Selasa, 06 April 2010

Kaum Muslimin Beramal Berdayaguna - Motivasi


Kaum Muslimin Saleh Berdayaguna - Motivasi Pendahuluan

PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, Yang memberi taufik kepada orang-orang yang beramal, pahala kepada orang-orang yang taat. Barangsiapa beramal maka Allah membalasnya. Barangsiapa menuju ridha-Nya maka Dia akan menjaganya. Barangsiapa tawakkal kepada-Nya maka Dia mencukupinya. Dia mengetahui hamba-Nya yang cinta akan kebaikan. Dia menunjukkan jalannya. Hamba-Nya memohon ridha-Nya lalu Dia memberinya, memohon keteguhan lalu Dia meneguhkannya hingga datang ajalnya. Barangsiapa bertaqarrub kepada-Nya satu jegnkal maka Allah mendekat kepadanya satu hasta. Barangsiapa bertaqarrub kepada-Nya satu hasta maka Dia mendekatinya satu depa. Allah meridhai hamba-Nya karena amal, curahan cinta dan cita kepada-Nya. Allah memiliki ketetapan dalam kesempurnaan amal itu. Allah mempunyai sebuah qadha yang telah dia putuskan, sedangkan kita hanya wajib taat. Milik Allah jua rezeki yang telah Dia cukupkan untuk kita, tidak ditunda dan tidak dipercepat satu saat pun. Hanya kepada-Nya rasa takut di setiap waktu, hanya kepada-Nya tawakkal diserahkan, dan hanya kepada-Nya keyakinan ditujukan.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas orang yang dengannya Allah menyingkap mendung, menyinari kegelapan, membahagiakan seluruh alam, menolong orang-orang yang beramal; yang diteladani para shahabat sehingga mereka menebarkan cahaya kepada manusia, dan diikuti oleh para tabi'in sehingga mereka beramal dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan tidak mengeluh. Sungguh banyak orang yang beramal dan sedikit orang-orang yang berpangku tangan. Lalu kita duduk di atas singgasana umat pada beberapa masa, maka kita adalah nikmat, rasa aman, cahaya dan keselamatan.

Kemudian kita mencintai dan memburu dunia. Sebagian kita berlomba dengan yang lain. Kita telah lupa makna-makna luhur selama berabad-abad. Lalu kita lebih mencintai dunia, melupakan kerja keras (untuk meraih surga – menolong agama) dalam setiap masa, kita mnyukai perkara-perkara kecil, sehingga kita mewarisi kehinaan dan kekerdilan selama berabad-abad. Lalu kita memanggil diri kita sendiri dengan kegagalan, kehancuran dan melupakan perkara-perkara besar. Kecuali sebagian kecil yang mengetahui jalan kemuliaan, lalu ia menyusuri pintu kemuliaan dan mengetuknya. Jumlah yang sedikit ini – pada hari ini – menjadi 'harapan' di antara hamba. Semoga Allah menjaganya, mengabulkan cita-citanya dan menolongnya karena hati telah jenuh dengan kesedihan yang mewarnainya, dan akal telah penat mengikuti berbagai kejahatan.

Risalah ini ditujukan kepada orang-orang Mukmin yang jujur, yang mengetahui jalan yang benar dan menetapinya. Namun karena banyak sebab mereka tidak melaksanakannya. Mereka berdiam diri di tempatnya, tidak maju, seakan-akan lupa makna-makna mulia, sehingga tidak beramal demi makna itu.

Mereka adalah pemuda-pemudi yang shaleh, yang masih berpegang pada jalan keutamaan dan kebaikan. Namun mereka terkalahkan oleh kamapanan dan kemalasan, cinta dunia dan panjang angan-angan. Mereka ingin menjadi orang shaleh tanpa beramal dan tanpa capek. Tapi apakah mungkin? Tidakkah mereka tahu bahwa “dunia adalah manis dan hijau. Allah menjadikanmu khalifah di dunia, dan melihat bagaimana kalian beramal.”1 Apakah mereka tidak butuh derajat-derajat yang tinggi di surga yang tidak dicapai oleh selain para Nabi, serta teman-teman mereka di kalangan orang-orang shaleh, shiddiq, dan syuhada?

Risalah ini merupakan peringatan untuk para tsiqah yang tak berdayaguna, yang mempunyai sarana untuk menggapai sesuatu yang tinggi berupa nikmat. Namun mereka mengabaikannya dan rela menerima hal kecil (hal-hal duniawi belaka). Semoga jelas bagi mereka betapa besar apa yang mereka sia-siakan dan betapa banyak kebaikan yang mereka sepelekan. Hanya Allah tempat memohon pertolongan dan kepada-Nya-lah tawakkal diserahkan.

1) Sebagian dari hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, diriwayatkan Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, Thabrani dan selainnya. Kalimat “Dunia itu manis dan warna hijau” adalah shahih. Sedangkan lanjutannya ada kelemahan. Lihat Majma'uz-Zawa'id : 10 / 249, dan Sunan at-Tirmidzi, kitab al-Fitan bab Ma Ja'a ma Akhbaran-Nabi Ashhabahu bima huwa Ka'inun ila Yaumil-Qiyamah (Berita Nabi kepada para Shahabatnya tentang Kejadian Hingga Hari Kiamat); dan Sunan Ibni Majah : kitab al-Fitan, bab Fitnatun-Nisa'.

Saya menyusun tema ini selama bertahun-tahun dari materi-materi yang telah disampaikan dalam ceramah dan nasihat, yang kemudian terakumulasi dalam pikiran. Saya melihat tema-tema ceramah dan nasihat tersebut terepresentasikan pada banyak orang yang saya kenal keadaannya. Benarlah gambaran apa yang saya tulis dan terbuktilah apa yang saya sampaikan, karena orang yang melihat tidak seperti orang yang mendengar, dan berita tidak seperti kesaksian mata.

Saya tidak menilai diri bersih dari banyak hal yang saya tulis. Namun tujuannya semata mengingatkan dan menasihati, berbagi pengalaman, menceritakan peristiwa yang dihadiri, serta tahun-tahun yang dilalui. Hanya Allah yang diharap, Dia-lah sebaik-baik Wakil. La haula wa la quwwata illa billahil-'Aliyyil-'Azhim. []

Tentang Buku : Saleh Tapi Tak Berdayaguna

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Download BUKU Sistem Negara Khilafah Dalam Syariah Islam

LANGGANAN ARTIKEL-ARTIKEL BARU BLOG INI → ALAMAT EMAIL:

segera klik link aktivasi di email yang dikirimkan ke anda