushdie yang jelas-jelas sangat melecehkan Islam.

Koran Perancis France Soir, Die Welt di Jerman, La Stampa di Italia dan El Periodico di Spanyol memuat karikatur yang dianggap menghina Nabi Muhammad SAW dan agama Islam.  Menanggapi tindakan France Soir itu, pemerintah Perancis mengatakan mendukung kebebasan pers. Di bawah tulisan "Ya, kami berhak menggambar Tuhan", France Soir memasang gambar kartun Tuhan dalam agama Budha, Yahudi, Islam dan Kriten terbang di awan. Beberapa gambar kartun menampilkan Nabi Muhammad sebagai teroris. Kartun itu memperlihatkan tuhan agama Kristen mengatakan: "Jangan mengeluh Muhammad, kami semua sudah pernah digambarkan dalam karikatur."

Aksi  Burn A Quran Day, juga berulang kali terjadi, sejak 2010 oleh pendeta Florida Terry Jones dan jamaahnya. Aksi yang sama juga dilakukan oleh tentara-tentara AS pada Februari (2012) membakar secara sengaja 315 salinan materi keagamaan termasuk Alquran di penjara Bagram, Afghanistan (Eramuslim.com, 13/09). Penghinaan terhadap Alquran juga dilakukan di penjara-penjara kejam Amerika Serikat di Guantanamo.

Redaktur mingguan Perancis “Charlie Hebdo”, yang menerbitkan karikatur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, menegaskan bahwa ia akan meneruskan upayanya dalam menjelek-jelekkan Islam hingga mengolok-olok Islam menjadi hal yang lumrah.

Mengapa Rasul SAW dicela?
Sebagai seorang suri tauladan seluruh umat manusia, tidak ada kekurangan dan kecacatan pada akhlak beliau. Kurang lembut apa beliau sehingga mendapatkan penghinaan dan pelecehan? Lihatlah akhlak belaiu.

Ketika Rasulullah saw. ditanya tentang hak tetangga, dia berkata: “Tolonglah ia ketika minta tolong kepadamu. Berilah ia pinjaman ketika meminjam. Kunjungilah dia ketika sakit. Ucapkan selamat bila memperoleh kebaikan (misal: rizki, anak, kepulihan). Sampaikan takziah (duka cita) bila mendapat musibah (kematian), antarkan jenazahnya bila meninggal. Jangan kamu tinggikan bangunanmu sehingga menghalagi udara ke rumahnya kecuali dengan izinnya dan janganlah kamu sakiti tetanggamu dengan bau masakanmu kecuali engkau berikan sebagian kepadanya (misal: kuah/sop daging). Jika engkau membeli buah-buahan berikanlah sebagian. Jika engkau tidak (mau) memberinya, masukkan buah-buahan itu ke dalam rumahmu secara sumbunyi-sumbunyi. Janganlah anakmu keluar membawa buah yang membuat anaknya kecewa.” (HR Thabrani. Lihat: At Targhib wat Tarhib, jilid 3 hlm. 357)

Allah Swt. berfirman:“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat dan karunia) Allah dan (kedatangan) hari akhir (kiamat) dan dia banyak berdzikir (menyebut/mengingat) Allah.(QS al-Ahzab [33]: 21)

Sesungguhnya penghinaan yang dilakukan oleh orang-orang kafir bukan karena individu beliau, melainkan karena kebencian orang-orang kafir terhadap risalah kebenaran Islam yang beliau bawa. Mereka menginginkan kita meninggalkan agama ini. Sebagaimana yang Allah sampaikan di dalam Al-Qur`an sejak 1400 tahun yang lalu, Allah berfirman:

…Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi.. (Q.S. Ali Imran: 118).

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka… (Q.S. Al-Baqarah: 120)

Barat Bertanggung Jawab
Munculnya penghinaan Nabi Muhammad SAW dan Islam tidak bisa dilepaskan begitu saja dari peran dunia Barat. Sejauh ini tidak ada negara Barat satu pun yang mencegah penghinaan itu terjadi. Malah, kian terlihat Barat membiarkan aktivitas itu terus berlanjut. Ketika film Innocence of Muslims memicu kemarahan kaum Muslim di seluruh dunia, Presiden Amerika Serikat Barack Obama bersikeras pemerintahannya tidak akan melarang peredaran video bernada hujatan terhadap agama tertentu, di antaranya video cuplikan film anti-Islam Innocence of Muslims.

Perlu kita garis bawahi, penghinaan terhadap Islam bukanlah dilakukan secara tidak sengaja, tanpa perencanaan, dan dilakukan oleh orang-orang yang ‘dungu’. Tidak sama sekali. Berulangnya penghinaan terhadap Islam, Alquran, Rasulullah SAW, menunjukkan hal ini merupakan kebijakan yang sistematis dilakukan oleh Barat dan didukung oleh pemerintah Barat . Tujuannya menyudutkan Islam!

Jauh sebelum itu, demonisasi (setanisasi) terhadap Islam, secara sistematis dikembangkan dalam studi orientalisme pada abad pertengahan yang berkembang di Barat. Kajian ini dilakukan oleh para cendekiawan Barat dengan gereja sebagai penggerak utamanya, jadi bukan orang-orang dungu. Kebencian kaum orientalis terhadap Islam tampak dari julukan mereka menyebut Rasulullah Muhammad SAW dengan sebutan “Mamed, Mawmet, Mahoun, Mahun, Mahomet, Mahon, Machmet” yang semua kata itu memiliki makna satu, yakni setan (devil).

Seperti yang dinyatakan Edward Said dalam Covering Islam (1997): pada sebagian besar abad pertengahan dan awal kebangkitan Renaissance di Eropa, Islam diyakini sebagai agama setan,  murtad, penghujatan dan ketidakjelasan. “… Muhammad adalah seorang nabi palsu, penabur perselisihan, sosok yang mementingkan kesenangan fisik, munafik, dan agen setan”.

Upaya demonisasi ini tidak berhenti hingga sekarang.  Dalam rekomendasi yang dikeluarkan Cheryl Benard (the RandCorporation)  disebutkan ada beberapa ide  yang harus terus menerus diangkat untuk  menjelekkan citra Islam : perihal demokrasi dan HAM, poligami, sanksi kriminal, keadilan Islam, minoritas, pakaian wanita, dan kebolehan suami untuk memukul istri.

Konsekuensi dan Sanksi Menghina Nabi = Hukuman Mati
Para ulama telah sepakat, bahwa siapa saja yang secara terang-terangan melakukan penghinaan dan pelecehan terhadap Nabi Muhammad SAW, wajib dihukum mati.

Menurut Ibnu Mundzir, para ulama telah berkonsensus mengenai wajibnya menjatuhkan hukuman mati bagi siapa saja yang terang-terangan menghina Rasulullah SAW. Al-Farisiy, salah seorang ulama dari Madzhab Syafi'iyyah, menuturkan di dalam kitab al-Ijma'; menurut konsensus para ulama, siapa saja yang menghina Rasulullah SAW dengan terang-terangan telah terjatuh ke dalam kekafiran; dan orang itu wajib dijatuhi hukuman mati meskipun bertaubat. Sebab, had (sanksi) orang yang mencela (qadzaf) Rasulullah SAW adalah hukuman mati. Sedangkan had qadzaf tidak bisa digugurkan oleh taubat.

Imam al-Khatabiy berkata, "Saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat mengenai wajibnya hukuman mati bagi seorang Muslim yang menghina Rasulullah SAW. " Menurut Imam Syafi'iy, orang kafir yang menghina Rasulullah SAW wajib dibunuh, dan dzimmahnya dicabut. [Imam Mubarak-furiy, 'Aun al-Ma'bud Syarh Sunan Abi Dawud, hadits no. 3795].

Ibnu Taimiyah menukil pendapat Qodhi 'Iyadl yang menjelaskan bentuk-bentuk hujatan Nabi saw. sebagai berikut: "Orang-orang yang menghujat Rasululah saw. adalah orang-orang yang mencela, mencari-cari kesalahan, menganggap pada diri Rasul saw. ada kekurangan atau mencela nasab (keturunan) dan pelaksanaan agamanya. Selain itu, juga menjelek-jelekkan salah satu sifatnya yang mulia, menentang atau mensejajarkan Rasululah saw dengan orang lain dengan niat untuk mencela, menghina, mengecilkan, memburuk-burukkan dan mencari-cari kesalahannya. Maka orang tersebut adalah yang orang yang telah menghujat Rasul saw. terhadap orang tersebut, ia harus dibunuh . . ."

Imam Asy-Syaukani menukil pendapat para fuqaha antara lain pendapat Imam Malik yang mengatakan bahwa orang kafir dzimmi seperti Yahudi, Nashrani, dan sebagainya, yang menghujat Rasulullah saw. terhadap mereka harus dijatuhi hukuman mati, kecuali apabila mereka bertaubat dan masuk Islam. Sedangkan bagi seorang Muslim, ia harus dieksekusi tanpa diterima taubatnya. Imam Asy-Syaukani mengatakan bahwa pendapat tersebut sama dengan pendapat Imam Syafi'i dan Imam Hambali.

Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Authar jilid VII, halaman 213-215, mengemukakan dua hadits tentang hukuman bagi penghinaan Rasulullah saw. Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra. yang berbunyi: "Bahwa ada seorang wanita Yahudi yang sering mencela dan menjelek-jelekkan Nabi saw. (oleh karena perbuatannya itu), maka perempuan itu telah dicekik sampai mati oleh seorang laki-laki. Ternyata Rasulullah saw. menghalalkan darahnya". (HR Abu Dawud).

Ibnu Abbas RA telah meriwayatkan sebuah hadits yang berbunyi, bahwa ada seorang laki-laki buta yang istrinya senantiasa mencela dan menjelek-jelekkan Nabi saw. Lelaki itu berusaha melarang dan memperingatkan agar istrinya itu tidak melakukannya. Sampai pada suatu malam (seperti biasanya) istrinya itu mulai lagi mencela dan menjelek-jelekkan Nabi saw. (Merasa tidak tahan lagi), lelaki itu lalu mengambil kapak kemudian dia tebaskan ke perut istrinya dan ia hujamkan dalam-dalam sampai istrinya itu mati.

Keesokan harinya, turun pemberitahuan dari Allah swt kepada Rasulullah saw yang menjelaskan kejadian tersebut. Lantas, hari itu juga beliau saw. mengumpulkan kaum muslimin dan bersabda: "Dengan menyebut asma Allah, aku minta orang yang melakukannya, yang sesungguhnya tindakan itu adalah hakku; mohon ia berdiri !"

Kemudian (kulihat) lelaki buta itu berdiri dan berjalan dengan meraba-raba sampai ia turun di hadapan Rasulullah saw, kemudian ia duduk seraya berkata: "Akulah suami yang melakukan hal tersebut ya Rasulullah saw. Kulakukan hal tersebut karena ia senantiasa mencela dan menjelek-jelekkan dirimu. Aku telah berusaha melarang dan selalu mengingatkannya, tetapi ia tetap melakukannya. Dari wanita itu, aku mendapatkan dua orang anak (yang cantik) seperti mutiara. Istriku itu sayang padaku. Tetapi kemarin ketika ia (kembali) mencela dan menjelek-jelekkan dirimu, lantas aku mengambil kapak, kemudian kutebaskannya ke perut istriku dan kuhujamkan kuat-kuat ke perut istriku sampai ia mati. Kemudian Rasululah saw. bersabda: "Saksikanlah bahwa darahnya (wanita itu) halal." (HR. Abu Dawud dan An Nasa'i)

Kita memang harus menahan marah marah jika yang dihina diri kita. Tapi kalau yang dihina Allah, Nabi dan syariatnya, mati hukumannya. Nabi lebih mahal dari nyawa kita.

Nasib Buruk Bagi Penghina Nabi dan Kecelakaan Bagi Para Penentangnya
Menghina Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam tidaklah seperti menghina salah seorang dari kaum muslimin. Beliau adalah makhluk pilihan Allah yang dimuliakan dengan risalah dan akhlak yang terpuji. Maka, penghinaan terhadap beliau merupakan penghinaan terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah telah menjanjikan siksa yang pedih di dunia dan akhirat bagi orang-orang yang menghina Allah, Agama-Nya, dan para utusan-Nya. Orang-orang yang telah menghina para utusan Allah terdahulu menjadi bukti akan ancaman Allah ini.

Kaum Nabi Nuh 'alaihis salam telah menghina utusan Allah kepada mereka. Lalu Allah menghancurkan mereka dengan menenggelamkan mereka di dunia. Sedangkan di akhirat, mereka akan mendapatkan adzab yang lebih pedih. "Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)." (QS. Al-A'raf: 64)

Kaum Nabi Huud 'alaihis salam yang mengolok-olok dan mendustakannya, lalu Allah menyelamatkan Huud 'alaihis salam dan menghancurkan kaumnya. "Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Huud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari azab yang berat. Dan itulah (kisah) kaum 'Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, dan mendurhakai rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum 'Ad itu kafir kepada Tuhan mereka. Ingatlah kebinasaanlah bagi kaum 'Ad (yaitu) kaum Huud itu." (QS. Huud: 58-60)

Nabi Shalih 'alaihis salam diutus kepada kaum Tsamud, lalu mereka menghina dan mendustakannya. Maka Allah menyelamatkan Shalih dan menghancurkan kaumnya."Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka." (QS. Al-A'raf: 78)

Nabi Luth 'alaihis salam yang diutus kepada kaum Sodom, lalu mereka mengejeknya dan mengatakan, "Sesunguhnya mereka ini adalah manusia yang sok suci." Maka Allah menyelamatkannya dan orang-orang beriman yang bersamanya sedangkan orang-orang yang menghina dan mendustakannya dihancurkan oleh-Nya. "Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu." (QS. Al-A'raf: 83-84)

Dan dalam firman Allah yang lain: "Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim." (QS. Huud: 82-83)

Kaum Nabi Syu'aib alaihis salam juga telah mengejek nutusan Allah kepada mereka  dengan mengatakan, "Hai Syu'aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal." (QS. Huud: 87)

"Maka Allah menghancurkan mereka dan menyelamatkan Syu'aib. Dia berfriman: Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka, (yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu'aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu'aib mereka itulah orang-orang yang merugi." (QS. Al-A'raf: 91-92)

Adapun orang-orang yang suka mengejek, menghina, mendustakan dan  memusuhi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, mereka terbunuh di dunia dengan hina dan diakhirat mendapatkan adzab yang pedih. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, "Kisah tentang penghancuran Allah terhadap para pencela agama, satu demi satu telah diketahui. Para ahli sejarah dan tafsir telah menceritakannya. Di antara mereka adalah dedengkot Quraisy, seperti Al-Walid  bin Mughirah, 'Ash bin Wail, Aswadan bin Abdul Muthallib, Ibnu Abi Yaghuts dan Al-Harits bin Qais."

Raja Kisra telah mencabik-cabik surat yang datang dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam lalu mengolok-oloknya, tidak lama setelah itu Allah membunuh dan menghancurkan kerajaannya sehancur-hancurnya. Hal ini merupakan perwujudan dari firman Allah: "Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus." (QS. Al-Kautsar: 3)

Setiap orang yang membenci dan memusuhi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, maka pasti Allah menghancurkannya dan menghilangkan kebesarannya. Di antara atsar yang terkenal adalah yang menyebutkan bahwa "daging para ulama adalah racun." Lantas bagaimana dengan daging para nabi 'Alaihimus Salam? Dan dalam hadits shahih disebutkan dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, Allah telah berfirman, "Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, Maka aku nyatakan perang terhadapnya." Lalu bagaimana dengan orang-orang yang memusuhi para nabi 'Alaihimus Salam? Dan barangsiapa menyatakan perang terhadap Allah, pastilah ia akan hancur." (Ash-Sharimul Maslul, Ibnu Taimiyyah, hlm. 164-165)

Taubatnya Para Pencela Nabi
Para ulama sepakat bahwa jika pelaku bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat (taubatan nasuha), maka taubatnya bermanfaat kelak di akhirat di hadapan Allah SWT. Namun mereka berbeda pendapat apakah taubatnya di dunia diterima ataukah tidak. Dengan kata lain, apakah mereka  dapat dimaafkan dan terbebas dari sanksi hukuman mati ataukah tidak. Jika pelakunya seorang muslim, maka jumhur fuqaha, al-Malikiyah, asy-Syafi’iyyah, al-Hanabilah, berpendapat bahwa  taubat (maaf) mereka tidak diterima,(Lihat: Mukhtashar Kholi, libni Ishaq al-Jundiy, , 1/251,  al-Majmu’ lil Imam an-Nawawiy, 9/427, as-Syarhul Kabir Libni Qudamah, 10/635).

Adapun jika pelakunya kafir dzimiy, maka perjanjian dengan mereka otomatis batal, pelakunya diberlakukan hukuman mati, kecuali jika mereka masuk Islam menurut pandangan sebagian fuqaha. Namun dalam kontek ini keputusan ada di tangan imam (khalifah), apakah keislamannya diterima atau tetap diberlakukan hukuman mati, sebagai pelajaran bagi orang-orang kafir lainnya. Sementara kafir maka hukum asal muamalah dengan mereka adalah perang (qital). Siapapun yang melakukan pelecehan terhadap Rasulullah SAW akan diperangi.

Siapa Pengeksekusi
Empat belas abad yang lalu, tepatnya di kota Madinah pada masa Rasulullah saw. ada seorang munafik yang bernama Abdullah bin Ubay bin Salul. Ketika itu ia bersumpah: "Demi Allah, apabila aku kembali ke Madinah, tentu orang yang paling mulia akan segera mengusir orang yang paling hina." Maksud Abdullah bin Ubay adalah bahwa dirinya yang ketika itu termasuk pemimpin di antara pemuka kalangan munafiqun yang menganggap lebih mulia daripada Rasulullah saw; dan bahwasanya Rasulullah Muhammad saw. itu adalah orang yang paling rendah martabatnya di antara mereka. Dengan demikian, Rasulullah saw tidak layak lagi memimpin mereka. Begitulah maksud Abdullah bin Ubay.

Berita tersebut didengar oleh Zaid bin Al Arqam, kemudian ia menyampaikannya kepada Umar. Umar sangat geram mendengar hal ini, lalu ia melapor kepada Rasulullah saw. Dengan menahan emosi, ia berkata, "Izinkan aku, ya Rasulullah, untuk membunuh orang itu, orang yang telah menyebarkan fitnah, agar aku dapat memancung lehernya."

Mendengar permintaan Umar itu, Rasulullah saw lalu bertanya, "Apakah engkau akan membunuhnya, bila kuizinkan engkau melakukannya?" Umar menjawab," Ya tentu. Demi Allah, jika engkau memerintahkan kepadaku untuk membunuhnya, maka aku akan memancung lehernya, (sekarang juga). Rasulullah saw berusaha menenangkan emosi umar, seraya berkata "Duduklah dulu." Tak lama kemudian, datanglah salah seorang terkemuka dari kalangan Anshar yang bernama Usaid bin Hudlair. Ia kemudian berkata "Wahai Rasululullah, izinkanlah aku untuk memancung leher orang yang telah menyebarkan fitnah di tengah masyarakat itu."

Kembali Rasulullah saw berkata persis seperti apa yang dikatakan Beliau kepada Umar: "Apakah engkau akan membunuhnya, bila kuizinkan engkau melakukannya?" Usaid bin Hudzair menjawab: "Ya tentu saja. Demi Allah, jika engkau memerintahkan kepadaku untuk membunuhnya, maka aku akan memancung lehernya, (sekarang juga)". Tetapi, lagi-lagi Rasulullah tidak mengijinkan Usaid melepaskan geramnya.

Berbeda dengan itu, setelah usai Perang Badar, seorang gembong Yahudi bernama Abu 'Afak terus menerus menampakkan permusuhannya pada Islam dan melakukan penghinaan pada Rasulullah SAW. Di antaranya ia menyuruh penyair untuk membuat sya'ir-sya'ir yang mengandung cacian, celaan, cercaan, dan penghinaan terhadap Nabi SAW. Mendengar hal ini, tanpa banyak komentar seorang sahabat bernama Salim bin Umar mendatangi rumah Abu 'Afak. Kemudian ia membebaskan pedangnya di leher Abu 'Afak sehingga seketika itu juga matilah dia.

Juga pernah suatu waktu ada seorang Yahudi bernama Asma binti Marwan yang sangat membenci Islam. Ia selalu melontarkan perkataan-perkataan yang mengandung penghinaan terhadap Nabi dan Islam. 'Umair bin 'Auf, salah seorang sahabat Nabi mendatangi rumah Asma lalu menancapkan pedang ke dadanya. Ia pun mati. Mensikapi kedua kejadian terakhir ini Rasulullah SAW mendiamkannya.

Nampaklah, sikap Rasulullah SAW tidak mengijinkan membunuh orang munafik Abdullah bin Ubay karena Beliau khawatir orang-orang mengatakan "Muhammad telah membunuh sahabat-sahabatnya". Bahkan Beliau bersedia menshalatkannya saat ia meninggal. Namun, Allah segera menurunkan larangan tentang hal itu (lihat surat at-Taubah ayat 84). Sementara, untuk kasus lainnya, pengeksekusinya adalah para sahabat yang gagah berani dengan seijin Rasulullah sebagai Kepala Negara.

Khilafah Akan Mengakhiri Seluruh Penghinaan dan Pelecehan Terhadap Allah, Rasul-Nya dan Islam
Negara berkewajiban menerapkan sanksi tersebut bagi siapa saja yang terbukti menghina Nabi SAW secara terang-terangan. Lebih dari itu, negara juga berkewajiban mencegah setiap upaya yang ditujukan atau berpotensi melecehkan kehormatan Nabi Muhammad SAW, dengan cara menerbitkan undang-undang khusus tentang larangan menghina dan melecehkan Nabi SAW.

Selain itu, penguasa Muslim wajib melakukan tindakan politik terhadap negara maupun institusi yang terbukti melakukan penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW. Dan inilah yang dilakukan oleh para penguasa Islam, walaupun keadaan mereka sudah sangat lemah. Adalah Khalifah Abdul Majid, pada saat beliau mendengar akan diselenggarakan pertunjukan drama karya Voltaire yang berjudul “Muhammad atau Kefanatikan”, beliau segera mengambil tindakan politik terhadap Perancis. Pasalnya, isi drama itu dengan terang-terangan menghina Rasulullah SAW, Zaid dan Zainab. Melalui duta besarnya di Perancis, beliau mengultimatum Pemerintah Prancis agar menghentikan pementasan drama tersebut. Beliau mengancam akan ada tindakan politik bagi Perancis, jika negara itu tetap mengizinkan pementasan. Perancis akhirnya membatalkan pementasan itu. Lalu, perkumpulan teater tersebut berangkat ke Inggris, dan berencana mengadakan pementasan serupa.

Sang Khalifah Abdul Hamid tidak tinggal diam. Beliau segera memberikan ultimatum kepada Inggris. Inggris menolak ancaman tersebut. Alasannya, tiket sudah terjual habis dan pembatalan drama tersebut bertentangan dengan prinsip kebebasan (freedom) rakyatnya. Perwakilan Khilafah Utsmaniyah di sana mengatakan kepada Pemerintah Inggris bahwa Prancis telah menggagalkan acara tersebut sekalipun sama-sama mengusung kebebasan. Pihak Inggris justru menegaskan bahwa kebebasan yang dinikmati rakyatnya jauh lebih baik daripada apa yang ada di Prancis. Setelah mendengar sikap Inggris demikian, sang Khalifah menyampaikan, ”Saya akan meng-umumkan kepada umat Islam bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasul kita! Saya akan mengobarkan jihad akbar!” Melihat keseriusan Khalifah dalam menjaga kehormatan Rasulullah SAW tersebut, Inggris segera melupakan sesumbarnya tentang kebebasan. Akhirnya, pementasan drama itu pun dibatalkan.

Beginilah sikap semestinya seorang penguasa Muslim ketika mendengar Nabinya dihina. Dan saat ini, kaum Muslim merindukan kehadiran seorang pemimpin yang benar-benar serius menjaga kehormatan Nabi dan risalahnya.

Inilah secara ringkas hukum Islam terkait orang-orang yang menghina Rasulullah SAW. Dengan penerapan hukum inilah segela bentuk penistaan terhadap beliau bisa dihentikan. Namun, penerapan hukum membutuhkan seorang Imam yang memiliki ketegasan, keberanian, serta taat kepada Allah SWT dalam hal penerapan hukum-hukum Islam. Dialah seorang khalifah.   Khalifahlah yang akan secara nyata menghentikan semua penghinaan itu, serta melindungi kehormatan Islam dan umatnya, sebagaimana pernah ditunjukkan oleh Khalifah Abdul Hamid II terhadap Perancis dan Inggris yang hendak mementaskan drama karya Voltaire, yang menghina Nabi Muhammad SAW. Ketegasan sang Khalifah, yang akan mengobarkan jihad melawan Inggris itulah yang akhirnya menghentikan rencana jahat itu sehingga kehormatan Nabi Muhammad tetap terjaga.

Di sinilah letak penting untuk memperjuangkan kembali khilafah. Menyeru kepada seluruh umat Islam untuk bahu-membahu dalam membela kehormatan Nabi Muhammad dan menolak dengan keras setiap paham atau doktrin yang tidak Islami seperti doktrin tentang HAM, sekulerisme dan liberalisme serta sungguh-sungguh berjuang menegakkan khilafah. Semoga Allah menyegerakan pertolongan-Nya atas kaum muslimin.

“Sesungguhnya dari dahulupun mereka telah mencari-cari kekacauan dan mereka mengatur pelbagai macam tipu daya untuk (merusakkan)mu, hingga datanglah kebenaran (pertolongan Allah) dan menanglah agama Allah, padahal mereka tidak menyukainya”. (Q.S At-Taubah: 48)

Oleh: Nur Aida
Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia
Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Syamsul Ma’arif Bontang
Catatan: Artikel ini telah dipublikasikan di Bontang Post Minggu 21 Oktober 2012 (editan sepanjang setengah halaman koran)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda